Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Pertemuan


__ADS_3

Naomi semakin resah karena Jae Young tidak kunjung datang. Sudah hampir setengah jam, sedangkan acara Hari Ayah di sekolah telah dimulai. Zayn dan Zema menghentikan permainan di gawai. Diberikannya dua gawai itu kepada Naomi.


Setelah sambutan hangat dari kepala sekolah dan pidato tentang ayah, kini tiba saatnya pembacaan puisi untuk ayah dari anak tercinta. Karena tahun ini--- bagi kelas empat, lima dan enam yang membaca puisi tentang ayah mereka.


Tidak hanya Naomi yang resah, Zayn justru lebih resah dan minder. Di saat teman-teman lainnya bermanja dengan ayah masing-masing. Zayn hanya bisa menunduk dan hampir saja meneteskan air mata. Namun lain halnya dengan Zema, tampak cuek. Ia justru menikmati hidangan cemilan yang manis dan enak.


Di tengah keresahan Naomi dan Zayn, seorang pria yang diketahui wali kelas Zayn datang menghampiri mereka. Pria rupawan yang memiliki berewok tipis di dagu menyapa Zayn sembari membelai rambut anak itu. Sontak Zayn terkesiap dengan kehadiran wali kelasnya. Sementara Naomi memasang wajah tidak suka kepada pria itu. Baginya, pria ini telah merusak rencana Naomi.


"Kalau kamu enggak ada perwakilan. Boleh Pak Irfan mewakili Zayn?" ujar pria bernama Irfan tersebut kepada Zayn.


Naomi sontak menyela pembicaraan sembari memajukan lima jari." Eh, maaf, ya, Pak. Sebentar lagi ada perwakilan dari Zayn. Bapak jangan asal nyambar aja, dong!"


Pria bertubuh tinggi dan berpakaian kemeja putih itu lantas menoleh ke Naomi. "Mana? Yang saya lihat cuma Zayn, Zema dan Anda."


"Memang yang bakal datang siapa, Tante? Kalaupun enggak ada perwakilan dari Zayn. Pak Guru Irfan aja yang jadi perwakilan," sela Zayn.


"Enggak bisa! Tolong dong kasih waktu, tunggu sebentar lagi. Orang sabar itu disayang Allah, oke!" tegas Naomi seraya memelototi Irfan.


"Baiklah, kalau tidak ada perwakilan dari Zayn, saya akan maju menjadi ayah sementara Zayn," ucap Irfan seakan menantang Naomi.


"Jadi Ayah sementara kok bangga? Yang jadi Ayahnya secara permanen aja--- biasa aja," protes Naomi.


"Saya tidak pernah melihat Anda. Anda ini siapanya Zayn?"


"Heh! Saya ini Tantenya Zayn. Udahlah, saya malas basa-basi sama Anda. Lebih baik Anda menyingkir dari sini sebelum Anda kejang-kejang nantinya."


"Apa hak Anda menyingkirkan saya? Saya akan menunggu siapa sosok yang Anda maksud Ayah permanen itu."


"Terserah!" Naomi bertambah kesal lantas melengos. Ia mendekap dua tangan secara menyilang.


Irfan duduk di samping Zayn. Pria lajang itu tidak mempedulikan Naomi. Ia justru mengajak ngobrol dengan Zayn dan Zema. Sepertinya Zayn mulai bersemangat atas kehadiran Irfan.


Saking kesalnya, Naomi beranjak dari duduk. Ia lantas menoleh ke arah depan sekolah. Harap-harap cemas bercampur panik menanti dua orang yang akan hadir di sini.


"Gimana dengan seorang anak yang enggak punya Ayah? Ayahnya kan udah meninggal dunia. Sedangkan dia masih percaya diri untuk hadir di acara ini," sindir seorang anak laki-laki sepantaran dengan Zayn.


