Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Kemilau Malam di Toronto


__ADS_3

Henry dan Fira menikmati jamuan di acara pertemuan para pengusaha. Pertemuan diselenggarakan oleh ayahanda Anna, tepat di ruang makan hotel mewah di Toronto. Henry dan Fira duduk di antara jejeran pengusaha beserta istri masing-masing. Mereka juga datang dari berbagai negara. Pengusaha dari Indonesia, ternyata tidak hanya Henry, ada dua pengusaha lain di pertemuan megah itu.


Henry asyik mengobrol dengan beberapa pengusaha. Sementara Fira hanya senyum, seperti tidak ada gairah untuk berbicara. Wanita itu jadi minder karena berkumpul dengan orang kelas atas.


Fira menikmati hidangan yang telah tersaji di meja. Tidak seperti biasanya, Fira tampak lahap menyantap makanan lezat, hingga ada seorang wanita lebih tua selalu memperhatikan Fira. Dua wanita itu duduk berlawanan arah.


"Sepertinya Bu Fira sedang ngidam, ya? Dari tadi saya perhatikan Anda sangat menikmati makanan," ucap wanita anggun dengan balutan gaun formal berwarna putih.


"Bu Veronika bisa saja. Saya memang suka makan seafood," ucap Fira sudah kenal dengan wanita yang merupakan istri dari pengusaha lain.


"Saya ini pengalaman punya lima anak loh, Bu. Kalau lihat Anda sepertinya sedang ngisi alias hamil. Coba Bu Fira testpack deh," usul Veronika.


"Apa iya aku sedang mengandung? Tapi memang, aku sudah lama tidak datang bulan. Apa aku harus testpack lagi?" batin Fira.


"Pak Henry, coba Anda periksakan istri Anda ke dokter kandungan. Barangkali Bu Fira sedang isi bayi," usul Veronika lagi didengar oleh Henry.


Henry lantas menoleh ke Fira. Raut wajah istrinya meskipun dipoles dengan riasan, terlihat agak pucat. "InsyaAllah, saya segera membawa istri saya ke dokter kandungan."


"Soalnya saya dari tadi perhatikan Bu Fira makannya menyenangkan sekali. Bisa disebut ngebo. Saya ikut senang kalau Bu Fira benar-benar hamil. Ini berita bagus untuk kalangan terhormat, karena kalau Bu Fira mengandung, akan ada calon penerus Pak Lee Hyun Joong," jelas Veronika.


Fira jadi malu, sudut bibir ranum itu tersenyum. Henry jadi merenung ucapan Veronika, ada benarnya juga-- jika Fira sedang mengandung. Bisa jadi tidak enak badan yang dialami istrinya karena sedang hamil. Henry tidak berpikir sampai ke sana.


"Kamu masih lemas?" tanya Henry.


"Enggak, tapi aku lapar banget dan makanan ini enak sekali," jawab Fira dengan suara berbisik.


"Ya Allah, aku selalu sibuk dengan pekerjaanku, sampai kondisi Fira saja-- aku enggak paham. Sebaiknya lekas memeriksakan kesehatan Fira ke dokter," batin Henry. Pria berjas hitam itu menilik istrinya yang ayu dengan balutan gaun muslimah merah muda.


"Jangan memandangiku seperti itu, aku malu," bisik Fira.


"Kamu sudah enggak datang bulan lagi, ya, bulan ini?" lirih Henry.


"Memang sudah lama, aku enggak datang bulan," lirih Fira.


"Ya sudah, besok kita ke Rumah Sakit Pusat di Toronto."


Fira mengangguk pertanda setuju. Istri dari Henry itu melanjutkan santapan makan malam. Di mata Fira, hidangan seafood terasa menggiurkan lambungnya. Entah sudah berapa kali Fira tambah porsi? Yang jelas, Henry senang melihat Fira makan selahap itu.


