
Embun pagi menyeruak hingga ke teras rumah Fira. Sembari menikmati udara segar di pagi hari, Fira duduk di kursi memandang pekarangan rumahnya. Di sampingnya ada meja yang di atasnya terdapat secangkir sereal vanila hangat dan gawai Apel-Phone.
Kacamata bening yang bertengger di matanya, celingukan, seakan ia sedang menanti kedatangan seseorang di rumahnya. Baru pertama kali Fira akan bertemu dengan seorang wanita yang dinikahi mendiang Kirsandi kedua kalinya. Ya, wanita itu akan segera ke mari.
Dering gawai Fira berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Fira tidak langsung melihat layar gawai. Tatapannya datar ke pekarangan rumah. Justru jemarinya sigap menekan tombol menerima panggilan.
"Assalamu'alaikum, Anda sampai mana?" kata Fira datar.
"Wa'alaikumsalam, sampai mana? Maksudnya gimana, Fir? Ini aku Medina!" kata Medina.
Fira sigap melihat layar gawai, ternyata benar Medina sedang menghubunginya. Fira mengembuskan napas, merasa malu karena salah orang. Fira berpikir yang menelepon itu adalah wanita yang pernah menjadi istri kedua Kirsandi.
"Astaghfirullah, maafkan aku, Medina. Aku kira siapa tadi?" Fira menepuk kening.
"Hayo, lagi nunggu siapa tuh? Henry, ya," seloroh Medina.
"Hahaha, bukan! Aku sedang menunggu istri kedua Mas Kirsandi."
"Loh, kok bisa? Baru bertemu sekarang?"
"Dianya yang tiba-tiba telepon aku tadi malam. Katanya sih mau ke rumahku. Aku juga heran kenapa itu orang baru menunjukkan diri sekarang? Aneh!"
"Barangkali dia mau minta maaf sama kamu, Fir. Mungkin punya nyalinya baru sekarang."
"Ya, semoga saja."
"Gimana kabarmu? Kangen, loh, udah lama enggak ketemu."
"Alhamdulillah, aku sehat. Nanti, ya, aku mau kasih surprise ke kamu, Velia dan Khalifah biar kita bisa ketemu."
"Dasar tukang surprise, hahaha!"
"Woh, iya, dong. By the way, gimana kabarmu dan si kembar?"
"Alhamdulillah, kami juga sehat. Tuh, Mikayla dan Maysha sedang siap-siap untuk berangkat ke sekolah."
Sambil menelepon Medina, diambilnya cangkir yang berisi sereal vanila itu. Sejenak Fira meminum seteguk sereal vanila hangat. Ditaruh kembali cangkir itu di atas meja.
"Oh, iya. Enggak terasa, ya, anak-anak kita sudah besar, hehehe," ucap Fira.
"Hehehe, iya, ya. Kitanya juga semakin tua," ucap Medina.
"Enggak, ah! Kita semakin awet enom, hahaha!"
"Dasar buk Ibuk menolak tua, yee."
"Memang nyatanya masih awet enom, yee."
"Beneran loh ini, aku kangen sama kamu, Velia dan Khalifah. Mungkin mereka juga pada sibuk sama rumah tangganya, ya."
"Sepertinya begitu. Mbok, ya, sekali-kali kamu yang ke Semarang!"
__ADS_1
"Pengennya sih--- tapi Mas Ardian belum ada agenda libur. Sibuk terus dia ngurus perusahaan Ayo-Car dan Ayo-Jek."
"Ya, sabar. Sibuk begitu juga untuk keluarga juga."
"Iya, sih."
Saking asyiknya mengobrol dengan Medina melalui telepon, Fira tidak sadar jika seorang wanita yang ditunggunya sudah datang di teras. Wanita berpakaian gamis dan jilbab cokelat muda itu tidak datang sendiri. Ia bersama anak perempuan yang usianya sebaya dengan Zema, putra kedua Fira. Pakaian ibu dan anak ini tampak serasi.
***
Ketika Fira menoleh ke sosok wanita dan anak perempuan, Fira sontak terperanjat. Paras ayu wanita itu identik seperti wanita yang berasal dari timur tengah. Sepertinya usia wanita ini lebih muda sedikit dari Fira. Fira lantas menoleh ke anak perempuan yang wajahnya perpaduan antara wanita itu dengan Kirsandi. Hampir mirip dengan Zema, putranya.
"Assalamu'alaikum, Mbak Fira," sapa wanita itu.
"Medina, nanti kita telepon lagi. Aku sedang ada tamu," ucap Fira kepada Medina melalui telepon. Dimatikannya percakapan telepon tersebut.
Fira lantas berdiri sembari merapikan tunik. "Wa'alaikumsalam, mari silakan masuk."
"Ini Mama tiri Alira, ya, Bunda?" kata anak perempuan bersuara imut itu. Ia menatap Fira dengan saksama.
