Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Kejiwaan Henry


__ADS_3

"Kutepis separuh napas ini dengan mengisi hari-hari bersama anak-anak, memantau keadaan salon milikku, kontrol kehamilan, mengikuti kajian rutin di Masjid Toronto dan kadang mengurus Excellent Advertising di sini," ujar Fira.


"Mas Reza, Mr. James dan Mr. Ammar yang memintaku supaya menyibukkan diri dan terus berdoa. Mereka ingin aku tenang dan menikmati musim gugur, walaupun hatiku tetap merindukan Henry. Aku sempat mengikutkan diri untuk mencari Henry, tapi mereka melarang karena mereka perhatian dengan kondisi kehamilanku," sambungnya.


"Aku yakin Henry masih hidup dan di Toronto. Sepertinya pelaku yang merencanakan hilangnya Henry, pasti punya rencana lain, ia berhasil menghilangkan Henry dan membuatku jadi sendiri. Sampai saat ini aku penasaran siapa yang tega berusaha memisahkan aku dan Henry? Pikiranku hanya tertuju pada Rafi yang melakukan semua ini, tapi saat ini belum ada tanda-tanda jika Rafi pelakunya. Hanya kepada Allah yang akan menunjukkan jalan kebenarannya."


Fira duduk di ruang tunggu rumah sakit. Ia usai menjalani kontrol kehamilan. Dielusnya perut yang agak membuncit dengan kasih sayang. Fira senang mendengar penjelasan dari dokter tentang janinnya, karena si janin tumbuh kembang dengan baik. Jika seandainya Henry di sisi, pasti sebagai seorang papa lebih bahagia atas tumbuh kembang calon anaknya.


Hanya perlu kesabaran yang ekstra untuk mencari tahu keberadaan Henry dan pelaku yang menculik Henry. Fira bersyukur karena ia di sekelilingi orang-orang yang senantiasa menolongnya. Ia sudah tidak peduli dengan biaya yang dikeluarkan untuk pencarian Henry. Baginya, Henry adalah pelabuhan terakhirnya, Fira tidak lagi mencari penggantinya. Cukup Kirsandi dan Henry yang berkesan di dalam hidupnya.


Sepasang mata Fira yang mengenakan kacamata bening itu menyorot ke Lucky yang sedang mendorong kursi roda. Di kursi roda itu ada seorang pria, namun seluruh wajahnya tertutup oleh perban. Dua matanya pun tertutup oleh kapas putih. Tidak hanya Lucky dan pria yang duduk di kursi roda itu, ada pula orangtua Lucky turut serta.


Fira beranjak dari kursi kemudian menghampiri Lucky beserta keluarganya. Lucky lantas menyapa ramah kepada Fira. Pemuda itu tidak lupa memperkenalkan orangtuanya kepada Fira. Fira juga bersikap ramah dan bersalaman dengan seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu Lucky.


"Kamu lagi periksakan Kakakmu ini, ya," ucap Fira.


"Iya, Bu Fira, Kakak saya ini wajahnya terkena luka bakar jadi perlu perawatan intensif," kata Lucky.


"Maaf, kenapa bisa begitu?" tanya Fira.


"Panjang, Bu, kalau diceritakan, tapi kalau diingat membuat kita sedih," jawab Lucky.


"Maaf, kalau saya lancang ingin tahu."


"Terima kasih, Bu Fira, karena sudah menerima pekerjaan anak saya di rumah Ibu," sela Ibunya Lucky.


"Saya senang ada guru bimbel seperti Lucky, orangnya amanah dan bekerja dengan baik. Tiga anak saya jadi mulai paham bahasa Inggris dan Perancis. Maaf, nama Ibu dan Bapak siapa?" jelas Fira.


"Saya Sulastri dan suami saya Surya, Bu."


"Saya senang bisa bertemu orang Indonesia di Toronto. Jadi kalian ini sudah lama di Toronto?"


"Benar, Bu, sudah lama, semenjak Ayahnya Lucky bekerja jadi TKI."


Fira menoleh ke Lucky. "Hmm, begitu. Semoga lekas sembuh untuk Kakaknya Lucky, ya. Lucky, kalau kamu butuh biaya tambahan untuk perawatan wajah Kakakmu, hubungi saya, saya siap membantu orang yang bekerja dengan saya."


"Insyaallah, Bu Fira dan terima kasih membantu Kakak saya. Kalau begitu saya dan keluarga hendak ke ruang periksa." Lucky sesekali mengangguk sebagai bentuk hormat kepada Fira.


Fira kembali memandangi wajah pria yang terbalut perban putih itu. Dua matanya pun tertutup oleh kapas putih.


Seketika tubuh Fira merasa merinding jika melihat pria secara intens. Ia jadi emosional karena ternyata masih ada orang yang ujiannya berat darinya. Namun di sisi lain, rasa penasaran Fira mulai mengusik hati.


