Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Hilangnya Henry


__ADS_3

Bagai sepasang merpati yang terbang bersama di angkasa biru, tapi seketika dipisahkan oleh terjangan badai. Tak ada sehelai sayap yang tertinggal dari keduanya. Seekor merpati tetap terbang dengan separuh napas yang ada, karena separuh napasnya lagi hilang entah ke mana? Raganya nyaris tersungkur seperti tak ada asa hidup. Apa yang lebih memilukan dari patah hati? Yakni kehilangan separuh hati.


***


"Oalah, nonton TV ini bikin bingung. Aku enggak ngerti bahasa di Kanada, emm," keluh Fatih.


"Ono opo, to, Pak? Tinggal nonton aja pakai ndumel," ucap Ratih membawa secangkir kopi untuk suaminya. (Ada apa sih, Pak? Tinggal nonton aja pakai mengeluh.)


Suasana malam selama di Kanada cukup menusuk tulang. Walaupun seisi rumah ada penghangat ruangan, tapi suhu dingin masih terasa. Ratih dan Fatih meski di dalam rumah tetap memakai sweater rajut supaya lebih hangat. Penampilan orangtua Fira itu terkesan kembali seperti muda.


Ratih duduk di samping suaminya dan melihat layar televisi, ternyata Fatih sedang menonton film. Wajar saja-- jika Fatih mengeluh, karena siaran televisi dari Kanada dengan bahasa sesuai negaranya. Bapak Fira itu tidak mengerti bahasa Inggris maupun Perancis. Ratih hanya geleng-geleng sembari tertawa kecil.


"Yo, piye? Selama nonton TV di sini, Bapak bisanya nonton tok. Lah, Bapak enggak ngerti bahasanya, Bu," ujar Fatih.


"Yowis, Pak, nonton berita Indonesia di Utube aja," usul Ratih.


"Enakkan nonton TV bisa leyeh-leyeh, Bu."


"Ibu jadi kepikiran Ressa dan Nina. Semoga dua anak itu enggak neko-neko pas enggak ada kita."


"Ibu udah telepon Bryan?" tanya Fatih.


Ratih menjawab, "udah, Pak. Di sana masih pagi. Ressa dan Nina udah berangkat ke sekolah. Bryan seperti biasa, berangkat ke kedai kopi. Tapi, ya itu, banyak tetangga yang nanyain kita."


"Kalau kita ada, kadang diomongin. Kalau kita enggak ada, malah dicari. Namanya juga tetangga."


"Tandanya masih ada yang perhatian sama kita, hehehe."


Di layar televisi itu menampilkan beragam iklan, kemudian setelahnya menampilkan breaking news atau berita terbaru secara tiba-tiba. Fatih dan Ratih fokus menatap layar televisi. Jika bersangkutan dengan berita, Fatih begitu serius menonton berita terkini, walaupun beliau tidak mengerti banyak tentang bahasa Inggris.


Yang lebih mengejutkan Fatih dan Ratih adalah ketika pembawa acara berita itu menyebut nama Henry Lee sebagai pemilik perusahaan Excellent. Fira yang sedang berjalan seketika berhenti saat mendengar nama suaminya disebut dalam berita di televisi.


Fira sontak terkejut melihat berita tentang Henry. Pandangannya berkaca-kaca sampai berderai air mata. Ia seketika jadi panik dan cemas. Sekujur tubuhnya jadi pana-dingin dan gemetaran. Fira mengerti bahasa yang dibawakan oleh pembawa acara berita tersebut.


"Henry!" jerit Fira.


Fatih dan Ratih lantas menoleh ke belakang. Beliau terkesiap melihat putrinya berdiri hingga gemetaran. Ratih bergegas menghampiri Fira. Fira menyentuh dada, berharap berita itu hanya sebuah mimpi buruk belaka. Namun wanita itu mencubit lengan agar memastikan jika ini hanyalah mimpi. Ternyata berita tentang Henry itu nyata. Lutut Fira sontak terkulai lemas. Tangisannya tak dapat terbendung sampai menyesakkan dada.


"Henry masuk ke dalam berita. Memang berita tentang apa, Nduk? Soalnya Bapak-Ibu enggak mengerti bahasa Inggris," ucap Ratih sigap memeluk putri sulungnya itu.


"Ya Allah, kenapa kejadian terulang kembali meski berbeda cerita? Hamba enggak sanggup jika harus kehilangan suami untuk kedua kalinya," batin Fira.


