Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Perdebatan Sengit


__ADS_3

Perjalanan mereka berlanjut sampai di rumah pribadi Lee Hyun Joong, papi Henry. Rumah yang terletak di kawasan perumahan elite Seoul, Korea Selatan. Mobil itu terhenti di garasi. Kedatangan Henry dan keluarga disambut oleh tiga asisten rumah tangga.


Henry menggendong Zema yang ketiduran. Fira menggendong Alira. Lefia menggandeng Zayn yang setengah sadar dari tidur. Sementara Irwan beserta tiga asisten gotong royong membawa koper-koper.


Mereka sekarang menginjakkan kaki di teras rumah besar dan mewah. Fira tertegun melihat halaman rumah yang terhampar rumput hijau ini. Henry belum menekan tombol bel, tapi pintu sedikit terbuka. Pintu utama itu otomatis terbuka dengan teknologi canggih, ada seorang wanita setengah baya menyambut ramah ke Henry dan keluarga. Mereka juga menyambut ramah dan sopan santun ke wanita itu.


Begitu masuk ke dalam rumah besar, Henry dan keluarga kembali disambut oleh seorang pria setengah baya. Pria berambut cepak itu merupakan adik kandung Lee Hyun Joong, sekaligus paman Henry. Dua pria ini saling bersambut dan berjabat tangan.


"Selamat datang di rumah ini, keponakanku, Henry Lee," ucap seorang pria setengah baya itu.


"Alhamdulillah, bagaimana kabar Paman Lee Jung Hoon dan Bibi Sun Young?" ucap Henry.


"Kami tetap berdua saja. Kamu tahu sendiri jika dua anak kami tidak tinggal di Korea Selatan. Mereka sudah menikah," jelas Lee Jung Hoon.


"Maka dari itu, Henry dan keluarga akan menemani Paman dan Bibi. Perkenalkan, ini istri, tiga anak kami dan itu dua asisten pribadi kami," jelas Henry memperkenalkan Fira, anak-anak hingga menunjuk Lefia dan Irwan.


"Selamat datang di keluarga kami, ya. Bahagia selalu untuk Henry dan kamu, Tuhan memberkati kalian," sambut wanita berambut pendek sebahu seraya menghampiri Fira. Dua wanita itu saling berpelukan.


"Terima kasih, Bibi atas doanya," ucap Fira.


"Kalau kamu belum bisa bahasa Korea, tidak masalah. Kami juga bisa berbicara dengan bahasa Indonesia," sambung Sun Young.


"Baik, Bibi."


Sun Young lantas menoleh ke tiga anak Fira. "Tiga anak ini adalah anakmu, ya?"


"Benar, Bibi, ini anak laki-laki pertama namanya Zayn. Zayn salim dulu sama Nenek." Fira memerintahkan Zayn untuk bersalaman dengan Sun Young.


Zayn telah sadar dari lesu, lantas bersalaman dengan Sun Young, penuh santun. Sun Young senang melihat Zayn, dibelai rambut anak laki-laki yang mengenakan sweater itu. Zayn tersenyum, kemudian ia kembali mendekati Lefia. Begitu juga Lefia, tanpa diperintah, ia bersalaman dengan Sun Young. Sun Young juga menyambut Lefia dengan baik.


"Anak laki-laki kedua yang digendong oleh Henry, namanya Zema. Yang Fira gendong ini anak perempuan, namanya Alira," jelas Fira.


"Saya pikir Zema dan Alira kembar, wajahnya hampir mirip. Apa memang dua anak ini kembar?" kata Sun Young.


Fira bergeming, bingung hendak menjawab sejujurnya ke Sun Young. Ingin berbicara sebenarnya tentang Zema dan Alira merupakan saudara tiri. Namun Fira berpikir nantinya Sun Young shock setelah mendengar penuturannya.


"Bibi, sebaiknya kita lanjutkan nanti, kami ingin anak-anak istirahat dulu," kata Henry. Fira mengembuskan napas, merasa lega. Henry begitu peka terhadap Fira yang gugup untuk menjelaskan semuanya.