Asal suara itu tepat di belakang Zayn. Ada empat anak laki-laki yang sedang berkumpul di belakang Zayn. Hampir saja Zayn terpancing emosi, tapi Naomi sigap melirik ke arah suara menyakitkan tersebut. Naomi mencegah Zayn untuk tidak bertengkar dengan mereka. Zayn sudah tahu kalau yang selalu mem-bully --- orangnya itu-itu saja.


Irfan hendak menegur seorang murid yang mengundang emosi ke Zayn. Namun Naomi lagi-lagi mencegah Irfan. Naomi bergegas menghampiri anak itu dengan tatapan tajam. Anak tadi sontak tercengang melihat ekspresi Naomi seakan-akan macan hendak menerkam mangsa. Begitu pula dengan tiga anak lainnya merasa takut dengan Naomi.


"Bukankah ini acara hari Ayah? Sebentar lagi baca puisi tentang Ayah. Tapi, kenapa masih ada lisan yang julid di sini? Mana orangtuanya?" hardik Naomi sembari celingak-celinguk mencari orangtua anak itu.


Seorang pria berkumis tiba-tiba datang sembari setengah membungkuk dan berkata, "Maafkan atas ucapan anak saya."


"Maaf? Segitu mudahnya kata maaf untuk orang yang udah menyayat hati keponakan saya. Oh, tidak bisa begitu dong!" geram Naomi hingga sorotan mata mendelik ke pria tersebut.


"Tolong, Mbak, jangan memperpanjang masalah ini. Maafkan atas ucapan anak saya barusan." Pria itu sangat malu atas perilaku anaknya terhadap Zayn melalui lisan yang tidak mengenakkan.


"Biarlah, Tante Naomi, setiap hari Zayn udah biasa dapat omongan pedas seperti itu. Dan memang dia yang rajin berbicara seperti itu sama Zayn," sahut Zayn.


"Oh, hahaha. Jadi, sekarang saya tahu, memang benar kebiasaan mem-bully itu pasti dengan orang yang sama. Ini sekolah unggulan bukan? Pasti juga diajarkan good attitude dan lisan yang berkelas. Tapi, yang saya dengar tadi, apa? Tolong, Anda sebagai Papanya ajarkan anak Anda untuk bertutur kata yang baik dan berkelas!" tegur Naomi kepada pria berkumis itu.


Perselisihan itu menimbulkan perhatian banyak orang di sana. Sebagian orang tercengang atas kehadiran Naomi di sana. Ada yang tahu Naomi karena dikenal sebagai anak perempuan dari keluarga Lee Hyun Joong. Keluarga yang terpandang pemilik perusahaan Excellent.


"Itu putrinya Pak Lee Hyun Joong, bukan? Aku enggak nyangka jika dia hadir di sini."


"Ternyata dia Tantenya Zayn. Sungguh, ini mengejutkan!"


"Naomi adalah gadis tegas dan berkelas. Kalau kita salah-salah, ibaratnya dia bisa mencekik kita dengan lisannya yang lumayan pedas itu."


Begitulah omongan beberapa orang yang mengenal Naomi. Melihat sekitarnya yang tengah menyoroti dirinya, Naomi sejenak merapikan hijab pashmina yang dikenakan.


"Lanjutkan saja acara ini dengan baik. Maaf, atas ucapan saya yang tiba-tiba mengejutkan kalian," ujar Naomi setengah membungkuk sebagai tanda maaf dan hormat kepada para hadirin.

__ADS_1


Naomi lantas mendekati pria berkumis itu. Ia menatap dengan tajam seraya berbisik, "Bayangkan kalau anak Anda berada di posisi Zayn. Anda harus bisa mengajarkan anak Anda bersikap baik, bukan pada Zayn saja, tapi, terhadap anak yatim piatu lainnya."


***


Di samping sekolah tepatnya di tempat parkir mobil, seorang pria membuka pintu depan dari mobil sedan hitam. Sosok pria bertubuh atletis turun dari mobil dengan balutan kemeja putih dipadukan blazer hitam. Perlahan ia melepaskan kacamata hitam yang bertengger di mata sipit nan sayu.


