
Siang itu Fira usai menjemput ketiga anaknya dari sekolah. Fira lantas mengingat kembali, sewaktu ia masih di salon, Irfan tiba-tiba menelepon dirinya. Wali kelas Zayn itu mengatakan jika Zayn, Zema dan Alira belum ada menjemput. Saat itu juga Fira menjemput ketiga anaknya ke sekolah.
Fira hanya menghela napas, karena sekarang yang menjemput ketiga anaknya adalah Henry. Namun Henry tidak kunjung menjemput Zayn, Zema dan Alira di sekolah. Beruntung masih ada Irfan yang menjaga Zayn, Zema dan Alira di sekolah.
"Kalau Papanya atau Mamanya enggak ada waktu buat jemput anak-anak, biar saya yang mengantarkan Zayn, Zema dan Alira ke rumah Neneknya," ucap Irfan.
"Bapak enggak perlu repot-repot, Pak Irfan cukup WA saya, kalau anak-anak belum ada yang jemput. Saya juga biasanya jemput anak-anak kok," ucap Fira.
"Baik, Bu Fira."
"Terima kasih sudah berkenan menjaga anak-anak saya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Sama-sama. Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Fira buru-buru sadar dari lamunan. Ia tidak habis pikir dengan Henry yang tidak mengabari jika tidak bisa menjemput anak-anak di sekolah. Namun Fira tetap berprasangka baik kepada Henry. Barangkali Henry sedang sibuk-sibuknya di perusahaan.
"Kita mampir ke apotek dulu, ya," ucap Fira seraya menoleh ke Zayn.
"Oh, iya, Ma, kenapa Papa dan Mama diam-diaman sih? Biasanya Papa dan Mama so sweet gitu," ucap Zayn.
"Papa kan sekarang kembali sibuk ke pekerjaan. Bisa jadi Papa sedang banyak pikiran."
"Papa enggak seperti Ayah dulu, kan, Ma?"
Pertanyaan Zayn membuat Fira terkesiap. Wanita ini memperbaiki posisi kacamata bening. Untung saja Fira tetap fokus pada menyetir mobil. Putra sulungnya masih memandang sang mama. Ia seakan berharap mendapat jawaban dari mamanya.
"Papa dan Ayah itu memiliki karakter yang berbeda, Nak. Setiap manusia pun begitu. Zayn, Zema dan Alira juga punya karakter yang berbeda kan? Mau Papa, mau Ayah, keduanya tetap Ayah yang baik untuk anak-anaknya," jelas Fira.
"Zayn enggak bisa lihat kalau Mama dimarahi Ayah waktu itu, apalagi kalau Papa marahin Mama," ungkap Zayn.
"Mudahnya gini, kalau Zayn melakukan kesalahan, Mama pernah marah kan? Tapi, setelah itu marahnya enggak berlarut. Mama minta maaf sama Zayn. Zayn juga minta maaf sama Mama."
"Kalau Mama dan Zayn kan orang dewasa dan anak sepuluh tahun. Sedangkan Mama dan Papa sama-sama orang dewasa."
"Bukan hanya anak-anak saja yang bisa berselisih, orang dewasa pun begitu. Namun ada cara tersendiri untuk berdamai. Intinya, Papa dan Ayah itu adalah Ayah yang sayang banget sama anak-anaknya. Ingat saja kebaikkan Papa dan Ayah, ya. Setuju?"
Zayn mengangguk. "Setuju, Ma."
Bertepatan dengan hatinya yang sedang sendu, tangan kiri Fira menyalakan tape audio mobil yang sudah tersambung dengan bluetooth di gawai. Lagu yang pertama kali berputar adalah lagu cinta dalam hidupku yang dinyanyikan oleh Rossa.
Fira memandangi Zayn yang di sampingnya, kemudian memandangi Zema dan Alira yang berada di jok tengah. Namun Zema dan Alira tampak menikmati tontonan kartun pada layar televisi yang menempel di kepala bangku mobil. Ibu tiga anak ini menebar senyum kepada anak-anaknya. Fira bersyukur dianugerahi tiga anak sebagai pelipur hati.