"Oh, Tuhan, Bibi tega sekali, ya, dengan kalian. Maafkan Bibi, baiklah kalian istirahatlah dulu. Soal barang kalian, nanti biar asisten rumah tangga yang membawanya," kata Sun Young.


"Maklumi saja, Bibimu ini rindu kepada cucunya. Bisa jadi melihat ketiga anak ini sebagai obat rindunya," kata Lee Jung Hoon.


"Iya, benar kata Pamanmu itu. Kalau tiga anak ini sudah ceria lagi, bolehkah Bibi bermain dengan mereka?" pinta Sun Young.


"Tentu saja boleh, Bi. Justru ini yang Henry syukuri, Bibi dan Paman dapat menerima tiga anak kami." Henry terenyuh mendengar ucapan bibinya tadi.


"Kamu pria yang baik dan hebat, Henry. Kamu persis seperti Lee Hyun Joong, Papimu. Yang mencintai istri dan anaknya." Sun Young kagum dan menyanjung keponakannya itu.


Fira juga tersanjung dengan saudara ayah mertuanya ini. Bersyukur, masih ada keluarga yang dapat menerima Fira dan ketiga anaknya. Ini benar-benar sebagai penyemangat Fira. Ia jadi berpikir orang-orang yang tidak menyukainya di media sosial karena belum pernah bertemu dengannya. Sekarang, yang penting adalah keluarga yang menerima dirinya dan tiga buah hatinya.


***


Lee Jung Hoon dan Sun Young mengantarkan Henry dan keluarga ke atas lantai dua. Rumah megah itu bak istana dengan perabotan yang canggih dan bernilai tinggi. Jika dilihat dari bangunan luar dan dalam, sepertinya keluarga Henry ini menyukai warna abu-abu dipadukan dengan putih. Karena seisi rumah itu berwarna abu-abu dan putih, diimbuhi dengan beberapa tanaman hias.


Setiap menaiki anak tangga, di situlah ada jendela berukuran panjang. Sehingga dapat melihat halaman rumah di luar sana. Fira masih mengira ini mimpi, masih tidak menyangka jika ia menjadi keluarga terpandang. Tidak menyangka juga jika sosok pemuda yang dikenalnya sederhana itu ternyata pria bergelimang harta. Ya, itu Henry.

__ADS_1


Di lantai dua itu terdapat empat kamar. Lee Jung Hoon dan Sun Young menunjukkan kamar untuk Henry dan Fira, kemudian menunjukkan kamar untuk tiga anak Fira. Terakhir menunjukkan kamar untuk Lefia dan Irwan. Masing-masing kamar sama, luasnya bak sebuah flat apartemen.


"Tapi, kalau rumahnya gede gini, Zayn jadi takut. Mending Zayn dan adik-adik tidur sama Papa dan Mama," ucap Zayn lantas mengerucut bibir.


"Kalau Zayn sudah tidak lelah, Zayn boleh lihat isi kamarnya. Luas dan cukup buat Zayn dan adik-adik. Kamar itu khusus anak-anak, ada berbagai macam mainan dan buku untuk belajar," jelas Sun Young.


"Tapi, Zayn enggak bisa baca buku yang ada bahasa Koreanya."


"Nah, nanti Nenek ajarin Zayn bahasa Korea, ya. Nanti malam, Nenek akan membacakan cerita anak-anak untuk kalian, bagaimana?"


Zayn mengangguk. Anak laki-laki itu lantas menoleh ke papa dan mamanya. Melihat kedua orangtuanya tampak lelah menggendong dua adiknya, Zayn berlari kemudian membuka pintu kamar. Tentunya kamar yang tadi ditunjukkan oleh Sun Young. Begitu Zayn melihat isi kamar itu, sontak takjub. Benar saja, kamar itu di desain untuk anak-anak. Apalagi saat Zayn melihat ada mainan mobil-mobilan, matanya yang lesu tadi sontak berbinar.


