
Di tengah keramaian pengunjung kafe di Mal Kota Semarang. Henry dan Fira sedang asyik makan siap saji yang lezat. Sepasang suami istri itu lelah setelah berbelanja. Buktinya, ada banyak kantong kertas berjejer di bawah meja.
Sepasang kekasih halal itu hidupnya tidak lepas dari namanya kopi. Seperti dahulu-- waktu di Singapura, Henry pernah mengajak Fira di sebuah kafe untuk minum kopi berdua. Sekarang pun begitu, dengan keadaan keduanya sudah menikah. Di meja tersaji kopi dalgona dan kopi arabika hitam.
"Kita kayaknya udah kebanyakan belanja," ucap Fira.
"Menurutku belanjanya masih kurang," ucap Henry.
"Kurang bagaimana? Itu belanja bulanan cukup, belanja kamu dan anak-anak juga cukup."
"Belanja buat kamu?" tanya Henry.
"Ada tuh, di paper bag kecil," jawab Fira sembari melirik ke kantong kertas kecil.
Henry celingukan untuk melihat barang belanjaan Fira. "Mana? Dari tadi aku lihat kamu beli sabun mandi dan sampo saja."
Sembari mengunyah kentang goreng, Fira berkata, "aku bingung mau belanja apa buat diri sendiri. Gini, ya, Hen, kalau perempuan sudah punya suami dan anak, suami dan anak-anaklah yang didahulukan. Jadi, kalau mau belanja untuk aku sendiri sampai bingung. Akhirnya mikirnya-- ya sudah, aku gampang belakangan."
"Make up atau skincare gitu?"
"Aku sudah punya produk kecantikan Firannsa. Tidak pindah ke lain hati, kayak aku ke kamu gitu, hehehe."
"Oh, sudah pinter gombalin suami, ya, sekarang."
"Yang ngajarin gombal juga kamu, hehehe."
Henry menyeruput kopi hitam hangat dan berucap, "kamu beli baju, hijab atau apa gitu yang kamu sukai."
"Emm, baju dan jilbab banyak dari endorse dan pas aku jadi brand ambassador. Semuanya masih bagus-bagus. Alhamdulillah, aku sudah merasa cukup," pikir Fira lantas meminum es kopi dalgona.
"Tapi, kalau kamu ingin sesuatu tinggal beli aja, ya. Masa nafkah dariku nanti enggak dibelikan apa-apa?" Henry seketika menggenggam tangan Fira penuh kasih sayang.
Fira mengangguk-angguk seraya tersenyum. "InsyaAllah, aku manfaatkan sebaik-baiknya nafkah dari suamiku."
Tangan Fira dan Henry saling bercengkrama. Dua pasang mata yang tengah kasmaran itu menatap lekat-lekat. Senyum manis yang terukir di bibir Fira membuat hati Henry berdebar-debar, hal yang disukai oleh Henry.
"Untuk kali ini, jangan ada yang menghindariku," ucap Rafi di antara kemesraan pasangan suami-istri tersebut.
Henry yang sudah merasa geram, beranjak dari kursi. Tatapannya sinis terhadap Rafi. Namun lain hal dengan Rafi justru terlihat santai. Seakan-akan tidak ada salah dan masalah.
"Harus gimana lagi supaya kamu tidak menganggu rumah tangga kami, hah?" hardik Henry. Giginya hingga bergetar karena geram dengan Rafi yang mengganggu hubungan Henry dan Fira.
"Aku hanya mau ngobrol sama Fira, sekali saja. Salahnya di mana?" dalih Rafi.
"Ya, salah! Sekarang Fira sudah jadi istriku, kalau kamu ngobrol sama Fira, harus ada aku," tegas Henry.
"Aku enggak akan berhenti ikutin kalian sampai Fira ngomong sendiri ke aku," kata Rafi.
Rafi seperti tidak mau mengalah pada Henry. Pria bermata bulat itu tetap bersikeras untuk mengobrol dengan Fira. Di sisi lain, Fira menghela napas. Sungguh berat rasanya, jika ia mengobrol kembali dengan Rafi. Fira beranjak dari kursi kemudian menatap tajam pada Rafi.
"Untuk sekali dan kelarin sekarang juga!" tegas Fira.
