Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Mimpi itu Firasat (?)


__ADS_3

Cahaya lampu di dua gedung menjulang tinggi itu terang benderang. Di alun-alun di depan balai kota Toronto terdapat kolam dan air mancur. Begitu juga huruf-huruf dengan lampu terang benderang yang tersusun kalimat Toronto. Siapapun yang berkunjung ke sini, pasti tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto ria. Entah itu bersama keluarga, pasangan maupun kerabat.


Walaupun di Toronto sedang mengalami musim panas, tapi malam ini suhunya cukup dingin. Untuk itu Henry, Fira dan Bryan tetap mengenakan coat dan celana panjang dan tebal. Pun tidak lupa memakai masker yang menutupi hidung hingga dagu mereka.


Meski memakai hijab, Fira juga melingkari lehernya dengan sehelai syal. Bryan tampak maskulin karena rambutnya tertutup kupluk.


Bryan masih saja menjadi obat nyamuk di antara dua kakaknya. Terkadang Henry tidak segan-segan menyuruh Bryan untuk memotret dirinya dengan Fira. Berkunjung di Kanada, Bryan justru hanya setengah menikmati liburan. Setengahnya lagi menikmati kemesraan Fira dan Henry.


Meskipun demikian, Henry juga punya rasa pengertian terhadap Bryan. Secara giliran ia memotret Bryan dengan latar belakang pemandangan Kota Toronto. Kadangkala Fira yang memotret Henry dan Bryan. Lengkap dengan gaya bak model profesional.


Henry, Fira dan Bryan nongkrong di depan tulisan Toronto yang terletak di dekat kolam. Sepasang mata mereka juga dimanjakan dengan melihat air mancur di kolam itu. Semakin malam, semakin pula banyak pengunjung yang datang di alun-alun dan balai kota Toronto ini.


"Malam ini aku sengaja mengajak kalian ke sini. Kita refreshing lihat gemerlapnya Kota Toronto," ucap Henry.


"Aku sangat menikmati petualangan ini. Ya, walaupun aku harus menanggung risiko melihat keromantisan kalian," ucap Bryan.


"Aku suka berkunjung di sini. Mudah-mudahan bisa kembali lagi di sini. Udaranya juga adem banget," ucap Fira.


"Alhamdulillah, aku senang kalau istri dan Adikku ini senang juga diajak traveling."


"Tapi, Hen, kamu enggak lupa kan kasih tahu aku soal alamat rumah Anna?"


"Enggak dong. Nanti aku share location rumah Anna ke kamu melalui WA."


"Oh, iya, besok kamu jadi kan hadir di Excellent Advertising Company yang baru resmi di sini," sahut Fira.


"Pasti jadi, aku dan kamu itu sudah ditunggu-tunggu oleh mereka. Namun, kamu harus siap-siap karena besok pasti sorotan media akan menyoroti tentang kita. Soal wartawan yang akan bertanya-tanya ke kita, biar aku saja yang menjawab."


Bryan memutar kedua bola matanya seakan sedang memikirkan sesuatu. "Oalah, pantas saja---kamu menyuruh kita pakai masker. Biar enggak diketahui orang-orang, ya?"


"Ya, benar, Bry. Kalau di Kanada dan Korea itu mudah aja media menyoroti kita. Di Kanada terbilang masih baru merintis, tentu sedang hangat diperbincangkan. Di Seoul Korea justru pusatnya, sudah dikenal banyak orang," terangnya, "kalau di Semarang jarang bahkan biasa saja. Soalnya Excellent Entertainment and Advertising di Semarang itu bisa dibilang belum sebesar perusahaan entertainment dan advertising lainnya. Mungkin kalau Excellent di Jakarta bisa jadi besar. Cuma aku belum kepikiran ke sana."


"Punya banyak perusahaan gitu, pusing enggak sih, Hen? Kalau dengar penjelasanmu, kayaknya aku enggak sanggup jadi kamu. Pasti banyak mumetnya."


"Aku jalani aja sih. Pusing pasti iya. Justru pas awal-awal itu aku sempat stress menangani perusahaan. Kalau sekarang sudah dibentuk struktur perusahaan dengan rapi dan baik. Aku sebagai pendiri atau pemilik, tinggal menerima laporan dari setiap CEO dan lain-lain. Cuma aku tetap memantau setiap perusahaan dong."


"Oh, begitu."


