
Keesokan harinya ...
"Congratulations to Mr. John Michael for being appointed CEO of Excellent Advertising in Canada," ucap Henry seraya berjabat tangan dengan sosok CEO perusahaan ini. Pria bermata biru itu juga antusias berjabat tangan dengan Henry. (Selamat kepada Bapak John Michael telah terpilih menjadi CEO Excellent Advertising di Kanada.)
"I also thank Mr. Henry Lee has entrusted me to the position of CEO of this company. You are an inspiring young entrepreneur," ucap John. (Saya juga berterima kasih Bapak Henry Lee yang telah mempercayakan saya pada posisi CEO perusahaan ini. Anda pengusaha muda yang menginspirasi.)
"I believe we can work together to build a more advanced and developing company." (Saya yakin kita bisa bekerjasama untuk membangun perusahaan lebih maju dan berkembang.)
"I will make the best use of your trust." (Saya akan memanfaatkan sebaik-baiknya kepercayaan Anda.)
Henry yang didampingi Fira berada di Perusahaan Periklanan Excellent, Toronto, Kanada. Kehadirannya di sini guna meresmikan seroang CEO yang dipercaya mengelola perusahaan ini. Perusahaan ini pun baru dibuka secara resmi oleh Henry. Yang sebelumnya adalah perusahaan milik Ayah Anna, Jordan. Kini perusahaan itu berganti alih menjadi milik Henry.
Fira juga mengucapkan selamat kepada sosok CEO baru terpilih itu. Meski sekadar mengucapkan selamat, tapi Fira tahu batasan untuk tidak berjabat tangan dengan John. Beruntung, John paham batasan dengan seorang muslimah seperti Fira, jadi ia menghormati istrinya Henry itu.
Setelah itu, Henry mengajak Fira untuk melihat seisi gedung bertingkat nan mewah ini. Semua mata yang hadir di perusahaan tertuju pada pasangan suami-istri ini. Yang menjadi sorotan adalah Henry memiliki istri berhijab seperti Fira. Namun Fira melek fashion, saat di acara formalitas seperti ini, penampilannya berkelas.
Blazer, hijab pashmina dan celana kulot hitam itu membalut tubuh Fira. Ditambah baju dalaman putih di balik blazer. Lengkap dengan tas hitam yang menggantung di lengan kanan. Senada dengan Henry yang mengenakan jas hingga celana formal hitam. Pun kemeja putih di balik jas itu.
"Selamat menjadi Nyonya Henry Lee, Bu Fira," ucap seroang pria berambut cepak.
Fira menyambut pria itu dengan ramah. "Terima kasih, Pak ..."
"Perkenalkan saya Raditya Dika, founder Excellent."
"Oh, iya, Henry pernah bercerita tentang Anda. Kalau founder perusahaan ini ada dua."
"Benar sekali, Bu. Saya dan Kim Jae Young."
"Nah, ini orang yang telat kasih tahu ke supir untuk menjemput kita ke bandara," sela Henry.
"Ya Allah, masih saja dibahas, Hen. Lupakan itu tolong, hehehe."
"Pokoknya enggak gajian bulan ini, ya."
"Jangan gitu, gini-gini aku juga andil dalam memajukan perusahaan."
"Aku ingin melihatmu seperti cacing kepanasan kalau enggak gajian, hahaha."
"Tega, jangan mentang-mentang aku jomlo, terus kamu seenaknya enggak kasih aku gaji. Gajiku itu berarti buat keluargaku di Medan sana."
"I don't care that, hahaha." (Aku enggak peduli itu, hahaha.)
"I would be dying if I didn't get a salary. Because I'm like you who need entertainment playing games." Raditya seketika memelas. (Aku akan sekarat jika enggak mendapat gaji. Karena aku sepertimu butuh hiburan bermain game.)
"Kata siapa Pak Raditya enggak gajian? Soalnya saya lihat tadi pagi Henry transfer sejumlah uang melalui M-banking," ungkap Fira.
Raditya tercengang sembari terharu. "Eh, yang benar saja, Bu? Alhamdulillah, kalau begitu."
"Sayangku Fira enggak bisa banget diajak prank," ucap Henry.
__ADS_1
"Idih, aku enggak suka nge-prank ke orang lain." Fira menyeringai.
"Wooo, akhirnya terungkap juga." Raditya melirik tajam ke Henry. Sementara Henry tertawa karena prank yang dilakukan sudah diketahui.
