
"Dua hari setelah pulang dari Korea, Henry jadi bersikap dingin sama aku. Aku memang salah. Sepertinya aku membuat Henry tertekan. Kesannya aku memaksa Henry supaya mau terbuka soal psikologisnya," tutur Fira.
Wanita berjilbab segitiga warna hitam itu termenung di dekat jendela ruangan. Fira kembali menjalani aktivitas di salon kecantikannya. Ia menatap langit biru yang cerah, sedangkan hatinya diselimuti rasa gundah. Walaupun mata kirinya terlihat berbeda, terdapat goresan akibat kecelakaan lampau itu. Namun dua mata Fira tetap indah saat tersorot cahaya.
Dinginnya ruangan kerja Fira, tidak membuat hatinya sejuk. Wajah marah Henry masih terbayang di benak Fira. Batinnya terus menyalahkan diri sendiri. Dirogohnya saku tunik untuk mengambil gawai. Jemari Fira berselancar di WhatsApp. Fira sempat mengirimkan pesan kepada Henry melalui WhatsApp, tapi sayangnya, tidak ada jawaban dari Henry. Bahkan pesan Fira tidak dibaca oleh Henry. Seketika membuat Fira lemas tak bertenaga.
"Henry benar-benar marah padaku. Astaghfirullah, Fira, kenapa bisa-bisanya aku keceplosan kayak gitu? Aku merasa berdosa dengan suami dan Allah," lirih Fira nyaris menitikkan air mata.
Fira gontai menuju ke sofa, pelan-pelan ia duduk di sofa. Sorotan matanya masih menatap layar gawai. WhatsApp Henry terakhir dilihat dua jam yang lalu. Meskipun Fira tahu, hari ini Henry kembali sibuk di perusahaan dan berencana mampir ke kedai kopi Bryan di Temanggung. Namun Fira merasa tersinggung jika Henry tidak membaca pesannya.
Tidak ingin larut dalam harap menanti balasan pesan dari Henry, jemarinya kini berselancar di Instagram. Fira membuka akun Instagram-nya. Ada keinginan untuk mengunggah foto kebersamaan waktu di Korea Selatan kemarin. Namun Fira lagi-lagi memikirkan Henry, karena sebelum mengunggah foto, Fira selalu meminta pendapat kepada suaminya itu.
Fira menatap layar laptop di meja. Dilihatnya dokumentasi foto dan video kebersamaan di Korea. Dokumentasi foto dan video tersebut dikirim langsung dari tim fotografer di Korea sana. Kali ini Fira berselancar di akun Instagram-nya melalui laptop. Feed terakhir di akun Instagram-nya masih foto pernikahannya dengan Henry. Fira belum menambahkan foto dan video lain di sana. Namun jika dilihat dari pemberitahuan, pengikut akun Instagram Fira bertambah banyak. Bukan itu saja, yang menyukai dan komentar setiap unggahannya juga banyak.
Sekarang Fira ingin melihat akun Instagram Henry. Diketiknya nama akun Instagram Henry di pencarian. Jumlah pengikut Henry kian membludak, hampir sembilan belas juta pengikut. Fira terus mengarahkan kursor ke bawah. Betapa mengejutkannya, ternyata Henry sudah banyak mengunggah foto dan video kebersamaan. Adapun sewaktu mereka di Kanada hingga Korea. Jiwa keingintahuan Fira bergejolak, ia hendak membaca komentar dari orang-orang di setiap unggahan Henry.
"Aku jarang buka Instagram jadi kudet nih. Kenapa Henry enggak bilang kalau dia udah posting foto dan video kita sih?" ucapnya.
Diarahkannya lagi kursor untuk menekan komentar di unggahan foto Henry, Fira dan anak-anak waktu di Istana Gyeongbok. Hati Fira terlatih untuk bersabar membaca isi komentar dari netizen. Beragam komentar, ada komentar baik bahkan julid alias judes lidah.
@akhibaiq
[Masyaallah, tabarakallah buat keluarga Mas Henry dan Mbak Fira. Tiga anaknya cakep-cakep.]