Fira jadi menyemangati diri sendiri, ia termenung sebelum menikah dengan Henry, ia terbiasa mandiri. Sepertinya Fira kembali ke masa single mom dulu, maksudnya menjemput anak-anak tanpa mengandalkan siapapun. Karena jika hanya mengandalkan Henry, Fira rasa tidak mungkin. Fira berusaha memahami kesibukkan Henry, walaupun diketahui Henry masih marah padanya.
Saking fokusnya terhadap jalanan sambil mendengar lagu cinta, Fira tidak menggubris jika Zayn memegang gawainya. Sebentar-sebentar Zayn melirik mamanya, kemudian menatap layar gawai Fira. Jemari Zayn cekatan mengetik pesan di WhatsApp. Usai mengetik pesan tersebut, ternyata Zayn mengirimkan pesan untuk Henry. Saat itu pula WhatsApp milik Henry aktif.
[Papa, jangan marahan lagi sama Mama. Zayn, Zema dan Alira pengen lihat Papa baikkan sama Mama. Ini beneran Zayn. Soalnya Mama lagi nyetir mobil.]
Zayn senang bukan main saat melihat pesannya terbaca langsung oleh papanya. Anak laki-laki sepuluh tahun itu buru-buru menghapus pesan yang barusan dikirimnya. Ia khawatir jika pesan itu---akan dibaca Fira. Zayn kembali duduk dengan tenang sambil melihat jalanan.
Mobil yang membawa Fira dan ketiga anaknya tiba di depan Apotek Farmala, masih di daerah Tembalang. Fira lantas menghentikan kemudi mobil. Fira melepaskan sabuk pengaman mobil, kemudian Zayn juga melepas sabuk pengaman mobil. Fira lantas membawa gawai kemudian dimasukkannya ke dalam tas.
Fira dan ketiga anaknya turun dari mobil. Seperti biasa, Fira selalu memakai kacamata bening saat di luar ruangan. Mama dan anak-anaknya saling bergandengan. Mereka bergegas menuju ke dalam apotek.
__ADS_1
***
Sembari menunggu mamanya, Zayn, Zema dan Alira duduk di ruang tunggu. Di sisi lain, dua mata Fira celingak-celinguk mencari sesuatu yang ingin dibelinya. Ia bingung melihat seisi etalase apotek di sini. Seorang gadis yang berprofesi sebagai apoteker itu melayani Fira dengan ramah. Fira juga membalas keramahan gadis apoteker tersebut.
"Saya ingin vitamin EOL yang untuk anak-anak, ya, Mbak," pinta Fira seraya mengacungkan jari telunjuk di etalase.
Gadis apoteker itu lantas mengambil vitamin anak-anak yang diminta Fira. "Ada lagi, Bu?"
"Oh, itu, suplemen penambah darah EOL yang sirup. Sama apa lagi, ya?" Fira lantas meletakkan telunjuknya di dagu.
Gadis apoteker itu mempersiapkan kantong plastik putih untuk membungkus dua produk suplemen yang dipesan Fira. Ketika mata Fira terus celingukan, seketika pandangan berhenti saat melihat test pack, ada beragam test pack, mulai dari strip, stik hingga digital. Fira jadi punya keinginan untuk membeli test pack itu.
"Sudah dua puluh lima hari di masa suci, tapi aku belum kunjung haid. Walaupun belum telat, aku jadi penasaran ingin test pack," gumam Fira.
"Ada lagi yang ingin saya ambilkan, Bu?" tanya gadis apoteker itu.
"Hmm, saya beli test pack yang stik aja, Mbak. Udah, itu aja."
"Baik, Bu." Gadis apoteker lantas mengambil test pack stik yang diinginkan Fira, kemudian ia cekatan menaruh test pack ke dalam kantong plastik putih bersama suplemen vitamin tadi.
"Berapa, Mbak?" tanya Fira.
Gadis apoteker itu menjawab, "jadi totalnya sembilan puluh lima ribu, Bu."
Fira merogoh tas untuk mengambil dompet. Namun ia melihat layar gawai begitu terang, di situ ada pemberitahuan pesan WhatsApp dari Henry. Pesan dari Henry yang bertuliskan selalu sayang kalian semua. Fira mengernyit heran, mengapa isi pesan Henry seperti itu?
