
Setelah rapat persiapan pernikahan, mereka makan siang bersama. Jam dinding di ruangan itu hampir menunjukkan pukul setengah tiga. Waktu salat Ashar akan segera tiba. Henry, Fira dan dua orangtuanya duduk di satu meja khusus. Mereka begitu menikmati hidangan yang disajikan oleh pihak hotel. Tentunya ada hidangan pembuka hingga penutup.
Di tengah asyiknya dua keluarga ini mengobrol hangat, dering gawai Fira berbunyi. Fira seketika menghentikan makannya. Tangan kanannya merogoh tas untuk mengambil gawai. Dilihatnya layar gawai, ternyata panggilan masuk itu dari Lefia.
Fira beranjak dari duduknya. Ia membuat jarak supaya tidak mengganggu ketenangan obrolan keluarganya. Jemari Fira cekatan mengangkat telepon dari Lefia.
"Halo, ada apa, Lef?" ucap Fira.
"Bu, maaf, saya dan Mas Irwan pulang ke rumah Bu Fira, ya. Soalnya kata Mbak Ressa dan Nina---Mas Zayn berantem sama Dik Alira," jelas Lefia.
"Astaghfirullah, Zayn! Dia ngapain Alira, sih?"
"Belum tahu pasti sih, Bu. Ini saya dan Mas Irwan masih dalam perjalanan pulang."
"Ya, sudah, kalau begitu saya juga segera pulang dari sini."
"Nggeh pun, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Fira geram sembari menggenggam gawai. Sudah diduga jika Zayn belum bisa menerima kehadiran adik tirinya itu. Ia berdoa dalam hati supaya perselisihan antara Zayn dan Alira tidak berlebihan. Mendengar kabar itu, Fira jadi kehilangan selera makan. Ia kembali duduk di kursi dengan tatapan datar.
"Oh, iya, Fir, aku mau tanya," ucap Henry.
"Tanya apa?" Fira agak lesu saat melirik Henry.
"Dulu waktu kamu nikah sama Mas Kirsandi maharnya apa? Dan seserahannya apa saja?"
"Uang tunai lima ratus ribu. Sama seserahannya juga banyak. Aku dulu mintanya sedikit, tapi Mas Kirsandi ingin aku menyebut lebih dari satu seserahan."
"Seserahannya kayak gimana?"
"Ada sepatu, kebetulan aku suka sepatu. Mukena, sajadah dan beberapa setel busana muslimah."
"Sekarang, kamu ingin mahar apa?"
"Ya, sesuai kemampuan kamu aja, Hen. Kamu tahu kan kisah cinta Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az Zahra?"
"Tahu, Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az Zahra saling mencintai dalam diam hingga tidak ada seorang pun yang tahu isi hati mereka, kecuali Allah. Sekarang aku tahu mahar apa yang akan aku berikan padamu, Fira."
"Alhamdulillah, kalau begitu. Aku terbawa perasaan kalau membaca kisah cinta Ali bin Thalib dengan Fatimah Az Zahra. MasyaAllah, betapa indahnya cinta dalam diam dan doa itu."
"Insyaallah, aku bersamamu dan anak-anak menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Aku hanya ingin kamu menjadi bidadari surgaku kelak," batin Henry.
Sejenak hening. Bola mata Henry dan Fira saling terpatri. Keduanya tidak peduli dengan sekitar. Dua insan saling mencintai ini hanyut dalam perasaan asmara.
"Hen," lirih Fira.
"Fir," lirih Henry.
Fira tersadar dari lamunan. "Kamu mau ngomong? Ngomong aja!"
"Kamu duluan yang ngomong." Begitu juga dengan Henry sadar dari lamunan.
"Kamu aja!" Fira mendesak.
"Sebenarnya ada sesuatu yang perlu aku bicarakan sama kamu. Mungkin ini berat untuk diterima," ujar Henry.
"Tentang apa itu?" tanya Fira penasaran.
Henry sekilas menoleh ke mami dan papinya. Intan mengangguk seakan ingin Henry segera mengungkapkan sesuatu. Ratih dan Fatih menjeda mengunyah makanan. Orangtua Fira ini juga penasaran dengan sesuatu yang akan diungkapkan Henry.
"Emm, kalau kita sudah menikah. Aku ingin kita menunda punya anak dulu," ungkap Henry.
"Kenapa begitu?" tanya Fira sontak tercengang mendengar pernyataan Henry.