@zahratulkarimah
[Masyaallah, ikut bahagia lihat keluarga ini. Henry dan Fira pasangan serasi. Semoga kalian sampai Jannah-Nya.]
@cantikaputri
[Enggak kebayang nanti anaknya kayak apa? Oppa @heyleehen7 ganteng. Unnie @maghfiraannisa07 cantik. Itu tiga anaknya cakep. Ya Allah, bibit unggul bener. Keluarga good looking ini mah.]
@akusukakepo
[Mbak @maghfiraannisa07 bagi resepnya dong---biar bisa dapat jodoh orang Korea kayak gimana? Aku pengen jodoh sama X HTS tolong, huuwwaa.]
@heyfirbestcouple
[Buat Henry dan Kak Fira, jangan lihat komentar pedes yang benci hubungan kalian. Maklumlah mereka yang benci itu patah hati sebab Henry nikahnya sama Kak Fira. Iri sama Kak Fira karena dinikahi Henry. Hei, bukan Henry doang yang ngalamin! Ada idol cowok yang nikah sama idol cewek, ada fans yang patah hati dan enggak bisa terima kenyataan. Woi, Henry juga manusia kali, doi mau nikah dan cinta sama Kak Fira, ya, hak Henry dong. Kalau udah takdir jodoh dari Tuhan, kalian yang benci cuma bisa apa?]
@juwitasukajokes
[Palingan yang benci dan patah hati sebab Henry nikah sama Fira itu iri. Kalau aku lihat Fira itu orangnya tulus dan keibuan. Fira juga wanita karier sukses kok. Belum tentu yang benci dan patah hati punya hati tulus dan keibuan. Paling kalian pengen ngincar hartanya Henry doang, wkwkwk.]
@julitapuedes
[Sekarang Oppa Henry udah berani pamer diri, ya. Padahal sebelum nikah, boro-boro nampak diri. Lihat deh postingan lain di bawahnya. Cuma foto ala Instagramable. Istri yang status sebelumnya janda kok dipamerin? Bangga?]
@lakimulutnyalemes
[Hilih, kalau aku jadi Henry mah enggak mau nikahin janda, ya. Kayak enggak ada gadis lain aja. Mana anaknya udah tiga lagi. Mana enak rasanya. Palingan istrinya pengen pansos tuh!]
@makemakshaming
[Itu istrinya cantik ketolong make up. Coba kalau natural palingan kerutan. Lagian anaknya udah tiga gitu, pasti udah melar lah badannya. Pikiran Henry ke mana dah? Masih ada gadis loh yang singset.]
@mulutjahatbiarin
[Enak, ya, Fira, sekarang hidupnya serba mewah. Udah disorot media ke mana-mana pula. Makan tuh nikmat kesuksesan Henry. Ini Fira udah buk ibuk enggak tahu diri nikah sama laki yang lebih muda.]
@fansyangpatahhati
[Sumpah, Henry dan Fira enggak cocok sama sekali. Fira pansos doang, aassooyy!]
@akunrepotamat
[Eh, kasihan, ya, Henry yang posting kebersamaan keluarga. Tapi, si Fira enggak pernah tuh posting kebersamaan mereka? Terakhir cuma foto nikahan doang. Jangan-jangan Fira cuma manfaatin Henry.]
__ADS_1
Fira hanya bisa mengucap istighfar berulangkali. Menikah dengan Henry, ternyata juga harus bisa latihan sabar menghadapi netizen yang tidak suka dengan hubungannya bersama Henry. Fira punya keinginan untuk membalas mereka yang berkomentar kebencian. Karena dirinya sudah geram dengan komentar-komentar pedas. Namun lagi-lagi Fira berpikir, jika membalas juga percuma, justru akan membuang tenaga dan waktu.
***
Tiba-tiba pintu ruang kerja Fira terbuka. Ternyata kakak ipar dan mami mertuanya datang di sini. Raut wajah Fira semringah. Wanita ayu dengan balutan tunik hitam ini lantas menghampiri mami mertuanya. Fira begitu santun kala mencium punggung tangan Intan, mami Henry. Fira mempersilakan Naomi dan Intan untuk duduk di sofa. Naomi dan Intan lantas duduk di sofa. Fira pun duduk di samping mami mertuanya.