Henry dan Fira puas mengelilingi seisi perusahaan. Sekarang saatnya keduanya keluar dari perusahaan, melakukan perjalanan selanjutnya sembari menikmati bulan madu di Toronto. Henry sudah menduga para wartawan menunggu di depan perusahaan. Sengaja pintu perusahaan ini tertutup, karena acara ini dikhususkan untuk kalangan perusahaan saja.
Sebelum keluar dari perusahaan, Henry menggenggam tangan Fira. Ia ingin melindungi istri tercinta dari kerumunan wartawan. Henry menatap Fira, begitu juga Fira seraya mengangguk. Keduanya sudah mengetahui jika nantinya akan disorot media. Untuk itu Henry dan Fira bersiap diri menghadapi media massa.
Tiga orang bodyguard kompak membukakan pintu untuk Henry dan Fira. Bagai raja dan ratu yang dijaga ketat oleh pengawal, begitulah Henry dan Fira saat berada di depan perusahaan. Banyaknya wartawan maju untuk mengajukan banyak pertanyaan kepada Henry. Henry menjawab pertanyaan itu dengan baik dan bijak. Sementara Fira hanya diam seraya tersenyum ramah. Walaupun sebenarnya ia pemalu dan tidak percaya diri tampil di depan media massa.
***
Fira dan Henry berkunjung di Distro Raf Junior. Di dalamnya tersedia beragam pakaian khusus anak laki-laki. Fira ingin membeli pakaian untuk Zayn dan Zema. Sebagai seorang ibu tentu gemas melihat pakaian untuk anaknya. Di tempat lain, Henry justru berkutat memilih celana jeans panjang untuk kedua anak laki-lakinya. Seluruh pakaian di sini memiliki kualitas bagus, tentu harganya cukup fantastis.
Henry membawa enam helai celana jeans. Sepertinya Henry sudah merasakan menjadi papa sejati. Betapa riangnya ia walaupun hanya memilih celana jeans untuk Zayn dan Zema. Namun Henry menyusul Fira, berniat untuk minta pendapat Fira soal ukuran celana jeans untuk dua putranya.
"Ukuran celana jeans untuk Zayn dan Zema ini udah pas atau belum?" tanya Henry.
Fira menilik enam celana jeans yang dibawa Henry. "Yang satu ini agak kegedean kalau untuk Zema."
"Kegedean juga enggak apa-apa. Toh, bisa dipakai kalau Zema sudah tumbuh besar."
Fira menatap wajah Henry yang nampak ceria membawa enam celana jeans itu. Wanita ini merasa peka terhadap suaminya yang ingat pada dua putra. Fira kian terkesima dengan Henry yang telah terlihat aura keayahannya.
"Cari warna yang matching dengan bajunya. Aku sudah memilih baju-baju untuk Zayn dan Zema. Di distro ini hanya menyediakan pakaian anak laki-laki," ucap Fira.
"Ya, sudah, nanti beli pakaian untuk Alira di toko pakaian khusus anak perempuan."
"Sip deh. Oh, iya, kamu masih pilih-pilih pakaian lagi?"
"Masih dong. Aku itu suka gemas kalau belanja baju untuk anak-anak. Bawaannya pengen borong aja, hahaha. Sesibuk apapun atau sejauh manapun seorang ibu sama anaknya, tetap ingat oleh-oleh untuk anak-anak. Maksudnya, sibuk kerja dan jauh dari anak-anak saat begini."
"Masyaallah, aku jadi ketularan kamu loh. Aku juga jadi ingin borong oleh-oleh untuk anak-anak. Hmm, selain mainan mobil dan bola, apa lagi kesukaan Zayn dan Zema?"
"Kalau Zayn itu sukanya gambar. Kalau Zema itu sukanya baca buku cerita gitu. Dua-duanya juga suka Transformers, Superhero kayak Spiderman dan kawan-kawannya gitu."
"Kalau Alira apa, ya, kira-kira?"
"Kalau Alira, aku lihat dia suka mainan dokter-dokteran dan princess gitu. Termasuk Frozen."
"Nanti kita ke toko lainnya untuk mencari kesukaan Alira."
"Baru dua hari di Kanada, aku sudah kangen anak-anak."
"Kita di Kanada hanya lima hari saja. Setelah itu kita pulang ke Indonesia."
Henry dan Fira tampaknya sudah puas memilih pakaian untuk Zayn dan Zema. Kini pasangan suami-istri melangkah ke kasir. Fira telah membawa pakaian dan celana jeans masing-masing enam helai di dalam keranjang. Henry membawa tas selempang milik Fira.
