
"Maaf, Bu, Pak, saya enggak bisa ikut ke Istana Gyeongbok, saya lagi enggak enak badan," ucap Lefia.
"Saya juga, soalnya ingin menemani Dik Lefia," ucap Irwan.
"Enggak apa-apa, Lef, Pak Irwan. Nanti saya hubungi dokter keluarga untuk memeriksa kamu di sini," ucap Henry.
"Terima kasih, Pak Henry."
"Kamu istirahat saja, Lef---atau jangan-jangan kamu lagi isi, ya?" ucap Fira.
"Enggak isi, Bu, hehehe. Wong saya lagi halangan," ucap Lefia.
"Berarti masuk angin atau kecapekan. Ya, sudah, kamu istirahat di kamar. Pak Irwan juga jangan sungkan-sungkan ambil makanan di dapur, ya."
"Baik, Bu."
Irwan menuntun Lefia jalan hingga menaiki anak tangga. Sementara Henry dan Fira melangkah pergi menuju ke luar rumah. Penampilan Henry dan Fira serasi dan santai. Tubuh atletis Henry dengan balutan kaos putih polos dipadukan dengan kemeja panjang berwarna cokelat muda. Fira tampak muda berbalut kemeja panjang untuk wanita. Jilbab berbentuk segitiga berwarna cokelat tua yang dikenakan Fira hingga menjulur ke dada.
Di depan rumah sudah tersedia mobil Eundai yang disiapkan oleh Irwan. Zayn, Zema dan Alira menunggu kedua orangtuanya di dalam mobil putih tersebut. Henry dan Fira bergegas masuk ke dalam mobil. Fira lantas memangku tas. Henry menaruh gawai di kotak khusus gawai yang tersedia di dalam mobil. Sementara tiga anak itu asyik menonton kartun di televisi yang menempel di belakang kursi. Mereka duduk di jok tengah.
"Astaghfirullah, aku lupa," ucap Henry seraya menepuk dahi.
"Lupa apa?" tanya Fira.
"Powerbank hpku ada di kamar," jawab Henry.
"Aku ambil, ya." Fira menawarkan bantuan kepada Henry.
"Enggak usah, aku aja yang ambil. Sebentar, ya, anak-anak, Papa ambil powerbank dulu di kamar."
"Iya, Papa," ucap ketiga anak tersebut secara bersamaan.
Henry ke luar dari mobil. Seraya menunggu Henry mengambil powerbank di kamar, Fira berkaca di cermin bedak sambil merapikan jilbab dan riasan wajah. Sejenak ia pandangi Zayn, Zema dan Alira yang sedang fokus pada layar televisi kecil tersebut.
Uniknya, ketiga anak itu juga kompak memakai kemeja panjang cokelat muda. Yang merencanakan penampilan mereka hari ini adalah sang mama. Ditambah Alira yang cantik mengenakan balutan hijab.
Ketika Fira kembali bercermin, getaran gawai Henry berbunyi. Wanita dengan lensa mata cokelat itu menoleh gawai milik suaminya. Layar gawai itu berkedip-kedip, pertanda ada pesan masuk. Mulanya Fira acuh tak acuh karena ia berpikir pesan masuk itu dari operator. Namun layar gawai Apelphone milik Henry masih berkedip. Jemarinya pun memberanikan diri membuka pesan masuk itu.
Fira terkejut bukan main saat melihat isi pesan masuk itu. Dua tangannya sontak gemetaran. Yang menjadikannya penasaran selama ini, sekarang terjawab sudah. Fira tidak menyangka pesan masuk itu dari seorang dokter psikolog bernama Randy Aditama.
0821*******
[Assalamu'alaikum, Pak Henry, ini saya Dokter Randy Aditama. Mohon maaf, saya pakai nomor hp istri saya, Sarah. Soalnya hp saya sedang dalam perbaikan. Saya ingin mengingatkan pada Pak Henry, soal kontrol psikologis Pak Henry. Pertemuan kita dimajukan saja, karena saya ingin mengantarkan keponakan saya, Carissa yang hendak sekolah di Kanada pada akhir bulan ini.]
"Sarah? Carissa? Bukankah itu adik dan putrinya Mas Adnan? Jadi, Dokter Randy ini suaminya Sarah? Aku harus simpan nomor Sarah. Maafkan aku, Henry," gumam Fira sembari sigap mencatat nomor telepon Sarah di gawainya.
__ADS_1
Setelah mencatat nomor telepon Sarah, Fira lantas meletakkan gawai Henry ke tempat semula. Hatinya berdebar-debar dan rasa penasaran kian bergejolak. Fira terdiam, tidak menyangka jika dokter psikolog itu adalah suami Sarah. Fira mengenal Sarah dan Carissa sewaktu Adnan memperkenalkannya di apartemen Singapura dahulu.