"Assalamu'alaikum, Fira. Gimana kabarmu, Nak?" ucap Intan sembari mengelus punggung Fira.
"Wa'alaikumsalam, Mami. Alhamdulillah, Fira sehat, Mam," ucap Fira.
"Oh, iya, aku lupa assalamu'alaikum juga ding," sela Naomi.
"Kamu sih udah biasa asal nyelonong aja, hihihi," sindir Fira.
"Minta digelitik ini adik ipar, hmm." Naomi tertawa menyeringai.
Intan memberikan sebuah kotak makan kepada Fira. "Oh, iya, ini Mami bawakan kue bungeoppang. Mami dan Naomi yang bikin kue untukmu."
Fira membuka kotak makan itu. Isi kotak makan tersebut adalah kue bungeoppang, bentuknya seperti ikan. Mata Fira berbinar-binar melihat kue ini. Benar-benar menggemaskan.
"Kue bungeoppang itu kue khas Korea. Isinya kacang merah. Cobain deh," tutur Intan.
"Terima kasih, Mami dan Naomi," ujar Fira.
Naomi tersenyum melihat Fira senang dengan pemberian kue itu. "Sama-sama, Fir."
Fira sesekali menggigit kue bungeoppang itu. Sudut bibirnya tersenyum menandakan bahwa kue bungeoppang begitu lezat. Naomi dan Intan semringah melihat reaksi Fira memakan kue tersebut.
"Gimana?" tanya Intan.
"Masyaallah, ini enak banget, Mami," jawab Fira sambil memuji rasa kue itu.
"Biasanya kue ini dibuat pas hari Chuseok. Tapi, Mami dan Naomi ingin menyenangkan kamu. Jadilah kue ini," ungkap Intan.
"Oh, gitu. Ini lezat sekali. Tapi, sebaiknya Fira simpan dulu, soalnya Fira biasa berbagi sama anak-anak," kata Fira.
"Baiklah, Mam. Sebentar, Fira buatin minuman untuk Mami dan Naomi."
Naomi sigap berdiri sebelum Fira beranjak dari sofa. "Enggak usah repot-repot, Fir. Biar aku aja yang bikin minum sendiri."
"Oh, oke."
Fira melanjutkan mengunyah kue itu. Walaupun Intan sudah menjadi mami mertuanya, tapi Fira masih saja sungkan berhadapan dengan mami mertuanya. Sementara Intan menilik wajah Fira yang sedang tidak nyaman hari ini. Meskipun Fira menantunya, tapi beliau tahu dari sorotan mata Fira yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu lagi ada masalah, ya, sama Henry?" tanya Intan secara hati-hati.
"Hmm, namanya juga rumah tangga pasti ada selisihnya. Tapi, insyaallah, baik-baik saja, kok, Mam," jawab Fira.
"Baik-baik gimana? Pagi tadi, Henry ke rumah, cuma mengantarkan oleh-oleh dari Korea. Mami tanya ke Henry, mana Fira? Henry malah mengalihkan pembicaraan," jelas beliau.
"Ada masalah sedikit. Insyaallah, Fira dan Henry bisa mengatasinya."
"Apa tentang trauma Henry?" tanya beliau lagi.
"Maafkan, Fira, Mam. Waktu di Korea, Fira yang salah karena keceplosan mempertanyakan kondisi psikologis Henry. Sebenarnya Fira penasaran dengan kondisi psikologis Henry. Tapi, sepertinya Henry enggak suka kalau istrinya mengetahui kondisi psikologisnya," terang Fira.
"Jangankan kamu, Fir. Aku yang Kakaknya sama Sakura Adiknya saja---enggak tahu kondisi psikologis Henry. Yang tahu persis cuma Mami," sela Naomi.
Fira tercengang mendengar ucapan Naomi. Ia pikir Naomi dan Sakura yang tahu betul soal psikologis Henry. Padahal Naomi dan Sakura adalah saudara kandung. Ternyata dugaan Fira salah.