Fira mengalihkan pandangan. Wanita ini mengambil selembar uang seratus ribu dari dalam dompet. Ia kemudian membayar suplemen vitamin dan test pack kepada gadis apoteker itu. Gadis apoteker itu meminta Fira untuk menunggu uang kembalian. Fira mengangguk kemudian membalikkan badan melihat tiga anaknya yang sedang menunggunya.
Tidak butuh waktu yang lama untuk menunggu uang kembalian. Gadis apoteker tadi menyerahkan uang kembalian kepada Fira. Pun diserahkannya kantong plastik putih yang berisi suplemen vitamin dan test pack kepada Fira. Gadis apoteker itu tidak lupa mengucapkan terima kasih atas berkunjungnya Fira di apotek ini.
***
Tepat di sebuah balkon flat apartemen, tapi sepertinya bukan di Indonesia, waktunya pun berbeda, yakni malam hari. Pemandangan Kota Toronto terang benderang dengan sorotan lampu di mana-mana. Seorang pria tiga puluh tahun ini sedang berdiri di balkon seraya menikmati dinginnya malam. Suhu dingin sama dengan suasana hati yang dingin tanpa kehangatan cinta dari sang pujaan hati.
Ironisnya, bukan kehangatan cinta yang menyelimuti hatinya. Namun sosok pria itu menahan api cemburu yang membakar hatinya. Matanya tajam melihat berbagai foto dan video keluarga bahagia yang terpajang di akun Instagram Henry. Pria ini kian pilu saat melihat kemesraan sahabat kecilnya dengan Henry. Ya, sosok pria ini tidak lain adalah Rafi.
Marah, kecewa, patah hati dan gundah gulana beradu menjadi satu. Rafi hanya bisa memendam rasa meski itu menyesakkan dada. Lima tahun berjauhan dari Fira, tidak membuatnya mudah melupakan Fira begitu saja. Walaupun usia sudah berkepala tiga, justru paras Fira yang awet muda, membuat Rafi kian terkagum.
"Aku sudah terbiasa hidup dengan patah hati ini. Apa dayaku, tidak ada sesuatu yang bisa aku lampiaskan segala kerapuhan hati. Air mataku sudah kering untuk menangisi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Hanya, aku sulit menerima kenyataan ini," ungkap Rafi.
Rafi mencengkeram erat gawai. "Foto dan videomu bersamanya, menunjukkan bahwa kamu benar-benar melupakanku. Apa kamu tidak ingat sekelumit kisah kecil kita dulu? Kalau waktu bisa diputar ulang, aku ingin kembali ke masa kita di Singapura. Kamu masih tetap Fira yang aku kenal. Wanita ramah dan ceria. Kita bekerja di restoran yang sama. Namun kenapa Henry datang di kehidupan kita? Seketika ia meluluhlantakkan persahabatan kita sejak kecil."
"Kenapa takdir cinta tidak memihak kepadaku, aarrgghh!" Rafi lantas menjerit di balkon apartemen tingkat tinggi.
"Bang Rafi, kenapa teriak begitu sih? Memangnya ada maling di sini?" Tiba-tiba suara gadis bawel itu mengejutkan Rafi. Hingga tubuh atletis Rafi berbalik arah. Dilihatnya gadis cantik dengan balutan jilbab segitiga berdiri di belakangnya.
"Lena! Ini anak enggak sopan masuk ke flat apartemen laki-laki," tegur Rafi.
"Bang Rafi minta disentil, ya, hidungnya. Lihat itu pintu terbuka lebar. Aku, Steve dan Brisia manggil Bang Rafi di depan pintu. Kuping Bang Rafi ke mana sih?" ucap Lena.
"Terus, Steve dan Brisia ke mana?"
"Hehehe, mereka lagi mengambil minuman soda di mobil. Oh, iya, ini aku bawakan makanan, ada pizza, beef steak dan cemilan."
__ADS_1
"Ya, udah, kamu duduk di situ."
Lena dengan senang hati duduk di kursi. Gadis hijabers ini antusias menata makanan di atas meja. Sementara Rafi agak malas-malasan menatap makanan yang tersaji. Gawai milik Rafi yang sedari tadi menyala, dimatikannya begitu saja.
"Tahu enggak, Bang?" Lena mendongak menatap Rafi.
"Enggak tahu, tapi tempe," jawab Rafi seraya meringis.
