
Keindahan fajar menyingsing menerangi Kota Semarang. Tetesan embun masih melekat pada setiap daun-daunan. Sebagai seorang hamba, sudah sepatutnya bersyukur karena masih diberi kesempatan bernapas di dunia ini. Sepasang mata dapat melihat keindahan alam ciptaan-Nya. Tentunya tak lupa lisan mengagungkan kebesaran Allah.
Seperti pagi ini, keluarga ini tengah bersyukur dan bahagia atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Rumah bercat abu-abu yang di depannya ada hamparan rumput dan deretan tanaman hias. Di atas rumput hijau itu terdapat beberapa ubin keramik besar sebagai jalur jalan.
Rumah tanpa tingkat tapi terkesan elite itu dihuni oleh Henry, Fira dan tiga anaknya. Tempat yang akan banyak menyimpan cerita. Berharap hingga Henry dan Fira menua serta mempunyai cucu-cucu.
Papa, mama beserta ketiga anaknya berdiri di depan rumah baru nan moderen. Setiap mata berbinar melihat apiknya rumah ini. Mimik wajah mereka seolah tidak sabar ingin melihat seisi rumah. Akhirnya tangan kanan Henry membuka pintu dengan smart lock seperti sidik jari. Ia merasa senang melihat istri dan anak-anaknya tersenyum ceria.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang di rumah kita yang baru," ucap Henry.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap Fira, Zayn, Zema dan Alira secara bersamaan.
"Insyaallah, rumah ini membawa keberkahan dan kebaikkan untuk kita," sambung Henry.
"Aamiin yaa rabbal alamin," ucap mereka lagi.
"Ya, sudah, sekarang kita langsung masuk aja, yuk," ajak Henry.
"Siap, Papa!" seru ketiga anak yang menggemaskan itu.
Mereka masuk ke dalam rumah itu. Aroma cat yang masih melekat itu menyeruak di setiap ruangan. Agar indera penciuman mereka terasa segar, Henry sigap mengambil remote AC di atas meja ruang tamu. Dinyalakannya AC, lengkap dengan aroma pewangi ruangan yakni aroma lemon.
Zayn, Zema dan Alira berpencar ke seisi rumah. Tiga bersaudara ini berlari riang gembira. Saking senangnya, mereka menari di atas ubin marmer yang mengkilap.
"Aku enggak menyangka kalau kamu bisa secepat ini membeli rumah ini," ucap Fira. Ia lantas melepaskan kacamata bening.
"Sebenarnya rumah ini punya temanku tapi dijual. Karena temanku ternyata sudah punya rumah baru di perumahan lain. Masyaallah, bisa pas sesuai yang kamu inginkan. Langsung deh tanpa pikir panjang, aku beli rumah ini, tunai. Terus, saat itu juga hubungi tim interior buat benahi isi rumah ini," jelas Henry.
"Masyaallah, aku suka desain rumah ini. Meski enggak bertingkat tapi luas dan lebar," puji Fira.
"Alhamdulillah, aku senang kalau kamu suka," ucap Henry. Ia lantas memeluk Fira penuh kasih sayang.
"Aku ingin menua bersamamu di rumah ini. Sampai kita punya cucu-cucu dari anak-anak kita."
"Aamiin yaa rabbal alamin."
Henry menghampiri tiga anak sambungnya. Zayn, Zema dan Alira menyambut sang papa dengan gembira. Henry lantas duduk jongkok. Mereka saling berpelukan. Fira terenyuh melihat kedekatan Henry dengan anak-anaknya. Betapa sayangnya Henry kepada anak-anak.
Henry melepaskan pelukan dari anak-anak. Dibelainya setiap kepala anak-anaknya penuh kasih sayang. "Nah, di sini ada tiga kamar untuk tiga anak Papa. Kak Zayn tidur sendiri, begitu juga dengan Adik Zema dan Alira."
"Zema tidur sendiri, Pa?" tanya Zema.
"Iya, Zema harus bisa latihan tidur sendiri karena semakin tumbuh besar. Anak-anak Papa pasti pemberani dong," jawab Henry.
"Kalau Alira minta ditemenin sama Mama, gimana, Pa?" tanya Alira.
