Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Penantian Jadi Kepastian


__ADS_3

H-1 menuju pernikahan | 16 Juli


Di kediaman Fira, para tamu pengajian suasana hanyut dalam kekhusyukan. Keseluruhan dari mereka adalah wanita. Acara pengajian menjelang pernikahan berjalan dengan lancar. Mulai dari pembukaan pengajian dan tausiyah tentang pernikahan dibawakan oleh seorang ustadzah kondang di Semarang. Hingga membaca ayat suci Al-Qur'an, doa serta dzikir bersama.


Fira anggun memakai gamis berbahan tile bordir akar berwarna putih gading. Khimar layer dua senada dengan gamis hingga menutupi dada. Wanita berhidung mancung itu tertunduk khusyuk mengamini doa yang dipanjatkan oleh seorang ustadzah. Ia duduk bersama orangtua dan ketiga anaknya. Di depan para tamu pengajian.


Di meja panjang yang diselimuti kain putih dihiasi bunga dan akar buatan itu terdapat beberapa seserahan pernikahan. Di antaranya sepatu terdapat kilauan mutiara kecil, tas, jam tangan, mukena, kalung dan tasbih. Seserahan itu tentunya pemberian dari Henry untuk Fira.


Di meja lainnya tertata banyaknya suvenir pernikahan. Masing-masing tas kecil cantik berpita itu berisi tujuh sachet produk kopi berbeda rasa dan satu buah tasbih mutiara. Tentunya diperuntukkan bagi para tamu pengajian.


Usai sudah doa bersama. Kini seorang wanita yang membawa acara pengajian ini, mengarahkan sesi acara selanjutnya. Yakni ungkapan seorang anak perempuan kepada orangtuanya. Kemudian ungkapan bapak-ibu kepada anak perempuannya.


Fira mengubah posisi duduk bersimpuh berlawanan arah dengan bapak-ibunya. Pembawa acara pengajian itu lantas menyodorkan mikrofon kepada Fira. Senyum penuh hangat itu Fira jadi gemetar menggegam mikrofon.


Dua netra Fira memakai lensa cokelat itu mulai berkaca-kaca. "Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulilah karena acara pengajian ini berjalan dengan lancar. Insyaallah, semua yang hadir di sini dirahmati Allah. Aamiin yaa rabbal alamin."


"Beberapa hari yang lalu, saya Maghfira Annisa telah dipinang seorang pria yang dinanti selama lima tahun. Pria itu bernama Henry Lee. Alhamdulillah, Allah kuasa. Ditambah kemantapan hati dan restu dari keluarga, saya bersedia menjadi istri dari Henry," sambungnya.


"Untuk Bapak-Ibu, sebelum Fira menikah dengan Henry. Fira ingin minta maaf jika selama ini banyak salah. Belum bisa menjadi anak yang baik untuk Bapak-Ibu. Bapak-Ibu adalah orangtua hebat. Tahu betul perjalanan hidup Fira. Selalu menyayangi dan membimbing Fira serta anak-anak Fira. Terima kasih atas restu dari Bapak-Ibu untuk Fira dan Henry. Bagi Fira, restu orangtua ini penting karena juga restu dari Allah. Doakan putri sulung Bapak-Ibu ini, supaya pernikahan Fira dengan Henry ini adalah pelabuhan terakhir. Insyaallah, itu saja dari Fira. Fira mencintai Bapak-Ibu."


Fira tidak dapat membendung tangisnya, lantas memeluk erat bapak-ibunya. Wajah ayunya tenggelam dalam dekapan hangat kedua orangtuanya. Ratih dan Fatih terenyuh hingga menitikkan air mata. Putri sulungnya yang sudah berkepala tiga ini esok hari akan melangsungkan pernikahan kedua kalinya.


Fira tidak henti-hentinya menciumi punggung tangan kedua orangtuanya. Sekali lagi, ia selalu memohon restu dan doa dari bapak-ibunya itu. Fatih dan Ratih saling menciumi kening Fira dengan penuh kasih sayang. Dibelainya lembut khimar yang dikenakan Fira.


Fira memberikan mikrofon kepada bapaknya. Kini giliran Fatih dan Ratih untuk mengungkapkan wejangan kepada Fira. Sejenak Fatih mengatur napas, dada beliau terasa dipenuhi rasa haru sekaligus bahagia.