"Papa dan Mama tidurkan saja Zema dan Alira di sini. Biar Zayn yang jagain adik-adik," ucap Zayn yang berlagak seperti superhero.


"Baiklah, tampaknya anak Papa bakal betah di rumah ini, setelah melihat banyak mainan," sindir Henry.


Zayn cengengesan, matanya kedip-kedip kepada papanya. "Kita di Korea masih lama 'kan, Pa? Hehehe. Zayn jadi pengen pindah sekolah di sini saja."


"Eh, anak Mama kok sekarang jadi gini sih?" ucap Fira sembari menggelengkan kepala.


"Kalau kata Tante Ressa dan Nina, sebutan buat Kakak laki-laki itu Oppa. Nah, Zayn mau dipanggil Oppa ganteng di sini. Biar bisa kayak Papa, hahaha."


Mereka pun tertawa mendengar ucapan Zayn. Tampaknya ia bahagia mempunyai papa seperti Henry. Suami-istri itu bergegas masuk ke dalam kamar khusus anak-anak. Di kamar itu ada satu kasur tunggal dan kasur bertingkat dua.


Sang papa dan mama ini meletakkan dua anaknya di kasur yang bertingkat dua. Namun Zema dan Alira tidur di kasur tingkat satu. Meski diletakkan di kasur, tetap saja--- Zema dan Alira masih tertidur pulas. Terlihat dari raut wajah Zema dan Alira sangat kelelahan.


Zayn juga masuk ke dalam kamar lantas loncat di kasur tunggal yang berukuran luas. Saking antusias, ia mencium guling yang sangat harum. Henry dan Fira tertawa melihat tingkah putranya. Akhirnya pengantin baru itu memutuskan untuk meninggalkan tiga bocah itu supaya bisa istirahat.


Ketika Henry dan Fira menutup pintu kamar anak-anak, tidak ada lagi bayang-bayang Lefia dan Irwan di depan kamar. Keduanya berpikir bahwa Lefia dan Irwan sudah di dalam kamar untuk melepas penat. Henry menatap Fira dengan nakal, si istri pun tahu maksud tatapan nakal suaminya. Sudah dipastikan Henry ingin kasmaran sebagai suami kepada istrinya. Fira lantas menggandeng Henry hingga ke kamar khusus dua sejoli ini.


***


Usai berdiri sembari merenung sejenak, Fira kembali duduk di kursi. Tangan kuning langsat itu membuka buku harian Henry dan mengambil sebuah pena. Walaupun Fira sudah menikah dengan Henry, ia tetap jatuh cinta pada setiap perasaan yang tertulis dari Henry. Entah sudah berapa kali Fira membaca buku harian Henry? Pastinya perasaan yang tertulis itu mampu membuka hatinya untuk Henry. Memulihkan rasa traumanya dari mencintai seorang laki-laki.


Ternyata di dalam buku harian Henry masih ada lembaran kosong. Itu berarti ada tempat untuk Fira mencurahkan segala isi hatinya kepada Henry di dalam buku itu. Sejenak Fira merenung, memikirkan kalimat yang sejalan dengan hati. Tentunya saat dibaca Henry supaya selalu mencintai Fira. Jemari lentik itu lantas mulai merangkai kata cinta, yang akan dikenang sepanjang masa.


________________________________________________


Hai kamu yang matanya bagai bulan sabit, yang dapat menyinari hati ini. Aku merangkai perasaan yang tertulis lagi di buku ini.


Tiga ratus enam puluh lima hari bahkan lebih, setiap malamnya, kupandangi pergantian bentuk indah bulan itu. Bulan yang menjadi saksi bisu cinta dalam keheningan malam. Begitu pun penduduk langit malam.


Di keheningan malam, ada ruang rindu sesungguhnya antara Sang Pencipta dengan seorang hamba-Nya.


Diriku menengadah hingga menetes bulir-bulir air mata. Memohon ampunan serta petunjuk jalan cinta yang tepat dan baik. Apalagi, ketika diriku sedang rapuh dan pilu, saat itu pula mendapat energi cinta dari Sang Penguasa hati.


