
"Di rumah ini jadi ada yang merasa kurang, ya, Bu," ucap Fatih.
"Iya, Pak. Padahal baru beberapa hari mereka enggak ada di sini. Ibu jadi kangen tiga cucu kita," ucap Ratih.
"Bryan juga kangen Kak Fira, Zayn, Zema dan Alira. Biasanya ramai kalau ada mereka. Biasanya Bryan sepulang kerja bawakan kue kesukaan Zayn dan Zema. Sekarang dua keponakan itu enggak ada di sini," ucap Bryan.
"Iya, Ressa juga kangen Zayn dan Zema. Kalau enggak ada mereka, rasanya mau main sama siapa?" ucap Ressa.
"Walaupun bermain dengan dua keponakan itu merepotkan, tapi ternyata jadi dirindukan," ucap Nina.
Keluarga Fatih ini bersantai di ruang keluarga seraya menonton televisi. Tidak ada yang lebih seru dari keramaian Zayn, Zema dan Alira. Rumah ini praktis menjadi hening tanpa ocehan tiga anak yang menggemaskan itu. Selama ini mereka selalu bersama, kini sebagian keluarga mereka sedang berada di rumah keluarga Lee. Terasa ada yang hilang pelengkap keluarga Fatih ini.
Di tengah kegundahan hati keluarga Fatih. Tiba-tiba terdengar dering gawai milik Bryan di atas meja. Bryan sontak terbelalak melihat layar gawai. Malam ini adalah kerinduan mereka terobati. Karena ada panggilan masuk dari Fira.
"Panjang umur, Pak, Bu. Kak Fira telepon nih," seru Bryan.
"Cepat angkat teleponnya, Bry," ucap Ratih dengan berbinar-binar.
Bryan bergegas mengangkat telepon dari Fira. Kemudian ia berkata, "Assalamu'alaikum Kak Fira."
"Wa'alaikumsalam Bryan. Gimana kabar keluarga di sana?" ucap Fira.
"Wah, Kak, baru saja kami membicarakan Kak Fira, Zayn, Zema dan Alira. Kami rindu kalian. Alhamdulilah, kami sehat dan baik-baik saja," ucap Bryan.
"Sini, Ibu mau ngomong sama Kakakmu," sela Ratih.
"Kak, Ibu mau ngomong," ucap Bryan kepada Fira. Kemudian Bryan menyerahkan gawai kepada Ratih. Tidak lupa ia mengeraskan volume panggilan supaya semua dapat mendengar obrolan Fira.
"Assalamu'alaikum Nduk," sapa Ratih kepada putri sulungnya itu.
"Wa'alaikumsalam Ibu. Gimana kabar Ibu-Bapak? Fira juga kangen kalian di sana," ucap Fira.
"Alhamdulillah Bapak-Ibu sehat. Kami juga kangen kalian. Biasanya rumah ini ramai banget sama bocah-bocah cilik lucu. Sekarang rumah ini jadi suwung. Hampa tanpa cerewetnya cucu-cucu Ibu," ungkap Ratih.
"Justru itu sekarang Fira mau kasih kabar gembira untuk kalian."
"Kabar apa, Nduk?"
"Alhamdulillah, Henry sudah beli rumah baru di Perumahan Tembalang. Jadi, Bapak-Ibu bisa dekat dengan cucu-cucu. Kami masih tetangga sama Bapak-Ibu. Soalnya biar dekat juga sama sekolah Zayn, Zema dan Alira."
"Alhamdulillah," ucap mereka secara serentak.
"Insyaallah, besok kami ke rumah baru. Sekalian bersih-bersih rumah baru di sana."
"Ya, Nduk, nanti Ibu, Bapak, Bryan, Ressa dan Nina turut membantu ke sana, ya."
"Bapak-Ibu dan Adik-adik sehat selalu, ya. Kalau begitu Fira mau mengemasi barang-barang dulu. Sampai jumpa besok, Bu."
