Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Jawaban Termanis


__ADS_3

"Kemarin malam, sebenarnya-- aku sudah bertemu dengan Om Fatih, eh, Bapak. Aku sudah utarakan niatku untuk melamarmu," ungkap Henry.


Fira memberanikan diri menatap wajah Henry. Pria yang usianya tiga tahun lebih muda darinya itu resmi memberi kepastian dan menepati janji, yakni dengan melamar Fira melalui Fatih. Dari balik kacamata bening, sepasang mata Fira tidak bisa menyembunyikan rasa haru.


"Lantas?" lirih Fira. Pipinya mulai seperti tomat berwarna merah.


"Maghfira Annisa, bersediakah kamu menikah denganku?" ungkap Henry dengan kemantapan hati.


Ungkapan Henry barusan membuat orang sekitar jadi terkesima. Fira menoleh ke belakang, tepat ke studio foto. Tidak menyangka lihat orang-orang sekitar sedari tadi memperhatikannya dengan Henry. Fira semakin salah tingkah dan malu. Pria yang selama ini dicintai dalam doa berhasil meruntuhkan keraguan hati Fira.


"Terima saja, Bu Fira!"


"Ih, ya Allah, baper parah, berasa nonton drama Korea nyata ini!"


"MasyaAllah, Bu Fira beruntung dilamar Oppa Korea."


"Ikut bahagia melihat keromantisan Bu Fira dan calon suaminya."


"Bu Fira, tunggu apa lagi? Kami sini dukung dan enggak sabar mau dengar jawaban yang bikin deg-degan."


Itulah beberapa ucapan mereka yang antusias sekaligus terbawa perasaan dengan momen Fira dilamar oleh Henry. Setelah menoleh ke arah mereka, Fira perlahan menatap Henry sembari tersenyum manis. Antara merinding dan berdebar-debar yang dirasakan oleh Fira.


"Apa kamu masih trauma? Atau ragu padaku?" tanya Henry.


Fira menggelengkan kepala sembari berkata, "aku sudah berdamai dengan diriku sendiri dan enggak ragu sama kamu. Hanya, aku kaget karena tiba-tiba kamu datang langsung melamarku."


"Bukankah momen yang selama ini kamu tunggu? Jadi jawabannya apa?" Henry agak mendekati wajah Fira yang sedang salah tingkah.


Fira berkilah, "oh iya, sebelum aku menjawab, aku mau tanya."


"Tanya apa?" tanya Henry mengernyit penasaran.


Fira berbalik tanya, "apa Zayn dan Zema sudah mengetahui ini?"


"Sudah, justru aku tadi datang ke sekolah untuk menghadiri acara hari ayah. Setelah acara itu, aku ngobrol sama Zayn dan Zema. Justru kata mereka, Mama yang bisa jawab. Kalau anak-anak sudah bahagia dengan pernikahan kita," jawab Henry secara lugas.


Fira kian salah tingkah dan tersenyum malu. "Alhamdulillah, kalau begitu."


"Jadi, gimana?" Henry sudah tidak sabar mendengar jawaban dari wanita pujaannya.


Fira cengengesan seraya menggaruk tengkuk yang tertutup kerudung. "Emm, gimana, ya? Enggak bisa deh."

__ADS_1


"Kenapa enggak bisa? Yang bener nih?" Henry agaknya putus asa jika dilihat dari raut wajahnya.


"Enggak bisa nolak kamu. Maksudku bersedia menikah denganmu, Henry Lee."


"Alhamdulillah, aku menikah dengan Fira!" teriak Henry kegirangan dan lantas sujud syukur di atas kavling.


"Alhamdulillah!" Mereka bersorak gembira, turut bahagia mendengar jawaban termanis dari Fira menerima lamaran Henry.


Kacamata bening yang dikenakan Fira mengembun hingga matanya menitikkan air mata. Saking terharu dan bahagianya dilamar oleh seorang pria yang menjadi jawaban istikharah Fira selama bertahun-tahun itu.


Tidak sia-sia doa dan istikharah yang dilakukan Fira bertahun-tahun lamanya. Inilah buah sabar Fira menanti Henry selama lima tahun. Walau di mana-mana ada pria lain yang hendak meminangnya, tapi cinta Fira sudah terpatri untuk Henry.


Henry beranjak dari sujud syukur. Dua mata sipitnya juga berlinang air mata. Betapa bahagia hati Henry karena lamarannya diterima oleh Fira, wanita yang selama ini ia dambakan. Wanita yang selalu disebut namanya dalam doa dan yang terukir dalam perasaan yang tertulis dari Henry.


Saking bahagianya, Henry hampir memeluk Fira. Namun Fira sigap menghindari Henry. Fira lantas memberi isyarat geleng-geleng kepala kepada Henry untuk tidak memeluknya, karena dua sejoli itu belum resmi halal sebagai suami-istri.


"Jangan menyentuhku sebelum akad!" tegur Fira.


"Maaf, hampir khilaf, hehehe. Terima kasih sudah berkenan menungguku selama lima tahun ini," ungkap Henry jadi salah tingkah.


Fira berpaling muka seraya menatap langit biru. "Aku mampu menunggumu karena ..."


"Aku percaya karena aku cinta," sela Henry semringah.


"Bu Fira dan Oppa Henry, karena udah fix lamarannya, sebaiknya kita merayakan ini dengan makan kembang tahu. Tuh, mumpung ada pedagangnya," usul Lefia dengan suara lantang.


"Betul sekali!" seru mereka.


"Panggil saya Pak Henry saja. Saya juga orang Jawa, Indonesia. Oke, saya traktir kembang tahu untuk kalian," ujar Henry.