Acara pertemuan para pengusaha telah usai. Semua hadirin lantas pulang ke kamar hotel masing-masing. Di ruangan aula hanya tinggal Henry, Fira, Jordan dan istrinya saja. Empat orang itu masih berdiri di tempat. Namun mata Fira berkali-kali berkedip seakan mengalami pusing. Henry justru asyik mengobrol dengan Jordan, ayahanda Anna.


"Are you okay, Mrs. Fira?" tanya wanita berambut putih yang merupakan ibunda Anna. (Apa Anda baik-baik saja, Bu Fira?)


"Oh, Mrs. Shopia. I think I'm very tired," jawab Fira masih berusaha tersenyum. (Oh, Bu Shopia. Sepertinya saya kelelahan.)


"Mr. Henry, it looks like you brought your wife to the room immediately. Mrs. Fira looks pale," ucap Shopia. (Pak Henry, sepertinya Anda segera membawa istri Anda ke kamar. Bu Fira terlihat pucat.)


"Oh oke, Mrs. Sophia," ucap Henry, "thank you for dinner, Mr. Jordan. Then my wife and I went back to the room." Henry berjabat tangan dengan Jordan. (Oh, baik, Bu Shopia.) (Terima kasih atas makan malamnya, Pak Jordan. Kalau begitu, saya dan istri saya kembali ke kamar.)


"You and your wife need enough rest. I hope you get well soon, Mrs. Fira," ucap Jordan. (Anda dan istri Anda butuh istirahat yang cukup. Saya harap Anda lekas sehat kembali, Bu Fira.)


Fira sesekali mengangguk lantas tersenyum. "Aamiin. Thank you, Mr. Jordan."


***


"Enggak tidur, Fir?" tanya Henry.

__ADS_1


Henry sedang berkutat di depan laptop seraya melihat istrinya berdiri di dekat jendela kamar hotel. Fira berbinar-binar melihat Tower Kanada Kian larut malam, lampu-lampu kota kian gemerlap. Kebetulan kamar hotel yang dihuni oleh Henry dan Fira dapat melihat Tower Kanada yang menjulang tinggi.


Tidak hanya kemegahan Tower Kanada yang dapat menarik perhatian. Gedung tinggi dan sekitar kota tampak ramai. Betapa luas dan kemilaunya malam di Kota Toronto, Kanada.


"Henry, bisa fotoin aku, enggak? Aku minta tolong fotoin aku dengan latar belakang Tower Kanada. Mumpung bagus nih pemandangannya," pinta Fira.


"Tunggu dulu. Tapi kamu masa pakai baju piyama tidur gitu? Ganti baju yang bagus dong, hehehe," ucap Henry.


"Oh iya, ya. Hold on, I'll change into a pretty dress." Fira antusias untuk ganti baju hingga mencari baju apik yang pas dari dalam koper. (Tunggu, aku ganti dress yang cantik.)


Fira telah menemukan gamis cantik dan kerudung pashmina yang senada. Wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk ganti baju. Henry tertawa kecil sambil geleng-geleng melihat Fira ingin foto dengan latar belakang Tower Kanada. Padahal, sewaktu pertemuan para pengusaha, Fira terlihat lunglai. Namun sekarang Fira terlihat ceria dan bugar kembali.


"Istriku lebih suka liburan dibandingkan pertemuan formal tadi. Kayaknya Fira butuh refreshing. Aku jadi enggak enak sama Fira karena aku terlalu sibuk, jarang bantu pekerjaan rumah," batin Henry.


Fira keluar dari kamar mandi. Henry melongo melihat penampilan Fira yang memperhatikan fesyen. Patut diacungi jempol, karena Fira kembali seperti gadis dengan balutan baju gamis muslimah kekinian berwarna cokelat pastel.


Fira lantas bercermin sambil memoleskan liptint berwarna merah kecokelatan merk Firannsa di bibirnya. Warna berry pada liptint tersebut membuat bibir Fira segar atau tidak pucat.


Fira cekatan merias wajah agar terlihat semakin cantik. Ia memoles eyeshadow dan eyeliner berwarna cokelat pada dua kelopak matanya. Fira sudah siap dengan wajah yang telah dirias jadi elok. Di sisi lain, Henry tidak berkedip dengan paras ayu istri tercinta. Kini Fira semringah seolah siap untuk berfoto dengan latar belakang Tower Kanada.


