
Bumi terus berotasi, waktu pun berjalan begitu cepat. Pekan depan yang telah dinanti Henry telah tiba. Ia, Fira dan keluarganya berada di Bandara Soekarno-Hatta. Sudah dari kemarin mereka terbang dengan pesawat dari Semarang hingga Tangerang. Hari ini mereka mengantarkan Henry dan Fira yang akan melakukan perjalanan jauh menuju ke Kanada.
Sepertinya Zayn, Zema dan Alira keberatan akan ditinggal pergi kedua orangtuanya. Raut wajah tiga bocah yang murung itu seketika tertunduk. Fira mendekati Zayn, Zema dan Alira. Perasaan seorang ibu juga tidak tega jika jauh dari anak-anaknya.
Satu per satu dibelainya pipi Zayn, Zema dan Alira. Sepasang mata dua anak yang masih polos itu berlinang air mata kemudian memeluk sang mama. Kecuali Zayn yang hanya diam dengan tatapan datar.
"Zema, pengen ikut," rengek Zema.
"Mama, jangan lama-lama di sana. Alira enggak bisa jauh dari Mama," rengek Alira.
"Mama sama Papa akan segera pulang. Kalian baik-baik sama Kakek, Nenek, Oma dan Opa, ya," ucap Fira berusaha memberi pengertian kepada anak-anaknya.
"Dari dulu Mama pergi jauh di Singapura. Sekarang pergi jauh lagi sama Papa. Zayn sebal!" protes Zayn karena kesal atas kepergian Fira dan Henry. Wajahnya lantas melengos tanpa ingin melihat mama dan papanya.
"Ini urusan pekerjaan, Zayn. Mama harus mendampingi Papa di sana. Kalau urusan pekerjaan Papa di sana sudah selesai, kita jalan-jalan ke luar negeri, ya," rayu Henry.
"Enggak tahulah, Pa. Kayaknya lama-lama Mama dan Papa kembali sibuk dan jarang ada waktu buat Zayn, Zema dan Alira," protes Zayn lagi.
"Zayn, Papa mohon kamu mengerti. Papa kerja juga buat kalian. Mama sekarang jadi istri Papa, jika ada acara resmi harus ada yang mendampingi," terang Henry.
Henry dan Fira saling menatap menahan kesabaran menghadapi sikap Zayn yang merajuk. Rasanya sulit untuk memberi pengertian kepada Zayn. Henry duduk jongkok dihadapan Zayn. Memegang dua pundak Zayn. Putra sambungnya itu masih saja enggan melihat wajah papanya.
"Jadi Zayn inginnya apa?" tanya Henry secara hati-hati.
"Zayn cuma ingin kita kumpul bersama. Itu aja kok," ucap Zayn.
"Papa itu sudah merencanakan liburan bersama. Setelah Papa dan Mama pulang dari Kanada, kita akan berlibur ke Korea. Zayn, Zema dan Alira bisa kenalan dengan keluarga Papa di sana," jelas Henry.
"Hmm." Hanya itu yang terucap dari mulut Zayn.
"Zayn yakin enggak mau liburan ke Korea? Coba deh browsing di Google. Korea itu bagus negaranya," rayu Henry.
"Zayn udah tahu Korea. Soalnya teman-teman Zayn yang perempuan suka K-Pop," lirih Zayn.
"Nah itu tahu. Jadi, gimana? Mau liburan ke Korea atau enggak?"
Zayn perlahan menatap Henry. Bibir Zayn mencebik seraya mengangguk. "Mau, tapi beneran liburan, ya, Pa."
Henry membelai rambut Zayn yang hitam tebal. "Maka dari itu Papa sekarang cari rezeki dulu buat kita liburan, ya. Insyaallah, beneran. Zayn doakan Papa dan Mama supaya rezekinya lancar serta berkah. Kalau rezeki Papa dan Mama dari Allah lancar dan berkah, itu juga buat anak-anak Papa dan Mama. Zayn paham kan maksud Papa?"
"Tapi, Papa dan Mama tetap meluangkan waktu untuk Zayn, Zema dan Alira, ya. Soalnya Zayn dan adik-adik butuh Papa dan Mama."
"Insyaallah. Zayn juga jagain adik-adik baik-baik. Zayn itu kakak tertua loh. Jadi contoh yang baik untuk adik-adik."
"Iya, Papa. Papa dan Mama hati-hati, ya. Cepat pulang biar kita bisa kumpul lagi."
