Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Harus Kembali


__ADS_3

Hari ketiga di Kanada yang seharusnya Henry, Fira dan Bryan menikmati perjalanan ke Toronto selanjutnya. Masih ada beberapa rencana mengunjungi ke beberapa tempat yang apik. Yang sebelumnya mereka lima hari di Kanada, tapi hari ini mau tak mau, Henry, Fira dan Bryan harus kembali ke Indonesia.


Pukul enam pagi masih diselimuti embun di luar sana. Fira berkutat mengemasi barang-barang ke dalam koper dan tas. Raut wajah yang ceria karena menikmati perjalanan, sekarang berubah jadi kekhawatiran. Di dekat jendela apartemen, Henry serius dengan telepon di gawai. Dipijatnya kening itu seperti ada sesuatu yang terjadi hari ini.


"Bu, sampaikan pesan kepada anak-anak. Papa, Mama dan Om Bryan hari ini menuju ke Bandara, ya. Insyaallah, segera pulang ke rumah," ucap Henry.


"Insyaallah, Nak Henry. Ibu enggak menyangka anak-anak sakitnya barengan. Yang pertama Zayn demam dan flu. Tapi, Zayn godain Zema dan Alira, bersin di depan adik-adiknya. Jadi, flunya ketularan ke Zema dan Alira," jelas Ratih.


"Tapi, anak-anak sudah minum obat, Bu? Sudah pada periksa ke dokter?"


"Alhamdulillah, sudah. Pas Mamimu telepon Ibu sambil menanyakan kabar anak-anak. Ibu bilang anak-anak sakit. Alhamdulillah, Bu Intan dan Naomi ke rumah. Ibu, Bu Intan dan Naomi mengantarkan Zayn, Zema dan Alira ke dokter keluarga."


"Alhamdulillah, Henry agak lega tapi masih gelisah kepikiran anak-anak. Apalagi Fira, Mamanya lebih gelisah dari Papanya."


"Kalian tetap tenang di sana. Zayn, Zema dan Alira sudah ada Ibu, Bapak, Mami dan Naomi."


"Iya, Bu. Semoga anak-anak lekas sembuh. Dan terima kasih untuk Ibu, Bapak, Mami dan Naomi sudah menjaga anak-anak."


"Sudah sepatutnya keluarga itu saling bahu membahu. Assalamu'alaikum, Nak Henry."


"Wa'alaikumsalam, Bu."


Percakapan antara Henry dan ibu mertuanya melalui telepon berakhir. Mata sipitnya tertuju pada sang istri sedang membereskan barang. Ditaruhnya gawai di dalam saku celana.


Henry lantas menghampiri Fira. Pada saat itu tubuh Fira sedang membungkuk. Henry berhasil mendekap istrinya dari belakang. Dengan manjanya dilekatkannya kepala itu di punggung Fira. Seketika Fira tertawa dengan sikap manja sang suami.


"Kita harus pulang ke Indonesia, sayang," ucap Henry.


"Enggak apa-apa, Henry. Justru bagiku kesehatan anak-anak jauh lebih penting. Lagi pula agendamu di sini sudah tuntas kan?" ucap Fira.


"Alhamdulillah, sudah tuntas. Sepertinya anak-anak kangen sama kita. Aku jadi merasa bersalah karena belum bisa jadi Papa yang baik dan perhatian."


"Henry, kamu itu sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anak. Mungkin karena kesibukan kita, anak-anak butuh perhatian."


"Benar sekali katamu. Sini, biar suamimu ini yang beres-beres barang. Kamu mempersiapkan diri, gih."


"Kita beres-beres bareng. Aku bagian meneliti barang. Khawatir ada yang ketinggalan."


"Memang, ya, kalau udah jadi Ibu-ibu itu teliti banget soal barang suami dan anak-anak."


"Oh, iya, dong. Eh, tapi jadi kan mengajak anak-anak liburan ke Korea?"