Tangis Fira semakin jadi histeris. Fatih pun cekatan memeluk putrinya. Fatih dan Ratih saling menatap kebingungan-- berharap Fira menceritakan berita tentang Henry. Namun Fira masih tenggelam dalam duka yang menusuk relung hati.


"Fira, bilang ke Bapak. Ada apa sebenarnya? Berita itu menyampaikan apa?" ucap Fatih penasaran.


"Tenangkan dirimu, Nduk. Ceritakan sama Bapak dan Ibu," ucap Ratih secara hati-hati.


"Di berita itu ngabarin kalau Henry hilang. Itu ada Raditya dan manajer Henry, mereka menemukan barang Henry di toilet bandara. Jadi, Henry menghilang sewaktu di toilet bandara. Belum dipastikan Henry ke mana? Firasat Fira dari kemarin selalu enggak enak. Kenapa terjadi lagi? Fira enggak siap kehilangan suami untuk kedua kalinya," jelas Fira bersuara lantang dan menceritakan tentang berita itu membuat hatinya kian pilu.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un," kata Fatih dan Ratih secara bersamaan. Beliau berdua masih tidak percaya jika menantunya menghilang di bandara.


"Papa!" pekik Zayn, Zema dan Alira. Tiga anak itu turut menangis melihat sang mama histeris.


Fira bangkit dari tempat, kemudian bergegas menghampiri tiga anaknya. Dipeluknya erat Zayn, Zema dan Alira. Sudah pasti jika tiga anak itu sangat terkejut mendengar kabar sedih dari papanya. Fira dan tiga anaknya tenggelam dalam tangis. Saking histerisnya, membuat Fira terkulai lemas dan nyaris pingsan.


"Lefia, Irwan! Cepat ke mari!" perintah Fatih.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" tanya Irwan.


"Bawa putri saya ke rumah sakit segera," jawab Fatih.


"Baik, Pak."


"Ya Allah, Bu Fira ada apa, Bu?" tanya Lefia kepada Ratih.


"Fira shock karena berita Henry menghilang di bandara. Ayo, Lef, kamu dan Pak Irwan angkat Fira ke dalam mobil. Biar saya yang menjaga anak-anak," jelas Ratih.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un. Nggeh, Bu."


Lefia, Irwan dan Fatih menggendong Fira untuk dibawa ke mobil. Ratih bergegas ke kamar untuk mengambil tas dan gawai. Wanita paruh baya itu berlari sembari membawa tiga cucunya menuju ke luar rumah. Untung saja, mobil belum dimasukkan ke dalam garasi. Irwan lantas menyalakan remote mobil untuk membuka kunci. Ratih bergegas membuka pintu mobil supaya Fira dapat masuk ke dalam mobil.


Ratih membuka pintu belakang mobil. Zayn, Zema dan Alira masuk ke dalam mobil melalui pintu belakang. Nenek Zayn itu lantas bergegas ke jok tengah untuk menemani Lefia yang sedang memangku Fira. Sedangkan Fatih dan Irwan berada di jok depan memantau perjalanan. Irwan mengemudi mobil hingga menyusuri sepanjang jalan yang dihujani daun-daun kecokelatan.


***


"Henry, Henry! Jangan tinggalkan aku!" jerit Fira.


Fira telah siuman di ruang pemeriksaan Rumah Sakit Umum Toronto. Keadaannya bukan semakin membaik, justru Fira kian histeris. Ia tidak peduli dengan dokter dan perawat yang memeriksanya. Dipikirannya saat ini adalah ada kabar baik dari suami tercinta.


Hati Fira terpukul atas kehilangan Henry. Separuh napasnya hilang entah ke mana? Rasanya tidak semangat untuk hidup. Peristiwa tragis yang dulu dialami Kirsandi masih membayangi Fira, ditambah kejadian menyedihkan tentang hilangnya Henry. Betapa berat ujian yang menerpa Fira saat ini.


Dua dokter berusaha memeriksa dan menenangkan Fira. Salah satunya, dokter kandungan yang pernah memeriksa Fira. Beberapa perawat bekerjasama memasang infus dan selang pernapasan untuk Fira. Sementara Fira terus memberontak dan bersikeras untuk mencari Henry.


Ketika seorang perawat membawakan segelas air putih untuk Fira, justru ia melemparkan gelas hingga pecah di lantai. Kini jiwa Fira sedang tergoncang karena belahan jiwanya lenyap bagai ditelan bumi. Dua perawat membaringkan Fira di kasur, tapi Fira terus berderai air mata.


"Madam Fira, listen to me. You are pregnant. Think of the baby in your womb," kata Dokter Michael. (Bu Fira, dengarkan saya. Anda sedang hamil. Pikirankan bayi di dalam kandungan Anda.)