Wanita itu lantas mengangguk. Sementara Fira melirik ke anak perempuan itu, seakan Fira keberatan dipanggil mama tiri oleh anak perempuan itu. Mereka sudah di ruang tamu, Fira mempersilakan dua tamunya itu duduk di sofa. Ibu dan anak perempuannya ini sangat sungkan berhadapan dengan Fira. Jika dilihat aura Fira tampak bersahaja tapi elegan.
"Perkenalkan saya Sabrina Khairunnisa. Saya pernah menikah dengan Mas Kirsandi dan ini putri saya namanya Alira Sabrina. Putrinya mendiang Mas Kirsandi juga," ucapnya.
"Astaghfirullah, Fira! Benarkah dia istri kedua Kirsandi?" Tiba-tiba Ratih datang di tengah-tengah mereka. Beliau bergegas ke ruang tamu untuk menemui wanita dan anak perempuan itu.
"Aduh, kayaknya bakal ruwet urusannya. Apalagi kalau Zayn dan Zema sampai tahu," batin Fira sembari memijat kening.
Ketika Ratih duduk di samping Fira, justru Sabrina bertekuk lutut di hadapan Fira dan Ratih. Ia menunduk sambil menangis terisak-isak. Wanita ini telah merasa bersalah pernah mengganggu biduk rumah tangga Fira dan Kirsandi. Memang benar, penyesalan selalu datang belakangan.
Wanita itu membuka tas dan menyodorkan sebuah foto pernikahannya dengan Kirsandi. Fira dan Ratih terkejut melihat foto Sabrina berbalut kebaya dan belum berhijab dengan Kirsandi tampak gagah mengenakan jas ala kadarnya. Pernikahan secara siri yang sederhana dilakukan di sepetak ruang. Fira sudah biasa saja melihat foto tersebut, tidak merasakan sakit lagi, karena baginya, yang lalu telah lewat.
"Itu sudah lampau, Nak. Lagi pula kami juga mengikhlaskan semuanya," ungkap Ratih.
"Kenapa kamu baru datang sekarang? Bukan dari dulu-dulu datang. Apalagi waktu Mas Kirsandi telah tiada," sela Fira.
"Saya tahu dulu Mas Kirsandi telah tiada, saya juga datang ke makam Mas Kirsandi. Tapi, saat enggak ada kalian, saat itu saya belum punya nyali untuk bertemu dengan kalian. Saya takut di-bully karena telah merebut suami orang," jelas Sabrina.
"Justru dulu lebih menderita saya, karena sudah enggak berdaya menghadapi prahara rumah tangga bersama Mas Kirsandi. Belum lagi melunasi utang Mas Kirsandi. Selama Mas Kirsandi nikah sama saya, pengeluaran enggak sebanyak itu. Aneh aja gitu. Astaghfirullah, aku geram!" Fira lantas melengos sembari menahan emosi.
"Fira--- sudah, jangan buat dia tertekan! Dia ini kan datang untuk minta maaf. Ikhlaskan yang telah lalu," tegur Ratih.
"Fira sudah menduga pengeluaran sebanyak itu--- sampai Mas Kirsandi punya banyak utang itu pasti karena adanya dia ini!"
"Maafkan saya, memang saya banyak salah. Dulu memang saya banyak menuntut Mas Kirsandi supaya saya lebih diperhatikan Mas Kirsandi. Saya dulu cemburu jika Mas Kirsandi perhatian lebih pada Mbak Fira," jelas Sabrina.
Tidak tega melihat ibunya menangis terisak-isak, anak perempuan itu lantas memeluk ibunya. Sabrina membalas pelukan Alira, putrinya. Fira agaknya keberatan jika melihat anak perempuan hasil pernikahan mendiang suaminya dengan Sabrina itu.
"Mas Kirsandi pernah bilang ke saya sebelum kecelakaan, kalau istri keduanya hanya ingin hartanya saja," ucap Fira.
"Iya, saya tertarik pada Mas Kirsandi berawal dari materinya yang mapan. Kami dulu bertemu di sebuah restoran, awalnya kami hanya rekan kerja saja. Tapi, makin ke sini kami saling tertarik. Mas Kirsandi pernah bilang ke saya untuk dijadikan istri kedua. Tapi, sepertinya Mbak Fira tidak mengizinkan, akhirnya Mas Kirsandi memilih menikahi saya secara siri," jelas Sabrina lagi.
__ADS_1
"Astaghfirullah!" Fira mendengus.
***
"Mbak Fira, apa Mbak masih ingat waktu dulu di Mal Karawang? Mbak Fira yang menemukan putri saya. Saya pernah bertemu dengan Mbak Fira. Cuma Mbak Fira sepertinya sibuk dengan temannya," ucap Sabrina.
