
Lefia mengernyit dahi saat mendengar bel rumah berbunyi. Wanita berjilbab warna telur asin itu berjalan menuju ke pintu utama. Sebelum ia membuka pintu, Lefia terlebih dahulu mengintip dari lubang kecil di pintu, memastikan siapa yang datang. Karena ia ingat pesan Fira untuk hati-hati menerima tamu semenjak Henry hilang. Satu matanya melihat lubang kecil ternyata ada seorang pemuda berdiri di depan pintu.
Tidak ada yang mencurigakan dari pemuda itu, karena penampilannya berseragam rapi seperti orang ingin melamar pekerjaan. Ditambah pemuda itu membawa tas dan di lengannya mengepit sebuah map.
"Bu Fira kayaknya udah banyak pekerja, tapi itu kok ada yang kayak ngelamar kerja gitu?" pikir Lefia.
Asisten pribadi Fira itu lantas membuka pintu. Lefia menilik pemuda itu dari ujung rambut hingga sepatunya. Hidungnya yang kecil agak mengendus berlagak mencium aroma curiga. Sementara pemuda itu malah gugup dan melihat dirinya sendiri ketika Lefia memandang serius kepadanya.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi, apa benar ini rumah Bu Fira?" sapa pemuda itu.
"Wa'alaikumsalam, benar. Anda siapa?" Lefia melirik sinis terhadap pemuda berpakaian kemeja putih itu.
"Saya Lucky ..."
Lefia lantas mendekatkan tangan kanan ke telinganya. "Apa? Ducky?"
"Astagfirullah, cewek ini siapa sih? Ngajak ribut nih orang," gumam pemuda itu.
Lefia ingin menjalankan tugas yang diperintahkan oleh bosnya untuk berhati-hati menerima tamu yang belum dikenal. Namun pemuda itu sepertinya kesal terhadap Lefia, karena disambut tidak mengenakan.
"Lucky, Mbak. L-u-c-k-y. Bukan daki! Memangnya saya sejijik itu, apa? Orang saya ganteng dan imut gini kok," protesnya.
"Siapa yang bilang kamu daki? Ducky, d-u-c-k-y. Itu loh bahasa Indonesianya bebek," celetuk Lefia.
"Eh, Mbaknya ngajak tawuran, ya. Wajah ganteng gini kok disamakan dengan bebek. Lagian bebek itu bahasa Inggrisnya Duck bukan ducky!"
"Lah, namamu cocok sih jadi Lucky Ducky."
"Hmm, sabar, ini ujian orang baru kerja," batin Lucky.
"Mau apa Anda ke mari?" tanya Lefia.
"Ya, mau melamar pekerjaan lah, Mbak. Masa mau nongkrong," jawab Lucky.
"Oh, saya kira Anda mau nge-sales. Soalnya lebih cocok jadi sales gitu sih."
Lucky lagi-lagi membatin kesal. "ini siapa sih? Kalau ngomong kayak cabai rawit pedes amat."
"Melamar pekerjaan apa?" tanya Lefia lagi.
"Astagfirullah, sabar. Melamar pekerjaan jadi guru bimbel untuk anak-anaknya Bu Fira, Mbak," jawab Lucky. Pemuda itu mengembuskan napas supaya tetap sabar dan tenang.
"Oh, ngomong dong dari tadi. Ya, sudah, silakan masuk."
Untuk kesekian kalinya Lucky bergumam, "gimana mau ngomong? Dari tadi aku kayak dicurigai terus."
Lefia mempersilakan Lucky duduk di sofa ruang tamu. Lucky terkesima melihat megahnya rumah ini. Suasana estetik lengkap dengan barang-barang mewah dan moderen. Meski begitu, ia tetap merasa gugup karena ini pertama kalinya melamar pekerjaan sebagai guru bimbel. Lucky menghela napas supaya dapat menenangkan diri.
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu Fira. Pemilik rumah megah itu hadir di ruang tamu. Fira duduk di sofa tunggal, berseberangan dengan Lucky. Di sisi lain, Lucky menyapa ramah sembari memberi penghormatan kepada Fira. Namun sepertinya Fira merasa ada yang janggal ketika melihat Lucky.
"Kayaknya saya pernah lihat kamu deh?" pikir Fira.