"Bismillahirrahmanirrahim, insyaallah, Bapak-Ibu selalu memaafkan Fira. Dari lubuk hati yang terdalam, Bapak sayang sekali dengan Fira. Jika Fira menikah, antara haru dan bahagia yang sulit diungkapkan. Bapak selalu mendoakan Fira dengan Henry menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Semoga pernikahan kalian langgeng hingga surga-Nya," ungkap Fatih. Beliau lantas menyerahkan mikrofon kepada Ratih.


"Bismillahirrahmanirrahim, doa seorang Ibu tidak lekang oleh waktu untuk anak-anaknya. Ibu sama halnya dengan Bapak, antara haru dan bahagia yang sulit diungkapkan kata. Ibu selalu memaafkan Fira. Fira adalah putri kami yang lembut hati dan penyayang. Ibu memanjatkan doa untuk Fira dan anak-anak mendapat kebahagiaan dan keberkahan. Insyaallah, Allah meridhoi Fira bersama Henry dalam membangun rumah tangga," ungkap Ratih.


Fatih dan Ratih kembali memeluk putrinya. Air mata yang menetes pertanda kebahagiaan dalam hidup mereka. Jika mengingat kembali ujian yang dulu pernah menerpa mereka---asam, duka dan pahit dihadapi bersama. Keluarga bagai satu tubuh dan energi. Jika salah satunya sakit, akan ikut sakit pula. Jika salah satunya merasakan energi lemah, tentunya keluargalah saling menguatkan energi itu.


Dua wanita berhijab yang berprofesi sebagai fotografer itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Mereka bekerja secara profesional untuk memotret momen yang menyentuh hati ini. Usai berpelukan dengan kedua orangtuanya, Fira memeluk erat ketiga anaknya. Satu per satu diciuminya kepala anak-anaknya. Kemudian menciumi pipi ketiga anaknya penuh kasih sayang.


"Anak-anak Mama ini juga bagian energi cinta Mama. Adanya kalian, Mama bisa berdiri teguh untuk masa depan kita. Mama cuma ingin satu, kalian bersaudara harus rukun apapun yang terjadi. Saling menyayangi dan menjaga saudara. Tiada kata mantan saudara. Saudara itu sudah satu darah," ungkap Fira kepada Zayn, Zema dan Alira.


"Insyaallah, Mama. Kami sayang Mama juga Papa," ungkap Zayn, Zema dan Alira.


"Mama juga sayang dan cinta kalian." Fira mencium kembali masing-masing kening dari ketiga anaknya.


Mama dan anak-anaknya ini hanyut dalam haru. Berpelukan seraya menangis bahagia. Apalagi jika mengingat kembali masa sulit Fira bekerja keras untuk menafkahi Zayn dan Zema. Semakin berderai air matanya. Peluhnya kini membawanya pada kesuksesan.


Pun buah hasil dari kesabarannya melewati berbagai ujian, Allah menggantinya dengan kebahagiaan tiada tara. Tekad, doa dan ikhtiar Fira yang bersungguh-sungguh itu dapat mewujudkan masa depan cerah bersama anak-anaknya.


***

__ADS_1


Kini waktunya mengukir hena di kedua punggung tangan Fira. Singgasana calon mempelai wanita itu Fira berkumpul bersama sanak saudara wanita. Termasuk sahabat karibnya, yakni Medina dan Velia. Yang jauh datang dari Jakarta hingga tiba di Semarang ini.


Grup nasyid yang terdiri dari beberapa perempuan turut memeriahkan acara pengajian ini. Suara merdu sekaligus alunan rebana begitu memanjakan indera pendengaran mereka.


Sebagai sahabat, Medina memang sudah bertekad untuk mengukir hena di kedua punggung tangan Fira. Wanita berparas manis ini tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mewarnai hari bahagia sahabatnya. Sementara Velia sibuk menatap gawai. Jemarinya berselancar di aplikasi WhatsApp. Kemudian mencari kontak Khalifah. Saat sudah ditemukan kontak Khalifah, Velia lekas menghubungi Khalifah melalui video.


Waktu berpihak pada empat sekawan ini. Khalifah sigap mengangkat panggilan video dari gawai Velia. Velia lantas duduk di samping Fira. Supaya layar gawai miliknya bisa bertatap muka antara dirinya, Fira dan Khalifah. Sementara Medina berkutat mengukir hena di punggung tangan Fira.


"Assalamu'alaikum, Ibuukk Fira, ikut bahagia, ya. Akhirnya kawin lagi, hahaha," seru Khalifah.


"Wa'alaikumsalam, ini anak dari dulu omongannya asal frontal banget. Nikah eiy nikah!" seru Fira terkekeh-kekeh.


