Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Keseruan Di Korea


__ADS_3

Hari yang dinanti oleh Henry telah di depan mata. Henry mengajak Fira, Lefia, Irwan beserta ketiga anaknya di Korea Selatan. Mereka menikmati perjalanan dengan menaiki mobil putih dengan muatan yang cukup. Henry dan Irwan berada di jok depan. Seperti biasa, Irwan bagian mengemudi mobil. Fira, Alira dan Lefia di jok tengah. Sementara Zayn dan Zema tidur di jok belakang.


Sebenarnya sudah dua hari mereka di Seoul, tapi kemarin mereka sempat istirahat di apartemen. Hari ini baru bisa melanjutkan perjalanan. Mobil yang dikendarai sekarang juga disediakan oleh staf khusus di Excellent Entertainment di Seoul.


Bulan ini, kota kelahiran Henry sedang musim panas. Untuk itu pakaian yang mereka kenakan begitu santai. Henry senang mengajak keluarganya di Seoul, Korea Selatan. Seandainya waktu bisa diatur, Henry akan mengatur waktu berjalan lama supaya dapat membahagiakan keluarganya. Sebelum ia kembali sibuk, Henry ingin memiliki waktu berkualitas bersama istri dan ketiga anaknya.


"Setelah kita ke Excellent Entertainment, kita ke mana lagi, Pak?" tanya Irwan.


"Ke rumah Papi saya yang di Seoul," jawab Henry seraya bermain mobile legend di gawai.


"Oke, Pak."


"Yang ngurus rumah Papi di sini, siapa, Hen?" tanya Fira.


"Ada Paman dan Bibiku. Adiknya Papi itu Pamanku," jawab Henry lantas menoleh ke Fira.


"Kenapa Papi, kamu dan sekeluarga enggak tinggal di sini?"


"Sebenarnya ada ceritanya, Mami punya alergi dingin. Jadi, Papi mengerti kondisi Mami. Papi memutuskan untuk tinggal di Semarang daripada di sini. Di sini kan ada musim dingin."


"Oh, pantas saja, kalau di rumah, Mami-Papi minumnya serba hangat, hehehe."


"Iya, Mami kalau alergi dingin pasti sesak napas dan badannya merah. Ya, kalau di Semarang musim hujan juga begitu. Makanya Mami cepat-cepat cari kehangatan di ruangan. Dan yang nurun alergi dingin kayak Mami itu Sakura."


"Kamu sama Naomi enggak dong?"


"Alhamdulillah, enggak, hehehe."


Henry kembali menatap layar gawai seraya melanjutkan permainannya. Fira dan Lefia takjub melihat Kota Seoul dari jendela mobil. Betapa senang hati Fira karena pertama kalinya menginjakkan kaki di Negeri Gingseng ini. Lefia juga tak kalah senang, buktinya sedari tadi wajahnya selalu semringah.


"Bulan madu saya dan Mas Irwan langsung diajak ke Korea Selatan sama Pak Henry dan Bu Fira. Terima kasih, loh, Pak, Bu," ucap Lefia.


"Ini sebagai hadiah pernikahan kamu, Lef. Soalnya saya dan Henry enggak hadir di pernikahan kalian, to," ucap Fira.


"Bu, seingat saya pas Mbak Ressa dan Nina nonton drama Korea, orang Korea itu cantik dan ganteng, yo, Bu. Saya ada nge-fans sama aktor Korea yang terkenal itu, Bu. Kalau enggak salah, namanya Lee Min Ho dan, eh, siapa, yo, namanya?" Lefia sambil pikir-pikir.


"Siapa memang?"


"Itu loh, Bu, yang dulu pernah memerankan sebagai Lee Tae Oh, yang nama Drakornya The World Of The Married."


"Hmm, saya juga lupa sih. Enggak terlalu memperhatikan tokohnya."


"Itu namanya Park Hae Joon," sahut Henry.


"Oh, itu, to."


"Kamu suka nonton Drakor tentang itu, ya, Lef?" tanya Henry.


