Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Teman Baru


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Fira duduk di dekat jendela sebuah kafe di Toronto. Sepasang mata yang memakai kacamata bening itu melihat jalanan. Hanya lalu lalang pejalan kaki yang terlihat di luar sana. Tubuh ramping dengan balutan blouse merah muda pastel sedang menunggu seseorang. Hampir sepuluh menit ia berada di kafe tersebut.


Fira menatap layar gawai. Ia membuka pesan Lena di akun Instagram-nya. Karena dua wanita itu membuat perjanjian untuk bertemu hari ini. Sembari menunggu kedatangan Lena, Fira menikmati seteguk kopi espresso. Perutnya tidak tahan untuk menyantap kue muffin dengan taburan choco chip dan bagel yang tersaji di meja. Fira lebih dahulu menyantap kue muffin yang aromanya nikmat.


"Maaf, ya, Kak. Aku telat datang." Suara gadis itu menyapa Fira yang tengah melahap kue muffin. Gadis yang diam-diam mencintai Rafi itu.


Fira lantas menoleh ke arah suara. Ternyata gadis dengan balutan outer cokelat selutut duduk berlawanan arah dengan Fira. Ya, Lena yang ditunggu Fira telah datang. Lena tidak sendiri, Fira terkejut ketika Lena bersama Anna dan salah seorang temannya. Lebih tercengangnya lagi, saat Fira melihat Anna mengenakan hijab pashmina berwarna krem. Lena dan teman-teman mengambil posisi duduk. Sementara Anna memilih duduk di dekat Fira.


"Assalamu'alaikum, Fira. Apa kamu masih mengingatku?" ucap Anna.


"Wa'alaikumsalam. Is this Anna, right?" ucap Fira. Ia yang sedang menguyah kue muffin lantas melongo. (Apa ini Anna, benar?)


"Ya, I'm Anna Lichia. Aku juga berteman dengan Lena. Aku tidak menyangka jika kamu dan Lena saling mengenal."


"Kamu berubah memakai hijab?"


"Alhamdulillah, aku mualaf."


"Alhamdulillah, selamat datang saudari muslimahku." Fira memeluk Anna dengan erat.


Anna pun membalas pelukan Fira. "Thanks a lot, Fira. Aku bahagia saat memeluk Islam."


"Bagaimana ceritanya?" tanya Fira.


"Hmm, ceritanya panjang sekali, hehehe," jawab Anna.


Seorang pelayan kafe menyuguhkan tiga cangkir kopi hangat dan lobster sandwich. Lena berterima kasih kepada pelayan itu. Sementara Fira masih terkesima dengan perubahan Anna yang telah menjadi mualaf. Fira berpikir ini kabar gembira bagi Bryan. Karena Fira tahu Bryan jatuh cinta pada Anna.


"Jadi, Anna ini teman bisnis. Nah, kalau ini namanya Zehra Victoria, teman sekelasku. Aku sengaja mengajak mereka biar ramai, hehehe," jelas Lena.


"I'm Fira. Nice to meet you, Zehra," kata Fira. Ia mengulurkan tangan sembari bersalaman dengan Zehra. (Salam kenal, Zehra.)


"I'm glad to meet you, Fira" ujar Zehra. Gadis berhijab pashmina berwarna ungu itu membalas salaman Fira. (Aku senang bertemu denganmu, Fira.)


"Zehra ini blasteran Turki dan Kanada. Kalau Anna asli Kanada. Kalau aku wong Surabaya paten, hahaha," ucap Lena.


"Oalah, jadi kamu dari Surabaya. Ya, cocok sama Rafi, dia dari Lumajang, sama-sama wong Jawa timur, hahaha," seloroh Fira.


"Benar itu, Kak Fira."


Fira mempersilakan tiga gadis itu untuk menyantap makanan. Ia bersyukur karena di Toronto punya teman baru. Fira tidak merasa kesepian di kala Henry sibuk dengan pekerjaan di perusahaan.


