Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Harus Semangat


__ADS_3

Jam digital di nakas menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Namun malam ini Fira dan Henry belum ingin tidur. Suami-istri itu bersantai di kasur, tapi dengan kesibukan masing-masing.


Henry berkutat dengan pekerjaan di laptop. Sementara Fira sibuk membalas pesan di grup WhetsApp kepada karyawati dan dokter yang bekerja di klinik kecantikannya.


Ketika Fira sedang berdiskusi di grup WhetsApp Firannsa Beauty Care, muncul beberapa pesan WhetsApp dari orang-orang yang di kontaknya. Termasuk pesan dari Anna dan Irfan.


Jika Anna, Fira bisa menerima karena sesama wanita. Namun yang tidak wajar adalah Irfan yang malam-malam begini mengirim pesan kepadanya. Fira lantas membuka pesan dari Anna terlebih dahulu.


Anna Lichia


[Hai, Fira. Mengapa Bryan tidak membalas pesanku? Padahal dia sudah membaca pesanku. Ada apa dengannya?]


Fira menggaruk tengkuk, bingung hendak membalas apa? Wanita berdaster itu sebenarnya tahu jika adik laki-lakinya sedang berusaha move on dari Anna. Bisa jadi, saat ini Bryan ingin menjaga jarak dengan Anna.


^^^Maghfira Annisa^^^


^^^[Bryan masih kelelahan setelah berpergian jauh. Sepertinya dia kurang enak badan. Apalagi besok dia kembali kerja di Coffee Shopnya.]^^^


Anna Lichia


[Begitu, ya. Baiklah, aku maklumi itu. Semoga Bryan selalu baik-baik saja.]


^^^Maghfira Annisa^^^


^^^[Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?]^^^


Anna Lichia


[Mungkin itu saja dariku. Aku ingin fokus pada pekerjaanku dulu. Thanks Fira, see you next time.]


^^^Maghfira Annisa^^^


^^^[Oke, bye.]^^^


Fira berat hati membuka pesan dari Irfan. Rasanya enggan membalas pesan dari wali kelas Zayn itu. Namun Fira tetap berpikir positif, barangkali ada sesuatu yang penting disampaikan oleh Irfan.


Irfan Saputra


[Assalamu'alaikum, Bu Fira. Bagaimana keadaan Zayn?]


^^^Maghfira Annisa^^^


^^^[Alhamdulillah, mulai mendingan, Pak. InsyaAllah, besok Zayn bisa sekolah.]^^^


Irfan Saputra


[Saya ingin memberitahu Zayn, kemarin tidak mengikuti ulangan harian. Besok, sepulang sekolah, Zayn ulangan Bahasa Indonesia bersama dua temannya.]


^^^Maghfira Annisa^^^


^^^[Baik, Pak, nanti saya sampaikan ke anaknya. Terima kasih sudah diberitahu dan wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.]^^^


Fira enggan basa-basi, lantas menutup balasan pesan itu. Ia matikan ponsel, kemudian diletakkan di nakas.


Fira menoleh ke Henry. Betapa sibuk, sang suami mengelola perusahaannya. Wajah oriental itu tampak serius, seakan tidak ingin diganggu. Walaupun Fira terus memandangi Henry, ternyata tidak membuat Henry menoleh ke Fira.


Fira membatin pilu. "Statusku sebelumnya memang janda. Kadang, ada rasa minder bersanding dengan Henry. Usia Henry tiga tahun lebih muda dariku. Henry berusia dua puluh tujuh tahun. Sedangkan aku sudah tiga puluh tahun, anak tiga lagi. Sebagian berita dan warganet yang menyudutkan aku cukup menusuk hati. Berusaha enggak peduli tapi susah. Padahal, aku bukan janda yang ingin kekayaan Henry. Bukan wanita yang ingin warisan, bukan!"


Kedua kaki Fira ditekuk, sejajar dengan kepalanya. Ia benamkan wajah ayu di lutut. Dari balik wajah yang terbenam lutut, Fira menitikkan air mata. Dua bahunya terguncang sebab menangis.


Mendengar isak tangis sang istri, Henry mengentikan pekerjaan di laptop. Ia taruh dahulu laptop di meja. Pria berkaos putih itu lantas merangkul dua pundak Fira.

__ADS_1


"Fira, ada apa? Tadi kamu baik-baik saja pas fokus ke WhetsApp. Ada yang kirim pesan jahat ke kamu?" ucap Henry.


Fira geleng-geleng kepala sembari berkata, "enggak ada."


"Kamu nangis? Ada apa, sayangku? Sini, cerita sama aku." Henry membelai lembut kerudung Fira kemudian menciumnya.


Fira kian sesenggukan. "Kadang, aku merasa minder saat di dekatmu."


"Minder? Apa berita dan komentar pedas warganet yang negatif membuatmu begini?" tanya Henry.


"Aku enggak bisa sepertimu yang mentalnya sekuat baja. Aku lemas lihat ujaran kebencian soal aku. Mungkin, warganet yang enggak suka aku itu karena enggak rela kamu sama aku," jawab Fira.