"Walah, Pak, bukan saya aja. Malah Bu Fira juga suka nonton drakor itu kok. Sebelum Bu Fira nikah sama Pak Henry, Bu Fira suka nangis dan emosi kalau nonton berbau orang ketiga alias wanita idaman lain gitu," jawab Lefia.


"Lefia!" geram Fira hingga tersipu-sipu.

__ADS_1


"Insyaallah, cukup Fira seorang yang di hidup saya," ungkap Henry.


Fira tersenyum melihat Henry yang baru saja mengatakan hanya dirinya dalam hidup Henry. Meski Henry berkutat dengan gim di gawai, tapi bisa saja membuat hati Fira luluh. Fira jadi merasa ada desiran yang mengalir dalam darahnya. Seketika jantung wanita itu turut berdegup.


Sepanjang perjalanan, hanya tiga bocah itu yang tertidur pulas, walaupun hari masih pagi. Alira begitu pulas dan manja tidur dipangkuan Fira dan Lefia. Kepalanya berada di paha Fira dan kakinya selonjoran di paha Lefia. Fira ingin anak-anak melihat Kota Seoul. Namun ia tidak tega membangunkan Zayn, Zema dan Alira. Tampaknya tiga bocah itu kelelahan setelah perjalanan dari Semarang, Jakarta hingga ke Seoul.


Fira merogoh saku gamis untuk mengambil gawai Apelphone. Jemarinya berselancar di YouTube. Dibukanya kanal YouTube-nya yang bernama Maghfira Annisa Official. Fira ingat betul, dahulu, ia hendak membuat vlog liburan bersama Kirsandi. Bryan turut mendukung kakaknya membuat vlog. Namun takdir berkata lain, saat itu pula Kirsandi telah berpulang ke Rahmatullah. Kanal YouTube milik Fira masih seperti dulu. Tidak ramai dan terkenal. Ibarat rumah kosong yang sudah suwung.


"Karena di Kanada enggak sempat bikin vlog. Mumpung di Korea, aku ingin bikin vlog liburan. Mengabadikan momen menyenangkan ini. Aku suka traveling dan suka mengabadikan momen. Tapi, mirisnya, jumlah subscribeku seuprit, cuma seratus subscribes," ucap Fira.


"Katamu khawatir kalau mempublikasikan tentang kita. Di akun Instagram kita aja---terakhir cuma foto pernikahan kita. Kita belum upload foto dan video lagi di Instagram. Itupun masih banyak yang komentar dan menyukai. Gimana di kanal YouTube nantinya?" ucap Henry.


"Ya, pilih aja orang yang khusus atau yang boleh lihat gitu. Enggak perlu klik publikasi."


"Sebenarnya enggak apa-apa kalau mau dipublikasikan. Asalkan itu bersifat positif dan menginspirasi orang lain. Aku juga enggak larang kamu publikasi tentang keluarga kita. Kalau terjadi apa-apa, tinggal ditangani manajer dan staf khusus. Cuma, ya, baiknya enggak langsung banyak upload-nya. Jarang-jarang saja."


"Aku tuh enggak bisa kalau nanti misalnya upload foto ada anak-anak, terus anak-anak kena sasaran komentar jahat."


"Bodo amat aja sama komentar jahat kayak gitu. Kan sudah ada aku, Papanya anak-anak."


"Beneran enggak apa-apa nih?"


"No problem. Lagian, ya, walaupun kita jarang upload pun, media juga menyoroti kita. Sama aja kita kelihatan di mana-mana. Iya kan?"


"Iya juga sih. Kalau lihat Facebook, Instagram, Twitter dan Google ada berita tentang kita. Mukaku udah ke mana-mana, kadang, jadi seterkenal ini membuatku tambah enggak pede. Malah ke manapun jadi sering pakai masker buat nutupi wajah."


"Kalau enggak pakai masker bisa disorot paparazi, hahaha. Selain itu juga baik buat kesehatan, bukan?"


"Hmm, benar juga sih."


