
Tiga hari setelah hari jadi pernikahan, sudah saatnya Henry dan Fira kembali ke pekerjaan masing-masing. Henry mengurus perusahaan. Fira mengurus klinik kecantikan. Begitu juga dengan Lefia dan Irwan mulai berkutat mengantarkan, menjemput anak-anak ke sekolah dan menjaga tiga anak Fira.
Jam dinding menunjukkan pukul 6.00 pagi, Henry dan Fira sibuk dengan diri sendiri. Henry bergegas memakai kemeja, jas, dasi dan celana formal. Sedangkan Fira bercermin sembari merapikan jilbab segitiga kemudian berdandan. Henry juga cepat-cepat memakai jam tangan. Namun mata sipitnya celingukan sedang mencari sesuatu yang tidak bisa ditemukannya. Pria itu lantas menelungkup di kolong kasur.
"Sepatu pantofel hitam yang baru aku beli di mana, ya, Fir?" tanya Henry.
Fira yang tengah memakai liptint itu menjawab, "oh, ada di gudang, aku ambilkan, ya."
"Kok bisa-bisanya ditaruh ke sana? Ya sudah, sana ambil sepatunya. Cepetan, aku buru-buru nih."
"Iya-iya. Aku taruh di sana, karena aku kira kamu pakai sepatu itu nanti-nanti."
"Enggak, mau dipakai sekarang saja."
"Ya, ambilkan dulu sepatumu."
"Buruan, ya."
"Ya, suamiku."
Fira beranjak. Kaki jenjang dengan balutan celana kulot itu bergegas keluar dari kamar menuju ke gudang. Ia sempat melihat ketiga anaknya sedang sarapan dan Lefia yang menyiapkan sarapan pagi. Fira mendengus-- merasa bersalah karena tidak bisa menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Tumpukkan pekerjaan yang membuat Fira bergadang dan cepat lelah.
"Jam tiga pagi, aku baru tidur setelah mengerjakan urusan klinik. Itupun tidur hanya sebentar, nanti bangun sebentar untuk salat Subuh, setelah itu, tidur lagi karena capek. Jadinya sekarang tidak sempat membuat anak-anak sarapan. Maafkan Mama, ya, anak-anak. Lain kali, Mama harus bisa atur waktu," gumam Fira.
"Fir, kamu masih diam di situ?" sahut Henry.
"Oh, iya-iya, aku segera ke gudang," ucap Fira.
Fira berada di gudang sambil mengedarkan pandang. Ternyata sebuah kotak cokelat terletak di atas kursi yang sudah berdebu. Sebelum mengambil kotak itu, Fira lebih dulu mengambil kemoceng yang bergelantungan di paku. Fira membersihkan kotak cokelat dengan kemoceng untuk membersihkan debu. Dibukanya kotak yang berisikan sepatu pantofel baru milik Henry. Sepatu pantofel dengan kualitas terbaik dan harga yang cukup fantastis.
Ketika Fira hendak keluar dari gudang, pandangannya jadi teralihkan melihat sebuah kardus yang bertuliskan kenangan. Kardus itu tampak kumal berselimut debu-debu dan sarang laba-laba. Fira yang masih memegang kemoceng-- seketika membersihkan kardus itu. Isolasi yang di kardus sudah mengelupas, sehingga Fira mudah membukanya. Isi kardus terdapat barang-barang yang bersangkutan dengan kenangan bersama Kirsandi dan Rafi. Termasuk di dalamnya ada kotak kecil yang berisi gelang dan jam tangan pemberian dari Rafi.
Jam tangan mewah yang berlapiskan perak dengan butiran berlian masih terlihat apik. Hanya saja, jam tangan itu sudah lama mati. Fira tidak bisa memakainya lagi. Dahulu, sewaktu ia masih di Singapura, bertepatan dengan hari lahir Fira, Rafi yang memberi hadiah berupa jam tangan mahal itu. Jika melihat jam tangan tersebut, Fira jadi tidak enak hati karena telah bersikap dingin kepada Rafi. Rafi memang pernah memutuskan persahabatan, tapi Fira tidak akan lupa kebaikkan Rafi yang telah diberikan untuknya.
