Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Hari Ayah


__ADS_3

"Zayn mana?" tanya Naomi.


Pagi-pagi sekali Naomi sudah berdiri di depan pintu rumah Fira. Penampilannya hari ini sudah cantik dan rapi. Seperti biasanya, Naomi memakai tunik panjang selutut dan hijab pashmina yang diselempangkan pada pundak.


Fira lantas melongo, hanya memakai daster panjang dengan jilbab seadanya dan lusuh. Wanita beranak dua itu jarang sekali mencuci muka dengan sabun saat pagi. Jadi dibiarkan polos begitu saja. Namun tidak mengurangi parasnya yang ayu dan manis.


"Assalamu'alaikum dululah, Mi!" tegur Fira.


"Tadi sudah assalamu'alaikum, enggak ada jawaban dari orang rumah. Sekarang Zayn mana?" kilah Naomi.


"Wa'alaikumsalam. Zayn lagi jalan-jalan," ucap Fira meringis.


Naomi seketika melotot. "Heh? Jalan-jalan ke mana?"


"Ke mimpi, hahaha," canda Fira.


"Mamanya sekarang pinter jokes, ya?" Naomi menyeringai.


"Haha, ya, udah, masuklah! Zayn habis subuh, dia tidur lagi."


Naomi dan Fira masuk ke dalam rumah. Sejenak Naomi meletakkan tas branded di sofa ruang tamu, kemudian kembali mengikuti Fira menuju ke kamar Zayn dan Zema. Jam dinding di ruang tengah masih menunjukkan 5.27 pagi, terlalu pagi untuk membangunkan Zayn dan Zema.


Naomi justru menilik penampilan Fira yang memakai daster, betapa sederhananya wanita yang bakal menjadi adik iparnya ini. Ada niat untuk mengambil gawai di tasnya tadi, kemudian memotret Fira. Namun Naomi dan Fira sudah tiba di depan kamar Zayn dan Zema.


"Ternyata wanita sesukses Fira ini bisa menjelma jadi Ibu rumah tangga," ucap Naomi.


Fira mengernyit dahi. "Lah, aku memang Ibu-ibu kan?"


"Haha, maksudku pakai daster, jilbab biasa dan ..." Jemari Naomi mengitari wajah Fira sebagai isyarat penampakan wajah Fira yang alami dan polos.


"Mukamu alami dan polos. Memang kamu enggak cuci muka dulu, ya?" komentar Naomi.


"Aku agak malas sih--- cuci muka pas bangun tidur, hehehe. Tapi, tetap cantik kan?" Fira dengan rasa percaya diri sembari mengedipkan mata.


"Hahaha, cantik dong. Henry saja sampai terpukau denganmu. Eh, iya, itu matamu enggak pakai lensa?"


"Hust! Bisa saja. Ya, kalau di rumah enggak pakai lensa dong. Mataku memang terlihat biasa aja. Tapi, lihatlah dekat-dekat, pasti ada bekas seperti goresan." Fira mengarahkan jari telunjuk ke mata kirinya.


Naomi menilik lebih dekat, ternyata benar ada sedikit seperti goresan di bagian bola mata kiri Fira. Naomi pun mengangguk sambil mengerucut bibir.


Fira mempersilakan Naomi masuk ke kamar Zayn dan Zema. Kamar dengan desain kekinian untuk anak-anak, dinding biru disertai gambar mobil-mobilan dan robot kesukaan Zayn dan Zema.


Belum lagi koleksi mainan miniatur mobil dan robot yang berjejeran di lemari khusus miniatur. Ada pula dua meja belajar anak, serta kotak mainan besar yang tertata rapi. Terdapat AC dan parfum sehingga menjadikan kamar itu sejuk dengan aroma jeruk lemon.


Setelah Naomi mengedarkan pandang seluruh kamar Zayn dan Zema. Ia lantas menoleh ke dua anak laki-laki sedang tidur lelap di kasur yang terpisah. Naomi terharu dengan perkembangan dua anak laki-laki Fira yang kini beranjak besar. Apalagi Zayn perawakannya tinggi seperti anak baru gede. Parasnya seperti Fira dengan versi anak laki-laki.


"Anak-anakmu sudah pada besar, ya, Fir. Ganteng-ganteng lagi. Waktu berjalan begitu cepat," puji Naomi.


"Alhamdulillah, padahal kamu kemarin ketemu mereka loh! Kalau Zayn malah udah sunat setengah tahun yang lalu," ucap Fira.


"Aku baru ngeh pas mereka tidur, hehehe. Pantas aja sekarang Zayn badannya gede dan tinggi."


"Makanya sering dikira anak kelas enam SD atau satu SMP. Padahal masih kelas empat SD, hehehe. Tingginya nurun dari Mas Kirsandi juga."