"Iya, pasti itu," ucap Rafi.
Henry mengernyit keheranan. "Eh Fir, kok kamu?"
Fira menarik lengan Henry, membawa suaminya itu di kejauhan dari Rafi. Sementara Henry menatap Fira dengan keheranan dan tanda tanya. Fira menggenggam tangan Henry penuh kehangatan, meyakinkan sang suami supaya percaya padanya.
"Kalau Rafi enggak dengerin kamu. Barangkali setelah dengerin aku ini, dia enggak ganggu kita lagi. Izinkan aku bicara pada Rafi untuk sekali ini saja. Kamu percaya sama aku 'kan?" ucap Fira.
"Aku cemburu kalau kamu sama Rafi, itu sudah dari dulu. Waktu kita masih di Singapura juga," ujar Henry.
"Oke, kalau kamu ingin dengar obrolan aku sama Rafi. Kamu ikuti saja dari belakang. Gimana?" usul Fira.
__ADS_1
Henry mengembuskan napas sambil tersenyum. "Iya, aku percaya sama kamu."
"Terima kasih, Henry."
"Aku cinta kamu, Fira."
"Aku juga cinta kamu, Henry."
Fira melepaskan genggaman tangan pada Henry. Entah kenapa Henry merasa berat untuk melepaskan kekasih halalnya? Walau Fira sekadar mengobrol dengan Rafi. Henry merasa ada sesuatu yang tidak nyaman dan terbakar api cemburu.
Di sisi lain, Rafi tersenyum semringah, seolah hatinya sedang menang dan bahagia karena Fira mau mengobrol dengannya. Fira berjalan menghampiri Rafi dan disambut dengan suka cita. Walaupun Fira berpaling muka dari Rafi, tapi pria itu tidak peduli, yang penting bisa mengobrol dengan sahabat kecilnya itu.
***
Rafi dan Fira berada di Restoran Jepang, masih di dalam Mal Kota Semarang. Dua insan yang pernah bersahabat itu duduk berlawanan arah. Di sisi lain, Henry selalu mengikuti sang istri dari belakang. Namun Rafi tidak tahu bahwa sedang diikuti oleh Henry, karena posisi Henry membelakangi dan di belakang Rafi.
Rafi menyebutkan pesanan makanan dan minuman kepada seorang pelayan restoran. Sedangkan Fira memilih terdiam. Rafi berusaha menawarkan makanan dan minuman untuk Fira. Fira lagi-lagi menolak secara halus dengan alasan kekenyangan. Pelayan restoran itu lantas pergi untuk mengantar daftar pesanan ke dapur.
"Kamu mau ngobrol apa sama aku?" tanya Fira sambil mengangkat satu alis.
"Aku punya kanal U-Tube dengan acara ngobar-- ngobrol bareng Rafi. Perdana loh ini. Nah, sebagai seorang pertama atau bintang tamu spesialnya itu kamu. Apa kamu mau?" jawab Rafi kemudian memperlihatkan foto ruangan ngobar di akun Enstagramnya kepada Fira.
"Bukannya ngobrol gini sudah cukup, ya? Ngapain pakai disiarkan langsung ke U-Tube kamu segala?" Fira tidak peduli meski ditunjukkan ruang siaran U-Tube Rafi.
"Ya, di sana kita bisa ngobrol masa kecil kita atau apalah yang menginspirasi. Atau sharing tentang kesuksesan kamu sekarang," jelas Rafi.
"Loh, ngobrol di sini juga bisa?"
"Maksudku, biar bisa menginspirasi semua orang gitu, Fir."
"Aku mau tapi sama Henry juga. Henry juga seorang yang bisa menginspirasi dan sukses. Dia pemilik Excellent Entertainment yang menaungi idol K-pop dan aktor-aktris di Seoul. Terus, pernah menempuh pendidikan di Hervard Amerika."
"Tapi, aku inginnya kamu saja, Fir."
"Ini kanal U-Tube aku, ya, hakku mau mengundang siapa?"
"Aku juga punya hak memutuskan sesuatu. Apalagi aku sudah bersuami."