"Fir, malah melamun. Melamunin apa?" ucap Henry. Pria itu membuat Fira terperanjat dan tergugu-gugu.
"Bukan apa-apa," ucap Fira geleng-geleng.
"Apa itu?" Henry mengernyit dahi.
"Ini jam tanganku."
"Iya, aku tahu itu jam tanganmu tapi dari siapa? Atau milikmu sendiri?"
"Eh, ini, hadiah ulang tahunku dulu. Waktu aku bekerja di Restoran HIF Singapura."
"Hadiah dari Rafi?"
Fira perlahan mengangguk. "I-iya, dari Rafi."
"Jadi, ini alasan kamu ke gudang karena cuma lihat jam tangan dari Rafi."
Henry jadi terpancing api cemburu karena Fira masih menyimpan barang pemberian dari Rafi. Ia mengentakkan langkah penuh geram, seolah ada keinginan untuk menghancurkan jam tangan itu.
"Enggak, aku tadinya memang mau ambil sepatumu. Enggak sengaja aku lihat kardus itu," kata Fira berdiri di hadapan Henry.
"Sepertinya jam tangan itu enggak layak pakai kan? Sebaiknya buang jam tangan dari Rafi itu," hardik Henry.
"Hen, aku tahu kamu enggak suka sama Rafi. Tapi, pemberian Rafi begini-- cukup disimpan, kalau dibuang itu sama saja enggak menghargai pemberiannya."
Mata sipitnya sontak memelototi Fira. "Kok kamu jadi belain Rafi gini sih?"
"Aku enggak belain Rafi, tapi aku menghargai pemberiannya. Setiap orang yang memberi hadiah buat aku, aku juga hargai dan terima kok."
Henry sontak menggertak Fira. "Buang!"
"Hen, selama ini, aku udah putus komunikasi sama Rafi. Minimal dengan menyimpan pemberiannya, aku menghargainya."
__ADS_1
"Menghargai atau kamu masih mengenang Rafi sebagai sahabat, hah?"
Henry mengambil paksa jam tangan itu dari tangan Fira. Raut wajah Henry tidak bisa menyembunyikan cemburu dan emosi. Pria itu tidak bisa melihat Fira masih menyimpan kenangan Rafi. Fira sontak tercengang. Entah ke mana Henry akan membawa jam tangan itu? Henry berlari lantas keluar dari rumah. Fira jadi kalut lalu bergegas menyusul Henry.
Lefia, Zayn, Zema dan Alira yang sedang menikmati sarapan, dikejutkan dengan pemandangan Henry dan Fira saling kejar-kejaran. Lefia menduga jika Henry dan Fira sedang berselisih. Asisten Fira itu jadi khawatir pagi ini akan ada pertengkaran antara Fira dan Henry. Ianberusaha mengalihkan perhatian anak-anak supaya tidak fokus pada papa dan mamanya.
"Mama dan Papa lagi berantem, ya, Mbak Lef?" tanya Zayn.
"Kalau Mbak Lefia terawang, kayaknya Mama dan Papa kalian lagi kerjasama buang sampah, hehehe," jawab Lefia dengan asal-asalan.
"Buang sampah? Apanya yang dibuang? Wajah Papa kelihatan marah gitu kok."
"Ya, mungkin Pak Henry kelupaan bawa minyak tanah sama korek api."
"Tapi 'kan Mama dan Papa udah pakai baju bagus. Masa bakar sampah sih, Mbak Lefia?" sela Alira.
"Bisa jadi itu trend terbaru, pakai baju bagus sambil bakar sampah, hehehe," kilah Lefia cengengesan.
