
Fira mengedarkan pandang ke seisi studio foto. Ada banyak foto-foto yang terpajang di dinding. Ada pula yang terpajang di banyak pigura yang ditaruh meja. Mulai dari foto bersama keluarga, kerabat dan kebanyakan bersama pasangan atau yang lebih dikenal dengan couple relationship. Suasananya pun terkesan klasik dan berkelas.
Seorang pria berkaos hitam duduk di sofa, mengamati Fira dan Henry yang sedang asyik melihat pajangan foto-foto. Kaki kanannya berada di atas kaki kiri. Namun hidung hingga dagu pria itu berbalut masker hitam. Ada kacamata hitam yang bertengger di dua matanya. Setiap inci langkah Fira lantas ditiliknya.
"Tu as été avec lui. Je suis triste sans toi," lirihnya dalam bahasa Prancis. Yang artinya kamu telah bersamanya, aku sedih tanpamu.
"Mau sampai kapan kamu lihat pajangan foto?" tanya Henry.
Fira cengengesan sembari mengangguk-angguk dan menjawab, "Ya, udah, kita langsung bikin pas foto, yuk."
"Aku sama Jae Young duduk di sofa aja," ucap Naomi.
"Kebetulan aku ngantuk, sambil nunggu Henry dan Fira foto. Aku bisa tidur di sofa," kata Jae Young.
Naomi geleng-geleng kepala. Henry dan Fira tertawa melihat tingkah Jae Young. Pasangan calon suami-istri itu lantas meninggalkan Naomi dan Jae Young.
Jae Young perlahan merebahkan diri di sofa. Ia tidak peduli jika ada seorang pria duduk di sofa sebelahnya. Sementara Naomi duduk di sofa berlawanan arah dengan Jae Young. Posisinya punggung Naomi dan Jae Young saling berhadapan. Jae Young perlahan mulai memejamkan mata sipit.
Pria yang memakai kaos, masker dan kacamata hitam itu masih betah duduk di sofa seraya membaca sebuah majalah popular. Naomi justru asyik melihat layar gawai yang terpajang pakaian branded di aplikasi belanja daring, yakni Zhapie. Lain halnya dengan Jae Young sepanjang tidur, justru dengkurannya semakin nyaring.
Pria yang tengah membaca majalah popular itu agak terganggu dengan dengkuran Jae Young. Ingin menegur Jae Young tapi ia enggan berdebat dengan Jae Young. Mengingat di tempat ini lumayan banyak dikunjungi orang.
Pada saat pria itu menghela napas, tiba-tiba ada suara kentut yang berasal dari ****** Jae Young. Suara kentut itu sangat nyaring sehingga orang-orang di sekitar jadi terkejut. Naomi juga ikut terkejut.
Suara kentut Jae Young yang nyaring itu menimbulkan bau tidak sedap hingga menusuk indera penciuman pria itu. Meski sudah memakai masker hitam, pria itu merasa mual dan tersiksa, yang akhirnya bergegas meninggalkan sofa itu. Naomi yang juga mendengar suara kentut Jae Young itu langsung mengapit hidung dengan dua jari. Naomi dengan kasar menggoyangkan punggung Jae Young.
"Hai, kau! Bangun-bangun. Bikin malu saja!" hardik Naomi.
"Apa sih? Ganggu aku lagi enak mimpi aja. Aku capek banget ini!" keluh Jae Young sejenak menguap.
"Kau kentut di tempat umum. Baunya busuk sekali!"
"Apa?" Jae Young sontak berteriak, kemudian duduk tegap. Ia menatap sekitar sedang memperhatikannya. Jae Young bingung harus menaruh muka dimana. Ia justru memilih menyembunyikan wajah di balik punggung Naomi.
"Mas itu ganteng sih, tapi dia bisa kentut juga, ya."
"Padahal aku sempat kagum melihatnya. Tapi, setelah mendengar dengkuran dan kentutnya, aura kegantengannya jadi berkurang."
"Hei, Oppa itu juga manusia biasa seperti kita. Sudah pasti bisa kentut, aku jadi pengen tertawa. Tapi, nanti jadi tidak sopan."
"Aku jadi ingat salah satu aktor Korea yang kebablasan kentut di tempat umum. Menurutku itu manis."