"Dunia begitu sempit. Sepertinya aku akan bertemu dengan Sarah dan Carissa. Dahulu, aku sempat menolak lamaran Mas Adnan. Semoga saja komunikasi dengan Sarah membuka rasa penasaranku tentang psikologis Henry. Kira-kira Sarah mau berkomunikasi denganku lagi, enggak, ya?" gumamnya lagi.
Lamunan Fira jadi buyar karena kedatangan Henry memasuki mobil. Fira tersenyum melihat Henry. Begitu juga dengan Henry yang membalas senyum sang istri. Fira berusaha bersikap biasa saja, seakan tidak terjadi apa-apa. Henry mengerutkan dahi melihat pesan masuk tadi. Degupan jantung Fira semakin menjadi, khawatir jika Henry mengetahui Fira yang membuka pesan masuk itu. Namun tampaknya Henry tidak mencurigainya.
Henry begitu serius membaca pesan tersebut. Sementara Fira, sebentar-sebentar melirik Henry kemudian bercermin kembali. Keringat dingin yang mengalir di kening Fira seakan sedang cemas. Berharap, tidak ada pertengkaran karena Fira merasa lancang membuka pesan tersebut.
"Hmm, gitu, to." Hanya itu yang keluar dari mulut Henry.
"Apanya yang gitu?" tanya Fira secara hati-hati.
"Eh, enggak apa-apa. Aku mau kirim pesan ke tim fotografer. Soalnya aku ingin pemotretan keluarga di Gyeongbok Palace," jawab Henry.
"Oh, oke," ucap Fira. Kemudian wanita itu bergumam, "lagi-lagi Henry enggak jujur sama aku. Sampai kapan kamu menyembunyikan kondisi psikologismu? Kalau kamu baik-baik saja, pasti tidak akan ada pertemuan dengan Dokter Randy itu."
"Ya, sudah, yuk, kita berangkat."
Henry memutar kunci mobil untuk menyalakan gas mobil. Fira yang tadinya antusias bercermin menjadi tidak selera bercermin. Pikirannya seketika tidak tenang dengan kondisi psikologis suaminya. Walaupun Henry terlihat baik-baik saja, tapi siapa yang tahu, jika di balik itu, Henry mengalami trauma. Fira menepis rasa cemasnya dengan memperbanyak dzikir kepada Allah. Hanya kepada Allah yang menunjukkan jalan kebenaran.
***
Henry, Fira dan tiga anaknya tiba di Istana Gyeongbok. Istana Gyeongbok adalah sebuah istana yang terletak di sebelah utara kota Seoul, Korea Selatan. Istana ini termasuk dari lima istana besar dan merupakan yang terbesar yang dibangun oleh Dinasti Joseon. Banyak pengunjung yang hadir di sana. Tidak hanya dari penduduk lokal, adapun mereka datang jauh-jauh dari berbagai negara.
"Masyaallah, mereka cantik banget," puji Fira saat melihat para wanita mengenakan hanbok. Di sana ada pula wanita muslimah yang mengenakan hanbok.
"Kamu yang tercantik, sayang. Yuk, kita ganti pakaian hanbok. Terus, kita keliling di sekitar sini sambil foto-foto. Sebentar lagi fotografer pribadi datang," ucap Henry seraya merangkul pundak Fira.
"Ayo, Pa, Zayn enggak sabar nih!" seru Zayn lantas menarik kemeja Henry.
"Yo, ayo, siap kapten Zayn!" seru Henry.
Henry mengajak tiga anak sambungnya berlari. Mereka tertawa dan ceria menikmati liburan di Istana Gyeongbok ini. Fira justru berjalan santai sembari melihat keseruan suami dan anak-anaknya. Sebenarnya Fira bersyukur dianugerahi suami yang penyayang anak-anak seperti anak-anaknya. Namun sedihnya, sampai saat ini, Henry belum tergerak untuk jujur tentang kondisinya kepada Fira.
Sinar matahari kian menjulang tinggi. Kini Henry dan keluarga tampak elegan dengan pakaian hanbok. Tiga bocah itu senang dengan pakaian yang dikenakannya. Henry dan Fira tidak tampak jika mereka seperti orang tua. Justru keduanya terlihat seperti pasangan muda. Aura Henry begitu tampan mengenakan hanbok pria. Fira juga memancarkan aura kecantikan mengenakan hanbok wanita. Walaupun memakai hanbok, Fira senantiasa memakai jilbab.
Zayn, Zema dan Alira menari penuh keceriaan, karena pertama kalinya mereka berkunjung di sini. Zayn tambah bangga memiliki papa campuran Korea-Jawa seperti Henry. Buktinya bocah sepuluh tahun ini mengacungkan jempol kepada papanya, sebagai tanda ia bahagia dianugerahi papa Henry. Henry lantas membalas acungan jempol kepada putranya sembari tersenyum merekah.