"Pernah, Bu. Waktu itu Ibu dan dua pria berkunjung ke Restoran Best Istanbul," ucap Lucky.
"Oh, iya, ya. Itu saya bersama suami saya dan adik saya. Jadi, kamu ke sini mau melamar pekerjaan sebagai guru bimbel untuk anak-anak saya?"
"Iya, Bu. Sebenarnya saya sudah tidak bekerja lagi di restoran itu. Saya ingin menyalurkan kemampuan bahasa Inggris dan Perancis ke anak-anak Ibu."
"Oh, begitu. Anda benar-benar lulusan di University of Toronto, ya?"
"Ya, tapi saya di fakultas musik. Cuma saya tertarik menjadi guru bimbel bahasa. Kalau musik itu biar jadi hobi saya, hehehe. Ibu Fira bisa cek siaran YouTube saya yang membahas tentang bahasa Inggris dan Perancis di Kanada."
"Oh, gitu. Sebenarnya saya juga bukan hanya membutuhkan guru bimbel bahasa sih, tapi pelajaran lainnya, kayak matematika dan lain-lain. Yang pastinya sesuai dengan materi pelajaran di Kanada. Karena kamu yang datang lebih dulu, ya, saya menerima kamu bekerja di sini. Tapi, kamu harus tanda tangan berkas kesepakatan antara saya dan kamu, karena semenjak suami saya hilang, saya harus hati-hati terhadap orang baru," jelas Fira.
"Baik, Bu. Saya butuh pekerjaan ini, selain bisa menyalurkan kemampuan bahasa saya, juga bisa menambah biaya operasi wajah kakak saya," terang Lucky.
"Kakak kamu? Memang kenapa wajahnya?" tanya Fira.
"Kakak saya itu ..." Belum sempat menjelaskan, pembicaraan Lucky dijeda oleh Fira.
"Lefia, tolong ambilkan berkas kesepakatan kerja bimbingan belajar pribadi di ruang kerja saya dong," perintah Fira kepada asisten pribadinya.
"Nggeh, Bu." Meskipun Lefia tiada terlihat tapi suaranya nyaring dan menyahut perintah Fira.
Suasana hening di ruang tamu. Fira tetap menoleh ke belakang sambil menunggu kedatangan asistennya itu. Sementara Lucky melihat map yang berisi ijazah pendidikannya. Pemuda itu merasa lega dan senang karena diterima bekerja sebagai guru bimbel bahasa.
Lefia bergegas ke ruang tamu sambil membawa selembar kesepakatan kerja. Ia mendekati Fira kemudian menyerahkan selembar kesepakatan kerja kepada Fira. Lefia tidak lupa memberikan sebuah bolpoin kepada Fira. Fira pun menerimanya.
Setelah membaca isi kesepakatan kerja itu, Fira memberikan selembaran kertas dan bolpoin itu kepada Lucky. Sebelum menandatangani kesepakatan kerja, Lucky terlebih dahulu membaca saksama isi kesepakatan kerja itu. Pemuda berkulit sawo matang itu mengangguk, mengerti dengan isi kesepakatan kerja tersebut. Tangan kanan Lucky kemudian tanda tangan di atas kertas yang sudah bermaterai itu.
"Jadwalmu untuk mengajar cukup seminggu tiga kali. Soalnya saya juga mikirin jadwal buat guru bimbel lain," kata Fira.
"Baik, Bu," ucap Lucky.
"Berarti dia langsung diterima kerja, Bu?" tanya Lefia.
__ADS_1
"Ya, biar Zayn, Zema dan Alira enggak main-main terus. Kalau disuruh Mamanya belajar, susah banget, mentang-mentang mereka enggak sekolah," jawab Fira.
"Iya, sih, disuruh sama saya aja---ada aja alasannya. Tapi, saya kira Ducky, eh, Lucky ini bakal jadi tukang kebun rumah."
"Lefia!" tegur Fira.
"Hehehe, bercanda, Bu. Daripada tegang melulu, bikin mumet terus."
Fira membenarkan posisi duduk sambil menatap serius kepada Lucky. "Lucky, mulai kerja besok saja, ya. Oh, iya, tadi kamu bilang punya Kakak? Kakakmu sakit apa? Sampai ingin operasi wajah?"