"Asyik!" seru mereka lagi.


***


Sebagai bentuk syukuran atas diterimanya lamaran Henry dari Fira, ia mentraktir makan kembang tahu untuk Lefia beserta orang-orang yang terlibat dalam studio foto. Mereka duduk santai di trotoar sambil menikmati kembang tahu dengan mangkuk bagi perorangan. Sementara Fira duduk di kursi yang telah disediakan pedagang kembang tahu.


Meski pedagang kembang tahu itu membawa sebuah motor, tapi selalu menyediakan tempat duduk untuk pelanggan, walau hanya tiga bangku yang bisa ditumpuk. Ini hari keberuntungan bagi pedagang kembang tahu yang usianya tak lagi muda. Energi beliau masih bugar dan sehat seraya berjualan kembang tahu. Henry mengobrol dengan pedagang kembang tahu. Saling memberi semangat dan motivasi dalam urusan usaha.


Setelah Henry mendapatkan semangkuk kembang tahu, dan lantas duduk di kursi tepat di samping Fira. Dua insan yang tengah kasmaran itu sudah dipastikan hati mereka berbunga-bunga, walaupun dari raut wajah seperti masih malu-malu untuk saling pandang.


"Aku sudah musyawarah sama Bapak. InsyaAllah, kalau kamu menerima lamaranku, pernikahanku denganmu dipercepat," ucap Henry.

__ADS_1


"Pernikahan kita berapa hari lagi?" tanya Fira.


"InsyaAllah, pernikahan kita diselenggarakan tiga puluh satu hari lagi," jawab Henry.


"Ini tanggal enam belas Juni. Jadi, kita menikah tanggal tujuh belas Juli?"


"Ya, bener! Sebenarnya sudah menentukan tanggal pernikahan sama Bapak dan orangtuaku. Aku terlalu percaya diri, ya, kalau kamu pasti menerimaku, hehehe."


"Memang! Kamu terlalu percaya diri, hehehe."


"Ya sudah, yuk, makan kembang tahunya. Kalau enggak dimakan, jadi layu tahunya, hahaha. Tapi perasaanku ke kamu enggak akan layu," kelakar Henry.


"Ada-ada saja, Hen, hahaha," kata Fira tertawa kecil.


Henry, Fira dan beberapa orang lainnya menikmati kembang tahu di masing-masing mangkuk. Enak, kenyal dan legit untuk disantap. Hari ini bukan hanya jawaban termanis dari Fira, tapi juga kembang tahu yang manis. Apalagi makan bersama orang-orang yang sudah dikenali. Momen seperti ini akan menjadi sejarah yang bermakna.


Di sela-sela menyantap kembang tahu, Henry dan Fira saling bertatapan secara bersamaan. Kali ini tatapan keduanya terpaku, Henry fokus pada mata kiri Fira yang tampak berbeda. Sementara Fira justru fokus pada berewok tipis tumbuh di dagu Henry.


"Matamu," ucap Henry.


"Dagumu," kata Fira.


"Eh, maksudku, apa mata kirimu sudah membaik?" kata Henry.


"Oh, alhamdulilah, sudah lama membaik. Tapi, kalau di luar ruangan gini harus pakai kacamata, karena mata kiriku rentan terhadap debu. Ya, mata kiriku dapat donor mata gitu, tapi lama-lama penglihatan jadi buram. Sekarang aku enggak pakai lensa mata, jadi buram sebelah, hehehe," jelas Fira walaupun jadi tidak percaya diri.


"Meskipun mata kirimu penglihatan enggak sempurna, itu enggak mengubah perasaanku padamu. Aku tetap menerimamu," ujar Henry.


"Terima kasih, Henry. Oh iya, sekarang kamu ada berewoknya, ya. Aku jadi ingat perkataanku sendiri, tapi dulu-- waktu di Hotel Surabaya, aku nonton iklan kamu yang lagi nyukur berewok sama kumis. Aku nyeletuk saja, wajahmu yang putih mulus itu memang bisa tumbuh berewok sama kumis? Eh, dijawab deh sama Naomi-- kata dia, Henry bisa punya kumis dan berewok dong. Yang ngeselin, masa Naomi menyuruhku harus melihat wajahmu dekat-dekat?" celoteh Fira.


"Ya sudah, sini lihat wajahku dekat-dekat, hahaha."


"Ih, enggak, bahaya!"


Henry membatin, "Fira masih sama seperti dulu, cerewet dan ceria. Aku semakin cinta padamu, Fira. Kamu mewarnai hidupku."


Melihat kedekatan Henry dengan Fira yanasyik dalam obrolan, membuat orang sekitar hanya bisa menelan ludah masing-masing. Mereka masih berstatus lajang. Posisi mereka di tengah kedekatan Henry dan Fira bagai obat nyamuk saja. Betapa manis obrolan Henry dengan Fira. Lebih manis dari kembang tahu yang mereka santap.


"Ngenes, ya, guys," lirih Lefia begitu lamban mengunyah kembang tahu.


"Heeh, Mbak Lef. Pak Henry dan Bu Fira romantis banget, walaupun lagi makan kembang tahu," ucap Dilla sembari mencebik.

__ADS_1


Yang lain berkata, "kita hanya penonton momen sweet mereka."


Merasa diperhatikan oleh sekitarnya, Henry dan Fira jadi malu sendiri. Dua insan itu terlalu asyik berbincang hingga lupa dengan sekitarnya. Henry dan Fira lanjut menyantap kembang tahu. Ternyata benar-- kalimat dunia serasa milik berdua untuk pasangan kekasih yang dimabuk asmara. Orang lain bagai angin lewat atau seolah sedang mengontrak di dunia saja.


__ADS_2