"Aarrgghh, my husband! Did they make a lie about my husband?" pekik Fira. (Aarrgghh, suamiku! Apa mereka berbohong tentang suamiku?)


"Kenapa kejadian yang mengiris hati ini terulang kembali? Ya Allah, hamba enggak sanggup hidup kalau begini ujiannya. Mas Kirsandi. Henry. Kenapa? Kenapa?" teriak Fira.


"Please, listen to me! Have mercy on your child in the womb. I know you're ruined. I want you to calm down so you don't miscarry," tegas Dokter Michael. (Tolong, dengarkan saya! Kasihanilah anak Anda di dalam kandungan. Saya tahu Anda hancur. Saya ingin Anda tenang agar tidak keguguran.)


"Please, call this Madam's parents," perintah dokter lain kepada perawat. (Tolong, panggilkan orangtua Nyonya ini.)


Dua perawat itu berlari menuju ke luar ruang pemeriksaan. Mereka menemui orangtua Fira. Di sana Zayn, Zema dan Alira menangis karena kondisi sang mama sekaligus berita kehilangan papanya. Lefia dan Irwan selalu memeluk tiga anak bosnya.


Dua perawat menjelaskan kondisi Fira saat ini. Mereka mengajak Fatih dan Ratih masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Zayn ingin ikut masuk, tapi dilarang oleh salah satu perawat. Zayn menangis sembari menyebut mamanya. Anak sepuluh tahun itu mulai membuka kembali trauma dengan keadaan berat seperti ini.


Zayn merasa pusing jadi ingat kejadian wafat sang ayahnya akibat kecelakaan mobil dan truk. Ia ingat kembali ketika Fira mengalami koma akibat tertabrak mobil di Malaysia. Walaupun Zayn pada saat itu masih berusia lima tahun lebih, tapi ia ingat semuanya. Sekarang ia harus di hadapi lagi dengan peristiwa mengejutkan, yakni hilangnya sang papa secara misterius.


"Mas Zayn, istirahat dulu, sini," ucap Lefia menawarkan Zayn untuk duduk di kursi.


"Kenapa keluarga Zayn seperti ini, Mbak Lef?" ujar Zayn.


"Ini ujian dari Allah. Mas Zayn harus kuat biar bisa jagain adik-adik."


"Zayn ingat waktu Ayah meninggal. Zayn ingat waktu Mama koma. Sekarang, Zayn jadi takut mendengar kabar Papa. Zayn takut kalau Papa sama kayak Ayah. Zayn udah kehilangan Ayah, Zayn enggak mau kehilangan Mama dan Papa."


Lefia memeluk erat putra sulung Fira. "Mas Zayn banyak berdoa aja, ya. Dik Zema dan Alira juga ikut berdoa biar Papa kembali bersama kita."


Melihat wajah sang kakak yang pucat dan tubuhnya gemetaran, Zema dan Alira memeluk erat Zayn. Hanya ikatan saudara sedarah yang mampu memberikan ketenangan dan membangkitkan energi.


"Kak Zayn enggak boleh sakit. Nanti Zema dan Alira enggak ada temennya. Zema dan Alira juga sedih dan sakit melihat Mama, apalagi Papa hilang," lirih Zema.

__ADS_1


"Kalian anak sholih dan sholihah, banyak berdoa untuk Mama dan Papa. InsyaAllah, kekuatan doa anak sholih dan sholihah cepat diijabah oleh Allah," tutur Lefia.


Zayn hanyut dalam pelukan dua adiknya kemudian membatin, "ya Allah, berikanlah kami jalan yang terbaik. Lindungilah keluarga Zayn dari penjahat yang akan menghancurkan keluarga Zayn. Zayn bertekad, siapapun yang tega menghancurkan keluarga Zayn, Zayn enggak akan memaafkan mereka!"


***


Raditya bersama tim berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Di belakang mereka, ada seorang pria dan wanita yang juga ikut berlari. Mereka tidak peduli jadi sorotan mata orang di sekitar. Raditya seketika melihat Zayn, Zema dan Alira duduk bersama Lefia dan Irwan. Pria berambut cepak itu mengarahkan teman-teman untuk mengikutinya.


Lefia dan Irwan terkejut dengan kehadiran sekelompok orang. Begitu juga dengan Zayn, Zema dan Alira yang belum mengenali orang-orang tersebut. Namun seorang wanita berhijab syar'i itu lantas memeluk tiga anak Fira, seakan ia juga merasakan apa yang dirasakan tiga anak tersebut.