"Siap, Bu. Emm, Kakak saya wajahnya parah lah, Bu. Ada luka-luka gitu," jelas Lucky.
"Oh, begitu. Oke, kamu sekarang pulang, besok persiapan mengajar anak-anak saya. Jangan lupa jam delapan pagi. Terima kasih sudah berkenan jadi guru bimbel untuk anak-anak saya."
"Baik, Bu. Saya juga terima kasih sudah diterima kerja di sini. Alhamdulillah, saya bisa membantu Kakak saya. Kalau begitu saya pamit, Bu. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Lucky mengangguk hormat terlebih dahulu kepada Fira, kemudian pemuda itu berjalan ke pintu utama. Lefia yang membuka pintu, agar memudahkan Lucky keluar dari rumah. Namun Fira masih duduk terdiam sambil memikirkan sesuatu. Mendengar ucapan Lucky tentang kakaknya tadi, membuat Fira jadi kepikiran suaminya.
Fira membatin seraya termangu. "Bagaimana keadaanmu, Henry? Apa kamu sehat atau sakit? Ya Allah, mau sampai kapan Henry menghilang seperti ini? Pikiranku selalu macam-macam, khawatir Henry kenapa-kenapa di sana."
***
Fira berkumpul dengan tiga anaknya di ruang tengah. Zayn, Zema dan Alira berbaring di karpet sambil menonton kartun di televisi. Di sisi lain, Fira duduk di sofa. Tangan kanannya memegang gawai, banyak pemberitaan media tentang Henry. Ada berita yang benar dan ada pula berita yang mengada-ada.
Fira melihat banyak pesan masuk di akun Instagram-nya. Banyak pesan masuk dari pengikut di akun Instagram Fira, mereka menyarankan agar Fira melakukan klarifikasi soal kehilangan Henry. Sebab, pemberitaan tentang Henry ada yang simpang-siur. Namun Fira memilih diam di rumah karena suasana hatinya saat ini seperti benang kusut.
"Mulai besok ada guru yang mengajarkan Zayn, Zema dan Alira bahasa Inggris dan Perancis loh. Jangan pada males, ya," tutur Fira.
"Cepat banget ada gurunya, Ma. Padahal Zayn pengen istirahat belajar," protes Zayn.
"Zayn, jangan gitu dong. Kalau kamu enggak belajar, sia-sia ilmu yang kamu punya."
"Sejak Papa hilang, Zayn juga hilang semangat belajar, Ma."
Fira tercengang mendengar ucapan Zayn. Wanita itu mengerti perasaan tiga anaknya. Baru beberapa bulan merasakan kebahagiaan mempunyai papa sambung, tapi kini mereka dikejutkan dengan hilangnya sang papa. Pasti jiwa anak-anak itu terguncang karena harus menerima kenyataan pahit ini.
"Zayn, Zema dan Alira masih ingat pesan Papa kan? Papa bilang supaya anak-anaknya rajin belajar. Mama tahu perasaan kalian, tapi biarlah ini jadi urusan orang dewasa, Nak. Kalian cukup rajin belajar dan mendoakan Papa agar cepat ketemu," ujar Fira.
"Ada yang jahat, ya, sama keluarga kita?" tanya Zayn.
Fira menjawab, "kasus ini masih diselidiki. Mama juga belum tahu siapa yang mau berniat jahat kepada kita. Kalau memang benar ada yang ingin jahat pada keluarga kita, semoga segera mendapatkan balasannya."
"Semoga Papa baik-baik saja di sana. Zayn, Zema dan Alira kangen Papa."
Dering gawai Fira berbunyi, ada panggilan masuk dari Ammar. Fira lantas mengangkat telepon dari ketua detektif itu. Ia berharap semoga Ammar menemukan bukti dan fakta seputar Rafi.
"Halo, Mrs. Fira," sapa Ammar.
"Ya, bagaimana, Mr. Ammar?" tanya Fira.
"Saya minta kirimkan foto lama Rafi," jawab Ammar.
"Memang akun Instagram Rafi tidak ada foto-fotonya?"
