
Jam digital di nakas menunjukkan pukul satu dini hari. Waktu yang tepat untuk salat tahajud dan berdoa di keheningan malam. Dimana insan lain sedang terbuai dalam mimpi, tapi masih ada insan bangun untuk menciptakan ruang rindu antara seorang hamba dengan Rabbnya.
Sedari Fira bangun hingga usai mandi tidak menemukan Henry di kamar dan ruang keluarga. Wanita itu menata jilbab yang kurang rapi di depan cermin rias. Meskipun bangun pada dini hari, aura wajah tampak cerah, natural tanpa riasan.
Senyumnya yang semringah adalah senyum yang membuat Henry selalu membangun cinta. Wajah kuning langsat itu lantas berpaling dari cermin. Dinginnya jam satu malam, membuat Fira harus memakai sendal di dalam rumah.
"Waktunya salat tahajud, tapi Henry ke mana, ya? Semoga Henry sedang di masjid," ucapnya.
Suara merdu yang tengah melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an itu terdengar sejuk di indera pendengaran Fira. Berdebar-debar pula relung hatinya. Wanita berdaster batik itu berjalan sepanjang koridor hingga ke mushola yang berada di belakang rumah.
Langkah Fira sontak terhenti saat di depan mushola. Mata bulatnya mulai berkaca-kaca melihat suami tercinta sedang melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Masyaallah, Henry," lirih Fira.
Fira memasuki mushola dengan mendahulukan kaki kanan. Kala di dalam mushola yang indah, Fira duduk bersimpuh di belakang Henry. Dirinya hanyut dalam lantunan ayat suci Al-Qur'an yang keluar dari lisan Henry. Dari relung hati yang terdalam, ada antusias untuk beribadah dengan suaminya itu.
"Perasaan yang tertulis darimu membuatku terbawa perasaan. Lantunan suaramu melafalkan Al-Qur'an membuatku kian mencintaimu karena Allah," ungkap Fira. Justru ungkapan Fira barusan lantas membuat Henry menjeda bacaan Al-Qur'an.
Henry berbalik badan menghadap ke Fira. Pria itu gagah nan rupawan berbalut jubah putih dan sarung. Ditambah lagi peci yang tersemat di kepala Henry. Fira terpukau melihat aura berwibawa dari sosok pria di hadapannya. Di keheningan malam ini, hanya Fira yang berhak memandangi Henry. Pandangan seorang istri penuh cinta kepada sosok suaminya akan menjadi pahala baginya.
"Kamu sudah bangun, ya. Tadinya, aku mau bangunin kamu, tapi enggak tega kayaknya kamu kelelahan," ucap Henry.
Fira menatap Henry dengan saksama. "Henry, bimbing aku yang punya kekurangan ini supaya semakin dekat dengan Allah. Aku tulang rusukmu yang mudah bengkok. Aku percaya padamu, kamu imam keluarga yang dikirim Allah untuk mengajakku dan anak-anak ke jalan Allah."
"Sebelum dan saat aku menikahimu, aku punya tekad membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah. Tentunya, bahagia jika memiliki istri dan anak-anak yang semangat dalam agama. InsyaAllah, aku terus memperbaiki diri supaya dapat membimbing istri dan anak-anakku ini," ungkap Henry.
Fira menarik napas yang panjang kemudian diembuskan, berusaha menahan tangis dan haru. Wanita berparas ayu itumerasakan getaran cinta untuk Henry. Melihat mata istrinya berkaca-kaca, Henry hendak menyentuh pipi Fira. Namun Henry mampu menahan hasrat untuk menyentuh Fira, mengalihkannya dengan menggaruk tengkuknya.
"Sekarang, kita salat tahajud dan witir bersama, yuk. Kalau ngobrol terus, khawatir aku menyentuhmu, nanti aku jadi wudu lagi, hehehe," kata Henry.
"Yuk, setelah itu kita mengaji, berdzikir dan berdoa, ya," ujar Fira.
"Setelah itu?" goda Henry.