Seorang pria satu lagi turun dari mobil di bagian belakang. Pria satu ini juga tidak kalah atletisnya. Namun tubuhnya yang gagah itu berbalut kemeja panjang abu-abu. Matanya juga sipit dan monolid, tapi terdapat tahi lalat di mata kiri. Sudah pasti ialah Henry Lee.


Kini dua pria dengan tinggi hampir dua ratus sentimeter berdiri tegap sembari memandang sekolah unggulan. Dua pria yang mempunyai darah Korea itu melangkah dengan penampilan maskulin menuju ke gerbang sekolah. Namun ketika hendak menyeberang jalan, lewatlah pedagang bakso tepat di depan mereka, membuat ketampanan dua pria ini terhalangi.


"Sebentar Jae Young-ah, ada iklan lewat," canda Henry mencegah temannya itu.


"Padahal aku berusaha berjalan seperti idol, kegantenganku terhalang oleh tukang bakso. Oh, My God!" protes pria berusia tiga puluh tiga tahun itu.


"Terserah apa katamu!" Henry meringis.


"Sungguh hari ini membuatku bete. Pertama, sopir pribadimu itu pakai acara sakit segala. Kedua, diburu-buru sama Naomi untuk mengantarkanmu di acara ini. Oke, demi anak-anak, tapi aku jadi penasaran kayak apa Ibunya? Sebegitu spesialnya di matamu," gerutu Jae Young.


"Kamu enggak perlu penasaran dengan calon istriku. Yang pasti dia sosok wanita pilihan Allah. Dua anaknya juga akan menjadi anakku." Henry lantas menatap tajam Jae Young seraya tersenyum sungging.


Henry dan Jae tiba di halaman sekolah. Sepasang mata mereka celingukan mencari keberadaan Naomi, Zayn dan Zema. Tatkala seorang pria setengah baya yang merupakan kepala sekolah itu menyebut nama Zayn untuk naik ke atas panggung, Henry sigap menemukan sosok Zayn.


Kala Zayn berdiri bersama Irfan, justru Henry lantas bergegas menghampiri bakal jadi anak sambungnya itu. Henry merapikan rambut hingga kemeja, kemudian ia sigap menepuk bahu Zayn. Seketika Zayn berbalik badan sampai terkesima melihat sosok di hadapannya. Sepasang mata Zayn tidak berkedip dan mulutnya melongo dengan kehadiran Henry.


"Om Henry!" ucap Zayn setengah lantang.


"Om Henry hadir untuk kamu. Kita akan menjadi partner keluarga yang baik!" ujar Henry menyemangati Zayn.


Zayn semringah dan berkata, "Terima kasih, ya Allah, udah mengabulkan doa Zayn. Zayn jadi punya energi semangat!"


"Om itu siapanya Zayn?" tanya Irfan menyela pembicaraan antara Henry dan Zayn.


"Om Henry adalah calon Papa Zayn, Pak Guru," jawab Zayn semakin antusias memperkenalkan calon papa barunya.


Bukan Zayn saja yang senang dengan kehadiran Henry, Naomi juga bahagia, seolah sudah menang dalam pertandingan. Hatinya juga terharu melihat keakraban Henry dan Zayn yang cocok sekali menjadi papa dan anak laki-laki.


Jae Young justru duduk di samping Naomi. Pria berambut model hair coma jadi ikut menyantap cemilan bersama Zema. Naomi tidak pedulikan kedatangan Jae Young. Tatapannya hanya fokus pada Henry dan Zayn yang berada di atas panggung.


Semua orang dibuat bungkam dan terpukau oleh kedatangan Henry yang begitu mengejutkan. Tidak disangka-sangka, Henry akan menjadi ayah untuk Zayn sekaligus Zema.


