Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Sosoknya Datang


__ADS_3

Tujuh belas Agustus tiba di depan mata. Hari ini tepat hari kemerdekaan Republik Indonesia. Warga satu komplek Perumahan Tembalang masih berkumpul di lapangan sepak bola. Usai melaksanakan upacara bendera, khusus para pria memeriahkan acara tujuh belas Agustus dengan pertandingan bola. Para pria dari dua komplek perumahan yang berbeda ini sudah berganti pakaian bola.


Henry antusias bergabung di tim bolanya. Momen yang disukainya adalah bermain bola. Bersama timnya, Henry begitu piawai mengatur strategi tendangan. Semangatnya tak gentar menghadapi lawan tim lain. Di antara pemain sepak bola lainnya, hanya Henry yang paling tinggi.


Henry tidak sendirian. Ada Bryan dan Irwan yang menemani pertandingan bola itu. Bryan dan Irwan juga tak kalah antusias memeriahkan acara tujuh belas Agustusan. Kaki dua lelaki yang jenjang ini juga perlu penyegaran dengan sepak bola.


Fira, Zayn, Zema, Alira dan keluarganya menonton di pinggir lapangan. Mereka bersama satu komplek perumahannya bersorak gembira memberikan semangat kepada para pemain sepak bola. Mata Fira yang memakai kacamata bening itu berbinar-binar melihat sang suami jago bermain bola.


Gerak-gerik Henry dalam bermain bola tidak perlu ditanyakan lagi. Kakinya yang menendang bola seakan peka terhadap serangan dari lawan. Henry juga mengoper bola ke setiap orang di dalam timnya. Begitu juga timnya cekatan mengoper bola ke arah Henry.


Fira tidak ingin melewatkan momen ini, ia lantas merekam video pertandingan bola di gawai. Lefia, Zayn, Zema dan Alira bersantai duduk di bawah pohon rindang sembari memakan cemilan dan minuman yang telah dibawa. Sementara Ratih dan Fatih fokus pada menantu dan anak laki-lakinya, beliau berdua juga antusias melihat pertandingan bola.


Pertandingan bola cukup memakan waktu sembilan puluh menit. Peluit yang nyaring itu ditiup oleh wasit, pertanda pertandingan bola telah usai. Wasit menentukan yang memenangkan pertandingan bola adalah tim komplek perumahan, dimana Henry dan Bryan tinggal di sana. Tim tersebut sorak gembira sambil berpelukan. Saking gembiranya, mereka juga bangga dengan permainan Henry yang begitu elegan dan ciamik. Henry sukses mencetak gol sebanyak tiga kali di timnya.


Henry, Bryan dan Irwan berlari menuju ke pinggir lapangan. Henry disambut oleh Fira dengan senyuman manis. Irwan disambut oleh Lefia, Lefia sigap menyeka keringat Irwan dengan tisu. Namun lain halnya dengan Bryan, ia justru disambut oleh Fatih dan Ratih. Bryan merasa ngenes melihat Henry dan Irwan yang disambut pasangan masing-masing.


"Pak, Bu, Bryan pengen punya jodoh, huhuhu," rengek Bryan.


"Heh, cah lanang kok cengeng! Kayak gini, ya, jodohmu nanti kabur," tegur Fatih.


Mereka tertawa terkekeh-kekeh melihat Bryan karena kejomloannya. Fira sigap mengambil tisu dan sebotol air mineral untuk Henry. Henry duduk di atas rumput, ia meminum sebotol air kemudian mengatur napas. Sementara Fira menyeka keringat yang membasahi wajah oriental Henry. Henry menatap Fira penuh cinta. Begitu juga dengan Fira. Rasanya ingin melepaskan rindu yang menggebu-gebu dengan pelukan, tapi keduanya tampak mengurungkan niat.


"Selamat, ya, karena jadi pemenang di pertandingan bola," ucap Fira.


"Aku semangat bermain karena ada kamu," ucap Henry.


"Hehehe, bisa saja." Fira lantas tersipu-sipu.