Henry memeluk Fira agar bisa memberi ketenangan. Pria itu menggenggam tangan istri tercinta supaya tetap tegar dan ada ia yang selalu di pihak Fira.


"Enggak usah dilihat yang enggak suka sama kamu. Lihat saja berita yang baik dan warganet yang mendukung kita. Kamu wanita hebat dan kuat yang aku cintai. Pendamping hidupku adalah kamu," ungkap Henry kian memeluk hangat istri tercinta.


"Kamu lihat sendiri beritanya, mereka yang benci itu juga menyalahkanmu, kenapa kamu memilih aku untuk diperistri? Ada lagi, berita negatif lainnya. Kalau sampai mereka mengaitkan anak-anak, aku enggak tinggal diam," keluh Fira.


"Kita sulit mengatur mereka, jumlahnya banyak. Tapi, paling tidak, aku berusaha meminimalisir keadaan. Aku tuntaskan supaya tidak ada berita dan warganet nyeleneh. Gini saja Fira, jadikan yang menyudutkan dan membencimu itu lagi transfer pahala untukmu. Kamu enggak perlu takut, ada suamimu ini yang menjagamu."


Henry mencium kening Fira. Wajah Fira lantas terbenam di dada Henry dengan balutan kaos putih. Semua air mata sang istri tumpah pada kaos putih yang dipakai Henry.


Henry membelai kerudung Fira penuh cinta. Henry juga mencium pipi istrinya supaya dapat meredakan kegelisahan dalam hati Fira.


"Kenapa orang lain melihat status janda dengan sebelah mata? Padahal, tidak semua janda seburuk itu. Di dunia ini masih ada janda yang memiliki akhlak yang baik. Seakan-- di mata mereka, begitu buruk seorang pria menikahi janda. Aku enggak bisa tinggal diam. Aku yang lebih tahu istriku," batin Henry.


Henry mengambil ponsel di samping laptop dengan tangan kanan. Jemarinya berselancar di aplikasi WhetsApp. Henry mulai mengetik pesan di dalam grup staf perusahaan.


^^^Henry Lee^^^


^^^[Kenapa setelah kepulanganku dari Kanada, berita jadi heboh tentang pernikahanku dengan Fira? Sampai ada berita yang menggiring opini.]^^^


^^^[Tolong, segera usut yang membuat berita yang tidak benar. Karena yang membuat warganet menyudutkan istriku adalah berita nyeleneh.]^^^


[Baik, Pak. Segera kami laksanakan perintah Pak Henry.]


***


Fira lantas bangun dari pelukan Henry. Matanya memerah usai menangis. Henry melihat kaosnya basah karena air mata Fira. Pria itu tidak mempermasalahkannya. Justru Henry mengusap pipi Fira yang masih basah sehabis menangis.


"Kamu sudah lega nangisnya? Kalau belum, boleh nangis sepuasnya di pelukanku. Boleh usap air matamu di kaosku," kata Henry dengan hati-hati.


"Alhamdulillah, agak lega," ucap Fira.


"Kok agak sih? Nanggung, ah, hahaha. Suamimu ini juga bisa jadi sahabat curhat kamu. Aku siap jadi pendengar setia kamu." Henry merapikan kerudung Fira yang berantakan dan memasukkan helai rambut Fira yang sempat keluar dari kerudung.


Fira menyeka air mata sembari mengatur napas. "Masih ada yang ganjel sih, hehehe."


"Sayang, aku tahu kamu masih adaptasi dengan kehidupan seperti ini. Maksudnya, hidup di lingkungan yang bisa tersorot media. Kamu belajar sama Mami. Beliau punya pengalaman tentang menjadi istri dari seorang pengusaha."


"Emm, insyaAllah."


"Anggap saja, yang menyudutkanmu itu motivasi kamu untuk maju. Yang kenal kamu itu aku. Mereka yang tidak suka denganmu itu belum mengenalmu. Jangan terlalu dipikirkan orang yang enggak suka sama kamu."


Fira sejenak mengambil tisu di nakas guna membersihkan sisa air mata di pipi. Henry turut membantu menyeka tangis Fira dengan sehelai tisu.


"Jangan bahas itu lagi. Oh, iya, aku punya pertanyaan yang mengganjal selama ini," ujar Fira.


"Apa itu?" tanya Henry.


"Bentar, aku ingat-ingat dulu," jawab Fira sambil memikirkan pertanyaan. "Oh ini, di usiamu dua puluh dua tahun dulu, kamu langsung pegang perusahaan? Maksudku, waktu kamu meninggalkanku, eh salah, meninggalkan Singapura terus pulang ke Semarang."

__ADS_1


"Statusku sudah owner, penerus Papi, tapi aku masih masa pelatihan. Seperti mengikuti pertemuan para pengusaha dan rapat. Aku tetap dituntut memimpin rapat, padahal bingung dan pusing juga. Sebenarnya, di keluarga kami sudah diajarkan bisnis, meski masih mendasar. Justru yang menguasai ilmu bisnis itu Kak Naomi. Makanya aku kuliah ke Universitas Hervard untuk menuntut ilmu bisnis di sana. Ya, waktu itu aku masih ada agenda bolak-balik ke universitas dan perusahaan. Padahal jalan ninjaku itu ingin jadi pesebak bola internasional, hahaha," jelas Henry.