Obrolan dua manusia itu justru menimbulkan perdebatan. Rafi kesal saat Fira terus-terusan menyebut nama Henry. Ia mengepal erat tangan karena geram menghadapi Fira. Wajah ayu Fira lantas melengos tanpa mempedulikan Rafi. Dewasa ini, sepertinya antara Rafi dan Fira sudah tidak seasyik dulu.
"Sudahlah. Enggak usah pakai obrolan melalui siaran U-Tube kamu. Aku juga mau kelarin sekarang!" tegas Fira.
"Kenapa kamu sekarang jadi galak gini sama aku? Aku ini sahabat kecilmu," ucap Rafi.
"Sahabat? Bukannya waktu di Malaysia kamu memutuskan persahabatan kita? Kok kamu jadi plin-plan gini."
"Dulu, aku sedang marah besar sama kamu. Aku asal mengucap saja. Tapi, semenjak kamu mengalami kecelakaan maut, aku jadi menyesal. Aku takut kehilanganmu. Kita ini sudah kenal lama, janganlah jadi orang asing seperti ini."
Fira pelan-pelan memberanikan diri melirik Rafi. Wajah pria yang semakin di makan usia-- kini sudah tumbuh berewok. Sudah tampak sedikit kerutan di sudut mata Rafi. Wajah Rafi tidak sesegar pada saat usia muda dulu. Usia Rafi dan Fira sama yakni tiga puluh tahun.
"Terus kenapa kamu ada di Semarang?" tanya Fira.
"Aku punya usaha distro baju di Kanada. Cabangnya sudah ada di kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Batam dan Semarang. Kadang sesukaku atau sesuai agenda untukmengecek kinerja karyawan di setiap distro," jawab Rafi.
"Aku punya ide supaya ngobar di kanal U-Tube kamu jadi trending topik," pikir Fira.
Rafi berbinar-binar. "Kamu mau jadi bintang tamunya?"
"Oh, bukan aku, lebih tepatnya siapa itu? Aku pernah baca komentar followers EG kamu kalau Bang Rafi itu cocoknya sama selebgram Indonesia yang kuliah di Kanada. Nah itu sama dia saja, pasti bakal jadi the best couple. Aku dukung kalian!"
"Dia namanya Lena."
"Nah, sama dia saja. Rafi cakep dan Lena cantik. Kalian sama-sama single. Ngobrol dari basa-basi ke masa depan nanti jadi turun hati. Pas kan?"
__ADS_1
"Tapi, Fir ..."
"Sudahlah, Raf. Aku sudah menikah dengan Henry. Tolong jaga jarak denganku. Lebih baik kamu mencari masa depanmu sendiri. Aku yakin kamu bisa menemukan jodoh yang sholihah. Mohon maaf, aku pamit."
"Fira, tunggu!"
Fira bergegas pergi dari sana. Rafi tidak mencegah kepergian Fira karena tertahan oleh pesanan makanan dan minuman tadi. Rafi terkejut Fira sudah tahu jika ia memang tengah dekat dengan seorang gadis. Jika dilihat dari sikap Fira barusan, Rafi jadi berpikir Fira benar-benar tidak peduli padanya lagi.
***
Henry sudah menanti Fira di depan Restoran Jepang. Fira menyambut suaminya dengan senyuman manis. Henry dibuat gemas setiap kali Fira tersenyum. Pria bermata sipit itu mencubit pipi istrinya yang kenyal. Mata Fira merasa segar kembali saat melihat wajah oriental suaminya.
Sadar dilihat Rafi dari dalam restoran itu, Henry menatap sinis ke Rafi. Dari kejauhan sana, Rafi memasang wajah muram melihat kemesraan Fira dan Henry. Pria berdarah campuran Korea Jawa itu punya inisiatif untuk memanaskan hati Rafi.
Fira yang masih berhadapan dengan Henry seketika menyentuh dagu Fira dengan tangan kanan Henry. Fira tidak menaruh curiga pada Henry yang melakukan hal itu, mengira hanya iseng. Tanpa disangka-sangka dagu Fira ditarik oleh Henry. Kini bibir Henry dan Fira saling bersentuhan. Fira sontak terbelalak. Namun Henry lantas memeluk erat Fira sembari mengulum bibir Fira.