__ADS_1
"Anak sambungku sekarang ada tiga kan? Zayn, Zema dan Alira. Aku sudah menyayangi Zayn dan Zema sebagai anak sendiri. Sedangkan Alira? Aku sedang belajar menerima anak itu. Sebenarnya banyak pertimbangan, karena Alira anak dari istri kedua Mas Kirsandi. Tapi, Alira masih kecil, dia enggak berdosa. Aku ingin mencurahkan kasih sayang kepada mereka dulu. Hingga mereka benar-benar siap memiliki adik lagi," jelas Henry.
"Iya, benar juga, sih. Aku juga bakal mencurahkan kasih sayang untuk Alira. Apalagi Alira kehilangan ayah-ibunya. Pasti dia sangat butuh figur ayah-ibu," pikir Fira.
"Kamu enggak mempermasalahkan ini kan?"
"Enggak kok. Cuma nanti kita sepertinya butuh pencerahan dari seorang Ustadz mengenai Alira dan kamu. Soalnya Alira anak dari Sabrina dan Mas Kirsandi. Apalagi kalau Alira sudah dewasa nanti."
"Makanya itu aku bilang banyak pertimbangan. Sebaiknya memang kita butuh pencerahan dari orang yang paham ilmu itu."
"Ngomongin anak-anak, aku jadi ingat tadi Lefia telepon aku, Zayn dan Alira lagi berantem. Sebaiknya kita segera pulang aja, deh."
"Ya Allah, ada apa dengan Zayn dan Alira?" tanya Ratih.
"Enggak tahu, Bu. Mending kita langsung pulang ke rumah aja," kata Fira.
"Ya, sudah, kita segera ke rumahmu aja," ajak Henry.
"Iya, Hen. Aku pesan taksi dulu lewat telepon. Mobilmu dibawa Mas Irwan tadi."
"Oh, iya, ding! Ya, sudah, segera telepon taksi."
***
"Mama," rengek Alira seketika memeluk Fira yang baru datang di rumah.
Fira, Henry dan dua orangtuanya disuguhi oleh tangisan Alira dan amarah Zayn. Suasana ruang tamu itu menjadi gersang. Zayn begitu angkuhnya berdiri dengan tangan menyilang. Wajahnya muram penuh kekesalan terhadap adik tirinya itu.
"Ngadu aja ke Mama! Zayn lagi belajar di ruang keluarga, anak itu lari---eh, malah nginjak buku pelajaran punya Zayn. Jadi anak jangan resek, kenapa sih?" omel Zayn.
"Zayn!" teriak Fira dengan tatapan berpijar.
"Mama tahu kan kalau Zayn suka belajar di ruang keluarga? Zema aja enggak pernah ganggu Zayn. Semenjak ada anak ini, Zayn jadi terganggu!"
"Ma! Mending Alira taruh ke panti asuhan aja, deh! Pokoknya Zayn enggak bisa terima kalau dia masih ada di sini, titik!"
"Cukup Zayn! Harusnya Zayn bersyukur masih punya Mama dan Om Henry! Bayangkan, kalau Zayn berada di posisi Alira, enggak ada ayah-ibunya. Pikirkan itu!" bentak Fira hingga suaranya menggelegar di ruangan. Seluruh orang di sana tercengang mendengar bentakan Fira. Termasuk Henry.
"Mama udah enggak sayang Zayn lagi!" Zayn berlari menuju ke kamar sambil menangis.
Zayn masuk ke dalam kamar hingga membanting pintu dengan kasar. Sementara bibir Fira gemetar mengucap istighfar. Lutut Fira terkulai lemas, ia memeluk Alira. Zema yang juga berada di sana, menghampiri Fira dan Alira. Mereka saling berpelukan. Setelah membentak Zayn, Fira menangis tersedu-sedu.
"Mama sayang anak-anak Mama. Mama ingin anak-anak Mama ini hidup rukun. Mama tahu perasaan Zayn, tapi Alira juga adik Zayn. Ya Allah, bantu hamba supaya Zayn mengerti dan bisa menerima adik tirinya," gumam Fira.
Henry duduk bersimpuh di dekat Zema dan Alira. Dibelainya rambut kedua anak itu dengan lembut. Sebagai calon ayah untuk anak-anak sambungnya kelak, Henry jadi belajar menghadapi ketiga anak dengan watak yang berbeda. Melihat kesedihan Fira, Henry jadi bisa merasakan betapa sulitnya menjadi ibu. Tentu membagi cinta dan kasih sayang yang adil untuk anak-anak.