Betapa beruntungnya Zayn di dampingi orang terpandang yang dikenal sebagai pengusaha sukses itu. Begitu pula kepala sekolah ini hanya bisa tertegun, karena sekolah ini dihadiri oleh anak laki-laki pengusaha sukses seperti Henry. Sudah pasti Henry banyak dikenali orang-orang. Bukan sekadar kaya, tapi juga rupawan dan gagah.


***


Pertengahan hari begini membuat kerongkongan Fira terasa gersang. Sedari tadi ia melakukan sesi pemotretan brand hijab yang ternama di Semarang. Meski ada waktu istirahat, ia sudah minum sebotol air mineral, tetap saja merasa gersang jika belum minum yang dingin. Lefia yang mendampingi Fira pemotretan, cukup memakan waktu satu jam akhirnya ketiduran di sofa.


Sebagai brand ambassador, Fira melakukannya secara profesional. Wajahnya yang ayu tidak lepas dari polesan make up flawless. Sampai ia berapa kali ganti motif lain dari hijab dan gamis. Walaupun Fira tidak pernah terjun dunia modeling, tapi ia begitu piawai dalam bergaya di depan kamera. Terlihat percaya diri, elegan dan berkelas. Fotografernya juga sesama wanita, jadi Fira merasa nyaman dan puas dengan hasil pemotretan.


Walaupun sudah berkepala tiga, Fira masih terlihat seperti perempuan berusia dua lima tahun. Ia pandai merawat tubuh dan wajah. Bukan hanya perawatan kulit, ia juga sangat menjaga pola makan dan olahraga ringan.


"Dilla, pemotretannya berapa sesi lagi ini?" tanya Fira.


"Oke, sudah selesai pemotretannya!" jawab Dilla, seorang gadis bergamis motif lengkap dengan jilbab segitiga yang menjuntai ke pinggang. Ia seorang fotografer yang dipilih brand hijab tersebut.


Fira dapat bernapas lega sembari berkata, "Alhamdulillah, rasanya ingin tepar nih!"


"Istirahat sejenak, Mbak Fir."


"Iya, nih, hehehe." Fira mengembuskan napas.


Ketika Fira hendak menghampiri sofa, tiba-tiba Lefia bangun tidur dan beranjak dari sofa. Sejenak Lefia merenggangkan otot sampai menguap. Kelihatan Lefia begitu menikmati tidurnya walau sebentar.


"Tutup mulutmu, Lef! Nanti laler masuk, baru tahu rasa deh," tegur Fira seraya merebahkan tubuh di sofa.

__ADS_1


"Oh, iya, Bu Fir, hehehe," ucap gadis berusia dua puluh lima tahun itu jadi malu.


"Kamu mau pergi, enggak? Kalau kamu pergi, aku titip es kopi atau es apa gitu. Haus banget nih!"


"Wah, kebetulan saya juga haus, Bu, hehe." Lefia lantas menggaruk jilbab.


"Oalah, Lef! Ya, udah, ini sekalian beli buat kamu. Seperti biasanya saya pesan minuman dua gelas, ya." Fira membuka dompet dan memberikan uang seratus ribu dua lembar kepada Lefia.


"Siap, Bu Fira!"


"Kalau ada sisanya bisa belikan cemilan gitu."


"Oke, Bu Bos!"


Lefia melangkah riang gembira bagai anak kecil yang senang mendapatkan uang jajan. Fira geleng-geleng kepala, sudah hafal watak dan perilaku asisten pribadinya yang polos dan menggelitik hati. Fira sejenak melepaskan dua lensa mata dan ditaruhnya dalam kemasan lensa mata yang berisikan air.


Pada saat Fira sedang pulasnya tertidur di atas sofa, Lefia datang kembali, pelan-pelan menepuk bahu Fira sembari berbisik di telinga Fira. Namun sepertinya Fira terbuai dalam mimpi indahnya, tepukan dan bisikan Lefia tidak membuatnya bangun. Terpaksa Lefia menarik napas dan berniat mengejutkan bosnya itu.