"Bukan begitu, justru akun Instagram Rafi di-private. Saya juga sudah minta tolong ke teman-teman supaya mengikuti akun Instagram Rafi. Saya punya rencana hack akun Instagram Rafi, tapi itu sebuah pelanggaran dan perbuatan lancang. Jadi, untuk sementara ini, saya ingin foto lama Rafi, pasti wajahnya masih sama dengan yang sekarang."
"Ya, sekarang juga saya kirim foto lama Rafi ke Anda."
Percakapan antara Fira dan Ammar di sambungan telepon itu berakhir. Jemari Fira cekatan menekan aplikasi LINE, kemudian ia mencari kontak LINE Ammar. Kini jemarinya berselancar di galeri foto untuk mencari foto lama Rafi sewaktu di Singapura.
Untung saja, Fira masih menyimpan foto antara dirinya, Henry dan Rafi di Garden By The Bay. Foto itu berhasil dikirim ke kontak LINE Ammar. Secepat mungkin Ammar membaca pesan masuk dari Fira.
Ada keanehan pada akun Instagram Rafi yang tiba-tiba saja dikunci. Maksudnya hanya orang-orang mengikuti yang dapat melihat isi akun Instagram Rafi. Rasa penasaran Fira pun bergejolak. Kini jemarinya berselancar di akun Instagram Rafi. Benar adanya, akun tersebut dikunci. Fira sulit melihat isi akun Instagram Rafi. Tidak mungkin juga dirinya mengikuti Rafi.
"Kenapa Rafi mengunci akunnya, ya? Mencurigakan sekali," gumam Fira, "oh, iya, aku belum mengatur waktu pertemuan dengan Sarah."
Sebuah pesan masuk dari Reza muncul di pemberitahuan atas. Fira lantas keluar dari aplikasi Instagram. Ditekannya pesan masuk dari sang pengacara pribadi tersebut.
Fairuz Reza Gibran
[Bu Fira sekarang ke kantor polisi Toronto untuk dimintai keterangan. Saya berusaha untuk bekerjasama dengan polisi di Toronto dan Indonesia. Untuk polisi di Indonesia masih tahap menghubungi ke sana.]
Maghfira Annisa
[Saya segera ke kantor polisi. Terima kasih, Mas Reza atas informasinya.]
Kebetulan Lefia sedang melewati ruang tengah hendak ke dapur. Fira beranjak dari sofa sambil merapikan diri.
"Lefia, bilang ke Pak Irwan untuk mengantarkan saya ke kantor polisi di Toronto, sekarang," perintah Fira.
Lefia mengangguk. Yang tadinya Lefia ingin ke dapur, ia kurungkan niat karena harus memanggil suaminya untuk mengantarkan Fira ke kantor polisi.
"Oh, nggeh, Bu."
__ADS_1
***
Ammar dan dua temannya turun dari mobil. Gaya khas Ammar selalu mengikat rambut gondrong pirang itu. Walaupun parasnya sangar tapi ia memiliki wajah bersinar. Tangannya yang kekar itu melepas kacamata yang bertengger di mata. Ia mendongak menatap bangunan distro klasik milik Rafi. Distro itu ternyata cukup ramai dikunjungi.
Sudut bibir yang tebal nan seksi itu menyeringai. Di dagunya terdapat berewok yang cukup tebal. Ia tidak sabar untuk menjalankan misinya adalah mencari bukti kuat soal hilangnya Henry. Jiwa aktornya dalam memainkan peran yang tidak diketahui oleh orang, kian bergejolak.
Namun ketika Ammar hendak ke pintu distro, seorang gadis berjilbab cokelat tua tidak sengaja menabrak pundak Ammar. Yang membuat Ammar terkejut adalah jaket hoddie yang ia kenakan jadi basah karena terguyur segelas air. Emosi Ammar mulai tersulut, tapi saat pria itu melihat paras cantik gadis itu, ia mengurungkan niat untuk ribut dengan gadis itu. Dari wajah gadis itu sepertinya masih penduduk asli Kanada. Sama seperti Ammar yang berkewarganegaraan Kanada, walaupun ia ada campuran darah Batak Lubis.
"Oh, Sir, I'm sorry," ucap gadis itu. (Oh, Pak, saya minta maaf.)