Tiga orang ini hendak mencari cemilan dan minuman di kafe yang masih dekat dengan balai kota ini. Henry, Fira dan Bryan berjalan santai sambil menikmati konser kecil di alun-alun itu. Banyak orang yang menonton sebuah band yang beranggotakan lima orang. Tentunya lima pemuda dengan berbeda negara.


Sorotan mata Bryan tajam melihat sosok pemuda yang menjadi salah satu anggota band itu. Bryan terbelalak dan mengenali pemuda yang bekerja di restoran Turki siang tadi. Seketika langkahnya terhenti, Bryan tidak menyangka jika pemuda itu lihai memainkan gitar. Sorak pengunjung bergemuruh menandakan mereka kagum pada band itu.


"Bry, ayo ke kafe," ajak Henry.


"Hen-Hen, sini deh," perintah Bryan, ia seraya melambaikan tangan supaya Henry lekas ke mari.


"Ada apa sih?" Henry penasaran. Ia menatap Fira, tapi Fira hanya bisa mengangkat kedua bahunya.


"Tuh, lihat, cowok itu kan yang kerja di restoran Turki."


"Ya, terus kenapa? Mungkin dia kerjanya kalau siang di restoran. Kalau malam kerjanya manggung."


"Enggak nyangka aja, seorang pekerja restoran punya bakat bisa main gitar dan menyanyi. Coba kamu dengarkan dulu dia menyanyi itu. Tadi aku dengar suaranya pas duet sama temannya, bagus suaranya."

__ADS_1


Benar yang dikatakan Bryan, pada saat pemuda itu mendapat giliran bernyanyi, suaranya menggema begitu merdu. Lagu yang mereka bawakan itu berjudul You Are The Reason. Lagu yang sangat terkenal, penyanyi aslinya adalah Calum Scott.


"Siapa tahu Excellent Entertainment tambah artis atau musisi kayak dia?" kata Bryan. Ia melirik ke Henry.


"Lagu kesukaanku ini. You are the reason, oh, so sweet," kata Fira. Seketika ia memejamkan mata karena menghayati setiap lirik lagu itu.


Henry terdiam seakan sedang memikirkan sesuatu. Melihat sang istri menikmati lagu itu, Henry tersenyum hingga memiliki inisiatif untuk memberi kejutan terindah kepada Fira.


Henry mendekap Fira begitu manis. "Aku adalah alasanmu, ya?"


"Eh, Henry, hehehe. Aku jadi malu. Hmm, iya benar, kalau aku lagi kangen kamu selama lima tahun itu, aku putar lagu ini. Cuma, sekarang aja enggak pernah putar lagu ini. Sekalinya dengar lagu ini bikin aku baper. Terus, ingat kamu," ungkap Fira.


"Haaahhh---mending aku enggak tunjukkin ke sini deh, kalau ujung-ujungnya kalian jadi mesra lagi," protes Bryan.


"Terserah Kakak dong, Bry. Kan Kakak dan Henry sudah menikah. Ya, mau ngapain aja jadi pahala."


"Iya-iya, yang pengantin baru. Ya, sudahlah, sekarang kita ke kafe aja. Aku merasa lapar."


***


"Henry, kita mau ke mana? Ini kan hutan. Masa malam-malam kita ke hutan?" ucap Fira.


"Ikut aku saja. Kita sebentar lagi sampai kok," ucap Henry.


Ke manapun keduanya pergi selalu bergandengan tangan. Namun anehnya, malam selarut ini, Henry justru mengajak Fira ke hutan. Pohon-pohon yang bergesek terlihat mengerikan. Fira mendongak ke atas melihat langit tampak hitam pekat. Hanya sebuah senter yang menerangi sepanjang perjalanan mereka.


Batin Fira sontak membuncah tak menentu. Henry tidak menjelaskan secara detail, akan dibawa ke mana perjalanan ini. Hanya dengan berjalan kaki, Fira terpaksa memberanikan diri. Walaupun sebenarnya takut jika sewaktu-waktu bertemu dengan binatang buas di tengah hutan ini.


"Kayaknya di sini enggak ada rumah atau tanda-tanda penduduk, Hen. Kita sedang di tengah hutan loh, apa enggak takut tersesat? Sebaiknya kita kembali ke kota. Aku takut, Henry," usul Fira. Semakin merinding bulu kuduknya. Dua mata menenggang di balik kacamata bening itu.