Lucky dan keluarganya pergi dari sana. Sementara Fira masih berdiri di tempat, tatapannya tidak lepas dari sosok pria yang duduk di kursi roda itu.

__ADS_1


"Aku enggak bisa bayangin kalau itu Henry. Sampai sekarang belum ada informasi tentang Henry. Aku enggak tahu kabar Henry, apa dia baik-baik saja atau justru sebaliknya?" gumam Fira, "ya Allah, kalaupun sekarang Henry mengalami sakit, tunjukkan pada hamba. Hamba ingin merawat suami hamba dengan penuh cinta. Hamba yakin Henry masih hidup."


"Bu Fira, ini obat dan vitamin jenengan, saya sudah ambil di bagian farmasi." Lefia tiba-tiba datang di samping Fira sembari membawa kotak obat. Namun pandangan Fira masih tertuju pada sosok pria itu, walaupun sosoknya tidak ada lagi bayangnya.


"Bu Fira, ada apa, to? Kok melamun?" Lefia bertanya-tanya. Tangannya hati-hati menepuk bahu Fira, hingga Fira terkesiap dengan Lefia di sampingnya.


"Astagfirullah, iya, Lef. Udah, ya, obatnya?" ucap Fira.


"Lah, dari tadi saya berdiri di samping jenengan. Jenengan malah melamun, Bu. Melamun apa, Bu?"


"Saya jadi kepikiran lagi sama Henry."


Lefia lantas terbelalak. "Memang Pak Henry ada di sini, Bu?"


"Eng-enggak, cuma kalau lihat orang mengalami kecelakaan, saya jadi kepikiran suami saya."


"Oalah gitu, to, Bu. Katanya jenengan mau ketemuan sama Sarah. Yuk, Bu, keburu sore nanti."


"Oke, yuk."


Fira dan Lefia berjalan menuju ke luar rumah sakit. Selama perjalanan, Fira sebentar-sebentar menoleh ke belakang. Entah mengapa ia jadi penasaran dengan sosok pria yang wajahnya berbalut perban itu? Saking tidak fokusnya jalan, Lefia merangkul Fira, karena Fira hampir saja tersandung. Lefia mengernyit heran melihat bosnya selalu menoleh ke arah belakang. Padahal di belakang hanya ada kerumunan orang. Namun Lefia tidak ingin ambil pusing, yang ia pikirkan Fira masih pusing memikirkan kasus penculikan Henry.


Di luar rumah sakit, ternyata mobil yang dikemudi Irwan sudah siaga di sana. Lefia terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk Fira. Perlahan Fira masuk ke dalam mobil di bagian jok belakang. Di susul oleh Lefia yang juga masuk ke dalam mobil. Namun pandangan Fira masih melihat dalamnya rumah sakit tersebut. Sementara Lefia hanya menggaruk jilbab karena heran melihat antara rumah sakit kemudian tingkah bosnya itu.


***


Di meja makan tersebut sudah tersedia aneka makanan dan minuman Indonesia. Salah satunya teh poci yang hangat. Aroma seduhan teh itu hingga tercium ke hidung mereka. Pas dengan suhu di Toronto yang semakin hari semakin dingin karena mendekati musim dingin. Maka dari itu, Fira, Sarah dan Randy tetap mengenakan pakaian coat panjang walaupun sinar matahari masih ada.


"Jadi, bisakah Anda memberitahu saya tentang kondisi psikologis Henry?" tanya Fira.


Randy agak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Fira. Sedangkan urusan antara dirinya dengan Henry ini ranah privasi. Randy mengingat ucapan Henry untuk tidak memberitahu Fira soal kondisi psikologisnya. Padahal Randy sempat menyarankan supaya Henry terbuka dengan Fira soal ini.


"Henry pernah bilang ke saya untuk mem-private soal kondisi kejiwaan beliau," jawab Randy.


"Kenapa begitu? Saya istrinya. Masa saya enggak boleh tau? Henry sekarang menghilang, barangkali tentang kondisi kejiwaan Henry bisa membantu menambah bukti. Kita kan enggak tahu apakah Henry kumat saat menghadapi konflik ini? Karena Henry trauma konflik berat kan?"


"Iya, Ibu Fira benar. Tapi, saya itu orangnya enggak enak karena Henry begitu baik. Kalau saya jelaskan kondisi kejiwaan Henry, saya jadi terbayang emosinya."


"Ini keadaannya beda, Pak Randy. Saya berharap Pak Randy bisa membantu Henry setelah ia ditemukan dan mengalami hal berat seperti ini. Jadi, kalau Henry menghadapi masalah atau konflik berat, ia akan bagaimana?" desak Fira.