"Yee, malah tempe. Alhamdulillah, omzet distro jadi meningkat. Itu berarti gaji kami di distro juga naik kan, Bang?" Lena semringah sembari mengayunkan kedua alisnya.
"Naik-naik, manjat pohon sana, ambil gaji daun tuh," seloroh Rafi.
"Yee, dasar pak tuwir, becanda melulu. Pantas jomblo terus, pelit sih," canda Lena.
"Gaji sih gampang. Nanti aku pikirkan, oke. Dasar perempuan, memang kalau gaji lebih buat apa? Buat shopping?"
Lena lantas meletakkan kedua tangannya di dagu. "Ya, buat kirim uang ke orangtuaku dan biaya kuliahku dong, Bang. Aslinya aku capek tahu kuliah, pengen nikah aja."
"Kamu masih muda. Bahagiakan orangtua dulu."
Rafi lantas duduk berlawanan arah dengan Lena. Gadis itu malah mengerucut bibir. Lena menatap Rafi dengan serius. Namun pria berkaos hitam ini justru menikmati pizza di sesekali gigitan. Lena merasa Rafi tidak peka terhadap kodenya tadi.
"Menurut Abang Rafi, ada enggak sih yang mau sama aku?" tanya Lena.
"Pasti ada lah. Kamu cantik," jawab Rafi seraya menguyah pizza.
"Ya, pasti ada, aku juga bakal menerima seorang pria itu. Walaupun aku tahu sosok pria itu mempunyai masa lalu pilu."
"Memang ada pria yang kamu sukai?"
"Ada, tapi kayaknya dia enggak peka, Bang. Sedih aku tuh. Coba sedikit saja dia buka hati untukku, hmm."
"Soal itu, coba kamu konsultasi sama Fira. Dia ahli bisa membuka hati seseorang."
"Kak Fira melulu yang dibahas, heran!"
"Enggak percaya, ya, udah. Kamu belum mengenal dia sih. Barangkali Fira bakal bantu kamu deketin pria yang kamu suka itu."
"Pria yang aku sukai itu, ya, Bang Rafi sendiri. Tapi, ada benarnya juga sih, kayaknya emang di Kak Fira kuncinya biar bisa bantu aku deketin Bang Rafi," batin Lena sembari tersenyum-senyum.
Rafi yang tengah mengunyah pizza jadi bergidik ngeri melihat Lena senyum-senyum sendiri. "Enggak ada hujan, enggak ada petir, senyum-senyum kayak orang kesurupan aja, Len."
"Ya, kan aku kesurupan cinta seorang pria idamanku. Terima kasih, ya, Bang, sudah menyarankan Kak Fira jadi mak comblangku." Lena gemas kegirangan seakan ia membayangkan indahnya mendekati cinta jika dengan perantara Fira.
Rafi lagi-lagi mengambil pizza. Perasaan yang menyesakkan dada membuat perutnya keroncongan. Namun di sisi lain, Lena senyum-senyum melihat wajah tampan Rafi. Meskipun di dagu Rafi tumbuh bulu-bulu halus, tapi itu tidak menghalangi hati Lena untuk mengagumi sosok Rafi.
Lena lantas membatin. "Mungkin untuk saat ini, Bang Rafi enggak peka terhadap perasaanku. Namun, aku yakin, suatu saat nanti, Bang Rafi bisa luluh jatuh cinta sama aku. Cukup bersamamu, aku bisa jadi gadis yang percaya diri."
***
Bagaimana tanggapanmu setelah membaca novel ini? Komentar di bawah ini yuk. Diharapkan untuk memberi komentar tentang novel ini. Supaya penulisnya tahu dan kenal ulasan dari setiap pembaca sebenarnya.
Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, dan kasih rating (bintang 5). Supaya authornya ini semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Terima kasih.
__ADS_1
Note: Teruntuk yang menurunkan rate, saya tidak tahu siapa. Yang jelas, jangan mudah menurunkan rate. Alangkah baiknya, chat pribadi dengan saya. Semoga Allah mudahkan dan lancarkan segala urusan kita dalam kebaikkan. Termasuk menghargai karya penulis. Insyaallah, rezeki setiap karya itu pasti ada, yang penting ikhtiar dan yakin kepada Allah.