"Jadilah, sayang. Aku sudah booking jauh hari. Waktunya masih lama kok. Semoga anak-anak kita kembali sehat."


"Aaamiin."


"Ini yang ngebet liburan Mamanya atau anak-anaknya sih? Hahaha."


"Ih, apaan sih? Hahaha. Awas, ya, aku gelitik nih!"


Fira yang merasa geram sembari tertawa hendak menggelitik tubuh Henry. Henry sigap menyingkir dari Fira. Wajah oriental itu sengaja dibuat konyol untuk menggoda Fira. Sehingga Fira tertawa terpingkal-pingkal.


Bagai anak kecil yang bermain lari. Henry dan Fira saling kejar-kejaran di dalam apartemen. Bahkan Henry sampai loncat ke atas sofa. Fira mengangkat sedikit celana kulot supaya ia bisa naik ke atas sofa. Fira berhasil meraih kedua tangan Henry. Tangan kanannya lantas kilik-kilik Henry tanpa ampun. Henry kian tertawa terbahak.


Pria yang mengenakan blazer hitam ini---kemudian mengambil bantal kecil di sofa. Seketika Fira peka melihat Henry mengambil bantal kecil. Fira turut mengambil bantal kecil. Pasangan kekasih halal ini saling bermain bantal kecil, memukul satu sama lain, tapi memukul perlahan hanya untuk bercanda.


"Ternyata selain jago perang malam pertama, kamu juga jago main bantal-bantalan, hahaha," seloroh Henry.


"Eh, sssttt, Henry, vulgar banget bahasamu. Jangan keras-keras ngomongnya, nanti kedengaran sampai keluar," geram Fira.


"Apanya yang keluar? Hahaha."


"Henry!" Fira lantas mendelik ke Henry.


Saking asyiknya bermain bantal seraya loncat-loncat, seketika tubuh Fira nyaris terjatuh. Henry cekatan meraih tubuh Fira. Keduanya kini saling tertindih. Empat mata itu saling menatap lekat-lekat. Wajah Fira dan Henry hampir mirip ini seperti sedang bercermin.


"Audzubillah himinas syaiton nirojim. Ya Allah, jauhkan hamba dari pandangan yang dapat menggoyahkan iman ini," ucap Bryan dengan lantang. Pria lajang ini tiba-tiba saja membuka pintu apartemen, tempat Henry dan Fira menginap.


"Astaghfirullahal adzim, Bryan!" teriak Fira dan Henry secara bersamaan. Suami istri ini sontak terperanjat. Merapikan diri masing-masing.


"Dari tadi aku nungguin di lobi, enggak muncul-muncul. Apa aku harus gosok lampu Aladin? Biar kalian muncul," canda Bryan sambil melotot.


Henry berdiri tegap seraya merapikan kerah blazer. "Oke, sekarang kita persiapan pulang ke Indonesia."


Bryan menatap tajam ke Henry. Adik ipranya kini membalikkan badan sembari memakai kacamata hitam di dua matanya. Henry dan Fira salah tingkah karena kepergok adiknya sendiri. Fira cepat-cepat mempersiapkan koper dan tas untuk lekas dibawa.


***


Walaupun satu jam lagi pesawat yang akan ditumpangi Henry, Fira dan Bryan berangkat. Mereka menunggu di bangku pengunjung tepatnya di Bandara Pearson Kanada. Seraya menunggu waktu penerbangan pesawat, kepala Fira bersandar di pundak Henry. Kepala Bryan bersandar di koper yang sengaja ditaruhnya di sampingnya. Tiga orang yang kompak memakai masker ini sedang fokus pada gawai masing-masing.

__ADS_1


Jemari Fira berselancar di Google. Ia sudah menduga jika pemberitaan tentang dirinya dan Henry di media. Senang, sedih dan kesal beradu jadi satu. Itulah perasaan Fira saat melihat berita hangat tentangnya dengan Henry.


Ada berita yang menyenangkan, seperti turut bahagia dan mendukung pernikahannya dengan Henry. Ada pula berita yang sengaja menggiring opini yang tidak-tidak, seperti tidak suka dengan hubungan antara Henry dan Fira.