"Yeay, Papa hebat dan superhero!" seru Zayn, Zema dan Alira.


Ketiga anak itu memeluk erat Henry. Tidak peduli dengan keringat yang membasahi pakaian bola yang dikenakan Henry, bagi anak-anak adalah papanya berhasil meraih kemenangan. Henry pun membalas pelukan tiga anak sambungnya dengan penuh kasih sayang.


"Zayn pengen jadi pemain bola kayak Papa," ucap Zayn.


"Zema juga! Zema suka main bola," ucap Zema.


"Oke, dua anak laki-laki Papa yang gentle. Insyaallah, kalau ada waktu, Papa ajarkan main bola. Yang penting semangat dan tekadnya," ucap Henry.


"Siap, Papa Bos!" seru Zayn dan Zema.


"Alira kayak Mama aja, bagian menyiapkan makanan dan minuman untuk Kak Zayn dan Kak Zema, hehehe," celetuk Alira.


"Anak baik dan cantik." Henry membelai rambut Alira yang panjangnya sebahu.


Sejenak keluarga ini istirahat sambil menikmati makanan dan minuman yang dibawa dari rumah. Fira, Lefia dan Ratih sudah antisipasi menyiapkan makanan dan minuman, karena sudah tahu setelah upacara bendera, ada pertandingan bola.


Ketika keluarga ini tengah menikmati kebersamaan. Tim bola Henry datang menghampiri Henry, yang rata-rata pemuda dan bapak-bapak itu. Henry beranjak dari tempat dan menyambut mereka dengan ramah.


"Pak Henry, ini piala dan hadiah untuk Anda. Kami sudah mendapatkan hadiah juga," ucap seorang pemuda.


"Piala itu sebaiknya disimpan pada Pak RT perumahan saja atau di mana gitu, yang layak. Untuk hadiah untuk kalian saja. Saya bermain bola sekadar untuk menyalurkan hobi dan penyegaran tubuh saya," ucap Henry.


"Kalau begitu, hadiahnya buat Mas Bryan dan Pak Irwan saja," ucapnya.


"Hadiahnya untuk kalian saja," ungkap Bryan dan Irwan secara bersamaan.


"Wah, kalian ini keluarga yang baik. Kami bangga memiliki tetangga seperti kalian. Terima kasih, Pak Henry, Mas Bryan dan Pak Irwan, semoga Allah membalas kebaikkan kalian."


"Sama-sama, Mas-mas dan Bapak-bapak. Soalnya saya juga main bola untuk senang-senang, hehehe," kata Bryan.


"Sama-sama, semoga hadiahnya bermanfaat bagi semuanya," kata Henry.


"Sebaiknya hadiah yang berupa uang ini kita musyawarah kepada Pak RT masing-masing," usul salah satu dari mereka.


"Setuju, boleh juga tuh." Mereka pun serentak dan sepakat.


***


Setelah salat Dzuhur berjemaah di masjid, benar-benar membuat Henry, Bryan dan Irwan tampak segar kembali. Tiga pria itu sudah membersihkan diri dan masing-masing pakaian muslim wangi parfum. Mereka bertiga tiba di depan rumah, Henry membuka pintu. Khusus hari ini, mereka berkumpul di rumah mertua Henry.


Bryan dan Irwan masuk ke dalam rumah. Sementara Henry masih berdiri di ambang pintu, tangan kanan merogoh saku baju koko. Diambilnya gawai dan menyalakan gawai tersebut. Henry melihat layar gawai ada pemberitahuan pesan masuk. Henry pun tersenyum membaca pesan masuk dari seseorang itu.


"Hayo, yang senyum-senyum sendiri, ada apa tuh?" ujar Fira. Wanita itu menepuk bahu suaminya, hingga Henry terkejut. Henry cepat-cepat memasukkan gawai di dalam sakunya.


"Enggak ada apa-apa. Ini kepentingan bisnis," ucap Henry.