Mereka tiba di Excellent Entertainment Seoul. Irwan menghentikan kemudi mobil tepat di depan gedung bertingkat nan mewah itu. Di dalam mobil, Fira dan Lefia berusaha membangunkan Alira, Zayn dan Zema. Untung saja, ketiga anak ini langsung beranjak tidurnya. Sejenak Zayn, Zema dan Alira menggeliat sembari menguap. Zayn mengucek mata seolah masih menganggap berkunjung di Korea hanya mimpi.


Sang pemilik Excellent Entertainment kini berdiri tegap di teras ini. Henry merapikan blazer hitam yang sedikit kusut, kemudian mata sipitnya menoleh ke belakang. Fira, Lefia serta tiga anak itu turun dari mobil. Fira tidak lupa memakai kacamata bening, walaupun kedua matanya sudah memakai lensa mata khusus. Sementara Lefia merapikan pakaian ketiga anak itu.


Fira mendekati Henry. Lengan kiri Henry mengisyaratkan supaya Fira lekas bergandengan dengannya. Fira terkesima karena tidak menyangka menjadi istri sang pemilik perusahaan terbesar di Korea. Perusahaan yang mencetak banyak penyanyi, aktris dan aktor Korea di sini.


"Excellent Entertainment osin geos-eul hwan-yeounghabnida, Henry Lee bu-in," ucap Henry dengan bahasa Korea. (Selamat datang di Excellent Entertainment, Nyonya Henry Lee.)


"Apa artinya?" tanya Fira.


"Selamat datang di Excellent Entertainment, Nyonya Henry Lee," jawab Henry.


"Kalau aku enggak bisa Bahasa Korea, gimana?"


"Bicara saja pakai Bahasa Inggris atau nanti aku yang bagian penerjemah buat kamu."


"Aku masih anggap ini mimpi, hehehe."


"Aku justru menganggap ini kenyataan, karena sekarang di sisi aku sudah ada istri. Ya, sudah, kita masuk, yuk."


Henry menoleh ke belakang, mempersilakan Lefia dan tiga anaknya untuk masuk ke dalam perusahaan. Henry dan Fira berjalan memasuki gedung mewah ini. Sementara Irwan melanjutkan kemudi mobil menuju ke tempat parkir.

__ADS_1


Fira terpukau melihat seisi perusahaan. Desainnya moderen dengan kecanggihan teknologi. Terdapat layar lebar tiga dimensi yang tampaknya seperti kolam ikan besar. Lefia, Zayn, Zema dan Alira juga tidak kalah terpukau melihat semua ini. Perusahaan ini justru lebih mewah daripada perusahaan Henry yang berada di Semarang dan Toronto. Wajar saja, karena ini pusatnya.


Seluruh karyawan perusahaan telah dikomando oleh seorang CEO yang mengelola perusahaan ini. Mereka menyambut Henry dan keluarga dengan ramah dan penuh hormat. Henry dan Fira juga membalas sambutan mereka dengan ramah, kemudian seorang pria berjas hitam yang merupakan CEO itu mempersilakan Henry dan keluarga menuju ke ruangan khusus pemilik perusahaan.


Tepat di lantai tujuh, Henry dan keluarga tiba di ruangan khusus pemilik perusahaan. Seorang staf khusus membuka pintu untuk mereka. Betapa luas dan mewahnya ruangan itu, interior ala Prancis serba putih dengan artistik elegan, terkesan memukau. Seorang CEO mempersilakan Henry dan keluarga untuk duduk di sofa.


"Annyeong haseyo, Mr. Henry Leewa Mrs. Maghfira Annisa," ucap pria itu. (Selamat pagi, Pak Henry Lee dan Nyonya Maghfira Annisa.)


"Annyeong haseyo, Mr. Park Ye Jun," ucap Henry.


"Annyeong haseyo," ucap Fira.


"Please enjoy the comfort in this company. I will ask the staff to serve food and drink for all of you." Park Ye Jun setengah membungkuk sebagai pertanda hormat. (Silakan nikmati kenyamanan perusahaan ini. Saya akan menyuruh pegawai untuk menyuguhkan makanan dan minuman untuk kalian.)