"Maafkan aku, Henry. Kamu jadi tahu marahnya aku seperti ini," lirih Fira.
"Aku paham berada di posisimu. Sudah, ya, tenangkan dirimu. Zayn juga sama sepertiku, butuh waktu untuk menerima. Cuma Zayn masih labil, jadi emosinya belum stabil," ucap Henry.
Fira lantas menoleh ke Intan dan Lee Hyun Joong. Ia merasa tidak enak pada calon mertuanya itu. "Papi dan Mami, maafkan Fira."
"Enggak apa-apa, Fira. Mami dan Papi juga pernah menghadapi berantemnya tiga anak," ucap Intan.
Fatih menggendong Zema. Sedangkan Ratih menggendong Alira. Fira perlahan berdiri dan berjalan menuju sofa. Lefia sigap merangkul Fira hingga duduk di sofa. Ressa bergegas menuju ke dapur. Fatih dan Ratih mempersilakan Henry dan Intan duduk di sofa. Intan mendekatkan kursi roda suaminya di sofa.
"Sebagai orangtua harus bertahap menasihati anak dari hati ke hati. Sepertinya Zayn masih ada luka batin di masa lalu," ucap Intan.
"Ya, sepertinya begitu, Mam," ucap Fira.
"Anak seperti Zayn perlu dibimbing. Meski itu tidak instan. Butuh proses. Sepertinya memang Zayn masih menyimpan memori permasalahan kamu dengan Kirsandi dulu. Atau Zayn menganggap Alira dan Sabrina pernah menganggu ketenangan keluarga kalian dulu," jelas Ratih.
"Ya Allah, terus Fira harus gimana, Bu?" keluh Fira.
"Kamu tetap sabar. Beri mereka perhatian dan kasih sayang secara adil. Doakan Zayn supaya hatinya bisa menerima Alira sebagai adiknya," tutur Ratih.
__ADS_1
"Aku jadi enggak enak sama Henry," lirih Fira.
"Enggak apa-apa, jangan enggak enakan sama aku. Aku jadi mengerti kehidupan rumah tangga nantinya," kata Henry.
Ressa datang membawa beberapa gelas air sirup. Disuguhkannya air sirup itu di atas meja. Dengan santun, adik ketiga Fira ini mempersilakan tamunya untuk meminum air sirup. Henry, Intan dan Lee Hyun Joong menyambut Ressa dengan ramah.
***
Waktu salat Ashar telah tiba. Fatih mengajak Henry salat Ashar di masjid sekitar perumahan. Henry juga mengajak papinya sambil mendorong kursi roda. Fatih menyerahkan Zema pada Lefia. Kemudian Lefia mengajak Zema dan Alira bermain di taman kecil tepat di belakang rumah.
Ratih mengajak Intan salat Ashar di mushola kecil dalam rumah ini. Namun Intan memberi isyarat supaya Ratih lebih dulu di mushola. Intan justru melihat Fira berdiam diri di sofa. Dihampirinya calon menantunya itu, beliau duduk di samping Fira. Intan merangkul Fira. Supaya dapat meringankan beban Fira.
"Fira enggak salat?" tanya Intan.
"Salat, Mam," jawab Fira.
"Yang sabar, ya, Nak. Jadi seorang Ibu memang berat, tapi jika dilakukan dengan ikhlas, insyaallah, pahala yang didapat."
Fira mengangguk. "Iya, Mam."
"Mungkin sekarang mereka merepotkan. Tapi, insyaallah, kalau mereka sudah dewasa, akan membantu kita kalau sudah tua. Maka dari itu didiklah anak-anak dengan baik."
"Insyaallah, Mam. Fira mikir apa setelah melihat ini, Henry jadi berubah pikiran?"
"Tidak, Henry justru menerima Fira setulus hati. Mami sudah memberi wejangan kepada Henry gambaran rumah tangga sebenarnya. Bukan hanya indahnya, tapi juga ujian dan dukanya. Mami juga memberi nasihat kepada Henry, kalau Fira juga pernah memiliki masa lalu pahit. Henry ingin membuat Fira dan anak-anak bahagia," jelas Intan.
Fira duduk tegap dihadapan calon ibu mertuanya itu. "Mami, bagaimana rasanya jadi istri dari seorang pengusaha sukses? Apa banyak godaan dan ujiannya? Bagaimana Mami dan Papi bisa awet dalam pernikahan?"