"Wa'alaikumsalam, auk nih, Khalifah mah gitu, ih!" tegur Velia.


"Biarin, ih! Maaf, ya, Fir---eike enggak bisa datang. Soalnya aku sama A' Haris baru pindah di Turki," ucap Khalifah.


"Iya, enggak apa-apa. Doanya aja," ucap Fira.


"Duh, ya Allah, gemes deh sama kamu jadi nikah sama itu brondong, hahaha. Henry kan, ya?" seloroh Khalifah.


"Idih, bahasamu, Fah! Hahaha."


"Enggak heran, dia udah punya dua anak aja omongannya masih gitu. Perlu diobati kayaknya," sindir Medina tertawa mendengar ucapan Khalifah.


Jemari Velia menyodorkan layar gawai dihadapan Medina, supaya Khalifah bisa bertatap muka dengan Medina. Velia dan Fira saling menatap seraya tertawa karena senda gurau di antara mereka terhalang jarak.


"Din, itu yang bener ngukir mahendinya!" tegur Khalifah.


"Udah bener kali! Tenang aja, aku lakoni secara profesional," ucap Medina.


"Pokoknya dibuat yang cakep, ya, Din. Biar Henry makin cetar lihat mahendi di tangan Fira," kelakar Khalifah.


"Calon pengantin wanitanya aja enggak cerewet. Malah kamu yang cerewet, hahaha," canda Medina.


"Siapa tahu dikasih bonus sama Bu Bos Fira. Bener apa bener?" kelakar Khalifah lagi.


"Wuuu, dasar emang Khalifah!" Fira lagi-lagi terkekeh.


Empat sekawan ini bersenda gurau melalui panggilan video sekaligus mengobati rindu. Kesibukkan mereka yang kini telah memiliki keluarga, membuat mereka belum bisa berkumpul lagi seperti dulu. Meski empat wanita ini sudah memiliki anak, tapi sepertinya mereka pandai merawat diri. Tidak heran jika wajah mereka masih terlihat awet muda.


***


Rumah bertingkat dua nan elite itu terpisah dengan rumah elite lainnya. Pekarangan rumah yang luas itu muat dengan banyaknya mobil tamu. Di kediaman Henry juga sedang menyelenggarakan acara pengajian menjelang pernikahan. Para tamunya bukan hanya rekan terdekat saja. Bahkan keluarga besar Henry dari Korea Selatan turut hadir di sana.


Usai melewati sesi pembukaan pengajian, tausiyah, pembacaan ayat suci Al-Qur'an hingga doa bersama. Seorang pria gagah berkumis yang merupakan pembawa acara pengajian ini, mengarahkan jalannya acara. Kini beralih pada sesi ungkapan seorang anak laki-laki kepada orangtuanya. Begitupun sebaliknya.

__ADS_1


Henry tampak gagah dengan jubah panjang berwarna putih gading itu duduk bersimpuh dihadapan orangtuanya. Kedua mata sipitnya mulai mengembun saat melihat papi dan mami yang selama ini telah membesarkannya. Tangan yang kekar itu menggenggam mikrofon.


"Bismillahirrahmanirrahim, tanpa mengurangi rasa hormat dan bahagia, saya bersyukur dengan kehadiran semuanya di acara pengajian menjelang pernikahan saya dengan Maghfira Annisa," ungkap Henry.


"Beberapa waktu lalu, saya Henry Lee telah meminang wanita pujaan saya bernama Maghfira Annisa. Alhamdulillah, atas kuasa Allah dan restu orangtua kami, serta kemantapan hati, Fira menerima pinangan dari saya. Anugerah terindah di dalam hidup saya adalah saya dan Fira melangkah ke mahligai pernikahan," sambung Henry mulai berderai air mata.


"Teruntuk Papi Abdurrahman Lee atau Lee Hyun Joong dan Mami Intan Dinasti, maafkan Henry jika selama ini banyak salah dan menyusahkan Papi dan Mami. Henry merasa belum bisa membuat bahagia Papi dan Mami. Namun dari relung hati Henry mempunyai tekad untuk selalu berbakti kepada Papi dan Mami. Papi dan Mami telah memberi banyak pelajaran dan pengalaman untuk Henry. Tanpa kasih sayang, doa dan motivasi Papi dan Mami, mungkin Henry tidak sesukses sekarang. Beribu-ribu terima kasih telah merestui cinta Henry dengan Fira. Memberi wejangan makna pernikahan kepada Henry. Jujur, Henry semakin mantap untuk membangun rumah tangga. Henry belajar dari Papi, supaya menjadi imam keluarga yang penyayang, bijaksana dan berwibawa."