"Yang semangat, ya, mengemasi barang-barangnya. Di sini juga kami jadi semangat kalian pindah ke rumah baru. Kamu, Henry dan anak-anak juga jaga kesehatan."
"Baik, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Percakapan antara Fira dan Ratih melalui telepon berakhir. Gawai itu lantas diserahkan kepada Bryan. Suasana rumah yang tadinya hening, seketika menjadi semringah karena mendengar kabar gembira dari Fira. Ratih beranjak dari duduknya. Beliau jadi punya ide untuk memberikan sesuatu kepada ketiga cucunya.
"Bryan, antarkan Ibu ke Afal Mart yuk. Ibu ingin beli cemilan untuk Zayn, Zema dan Alira. Ya, kue, es krim dan cemilan kesukaan mereka," ucap Ratih.
"Lah, udah malam begini, Bu," ucap Bryan.
"Masih buka. Wong Afal Mart itu buka dua puluh empat jam," ucap Ratih.
"Bapak ikut. Sekalian mau beli kacang atom dan Trapinaka Slim," ucap Fatih.
"Ressa dan Nina juga ikut, Bu," ucap Ressa dan Nina.
__ADS_1
"Oalah, ini sih jadi satu RT ikut semua. Ya, sudah, Bryan ambil kunci mobil dulu," ucap Bryan tertawa kecil.
"Lah, Bapak-Ibu pergi sama Mas Bryan. Masa Ressa dan Nina ditinggal di rumah, Mas. Kan takut," ucap Ressa.
"Ya, sudah, semua pada siap-siap sana."
***
Bryan berjalan di belakang mengikuti Ibu-Bapaknya yang sedang belanja cemilan di Afal Mart. Pria berusia dua puluh enam tahun ini sambil menikmati alunan lagu menggunakan earphone. Sementara kedua adiknya berbelanja di bagian produk kecantikan.
Malam kian larut tapi tidak menghalangi semangat Ratih dan Fatih untuk membelikan cemilan kesukaan ketiga cucunya. Beliau berdua antusias karena besok ketiga cucunya akan pindah ke rumah baru.
Pada saat Bryan berada di bagian mainan. Ia mengedarkan pandang. Bryan tertarik pada mainan mobil-mobilan, bola dan boneka. Pikirannya tertuju pada ketiga keponakannya. Bryan memutuskan untuk memilih mainan yang bagus. Ia juga rindu memberikan mainan untuk ketiga keponakannya. Bagi Bryan membuat keponakan bahagia adalah kebahagiaannya juga.
Sebagai seorang paman muda, Bryan paham betul mainan kesukaan ketiga keponakannya. Zayn, Zema dan Alira baginya seperti anak sendiri. Meski Bryan masih bujang, tapi ia pernah mengurusi keponakannya. Apalagi di saat Fira sedang sibuk bekerja. Bryan jadi rindu mengajak Zayn dan Zema jalan-jalan ke manapun yang diinginkan. Pun mengajak dua keponakan laki-lakinya bermain game di gawai.
"Zayn sukanya mobil-mobilan, Zema sukanya bola dan Alira anak perempuan pasti sukanya boneka Barbie," ucap Bryan.
Untung saja di dekat tempat mainan itu ada beberapa keranjang belanja. Bryan lantas mengambil sebuah keranjang belanja untuk menampung mainan yang dibelinya. Ia tidak tanggung-tanggung mengambil mainan dengan kualitas bagus dan harganya fantastis.
"Kamu belikan mainan buat Zayn, Zema dan Alira, ya, Bry?" ucap Ratih. Beliau berdiri tepat di belakang Bryan.
"Bryan kangen menyenangkan keponakan, Bu. Besok Bryan enggak pergi ke Temanggung dulu. Soalnya Bryan mau ketemu sama tiga keponakan kesayangan," ucap Bryan.
"Tapi, itu mainannya harganya mahal loh, Bry. Nanti uangmu habis lagi."