"Apanya yang senang? Ini sih menguji nyali banget. Ya Allah, jagalah kami dari kejahatan dalam bentuk apapun," gumam Fira. Kian gelisah hatinya. Ingin sekali ia pingsan, tapi tidak bisa. Dua kakinya terasa kian berat saat Henry terus membawanya pergi.


"Aduh!"


"Ada apa, Hen?"


"Aku kayaknya mau pipis, Fir."


"Astaghfirullah, ini di tengah hutan. Jangan tinggalkan aku. Pipisnya ditahan dulu kalau udah sampai tujuan."


"Di sini dingin, pipisnya enggak bisa ditahan. Kamu tunggu di sini aja, ya. Sebentar aja kok."


Ada yang merasa aneh dengan kaki Fira yang tiba-tiba saja gemetaran. Gandengan tangan antara Henry dan Fira terlepas begitu saja. Fira terus memekik nama Henry seraya menangis sejadi-jadinya. Namun sepertinya Henry tidak menghiraukan pekikan Fira. Justru pria itu terus berjalan menuju semak belukar.


Di sisi lain Fira ingin menyusul Henry. Lagi, anehnya kaki wanita ini berdiri kaku, tidak dapat berjalan. Di tengah hutan tanpa cahaya karena senter dibawa oleh Henry. Fira kian kalut dan jantungnya berpacu dengan kencang.


Saat Fira ingin berdzikir kepada Allah, justru sukar diucapkan. Karena saat itu juga tenggorokannya seperti dicekik oleh sesuatu. Namun jika Fira mengatakan kalimat lain, selain asma Allah, Fira bisa mengucapkannya.


"Kenapa aku enggak bisa berdzikir? Ya Allah, tolong aku. Ada apa semua ini? Ke mana Henry pergi? Aku takut, sangat takut. Mataku tidak dapat melihat saat kegelapan ini," keluh Fira. Tangisnya semakin menyesakkan dada.


Lama kelamaan, bukan hanya kakinya yang berdiri kaku, tapi rasa kaku itu menjulur ke seluruh tubuh. Malam ini Fira seperti diikat dengan tali yang sangat erat. Padahal tidak ada alat yang mengikat tubuh Fira. Namun Fira merasakan tubuhnya tidak dapat bergerak.


"Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah, berilah aku energi supaya terlepas dari jeratan aneh ini. Laa ilaaha illallaah. Laa ilaaha anta subhanka inni kuntu minanzh zhaalimin."

__ADS_1


Fira terus menerus membatin seperti itu. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah berdzikir kepada Allah dalam hati. Karena semakin ke sini, lanjut pada tenggorokan dan lidahnya yang kian sulit berucap.


"Henry, kamu ke mana? Kenapa jadi aneh begini? Henry, please, help me. Cepat kembali. Aku takut. Aku enggak bisa ngomong. Tubuhku kaku seperti diikat. Kakiku seperti dicengkeram sesuatu." Fira hanya mampu bergumam dan menangis. Wajah ayunya kini tampak pucat pasi dan berlinang air mata.


"Allahu Akbar. Laa ilaaha illallaah, Muhammadar Rasullullah. Laa ilaaha anta subhanka inni kuntu minanzh zhaalimin."


Berulang kali Fira mengucapkan dzikir dalam hati. Kekuatan dzikir benar adanya, saat itu juga datang pertolongan Allah. Kini tubuh dan kakinya tak lagi kaku. Napasnya lega meski terengah-engah Fira lekas berlari untuk mencari Henry.


"Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah. Sekarang aku mau cari suamiku."


Dengan minim penglihatan, tapi Fira bisa melihat sekitar dari balik kacamata. Wanita berjilbab hitam ini celingak-celinguk mencari suami tercinta yang tidak ada tanda-tanda kembali. Kian berderai air mata yang membasahi pipi Fira. Seakan napasnya hilang setengah, cintanya lenyap tanpa jejak. Namun ia tetap berusaha keras mencari cintanya.


Tibalah Fira di sebuah danau kecil, pupil mata itu membulat sempurna saat melihat punggung sosok misterius. Sesak napasnya ketika menoleh ke arah air danau yang berwarna merah. Firasatnya tajam tidak karuan, seakan terjadi sesuatu buruk terhadap Henry.