Fira mengetuk bibirnya dengan jari telunjuk. "Ya, setelah itu, apa, ya? Mau ngemil jajanan di kulkas, hehehe."
"Kemudian?"
"Kemudian, ya, persiapan salat Subuh."
"Kayaknya ada yang terlewatkan deh." Henry cengegesan karena senang menggoda sang istri.
Fira mengernyit penasaran. "Jadi apa yang terlewatkan?"
Henry mengayunkan kedua alisnya. "Yang itu tuh. Ehem, ehem, ehem."
"Kamu ingin ehem lagi?" Fira seketika meloloti Henry.
"Hahaha, pikiranmu ehem terus, ya. Bukan sayang, tapi temani aku nonton pertandingan bola."
Fira kesal tapi juga malu. Ia mengibas mukena yang hendak ia pakai. "Huh, kirain apa? Ya, sudah, kita sekarang salat tahajud dan witir."
Henry mengambil posisi salat menghadap kiblat, kemudian ia melakukan takbiratul ihram dan mulai membaca doa iftitah dengan suara lirih. Fira menjadi makmum seraya mengikuti gerakan imam.
Dua sejoli yang tertulis jodoh itu hanyut dalam kekhusyukan salat tahajud. Dua insan yang begitu khidmat di hadapan Sang Pencipta. Empat mata itu hanya fokus pada sajadah masing-masing.
Salat tahajud hingga salat witir telah dilaksanakan oleh Henry dan Fira. Henry tetap duduk bersimpuh seraya berdzikir kepada Allah dengan jemarinya. Fira turut berdzikir dengan tasbih yang di tangan. Usai lisan sepasang manusia itu mengagungkan Allah hingga merasuk ke dalam hati, menjadikannya tentram.
__ADS_1
Henry menengadahkan tangan seraya berdoa kebaikan, keselamatan dan kebahagiaan dunia maupun akhirat. Fira juga turut menengadahkan tangan sembari mengaminkan doa yang dipanjatkan oleh sang suami. Doa yang disertai keyakinan kepada Allah. Terasa damai bila segala doa sampai kepada Sang Maha Kuasa. Seakan-akan Allah tepat di hadapan dua hamba-Nya ini.
Henry lantas berbalik arah menghadap Fira. Fira beranjak dari duduk dan mengambil sebuah mushaf Al-Qur'an di lemari khusus penyimpanan Al-Qur'an dan kitab lainnya. Sementara Henry mengambil Al-Qur'an yang sudah berada di meja kecil. Fira kembali duduk saling berhadapan dengan Henry.
"Kamu sampai surat mana bacaan Al-Qur'annya?", tanya Henry.
"Aku baca sampai surat At-Taubah," jawab Fira, "kalau kamu?"
"Kalau aku baca sampai surat Yusuf," ucap Henry.
"MasyaAllah, biar suamiku tampan fisik dan hati, ya, hehehe," puji Fira.
Henry seketika jadi salah tingkah. "Bisa saja istriku ini. Nanti aku cubit lagi hidungmu, hehehe."
"Baiklah, kita mulai mengaji sekarang."
"Aku ingin mendengar kamu baca Al-Qur'an," pinta Henry.
Fira jadi malu-malu sendiri. "Oke, kalau aku keliru tajwidnya, tolong dibenarkan, ya."
"Siap, sayangku. Yuk, dimulai ngajinya."
Romantis sesungguhnya saat suami-istri bangun di sepertiga malam. Menunaikan salat tahajud berjamaah. Mendekatkan diri kepada Allah seraya berdzikir. Memanjatkan doa penuh keyakinan hingga melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
***
"Aku kok jadi ngantuk, ya? Habis makan cemilan cukup banyak," ucap Fira sambil menguap. Henry lantas menutup mulut Fira yang tengah menguap itu.
"Kamu tidur di pundakku sini. Soalnya aku nanggung nonton pertandingan bola. Lagi seru juga," ucap Henry sembari menawarkan pundaknya untuk sandaran Fira.
"Untung punya sofa bisa dibentuk kayak kasur. Jadi kakiku bisa selonjoran. Ya sudah, aku tidur duluan, ya, Hen."