"Bisnis, ya? Hmm, baiklah, aku ini memang enggak boleh banyak tahu tentang kamu." Fira mendengus, wajahnya yang tadi ceria seketika berubah jadi masam.


"Apa kamu ingin tahu semua tentangku?" tanya Henry. Dua tangannya lantas menyentuh pipi Fira.


Fira hanya menunduk lesu dan menjawab, "sebenarnya kalau sudah menikah tidak perlu yang disembunyikan apapun. Bukannya kita pernah berbicara tentang saling berbagi cerita? Namun, jika ada sesuatu yang membuatmu keberatan untuk berbicara, ya, aku enggak bisa maksa."


"Kamu percaya sama aku kan? Aku enggak akan berpaling darimu, Fira. Untuk mendapatkan cintamu saja, aku berjuang. Apalagi kamu dengan sabarnya menungguku selama lima tahun lamanya. Aku selalu ingat itu."


Fira lantas membatin, "bukan itu maksudku. Maksudku, kamu berbagi cerita tentang psikologismu."


"Ehem, katanya mau masakkin aku semur jengkol, mana nih?" goda Henry. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan Fira.

__ADS_1


"Memang orang kayak kamu suka semur jengkol?" Fira mengernyit dahi.


"Sebenarnya aku enggak suka semur jengkol, karena menyebabkan bau mulut. Karena aku sudah menikah dengan istriku, jadi aku ingin coba masakan semur jengkol buatan istri."


"Boleh makan semur jengkol, tapi jawab pertanyaanku dulu."


"Pertanyaan apa?"


Fira menatap Henry lekat-lekat, seakan sedang menginterogasi suaminya. "Kamu senyum-senyum tadi, habis dapat SMS dari siapa?"


"Ya Allah, hahaha. Itu SMS dari manajerku, nanti malam ada acara silaturahim. Kamu siap ikut, ya."


"Henry, enggak ingat, ya, kalau tepat hari ini sebulan hari jadi pernikahan kita," gumam Fira.


"Yuk, kita ke ruang makan. Aku sudah lapar nih."


Ketika Henry dan Fira hendak melangkah ke ruang makan, dari belakang, ada suara ketukan pintu secara berulang kali. Henry dan Fira lantas membalikkan badan. Empat mata itu terbeliak melihat sosok pria yang hadir di hadapan keduanya. Sosok pria yang dianggapnya telah tiada, kini justru berdiri di ambang pintu.


"Mas Kirsandi," ucap Henry.


"Assalamu'alaikum, Henry dan Dik Fira," sapa sosok pria bertubuh jangkung itu. Senyumnya yang menawan itu terdapat kumis dan berewok tebal di sekitar dagu.


"Wassalamu'alaikum, Mas," ucap Fira.


"Ya Allah, kenapa jadi begini? Mas Kirsandi hadir di kehidupanku dan Fira. Bukankah Fira bilang kalau Mas Kirsandi telah wafat karena kecelakaan. Astaghfirullah, apa yang terjadi nantinya?" batin Henry.


"Maaf, ya, aku mendadak datang di rumah kalian. Aku tahu alamat rumah ini dari Ibuku," ucapnya.


Henry menggenggam erat lengan Fira. Mata sipit itu menyorot tajam ke Fira. Ia pun berbisik di telinga Fira. "Fira, katakan padaku, sejujurnya, apa benar Mas Kirsandi masih hidup?"


Fira terkejut dengan genggaman tangan Henry. Ia lantas menoleh ke Henry. "Apa maksudmu, Hen?"


"Ini apa? Sebenarnya Mas Kirsandi masih hidup atau telah tiada? Katakan," bisik Henry.


"Oh, hahaha, aku dengar pembicaraan kalian. Henry, tenang saja, kamu jangan takut dengan saya," ucap pria itu. Ia menurunkan tas yang dibawanya.


"Bukan saya takut dengan Anda. Hanya, ini perkara rumit, jadi saya ingin penjelasan dari istri saya," ucap Henry.