"Kondisi Henry sebenarnya mulai pulih semenjak kenal hingga menikah dengan Anda, walaupun kadang kumat. Kumatnya itu saat ada masalah atau konflik, Henry pasti menyendiri dan tubuhnya merasa sakit. Jika Anda tahu, saya berulang kali melihat kondisinya yang menyedihkan," jelas Randy.


"Menyedihkan bagaimana? Soalnya selama ini saya melihat Henry begitu tangguh dan ceria." Fira kian penasaran dengan lanjutan penjelasan dari Randy.

__ADS_1


"Henry terlihat pucat pasi dan emosinya tidak terkendali seperti orang kehilangan arah. Namun saya salut dengan Henry karena ia pandai memilih tempat untuk melampiaskan traumanya sendirian," imbuh Randy, "Henry mengalami bipolar disorder. Suasana hatinya bisa berubah tapi yang salut itu Henry bisa menempatkan suasana hatinya. Seperti, di hadapan Anda, Henry terlihat bahagia dan baik-baik saja. Namun saat Henry sendirian atau bersama Ibunya dan saya, dia jadi berubah drastis seperti orang depresi."


"Sebentar, saya jadi ingat sesuatu," pikir Fira.


Fira mengingat kembali sewaktu Henry pernah menyerang Sultan tanpa ampun. Dulu, pada masa Fira, Henry dan Rafi jadi perantauan di Singapura. Ketika Fira diganggu oleh Sultan, saat itu pula Henry dan Rafi menolongnya. Emosi Henry seakan tidak terkendali saat berbaku hantam dengan Sultan. Jika tidak ada Rafi, mungkin Sultan sudah dihabisi oleh Henry. Untung saja, di sana ada Rafi yang dapat melerai pertikaian antara Henry dan Sultan. Usai mengingat itu, Fira sadar dari lamunan.


"Henry pernah berkelahi dengan seseorang dengan sangar lampau itu. Apa emosi Henry jadi tidak terkendali?" kata Fira.


"Apa orang itu menyakiti Henry?" tanya Henry.


"Tidak, justru Henry yang lebih menyakiti orang itu," jawab Fira.


"Iya, bisa saja Henry kumat bipolarnya."


"Memang sih setelah perkelahian itu, Henry wajahnya seram begitu, masih ada sisa amarahnya. Dan Henry pernah kecewa sama saya karena dulu saya menolak ajakannya untuk pulang bersama."


"Ya, seperti itu, Bu. Itulah Henry sebenarnya."


"Ya Allah, aku baru menyadari kalau suamiku seperti itu," gumam Fira.


"Mungkin Henry bisa sembuh kalau dia punya kemauan untuk sembuh."


"Kak Fira juga selalu di sisi Henry. Karena pasti Henry sangat butuh Kak Fira, istrinya," usul Sarah.


Untuk menenangkan batinnya, Fira meneguk secangkir teh hangat, kemudian ia taruh kembali cangkir itu ke meja. Ia masih tidak percaya selain memiliki trauma, Henry juga mengalami bipolar disorder. Padahal selama ini, Fira mengenal Henry sebagai pria baik, sederhana, humoris dan taat agama. Ternyata ketampanan dan kesuksesan Henry memiliki kekurangan yakni masalah kejiwaannya.


"Apa Henry punya obat khusus untuk meredakan emosinya?" tanya Fira.


Randy menjawab, "ada, Bu. Henry selain berkunjung ke saya, dia juga berkunjung ke psikiater. Biasanya kalau di rumah sakit itu dikasih obat sebagai penenang. Tapi, saya tidak tahu apakah Henry masih mengonsumsi obat itu?"


"Selama saya sama Henry. Henry enggak pernah kasih lihat obatnya ke saya."


"Ya, itu tadi saya bilang Henry pandai menempatkan diri dan suasana hatinya. Dia tidak ingin semua orang tahu tentang kondisi kejiwaannya. Termasuk Anda."


Fira mengembuskan napas seraya mendongak menatap langit-langit restoran itu. Sepasang mata bulat itu seketika mengembun dan berkaca-kaca. Cintanya kali ini benar-benar diuji dengan kondisi kejiwaan Henry. Akankah Fira tetap setia kepada Henry setelah mengetahui Henry mengalami bipolar disorder?


***


Bagaimana dengan alur cerita kali ini? Makin seru dan penasaran kan? Ikuti terus kisah Energy Of Love 2 hingga tamat, ya.


Bagi yang belum baca novel Energy Of Love (season 1) diharapkan baca season 1 dulu, ya, biar nyambung pas baca novel Energy Of Love season 2 nya. Karena ceritanya kembali ke Energy Of Love (season 1).


Dukung author yuk, supaya author semakin semangat lanjutin kisah ini. Mudah aja kok, kalian dukung dengan like, berikan vote dan bintang lima. Jangan sungkan-sungkan untuk berkomentar setelah kamu baca novel Energy Of Love 2. Rekomendasikan novel Energy Of Love ke orang-orang terdekat maupun sosial media. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2