Kejadian mendebarkan itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat di sana. Begitu juga dengan orang yang berada di dalam restoran. Terutama Rafi sontak mengentakkan meja karena menyaksikan adegan mesra Fira dan Henry. Henry persetan dengan sekitar dan merasa puas jika hati Rafi telah terbakar cemburu.
Karena merasa malu, Fira mendorong Henry lantas tegur, "kamu apa-apaan sih? Ciuman bibir di depan umum. Malu banget ini!"
"Aku minta maaf. Sebaiknya kita lekas pulang ke rumah, yuk," ajak Henry sembari menggandeng istri tercinta.
Fira membawa kantong belanjaan dengan perasaan malu dan kesal. Henry juga menenteng kantong belanjaan supaya meringankan bawaan Fira. Pertama kali, Henry melakukan adegan mesra dengan Fira di tempat umum. Sementara sorotan orang-orang masih tertuju pada pasangan suami-istri itu. Fira hanya bisa menunduk malu. Berharap, semoga tidak ada seorangpun yang memotret peristiwa memalukan itu.
Mengerti akan perasaan sang istri, Henry merangkul Fira. Rangkulan sang suami cukup meredakan rasa malu Fira. Namun wanita itu tetap berjalan sambil menundukkan kepala. Sementara Henry berjalan santai sambil menuntun istrinya menuju keluar dari mal.
Ketika di dalam mobil Fira masih menggerutu kesal. Henry meraih tangan Fira lantas diciuminya. Namun Fira tidak melihat suaminya karena sangat sebal.
"Maafkan aku, ya, sayang. Aku lancang cium bibirmu di depan umum," ucap Henry.
"Suami-istri itu sudah ada tempat untuk bercumbu, yaitu di kamar bukan di mal. Aku jadi malu kalau datang ke mal ini lagi," gerutu Fira.
"Jujur, aku melakukan itu karena aku cemburu kalau kamu sama Rafi. Ya, sekalian manasin hati Rafi."
"Ya, enggak gitu juga, Henry. Justru ini mempermalukan kita."
"Kamu masih marah, ya? Maafkan aku, ya, sayang. InsyaAllah, kita ulangi lagi nanti di kamar."
"Ih, apaan sih?" Fira bergidik ngeri dan mulai terkekeh-kekeh.
Henry mencubit manja pipi Fira. "Nah, gitu dong ketawa. Aku jadi gemas lihat kamu."
"Sudahlah, sekarang kita jalan. Aku ingin jajan tahu petis. Yuk, beli tahu petis di pinggir Simpang Lima."
"Yaaahh, nanti bibirmu rasa petis dong."
"Ya, biarin, hahaha."
Henry mulai menyalakan kemudi mobil dan Fira menyalakan pendingin udara mobil supaya rasa gerah tadi menjadi sejuk. Ia menekan tombol on di radio mobil dan mengaktifkan bluetooth supaya bisa terhubung dengan ponsel. Lagu yang sedang diputar ini adalah hingga tua bersama yang dinyanyikan oleh Rizky Febian.
Seraya mengendalikan setir mobil, Henry juga memainkan ponsel sambil berselancar di Eogle Maps guna mencari lokasi warung yang menjual tahu petis. Koneksi internet di ponsel cepat, sehingga terlihat jelas lokasi warung tahu petis khas Semarang.
"Oalah Fir, warung yang ada tahu petisnya itu buka jam tiga sore nanti. Ini loh masih sekitar Simpang Lima juga," ucap Henry sembari menyodorkan ponsel kepada Fira.
"Ya sudah deh, nanti sore saja ke sananya. Aku mau tidur dulu. Setelah itu jemput anak-anak ke sekolah," ucap Fira.
"Aku juga mau tidur manja sama kamu, hehehe."
"Tapi, aku masih halangan, Henry."
"Ya, enggak apa-apa, kita sekadar ciuman dan pelukan." Henry genit sambil mengedipkan mata kepada sang istri.
"Henry genit, ya, hahaha."
__ADS_1
Fira malu-malu kucing sambil mencubit pipi Henry. Dua sejoli itu kembali mesra dan bersenda gurau di sepanjang perjalanan. Mobil Henry sempat melewati Simpang Lima hingga menyusuri jalan raya Kota Semarang.