Zema menyahut, "emm, berarti kalau kita bakar sampah pakai baju bagus aja, Mbak Lefia."
Lefia jadi merasa bersalah telah berbohong kepada tiga anak itu. Ia tidak ingin tiga anak itu tahu jika kedua orangtuanya sedang ada masalah. Lefia tidak ingin melihat anak-anak sedih hanya kerena pertengkaran orangtua mereka.
Lefia mengelus dada sambil membatin, "semoga saja hanya pertengkaran ringan. Perasaanku kok jadi enggak enak gini, ya? Astaghfirullahal adzim."
***
Begitu Henry dan Fira di teras rumah-- seketika membanting jam tangan pemberian dari Rafi. Wajahnya berang sembari melihat Fira. Wanita itu tertegun melihat hadiah pemberian dari Rafi telah retak dan rusak. Dua mata Fira memerah kala menatap Henry. Walaupun Fira sudah tidak bersahabat dengan Rafi, tapi Fira ingin menghargai pemberian Rafi.
"Henry!" Bergetar bibir Fira karena geram dengan sikap Henry yang terlalu cemburu.
"Untuk apa kamu sedihi jam tangan dari Rafi? Aku bisa belikan jam tangan buat kamu, bahkan lebih bagus dari pemberian Rafi!" tegur Henry.
"Tidak bisakah kamu mengingat sedikit saja kebaikkan dari Rafi?"
"Untuk apa? Apa kamu masih memiliki perasaan terhadap Rafi, heh?"
"Kok kamu jadi belain Rafi? Sebenarnya kamu cinta sama aku atau Rafi?" Henry kian sinis menatap Fira.
Fira geleng-geleng kepala. "Astaghfirullah, maksudku enggak gitu."
"Woi, tega kau menghancurkan jam tangan itu!" teriak Rafi.
Henry dan Fira sangat terkejut dengan kehadiran Rafi. Rafi bergegas menghampiri Henry dan Fira di teras rumah. Raut wajah Rafi tampak berapi-api. Matanya berang melihat Henry yang kasar telah membanting jam tangan itu. Rafi yang tidak terima perlakuan Henry, seketika mengepal kuat tangan kanan. Pukulan keras dari Rafi mendarat di pipi Henry hingga menyebabkan sudut bibir Henry mengeluarkan darah segar.
Fira menjerit karena melihat Rafi memukul Henry teramat keras. Henry menyeringai kepada Rafi, kemudian menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Sementara napas Rafi terengah-engah karena sedang naik darah. Henry sontak berbalas mendaratkan pukulan di perut Rafi tanpa ampun. Rafi kian panas hati, akhirnya dua pria itu beradu jotos. Fira kalang kabut untuk meleraikan mereka.
"Sudah cukup kau membatasi pertemanan aku dengan Fira! Tapi, jangan kau hancurkan juga jam tangan itu!" bentak Rafi.
"Aku enggak suka kalau Fira masih menyimpan kenangan masa lalunya. Harusnya kau tahu diri, kalau Fira sudah jadi istriku!" gertak Henry hingga giginya bergetar.
"Aku lelah karena kelakuanmu yang terlalu berlebih-lebihan. Aku, Rahline dan keluargaku sakit hati denganmu karena Fira tidak hadir ke pernikahan Rahline dengan suaminya. Yang hadir hanya orangtua Fira. Maumu apa, Hen? Kau pantas mendapatkan ini!"
Rafi lantas menendang perut Henry secara kasar hingga Henry tersungkur di lantai. Ia lantas mencekik leher Henry. Fira berusaha menarik tangan Rafi supaya melepaskan cekikannya di leher Henry. Namun Rafi justru mengempaskan tangan Fira. Raut wajah Rafi seperti kesurupan saat melihat.
"Kau jangan ikut-ikutan, Fir! Kau tidak tahu perasaanku, Rahline dan keluargaku. Kau juga jahat karena tidak hadir di pernikahan Rahline. Ini bukan Fira yang aku kenal!" gertak Rafi.