"Iya, Henry hanya ingin Mami yang tahu tentang kondisi psikologisnya," ungkap Intan.
"Hmm, begitu. Jadi, Fira enggak perlu tahu menahu soal psikologis Henry? Padahal Fira cemas dengan Henry. Fira tetap menerima Henry. Bahkan Fira ingin ada di samping Henry saat sedang begini," jelas Fira. Luapan hatinya tidak bisa dibendung lagi. Air matanya lantas berderai di pipi.
Intan lantas memeluk menantunya dengan kasih sayang. "Mami tahu perasaanmu. Seorang istri wajar cemas terhadap suaminya. Berbaik sangka saja, mungkin untuk saat ini, Henry belum ingin terbuka sama kamu. Sepertinya Henry enggak mau menambah bebanmu."
Fira merenggangkan pelukannya dari mami mertuanya. "Fira khawatir jika terjadi sesuatu pada Henry, Mam. Apa Mami bersedia menceritakan tentang psikologis Henry?"
__ADS_1
Intan bergeming. Pelan-pelan beliau geleng-geleng kepala. Fira bertambah lemas karena Intan memberi isyarat menolak untuk bercerita tentang kondisi psikologis Henry. Bertambah pilu dan cemas hati Fira.
"Maafkan, Mami, Fir. Bukan Mami enggak mau menolong kamu. Tapi, Mami kadung janji sama Henry untuk menceritakan detail kondisinya. Mami cuma bisa menceritakan sebagian saja," jelas Intan.
"Apa Mami juga pernah mendapat tekanan dari Henry supaya diam soal kondisi psikologis Henry? Sama seperti aku kemarin yang sempat membuat Henry marah?" Fira membatin.
"Namun, percayalah, Nak. Henry itu anak yang baik."
Fira lantas mengingat sesuatu. Sewaktu ia bertemu dengan Intan di kereta lampau itu. Ketika Fira hendak berkunjung ke rumah Khalifah dan Velia di Cakung. Sedangkan Intan baru saja pulang dari Korea. Fira ingat betul percakapan antara dirinya dan mami mertuanya ini.
"Henry bermasalah dengan Papi hanya karena Henry berteman dengan dua anak dari mafia itu. Henry punya trauma konflik besar dan menyaksikan pembunuhan sadis temannya. Terus, Henry hidup mandiri hingga merantau ke Singapura. Aku sampai mengira Henry cuma lelaki biasa dan sederhana. Tunggu-tunggu, mungkin dengan Naomi, Hardi dan Tommy, aku bisa tahu sedikit tahu tentang Henry." Fira lagi-lagi membatin seraya berpikir.
***
Entah sudah berapa lama Henry berselancar di game gawai? Tampaknya ia nyaman berada di kedai kopi milik Bryan. Sebentar-sebentar ia melanjutkan permainan di gawai, kemudian menyeruput secangkir kopi hitam. Bryan yang sembari mengawasi kinerja pegawai kedai, juga menilik Henry. Raut wajah Henry tidak seperti biasanya.
Bryan menghampiri Henry. Ia duduk di samping kakak iparnya. Bryan melihat Henry justru tidak konsentrasi bermain game di gawai. Wajah tampan Henry hari ini benar-benar muram dan lesu.
"Tumben wajahmu ditekuk gitu? Ada apa? Enggak seperti biasanya yang keep smile. Dari tadi aku perhatikan kamu asem terus mukanya," ucap Bryan.
"Enggak ada apa-apa," ucap Henry.
"Enggak ada apa-apa, gimana? Ini orang udah kayak cewek aja---pakai istilah enggak ada apa-apa kok." Bryan lantas menirukan ucapan perempuan yang bilangnya enggak ada apa-apa kok.
"Bisa aja, Bry, hehehe. Namanya juga rumah tangga pasti ada salah pahamnya dikit lah. Ya, intinya aku enggak bisa cerita ke kamu. Kamu lebih baik fokus ke usahamu."
"Hmm, gitu."
"Oh, iya, sesuai omonganku waktu di Kanada, aku ingin membantu mengembangkan kedai kopi ini."