Lebih mengejutkannya lagi, sosok misterius yang membelakangi Fira, tangan kirinya sedang memegang pisau. Ujung pisau itu sangat tajam. Terlihat seluruh pisau itu bersimbah darah hingga tetesan darah menetes di atas tanah. Sayangnya, sosok misterius itu tidak menoleh ke arah Fira.


"Ka-kamu si-siapa? Apa kamu tahu keberadaan suamiku?" tanya Fira dengan tergugu-gugu.


"Tidakkah kamu melihat danau ini warnanya merah segar? Aku tahu kamu melihatku membawa pisau dan jawabannya di sini," jawab sosok misterius bersuara berat nan mengerikan.


"Enggak mungkin, enggak mungkin Henry. Kamu berbohong kepadaku!" gertak Fira.


"Cintamu telah hanyut dalam dendam dan kebencian. Terima saja takdir buruk ini."


"Dasar iblis! Berani-beraninya membunuh suamiku!" bentak Fira.


"Beri ucapan selamat tinggal untuk kekasihmu yang ditelan air mematikan ini."


Sosok misterius itu pergi tanpa merasa berdosa. Fira bingung antara ingin mengejar sosok itu atau mencari jejak Henry. Benar saja, danau itu bersimbah darah segar. Fira memekik hingga menangis terisak-isak. Sontak dua lututnya terkulai lemas. Antara percaya atau tidak jika kekasihnya tenggelam dalam danau itu.


"Jangan tinggalkan aku, Henry! Enggak mungkin! Kamu enggak mungkin meninggalkan aku! Henry, kembalilah!" Teriakan Fira membuat Henry terbangun dari tidurnya.


Henry terperanjat dari tempat tidur kemudian bergegas menyalakan lampu kamar. Ia melihat Fira berteriak dengan mata terpejam. Pria berkaos oranye ini peka terhadap Fira yang sedang mimpi buruk. Henry cepat-cepat mengguncang kedua bahu Fira supaya terbangun dari tidur.


"Fira, ada apa? Kamu mimpi buruk, ya? Aku di sini. Tidur di samping kamu," ucap Henry bersuara lantang.


Dua mata itu sontak terbelalak hingga tubuh Fira duduk tegap. Matanya memerah. Tubuh ramping itu gemetaran ketakutan. Napas Fira tidak henti-hentinya memburu. Sementara Henry sigap menyentuh kening Fira yang hangat. Henry lantas menggenggam tangan Fira juga hangat. Dipeluknya istri tercinta supaya dapat meredakan kegelisahannya.


"Kamu mimpi buruk, ya, sayang?" lirih Henry.


"Ya Allah, astaghfirullah, cuma mimpi, ya? Henry, aku enggak mau kehilanganmu. Aku takut sama mimpi itu, Henry. Jangan jauh-jauh dariku," ucap Fira hingga tumpahan air mata membasahi bahu Henry.


Dibelainya jilbab yang dikenakan Fira. "Aku enggak akan jauh darimu, sayang. Sekarang kamu berdoa, ya, supaya Allah selalu menjaga kita dan keluarga."


"Henry, aku sulit untuk tidur. Aku ingin terus dipelukanmu. Aku mencintaimu, Henry."


"Tenangkan dirimu, sayang. Aku tetap bersamamu. Aku juga selalu mencintaimu, Fira, istriku." Dikecupnya kening Fira penuh cinta.


"Aku takut mimpi itu adalah firasat. Ya Allah, lindungilah keluarga kami. Jauhkanlah kami dari marabahaya," batin Fira. Ia berusaha mengatur napasnya supaya tenang.


Sama halnya Henry yang memiliki firasat. Seakan-akan hati dua sejoli ini saling terhubung bagai aliran listrik. Henry jadi ikut tidak tenang saat memeluk istrinya.


"Fira mimpi apa, ya? Sampai-sampai dia takut kalau aku meninggalkannya. Ya Allah, jagalah keluarga kami. Semoga kedepannya tidak terjadi sesuatu yang buruk." Henry bergumam sambil mengelus-elus punggung Fira.

__ADS_1


Di flat apartemen mewah ini, pasangan suami-istri itu tidak bisa tidur. Untuk meredakan kegundahan hati Fira, Henry mengajak sang istri untuk membaca Al-Qur'an. Pada saat itu juga waktu menunjukkan pukul dua dini hari, waktu Kanada. Waktu yang tepat untuk keduanya mendirikan salat tahajud bersama.


__ADS_2