"Aku tahu kamu sakit hati, Raf. Tapi, orangtuaku sudah mewakili datang ke sana. Aku mohon lepaskan Henry," ujar Fira.
"Apa dengan melepaskan Henry bisa menyembuhkan sakit hatiku? Tidak, Fira! Tidak! Aku sudah cukup sakit hati karena kau telah menolak cintaku. Jangan tambahkan sakit hati keluargaku juga. Apa kau lupa arti sebuah keakraban yang sudah terjalin lama, hah? Apa gara-gara kamu memiliki suami kaya, sehingga kau melupakan semuanya?"
"Cukup, Raf! Aku enggak akan pernah lupa dengan keluarga kalian."
Henry yang masih tercekik dapat berkata, "ja-jangan salahkan, Fira. Salahkan aku saja. A-aku yang enggak mengizinkan Fira ke pernikahan Rahline. Ka-karena aku enggak bisa lihat kamu dengan Fira."
Rafi lantas menoleh ke Henry. Ia semakin menggila untuk mencekik Henry. Henry jadi kian sesak napas. Fira berusaha sekuat tenaga untuk menarik tangan Rafi supaya melepaskan cekikan di leher Henry. Namun tangan Rafi kekar, Fira jadi kualahan. Saking geramnya, Fira lantas menampar pipi Rafi teramat keras. Rafi sontak terbeliak karena pertama kalinya ditampar oleh Fira. Spontan tubuh Fira gemetaran usai menampar Rafi.
"Puas kau, Fir! Puas! Sekalian kau habisi aku," gertak Rafi.
__ADS_1
"Lepaskan suamiku, Raf! Atau kau akan berurusan denganku. Kau yang memulai peperangan ini," bentak Fira.
Adu mulut itu mengundang orang-orang melihat pertengkaran antara Henry, Rafi dan Fira. Lefia lantas menutup pintu rumah untuk mengamankan anak-anak agar tidak melihat kejadian menegangkan itu. Namun, ketika Irwan hendak melerai Rafi dan Henry, Rafi justru menendang Irwan sampai tersungkur di rumput. Irwan jadi merintih kesakitan.
"Kau siapa, hah? Sekali lagi mendekat, aku tidak segan-segan membunuh Henry di hadapan kalian!" hardik Rafi kepada Irwan.
"Pak Irwan sebaiknya sama Lefia dan anak-anak di dalam rumah. Ini biar jadi urusan saya. Bawa anak-anak lewat belakang rumah," tegur Fira.
"Tapi, Bu Fira dan Pak Henry nanti kenapa-kenapa," ucap Irwan.
"Doakan saja supaya saya bisa mengalahkan badai ini." Fira menatap berang ke arah Rafi.
***
Irwan beranjak pergi atas perintah Fira. Namun orang-orang sekitar berdiri di pagar rumah Fira. Wanita itu mendelik ke arah orang-orang tersebut. Mereka jadi ketakutan melihat Fira, seakan memberi isyarat supaya tidak ikut campur dan pura-pura tidak melihat kejadian memanas ini. Akhirnya orang-orang tadi pergi dari rumah Fira.
"Kau dan Henry yang mulai peperangan ini!" geram Rafi.
"Benarkah itu, Raf? Aku tahu sebenarnya kamu. Sewaktu kamu dekati anak-anakku dulu, kamu hanya ingin aku, bukan anak-anakku. Kamu berencana menjauhiku dari anak-anak, kalau aku menikah denganmu. Namun, aku beruntung tidak memilihmu dan menikah denganmu," jelas Fira.
"Fira!" teriak Rafi.
"Lagi, aku juga tahu penelepon misterius, seorang yang mengikutiku pas aku dan Henry waktu pemotretan di studio foto adalah kamu. Aku tahu kamu sedang menguntitku."