"Oh, akhirnya aku bisa tidur nyenyak. Enggak penasaran soal itu, hahaha. Ya, aneh aja gitu, masa usia dua puluh dua tahun sudah jadi bos perusahaan? Emm, ternyata ini jawabannya."


"Kamu niat banget sih mikirin aku sampai segitunya, hahaha."


"Aku kalau penasaran atau kepo itu inginnya cari tahu terus, hehehe."


Kesedihan dan kegelisahan malam itu seketika berubah jadi keseruan dalam obrolan dua sejoli. Kejanggalan dalam hati Fira selama ini terjawab sudah oleh Henry. Obrolan hangat di malam yang makin larut membuat benih hasrat suami-istri itu tumbuh. Obrolan itu berubah menjadi penyatuan cinta dua sejoli yang sudah menikah, membuat energi cinta keduanya kian membara.


***


"Maaf, ya, Mama baru kasih oleh-oleh buat kalian," ucap Fira.


"Alhamdulillah, asyik, ada mainan dan baju!" seru Zayn, Zema dan Alira.


"Ini ada juga oleh-oleh buat Bapak, Ibu, Ressa dan Nina," sambung Fira.


"Terima kasih, Mama dan Papa," seru tiga anak itu lagi.


"Terima kasih, Kak," ucap dua adik perempuan Fira.


Fira mengangguk sambil tersenyum. "Sama-sama."


Fira membagikan oleh-oleh dari Kanada di ruang keluarga. Zayn, Zema, Alira, Ressa dan Nina antusias menerima pemberian dari Fira. Oleh-oleh yang sesuai keinginan mereka. Mata mereka jadi berbinar-binar melihat oleh-oleh yang spesial.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih sepuluh, saatnya anak-anak itu untuk berangkat ke sekolah. Fira merapikan kembali penampilan tiga buah hatinya. Mama yang terlihat awet muda itu bersyukur melihat Zayn, Zema dan Alira sehat lagi.


"Hari ini di sekolah, kalian semangat dan fokus belajar. Hormat kepada Bapak-Ibu Guru, terus ..." Fira sengaja menjeda ucapan dan tiga anak itu lantas berseru, "sayangi teman-teman. Dan jadilah anak yang baik dan berprestasi!"


"Anak-anak Mama pintar banget. Kalau ada yang ngejek kalian, anggap saja itu angin lewat. Kalau kata Papa anggap saja mereka lagi transfer pahala ke kita. Sip, ya?" kata Fira.


"Sip, Ma!" Zayn, Zema dan Alira lantas menepuk tangan secara giliran kepada mamanya. Bisa dibilang sebagai tos.


Henry baru saja keluar dari kamar, terlihat rapi dengan kemeja putih dipadukan dengan jas hitam. Fira bergegas menghampiri suaminya.


Ketika berhadapan dengan Henry, Fira merapikan dasi Henry yang miring. Fira tidak lupa menatap mata Henry penuh cinta sambil tersenyum, Henry pun melakukan hal serupa. Hanya dengan senyuman manis Fira itulah membuat Henry selalu cinta kepada Fira.


"Ayo, anak-anak, berangkat ke sekolah sama Papa. Papa sekalian mau ke kantor," ucap Henry.


"Bukannya kamu balik kerja lagi sebulan setelah pernikahan kita?" tanya Fira.


"Ya, sebentar lagi 'kan sebulannya pernikahan kita, sayang. Aku dihubungi manajer dan sekretaris, ada klien penting yang ingin bertemu sama aku," jawab Henry.


"Oh, oke. Semangat kerjanya, ya, sayangku," bisik Fira.


"Apa kamu bilang barusan? Ulangi lagi," goda Henry.


"Sudah, ah, malu! Ada anak-anak."


"Nanti malam, ya, aku tagih kamu harus bilang sayang lagi ke aku."


"Henry!" Fira lantas mendelik ke Henry dengan wajah tersipu. Sementara Henry justru tertawa seraya mengedipkan satu mata genit untuk istrinya.


Fira mengantarkan suami dan anak-anak di halaman rumah. Wanita itu mencium punggung tangan Henry. Sang suami lantas mencium kening Fira. Tiga anaknya juga bersalaman dengan sang mama dengan hormat.


Zema dan Alira bergegas masuk ke dalam di bangku mobil bagian tengah. Sementara Zayn di bagian depan bersama Henry. Henry sejenak memanaskan mesin mobil. Tiga anak itu lantas melambai tangan kepada Fira. Fira yang sedang berdiri di teras, juga melambaikan tangan kepada Zayn, Zema dan Alira.


Fira masih berdiri di teras rumah. Wanita bermata bulat itu tetap melihat mobil Henry yang sudah menyusuri jalanan. Ketika tidak ada lagi bayang-bayang mobil Henry, Fira baru masuk ke dalam rumah. Mama tiga anak itu kembali dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga.


***

__ADS_1


Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, komentar dan kasih rating (bintang 5). Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Terima kasih.


__ADS_2