Pria berparas tegas itu meringis melihat kecemasan yang tampak di wajah Henry. Sementara Fira bingung ingin menjelaskan mulai dari mana? Henry kembali menatap sinis ke Fira. Fira keheranan melihat Henry dengan mudahnya menyimpulkan sesuatu. Akhirnya Fira angkat bicara.


"Henry, dengarkan dulu, sebenarnya ini Mas ..."


"Sepertinya suamimu yang sekarang enggak perlu penjelasan, Dik Fira," sela pria itu.


"Mas, jangan buat kompor dong di sini," geram Fira.


"Tolong, jelaskan, apa semua ini? Biar saya enggak salah paham!" gertak Henry.


Sepertinya Henry tampak pasrah dengan keadaan. "Kalau Mas ingin hak asuh anak-anak, saya terbuka, karena Mas Kirsandi adalah Ayah mereka."


"Yakin, kamu enggak mau dengarkan dulu pengakuan saya?" Pria itu mengerutkan kening. Mata bulat yang tegas berusaha meyakinkan Henry.


"Pengakuan apa?" Henry kian penasaran.


"Saya ini Keenan, adik kembarnya Kirsandi. Saya dan Kirsandi itu kembar identik, makanya wajah kami persis, cuma yang membedakan bibir saya tipis dan bibir Kirsandi tebal," jelas pria yang bernama Keenan.


"Iya, ini Mas Keenan. Beliau memang enggak pernah kelihatan di keluarga. Soalnya Mas Keenan tinggal di Jakarta," ucap Fira.


Henry terlihat masih tidak percaya dengan kehadiran Keenan. "Beneran, ini kembaran Mas Kirsandi?"


"Iya, beneran. Aku masih menyimpan foto Mas Kirsandi dan Mas Keenan waktu kecil dan remaja. Kamu bisa lihat foto mereka." Fira berusaha meyakinkan Henry.


Henry lantas mengusap wajah dengan kedua tangan. "Alhamdulillah, lega."


"Dik Fira, padahal aku tadi ingin mengerjai suamimu ini. Sepertinya Henry enggak berdaya jika Kirsandi datang di hadapannya, hahaha," kelakar Keenan.


"Maafkan saya, Mas. Saya cuma hati-hati soal perkara ini. Kalau seandainya Mas Kirsandi hadir di kehidupan saya, saya jadi merasa bersalah telah menikahi Fira, hehehe." Henry menggaruk tengkuk, walaupun tidak ada yang gatal.


"Sekarang sudah jelas kan? Ya, mana mungkin orang yang udah wafat, bangkit lagi, ada-ada saja."


Fira akhirnya mengajak dua pria ini ke ruang makan. "Yuk, Mas Keenan dan Henry, kita makan siang bersama."


Fira mempersilakan Keenan masuk ke dalam rumah. Keenan menaruh tas di sofa. Henry dan Fira saling bergandengan tangan. Henry terus melihat wajah Fira. Seandainya Kirsandi hadir di kehidupan Henry dan Fira, dari lubuk hati Henry, ia belum siap untuk kehilangan Fira. Namun ternyata yang hadir adalah adik kembar Kirsandi. Henry jadi lega dan nyaman.


Henry, Fira dan Keenan di ruang makan. Tiga anak itu sontak terkesiap melihat sosok pria yang berdiri di samping papanya. Sudah dipastikan bahwa Zayn, Zema dan Alira melongo dengan sosok pria mirip dengan mendiang ayahnya. Namun Ratih, Fatih dan Bryan sudah mengetahui jika pria tersebut adalah Keenan.


"Ayah!" pekik Zayn, Zema dan Alira.


"Masa Zayn lupa sama Om Keenan? Adik kembarnya Ayah Kirsandi," ucap Fira.


"Oh, iya, Zayn lupa, Ma. Zayn jadi kaget kalau ini Ayah," ucap Zayn.


"Anak-anak, jadi ini adalah Om Keenan, adik kembarnya Ayah, bukan Ayah loh," jelas Fira.