"Bryan yakin rezeki sudah Allah atur. Kalau Bryan kasih ke keponakan juga jadi berkah, Bu. Anggap saja Bryan sedang belajar menjadi Ayah bagi keponakan, hehehe."
Ratih tercengang seraya tertawa kecil mendengar ucapan anak keduanya. "Ayah? Sebentar, kenapa kamu tiba-tiba bicara Ayah? Apa kamu sudah siap menikah?"
"Lagi pula Bryan sudah berusia dua puluh enam tahun, Bu. Usia yang cukup matang untuk menikah. Cuma---ya itu belum ada calonnya, hehehe." Bryan menggaruk kepala sebab tersipu.
"Insyaallah, pasti Allah akan mempertemukanmu dengan jodohmu."
"Ya, sebenarnya Bryan tertarik pada seorang gadis. Tapi, Bu, enggak mungkinlah Bryan yang sederhana ini mempunyai istri seorang gadis luar negeri."
"Ya, ada sih, Bu. Dia dari Kanada, tapi sepertinya gadis itu non-muslim. Cuma---Bryan sepertinya menyukai dia, Bu."
Ratih lantas bungkam. Beliau terkejut karena putranya mulai mengenal cinta kepada seorang gadis. Namun sayangnya, Bryan menyukai gadis yang berbeda keyakinan dengannya. Di antara banyaknya mainan yang tertata di setiap almari, suasana hening. Untung saja orang-orang yang lewat di sana tidak terlalu memperhatikan Bryan dan Ratih.
"Kamu sudah dewasa. Kalau kamu mulai mengenal cinta, kamu juga perlu mengendalikan hati. Jika dia berbeda keyakinan denganmu, kamu renungi sendirilah. Kalau Ibu sih inginnya kamu berjodoh dengan seorang perempuan yang seiman," jelas Ratih.
"Ibu tahu sendiri, Bryan paling sulit menyukai seorang perempuan. Entah kenapa kehadirannya membuat Bryan terpanah? Bukan karena parasnya, tapi dia punya daya tarik tersendiri. Gadis itu pernah ketemu sama Henry dan Kak Fira juga," jelas Bryan.
"Ya, sebaiknya kamu minta petunjuk kepada Allah. Kamu menjalankan salat istikharah. Memang kenapa kalau dia pernah ketemu sama Henry dan Fira? Apa kamu ingin kedua Kakakmu itu comblangin kamu sama gadis itu?"
"Ya, enggak juga sih, Bu. Tapi, Bryan ingin tahu tentang dia dari Henry gitu," ucap Bryan canggung, "Bu, salahkah kalau Bryan mendoakan gadis itu mendapat hidayah supaya menjadi mualaf?"
"Kita tidak ada salahnya mendoakan orang lain untuk mendapatkan hidayah. Kita sendiri pun ingin mendapatkan hidayah. Karena mendapatkan hidayah itu sangat berharga bagi orang beriman. Hanya saja tergantung niatnya. Kalau bisa seseorang itu jadi mualaf yang benar-benar karena Allah dan kemauan dari hatinya."
"Begitu, ya, Bu."
"Ibu senang kalau Bryan mulai ada rasa suka dengan seorang perempuan. Tapi, kalau urusan berbeda keyakinan ini, pasti ada saja ujian dan rintangannya. Belum lagi berurusan dengan orangtuanya, ditambah lagi dia dari luar negeri. Ibu tahu pasti akan bertentangan. Jadi sebaiknya kamu renungi baik-baik, sebelum cinta itu terlalu dalam."
"Iya, Bu. Bryan usahakan untuk istikharah saja. Bryan akan renungi baik-baik."
Ratih menepuk pundak putranya itu seraya berkata, "Ibu selalu mendoakan Bryan mendapat jodoh yang sholihah. Ya, sudah, Ibu mau cari Bapak dulu. Dari tadi Bapak katanya mencari Trapinaka Slim."