"Tapi, wajah Zayn plek banget sama kamu, Fir."

__ADS_1


"Iya, banyak yang bilang kalau Zayn itu versi aku. Kalau Zema versi Mas Kirsandi."


"Selanjutnya Adik mereka versi Henry, hahaha," seloroh Naomi.


"Ih, apaan sih?" Fira tersipu-sipu seraya menepuk pundak Naomi.


Naomi duduk di sisi kasur Zayn. Ia mengelus rambut Zayn seraya berkata, "Zayn bangun! Tante Naomi udah datang. Ayo sekolah!"


Zayn lantas menggeliat sembari menyipitkan mata, kemudian ia menguap sembari menutupinya dengan telapak tangan. Dikuceknya sebentar mata itu. Berkali-kali mengedipkan mata hingga Zayn benar-benar terbangun dari tidurnya.


"Oh, Tante Naomi," lirih Zayn.


"Sekolah, yuk! Biar Tante Naomi yang menemani kamu dan Zema," rayu Naomi.


"Tapikan, hari ini hari Ayah, Tante."


"Kenapa memang? Sudahlah, nurut aja sama Tante Naomi, ya. Urusannya pasti beres!"


Zayn melirik ke arah sang mama. Matanya seakan berbicara dengan keputusan mamanya. Fira mengangguk sebagai tanda menyetujui supaya Zayn dan Zema menuruti usul Naomi.


"Om Henry udah pulang, Tante?" tanya Zayn.


Naomi menjawab, "Emm, kayaknya Om Henry belum pulang. Tapi, Zayn mau berangkat ke sekolah, ya?"


"Ya, udah, Zayn mau sekolah. Zayn percaya sama Tante Naomi."


"Alhamdulillah, sekarang anak sholih mandi dulu gih!"


"Siap, Tante!"


Lain halnya dengan Zayn yang memiliki bulu mata lentik, praktis manis. Zayn juga terlihat tampan saat ia tersenyum. Anak laki-laki berbalut piyama mobil itu beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Sedangkan Zema justru bermanja dipangkuan mamanya.


"Zema, sekolah sama Tante Naomi, yuk!" bujuk Naomi.


"Tapi, nanti belikan es krim, ya, Tante, hehehe," pinta Zema.


"Eh, Zema kok minta es krim sih, Nak," ujar Fira.


"Hahaha, enggak apa-apa, insyaallah Tante belikan es krim untuk Zema dan Kakak Zayn, ya," kata Naomi.


"Yeay, yeay!" Zema sontak loncat-loncat di kasur. Naomi dan Fira jadi gemas melihat tingkah lucu Zema yang imut ini.


***


"Jadi, aku enggak ikut nih?" tanya Fira.


Zayn dan Zema sudah bersiap diri. Dua anak laki-laki itu sudah rapi, wangi dan tampan. Lengkap dengan seragam sekolah, jam tangan dan sepatu masing-masing. Anak-anak kali ini tidak bawa tas, pasalnya ada acara hari ayah. Ditiadakan juga pelajaran di sekolah. Ratih juga ada di sana melihat dua cucunya yang begitu menggemaskan. Namun Fira masih dengan penampilan yang ala kadarnya.


"Enggak usah! Biar aku aja yang menemani mereka. Tenang saja, semua pasti beres kalau aku yang handle," ujar Naomi mengedipkan satu mata.


"Naomi ini bisa aja. Terima kasih telah berkenan menemani Zayn dan Zema ke sekolah," ucap Ratih.


"Sama-sama, Tante Ratih."


"Oalah, Bu Fira!" sahut Lefia seraya berlari kecil menghampiri Fira.

__ADS_1


"Ada apa, sih, Lef?" tanya Fira menoleh ke arah Lefia.


"Jenengan hari ini ada acara, to. Saya lihat lagi agenda jenengan, bukannya hari ini jenengan ada pemotretan Hijab Lyra," jawab Lefia.


"Wah-wah, ada yang jadi model nih!" sanjung Naomi.


"Model apaan? Itu produk hijab punya temanku. Jadi, aku yang ditawari jadi ambassador gitu," terang Fira.


"Eh, bagus dong. Ambassador itu istimewa loh, berarti kamu memiliki aura muslimah yang paripurna, hahaha."


"Ngejek atau memuji nih?" Fira menyeringai ke Naomi.


"Yuk, Tante langsung berangkat ke sekolah Zayn dan Zema!" ajak Zayn sembari menarik pelan tunik Naomi.


"Oke, salim dulu sama Mama dan Nenek," perintah Naomi.


Zayn dan Zema bersalaman dengan Fira dan menciumi punggung tangan mamanya, kemudian mereka juga melakukan hal yang sama kepada Ratih, neneknya. Betapa santun dan hormatnya Zayn dan Zema kepada mama dan nenek. Fira tidak lupa mengusap ubun-ubun kepala Zayn dan Zema sembari mendoakan keberkahan.


