
"Alhamdulillah, sudah beres nulisnya. Mudah-mudahan Henry suka dengan perasaan yang tertulis dariku," ucap Fira sembari melipat tiga lembar surat. Dimasukkannya ke dalam amplop khusus surat cinta, kemudian menaruh sebuah bolpoin di atas kasur.
Wanita yang baru saja diperistri oleh Henry ini duduk di sisi kasur pengantin. Kamar pengantin yang begitu mewah dihiasi bunga-bunga. Sinar rembulan malam seketika menembus jendela kamar. Sorotan mata Fira tersenyum melihat keindahan malam di hari bahagianya.
Fira bergegas menaruh surat cinta ke dalam kotak kado kecil yang telah dihiasi pita. Dikemasnya rapi. Ia ingin memberi hadiah untuk suaminya itu. Fira jadi tidak sabar menunggu Henry pulang dari masjid. Sembari menepis rasa debaran jantungnya, Fira berdiri di dekat jendela. Menikmati langit malam dengan sejuknya angin.
"Kenapa aku jadi makin salting, ya? Huuuff, tenangkan dirimu, Fira. Pikiran harus relax," ucap Fira lantas mengembuskan napas.
"Assalamu'alaikum, Henry pulang," ucap Henry sambil menutup pintu kamar.
"Wa'alaikumsalam," ucap Fira kemudian bergumam, "ya Allah, aku jadi enggak berani menatap Henry malam ini. Padahal aku punya pengalaman menikah, tapi kenapa jadi segugup ini?"
Henry dari belakang menilik Fira yang memakai jilbab langsungan dan daster batik panjang. Sudut bibirnya tersenyum membuat matanya menyipit. Henry semakin kagum dengan istrinya berpenampilan sederhana.
Saking gugupnya, Fira mencengkeram kuat korden. Ia masih tidak berani membalikkan badan. Rasanya jantung hendak copot saat momen seperti ini. Mencoba untuk berpikir segar, tapi tetap saja pikiran Fira ke mana-mana.
Indera penciuman Fira mendengus, menduga bahwa Henry semakin mendekat padanya. Aroma parfum yang melekat pada baju koko Henry itu semakin menyeruak. Fira hanya bisa menggigit bibir dan sekujur tubuh yang ramping itu merinding.
"Fira," ucap Henry. Dua tangannya sontak melingkar di pinggang Fira hingga sepasang mata Fira membulat lebar.
"I-iya, Hen," gagap Fira kian merinding.
"Kamu sakit? Kecapaian? Kok kayak menggigil gini?" tanya Henry.
"A-aku te-terlalu gu-gup," jawab Fira semakin tergugu-gugu.
Henry setengah membungkuk, karena tubuhnya lebih tinggi dari Fira. Ditaruhnya dagu itu di pundak kanan Fira. Wanita itu terkesiap ketika suaminya semakin erat merangkul pinggangnya. Lagi-lagi Fira tidak berani menatap wajah Henry.
"Bulannya terang banget, ya," lirih Henry.
Fira sesekali mengangguk. "He-em."
"Tapi, kamu yang mampu menerangi hatiku," rayu Henry.
"Oh, iya, anak-anak gimana?" tanya Fira mengalihkan pembicaraan.
"Anak-anak sama Kak Naomi dan Sakura di ruang keluarga. Tadi Zayn udah salat Isya sama aku di masjid. Kata Kak Naomi, Fira cukup memikirkan malam ini aja," jawab Henry lantas mengecup pipi kanan Fira.
"Astaghfirullahal adzim."
"Kenapa?"
"Ka-kamu barusan cium pipiku."
"Ya, terus kenapa? Toh, kita udah menikah. Oh, iya, sebentar, itu hidung kamu, ada apanya?"
Fira lantas menoleh ke Henry. Kini dua wajah itu saling bertemu. Empat mata saling menatap lekat-lekat. Seketika wajah Fira ranum bak buah strawberi. Senyum Henry itu cukup membuat hati Fira berdegup kencang. Manis sekali.
"Ya Allah, gantengnya suamiku," gumam Fira.
"Aku mencintaimu, Fira," bisik Henry.
"Aku juga," lirih Fira.
"Kurang lengkap itu kalimatnya."
"I-iya, a-aku ju-juga men-mencintaimu, Henry."