"Itu semua karena aku masih mencintaimu, Fira!"
Mendengar ungkapan dari Rafi, Henry semakin panas hati sampai lolos dari cekikan Rafi. Rafi terperanjat dan giliran Henry yang mencekik Rafi dengan kuat. Mata sipitnya seakan mengeluarkan api untuk berperang melawan Rafi.
"Kau tak pantas mencintai Fira. Fira itu istriku! Kau pantas mencintai Lena, karena gadis itu ingin tahu banyak tentangmu," hardik Henry.
"Ma-magdalena," lirih Rafi.
"Aku dan Fira bakal minta maaf ke Rahline dan keluargamu. Bila perlu aku dan Fira bisa langsung ke Lumajang. Tapi, kau berhenti menghantui kehidupanku dan Fira!"
Teriakan Henry tepat di wajah Rafi, membuat Rafi ciut berhadapan dengan Henry. Dua wajah pria beda usia itu menjadi bercucuran keringat karena saling terbakar emosi. Henry sudah muak dengan tingkah Rafi.
"Aku tahu kau mengirim orang buat mengintaiku dengan Fira, sewaktu aku dan Fira liburan ke Korea," ungkap Henry.
"Bedebah!" gertak Rafi.
"Aku sudah mengumpulkan bukti-bukti kuat tentangmu. Jadi, kau siap-siap menetap di jeruji besi," ancam Henry.
"Hahahaha."
Rafi tertawa terpingkal-pingkal. Pria berkulit kuning langsat itu mendorong Henry dengan kasar. Henry tercengang melihat Rafi. Fira juga mengernyit keheranan dengan sikap aneh Rafi.
"Tadinya aku bisa menghargai pemberian jam tangan darimu, Raf. Tapi, setelah melihat kamu mencekik Henry, aku jadi hilang respect sama kamu," geram Fira.
"Makanya kalau punya suami itu jangan over posesif kayak Henry!" cerca Rafi.
"Semua suami juga akan cemburu kalau istrinya bertemu dengan lelaki lain. Kalau kau sudah menikah tentu kau akan merasakan jadi aku," tegur Henry.
"Hahaha, merasakan sepertimu? Salah besar, kalau aku menikah dengan istriku, aku tidak akan membatasi pertemanannya," dalih Rafi.
"Membiarkan istri menjalin persahabatan dengan sahabat laki-lakinya? Apalagi sahabat laki-lakinya itu ada perasaan? Kurasa itu tidak wajar. Ada batasan, dan kau harus tahu diri dengan posisimu!"
Rafi merapikan kemeja hitam yang tampak kusut. Ia nanar menatap Henry dan Fira. Rafi mengacungkan jari telunjuk, seakan memberi isyarat yang Henry dan Fira tidak memahami itu.
"Aku tidak ingin membuang energi dan waktu berlama-lama di sini. Kali ini kalian bisa bernapas segar. Entah nanti," ancam Rafi.
Lutut Fira terkulai lemas hingga meringkuk di lantai. "Astaghfirullahal adzim, kenapa konflik ini tiada akhir?"
"Sekarang kamu tahu maksudku 'kan? Kamu enggak perlu menghargai pemberian Rafi," tegur Henry kepada Fira.
Henry bukannya menenangkan Fira, justru meninggalkan Fira di teras. Henry kesal sekaligus marah dengan Fira dan Rafi. Fira pusing bukan kepalang. Betapa rumitnya kisah cinta segitiga ini. Walaupun Fira tidak ada perasaan apapun terhadap Rafi, tapi Rafi masih menaruh hati pada Fira.
Fira menunduk lesu dan menangis. "Ya Allah, hamba merasa jadi penyebab pertengkaran antara Henry dan Rafi. Rasanya hamba enggak kuat menghadapi ujian berat ini. Tunjukkan pertolongan-Mu, Ya Allah. Maafkan hamba."
__ADS_1