"Sebelum tidur, Papa atau Mama bakal menemani kalian secara bergantian, ya. Jadi, biar adil," jawab Henry lagi.
"Kalau Zayn senang tidur sendiri. Biar Zema enggak ganggu Zayn lagi, hahaha," canda Zayn.
"Kak Zayn nakal," ucap Zema. Bocah itu sembari menggelitik perut Zayn. Sontak Zayn berlari menghindari Zema. Digodanya adiknya itu dengan menjulurkan lidah seakan mengejek dan tertawa terpingkal-pingkal. Zema ikut tertawa tapi ia geram dengan sikap kakaknya.
Fira geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah dua putranya. Alira menghampiri Fira. Mama dan anak perempuannya ini saling berpelukan. Fira membelai jilbab ungu muda yang dikenakan Alira. Jika dilihat wajah Fira dan Alira semakin mirip.
"Ayo Kak Zayn bantu Mama bawa koper, ya," perintah Fira.
"Baik, Ma," ucap Zayn.
"Zema mau bantu dong, Ma," ucap Zema.
"Alira juga ikut bantu," ucap Alira.
"Oke, saling kerjasama, ya, anak-anak Mama." Fira merasa tersentuh karena semakin hari, Zayn, Zema dan Alira kian kompak.
Zema dan Alira membantu Zayn menggeret sebuah koper besar berwarna biru. Koper besar berwarna biru itu milik Zayn. Sementara Henry mengarahkan tiga anaknya menuju ke kamar milik Zayn. Tiga anak itu mengikuti arahan papanya. Diletakkannya koper besar berwarna biru itu tepat di dalam kamar milik Zayn.
Kamar yang sesuai kesukaan Zayn. Kamar bercat abu-abu dengan biru muda. Ada beberapa pajangan gambar mobil dan lampu hias gantung. Begitu juga dengan seprai kasur, selimut dan sarung bantal gulingnya berwarna abu-abu dan biru muda. Ada lemari pakaian yang menempel di dinding. Henry membuka lemari itu dengan menggesernya saja. Lemari itu cukup luas untuk muatan pakaian milik Zayn.
Kamar luas ini sudah di fasilitasi kamar mandi. Uniknya lagi, kamar ini terdapat ruangan kecil untuk bermain sekaligus belajar. Adanya perpustakaan yang tertata banyaknya buku khusus seusia Zayn. Bukan main gembiranya hati Zayn. Anak laki-laki berbalut jaket biru muda ini seketika terpukau melihat kamarnya yang mewah.
"Gimana Kak Zayn? Suka sama kamarnya?" tanya Henry.
"Suka banget, Papa. Terima kasih, Papa," pekik Zayn. Ia seketika loncat kemudian memeluk Henry.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Papa senang mendengarnya. Ya, sudah, sekarang kita ke kamar Adik Zema dan Alira, yuk," ajak Henry.
"Henry bisa tahu kesukaan Zayn dari mana?" gumam Fira bertanya-tanya.
Kini Zayn, Zema dan Alira menggeret koper besar berwarna hijau tosca milik Zema. Mereka berjalan menuju ke kamar Zema. Namun ketika Henry membuka pintu kamar itu, tiba-tiba seekor cicak jatuh dari tembok di atasnya. Sontak Henry merasa jijik dan loncat-loncat. Bulu kuduknya merinding. Henry lantas bersembunyi di balik punggung Fira.
"HIIIHHH, OPO KUI! CI-CICAK!" teriak Henry. (Hiiihhh, apa itu! Ci-cicak!)
Zayn, Zema dan Alira hendak tertawa melihat papanya takut terhadap cicak. Namun Fira lantas menggelengkan kepala sembari mengulurkan tangan. Lima jarinya memberi isyarat kepada tiga anaknya untuk tidak menertawakan papanya. Zayn, Zema dan Alira seketika bungkam, walaupun sebenarnya mereka menahan tawa.
"Cicaknya udah pergi kok. Tuh, enggak ada lagi penampakannya," ucap Fira.
"Tetap saja aku jijik melihatnya," ucap Henry. Wajahnya tenggelam dalam punggung Fira.
"Ya Allah, udah enggak ada tuh. Kamu takut, ya, sama cicak." Sebenarnya Fira pun ingin tertawa karena Henry takut terhadap cicak. Namun ia berusaha menahan tawa.