Malam terlihat semakin larut. Begitu juga dengan Henry, sikap romantisnya semakin hanyut karena cinta. Perlahan-lahan wajah oriental itu kian dekat dengan wajah ayu sang istri. Mata sipit Henry seakan sedang mengincar bibir ranum Fira. Pria itu seperti menemukan permen strawberi berwarna merah merekah.
"Henry, aku mau kasih surprise buat kamu!" sergah Fira.
"Oh, iya, aku baru ingat, aku juga ingin kasih kamu surprise," ucap Henry seketika melepaskan rangkulan di pinggang Fira.
"Alhamdulillah, huuff! Jantungku mau copot," gumam Fira sembari mengelus dada.
Henry melangkah ke lemari seraya mencari sesuatu. "Seingat aku sih, kadonya ditaruh di sini. Semoga aja masih ada, hehehe. Kado yang cantik untuk kamu."
Fira lekas mengambil kotak kado yang telah disiapkan untuk suaminya itu. Ia lantas mengikuti Henry dari belakang. Sementara Henry masih berkutat mencari sesuatu yang spesial untuk istrinya di lemari pakaian.
"Nah, ketemu!" seru Henry.
"Gede banget kotak kadonya," ucap Fira terkesiap.
__ADS_1
"Iya, pasti kamu suka ini. Aku ingin melihat kamu pakai ini," ucap Henry sambil mengangkat kedua alis.
"Apa itu?" Fira mengernyit dahi.
Henry menyerahkan kotak kado itu untuk Fira. "Kamu ke kamar mandi dulu. Buka kadonya di sana aja."
Sama halnya dengan Fira menyerahkan kotak kado kecil kepada Henry. "Ini juga kado buat kamu. Aku harap kamu menyukainya."
"Ya, sudah, kamu ke kamar mandi sekarang. Aku tunggu di kasur, ya."
"Harus ke kamar mandi, ya?" Fira lagi-lagi mengernyit.
"Pokoknya gitu deh."
Henry bergegas naik ke kasur sembari membuka kado dari Fira. Sementara Fira terdiam sambil melihat kado dari Henry. Kotak kado itu besar dan berwarna merah menyala. Fira menoleh ke Henry, tapi Henry justru memberi isyarat kepada Fira supaya lekas ke kamar mandi. Fira pun menurutinya.
Fira di dalam kamar mandi yang menjadi satu dengan kamar ini. Sejenak ia bercermin, menyadari kalau penampilannya merasa kurang menarik. Wanita berhidung mancung itu tahu ini malam pertamanya dengan Henry. Sudah pasti Henry ingin Fira berpenampilan yang dapat menggugah hati.
Dibukanya kado dari Henry. Fira terbelalak melihat kado dari Henry yang cukup ekstrim. Fira merinding untuk menyentuh sebuah baju khusus istri berwarna merah menyala. Ia sudah menduga pasti Henry ingin Fira berpenampilan ekstrim di hadapannya.
"Astaghfirullah, baru kali ini aku dapat baju mencolok ini," ucap Fira, "tapi, malam ini kayaknya belum bisa begitu dulu deh. Soalnya aku lagi halangan. Emm, gimana, ya, ngomong sama Henry?"
"Fira, gimana? Kadonya cocok enggak sama kamu?" sahut Henry dari luar kamar mandi.
"Co-cocok. Aku berusaha menyukainya," sahut Fira dari dalam kamar mandi.
"Aku enggak sabar ingin lihat kamu pakai itu."
"Aduh, Henry. Tahu dari mana dia soal baju kayak gini? Aku aja belum pernah pakai baju mencolok begini," gerutu Fira.
Fira melangkah ragu keluar dari kamar mandi. Dua tangannya membawa kado dari Henry. Penampilannya tetap sama, mengenakan jilbab dan daster panjang. Dilihatnya Henry yang duduk di atas kasur sambil membaca surat cinta dari Fira. Ternyata Henry sudah ganti kaos oblong putih.
Mata Henry terpaku pada tiga lembar surat. Berulang kali ia baca perasaan yang tertulis dari Fira. Tulisan apik itu rapi dan berhasil menyentuh hati Henry. Saking fokusnya membaca perasaan yang tertulis dari Fira, Henry tidak menyadari jika Fira berada di sampingnya.
•••
Perasaan yang tertulis (1)
Aku ingin kamu tahu, penantian panjang itu hingga ragu mengusik relung hati. Mungkin, jika tiada keteguhan jawaban istikharah, aku memilih berhenti di tengah jalan. Menepis keraguan dengan sabar itu tidak mudah. Aku hanya wanita biasa. Kalau tidak adanya energi cinta yang terpatri padamu, mungkin aku akan berpaling.