"Walah, Hen, enggak usah repot-repot deh. Aku bisa memajukan usahaku sendiri kok."
"Eh, enggak apa-apa. Lagian aku bingung punya rezeki lebih disalurkan ke siapa? Maksudnya, setelah ke istri dan anak-anak. Daripada disalurkan ke hal yang enggak-enggak kan?"
"Kok Henry ngomongnya gitu, ya?" batin Bryan.
"Bry, hei!" Henry melambaikan tangan tepat di wajah Bryan.
"Eh, iyo-iyo. Terserah kamu ding."
"Gimana kalau kedai kopi ini buka cabang di Semarang dan Yogyakarta? Kayaknya asyik tuh. Rasa kopi produksimu juga enak. Apalagi nuansa kedai kopi di sini ala-ala anak muda gitu."
"Kalau buka cabang, lumayan, ya, Hen. Biar aku bisa nabung juga, hehehe. Nabung buat masa depan."
Henry semringah sambil mengangguk-angguk. Bryan memutar bola matanya seakan berpikir secara matang. Sebenarnya Bryan ingin memperluas usahanya. Namun di sisi lain, Bryan ingin mandiri untuk mengembangkan usaha kedai kopi ini. Bryan merasa ragu jika mendapat bantuan dari Henry.
"Jadi, gimana, Bry?" tanya Henry.
"Waduh, mbuh ding, Hen. Aku juga perlu mempertimbangkan bantuanmu. Aku enggak enak kalau dibantu saudara ipar. Maksudku gini, aku lebih mengutamakan persaudaraan daripada seperti ini. Selagi aku bisa mandiri, aku usahakan bisa mengembangkan usaha," jelas Bryan.
"Ya, udah, enggak apa-apa. Kalau butuh bantuan, bilang aku saja. Aku suka bantu saudara kok."
"Iya, Hen, hehehe. Yowis, aku mau lanjut mengawasi pegawai dulu, ya. Kalau untuk bayar kopi, enggak usah bayar. Untuk kamu gratis. Soalnya kamu sedulur dewe." (Sedulur dewe \= saudara sendiri)
Bryan meninggalkan Henry sendirian di sana. Henry melanjutkan minum secangkir kopi dan bermain game di gawai. Perasaan Bryan jadi tidak nyaman saat melihat raut wajah Henry yang sedang kacau. Seperti ada masalah yang disembunyikan Henry. Apalagi mengingat ucapan Henry tentang rumah tangga, Bryan jadi kepikiran sang kakak, Fira.
"Henry dan Kak Fira lagi berantem kah? Ada masalah apa, ya? Perasaanku jadi enggak enak. Semoga saja, Kak Fira enggak tersakiti untuk kedua kalinya. Aku tidak akan membiarkan Kak Fira jatuh ke lubang yang sama," gumam Bryan.
Bryan membalikkan badan, langkahnya menyusuri kedai sembari mengatur kinerja pegawai. Sementara di sisi lain, Henry meremas kuat rambutnya. Kepala Henry terasa pusing hebat. Pandangannya agak berkunang-kunang. Saat ini Henry sedang dihantui rasa bersalah karena telah menggertak Fira di depan restoran halal Korea kemarin lusa.
"Astaghfirullah, apa yang aku perbuat? Aku ini suami macam apa? Kenapa aku jadi kayak kesetanan menggertak Fira? Bukankah aku sudah bertekad untuk membuat Fira bahagia? Aku tidak ingin Fira tersakiti karenaku. Aku tidak ingin masa lalu Fira terulang lagi karena ulahku. Aku harus minta maaf kepada Fira. Namun, aku benci kalau ada orang yang ingin tahu tentang traumaku." Henry membatin seraya bertengkar dengan dirinya sendiri.
***
Bagaimana tanggapanmu setelah membaca novel ini? Komentar di bawah ini yuk. Diharapkan untuk memberi komentar tentang novel ini. Supaya penulisnya tahu dan kenal ulasan dari setiap pembaca sebenarnya.
Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, dan kasih rating (bintang 5). Supaya authornya ini semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Kamsahamnida. Saranghaeyo.
__ADS_1