"This time I forgive you but next time you walk be careful, don't rush," tegur Ammar. Beruntung Ammar membawa tisu yang ia taruh di saku. Segera mungkin ia bersihkan basahan itu dengan tisu. (Kali ini saya memaafkanmu tapi lain kali kamu berjalan hati-hati, jangan terburu-buru.)
"I'm sorry, indeed I am in a hurry because soon there is a meeting with my friends." (Saya minta maaf, saya memang terburu-buru karena sebentar lagi ada pertemuan dengan teman-teman saya.)
"Oke, no problem. Have a nice day." (Oke, tidak masalah. Semoga harimu menyenangkan.)
"Thank you, Sir. Assalamu'alaikum."
"Wa-wa'alaikumsalam."
Gadis berpakaian coat panjang cokelat itu pergi berlalu. Tatapan Ammar tidak lepas dari raga gadis itu. Baru ini ia temukan gadis muslimah yang jilbabnya menjulur punggung. Karena selama Ammar tinggal di Toronto, hanya bertemu dengan gadis berjilbab ala hijabers dan gadis-gadis seksi.
"Sopan sekali dia. Biasanya gadis lain jarang memakai assalamu'alaikum ketika berpamitan. Namun dia berbeda. Dia siapa, ya? Aku bodoh kali tidak tanya namanya," batin Ammar.
"Mr. Ammar, do you want to work or find a mate?" ucap salah seorang temannya yang juga berambut pirang. (Pak Ammar, Anda ingin kerja atau cari jodoh?)
"Ah, I'm sorry. Oke, let's continue our mission," kata Ammar. (Ah, aku minta maaf. Oke, mari kita lanjutkan misi kita.)
Tiga pria itu lantas masuk ke dalam distro. Sebagaimana pembeli pada umumnya, Ammar dan dua temannya berpencar ke ruang lain. Mereka di sana tidak seperti sedang menyelidiki, justru sekalian mencari baju-baju kemudian dibeli. Memang benar kata Ammar, menjalankan tugas sebagai detektif butuh biaya besar, ini salah satu alasannya, yakni jadi pembeli yang membeli baju. Untuk itu, Fira harus sedia nominal uang yang cukup fantastis untuk tim detektif ini. Beruntung Fira tidak mempermasalahkan biaya besar itu.
Seraya memilih pakaian pria, Ammar sempat melirik ke sekitar, tidak ada batang hidung Rafi muncul. Ammar menghela napas karena harus sabar untuk menunggu Rafi muncul di sini. Mulai dari mencari pilihan pakaian pria hingga mencobanya di kamar pas, Ammar justru menemukan pakaian yang pas untuk tubuhnya yang atletis. Ammar mendapatkan dua setel pakaian untuk dibelinya. Begitu juga dengan dua temannya yang telah menemukan pakaian pas.
Lirikan Ammar kembali mengintai, tapi di distro itu seperti biasa, tidak ada aroma yang mencurigakan apalagi kejanggalan. Ketika Ammar dan dua temannya berada di kasir, mereka dilayani oleh Lena yang sedang menjaga kasir. Ammar tercengang, selama ia tinggal di Toronto, baru ini ia menemukan seorang kasir masih gadis dan muslimah pula. Namun ia tidak mau ambil pusing. Ammar tetap fokus pada pengintaiannya kepada Rafi.
Di sela-sela sedang membungkus pakaian yang dibeli oleh Ammar dan dua temannya, tiba-tiba gawai Lena berdering. Lena meminta waktu sebentar kepada pelanggannya supaya dapat mengangkat telepon dari seseorang. Beruntung Ammar dan dua temannya tidak mempermasalahkan itu. Lena pun menelepon dengan jarak masih dekat dengan Ammar. Sementara Ammar dengan santainya sambil mendengar pembicaraan gadis itu.
"Halo, Bang Rafi, ada apa? Aku masih menjaga kasir nih," ucap Lena.
"Apa? Kok Abang Rafi ke Filipina sih? Buru-buru amat? Memang ada urusan apa?" Lena justru memborong pertanyaan kepada Rafi.
"Oh, ada acara keluarga. Aku enggak diajak, Bang, hehehe. Oke, Bang, hati-hati, ya. Oh, iya, Abang Rafi lama enggak ke Filipina?"