Ratih meninggalkan Bryan sendirian. Bryan perlahan meletakkan keranjang belanja di atas lantai. Lelaki berjaket biru tua itu seketika lunglai. Wajahnya yang masih seperti remaja SMA itu jadi sedih. Benar kata ibunya, setiap orangtua pasti ingin anaknya berjodoh dengan seorang yang beriman. Namun hati Bryan terlanjur tertarik pada sosok Anna.
Jika dipikir-pikir untuk memperjuangkan cinta bertentangan dengan iman ini akan sulit. Bryan juga berpikir belum tentu juga Anna berbalik menyukainya. Dirinya mulai minder karena merasa dari kalangan sederhana. Bryan tahu sosok seperti Anna pasti memiliki kriteria pria idaman. Yang pasti jauh dari kriteria dirinya sendiri.
***
Setelah puas berbelanja di Afal Mart, Ratih, Fatih, Ressa dan Nina menenteng kantong belanja masing-masing. Mereka bergegas menuju ke tempat parkir. Wajah mereka tampak ceria, tidak sabar untuk bertemu dengan Zayn, Zema dan Alira esok hari.
__ADS_1
Namun di depan pintu Afal Mart, di tengah lalu lalang orang-orang yang berkunjung supermarket ini, Bryan berdiri terpaku. Dua mata bulat bak kelengkeng itu datar memandang sekitar. Bryan lantas menunduk, dilihatnya tiga kantong plastik putih besar, tentunya berisikan mainan anak. Kemudian Bryan melangkah perlahan menuju ke tempat parkir.
Belum tiba di tempat parkir mobil, dari dalam saku celana panjangnya terdengar dering gawai. Ditaruhnya dahulu tiga kantong plastik itu. Bryan sigap merogoh saku celana, diambilnya gawai Apelphone miliknya. Bukan main hati Bryan berdegup kencang. Di layar gawai ada panggilan masuk dari nomor telepon Anna. Seketika kedua tangan Bryan gemetaran. Ia jadi canggung untuk mengangkat telepon dari Anna.
"Halo, Anna," sapa Bryan.
"Good night, Bryan. Halo juga. Di Indonesia sudah malam, ya?" ucap Anna.
"Iya, di sini sudah malam. Bagaimana dengan di sana?" ucap Bryan.
"Di sini hampir siang. Oh, iya, maaf, jika saya mengganggu waktumu."
"Oh, tidak. Sama sekali tidak mengganggu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin memesan produk kopi kamu lagi. Tapi, dikirim langsung ke Kanada melalui ekspedisi. Karena saya sudah berada di Toronto."
"Sebenarnya untuk memesan produk keluar negeri belum bisa. Tapi, khusus kamu, saya akan mengusahakannya."
"Saya akan bayar ongkos kirimnya berapapun biayanya. Karena saya sudah jatuh hati pada varian rasa kopi darimu itu. Keluarga dan teman-teman saya juga suka produk kopimu."
"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya. Lantas, kamu ingin memesan beberapa produk kopi dari saya?"
"Oh, oke. Nanti saya akan mengirim pesanan produk kopi melalui iMessage saja."
"Terima kasih, ya, karena kamu sudah membeli banyak produk kopi saya."
"Karena cita rasa kopimu itu punya ciri khas. Begitu saja dulu. Saya juga sedang mengerjakan tugas. Good bye, Bryan."
"Bye."
Percakapan keduanya pun berakhir. Dua sudut bibir Bryan terbuka lebar. Raut wajah itu menggambarkan keceriaan setelah mendapat telepon dari Anna. Bukan karena Anna yang memesan produk kopi banyak, tapi karena suara Anna yang lembut, dirasa sebagai obat pereda rindu Bryan.
Malam ini Bryan jadi bersemangat. Tidak menyangka jika Anna menghubunginya, walaupun sekadar memesan produk kopi. Hatinya terasa sejuk bak bunga disiram air jernih. Langkahnya bagai anak kecil yang girang mendapat hadiah spesial.