Cintaku kepada sosok pria yang jauh di mata kian menderu karena menanti kepastian. Aku pernah merasa mustahil untuk menjadi jodohmu, pernah lelah untuk bersabar, tapi indahnya cinta dengan adanya Allah. Kini terasa nyata bahwa indah pada waktunya itu ada.


Selama lisan dan hati ini terucap, kusebut selalu namamu hingga menembus ke langit sana. Berharap, Allah merestui cinta kita hingga ke abadian.


Aku menyukai bulan. Aku juga mencintaimu karena Allah.


Henry and Fira story. 2025 July-August. Seoul, South Korea.


________________________________________________

__ADS_1


Merinding ketika Fira menulis segala curahan hati di dalam buku ini. Tangan kanannya seakan terhubung dengan hatinya bergetar karena cinta. Dari balik kacamata bening, Fira lantas memejamkan kedua mata, menikmati tiupan angin yang lembut. Tanpa terasa air mata menetes di pipi.


"Ya Allah, cukup garis jodoh hamba bersama Henry. Jauhkan kami dari badai yang berusaha memisahkan kami. Jikalau hamba dan Henry mengalami ujian, tumbuhkan selalu rasa cinta karena-Mu dalam hati kami. Karena dengan energi cinta dari-Mu, menjadi kekuatan bagi kami," gumam Fira.


Ketika Fira hanyut dalam perasaan, dering gawai di samping buku harian itu berbunyi. Fira pelan-pelan membuka mata. Sorotan mata itu mengarah pada layar gawai yang menyala. Ada panggilan masuk dari nomor telepon asing. Fira sudah menduga jika nomor telepon asing pasti Rafi.


Fira sengaja mendiamkan panggilan masuk itu hingga berkali-kali. Rasanya enggan untuk mengangkat telepon dari Rafi. Namun satu sisi, ia merasa tidak enak kepada Rafi. Fira merasa seperti tokoh antagonis bagi Rafi. Padahal Fira berusaha membuat jarak untuk Rafi. Fira ingin Rafi membuka lembaran baru dengan perempuan lain.


"Angkat enggak, ya? Barangkali Rafi telepon karena sesuatu yang penting. Kalau tidak, aku akan cepat-cepat matikan telepon darinya," ucap Fira.


Fira tetap berpikir positif kepada Rafi. Diambilnya gawai secara perlahan, tapi ragu untuk mengangkat telepon dari Rafi. Ia khawatir jika tiba-tiba Henry hadir yang nantinya jadi masalah. Fira terpaksa menerima panggilan masuk dari Rafi.


"Assalamu'alaikum, Fira," sapa Rafi.


"Wa'alaikumsalam, ada apa, Raf?" ucap Fira.


"Enggak enak banget dipanggil nama saja. Aku ingin kamu panggil aku Abang Rafi lagi," ucap Rafi kesal dengan disebut namanya saja.


"Enggak usah bertele-tele. Mau apa kamu telepon aku lagi? Kalau ada yang penting, bicaralah. Kalau tidak, sebaiknya akhiri saja," tegas Fira.


"Kamu itu benar-benar tega, ya. Apa perlu aku ingatkan lagi? Kita ini sudah kenal dari kecil. Orangtua kita juga berteman dekat. Sekarang dengan entengnya, kamu menganggap kita seperti orang asing. Aku sekarang tidak bisa melihat Fira yang aku kenal dulu."


"Aku sudah menikah. Aku ingin menjaga jarak denganmu, karena aku tahu kamu masih ada perasaan sama aku. Kecuali kamu sudah mengikhlaskanku, mungkin aku bisa bersikap biasa saja."


"Hahaha, enggak semudah itu mengikhlaskan sahabat yang menjadi pandangan pertamaku menikah dengan pria lain."


"Terserah kamu, Raf! Kalau cuma membicarakan ini, aku sudahi percakapan kita."


Ketika Fira dan Rafi sedang berdebat, saat itu pula Henry mengambil gawai dari genggaman Fira. Wanita berjilbab abu-abu itu sontak terperanjat dengan kehadiran Henry, sudah ia duga jika suaminya pasti akan hadir.