"Enggak apa-apa, kalau Om Keenan dipanggil Ayah. Ada yang rindu Ayah Kirsandi enggak nih?"


Fira menoleh ke Henry, begitupun Henry. Henry hanya bisa terdiam. Ia berusaha maklum di posisi tiga anak itu. Namun Zayn, Zema dan Alira justru kebingungan menjawab pertanyaan dari Keenan. Keenan peka terhadap sekitar, ia menduga tiga anak itu masih terkejut dengan kehadirannya.

__ADS_1


"Anakmu tiga, Dik Fira?" tanya Keenan.


"Anak perempuan itu adalah anak Mas Kirsandi dengan istri keduanya. Namun istri kedua Mas Kirsandi telah menyusul Mas Kirsandi ke Rahmatullah," jawab Fira.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un. Aku baru tahu jika Kirsandi punya istri kedua."


"Aku juga baru tahun ini---ketemu istri kedua Mas Kirsandi."


"Yuk, Nak Keenan, makan bareng sama kami," ajak Ratih.


Fatih menyambut Keenan dengan ramah. "Pasti jauh-jauh datang dari sini. Gimana kabar Pak Risman dan Bu Lestari?"


"Alhamdulillah, Bapak dan Ibu saya baik dan sehat, Pak."


***


Waktu berkualitas yang direncanakan Henry telah tiba. Henry membawa Fira dengan menaiki motor matic, menyusuri sepanjang jalan Kota Semarang. Henry dan Fira juga mengenakan helm. Sorotan lampu di pinggir jalan, menerangi jalanan malam ini. Motor matic yang dibawa Henry melewati tugu muda. Fira semringah melihat gemerlapnya Kota Semarang, apalagi naik motor bersama suami tercinta.


Walaupun kehidupan Henry dan Fira bergelimang harta, tapi dua sejoli ini justru bahagia dengan naik motor matic. Henry merasa kembali ke masa sekolah dulu. Fira jadi ingat masa sederhananya dulu, waktu masih kerja di salah satu restoran di Semarang, ia naik motor.


"Aku lebih bahagia seperti ini. Jadi bisa mengekspresikan diri kita kalau naik motor," ungkap Fira.


"Aku juga jadi semakin mesra denganmu. Memang benar, bahagia itu sederhana. Kita jadi kayak orang-orang pacaran," sahut Henry.


"Bedanya kita pacaran sudah halal dapat pahala lagi, kalau lagi mesra-mesraan."


"Benar sekali. Pintar banget sih, istriku."


"Omong-omong, kita mau ke mana, Hen?" tanya Fira.


"Kan aku sudah bilang kita bakal silahturahim," jawab Henry.


"Silahturahim ke tempat siapa?"


"Ya, tentunya orang-orang yang kita kasihi."


"Entah kenapa aku merasa nyaman begini, Hen. Terlepas dari kesuksesan kita, aku ingin memiliki waktu berkualitas tapi sederhana seperti ini."


"Aku jadi kangen masa kita dahulu, Fir. Ketika kita sama-sama jadi perantauan. Kehidupan sederhana yang membuat kebersamaan menjadi berarti."


Fira memeluk Henry. Kepalanya yang berbalut hijab disandarkan pada punggung sang suami. Dari balik helm, Henry tertawa kecil melihat kebahagiaan Fira. Henry kagum kepada Fira, wanita sukses yang tidak malu dan gengsi dengan kesederhanaan.


Kini, motor yang dibawa Henry melewati Simpang Lima, di antara lalu lalang kendaraan, Henry piawai mencari celah supaya tidak terjebak macet. Malam semakin larut, Kota Semarang semakin ramai kendaraan, karena ini akhir pekan. Fira tetap menikmati perjalanan dengan semilir angin yang menyejukkan mata.


Henry dan Fira tiba di Hotel Novotel Semarang. Henry terlebih dahulu menghentikan motornya di tempat parkir. Fira tertegun melihat gedung hotel yang menjulang tinggi itu. Henry dan Fira melepaskan helm secara bersamaan. Ditaruhnya dua helm menggantung di spion motor.