Fira menghela napas. Wanita berkacamata bening ini merasa lega. Henry pandai sekali memberi pengertian kepada Zayn. Zayn kembali mengukir senyum dihadapan papanya. Henry pun membalas senyuman kepada Zayn. Kemudian Zayn bersalaman penuh hormat kepada Henry. Seketika Henry memeluk putranya yang akan beranjak remaja.
Dihampirinya Zayn dan Henry. Fira duduk jongkok kemudian memeluk Zayn dan Henry. Zema dan Alira menghampiri papa, mama dan kakaknya. Dua anak sebaya itu juga tidak mau kalah memeluk Henry, Fira dan Zayn.
Mereka sudah seperti satu tubuh, jika berjauhan rasanya ada yang kurang. Mereka saling berpelukan erat. Sementara keluarga Fatih dan Lee tersentuh melihat keharmonisan Henry, Fira dan ketiga anaknya.
***
Terdengar suara penyiar bandara mengumumkan bahwa pesawat yang ditumpangi oleh Henry dan Fira akan segera landas. Henry dan Fira hati-hati melepas pelukan dari anak-anaknya. Fira menyeka air mata satu per satu dari mata Zayn, Zema dan Alira.
Fira tetap menampilkan senyum kepada Zayn, Zema dan Alira agar tidak berlarut dalam sedih. Bibir Zayn, Zema dan Alira seketika bermekaran. Senyuman anak-anak itu menyejukkan pandangan Fira dan Henry.
"Papa dan Mama pergi dulu, ya. Nurut sama Kakek, Nenek, Oma, Opa dan Tante-tante," ucap Henry.
"Baik, Papa. Papa dan Mama hati-hati di perjalanan," ucap Zayn, Zema dan Alira.
__ADS_1
"Insyaallah," ucap Henry dan Fira.
Sekarang Henry dan Fira sungkem kepada orangtuanya. Keduanya mencium satu per satu punggung tangan Lee Hyun Joong, Intan, Fatih dan Ratih penuh hormat. Orangtua keduanya juga membelai kepala kedua anaknya yang baru menikah ini.
"Kalau sudah sampai ke Kanada, kabari kami, ya," ucap Ratih.
"Hati-hati di jalan, putra dan menantuku. Iya, benar kata Bu Ratih, itu wajib banget kasih kabar ke kami. Selain kami bisa tenang, anak-anak juga tenang," ucap Intan.
"Insyaallah, Mam, Bu," ucap Henry dan Fira.
"Mudah-mudahan sepulang dari Kanada, Henry dan Fira segera diberi momongan, ya, Bu Intan," ucap Ratih.
"Iya, ya, Bu. Saya juga berdoa supaya Fira segera isi," ucap Intan.
"Ehem, untuk saat ini, Henry dan Fira ingin pacaran dulu. Kami sih enggak menunda, kalau dikasih cepat sama Allah berupa momongan, alhamdulilah. Kalau belum, juga kami tetap berusaha," jelas Henry hingga tersipu-sipu.
"Ibu-ibunya ini gimana sih? Wong Bapak aja santai kok. Benar, biarkan Henry dan Fira menikmati masa pacaran saat menikah. Bener enggak, Pak Lee?" sela Fatih lantas menoleh ke Lee Hyun Joong, besannya. Lee Hyun Joong hanya tersenyum seraya mengangguk.
Ratih menyenggol siku Fatih. "Ya, enggak ada salahnya, to, Pak, kalau kami mengharapkan cucu lagi."
Henry lagi-lagi berdehem. "Kalau begitu Henry dan Fira pergi dulu, ya, Pak, Bu, Mam, Pap."
"Kami pamit dulu, Pak, Bu, Mam, Pap. Assalamu'alaikum." Fira tersipu-sipu sambil mengangguk penuh hormat.
Henry dan Fira celingukan seakan mencari sesuatu yang kurang. Ketika Henry dan Fira hendak melangkah, dari belakang Bryan berlari hingga napasnya terengah-engah.
Bryan berlari sambil membawa tiga koper besar. Henry, Fira dan keluarganya lantas menoleh ke Bryan. Ternyata yang membuat Henry dan Fira celingukan adalah menunggu kehadiran Bryan.
"Dasar pengantin baru, bisa-bisanya menyuruh joim alias jomlo imut kayak aku ini geret tiga koper besar gini. Capek, wei!" protes Bryan.