"Mendapat telepon darinya, hatiku merasa tentram. Apa aku benar-benar jatuh cinta pada Anna?" ucap Bryan, "Ya Allah, ampunilah hamba jika mencintai seorang gadis yang berbeda keyakinan dengan hamba. Ya Allah, apakah ada sebuah keajaiban jika hati Anna tersentuh hidayah? Tunjukkanlah kepada hamba, jika Anna jodoh hamba atau bukan? Apapun petunjuknya, semoga hamba berlapang dada menerima kenyataannya." Bryan mendengus, merasakan pilunya hati. Meskipun ia sedang jatuh cinta, tapi tetap menyadari kenyataannya.
Bryan berjalan seraya berdendang lagu cinta. Ditentengnya ketiga kantong plastik penuh semangat. Namun tanpa ia sadari, beberapa anak kecil bermain petasan di tengah tempat parkiran kosong. Salah satunya ada yang melempari petasan ke arah Bryan. Suara petasan itu sontak membuat Bryan terkesiap hingga loncat-loncat. Anak-anak itu tertawa terbahak-bahak melihat Bryan yang latah karena terkejut dengan suara petasan.
"Woi, anake sopo kui? Kurang ajar, dolan petasan udu ning kene!" hardik Bryan hingga matanya mendelik ke arah anak-anak itu. (Woi, anaknya siapa itu? Kurang ajar, mainan petasan bukan di sini!)
"Maaf, Mas, maaf. Kami enggak lihat Mas ada di situ," ucap anak-anak kebanyakan laki-laki itu lantas melarikan diri, tapi mereka masih saja tertawa terbahak-bahak.
"Oalah, bocah sontoloyo! Minta maaf malah ketawain orang tua. Anak jaman sekarang enggak ada unggah-ungguhe sama yang tua."
Bryan sejenak merapikan jaketnya. Ditentengnya kembali ketiga kantong plastik tersebut. Kakinya yang jenjang itu bergegas menuju ke dalam mobilnya.
Kini Bryan masuk ke dalam mobil. Seluruh keluarganya memandang heran kepadanya. Bryan seketika salah tingkah dihadapan keluarganya. Adik laki-laki Fira ini berdehem supaya dapat menepis rasa salah tingkahnya. Hati-hati ia duduk di jok depan. Dinyalakannya gas mobil, Bryan mulai menjalankan mobil menyusuri jalanan.
"Tadi kamu habis menelepon siapa?" tanya Fatih.
"Emm, teman, Pak. Dia pesan produk kopi Bryan. Alhamdulillah, ada saja rezekinya," jawab Bryan.
"Si dia, ya?" kelakar Ratih menggoda putranya.
"Eh, Ibu, jadi malu, hehehe," ucap Bryan lantas menggaruk tengkuk.
"Dia siapa, to, Bu?" tanya Fatih.
"Ada deh, Pak. Anak lanang kita sudah mulai jatuh cinta tuh," jawab Ratih.
"Ya, enggak apa-apa, to, Bu. Bryan juga sudah matang usianya. Kayak Bapak dulu begitu, nikah sama Ibu pas seusia kamu, Bry," ucap Fatih.
"Bryan mau istikharah dulu, Pak. Ya, seperti Kak Fira gitu, biar ada kemantapan hati," ucap Bryan.
"Nah, bagus itu. Kamu harus banyak belajar sama Bapak-Ibu dan Kakakmu itu. Kami sudah punya pengalaman soal percintaan, hahaha," seloroh Fatih.
__ADS_1
Ratih geleng-geleng kepala seraya tertawa. "Oalah, omong opo, to, Pak?"
"Bisa saja, Bapak-Ibu ini, hehehe," ucap Bryan kian salah tingkah. Ia fokus melihat jalanan dan mengemudi mobil sembari membatin, "mungkin enggak, ya, Anna itu jadi pendamping hidupku? Ah, enggak tahulah. Kenapa perasaanku jadi campur aduk begini?"