"Baru kali ini aku melihatnya. Dia tampan seperti aktor Korea, tapi kentutnya tadi membuatku geli dan ingin tertawa."
Begitu desas-desus mereka yang tengah membicarakan Jae Young. Naomi terdiam sembari menahan malu karena perbuatan Jae Young kentut di studio foto ini. Jae Young justru masih berlindung di balik punggung Naomi. Mata sipitnya yang tadi mengantuk, kini tidak bisa merasakan kantuk lagi.
"Kau minta maaf pada mereka karena perbuatanmu tadi," bisik Naomi.
__ADS_1
"Kentut itu perbuatan yang enggak disengaja. Aku sedang tidur, enggak sadar kemudian spontan kentut. Itu enggak salah, bukan?" bantah Jae Young.
"Salah kalau kentut di depan banyak orang!" tegur Naomi.
"Aku malu, Naomi."
"Minta maaf juga enggak akan membuatmu hina. Kau malu malah lebih dari pecundang!"
"Baiklah, lagi pula aku gentleman."
"Buktikan!"
Jae Young beranjak dari sofa. Tubuh atletisnya itu berdiri tegap di hadapan orang-orang. Mau tak mau ia harus menahan malu atas perbuatannya. Orang-orang di sekitar justru diam dan heran melihat Jae Young. Ia membungkuk sebagai pertanda maaf kepada mereka, kemudian kembali berdiri tegap.
"Annyeong haseyo, saya Jae minta maaf kepada kalian, karena perbuatan saya yang membuat kalian terganggu," ucap Jae Young sembari tersenyum.
"Enggak masalah, Mas."
"Saya baru melihat Anda. Apa Anda asli orang sini atau Korea?"
"Apa Anda seorang artis, Mas?"
Permintaan maaf Jae Young justru mengundang keingintahuan sebagian dari mereka. Jae Young tersipu malu sambil menggaruk tengkuk.
"Saya seorang manusia, bukan seorang artis dan hanya orang biasa saja, hehehe," dalih Jae Young.
"Ah, masa orang ganteng kayak Masnya orang biasa saja," ucap seorang ibu yang dandanannya cukup nyentrik.
Pria berambut tegak di atas ini lantas duduk di samping Naomi. Jae Young menyandarkan punggungnya di sofa. Sejenak ia mengembuskan napas kemudian memijat kening.
"Alhamdulillah, kalau Jae Young bisa menjaga privasi," gumam Naomi.
"Sepertinya kita segera beranjak dari sini. Ternyata masih ada orang yang belum tahu kita. Kalau tahu pun bakal heboh dan kacau deh," kata Jae Young.
"Insyaallah, orang yang belum tahu kita, selama kita bisa menjaga privasi tersebut." Naomi kembali fokus pada layar gawai.
***
Adzan Dzuhur telah berkumandang di Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Henry yang membonceng Jae Young itu memasuki halaman masjid. Ia menghentikan motor di tempat parkir. Mobil sedan yang membawa Naomi dan Fira menyusul Henry dari belakang. Naomi menghentikan kemudi mobil di tempat parkir.
Henry dan Jae Young menanti Fira dan Naomi di tangga depan masjid. Tidak butuh waktu lama, Fira dan Naomi menyusul Henry di anak tangga masjid. Namun, ketika Fira hendak membuka kacamata, Henry mengulurkan tangan pertanda mencegah Fira buka kacamata. Henry melirik Jae Young, tetapi Jae Young seketika memalingkan muka kemudian bersiul.
"Enggak usah buka kacamata di sini. Jaga pandangan," ucap Henry.
"Oh, iya, hehehe," kata Fira.
"Sekarang kita salat, yuk," ajak Naomi.
__ADS_1
Fira menoleh ke Jae Young lantas bertanya, "Mas Jae Young enggak ikut salat?"
"Tidak, saya beragama Budha, hehehe," jawab Jae Young.
"Oh, maaf, saya enggak tahu," ucap Fira.
"No problem," ucap Jae Young sembari tersenyum.
"Nah, pas banget. Tolong titip tasku dan Fira, ya, Jae Young!" perintah Naomi.