"Aku kesal tahu, Kak Fira," keluh Lena.


"Kesal kenapa? Sama Rafi?" tanya Fira.


Lena menjawab, "nah, itu dia. Ah, Bang Rafi itu cowok enggak peka, ya. Sepertinya masih ada perasaan sama Kak Fira deh. Aku minta tolong Kak Fira dong."


"Minta tolong apa nih?"


Lena menatap serius kepada Fira. "Comblangin aku sama Bang Rafi."


Fira termangu mendengar ucapan Lena. Ia lanjut melahap cupcake. Dua bola mata itu berputar di atas. Fira tampaknya sedang memikirkan solusi untuk Lena. Sejenak Fira melihat raut wajah Lena yang seakan menaruh harapan pada Fira.


"Gadis ini kelihatan bersungguh-sungguh mencintai Rafi. Aku juga ingin Rafi menemukan kebahagiaannya dengan gadis lain. Supaya Rafi enggak ganggu aku dan Henry," batin Fira.

__ADS_1


"Gimana, Kak Fira?" tanya Lena.


"Kalau aku jadi mak comblang kamu sama Rafi, aku minta izin dulu sama Henry. Henry itu cemburu kalau aku dekat---apalagi ngobrol dengan Rafi," jawab Fira.


"Yaahh, terus gimana dong? Ada solusi lagi kah?"


"Sebenarnya kalau kamu dekat dengan Rafi, insyaallah, cinta dari Rafi akan timbul karena terbiasa denganmu. Rafi itu suka diajak bercanda dan tertawa. Terus, kalau dia lagi sedih atau galau, ditemani dan beri dukungan untuknya. Aku yakin Rafi kalau udah sekali cinta sama satu orang pasti hanya seseorang itu," jelas Fira.


"Aku kurang dekat apa lagi sama Bang Rafi, Kak? Akrab malahan. Bang Rafi memang suka bercanda sih, ya, masa bercanda melulu. Nanti aku enggak diseriusin lagi," keluh Lena.


"Loh, kalau kamu buat nyaman Rafi, ya, dengan ajak canda tawa. Itu tahap awal, supaya Rafi juga bisa move on dari aku. Jangan lupa sebut nama Rafi dalam doamu."


"Oh, iya, kurangnya aku belum menyebut nama Bang Rafi dalam doa, hehehe."


"Sebenarnya waktu Rafi ke Semarang, Henry pernah bilang ke Rafi soal kamu punya perasaan sama Rafi. Memang Rafi enggak cerita apa-apa ke kamu?"


"Aku enggak tahu kalau Bang Rafi ke Semarang. Memang ke Semarang ngapain?"


"Ya, Rafi tiba-tiba datang ke rumahku. Di sana Rafi bertengkar dengan Henry sebab aku dan Henry enggak hadir di pernikahan Rahline."


"Astaghfirullah, itu Abang memalukan sekali. Nanti aku omelin dia."


"Sudah, enggak usah diperpanjang. Semoga saja dengan Henry memberitahu Rafi tentang perasaanmu ke Rafi, Rafi jadi berubah pikiran."


Empat perempuan itu kembali menyantap makanan. Zehra dan Anna hanya bisa menyimak pembicaraan Fira dengan Lena. Sementara Lena, meskipun sedang menguyah lobster sandwich, ia kepikiran tentang Rafi. Gadis itu mengingat saat ia bersama Rafi. Mulai dari pemotretan pakaian untuk iklan distro hingga membantu Rafi di distro. Lena mengakui Rafi pria yang baik dan perhatian. Namun pilunya, saat Rafi masih membahas tentang Fira di hadapan Lena.


Fira memperhatikan ekspresi Lena yang sedang galau. Ia bergumam, "aku akan mengusahakan untuk menyatukan Rafi dan Lena. Sudah saatnya Rafi menemukan jodoh yang tulus seperti Lena."