"Ini yang aku khawatirkan jika pernikahan kita dipublikasi," lirih Fira.


Pandangan Henry beralih ke Fira. "Fira, enggak usah lihat berita dan orang-orang yang enggak suka pernikahan kita. Yang menjalani kita, bukan mereka. Biasanya orang kayak gitu ada penyakit hati. Enggak senang melihat kita bahagia, tapi mereka bakal senang kalau kita susah."


"Kamu kok bisa, ya, santai terhadap berita dan orang-orang yang enggak suka atau pembenci gitu. Kalau aku rasanya pengen aku ajak ngobrol secara langsung. Biar aku jelaskan ke mereka bahwa hidup itu ada garis takdirnya dan sudah diberikan kadar masing-masing oleh Allah." Fira mengerucut bibir.


"Aku malas memikirkan hal yang seperti itu. Bisa bikin mental turun. Masih ada hal yang penting bagiku, yang aku pikirkan dan pantas aku prioritaskan. Lebih baik lagi fokus pada amal ibadah."


"Emm."


"Satu lagi, ada sebuah kutipan dari Ali bin Abi Thalib menuliskan, tidak perlu menjelaskan dirimu kepada siapapun, karena yang membencimu tak mempercayainya dan yang menyukaimu tak perlu itu."


"Jadi kita perlu bersikap bodo amat gitu?"


"Kecuali kalau ada yang berusaha menyerang bahkan memfitnah kita, baru aku turun tangan."


"Kalau misalnya mengalami konflik berat? Apa Henry akan turun tangan juga?" gumam Fira.


Meski jemari Bryan berkutat dengan game di layar gawai, tapi ia juga mendengar percakapan antara Henry dan Fira. Bryan sejenak menghentikan permainannya di gawai. Sepasang matanya melihat wajah Henry kemudian Fira. Bryan seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.


"Kak Fira, Henry. Aku mau minta pendapat kalian lagi dong," ucap Bryan.


"Pendapat apa, Bry?" tanya Fira.


"Perasaan yang di hatiku ini---sebaiknya dipertahankan atau disudahi saja? Perjuangkan atau ikhlaskan Anna?" Bryan melontarkan pertanyaan.


"Kalau menurut Kakak sih, sebaiknya sudahi dan ikhlaskan Anna. Cinta itu enggak salah, Bry. Hanya saja kita sendiri yang bisa mengendalikannya atau tidak? Kakak khawatir jika rasa cintamu ini bisa melemahkan iman. Kalau bisa, rasa cintamu itu yang bisa membangun iman di jalan Allah. Maksudnya, kamu mencintai seorang perempuan yang dengannya selalu mengingat Allah. Menjadi pelengkap iman dalam Islam. Ini berlaku jika kamu kelak punya istri," jelas Fira.


"Benar sekali kata Kakak. Jadi, artinya untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, untuk pertama kalinya juga aku patah hati sendiri."


"Bry, kalau kamu mengikhlaskan dia, insyaallah, suatu saat nanti Allah gantikan seorang perempuan yang tepat dan baik buat kamu."


"Aku yakin adik iparku ini pasti menemukan jodoh yang seiman. Atau aku tawari kamu kenalan sama perempuan dari teman SMA, yang di Harvard juga ada yang muslimah dan yang bekerja di Excellent Semarang?" sela Henry.


"Aku itu enggak suka dijodohin! Aku inginnya menemukan jodoh secara murni. Ya, ketemunya enggak sengaja gitu. Kayak kamu dan Kak Fira gitu loh, bertemu secara murni," kata Bryan.


"Kalau kayak aku dan Fira, berarti kamu ingin perempuan yang usianya yang lebih tua tiga tahun?"


Bryan mengacak-acak rambut. "Eng-enggak gitu. Ah, jadi serba salah. Maaf, ya, Kak, maksud Bryan, ya, kalau bisa ketemu jodoh yang masih gadis, hehehe."