"Ya, intinya menjijikkan itu!"
"Udah enggak ada, Hen. Ya, sudah, anak-anak masuk, yuk."
"Kamu lihat dulu---masih ada enggak cicaknya?"
"Eh, astaghfirullah." Fira ingin sekali tertawa melihat wajah Henry bak anak kecil sedang ketakutan.
***
Untuk memastikan Henry, Fira lantas menoleh ke atas langit-langit kamar. Sudah tiada lagi cicak bertengger di tembok. Justru pandangan Zayn, Zema dan Alira teralihkan melihat kamar Zema. Desain kamar Zema sama dengan Zayn. Di fasilitasi kasur, meja belajar, kamar mandi dan ruang kecil untuk belajar serta bermain. Namun bedanya kamar sekaligus seprai kasur dan kawan-kawannya itu bercat abu-abu dipadukan hijau tosca. Ada beberapa pajangan gambar bola dan lampu hias gantung.
"Masuklah! Udah enggak ada cicak," perintah Fira.
"Beneran?" tanya Henry.
"Ya Allah, beneran. Anak-anak aja enjoy di sini," jawab Fira.
Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu melangkah dengan mengendap-endap sambil merinding. Fira mengapit bibir karena masih menahan tawa. Tangan kanan Fira terulur untuk Henry. Sorotan mata Fira kembali meyakinkan suaminya. Senyumnya yang manis menarik perhatian Henry. Henry menggenggam tangan sang istri.
"Kalian jadi tahu nih---kalau aku takut sama cicak," ucap Henry.
"Udah, enggak usah bahas itu lagi. Anak-anak juga udah teralihkan melihat kamar. Nanti kalau bahas cicak, khawatir anak-anak menertawakanmu. Kan jadi enggak sopan, makanya aku kasih kode supaya mereka enggak menertawakanmu," jelas Fira.
"Ya, sudah sana, susul anak-anak. Terus, kita lekas bersih-bersih rumah."
"Baiklah, sayang."
Henry menyusul ketiga anaknya dari belakang. Dirangkulnya bahu mereka. Zayn, Zema dan Alira mendekati Henry penuh manja. Mereka masih terpukau melihat seisi kamar milik Zema.
"Gimana Zema? Suka kamarnya? Papa tahu kesukaan Zema itu bola," ucap Henry.
"Iya, Papa. Zema suka sekali kamarnya yang ada bolanya. Terima kasih, Papa," ucap Zema. Anak laki-laki berbalut kaos putih dengan gambar bola itu tersenyum merekah.
"Alhamdulillah. Sekarang kita ke kamar Adik Alira, yuk. Setelah itu kita mau bersih-bersih rumah," ajak Henry.
"Apa jangan-jangan Henry tahu kesukaan Zayn dan Zema sejak dari dulu, ya? Dulu sewaktu di Singapura, aku pernah menyarankan Henry dan Rafi untuk pendekatan dengan anak-anakku," gumam Fira.
Henry menuntun Zayn, Zema dan Alira keluar dari kamar Zema. Kini giliran koper besar berwarna merah muda milik Alira digeret oleh Zayn, Zema dan Alira. Sementara Henry mengikuti mereka dari belakang. Fira selalu memerhatikan keakraban papa dan anak-anaknya itu.
Setibanya di depan kamar Alira, kali ini Henry hati-hati membuka pintu kamar. Pintu kamar itu dihempaskan begitu saja. Pria berbalut kemeja panjang abu-abu itu khawatir jika ada cicak jatuh lagi dari tembok atas. Kedua bahunya terangkat karena masih jijik dengan cicak.
Kamar milik Alira tak kalah menakjubkan. Sebagai anak perempuan di keluarga Henry ini, kamarnya terkesan feminim. Meski desain dan fasilitas kamar sama dengan kamar Zayn dan Zema. Namun ada yang membedakannya, mulai dari catnya berwarna merah muda dengan abu-abu. Gorden jendela bermotif bunga sakura. Terdapat pernak-pernik cantik di cermin rias, lampu hias gantung dan boneka lucu-lucu.
"Alira suka sama kamarnya?" tanya Henry.
"Alhamdulillah, Alira suka banget kamarnya. Alira pasti betah. Terima kasih, Papa," jawab Alira sembari memeluk papanya.
