
Sekali aku benar-benar jatuh cinta. Namun mengapa jatuh cinta ini mengarah pada gadis yang berbeda keyakinan? Apa ini yang dinamakan perasaan yang salah?
***
Bryan termangu di depan Gereja Cathedral (The Cathedral Church of St. James). Hatinya seolah tersengat listrik. Melihat Anna yang sedang beribadah di dalam gereja, membuatnya harus menerima kenyataan. Benih cinta mulai tumbuh dalam hati. Namun kenyataannya, iman sangat berseberangan.
Kehadiran Bryan di depan gereja, tidak dengan tangan kosong. Tangan kanan itu membawa paper bag besar yang berisi produk kopinya. Jauh-jauh dari Semarang, Bryan ingin memberi produk kopi langsung ke Anna. Walaupun sebenarnya Anna tidak memintanya.
Lonceng gereja berbunyi hingga keluar. Tatapan Bryan fokus pada seorang gadis berambut cokelat terurai. Yang dahulu Bryan sukar tertarik pada perempuan. Seumur hidupnya hanya Anna yang mampu meruntuhkan rasa sukar tertarik pada gadis.
Anna berbalik badan, rambut cokelat itu berkibar ditiup angin. Pesonanya mampu membuat hati Bryan berdecak kagum. Dari kejauhan, Anna sadar diperhatikan oleh Bryan. Sementara adik laki-laki Fira ini salah tingkah. Bryan lantas membalikkan badan.
Tampaknya Anna senang dengan kehadiran Bryan. Di sepanjang koridor gereja ia terus berlari sembari membawa tas dan kitab. Gadis yang berbalut blazer motif kotak cokelat dan putih itu tiba di belakang Bryan.
"Hi, Bryan, what are you doing here?" sapa Anna. (Hai, Bryan, apa yang sedang kamu lakukan di sini?)
Bryan masih membelakangi Anna. Kedua pundaknya naik turun sepertinya napasnya sedang kembang kempis. Karena Bryan tidak kunjung berbalik badan, Anna lantas berdiri dihadapan Bryan.
"Are you okay, Bryan?" tanya Anna. (Apa kamu baik-baik saja, Bryan?)
"Eh, I-I'm okay. I'm here for you. I mean, I brought your favorite coffee product," ucap Bryan. (Eh, A-aku baik-baik saja. Aku di sini untukmu. Maksudku, aku membawa produk kopi kesukaanmu.)
"But, I didn't order coffee products from you. And how do you know I'm in church?" (Tapi, aku tidak memesan produk kopi dari kamu. Dan bagaimana kamu bisa tahu aku ada di gereja?)
"I know you're in the church from your Mama. I had time to stop by your house, hehehe." (Aku tahu kamu di gereja dari mamamu. Aku sempat mampir ke rumahmu, hehehe.)
"Who gave you my address?" (Siapa yang memberi alamatku kepadamu?)
"Henry, hehehe." Bryan menggaruk tengkuk sebab salah tingkah terhadap Anna.
"Is Henry here with you?" (Apa Henry di sini bersamamu?)
"Henry was here because he attended the inauguration of Excellent Advertising Company. He was not alone, there was Kak Fira who accompanied Henry." (Henry di sini karena menghadiri acara peresmian Perusahaan Periklanan Excellent. Dia tidak sendiri, ada Kak Fira yang mendampingi Henry.)
"Oh, yeah, Henry benar-benar bertanggung jawab menangani perusahaan yang sekarang jadi miliknya. Ah, barangkali Papaku ada di sana."
"Dari tadi kenapa ngomong pakai bahasa Indonesia, lidahku pegal," gumam Bryan kemudian berkata, "ya, sepertinya begitu."
Bryan memberikan paper bag besar berisi produk kopi itu kepada Anna. Anna sangat gembira menerima pemberian dari Bryan. Sepasang mata cokelat itu berbinar kala melihat isi paper bag. Setelah itu, langkah keduanya pergi meninggalkan gereja.
Anna mengajak Bryan berjalan kaki. Menikmati musim panas di negara daun maple ini. Entah siapa yang memulai duluan? Keduanya terlihat seru dalam obrolan. Bryan teduh melihat Anna, rindunya seolah terobati karena bertemu dengan Anna. Sementara Anna terus mengoceh tentang kota kelahirannya ini.