"Salahmu dewe. Wis risiko kamu melu dua Kakakmu ini," sindir Fatih. (Salahmu sendiri. Udah risiko kamu ikut dua Kakakmu ini.)
"Wislah, Pak. Biarkan Bryan berkelana mencari cinta, hehehe," sindir Ratih.
"Pokoke nek patah hati sebab ditolak cintane karo wong wadon kae, ojo goleki Bapak, Bry. Lah, wong udah dinasihati wong tuwo, malah nekat nyusul gadis itu." (Pokoknya kalau patah hati sebab ditolak cintanya sama perempuan itu, jangan cari Bapak, Bry. Lah, orang udah dinasihati orangtua, justru menyusul gadis itu.)
Bryan menggaruk tengkuk. "Namanya juga usaha, Pak, hehehe."
Ternyata bukan hanya Henry dan Fira yang hendak berangkat ke Kanada, Bryan juga turut serta ke sana. Bryan bertekad untuk menemui Anna, gadis yang disukainya. Kini mereka bertiga melanjutkan langkahnya menuju ke lapangan landas.
Henry dan Fira berjalan leha-leha dan saling bergandengan. Sedangkan mirisnya Bryan yang berada di belakang Henry, mukanya tertekuk melihat kemesraan kedua kakaknya itu. Agaknya ia geram dan terpaksa membawa tiga koper besar. Saking geramnya, sehingga headphone yang berkalung di leher Bryan jadi bergelayutan.
***
Perjalanan jauh dari Bandara Soekarno-Hatta menuju ke Bandara Pearson Kanada cukup memakan waktu dua puluh jam lebih. Waktu yang lama di pesawat tadi, membuat mereka bisa istirahat dalam pesawat dengan fasilitas kelas VIP.
Henry, Fira dan Bryan senang saat tiba di Bandara Pearson Kanada. Wajah mereka tampak semringah karena telah menginjak kaki di negara pecahan es ini. Namun di bulan Juli ini negara Kanada sedang mengalami musim panas.
Di tengah keramaian pengunjung bandara, Henry dan Fira menggeret koper masing-masing. Napas Bryan merasa lega dari beban yang dibawanya waktu di Bandara Soekarno-Hatta kemarin. Ia hanya menggeret koper miliknya sembari mendengarkan musik dengan headphone yang melekat pada kedua telinga.
Henry selalu menggandeng tangan Fira. Sementara Bryan yang berada di samping Henry, hanya bisa mendengus melihat kemesraan Fira dan Henry. Pria lajang ini mencoba menepis rasa galaunya dengan bersiul.
"Yang bikin aku terkesima dengan Kanada ini adalah daun-daun kecokelatan," ucap Fira.
"Oh, itu belum musimnya. Nanti daun-daun cokelat itu akan berguguran, kalau enggak salah antara bulan Agustus atau September gitu," jelas Henry.
"Aku ingin banget bermain dengan daun-daun itu. Ingin memotretnya, supaya kalau dipajang dalam feed IG jadi waw amazing!"
"Kamu suka sekali, ya, kalau diajak traveling."
"Suka banget, Henry. Aku suka terkagum-kagum melihat keindahan alam ciptaan Allah."
__ADS_1
"Terlihat jelas kalau kamu pecinta alam."
"Kalian enak bisa pacaran. Iya sih sambil urusan bisnis tapi juga honeymoon kan? Sedangkan aku? Dari Indonesia terus sampai ke Kanada, aku cuma jadi obat nyamuk di antara kalian. Baru kali ini aku enggak fokus main game gara-gara melihat kemesraan kalian," sela Bryan.
"Makanya nikah sama perempuan, Bry. Bukan pacaran melulu sama game, hahaha," seloroh Henry.
"Nanana, aku enggak denger. Kalau denger bikin aku makin ngenes dengan kejomloanku." Bryan lantas melengos. Henry pun tertawa melihat adik iparnya merajuk.
"Ciiyyee, nanana atau Anna itu?" goda Fira.
"Apa sih, Kak Fira? Wong aku lagi dengerin lagu kok," bantah Bryan.
"Dengerin lagu kangen sama Anna, hahaha." Rasanya Henry puas sekali menggoda Bryan yang tengah kasmaran ini.
"Terusin aja, Hen. Enggak sayang apa sama Adik iparmu ini?"
"Aku? Aku sayangnya sama Kakakmu ini."