Ketika mereka sudah berganti pakaian, saat itu pulalah tim fotografer pribadi datang menghampiri mereka. Kemudian Henry mengajak keluarga dan seorang fotografer itu ke tempat pergantian penjaga istana. Sepanjang perjalanan, Fira gemas melihat tiga anaknya yang memakai hanbok. Fira turut bahagia dengan aura kebahagiaan Zayn, Zema dan Alira.
Kini mereka melihat pergantian penjaga istana. Penjaga istana itu memiliki berbagai tugas. Ada yang bertugas memainkan musik dengan memegang drum dan gong. Adapula pengawal penjaga dengan memegang bendera, tombak dan tameng. Dan yang paling mengesankan adalah penjaga istana itu.
"Gimana? Kalian suka?" tanya Henry.
"Suka banget, Papa!" jawab ketiga anak itu penuh semangat.
__ADS_1
"Mama juga enggak mau melewatkan kesempatan ini. Ini patut diabadikan dalam foto dan video. Nanti masuk ke dalam vlogku," ucap Fira.
"Gimana kalau yang mengabadikan momen ini, Hyung Ji-hoo dan timnya saja?" Henry menunjukkan sosok fotografer andalannya.
"Saya dan tim siap mengabadikan momen ini ke dalam foto dan video," ucap Ji-hoo penuh hormat.
"Nanti diedit yang bagus, ya. Biar di-upload ke kanal YouTube saya," usul Fira.
"Siap, Nunna."
Henry, Fira dan tiga anaknya cukup menikmati liburan ini. Tim fotografer yang terdiri dari empat orang berkutat mengabadikan momen keluarga ini. Empat dibagi dua tugas. Ada yang memotret dan ada pula yang merekam video.
Henry pandai bercakap tentang sejarah Istana Gyeongbok di hadapan kamera. Fira menjadi pendengar yang baik seraya menyaksikan pergantian penjaga istana itu. Tanpa diarahkan gaya, keluarga ini terlihat alami dalam bersikap elegan dan berkelas. Hanya anak-anak yang antusias melihat jalannya acara pergantian penjaga istana.
Walaupun sedang menjelaskan tentang sejarah Istana Gyeongbok, hati Henry justru dibuat terpanah dengan kecantikan istrinya. Meskipun kacamata bening bertengger di mata istrinya, itu tidak membuat Henry terganggu. Baginya, Fira yang di hadapannya saat ini bagai seorang ratu. Henry menilik Fira dari ujung jilbab hingga sepatu flatnya. Di sisi lain, Fira tersipu malu karena ditatap oleh Henry.
"Cantiknya istriku," ungkap Henry.
"Daebak! Camestry kalian dapat di sini," seru tim fotografer.
Fira yang pemalu itu lantas menutup mulut dengan tangan kanannya. "Jangan buat aku terbawa perasaan di sini. Pasti pipiku seperti stoberi karena salah tingkah."
"Ya, enggak apa-apa. Yang memuji itu aku, suamimu sendiri," canda Henry tertawa kecil.
Fira lantas menundukkan kepala. "Please, Henry, jangan menatapku seperti itu. Aku malu dan berdebar-debar!"
Bibir Henry pelan-pelan mendekati telinga Fira dari balik jilbabnya. Henry berbisik kepada Fira. "Kalau melihat kecantikan istriku, rasanya ingin di kamar terus. Aku tidak akan melepasmu, karena aku mencintaimu."
Fira sontak terbeliak. "Astaghfirullah, Henry, jangan berbicara seperti itu di sini."
"Ada apa?" tanya mereka keheranan.
"Tidak, tidak apa-apa." Fira dan Henry jadi salah tingkah. Keduanya kembali membenarkan sikap dan posisi.
Setelah acara pergantian penjaga istana, mereka melanjutkan perjalanan dengan berkeliling di sekitar Istana Gyeongbok. Tim fotografer selalu siaga memotret Henry dan keluarga di tempat yang apik. Kadangkala memotret Henry dan Fira. Kadangkala memotret Zayn, Zema dan Alira saja. Dan yang paling bagus adalah ketika satu keluarga foto bersama.
Di tengah keramaian pengunjung, tidak membuat mereka terganggu. Justru mereka tidak mengenal lelah untuk berlibur di sini. Jika seandainya waktu berjalan lambat, Henry ingin memiliki waktu berkualitas bersama istri dan anak-anaknya. Baginya, kebahagiaan istri dan anak-anaknya adalah kebahagiaannya juga. Henry bersyukur kepada Allah, karena keinginannya tercapai untuk menjadi suami dan papa bagi Fira dan tiga anaknya.
***
Keterangan: *Sumber dari Wikipedia di Google
Bagaimana tanggapanmu setelah membaca novel ini? Komentar di bawah ini yuk. Diharapkan untuk memberi komentar tentang novel ini. Supaya penulisnya tahu dan kenal ulasan dari setiap pembaca sebenarnya.
Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, dan kasih rating (bintang 5). Supaya authornya ini semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Kamsahamnida. Saranghaeyo.
__ADS_1