Henry mengambil ponsel merk Zams milik Fira yang berada di sampingnya. Sementara Fira mengambil posisi elegan di jendela kamar dan Tower Kanada berada di belakangnya.


Jemari Henry berselancar membuka kamera. Pria itu terlebih dahulu mengatur cahaya dan filter foto supaya menghasilkan foto yang estetik dan apik. Henry lantas kamera ponsel ke arah Fira. Tanpa diberi aba-aba, Fira piawai bergaya di depan kamera.


Kurun waktu lima belas menit, Henry dapat memotret Fira dengan puluhan foto dalam gaya yang berbeda. Henry melihat banyak foto Fira di galeri ponsel. Menurutnya, foto-foto ini sudah cantik. Henry harap Fira menyukai hasil jepretannya.


"Sudah, nih," ucap Henry sambil menyerahkan ponsel kepada Fira.


"Sini, aku lihat," kata Fira lantas mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel dari tangan Henry.


Henry kembali ke layar laptop untuk melanjutkan pekerjaan. Fira mengerucut bibir, seolah tidak puas dengan hasil jepretan foto dari Henry. Fira mengempaskan pinggang di sisi kasur. Pria berkaos abu-abu itu seketika terkejut dengan mimik wajah Fira.


"Lah, itu sudah bagus fotomu. Tinggal diunggah ke akun Enstagram kamu," ujar Henry.


"Belum ada yang pas. Tower Kanada kurang kelihatan, kurang estetik, foto lagi pokoknya," protes Fira seperti anak kecil yang tengah merengek.


Henry menggaruk rambut sambil cengengesan. "Eh, astaghfirullah, tumben istriku jadi gini? Biasanya nerima kalau hasil fotonya ala kadarnya."


"Fotoin aku lagi, please, hehehe." Fira menyodorkan ponsel kepada Henry. Sang suami sabar dan kembali memegang ponsel milik Fira.


Henry minta pendapat kepada Fira. "Baik, sayangku yang cantik. Jadi mau kayak gimana posisi foto kamu?"


"Aku pernah kasih lihat ke kamu soal tutorial memotret dengan posisi bagus itu. Jadi aku nanti kelihatan tinggi dan langsing. Masih ingat kah?" jelas Fira.


"Oh iya, ingat sedikit. Buruan, kamu atur posisi yang bagus," kata Henry.


"Foto yang bagus loh, Henry."


"Iya, sayangku. Nyonya Henry Lee yang cantik."


***


Jam digital di kamar menunjukkan pukul 22.00 malam waktu Kanada. Fira senyum-senyum melihat hasil foto yang dipotret oleh Henry. Dari sekian banyak foto, hanya sepuluh foto estetik yang dipilih oleh Fira. Wanita itu terlebih dahulu mengirim foto ke grup WhetsApp keluarganya. Grup Fatih Family terdiri dari Henry, orangtua, adik-adik dan anak-anak Fira. Ia sekalian memberi kabar kepada tiga anaknya di Semarang.


Henry hanya fokus pada layar laptop. Pria atletis itu cekatan mengetik dokumen perusahaan di Micros Word. Selain itu, Henry juga melihat buku laporan perusahaan.

__ADS_1


Sebentar-sebentar, Henry memandangi laptop kemudian ke buku laporan untuk mencocokkan data akurat perusahaan. Di layar laptop juga banyak surat elektronik masuk dari rekan bisnis dan staf kantor. Salah satunya, surat elektronik dari Kim Jae Young.


Kini jemari Fira berselancar di akun Enstagram @maghfiraannisa07. Fira memilih sebuah foto yang estetik untuk diunggah ke akun Enstagramnya. Wanita berkepala tiga itu tidak lupa menuliskan keterangan foto hingga menandai lokasi dan akun Henry di dalam fotonya. Ibu jari Fira menekan bagikan untuk mengunggah foto. Fotonya dengan latar belakang Tower Kanada berhasil diunggah di beranda Enstagram.