"Papa senang kalau anak-anak juga senang. Semoga rumah ini menjadi tempat ternyaman dan dirindukan kalian," ungkap Henry haru.
Fira berdiri di ambang pintu. Tangan kanannya menyeka air mata karena saking harunya melihat suami yang sayang kepada anak-anak. Bibirnya terus bergumam mengucap syukur kepada Allah. Karena Allah telah menganugerahkan seorang suami yang bukan hanya mencintainya, tapi juga mencintai dan menerima ketiga anaknya.
Henry menoleh ke Fira. Kedua mata sipitnya memberikan isyarat kepada Fira untuk berkumpul bersama anak-anak. Fira tersenyum seraya melangkahkan kakinya menuju ke suami dan anak-anak. Henry dan Fira lantas duduk jongkok. Keduanya memeluk erat Zayn, Zema dan Alira.
"Kalau nanti Papa ada marah dan kesal sama kalian. Maafkan, Papa, ya, istri dan anak-anakku. Papa juga manusia biasa, yang bisa saja melakukan kesalahan. Namun ketahuilah, hati Papa selalu mencintai kalian. Kalian pelengkap hidup Papa," ungkap Henry.
"Kami selalu sayang dan hormat pada Papa. Papa adalah superhero kami," ungkap ketiga anak itu.
__ADS_1
"Mama bangga sama anak-anak Mama ini. Kita sudah satu keluarga jadi harus ..." Fira sengaja menjeda ucapannya.
"Harus rukun, saling menyayangi dan tolong menolong," ucap Zayn, Zema dan Alira secara bersamaan.
"Masyaallah, anak-anak Mama dan Papa pintar banget," sanjung Henry.
"Ya, sudah, sekarang kita lekas bersih-bersih rumah. Saling gotong royong. Cuma menyapu dan membersihkan debu. Soal mengepel nanti biar Mama yang tangani," ucap Fira.
"Setelah bersih-bersih, insyaallah, Papa pesan makanan enak-enak melalui Ayo Food. Kita makan di rumah aja biar enggak kecapaian," ucap Henry.
"Siap, Mama dan Papa tersayang." Zayn, Zema dan Alira berdiri tegap seraya memberi penghormatan kepada kedua orangtuanya. Mereka antusias mengikuti perintah Henry dan Fira.
***
Sembari membersihkan seisi rumah, Henry menunjukkan setiap kamar dan ruangan kepada Fira. Di dalam rumah itu terdapat koridor memanjang. Sementara anak-anak duduk santai sambil menonton kartun di layar televisi. Agaknya mereka kecapaian karena telah gotong royong membersihkan rumah. Beruntung Fira sudah menyiapkan cemilan dan minuman untuk ketiga anaknya tersebut.
"Kalau ini ruangan khusus gym. Jadi, aku enggak perlu ke tempat gym. Memang belum ada alat untuk fitness. Aku belum beli alat olahraga berat itu," ucap Henry. Ia seraya menunjukkan ruangan luas khusus gym.
Seraya memegang sapu di tangannya, Fira terkesima melihat ruangan khusus gym itu, dan berkata, "Wow, luar biasa."
"Kamu juga bisa olahraga berat di sini. Biar kamu berotot, hahaha," kelakar Henry. Pria itu seraya menunjukkan pundaknya yang berotot.
"Kalau aku berotot nanti kamu K.O dong, hahaha," kelakar Fira.
"Eits, memang tadi malam, pas malam pertama itu aku ada K.O? Hahaha."
"Hahaha, entahlah. Sudahlah, jangan omong makin dalam, nanti kedengaran anak-anak."
Henry dan Fira melanjutkan langkahnya sepanjang koridor. Koridor di dalam rumah ini terkesan seperti koridor hotel atau apartemen. Fira hanya bisa melongo melihat betapa mewahnya rumah meski tidak bertingkat.
"Nah, kalau di ruang depan tadi kamar kita dan anak-anak. Kalau di sepanjang koridor ini ada lima kamar. Jadi, rumah kita ini bisa untuk open house, kalau ada keluarga atau kerabat menginap di sini," jelas Henry. Ia membuka satu per satu kamar lain. Terdapat fasilitas lengkap seperti kamar utama. Hanya saja lima kamar itu tidak ada kamar mandi.