Pria berhidung mancung itu bertekuk lutut di kaki sang mami. Air mata tidak terbendung lagi lantas membasahi kaki Intan. Intan duduk di kursi, sigap mengangkat kedua bahu putra satu-satunya. Dipeluknya Henry penuh cinta, tidak terasa putranya kini telah menjelma jadi pria dewasa. Dan akan segera membangun biduk rumah tangga.


"Mami dan Papi selalu memaafkan Henry. Kamu adalah anak laki-laki satu-satunya kami. Kami mencintai bayi laki-laki kami yang kini menjadi pria dewasa. Henry adalah anak mandiri. Mami kagum Henry tetap rendah hati dalam kondisi apapun. Sudah saatnya kamu pantas mempunyai keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Doa Mami selalu menyertai kamu dan keluarga kecilmu," ungkap Intan.


Intan dan Henry melepaskan pelukan. Intan menyeka air mata putranya yang membasahi pipi itu. Napas Henry terengah-engah merasakan harunya momen berharga ini. Kemudian ia bertekuk lutut dihadapan sang papi. Diciuminya kaki pria setengah baya yang duduk di kursi roda itu.


Jika ditilik dari segi wajah anak dan papi ini praktis mirip. Wajah oriental Lee Hyun Joong diwarisi pada putranya. Perlahan-lahan tangan kanan papinya membelai rambut Henry. Beliau tersenyum hingga air mata itu menetes di pipi. Henry lantas mendongak. Kini papi dan anak laki-lakinya saling menatap.


Walaupun beliau tidak dapat berbicara, tapi bahasa tubuh beliau berkata penuh makna. Hanya antara Henry dan papinya yang paham bahasa kasih sayang dan bermakna itu. Raut wajah Lee Hyun Joong juga tampak bahagia karena putranya satu-satunya ini akan menjadi kepala keluarga.


Begitu banyak cerita antara papi dan anak laki-lakinya ini. Pernah menelan pahitnya kehidupan. Pedihnya permasalahan. Hingga Allah menyatukan kembali Lee Hyun Joong dengan darah dagingnya sendiri. Pun kini Henry menjadi pewaris.


Momen bahagia bercampur haru ini diabadikan dalam foto. Dua fotografer berulang kali memotret kebersamaan keluarga terpandang ini. Naomi dan adik perempuannya beranjak remaja itu tidak ingin ketinggalan momen bahagia itu. Dua gadis ini berkumpul dengan papi, mami dan Henry.


"Kak Naomi dan Dik Sakura," ucap Henry lantas memeluk dua saudara perempuannya.


Naomi merenggangkan pelukan Henry. "Kakak masih enggak nyangka, Adik laki-laki Kakak ini mau menikah. Kakak tahu persis kisah kalian. Pesan Kakak, cintai dan jaga Fira serta anak-anaknya. Kalian harus bahagia."


"Insyaallah, Kak. Terus, Kakakku ini kapan nikahnya? Malah aku yang mendahului Kakak."


"Entahlah! Hahaha. Jujur, Kakak masih betah melajang."


"Hmm, antara Kim Jae Young atau Pak Irfan itu?"


"Dih, enggak dua-duanya, deh! Amit-amit, hahaha."


"Selamat, Kak Henry dengan Kak Fira. Sakura ikut bahagia. Sakura enggak sabar mau kenal dan ketemu Kak Fira. Sepertinya keluarga kita bakal jadi keluarga besar yang ramai, nih!" ungkap Sakura semringah. Gadis imut parasnya perpaduan antara papi dan maminya.


"Kamu senang kan bakal punya Kakak perempuan lagi," ucap Henry.


"Senang dong. Apalagi kalau ada anak-anak Kak Fira---wah seorang Sakura Ghayda Lee bakal jadi Tante dong, ya," seru Sakura.


"Kalau Sakura jadi Tante---berarti Kak Naomi jadi bude, hahaha," seloroh Henry.


"Dih, kesannya aku paling tua, ya!" geram Naomi mencebik.


Seorang fotografer mengarahkan keluarga Lee untuk foto bersama. Intan dan suaminya tetap duduk di tempat. Sementara Henry, Naomi dan Sakura berdiri di belakang orangtuanya. Busana yang mereka kenakan tampak selaras. Setiap sudut bibir mereka mengukir senyum. Sehingga saat pemotretan, keluarga itu tampak apik dan berkelas.

__ADS_1


__ADS_2