Henry dan Fira berada di ruang keluarga. Memang sudah direncanakan setelah mengaji, Fira makan cemilan dan Henry asyik menonton pertandingan bola di layar televisi. Namun mata Fira tak sanggup lagi menahan rasa kantuk. Fira berubah posisi-- tertidur di dua paha Henry yang mengenakan celana selutut saja.
Disela-sela menonton pertandingan bola liga Inggris, Henry menoleh ke Fira. Ia melihat wajah istri tercantik yang tertidur pulas di dua pahanya. Memang benar, jika sudah menikah, bantal ternyaman adalah pundak, paha hingga pelukan pasangan kekasih halal saat tidur.
Henry mengecup kening Fira yang mungkin sudah terbuai dalam mimpi indah. Pria bermata sipit itu kembali menatap layar televisi guna melanjutkan tontonan pertandingan bola liga Inggris.
"Sekarang aku punya istri, enggak sendirian lagi kalau mau nonton pertandingan bola. Untung saja, Fira mau diajak nonton begini. Tapi uniknya, Fira mudah lapar, ya. Buktinya di meja ada banyak cemilan yang Fira makan. Aku salut, badan Fira tetap langsing," ucap Henry sambil memuji sang istri.
"Semoga pesebak bola Song Hyun Min selalu mencetak gol yang membanggakan. Song adalah pesebak bola mewakili Korea Selatan yang hebat. Padahal dulu, aku pernah punya cita-cita jadi pemain sepak bola terkenal. Tapi, jalannya jadi pengusaha. Main bola jadi hobi saja. Ada kebanggaan tersendiri sebagai blasteran Korea," lanjut Henry.
"Aku punya ide untuk menyalurkan hobiku. Apa aku perlu membangun sebuah akademi sepak bola untuk anak-anak dan remaja, ya?" pikir Henry.
Sorotan mata sipitnya terpaku pada layar televisi. Jika perutnya sedang lapar, Henry menikmati aneka cemilan yang tersedia di meja. Lengkap dengan minuman sebotol soda rasa strawberi.
Tidak terasa waktu berlalu, waktu Subuh telah tiba. Tayangan pertandingan bola itu hampir selesai. Kini Henry persiapan untuk salat Subuh berjamaah di masjid komplek perumahan. Henry hati-hati beranjak dari sofa sambil menaruh kepala Fira di bantal. Henry lantas duduk jongkok, mendekatkan bibirnya di telinga Fira.
"Fira, sudah adzan Subuh. Bangun, yuk. Aku mau pergi ke masjid dulu, ya," bisik Henry.
Fira menggeliat seraya sedikit membuka mata. "Subhanallah, waktunya cepat sudah Subuh. Iya, kamu lekas saja ke masjid. InsyaAllah, aku juga mau salat."
"Setelah salat Subuh jangan tidur lagi, ya, hehehe."
"Enggak kok, hehehe."
Fira pelan-pelan merubah posisi jadi duduk di sofa. Ia mengucek mata dengan hati-hati. Henry bergegas ke kamar untuk berganti pakaian muslim. Sementara Fira mengambil sebuah remote untuk mematikan layar televisi.
__ADS_1
***
Jam dinding di ruang makan hampir menunjukkan pukul setengah tujuh. Fira kembali berkutat sebagai ibu rumah tangga, dari memasak hingga menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak. Namun ada yang berbeda dari Fira, kali ini ia sudah rapi dan wangi berbalut gamis cokelat tua. Padahal sebelum menikah, ia apa adanya karena belum mandi jam segini.
Keluarga harmonis itu duduk bersama di kursi ruang makan. Henry menikmati masakan sayur sup ayam yang dibuat oleh Fira. Zayn melahap nasi goreng lengkap dengan ayam goreng kesukaannya. Zema dan Alira sama seperti Henry menyatap nasi beserta sayur dan lauk pauk.
"Sebelum makan, berdoa dulu. Makannya pelan-pelan, ya, anak-anak. Jangan lupa minum susunya," ucap Fira.