Namun, kamu berhasil mengikat hati ini dengan menyebut namaku dalam doamu. Sang Maha Cinta pun menyaksikan perasaan kita di keheningan malam. Bulan, bintang dan penduduk langit malam menjadi saksi bisu atas cinta dalam doa dari kita.
Kini, denting piano berirama indah itu selaras dengan hatiku yang berbahagia atas kepastian darimu. Aku ingin mendengarkan alunan lagu cinta bersamamu. Dipadukan lirik yang menuliskan kisah cinta kita. Berdansa berdua saling mencinta dan tertawa.
Kamu yang terhebat, membuktikan bahwa kamu datang di dua waktu yang tepat. Pertama, kamu datang dengan itikad baik dan kemantapan hati meminangku. Kedua, esok hari kamu datang menjadi suamiku. Penggenap imanku hingga surga-Nya.
Dariku, tulang rusukmu yang pemalu ini.
•••
Perasaan yang tertulis (2)
Aku ingin kamu jaga tasbih ini. Kalau kamu mengalami ujian dan masalah, ingatlah Allah. Jaga salat dan amalan. Aku selalu mendoakan suamiku selalu dijaga oleh Allah. Doaku selalu menyertaimu.
•••
Perasaan yang tertulis (3)
사랑해 내 남편 . Aku mencintaimu, suamiku. Maaf, ya, kalau ada yang enggak pas bahasa Korea, hehehe. Aku mendadak nulis Hangul sambil belajar.
•••
Fira malu-malu melihat Henry terpaku membaca tiga lembar surat cinta. Kepala Fira sedikit dimiringkan, melihat dua bola mata Henry sedang berkaca-kaca, menahan air mata. Sepertinya Henry terenyuh membaca perasaan yang tertulis dari istri tercinta.
"Maaf, ya, kalau ada kekurangan dalam perasaan yang tertulis dariku, hehehe," lirih Fira.
Henry sontak terperanjat. Cepat-cepat ia menyeka air mata yang nyaris menetes di pipi. "I-ini luar biasa. Ka-kamu sukses bikin aku larut dalam rasa cinta."
"Hehehe, terima kasih atas pujiannya." Fira menunduk malu.
"Loh, kamu kok enggak pakai baju yang ada di dalam kado itu?" tanya Henry.
"Emm, maaf, Hen. Aku belum kasih tahu, ya, kalau aku lagi tanggal merah. Malam ini bukan rezeki kita. Jadi, aku enggak pakai baju ini, enggak apa-apa kan?" jawab Fira.
__ADS_1
"Oalah, kamu lagi halangan to. Ya, sudah, enggak apa-apa. Aku sabar menunggu kok."
Fira melirik ke arah jam dinding sambil menaruh kado di atas nakas. "Astaghfirullah, sudah jam setengah sembilan aja. Sebaiknya kita tidur awal, besokkan acara resepsi pernikahan kita."
"Ya, sudah, sini, aku peluk." Henry membentangkan kedua tangan, menyambut Fira supaya memeluknya.
Ketika Fira hendak memeluk Henry, justru Henry membaringkan tubuh Fira. Kini posisi Henry berada di atas Fira. Tubuh atletis berbalut kaos itu terlihat jelas dari sorotan mata Fira, membuat terkesiap dan berdebar bukan main.
"Henry, aku lagi halangan," tegur Fira.
"Aku ingin lihat wajah istriku dari dekat begini. Bolehkan?" rayu Henry.
"Aduh, nanti kalau bocor, gimana dong?"
Mendengar ucapan Fira barusan, Henry lantas menoleh ke langit-langit kamar. "Bocor? Atapnya bocor, ya?"
"Bukan, tapi datang bulan ini." Fira cengengesan.
"Oh, aku kira apa? Ya, sudah, kita tidur sekarang, yuk."
Fira mengangguk sambil mengubah posisi tidur ke kanan. Begitu juga dengan Henry, dipeluknya istri tercinta. Tidak lupa mereka menarik selimut. Pasangan suami-istri ini mulai terpejam. Raut wajah mereka juga tampaknya lelah karena usai menyelenggarakan akad nikah pagi tadi.