"Oh, gitu-gitu. Oke, salam buat keluarga Abang Rafi ke sana, ya. Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Begitulah percakapan Lena dengan Rafi sewaktu di telepon. Ammar yang sempat mendengarkan pembicaraan dua insan itu sontak terkejut. Ia tidak menyangka jika Rafi telah pergi ke Filipina. Itu berarti Rafi sedang tidak ada di sini. Namun Ammar mengendus seakan mencium aroma kejanggalan terhadap kepergian Rafi di Filipina.
Sepasang mata Ammar disuguhkan dengan foto Rafi yang terpajang di dinding. Ammar berjalan perlahan sambil melihat dekat foto Rafi beserta keterangan foto itu. Ia lantas memakai kacamata bening supaya dapat membaca tulisan. Di situ tertulis Rafi Jensen sebagai pemilik RafJens Distro. Ada lagi tulisan kecil, Ammar pun menyipitkan mata untuk membaca tulisan itu. Ternyata Rafi kelahiran Lumajang pada tanggal sebelas Mei. Rafi masih berdarah Filipina dan Indonesia. Dan masih banyak lagi informasi lain.
"Sir, it's your clothes and your friends already packed," kata Lena. (Pak, ini pakaian Anda dan teman Anda sudah dikemas.)
"Oh, ya, thank you, Miss," ucap Ammar.
"I hope you are satisfied shopping here." Lena menyerahkan paper bag yang berisi pakaian yang dibeli Ammar dan dua temannya. (Saya harap Anda puas belanja di sini.)
"Is he the owner of this shop?" tanya Ammar. (Apa dia pemilik toko ini?)
"Ya, Sir. He is Abang Rafi Jensen. I mean Abang is brother. But, he is not my brother," jawab Lena. (Ya, Pak. Dia Abang Rafi Jensen. Maksudku Abang adalah kakak laki-laki. Tapi, dia bukan saudara laki-laki saya.)
"Oh, begitu."
"Anda bisa berbahasa Indonesia?" Lena seketika terkejut dengan ucapan Ammar yang fasih berbahasa Indonesia.
Ammar mengangguk. "Ya, saya perpaduan antara Canadian dan Batak Lubis."
"Oh, hehehe."
"Bos kamu sedang di Filipina, ya?" tanya Ammar lagi.
"Lebih tepatnya dia bukan bos saya, hehehe. Karena saya teman bisnisnya juga. Maksudnya begini, saya dan Bang Rafi bisa jadi model untuk produk ini. Brand ambassador gitu. Emm, Bang Rafi sedang ada acara keluarga di Filipina. Ibunya yang orang Filipina," jelas Lena.
"Oh, oke, kalau begitu saya dan dua teman saya pamit."
"Terima kasih telah berkunjung di distro ini, Sir."
Ketika Ammar dan dua temannya keluar dari distro. Ammar melepaskan kacamata bening itu. Tiga pria itu bergegas masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Ammar mengambil sebuah pen yang berbentuk stainless dan kacamata bening dari dalam saku jaket. Ammar tersenyum karena berhasil merekam sesuatu yang didapatkannya hari ini.
"Ini masih langkah awal. Namun saya cukup senang. Apa kalian juga sudah mendapatkan sesuatu?" ucap Ammar.
"Tentu saja, sepatu saya juga canggih untuk merekam sesuatu," kata salah satu temannya yang bermata biru.
"Sepertinya kita juga mengundang teman detektif di Filipina untuk mencari tahu Rafi," usul temannya yang lain, pria berambut pendek tapi pirang.
Ammar lantas memakai kacamata hitam sambil memandang jalanan. "Hmm, Rafi ini orang yang cukup familiar. Kita tidak hanya minta bantuan kepada teman-teman detektif di Filipina, tapi juga di Indonesia."
***
__ADS_1
Alhamdulillah, untuk episode hari ini diperpanjang alurnya. Semoga kalian suka <3
Dukung author yuk, supaya author semakin semangat lanjutin kisah ini. Mudah aja kok, kalian dukung dengan like, berikan vote dan bintang lima. Jangan sungkan-sungkan untuk berkomentar setelah kamu baca novel Energy Of Love 2. Rekomendasikan novel Energy Of Love ke orang-orang terdekat maupun sosial media. Terima kasih.