[Nikmati hari dengan perjalanan yang menyenangkan, sambil menunggu musim gugur tiba.]


Begitulah keterangan foto yang diketik oleh Fira. Hanya dalam hitungan detik, ribuan akun menyukai unggahan foto Fira. Sudah muncul beberapa komentar dari pengikut Enstagram Fira. Kali ini, ia merasa tenang, pasalnya komentar di akun Enstagramnya sudah difilter. Sehingga tidak sembarang orang berkomentar buruk di unggahan fotonya.


@perempuantangguhituyuri


[MasyaAllah, Kak Fira cantik dan pemandangan malamnya bagus.]


@womenjourney


[Wow, amazing! Nice picture, Sis. Have a nice day.]


@cewek.penganggum.alam


[Malam-malam upload foto, Kak. Duh, aku jadi ingin jalan-jalan ke luar negeri. Sholawatin saja dulu.]


@putrieritia


[Happy holiday, Kak Fira! Bahagia selalu untuk Kak Fira dan Oppa Henry.]


Ketika Fira berselancar di explore Enstagram, tiba-tiba muncul pesan masuk di Enstagram. Fira bergegas menelaah pesan pribadi yang menarik perhatian.


Dari banyak pesan masuk, Fira tidak menyangka ada pesan masuk dari Lena. Dua wanita itu telah memiliki akun verifikasi bercentang biru. Fira yakin dengan keaslian akun Enstagram @magdalena.zaskia. Ia lantas membuka pesan pribadi dari Lena.


@magdalena.zaskia


[Hai, Kak Fira, follback EG Lena dong. Kak Fira lagi di Toronto, ya? Wah, aku ingin bertemu dengan Kakak.]


^^^@magfiraannisa07^^^


^^^[Oke, segera follback EG kamu. Tapi, untuk saat ini, aku belum bisa ketemu kamu deh. Soalnya besok aku mau ke rumah sakit. Aku lagi enggak enak badan.]^^^


@magdalena.zaskia


[Umm, sayang sekali. Ya, enggak apa-apa, Kak. Semoga lekas sembuh. Kalau ada waktu, bisa dong, kita ketemu? Hanya aku, Kak Fira dan dua teman perempuanku.]


^^^@maghfiraannisa07^^^


^^^[InsyaAllah, aku enggak janji, hehehe.]^^^


@magdalena.zaskia


[Oke deh, Kak. Enjoy your trip to Toronto.]


Fira tidak membalas pesan dari Lena lagi. Ia berselancar di pemberitahuan akun Enstagram, Fira mengikuti akun Enstagram Lena. Gadis itu sangat berharap untuk bertemu dengan Fira.


Fira jadi melihat pemberitahuan ratusan ribu yang menyukai dan mengomentari unggahan fotonya. Ia senang membaca banyak komentar yang positif dan dukungan.


Ponsel Fira diletakkan pada nakas. Dua matanya terasa berat, kantuk mulai menyerang. Fira memandangi Henry yang sibuk mengerjakan dokumen perusahaan. Ia ingin bermanja dengan suami tercinta, tapi Fira khawatir mengganggu Henry. Lebih baik Fira merebahkan diri seraya menarik selimut kemudian melepas kerudungnya. Matanya mulai terpejam sampai terbuai oleh bunga mimpi.


Saking sibuk mengerjakan dokumen perusahaan, Henry baru menyadari istrinya sudah tertidur pulas. Pria bermata sipit itu terlebih dahulu menyimpan dokumen dalam bentuk file, kemudian mematikan laptop.

__ADS_1


Henry sejenak beranjak dari kasur. Ia menaruh laptop di meja. Pria bertubuh jangkung itu bergegas merebahkan diri di samping sang istri. Ia mencium hidung mancung Fira. Sang suami lantas memeluk Fira dengan penuh kehangatan.


Henry sejenak berbisik di telinga Fira. "Aku mencintaimu, Fira. Adanya kamu di dunia ini, membawa perubahan yang indah dalam hidupku."


__ADS_2