***


Keempat perempuan itu keluar dari kafe. Mereka senang setelah pertemuan hari ini. Fira, Lena, Anna dan Zehra saling berpelukan. Betapa menyenangkan Fira mempunyai teman di Kanada. Rasanya berat untuk berpisah. Andai waktu berjalan lambat, mereka ingin memiliki waktu berkualitas. Berbincang tentang sesama perempuan, bisnis hingga percintaan.


"Insyaallah, kalau aku ada waktu. Soalnya sekarang aku sedang mengandung, jadi waktunya terbatas. Soalnya Ibu hamil sepertiku inginnya istirahat, hehehe," kata Fira.


"Masyaallah, beneran Kak Fira hamil? Alhamdulillah, semoga lancar sampai lahiran, ya, Kak."


"Alhamdulillah, amazing! Congrats Fira and Henry. Surely your child is beautiful or handsome," ucap Anna. (Alhamdulillah, luar biasa! Selamat Fira dan Henry. Pasti anak kalian cantik atau tampan.)


Fira lantas tersenyum manis. "Aamiin yaa rabbal alamin."


"Semoga kita tetap menjadi teman yang baik," ungkap Zehra.


"Insyaallah, kita tetap jaga silahturahmi." Fira menimpali.


Ternyata mobil yang dikemudi Henry berhenti di depan kafe. Fira berpamitan kepada tiga gadis muslimah itu. Namun saat Fira hendak melangkah ke mobil, Anna lantas memegang lengan Fira. Seketika Fira terkesiap melihat Anna.


"Fira, sampaikan salamku untuk Bryan," ungkap Anna.


"Apa kamu juga memiliki perasaan terhadap Adikku?" tanya Fira.


Anna pelan-pelan mengangguk sembari berkata, "semenjak aku dan Bryan lama tidak berkomunikasi. Hidupku merasa kurang. Aku pernah melihat Bryan salat, di situ aku mulai mengaguminya. Hatiku tambah yakin untuk memeluk Islam. Namun ketahuilah, aku mualaf bukan karena manusia, melainkan dari hatiku. Aku sudah lama mencintai Islam. Hanya saja, tahun ini yang tepat karena Mama dan Papa menyetujui aku memeluk Islam. Banyak yang aku ingin ceritakan padamu."


"Aku percaya padamu."


"Kamu wanita yang baik. Aku yakin Bryan pria yang baik pula. Aku harap Bryan semakin menekuni bisnisnya. Sudah lama aku tidak memesan produk kopinya karena aku mempunyai kesibukan."


"Pasti Bryan senang mendengar salam darimu."

__ADS_1


"Terima kasih, Fira."


"Sama-sama. Kamu istiqamah menjaga iman dan amal ibadahmu."


"Insyaallah, Fira."


Fira dan Anna saling berpelukan, kemudian melepaskan pelukan itu. Fira melambaikan tangan kepada tiga gadis yang kini menjadi temannya. Tiga gadis itu membalas lambaian tangan Fira. Betapa bersyukurnya, Allah mempertemukan Fira dengan orang-orang yang baik. Selama tinggal di Toronto, bukan hanya liburan saja. Namun Fira takjub dengan Anna yang telah meraih hidayah dari Sang Illahi. Mempunyai pengalaman dan teman baru itu menyenangkan bagi Fira.


Fira masuk ke dalam mobil. Ia menatap suaminya yang tampan. Keduanya saling tersenyum. Henry terlebih dahulu menciumi tangan Fira. Setelah itu, Henry kembali mengemudi mobil di sepanjang jalan. Dua sejoli itu hendak kembali ke hotel untuk istirahat.


***


"Gimana, Hen? Kamu udah nemu apartemen atau rumah untuk kita?" tanya Fira.


"Aku sudah berbicara dengan Mr. John. Katanya ada rumah tapi bertingkat dua. Masih di Kota Toronto kok. Kamu mau?" jawab Henry.


"Ya, enggak apa-apa. Daripada enggak ada sama sekali."