"Omong-omong, apa yang membuat kamu tertarik sama Kakakku, Hen? Kakakku ini menyebalkan sekali loh."


"Eh, menyebalkan gini kan tapi nganterin kamu ke gerbang bisnis, huh!" sahut Fira lantas mengerucut bibir.


"Banyak yang perlu dijelaskan. Intinya hatiku sudah tertarik pada Kakakmu ini. Walaupun orang lain terus menyudutkan Fira tentang statusnya dulu dan beranak dua. Aku tidak peduli dengan kata orang, aku tetap mencintai Kakakmu ini." Henry lantas merangkul pundak Fira seraya menatap istrinya penuh cinta.


"Ooouuww, so sweet, meleleh hatiku, ululu."


Di tengah asyiknya mengobrol, seorang pria bercelana jeans berdiri dihadapan mereka. Sontak pandangan Henry, Fira dan Bryan nanap. Sosok yang selama ini membuat Henry geram. Siapa lagi kalau bukan Rafi?


"Hei, kalian! Sepertinya sedang mengobrol seru, ya?" sapa Rafi. Sosok yang semakin gagah mengenakan coat panjang berwarna hitam.


Henry hendak angkat bicara, tapi Fira menahannya dengan menyentuh dada Henry. Suami istri ini sejenak saling pandang. Fira memberi isyarat kepada Henry dengan geleng-geleng kepala. Fira khawatir jika nantinya Henry dan Rafi membuat perseteruan di sini.


"Kenapa kamu ada di sini?" Hanya Fira yang berani angkat bicara kepada Rafi. Karena hanya Fira, Rafi mau mendengarkan Fira.


"Hehehe, Fira, aku itu baru saja dari Semarang. Sekarang aku pulang di Kanada ini. Rumah dan keluargaku menetap di sini. Gimana sih, kamu?" ucap Rafi.


"Oh, jadi di Kanada itu kamu juga punya usaha distro pakaian?"


"Loh, kok kamu baru tahu sih? Kamu sempat berkunjung ke sana, ya? Wah, kalau begitu aku senang karena sahabatku berkunjung di distroku. Sudah berapa lama kamu di Kanada?"


"Iya, aku beli pakaian untuk anak-anak. Aku baru dua hari di sini."


"Terus, ini kamu mau balik ke Indonesia? Ah, sayang sekali, kalau kamu lama di Kanada, aku ingin memberi pakaian untuk anak pertama dan keduaku."


"Hei, apa maksudmu? Zayn dan Zema itu sudah jadi anakku!" hardik Henry. Ia lantas berdiri di hadapan Rafi. Mata sipitnya seketika sinis menatap Rafi. Henry tidak mampu menyembunyikan rasa cemburunya.


"Sabar dulu dong. Zayn dan Zema juga sudah aku anggap seperti keponakan atau anak sendiri," sergah Rafi.


"Astaghfirullah," lirih Fira seraya menepuk keningnya. "Ya, sudah, Raf, sebaiknya kami pamit dulu. Sampaikan salam untuk Ayah Firman dan Bunda Catherine."


"Iya, akan aku sampaikan salam kepada Ayah dan Bunda. Pasti mereka senang kalau bisa bertemu denganmu, Fir. Ya, sudah, hati-hati di jalan."


Fira berdiri dari bangku. Dirangkulnya lengan Henry, membawanya pergi menjauh dari Rafi. Walaupun napas Henry masih memanas terbakar api cemburu. Bryan tidak menghiraukan Rafi, ia justru membawa tiga koper sembari mendengarkan lagu dengan headphone.

__ADS_1


Rafi berdiri terpaku seraya melihat sahabat kecilnya yang sedang menggandeng suaminya itu. Sahabat yang kini menikah untuk kedua kalinya. Masih ada rasa sakit dalam hati Rafi. Walaupun ia tahu cintanya sudah bertepuk sebelah tangan oleh Fira.