"Mami dulu pernah melewati masa pahit dan asam sama Papi. Hingga Papi sukses, Mami ikut bahagia. Sudah pasti banyak godaan dan ujiannya. Kalau Papi itu beliau memiliki prinsip, jika kesuksesannya dari doa istri shalihah seperti Mami. Cinta di antara kami karena Allah. Menikah karena ibadah. Itu saja."
"Soalnya setahu Fira, laki-laki kalau sudah sukses pasti banyak godaan dan ujiannya. Maaf, Mam, Fira jadi ingat masa berumah tangga sebelumnya. Ya, semoga saja, kedepannya tidak terulang lagi."
"Insyaallah, kalau Henry sudah Mami bekali tuntunan yang baik. Sebenarnya Mami juga ingin menceritakan rahasia masa lalu Henry yang belum kamu ketahui. Justru Henry memiliki trauma mendalam daripada kamu."
Fira terkesiap mendengar pernyataan Intan. Pria sukses dan cerdas seperti Henry ternyata memiliki rahasia yang membuatnya trauma. Intan sejenak menghela napas sebelum menjelaskan tentang rahasia masa lalu Henry itu. Dua wanita ini saling bertatapan dengan serius. Fira tidak sabar mendengarkan cerita dari Intan.
"Waktu Henry kelas satu SMA, Henry punya banyak teman. Kamu tahu sendiri, Henry orangnya sederhana, tidak ingin memperlihatkan kalau dia anak orang kaya. Tapi, dengan banyaknya teman, dia jadi terjebak dalam kejinya kehidupan mafia," terang Intan.
"Maksudnya?" Fira mengernyit dahi.
"Sebenarnya masalahnya antara Ayah si A dan Ayah si B. Nah, si A dan si B ini berteman satu sekolah dengan Henry," sambung Intan.
"Temannya Hardi dan Tommy, ya, Mam?"
"Oh, bukan. Justru Hardi dan Tommy sahabat baik Henry."
"Terus, bagaimana lagi?"
"Balik ke masalah Ayah si A dan Ayah si B itu, ya. Jadi Ayah keduanya ini memiliki dendam tiada akhir. Papinya Henry pernah menegur Henry supaya tidak berteman dengan dua anak itu. Tapi, Henry enggak percaya gitu. Malah Papi dan Henry jadi berseteru," imbuh Intan.
"Gara-gara Henry memilih berteman dengan dua temannya ini. Papi jadi mengusir Henry dari rumah. Papi sudah tahu kalau si A dan si B ini anaknya mafia. Bahaya kan kalau sudah begitu? Jadinya Henry memilih hidup mandiri sejak SMA. Sebagian Mami membantu Henry tanpa sepengetahuan Papi."
"Trauma mendalamnya apa, Mam?"
"Trauma mendalamnya adalah ketika Henry berada di lingkar merah. Maksudnya, Henry dan teman-temannya pernah disekap oleh Ayahnya si A ini selama seminggu. Hanya untuk menyaksikan penyiksaan si B dihadapan Henry dan teman-temannya. Akhirnya si B ini meninggal dunia. Semenjak kejadian tragis itu, Henry trauma dengan masalah besar. Kalau masalah kecil, dia bisa menghadapi. Namun, kalau udah masalah besar, dia bisa lari dari kenyataan atau mengurung diri di kamar."
Fira lantas menutupi mulutnya dengan telapak tangan. "Innalilahi wa innailaihi roji'un!"
"Namun Henry pernah cerita sama Mami. Semenjak Henry kenal sama kamu. Yang dulu dipanggil Mbak Fira. Henry seperti menemukan titik terang dalam kehidupannya. Katanya, Fira itu piawai memotivasi orang lain waktu di grup motivasi pemuda-pemudi. Ternyata kalian sama-sama memiliki trauma. Kalau Fira bagaimana?"
"Kalau Fira---alhamdulilah sudah sembuh dari trauma. Sejak Fira sudah mengikhlaskan masa lalu dan mencintai Henry," ungkap Fira.
"Alhamdulillah. Sebenarnya Henry sudah ke psikolog dan mengikuti kajian supaya mengurangi rasa traumanya. Ya, barangkali dengan mencintai Fira, rasa trauma juga bisa berkurang. Mami harap Fira terus mendampingi Henry."
"Aku enggak menyangka Henry juga memiliki trauma dengan masalah besar. Apa ini yang dinamakan jodoh cerminan diri?" Fira membatin seraya menyentuh dadanya yang berdegup kencang itu.
__ADS_1