Henry seketika mengingat sesuatu. "Oh, Mr. Park Ye Jun, is there a boy or girl group here?" (Oh, Pak Park Ye Jun, adakah boy atau girl grup di sini?)


"Ya, HTS and Whitepink are here. Should I call them?" (Ya, HTS dan Whitepink ada di sini. Apa perlu saya panggilkan mereka?)


"Of course." (Tentu saja.)


Park Ye Jun pergi meninggalkan ruangan itu. Henry dan keluarganya melepas penat dengan duduk santai di sofa. Suhu dingin karena AC cukup menyejukkan tubuh, apalagi di saat musim panas seperti ini. Namun tetap saja dahaga mereka gersang, perlu disirami seteguk air.


"Bentar-bentar, HTS dan Whitepink itu boy dan girl grup kan?" pikir Fira.


"Iya, benar," jawab Henry.


"Ya Allah, Ressa dan Nina menyukai mereka. Aku boleh enggak---foto bersama mereka, biar nanti aku kirim ke Ressa dan Nina."


"Ressa dan Nina suka mereka, ya?"


"Selain suka orang-orangnya, juga suka lagunya. Sampai di kamar mereka terpajang poster grup itu. Menyukai mereka dari Ressa dan Nina SMP gitu."


"Iya, sih, namanya juga masih gadis."


"Tahu enggak sih? Ressa sampai menjadikan X sebagai wallpaper hp-nya."


"Sepertinya Ressa penggemar setia si X, ya, hahaha."


Ternyata hanya butuh waktu sebentar untuk menunggu kehadiran HTS dan Whitepink. HTS beranggotakan tujuh lelaki tampan. Whitepink beranggotakan empat gadis cantik. Mereka tiba di dalam ruangan itu dengan wajah semringah. Henry menyambut ramah kepada para idol. Begitu juga dengan mereka. Henry berjabat tangan dengan satu per satu anggota grup HTS. Sedangkan Fira berjabat tangan dengan satu per satu anggota grup Whitepink. Tidak lupa mereka saling membungkuk badan, karena ini kebiasaan masyarakat Korea Selatan sebagai penghormatan.


Fira terkesima melihat kecantikan grup Whitepink ini. Wajah keempat gadis itu praktis mulus, seakan-akan tidak sedikitpun terlihat pori-pori. Jika melihat perempuan Korea seperti ini, membuat Fira minder, karena wajahnya masih timbul jerawat kecil.


Sementara itu, Whitepink justru dibuat gemas oleh Zema dan Alira. Melihat wajah lucu nan imut Zema dan Alira, sehingga empat gadis itu menyapa dua anak ini. Salah satu dari mereka, ada yang memeluk Alira. Karena wajah Alira terlihat seperti kebaratan.


"We are happy to meet all of you," ucap mereka serentak. (Kami senang bertemu dengan kalian semua.)


"We are also happy to meet this famous group. By the way, may I take a photo with all of you? Because my two sister are your fans," ucap Fira. (Kami juga senang bertemu dengan grup terkenal ini. Omong-omong, bolehkah saya foto bersama kalian? Karena dua saudara perempuan saya adalah penggemar kalian.)


"Of course, Mrs. Fira." Mereka berseru lagi. (Tentu saja, Nyonya Fira.)


"Alhamdulillah, thank you, all." (Alhamdulillah, terima kasih, semua.)

__ADS_1


Fira meminta tolong kepada Lefia untuk mengabadikan momen ini dengan kamera di gawai. Lefia pun menuruti. Sementara Henry tertawa kecil melihat Fira yang antusias foto bersama dua grup ini. Fira juga mengajak ketiga anaknya untuk bergabung foto.


Fira, anak-anak dan dua grup ini menentukan posisi yang pas untuk difoto. Grup HTS duduk di depan bersama Alira, Zayn dan Zema. Sedangkan grup Whitepink berdiri di belakangnya bersama Fira. Lefia memberi aba-aba untuk memotret kebersamaan ini. Mereka pun tersenyum semringah menghadap kamera.


__ADS_2