Yang sangat disayangkan, Fira berubah dingin dan asing terhadap dirinya. Rafi jadi kehilangan sosok sahabat kecil yang ramah, suka bercanda dan ceria. Rafi merindukan sikap Fira yang ia kenal dulu.


"Aku berusaha untuk menerima kenyataan ini. Namun, mengapa kamu berubah drastis? Bukan seperti Fira yang aku kenal. Memang, kamu sudah menikah, punya batasan. Tapi, haruskah kamu menganggapku seperti orang asing? Aku menyesal harusnya tidak gegabah mengucapkan memutuskan persahabatan yang telah lama itu." Rafi menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan kasar. Menahan kepiluan dan tangis. Namun jika dipikir juga percuma, Fira tidak akan peduli lagi padanya.


***


Ketika Henry, Fira dan Bryan di tempat pemeriksaan barang, terdengar teriakan seorang gadis dari belakang. Teriakan itu menyebutkan nama Bryan. Awalnya Bryan tidak menggubris sebutan itu, karena di bandara ini pasti memiliki banyak nama Bryan. Namun namanya terus dipanggil oleh gadis itu. Pemuda itu menoleh ke belakang. Ia terkejut bukan main, melihat sosok gadis berkaos merah muda panjang dipadukan rok motif bunga selutut.


"Anna," ucap Bryan.


"Bryan! Tunggu sebentar!" pekik Anna. Gadis itu berlari menuju ke Bryan.


"Anna menyusul Bryan ke sini, ada apa?" gumam Fira ikut terkejut dengan kehadiran Anna di sana.


Sesampainya di hadapan Bryan, Anna mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Gadis itu juga membawa empat paper bag besar di tangannya. Sejenak menatap Bryan seraya tersenyum, kemudian menunduk melihat paper bag yang dibawanya. Empat paper bag itu diserahkannya kepada Bryan.


"Ini ada hadiah untuk kalian. Ada maple syrup, maple cookies dan maple candy. Ini makanan dan minuman khas Kanada. Terimalah!" ucap Anna.


"Terima kasih, Anna." Serentak mereka.


"Sama-sama. Jangan menyesal berkunjung ke Kanada, ya. Aku senang jika kalian berkunjung di sini. Oh, iya, maple cookies itu buatan Mamaku. Kalian tenang saja, itu terjamin halal."


"Kami juga senang ke sini. Ya, meskipun belum ada beberapa tempat yang belum dikunjungi," kata Bryan.


"Puji Tuhan, aku senang mendengarnya. Oh, iya, Henry, kalau kamu kembali ke Kanada, kamu ajak Bryan juga, ya."


Sontak ucapan Anna itu membuat Henry, Fira dan Bryan tercengang. Seakan-akan Anna memberi kode kepada Bryan supaya kembali ke sini lagi. Bryan mendadak menelan ludah. Hatinya berdebar kian menentu.


"Kamu bicara langsung ke orangnya," usul Henry.


"Bryan, apa kamu ada waktu untuk kembali lagi ke sini?" tanya Anna.


"Memang ada apa jika aku kembali lagi ke sini?" Bryan berbalik tanya.


"Menurutku kamu itu teman laki-laki yang asyik diajak bicara. Lagi pula kemarin Mama dan Papaku senang bertemu denganmu," jawab Anna.


"Bryan? Kamu sudah ketemu orangtua Anna?" tanya Fira.


"Fira, aku yang menyuruh Bryan singgah ke rumahku. Kami minum es kopi bersama keluargaku," sela Anna.


"Aku belum bisa berjanji untuk ke sini lagi. Tapi, jika aku ke sini, aku akan memberimu kabar," kata Bryan kepada Anna.


Bryan yang merasa salah tingkah terhadap Anna itu membalikkan badan. Justru Bryan meninggalkan Anna. Fira dan Henry terkejut dengan sikap Bryan seperti itu. Paling tidak, ada ucapan pamit kepada Anna atau apa? Namun Bryan melanjutkan langkah seraya membawa barang-barang. Anna mengernyit heran melihat sikap Bryan.