Henry sigap menggandeng Fira menuju ke dalam lobi hotel. Pada saat keduanya masuk ke dalam hotel, Fira terkejut dengan sambutan para karyawan perusahaan Excellent. Karena setiap dari mereka mengenakan seragam perusahaan. Fira menoleh ke Henry, tapi Henry hanya tersenyum melihat Fira.


Henry bergegas membawa Fira ke suatu tempat. Wanita bergamis motif bunga itu menuruti suaminya. Hingga tiba di sebuah kolam renang yang telah dihiasi bunga-bunga. Taburan bunga tersebut berbentuk hati dan ditengahnya bentuk angka satu.


Fira terbelalak melihat kejutan romantis yang tidak disangka-sangka. Ia tidak bisa berkutik lagi kepada Henry ternyata ingat hari jadi pernikahan. Tujuh belas Juli, Henry dan Fira menyatu dalam pernikahan dan tujuh belas Agustus tepat sebulan usia pernikahan keduanya.


"Masyaallah, Henry," tutur Fira.


"Happy wedding anniversary, my wife," ungkap Henry.


"Masyaallah, Henry, ka-kamu bener-bener, ya, bikin aku berdebar."


Henry lantas mencium kening Fira sembari memeluk istri tercinta. "Aku mencintaimu, Fira. Maafkan aku, jika aku banyak salah padamu. Aku ingin kamu mendampingiku di sisa hidupku."


"Aku juga mencintaimu, Henry. Aku juga minta maaf, jika aku ada salah dan keliru sama kamu. Aku belum bisa jadi istri yang sempurna."


"Manusia tiada yang sempurna, tapi dengan cinta karena Allah yang menyempurnakan kehidupan kita."


"Terima kasih, suamiku. Aku pikir kamu bakalan lupa sama hari jadi pernikahan kita."


"Eits, ini belum seberapa."


Henry bertepuk tangan. Dari sudut ruangan, hadir anak-anak yatim piatu yang didatangkan langsung dari panti asuhan, dimana Fira menjadi donatur di sana. Setelah itu, hadir keluarga Henry dan Fira, termasuk tiga anaknya. Fira terharu dengan momen spesial malam ini. Henry ingin berbagi kebahagiaan kepada keluarga dan anak-anak yatim piatu itu.


"Selamat hari pernikahan untuk Pak Henry dan Bu Fira. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Rezekinya selalu diberkahi oleh Allah," ungkap pengurus dan anak-anak panti asuhan.


"Aamiin yaa rabbal alamin," ucap Fira dan Henry.


"Papa dan Mama, semoga cepat kasih adik baru buat Zayn, Zema dan Alira," seru Zayn.


"Aamiin."


"Sekarang, kita merayakan hari kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan cinta Henry dan Kak Fira, hahaha. Ayo, pada makan-makan," seru Bryan.


Fira menatap Henry lekat-lekat. "Aku ingin kita terus begini sampai tua nanti."


"Aku ingin punya anak banyak darimu," goda Henry. Salah satu mata sipitnya berkedip kepada Fira.


"Insyaallah, aamiin."


"Selagi di hotel, aku dan kamu menginap di sini dan bisa ngapain aja sampai pagi."

__ADS_1


Fira mendelik ke Henry. "Henry! Jangan ngomong gitu, nanti didengar orang-orang."


Pelayan hotel yang dipilih membantu jalannya acara, serentak mereka menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu. Malam ini, semua orang di sini berhak untuk bahagia. Selain merayakan hari kemerdekaan, juga merayakan kemerdekaan cinta antara Henry dan Fira. Momen spesial di tanggal tujuh belas ini akan menjadi sejarah di dalam kehidupan Henry dan Fira. Energi cinta ada di dalam hati insan yang tulus. Kemerdekaan cinta adalah ketika sepasang kekasih mampu melewati berbagai ujian dan badai.


__ADS_2