***
Suara alarm gawai berbunyi nyaring, menunjukkan pukul 4.25 subuh. Fira dalam keadaan setengah sadar dari tidur. Ketika tangan kirinya meraba kasur yang dilapisi seprai menuju nakas, ada yang merasa aneh. Fira sontak terbangun lantas duduk tegap. Tangan kirinya itu basah setelah meraba seprai. Sementara tangan kanannya mengucek mata supaya bisa terlihat jelas asal basahan itu.
"Eh, aku tembus, ya," ucap Fira.
Dua matanya kian terbuka. Dilihatnya tidak ada tembusan dari datang bulannya. Fira menoleh ke seprai yang basah, sepertinya ada yang sedang mengompol di kasur ini. Fira tercengang saat mengingat Henry.
Fira terbelalak. "Heh! Jangan-jangan, Henry ..."
"Segarnya, subuh-subuh gini sudah mandi," ucap Henry sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
Henry baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuh atletis itu tetap berbalut kaos polos putih lengkap dengan celana selutut. Fira lantas menatap keheranan ke Henry.
"Henry," panggil Fira.
"Eh, istriku, sudah bangun, ya," sapa Henry.
"Kamu ngompol, ya," ucap Fira dengan wajah tercengang.
Henry hanya cengengesan sembari mengibas rambut. "Ya, gimana lagi? Kamu lagi halangan, akunya, ya, gitu. Tahu sendiri kan laki-laki mengalami begitu?"
"Waduh," batin Fira sontak jadi peka dengan ucapan Henry.
"Ya, sudah, aku salat subuh di masjid dulu, ya."
Fira mengernyit dahi melihat Henry. Sementara Henry bersiap diri memakai koko muslim yang bergelantungan di hanger, kemudian memakai peci dan sarung. Henry sejenak menoleh ke wajah Fira yang baru bangun tidur itu. Kedipan mata genit dari Henry membuat Fira tersadar dari lamunan. Henry lantas keluar dari kamar sembari memakai parfum sunnah di baju koko.
Merasa risi dengan seprai basah ini, Fira beranjak dari tempat. Cepat-cepat ia membuka seprai hingga kasur mewah ini terlihat polos. Dirapikannya sebentar jilbab yang ia kenakan. Fira bergegas keluar dari kamar sambil membawa seprai yang cukup berat itu.
Fira berjalan di luasnya rumah elite milik mertuanya. Jarak kamarnya ke tempat pencucian pakaian di belakang rumah cukup jauh. Matanya celingukan memastikan tidak ada orang di sana. Ia akan merasa malu jika bertemu dengan orang rumah. Apalagi jika ia sedang membawa seprai ini.
"Intinya, jangan ada yang sampai tahu!" batin Fira sambil berlari menuju ke tempat pencucian pakaian.
"Fira ngapain angkat seprai gitu? Itu berat loh," ucap Intan yang tiba-tiba muncul di belakang Fira.
Fira cengengesan seraya membalikkan badan. Ia menelan ludah karena bingung hendak menjawab apa di hadapan ibu mertua.
"Anu, Mam. Seprainya mau Fira cuci," ucap Fira kemudian ia membatin, "aduh, aku mau bilang apa, ya? Masa bilang seprainya dicuci karena Henry habis mimpi? Malu dong. Tapi, kalau bilang kena datang bulanku, bohong dong. Jadi, bingung."
"Kenapa dicuci? Di laundry saja," usul Intan.
"Ini ada sesuatu yang hanya Fira saja yang tahu, Mam, hehehe."
"Oh, gitu. Ya, sudah, dicuci pakai mesin cuci aja, ya. Biar kamu enggak capek. Soalnya seprainya berat. Kalau mau minta seprai baru, minta aja ke asisten rumah tangga. Di rumah ini ada lemari khusus penyimpanan seprai. Kamu bisa milih seprai baru."
"Baik, Mam. Kalau gitu Fira ke tempat pencucian dulu."
"Iya, kamu juga siap-siap, ya, hari ini kan resepsi pernikahan kamu sama Henry. Paling jam lima pagi ini, tim desainer dan MUA ke sini. Untuk anak-anak biar baby sitter saja yang ngurus, ya."
"Baik, Mam." Fira mengangguk. Intan pergi berlalu. Akhirnya Fira dapat bernapas lega menjawab pertanyaan Intan dengan jujur. Fira berlari menuju ke tempat pencucian pakaian.
__ADS_1