Begitu Bryan sudah jauh dari Anna, seketika Anna meraih lengan Fira. Wanita berkacamata bening itu keheranan melihat Anna. Jika dilihat dari dua mata Anna yang kecokelatan itu, seolah Anna ingin mengungkapkan sesuatu kepada Fira.


"Entah mengapa aku mulai mengagumi adikmu itu? Aku merasa sejuk saat melihatnya beribadah di masjid kemarin. Dia berbeda dari pemuda lainnya," ungkap Anna.


Fira dan Henry saling menatap saat mendengar ungkapan Anna. Tidak menyangka jika Anna juga mulai kagum kepada Bryan. Padahal Fira dan Henry memberi saran kepada Bryan untuk mengikhlaskan perasaannya kepada Anna. Suasana hati Bryan dan Anna yang saling mengagumi ini membuat Fira dan Henry bingung.


"Lantas?" tanya Fira.


"Sebenarnya aku ingin banyak cerita kepadamu, Fira," ucap Anna kemudian menoleh ke Henry. "Henry, izinkan istrimu ini menjadi sahabat curahan isi hatiku. Boleh, ya?" pinta Anna.


"Istriku ini sudah seperti radio curhat, ya? Kemarin Magdalena, sekarang Anna, besok siapa lagi?" canda Henry.


"Magdalena? Maksudmu Lena? Ah, dia itu model muslimah di Kanada dari Indonesia itu bukan? Aku mengenalnya," ucap Anna.


"Oh, kamu mengenalnya? Baguslah, barangkali kalian bisa jadi sahabat yang baik. Ya, aku izinkan Fira bersahabat denganmu dan Lena. Supaya waktu Fira ke Kanada, ia tidak sendirian, maksudnya seru jika ada teman di sini."


"Thanks God. Thanks Henry. Bagaimana denganmu, Fira?" Anna semringah sembari menoleh ke Fira.


"Kalau Henry mengizinkan, aku oke-oke saja," jawab Fira.


"Yeay, I like this! Thanks Sis Fira."


"Kamu bisa belajar bisnis dengan Anna. Dia tahu tentang Kanada, siapa tahu salon Firannsa bisa buka cabang di sini, right?" usul Henry.


"Fira punya salon? It's very good! Iya, benar kata Henry. Kalau salonmu bisa buka cabang di sini, aku ingin mengunjunginya."


Fira tersipu-sipu. "Bisa saja, hehehe. Aamiin, semoga bisa tercapai. Aku senang akhirnya punya teman di Kanada. Masyaallah, aku jadi punya pengalaman baru di Kanada."


"Ya, sudah, Anna, kalau begitu kami pamit. Sebentar lagi pesawat kami akan berangkat. Sampai jumpa." Henry melambaikan tangan kepada Anna.


"Kami pamit dulu, ya, Anna. Semoga kita bisa bertemu lagi." Fira juga melambaikan tangan kepada Anna.


"Tolong sampaikan salamku untuk Bryan, hihihi. Baiklah, hati-hati di jalan, kalian semua!" Ucapan Anna tampaknya malu-malu kala menyampaikan salam untuk Bryan melalui Fira. Anna membalas lambaian tangan Fira dan Henry.

__ADS_1


Fira tertawa kecil melihat gadis yang mengagumi adiknya itu. Namun apapun, Fira perlu memantau antara Bryan dan Anna. Meskipun diketahui keluarga Anna menerima Bryan, tapi bukan berarti menerima Bryan sebagai pendamping Anna.


Jika Fira pikir kisah Bryan dan Anna ini tidak akan bisa yang mengalah di antara keduanya. Maksudnya, sedari kecil Bryan dididik Fatih dan Ratih taat agama. Begitu pula Anna pasti dididik orangtuanya yang juga taat agama. Rumit dan sulit untuk bersatu di antara Bryan dan Anna.


__ADS_2