"Kutek saku, Hen."
"Apa itu?"
"Kamu tega sekali sama aku."
"Oalah, hahaha, ada-ada saja bahasamu."
Ketika Henry, Fira dan Bryan asyik menikmati perjalanan di bandara ini, tiba-tiba seorang pria berperawakan tinggi besar menabrak bahu dan lengan kanan Fira. Untung saja Fira mampu menahan tubuhnya yang hampir terjatuh. Fira sontak terbelalak melihat sosok pria yang sangar itu. Begitu juga dengan Henry tidak kalah berangnya memandang pria berambut gondrong pirang itu.
"Hey, you are rude to have rudely brushed my wife's shoulder!" hardik Henry. (Hei, Anda tidak sopan telah kasar menyentuh bahu istriku!)
"Have I done something wrong to your wife?" tanyanya. (Apakah saya telah melakukan kesalahan kepada istri Anda?)
Namun pria berambut gondrong pirang justru menilik tajam ke Fira dan Henry dari balik kacamata hitamnya. Seakan pria itu tidak merasa bersalah karena telah menabrak bahu dan lengan Fira.
Tatkala Fira hendak memijat tangan kanannya. Sorotan mata yang mengenakan kacamata bening itu terbuka lebar. Dilihatnya tidak ada cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya. Fira menoleh ke pria sangar itu dengan tatapan tajam.
"You have stolen my wedding ring," tukas Fira. (Anda telah mencuri cincin pernikahan saya.)
"Alamak, kurang ajar kali kau ini, menuduh saya mencuri cincin Anda. Lihat ini tangan saya hanya memegang hp saja. Jangan asal menuduh, Nyonya," sanggahnya.
Henry, Fira dan Bryan tercengang saat mendengar ucapan pria sangar itu dengan logat melayu. Mereka tidak menyangka pria ini berparas orang kebaratan, tapi fasih berbahasa melayu.
"Wadaw, ini bule asli atau KW sih?" tanya Bryan.
Dengan lagaknya yang angkuh, pria itu membenahi jaket hitam yang mengkilap. "Ehem, perkenalkan saya Ammar Rahesa. Aktor hebat blasteran Kanada dan Medan. Idaman setiap wanita pastinya."
"Saya enggak butuh perkenalan Anda. Kembalikan cincin istri saya," geram Henry.
"Astaga, memang tampang keren sepertiku ini terlihat seperti pencuri? Jelas-jelas tampangku ini orang baik-baik, berwibawa dan profesional. Saya tidak mencuri cincin istri Anda!" geram Ammar.
"Mana ada maling mengaku maling," cibir Henry.
"Kalau Anda tetap menuduh saya dan tidak terbukti kebenarannya, Anda telah mencemarkan nama saya loh. Coba dilihat dulu di lantai, barangkali cincin jatuh."
Henry, Fira dan Bryan menunduk. Ternyata benar cincin pernikahan milik Fira terjatuh tepat di kaki Henry. Fira lantas menjongkok untuk mengambil cincinnya. Wanita ini terlanjur malu dan tidak berani menatap pria yang bernama Ammar itu. Sama halnya dengan Henry yang terlanjur menuduh Ammar telah mencuri cincin milik Fira.
"Maafkan saya dan istri saya karena sembarangan menuduh Anda," ucap Henry.
"Saya minta maaf atas sikap yang tidak mengenakan terhadap Anda," ucap Fira.
"Sebelum menuduh orang itu diselidiki dulu. Apa dia benar mencuri atau tidak? Jangan hanya terkesan dengan penampilan saya yang seperti berandal ini. Saya ini pria baik-baik, idaman para wanita. Sudahlah, ini membuang waktu saya. Kali ini saya maafkan kalian. Saya harap tidak bertemu kalian lagi." Ammar berjalan tegap meninggalkan Henry, Fira dan Bryan. Dicangklongnya ransel hitam bermuatan berat seraya mengibaskan jaketnya.
__ADS_1
Henry, Fira dan Bryan masih menatap pria itu. Mereka jadi terdiam dan koreksi diri atas kejadian tadi. Namun Henry melihat jika pria itu bukan orang sembarangan. Mencegah prasangka yang tidak-tidak soal pria tadi, Henry memutuskan untuk melanjutkan langkah bersama Fira dan Bryan. Henry, Fira dan Bryan celingukan mencari mobil untuk mengantarkan ke tempat tujuan mereka.