Fira jadi ingat sewaktu dulu ia dan Naomi berada di Mal Karawang. Waktu itu Fira dan Naomi sedang berbelanja sekaligus membeli kado untuk Khalifah dan Velia di acara bridal shower. Fira dan Naomi juga pernah menemukan balita perempuan seusia Zema, berjalan tanpa tujuan. Fira pernah menegur ibunya untuk menjaga balita perempuan itu. Ibu dan anak perempuan ini tepat di hadapannya.
"Tidak salah lagi perkiraanku waktu itu, wajah balita perempuan itu hampir mirip Zema. Ternyata anak ini adalah adik tiri Zayn dan Zema," batin Fira.
"Mbak Fira dan Ibu, mohon maaf sebanyak-banyaknya. Saya akan bayar lunas utang yang telah ditanggung oleh Mbak Fira, karena saya enggak pengen meninggal dalam keadaan utang," ungkap Sabrina.
"Apa maksudmu?" Fira mengernyit dahi.
"Sebenarnya saya punya penyakit leukimia. Dokter mendiagnosis usia saya enggak akan lama lagi. Saya sungkan jika harus menitipkan Alira ke Mbak Fira. Tapi, saya bingung! Keluarga saya enggak menerima Alira."
"Zayn enggak akan menerima punya Ibu tiri, apalagi Adik tiri seperti dia!" hardik Zayn.
Fira, Ratih dan Sabrina terkesiap mendengar pernyataan Zayn begitu lantang. Ternyata anak laki-laki itu sudah berdiri di belakang mereka. Tatapan Zayn seolah ada kebencian terhadap ibu dan adik tirinya. Baginya, Sabrina dan Alira adalah perusak keharmonisan keluarganya di masa lalu.
"Zayn!" Fira dan Ratih semakin tertegun.
"Enak banget anak itu harus tinggal bersama kita! Oh, jangan-jangan, gara-gara tante ini--- penyebab Ayah selalu kasar dan nyakitin Mama! Zayn enggak sebodoh itu," tegas Zayn.
"Zayn, itu enggak sopan!" tegur Ratih.
Zayn pergi berlalu sambil mengentakkan kaki. Anak laki-laki itu masuk ke dalam kamar. Seketika Zayn membanting pintu kamar dengan kasar. Ia benar-benar marah dengan kehadiran Sabrina dan Alira. Fira dan Ratih hanya bisa mengelus dada. Sabrina terdiam dan masih memeluk putrinya.
"Kalau anakmu tinggal di sini. Terus, kamu mau ke mana?" ucap Fira.
"Saya tinggal di sebuah kost. Sekarang saya hanya kerja di Restoran Jadi Singgah," ucap Sabrina.
"Restoran Jadi Singgah?" tanya Fira kemudian mengangkat kedua bahu Sabrina, agar Sabrina duduk di sampingnya. "Saya juga dulu kerja di sana, udah lama enggak pernah ke sana. Apa di sana masih ada Mbak Fani? Dulu saya asisten manajernya."
"Enggak ada, saya juga di sana hanya pelayan."
"Oh, gitu."
"Nak Sabrina, tinggallah bersama kami di sini. Urusan Zayn, nanti saya bisa atasi," sela Ratih.
"Tapi, Bu, saya enggak pantas di sini," ucap Sabrina.
"Enggak apa-apa tinggal di sini. Kamu dan Alira berada di kamar bersama Lefia. Biar Lefia ada temannya. Lefia itu asisten pribadi keluarga kami."
"Ya, kalau Ibu bilang begitu, saya enggak bisa apa-apa. Walaupun jujur, saya masih keberatan dengan kehadiran kamu dan anakmu itu," kata Fira.
"Fira, enggak ada salahnya kita menolong Sabrina dan Alira. Walaupun Sabrina pernah salah padamu di masa lalu. Sekarang status kalian sama-sama janda. Pikirkan, Sabrina dan Alira juga perempuan. Dunia luar keras, baiknya kita kasih tempat yang layak untuk mereka," jelas Ratih.
"Saya mohon bimbingannya. Saya bersungguh-sungguh ingin bertaubat. Hidup saya sudah penuh dosa." Sabrina semakin terisak.
"Insyaallah, kita di sini saling berbenah diri karena Allah, ya." Ratih mengusap punggung Sabrina supaya dapat menenangkan Sabrina.
__ADS_1
Fira diam sambil melihat Sabrina, Alira dan Ratih saling berpelukan. Jika melihat Alira yang lesu dan polos itu, hati Fira jadi tidak tega. Fira termenung, betapa bersyukurnya ia, Zayn dan Zema masih dalam hidup layak.
Fira membatin seraya mengiba saat melihat paras Alira. "Alira masih anak-anak. Dia enggak berdosa dan enggak tahu apa-apa tentang masalah orangtuanya. Sepertinya aku harus belajar menerima Alira sebagai putriku sendiri."