Ketika Fira dan Henry di kasir, seorang gadis cantik mengenakan hijab segitiga itu sedang mengawasi pekerja kasir. Sembari itu, ia justru menilik Fira. Sadar akan dilihat seorang gadis itu, Fira membalas pandangan gadis itu. Setelah dipikir-pikir Fira pernah melihat gadis ini di suatu tempat. Fira berusaha keras untuk mengingatnya.
__ADS_1
"Maaf, apa Kakak ini yang bernama Maghfira Annisa?" tanya gadis itu. Seketika Fira tercengang dengan ucapan gadis itu telah mengetahui namanya.
Fira mengernyit dahi. "Ya, benar. Bagaimana kamu bisa tahu nama saya?"
"Saya Magdalena Zaskia, rekan kerja Abang Rafi. Panggil saja Lena." Gadis berwajah putih itu mengulurkan tangan ke Fira sebagai tanda perkenalan. Fira lantas berjabat tangan dengannya.
Fira dan Henry terkejut. Bagaimana tidak terkejut? Keduanya baru menyadari atas ucapan Lena. Tak kalah tercengang lagi saat Henry dan Fira melihat foto Rafi terpajang di dinding. Di situ juga tertulis nama Rafi Jensen sebagai pemilik Distro Raf Junior.
"Nama depannya mirip kamu. Sama-sama Mag," bisik Henry kepada istrinya.
"Kamu tahu saya dari Rafi?" tanya Fira.
"Jelas tahu, Bang Rafi itu selalu bercerita tentang Kakak," jawab Lena.
"Jadi sekarang saya sedang di distro miliknya?"
"Yups, you are right. Abang Rafi mempunyai distro yang sudah tersebar di Kanada dan Indonesia. Saya di sini turut membantu Bang Rafi kalau dia sedang tidak ada di Kanada."
"Ya, baguslah kalau begitu. Saya senang mendengarnya."
"Kalau Kakak ada waktu, saya ingin banyak bicara sama Kakak. Boleh?"
Fira menoleh ke Henry, seolah ia minta pendapat dan izin kepada suaminya. Henry mengangkat kedua bahunya, menandakan bahwa terserah pada Fira. Kali ini Henry seperti mendukung Fira jika berteman dengan Lena.
"Kalau untuk saat ini, waktu saya sebentar di Kanada. Tiga hari lagi saya kembali ke Indonesia," kata Fira.
"Kapan Kakak kembali lagi ke Kanada? Jujur saya juga ingin berkenalan dengan Kakak," kata Lena.
"Kurang tahu juga. Sepertinya tergantung suami saya, karena dia mempunyai perusahaan periklanan di sini."
"Waw, hebat sekali! Baiklah, tunggu sebentar."
Seorang kasir telah menghitung total belanjaan hingga mengemasi pakaian yang dibeli Fira dan Henry. Sementara Lena berkutat menulis nomor telepon di atas kertas. Fira fokus memperhatikan gadis berbulu mata lentik itu. Henry lantas mengeluarkan sebuah kartu debit. Dibayarnya belanjaan tersebut melalui kartu debit. Sang kasir sigap melayani pembayaran dari Henry dengan kartu debit itu.
"Ini nomor telepon saya. Kalau Kakak sewaktu-waktu kembali ke Kanada. Kakak jangan segan-segan menghubungi saya. Saya ingin kenalan sama Kakak," jelas Lena.
"Tidak bisakah kita berkomunikasi melalui telepon atau WA?" tanya Fira.
"Bisa saja. Tapi, jika komunikasi melalui telepon dan WA, waktu saya sangat terbatas. Saya sibuk kuliah, membantu distro ini sekaligus pemotretan."
"Saya punya kesibukan juga sih."
"Nah, makanya kalau Kakak ke sini saja. Jadi lebih afdhol ngobrolnya."
"Saya cuma bisa bilang insyaallah."
"Kakak tenang saja, saya enggak akan melibatkan Bang Rafi. Cukup kita berdua saja."
Usai pembicaraan antara dua perempuan ini, Fira pamit pulang ke Lena. Lena bersikap ramah kepada Fira, rautnya senang, kehadiran Fira bagai mendapat hadiah spesial. Fira dan Henry lekas pergi dari distro seraya membawa paper bag yang berisi pakaian dan celana jeans untuk Zayn dan Zema. Pikiran Fira menjadi bertanya-tanya, kenapa Lena ingin sekali berkenalan dengannya?
__ADS_1