"Saya Om Raditya, temannya Papa. Kalian jangan takut," ucap Raditya, "ini timnya Papa, pengacara Papa dan istrinya Pak pengacara."


"Ini Tante Citra, sahabat Mama kamu. Kalian jangan khawatir, kami bersama kalian," ujar Citra. Salah satu wanita yang menjadi sahabat Fira selain Khalifah, Velia dan Medina.


"Zayn minta tolong ke Om dan Tante buat menemukan Papa. Papa di mana?" kata Zayn tampak memelas.


"Tenang saja, Om Fairuz Reza Gibran ini bakal mengurus tuntas kasus hilangnya Papamu," ucap Raditya menunjukkan seorang pria yang berprofesi sebagai pengacara pribadi Henry. Reza juga merupakan suami dari Citra.


"Ya Allah, berikanlah kekuatan untuk keluarga ini yang sedang diterpa ujian," gumam Lefia.


Dering gawai Raditya berbunyi dari dalam saku celana. Raditya lantas mengambil gawai dan melihat layar gawai ada panggilan masuk dari Kim Jae Young. Raditya cepat-cepat mengangkat telepon dari Kim Jae Young.


"Halo, Jae," kata Raditya.


"Halo, Raditya. Berita tentang Henry hilang sudah mencuat di Indonesia dan Korea Selatan. Apa tidak ada yang bisa menemukan Henry di sana?" ujar Kim Jae Young.


"Kami baru curiga setelah setengah jam Henry enggak kembali di ruang tunggu bandara. Aku dan tim menyusul Henry ke toilet bandara, tapi dia tidak ada di sana. Yang kami temukan hanya barang-barang yang dibawa Henry. Dia meninggalkan tas, dompet dan HP," jelas Raditya.


"Sepertinya ada motif penculikan Henry. Tidak mungkin kalau Henry menghilang begitu saja."


"Apa kamu sudah menghubungi keluarga Henry?"


"Sudah, orangtua Henry terkejut mendengar kabar itu. Termasuk Om Lee. Beruntung, Om Lee tidak terkena serangan jantung. Segara mungkin-- kami berangkat ke Kanada," jawab Kim Jae Young.


"Kita harus punya cara untuk menuntaskan kasus ini. Kita butuh bantuan tim detektif."


"Aku dan Naomi juga berusaha bekerjasama dengan polisi di Indonesia dan Korea Selatan."


"Itu lebih baik."


Raditya mengakhiri percakapan dengan Kim Jae Young. Ratih dan Fatih keluar dari ruang pemeriksaan. Orangtua Fira yang masih lemas itu terkesiap dengan kehadiran sekelompok orang. Raditya memperkenalkan diri dan teman-teman kepada orangtua Fira.


"Bagaimana bisa Henry hilang?" tanya Fatih.


"Kami tidak tahu, Pak. Setelah ada wawancara dengan wartawan di bandara, Henry izin buang air kecil di toilet bandara. Padahal waktu penerbangan akan segera berangkat. Setelah setengah jam Henry tidak muncul, kami menyusul Henry ke toilet. Ternyata Henry tidak ada di sana. Yang kami temukan hanya tas, dompet dan HP Henry," jawab Raditya secara gamblang dan menyerahkan barang-barang milik Henry kepada Fatih.


"Ya Allah, apa yang terjadi kepada menantuku?" gumam Fatih.


"Kami akan berusaha menyelidiki kasus ini. Dugaan kuat sepertinya ini motif penculikan. Atau ada konspirasi yang terlibat dalam konflik ini? Kami juga butuh Bu Fira, barangkali beliau tahu soal masalah lain tentang Henry," kata Reza.


Irwan hati-hati menonjolkan diri. Ia setengah membungkuk sebagai rasa hormat. "Maaf, saya mencela. Yang saya tahu sewaktu Pak Henry berkelahi dengan seseorang, itu kejadiannya sudah lama, waktu di Semarang."


"Seorang siapa?" tanya Reza.


"Orang itu tidak terima kalau Bu Fira tidak hadir di pernikahan saudaranya. Pak Fatih pasti kenal orangnya. Di sana Pak Henry dan orang itu bertengkar hebat," jawab Irwan.


Fatih lantas tercengang. "Astagfirullah, masa Rafi?"

__ADS_1


Reza menepuk bahu Irwan. "Oke, kalau begitu Anda juga akan ditetapkan sebagai saksi. Ini bisa jadi salah satu bukti. Kita akan cari sosok Rafi."


__ADS_2