__ADS_1
"Jadi kamu benar-benar asli Kanada?" tanya Bryan.
"Ya, benar, aku lahir dan besar di sini. Eh, sorry, bahasanya jadi aku gini," jawab Anna.
"Hehehe, no problem. Aku dan kamu biar semakin akrab," celetuk Bryan.
"Aku fasih berbahasa Indonesia karena di Harvard bertemu dengan teman-teman dari Indonesia. Aku suka orang Indonesia," ungkap Anna.
"Kalau kamu sendiri suka aku enggak, ya?" gumam Bryan.
"Maafkan aku jika merepotkanmu. Sehingga kamu bawa produk kopi untukku."
"Oh, aku tidak merasa direpotkan. Aku justru senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Apa maksudmu?" Anna mengernyit dahi.
Adzan berkumandang itu berasal dari Masjid Toronto @ Adelaide. Bryan lantas menghentikan langkah. Pria ini mendengarkan adzan itu sembari bergumam menjawab lantunan adzan. Langkah Anna juga turut berhenti. Seakan ada tiupan angin yang menyejukkan hati, Anna terkesima melihat Bryan yang sedang memejamkan mata sembari menjawab adzan.
***
Dua insan berbeda negara ini tiba di depan Masjid Toronto @ Adelaide. Bryan terlebih dahulu melepas dua sepatu sebelum masuk ke masjid. Anna tetap berdiri pada tempatnya. Mengingat Bryan yang menyempatkan diri menunggunya di depan gereja, Anna merasa ingin membalas Bryan dengan menunggu pria itu di depan masjid.
"Kamu tidak apa-apa menunggu di sini?" tanya Bryan.
"Tapi, cuacanya cukup terik. Nanti kamu kepanasan."
"Itu tidak masalah bagiku. Pergilah ke dalam masjid, aku tetap di sini."
Bryan mengangguk. Ia bersama jamaah pria lainnya menuju ke tempat wudu khusus pria. Hanya beberapa menit usai wudu, Bryan bergegas masuk ke dalam masjid. Anna melihat Bryan dari jauh, pria itu menyibakkan rambut sehingga terlihat menawan. Ditambah sisa air wudu yang menetes dari rambut hingga wajahnya. Anna sesekali berkedip, tanpa disadari ia terpukau akan pesona Bryan.
Seraya menunggu sang imam masjid mendirikan salat, Bryan duduk bersila sembari berdzikir kepada Allah menggunakan jemari. Sudah ada beberapa muslim dan muslimah yang berada di dalam masjid untuk menunaikan salat Dzuhur berjamaah. Jamaah di sana tidak hanya dari orang setempat, ada pula yang hadir dari negara lain.
Tatkala Bryan hanyut dalam mengagungkan kebesaran Allah, seorang pemuda yang bekerja di restoran Turki itu menepuk pundak Bryan. Bryan sontak terkesiap dengan tepukan di pundaknya. Bryan menoleh tajam ke pemuda itu. Justru pemuda itu menebar senyum padanya. Sungguh Bryan masih kesal dengan sikap pemuda di sampingnya yang sok asyik ini.
"Masnya yang kemarin sama teman-temannya di restoran itu, ya?" tanyanya.
"Idih, sok tahu deh. Itu bukan teman-teman saya, tapi Kakak kandung dan ipar saya," jawab Bryan dengan ketus.
"Oh, saya kan enggak tahu."
"Ada apa kamu ke sini? Kamu menguntitku, ya?"
__ADS_1
Dengan tawa menyeringai, tatapan pemuda itu cekung. "Masnya juga sok tahu deh. Saya juga salat di sini dong. By the way, nama Mas siapa?"
"Ngapain tanya nama saya?"
"Buat nambah teman dari Indonesia gitu. Nama saya Lucky Ramansyah, yang imut lagi suka nyanyi."
"Eh-eh, imut itu cukup saya. Kamu itu amit-amit. Oh, yang tadi malam itu kamu dan bandmu yang nyanyi di alun-alun kota."
"Kok tahu sih, Masnya? Ngikutin saya, ya?"
"Dih, enggak banget!"