"Ini rumahnya enggak tingkat, tapi bentuknya memanjang gitu, ya. Jadi muat kamar banyak dan ruangan gini, hehehe," ucap Fira.
"Sengaja sih ada kamar banyak dan ruang, soalnya sekalian open house pas lagi lebaran atau acara tertentu gitu."
"Berarti kalau Velia, Medina dan Khalifah ke sini bisa dong menginap di sini."
"Bisa banget. Setelah kamar ini ada dua ruangan kerja untuk aku dan kamu. Seterusnya ada dapur, mushola, tempat pencucian pakaian, dan kamar mandi lain kalau ada tamu yang menginap di sini."
"Subhanallah, banyak banget. Ini rumah atau penginapan sih? Hahaha."
"Desain rumahnya memang sudah dari sananya, sayang, hehehe."
Henry dan Fira berjalan lagi menuju dua ruangan kerja. Keduanya terlebih dahulu berada di depan ruangan kerja khusus Henry. Di daun pintu itu sudah tersemat plang kecil bertuliskan Henry's Office. Ruangan kerja itu layaknya ruangan di perusahaan Henry. Namun ruangan ini bercat cokelat muda dengan dinding berlapis kayu jati mengkilap.
Terdapat kursi, meja dan lemari kerja. Ada pula sofa dan meja jikalau nanti ada yang bertamu di situ. Lemari hias berbentuk kotak-kotak menempel di dinding yang diisi dengan vas bunga. Kotak lainnya masih kosong, karena belum diisi barang yang muat di sana.
"Nah, ini ruangan kerjaku, masih belum ada apa-apa. Nanti barang-barang kerjaanku yang ada di rumah Mami bakal aku angkut ke sini semua," jelas Henry.
"Temanmu ini benar-benar pandai mendesain rumah sepanjang dan luas seperti ini," puji Fira.
"Kebetulan dia itu arsitek jadi kalau bikin rumah enggak diragukan lagi kualitasnya," ucap Henry, "sekarang kita ke ruangan kerjamu."
Ruangan kerja Henry berseberangan dengan ruang kerja Fira. Henry membuka pintu ruang kerja Fira. Kali ini Fira dibuat terbelalak melihat ruangan kerjanya itu. Terkesan estetik dan eksotis. Sama seperti ruangan kerja di kantor. Hanya saja ruangan ini di desain feminim. Karena adanya tanaman hias di ruang itu.
"Ini, masyaallah, ruangan kerjanya ada ruang khusus kayak buat pemotretan gitu. Kenapa ruangan kerjaku malah luas begini?" ucap Fira kian terkesima.
"Soalnya istri temanku itu seorang model juga. Mungkin di desain seperti ini biar istrinya melakukan pemotretan di sini," ucap Henry.
"Aku suka banget. Nanti kalau ada pemotretan, aku ingin di sini saja."
"Kamu kerja tapi tetap di rumah, ya, sayang."
"Oh, tentu saja. Rumah ini benar-benar impian yang enggak diduga." Fira bertepuk tangan bak anak kecil yang gembira mendapat hadiah terindah.
Setelah melihat setiap kamar dan ruangan, kini Henry dan Fira meneruskan perjalanan untuk melihat dapur, mushola dan beberapa kamar mandi yang tepatnya di belakang rumah. Semakin panjangnya bentuk rumah ini, akan menemukan taman indah nan luas. Letaknya di halaman belakang rumah.
Hamparan rumput dilengkapi dengan tanaman hias dan bunga-bunga yang berjejer di setiap pot. Ditambah ada kolam ikan, ayunan dan ruang kaca dikhususkan menjemur pakaian. Ada pula tembok yang sebagai batasan rumah ini agar tidak terlihat dari luar. Rumah baru berserta isinya ini selain mewah juga terkesan Instagramable.
***
Bagaimana tanggapanmu setelah membaca novel ini? Komentar di bawah ini yuk. Diharapkan untuk memberi komentar tentang novel ini. Supaya penulisnya tahu dan kenal ulasan dari setiap pembaca sebenarnya.
__ADS_1
Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, dan kasih rating (bintang 5). Supaya authornya ini semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Terima kasih.