"Bu Fira!" teriak Lefia.


Fira sontak terperanjat dengan mata terbelalak. Ia lantas menatap ke Lefia seraya berkata, "Ada apa sih, Lef? Kok cepat banget baliknya? Saya lagi enak tidur gini malah diganggu."


"Maaf, Bu. Tapi, di luar sana ada seorang yang menjual berbagai macam kopi."


"Kan kamu bisa beli."


"Wong, penjual itu pengen Bu Fira langsung yang beli."


"Ish, ada-ada aja!"


Fira beranjak dari rebahan dan mengambil kacamata di dalam tas. Ia bergegas keluar dari studio foto. Angin berembus kencang sehingga hijab dan gamis yang dikenakan Fira berkibar. Fira sebisa mungkin merapikan hijab dan gamis supaya tidak tersingkap. Ditiliknya seorang pria yang mengenakan topi, kaos oblong dan celana panjang. Pria itu justru membelakangi Fira.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Fira kepada pria itu. Fira mendekati pria yang lebih tinggi darinya.


Pria itu lantas berbalik badan. Namun wajahnya tidak kelihatan karena tertutup masker dan topi. Ia juga membawa sekotak besar yang berisi beberapa gelas kopi dikemas dengan rapi.


"Saya menjual berbagai macam minuman kopi. Ini ada tiga varian kopi, Bu," ucapnya.


Fira merasa ada kejanggalan. Suara pria itu seperti tidak asing baginya. Namun Fira berusaha mengingat suara pria tersebut.


"Kopi apa aja?" tanya Fira lagi.


"Kopilih aku atau dia, kupinang kau dengan bismillah atau kopilih aku, kita segera menikah," jawab pria itu cukup menggelitik Fira.


"Kopi varian macam apa itu? Hahaha."


Pria itu sejenak meletakkan kotak di atas kavling. Fira mengernyit heran. Pria itu perlahan melepas masker dan topi yang dikenakan. Fira sontak terbelalak, tidak menyangka pria yang di hadapannya ini adalah pria yang selama ini dicintainya, yakni Henry.


"Masyaallah, He-Henry," ucap Fira. Ia gagap lantas menutup mulut dengan dua telapak tangan.


Fira terpukau dengan paras Henry semakin rupawan dan bersih. Seketika jantungnya berpacu kencang karena cinta yang dinanti selama lima tahun jadi nyata di depan mata.


"Assalamu'alaikum, Fira. Udah lama kita enggak berjumpa," sapa Henry. Ia menebar senyum manis kepada wanita pujaannya.


"Wa-wa'alaikumsalam," gagap Fira, kemudian bergumam, "ya Allah, rasanya aku ingin pingsan. Ini mimpi atau nyata, sih? Dia yang aku cintai sekarang di depan mataku. Astaghfirullah, jantungku berdebar."


"Kenapa diam aja? Kaget, ya? Aku semakin tampan kan?"


"Ish, dari dulu percaya dirimu itu enggak hilang-hilang, ya! Hahaha."


Dua sejoli yang saling mencintai, detik ini telah bertemu. Selama lima tahun hanya menanti tanpa bersua dan berkomunikasi. Cinta yang terjaga dalam doa tidak pernah salah arah. Hati yang senantiasa melibatkan Allah akan terasa indah dan tentram. Jika Allah menuliskan skenario terindah tentang dua sejoli yang berjodoh, Allah mudahkan jalan cinta itu.


Maghfira Annisa dan Henry Lee tampak malu-malu dan canggung seperti baru bertemu dan kenal. Sepasang insan itu tidak berani bertatapan mata secara langsung. Wanita dan pria yang berbeda usia itu memilih menundukkan kepala secara bersamaan. Seketika wajah Fira berubah menjadi kemerahan karena malu dan salah tingkah di hadapan Henry.

__ADS_1


__ADS_2