"Oh, dengan senang hati aku bisa jadi tempat titipan tas wanita. Tenang saja, pasti aman. Apalagi menjaga tas Nyonya Fira, maksudku sebentar lagi kan jadi istrinya Henry," ucap Jae Young. Ia seraya melirik Henry bermuka masam itu.
Naomi dan Fira menyerahkan tas kepada Jae Young. Tas Fira yang terlebih dahulu diterima Jae Young, baru setelah itu tas Naomi. Ditentengnya dua tas, Jae Young berdiri tegap. Pria tiga puluh tiga tahun itu sudah seperti patung yang memanjang tas branded di Mal.
Naomi dan Fira bergegas menaiki tangga menuju ke dalam masjid. Sementara Henry menilik Jae Young dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia tidak heran lagi dengan tingkah rekan bisnisnya itu. Selalu bertingkah konyol dan aneh. Tidak jarang membuat Henry tergelitik karenanya.
"Annyeong haseyo, Henry-ah," candanya seraya tersenyum lebar.
"Jaga baik-baik tas Kakak dan calon istriku," pinta Henry.
"Iyaaaa."
Ketika Henry selangkah lagi menaiki tangga, dari dalam tas Fira terdengar dering gawai. Jae Young sontak menarik tangan Henry. Tubuh atletis Henry nyaris tumbang karena Jae Young menarik tangannya dengan kasar. Jae Young tanpa basa-basi menyerahkan tas Fira kepada Henry.
"Sepertinya di dalam tas itu ada telepon. Kamu saja yang mengangkat telepon itu. Barangkali ada telepon yang penting," ujar Jae Young.
"Memang enggak apa-apa, ya? Ini lancang sekali," kata Henry.
"Ah, enggak apa-apa! Lagi pula Fira itu calon istrimu, dan kamu calon suaminya. Kalau telepon itu ingin menyampaikan sesuatu, kamu bisa sampaikan kepada Fira nanti."
"Baiklah."
Henry agaknya ragu untuk membuka tas Fira. Namun dering gawai itu terus berbunyi, entah siapa yang menelepon Fira? Henry hati-hati membuka tas Fira sambil mengucap basmalah. Diambilnya gawai milik Fira. Otomatis layar gawai itu terlihat jelas si penelepon. Nomor asing yang tidak dikenal itu menelepon Fira. Henry seketika punya ide sebelum mengangkat telepon tersebut.
"Ayolah lekas diangkat telepon itu! Keburu garing itu teleponnya," perintah Jae Young.
"Itu sih jemuran diangkat jadi garing. Kamu diam saja. Aku ingin menyelidiki nomor asing ini," ucap Henry.
"Baiklah." Jae Young mendekati telinga ke punggung gawai milik Fira.
Henry lekas mengangkat telepon dari nomor asing tersebut. Dikeraskannya suara telepon itu supaya Henry bisa jelas mendengarkan percakapan si penelepon nomor asing. Henry sengaja diam tanpa menyapa, karena ia ingin tahu siapa yang sedang menelepon dengan nomor asing ini.
"Halo Fira, masih ingatkah padaku?" Suara seorang pria itu tidak asing lagi bagi Henry. Henry sontak terperangah dengan si penelepon nomor asing itu.
"Sekarang aku sedang ada di Semarang. Aku ingin menemuimu. Sebentar saja. Aku rindu padamu," ungkap pria itu. "Aku tahu kamu sudah bersama Henry. Aku mohon temui aku sekali ini saja! Tepatnya di Mal Ciputra. Sampai jumpa besok, ya."
Percakapan telepon diakhiri oleh si penelepon nomor asing itu sendiri. Dada Henry menggebu-gebu sebab terbakar api cemburu. Digenggamnya kuat gawai milik Fira. Namun Henry bisa menahan diri untuk tidak menghancurkan gawai milik calon istrinya itu. Mata sipit itu seketika berpijar menahan amarah, tidak suka dengan kehadiran pria yang bakal menganggu hubungannya dengan Fira.
__ADS_1
"Why?" tanya Jae Young. Ia keheranan melihat reaksi Henry yang sedang memanas itu.
Henry membatin seraya berpikir keras untuk menjaga Fira dari si penelepon nomor asing itu. "Aku tidak akan membiarkan dia merebut Fira dariku!"