Henry melepaskan jas, dasi kemudian jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Fira berbaring di kasur sembari melihat pemandangan di luar jendela. Fira masih ingat dengan raut wajah Lena. Jika dicerna kalimat Lena, memang benar, sulit untuk menaklukkan hati Rafi. Sepertinya Fira harus melakukan sesuatu supaya Rafi berpaling darinya.


Melihat Fira termangu, Henry lantas duduk di samping Fira. Dirangkulnya pundak Fira penuh kasih sayang. Fira pun bersandar di pundak suaminya. Henry melihat wajah Fira yang seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Kok melamun, sayang. Ada apa? Gimana pertemuan kamu sama tiga temanmu tadi?" ujar Henry.


"Menyenangkan. Kami tadi banyak sharing seputar sesama perempuan. Tapi, aku kepikiran Lena," ucap Fira.


"Lena? Kenapa memangnya? Eh, tadi aku lihat Anna sudah pakai hijab. Aku baru tahu."


"Alhamdulillah, Anna jadi mualaf. Bryan pasti senang dan dia bakal memperjuangkan cintanya untuk Anna. Jadi enggak sabar kasih tahu ke Bryan soal Anna."


"Terus, Lena ada persoalan apa?"


"Lena minta tolong ke aku, agar aku jadi mak comblang dia dengan Rafi. Gadis itu benar-benar mencintai Rafi. Aku juga ingin segera menyatukan Rafi dan Lena."


"Iya, lebih baik begitu. Barangkali jika hati Rafi mulai tersentuh dengan Lena. Rafi bisa melupakanmu."


Fira lantas menatap Henry. Wajahnya seakan memohon kepada Henry. "Suamiku tersayang, boleh enggak, aku ngobrol sama Rafi? Ya, ngobrol tentang perasaan Lena kepada Rafi itu."


"Kamu tahu kan aku cemburu kalau kamu dekat dengan Rafi."


"Aku ingin mengusahakan Rafi agar bisa membuka hati untuk Lena."


"Pantas saja Rafi tetap menganggapmu sahabat, soal jodoh untuk Rafi sampai kamu yang mengusahakan, bukan Rafi sendiri." Henry seketika lesu, seolah ada cemburu di dalam hati.


"Astaghfirullah, aku lakukan ini untuk Lena. Bukan Rafi. Lagian kalau Rafi bisa berusaha membuka hati untuk Lena, aku juga enggak bakal mengusahakan ini."


"Ya, usahakan saja. Barangkali dengan itu, Rafi enggak ganggu kita lagi. Apalagi kalau dia sampai menguntit kita."


"Terima kasih, Henry."


"Sama-sama, sayangku."


Henry dan Fira saling berpelukan, kemudian merebahkan diri. Waktu masih siang, tapi suhu udara kian sejuk, sepasang suami-istri itu memanfaatkan waktu dengan tidur siang. Fira juga ingin melepas penat. Semenjak Fira berbadan dua, kelelahannya semakin meningkat.


Di luar sana, daun-daun hijau yang bertengger di dahan pohon semakin hari berubah menjadi daun-daun kecokelatan. Adapula yang berubah menjadi daun-daun kekuningan dan oranye. Karena sebentar lagi, musim gugur di Toronto akan tiba. Sesuai dengan bendera Kanada yang berlambang daun maple. Musim ini pula yang ditunggu-tunggu oleh Fira.


***

__ADS_1


Bagaimana tanggapanmu setelah membaca novel ini? Tinggalkan komentar di bawah ini yuk. Diharapkan untuk memberi komentar tentang novel ini. Supaya penulisnya tahu dan kenal ulasan dari setiap pembaca sebenarnya. Mohon maaf, untuk yang mau promosi cerita sebaiknya gabung di grup Famala Dewi di NovelToon ini.


Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, dan kasih rate (bintang 5). Supaya authornya ini semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Terima kasih.


__ADS_2