Dua mata sipit yang berang seakan mengajak perang dunia kepada si penelepon istrinya. Tampaknya, Henry sudah mendengar percakapan antara Fira dan Rafi. Fira melihat Henry menggenggam erat gawai itu. Malam ini memang dingin, tapi tidak berlaku bagi Henry yang terbakar api cemburu. Pria berbalut hoodie abu-abu itu lantas mengeraskan volume panggilan itu.


"Pria yang baik seharusnya tahu waktu menelepon wanita. Pria yang berkelas seharusnya sadar diri kalau seorang wanita itu sudah bersuami," geram Henry hingga bibirnya gemetaran menahan amarah.


"Oke, maafkan aku. Perlu kamu ketahui, aku tidak akan merebut Fira darimu. Aku ikut bahagia jika kalian menikah," ucap Rafi tetap bersikap tenang.


"Bohong!" gertak Henry hingga terbeliak karena saking marahnya. Fira terkejut dengan sikap suaminya.


"Aku memang belum bisa mengikhlaskan Fira denganmu. Namun, aku bisa apa? Fira hanya memilihmu. Kalau perasaanku ini tidak bisa ditahan, sudah dari dulu Fira--- aku rebut. Aku enggak akan membiarkanmu memilikinya seutuhnya. Tolong, berprasangka baik kepadaku. Kamu juga tahu, aku pernah bersahabat sejak kecil dengan istrimu. Orangtua kami juga kerabat dekat. Jangan hanya karenamu, kekerabatan yang terjalin lama itu jadi renggang!" Kali ini Rafi geram dengan Henry.


Beruntung, dua pria itu hanya berdebat saat di telepon. Fira tidak bisa membayangkan jika Henry dan Rafi berseteru dengan hebat di depan mata. Entah sampai kapan dua pria itu akan bisa berdamai? Yang jelas, insting Fira mengatakan jika suatu saat akan terjadi sesuatu.


"Henry, bicara dengan kepala dingin, ya. Aku mohon," pinta Fira seraya menggenggam lengan Henry.


Henry menghela napas supaya meredakan emosi. "Sekarang, kamu mau apa, Raf? Kamu menelepon Fira hanya untuk mengungkapkan perasaanmu? Heh, tidak punya adab sama sekali!"


"Oke, to the point saja. Sebenarnya aku ingin mengundang kalian ke pernikahan Rahline. Rahline memintaku untuk menghubungi Fira. Rahline dekat dengan Fira seperti kakaknya sendiri. Pernikahan itu akan berlangsung pertengahan bulan, tepatnya di Lumajang," jelas Rafi.


Henry menatap Fira dengan tajam. Fira lantas menunduk, tidak berani melihat raut wajah Henry. Toh, semua keputusan ada di tangan Henry. Soal Henry mengizinkan atau tidak ke pernikahan Rahline, Fira tetap menerima keputusan Henry.


"Tadinya aku bahagia jika kamu yang menikah dengan perempuan lain. Kalau kamu menikah dengan perempuan lain, kamu sibuk dengan istrimu, jadi enggak bisa ganggu istriku lagi. Tapi, ternyata yang menikah itu adik sepupumu," ucap Henry.


"Aku hanya menyampaikan amanah dari Rahline. Terserah kamu, mau izinkan Fira atau tidak, yang jelas keluarga Fira juga diundang ke Lumajang. Jangan putuskan kekerabatan ini," ucap Rafi.


"Aku tidak tahu dan percakapan kita cukup sampai di sini."

__ADS_1


Henry lantas mengakhiri percakapan dengan Rafi. Jemarinya cekatan memblokir nomor telepon Rafi. Fira bergeming, tidak berani bicara sepatah katapun. Namun tangan Henry bersambut menggenggam tangan Fira. Diajaknya istri tercinta menuju ke dalam rumah. Fira tidak lupa membawa buku harian dan pena. Sementara gawai milik Fira masih digenggaman Henry.


__ADS_2