"Baik, Mama," ucap tiga anaknya.
"Masakanmu enak juga, ya. Aku jadi betah di rumah karena masakan istri nih," puji Henry.
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Aku masak dengan sepenuh hati supaya suami dan anak-anakku ada energi serta selalu sehat," kata Fira.
"Mama dan istri yang pintar," sanjung Henry.
"Mama minta tolong ambilkan tempe goreng. Alira mau itu," pinta Alira.
"Oke, mau berapa tempe gorengnya?" ucap Fira sambil mengambil sebuah tempe goreng untuk Alira.
"Satu saja, Ma. Terima kasih, Mama," jawab Alira.
"Mama, Zema mau tambah lagi sayur sup," pinta Zema.
Fira cekatan menuang sayur sup dengan sendok sayur ke piring Zema. "Segini cukup?"
"Sudah cukup, Mama. Terima kasih, Mama," kata Zema.
Betapa hangat kebersamaan keluarga itu saat sarapan pagi. Fira merasa senang karena bisa menikmati kembali sebagai ibu rumah tangga. Sebelum menikah dengan Henry, kerap kali Fira disibukkan dengan pekerjaannya. Tidak sempat membuat sarapan pagi untuk anak-anaknya, walaupun ia menyempatkan diri untuk menyiapkan anak-anak agar lekas berangkat ke sekolah.
Fira lahap menyantap nasi dan sayur sup hangat. Seraya menikmati makanannya, Fira terenyuh melihat keluarga lengkap. Pemandangan indah inilah yang dirindukan oleh Fira. Ada rasa kepuasan tersendiri karena suami dan tiga anaknya menyukai masakan buatannya.
"Seperti biasa, Papa dan Mama mengantarkan Kak Zayn, Zema dan Alira ke sekolah. Papa sekalian mau ngecek kantor sama Mama," ucap Henry.
"Zayn senang deh, karena setiap berangkat ke sekolah sekarang diantar sama Papa," ucap Zayn semringah.
"Ini pas Papa ada waktu senggang. Mungkin, kalau Papa kembali sibuk, yang mengantarkan ke sekolah nanti Pak Irwan, supirnya Papa."
"Yaahh, Papa, kalau bisa Papa sempatkan waktu mengantarkan Zayn dan adik-adik ke sekolah."
"InsyaAllah, Papa usahakan, ya. Omong-omong, soal Pak Irwan, belum ada kabarnya, ya, sama Lefia." Henry lantas menoleh ke Fira.
"Lefia sempat WA aku sih. Di sana sulit dapat sinyal. Soalnya tempat Lefia di pedesaan. Aku jadi curiga, jangan-jangan Lefia dan Pak Irwan sudah menikah," ucap Fira.
"Iya, juga, ya. Sepertinya mereka sudah menikah," ucap Henry.
"Kalau mereka sudah menikah, alhamdulilah, ikut senang. Akhirnya punya asisten sekaligus supir pribadi."
"Rumah kita juga cukup untuk mereka kalau sudah menikah. Aku jadi enggak khawatir. Doakan kebaikan dan kebahagiaan saja untuk Lefia dan Pak Irwan."
"InsyaAllah, pasti itu. Oh, iya, Hen, setelah ke kantormu, terus ke mana lagi?"
"Terserah kamu saja."
"Aku mampir ke klinik kecantikan, ya. Sudah beberapa hari enggak ke sana."
"Iya, nanti aku antarkan kamu ke klinikmu."
__ADS_1
Henry dan Fira kembali menyantap sarapan. Mereka sejenak minum air putih hangat di gelas masing-masing.
Waktu terus berjalan. Usai sarapan pagi, Fira berkutat menyiapkan tiga anaknya hendak berangkat ke sekolah. Mulai dari menyiapkan tas, sepatu dan atribut sekolah lainnya. Fira memperlakukan mereka secara adil. Layaknya, ibu pada umumnya menyiapkan anaknya hendak sekolah, Fira merapikan penampilan Zayn, Zema dan Alira yang berseragam hingga dasi sekolah.