Naomi juga bersalaman dengan Ratih penuh hormat, kemudian membawa pergi Zayn dan Zema sambil merangkul mereka. Fira terharu dan tersenyum melihat pemandangan indah antara Naomi, Zayn dan Zema. Betapa sayangnya Naomi terhadap anak-anaknya itu. Apalagi jika Henry yang menyayangi dua anaknya. Fira juga ingin melihat seperti apa Henry memperlakukan dua anaknya itu nanti.


***


Naomi, Zayn dan Zema turun dari mobil mewah. Wanita bertubuh bak model itu meminta sopir mobil untuk menunggu di depan sekolah. Ia merangkul Zayn dan Zema, mereka berjalan menuju ke halaman sekolah. Sudah banyak orang yang berkumpul di halaman sekolah.


Adanya tenda outdoor luas berwarna putih, banyaknya meja dan kursi khusus satu keluarga dan aneka hidangan lezat di atas meja. Anak-anak sudah berkumpul bersama orangtuanya di meja dan kursi yang telah ditentukan oleh panitia.


Sebelum masuk ke tenda outdoor, panitia memberi kartu kepada Zayn dan Zema supaya mereka mengetahui meja dan kursi khusus mereka. Zayn dan Zema tampak antusias menggandeng tangan Naomi. Begitu juga Naomi senang mendampingi dua putranya Fira. Baginya, anak-anak ini juga dianggap sebagai keponakannya sendiri. Naomi begitu menyayangi mereka.


Kehadiran Zayn, Zema dan Naomi cukup menarik perhatian orang-orang di sana. Zayn hampir saja lesu jika sewaktu-waktu ada temannya yang mencibir sebab tidak punya ayah. Namun adanya paras tegas dan sangar dari Naomi, sepertinya tidak akan ada yang berani mencibir Zayn dan Zema.


Telah dapatlah mereka meja dan kursi dengan selembar kertas yang bertuliskan Zayn, Zema and Family. Namun mata Zayn tidak lepas dari pandangan teman-teman yang kerap kali mencibirnya. Raut wajah teman-teman yang ia kenali dengan cibiran mereka itu tajam melihat Zayn. Di sisi lain, sebisa mungkin Naomi mengalihkan pandangan Zayn dengan memberikan gawai kepada Zayn.


Kini Zayn dan Zema diberikan dua gawai oleh Naomi sembari menunggu jalannya acara, supaya Zayn dan Zema terhibur dengan permainan di dalam gawai tersebut. Naomi terus memantau kondisi di sekitar.


Sedari tadi Naomi melirik ke sana ke mari. Ia sudah mempersiapkan diri untuk membela Zayn dan Zema melawan kejamnya lisan yang mencibir Zayn dan Zema soal tidak mempunyai ayah. Namun sepertinya orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing.


Dering gawai milik Naomi berbunyi di meja. Ia lantas melihat layar gawai dan langsung mengangkat panggilan masuk dan berkata, "Gimana Jae Young-ah? Kamu udah sampai ke sini?"


"Sungguh, baru kali ini aku terjebak macet! Mana panas dan gerah lagi walaupun ada AC, haaahh!" keluh seorang pria yang dipanggil Jae Young oleh Naomi tadi.


"Aku enggak mau tahu, aku tahu kamu handal dalam mengemudi mobil. Segeralah ke mari! Aku tidak ingin membuat anak-anak Fira kecewa," omel Naomi.


"Ah, kau! Jangan cuma bisa ngomong cepat-cepat, bla bla bla."


"Demi anak-anak bukan aku, mengerti?"


"Iya-iya. Lagi pula di belakangku ini juga sedang asyik main gim, heran deh!"


"Sudahlah, aku tunggu kehadiran kalian."


Naomi mengakhiri percakapannya dengan pria itu. Ia segera mematikan telepon, kemudian menata pakaian dan hijab sembari menilik ke arah sekitar. Naomi masih memantau keadaan yang terbilang aman.


Dikeluarkannya cermin kecil dari tas. Ia berkaca soal tata rias yang melekat di wajah oriental. Sudut bibir Naomi tersenyum sinis. Sepasang mata sipit Naomi menatap ke dua anak laki-laki yang sibuk bermain gim di gawai. Naomi sengaja memberi gawai itu kepada Zayn dan Zema supaya fokus pada gim, tidak fokus pada mereka yang hendak mencibir Zayn dan Zema.


Naomi membatin dengan angkuh, "Mereka akan tahu penampakan Papa sambung Zayn dan Zema. Tunggu waktu mainnya."

__ADS_1


__ADS_2