Bryan menyingkir dari Lucky. Bergegas pindah ke saf salat. Sang muadzin kini mengumandangkan iqamah, pertanda salat akan segera didirikan. Usai iqamah, sang imam masjid memperhatikan saf salat para jamaah pria. Pria separuh baya berjenggot putih itu mengarahkan kepada jamaah pria untuk merapikan saf salat. Saf salat para jamaah pria dan wanita tertata dengan rapi. Imam masjid itu berbalik badan untuk memimpin salat Dzuhur.
Beberapa menit kemudian, para jamaah telah menunaikan salat Dzuhur. Bryan belum beranjak dari duduk. Ia masih khusyu berdzikir kepada Allah. Memohon ampunan kepada Allah sekaligus memuji asma Allah. Dengan berdzikir, hatinya terasa sejuk dan tentram dari kegelisahan.
Usia menunaikan dzikir kepada Allah, Bryan seketika mengingat kembali ucapan Henry, Ratih, terutama Fatih, bapaknya. Petuah dari Fatih cukup menohok di hati Bryan. Bryan menyadari tentu orangtua menginginkan anaknya berjodoh dengan jodoh yang seiman. Bryan bimbang antara bertahan dengan perasaannya yang jatuh cinta pada Anna atau menyudahi perasaan itu hingga lebur?
"Kamu iku wis gede. Nih, rungoke Bapak, tak kandani, orangtua manapun mesti pengen anake berjodoh dengan sing seiman. Kalau beda agama, urusane berat, Bry. Mbok, ya, kamu pikir matang-matang lagi. Ojo ngutamake napsumu, ojo bucin juga. Ingat Gusti Allah," ucap Fatih. (Kamu itu udah dewasa. Nih, dengarkan Bapak, ingin bilang, orangtua manapun pasti ingin anaknya berjodoh dengan yang seiman. Kalau beda agama, urusannya berat, Bry. Mbok, ya, kamu pikir matang-matang lagi. Jangan mengutamakan napsumu, jangan bucin juga. Ingat Gusti Allah.)
"Kalau kamu hanya berteman dengan gadis itu, ya, enggak apa-apa. Tapi, kalau untuk dijadikan pendamping hidup, ya, sebaiknya kamu urungkan niat itu."
Ucapan Fatih terngiang-ngiang di kepala Bryan. Bryan menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskan dengan kasar. Pilu benar hatinya. Jikalau Bryan harus berusaha berpaling dari Anna dengan cara menyukai gadis lain---tentunya muslimah, itu akan sulit. Selama dua puluh enam tahun ini, gadis yang membuatnya tertarik pertama kali adalah Anna.
"Sepertinya aku dan Anna lebih baik berteman. Alangkah baiknya perasaan ini aku simpan saja dalam hati. Anna tidak perlu tahu tentang perasaanku. Kalaupun tahu, untung-untung kalau dia menolakku, ya, meski risikonya aku patah hati. Nah, kalau dia menerima cintaku? Haaahhh, berabe urusannya," ujar Bryan.
"Sekali aku benar-benar jatuh cinta. Namun mengapa jatuh cinta ini mengarah pada gadis yang berbeda keyakinan? Apa ini yang dinamakan perasaan yang salah?" sambungnya.
Bryan keluar dari masjid. Mata bulat dengan biji mata hitam itu terasa sejuk melihat senyuman manis dari Anna. Bryan jadi tidak enak pada Anna yang sudah berkenan menunggunya di depan masjid. Pria berbalut sweater hijau lumut itu bergegas memakai dua sepatu. Dihampirinya segera gadis pujaannya itu.
"Apa kamu lelah?" tanya Bryan.
"Sama sekali tidak. Aku senang melihat kamu dan mereka beribadah di masjid. Terasa sejuk dipandang mata," jawab Anna.
"Musim panas ini membuat tenggorokan kering. Apa kamu mau minum denganku di kafe?"
"Hmm, atau sebaiknya kita minum Coffee Ice di rumahku saja? Bagaimana menurutmu?"
"Aku ikut saja, hehehe."
"Keluargku akan senang jika mereka bertemu dengan owner Coffee Shop sepertimu. Oke, sekarang kita cari taksi dulu."
__ADS_1
"Bertemu denganmu sudah cukup membuatku bahagia. Aku bisa sedekat ini padamu, tapi sepertinya tidak dengan hatiku untuk menyatu dengan hatimu." Bryan bergumam pilu. Mata Bryan yang sayu, untung saja Anna tidak melihatnya. Anna celingukan mencari keberadaan taksi di jalanan.