Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Datang Lagi


__ADS_3

Suara jepretan kamera itu berhasil mengambil banyak foto Henry dan Fira. Sorotan lampu menerangi jalannya pemotretan. Henry dan Fira tidak canggung dengan berbagai gaya mesra di depan kamera. Fira anggun berbalut gamis bermotif bunga dan jilbab berwarna kuning keemasan. Henry tampak gagah berbalut koko muslim warnanya senada dengan jilbab Fira.


Seperti biasa, pemotretan brand pakaian muslim dan muslimah ini berada di studio foto. Studio foto berbentuk rumah moderen yang dihiasi keindahan bunga dan dedaunan. Seorang fotografer terkadang mengarahkan Fira dan Henry untuk lebih mesra dalam pemotretan. Pemotretan itu membuat Henry semakin jatuh cinta pada istrinya yang cantik itu.


Sudah keempat kalinya Henry dan Fira berganti busana muslim dan muslimah. Busana muslim dan muslimah dengan brand ternama dari seorang desainer ternama di Semarang. Butuh waktu kurang lebih satu jam lebih untuk mendapatkan foto yang apik. Agar bisa menarik mata memandang. Apalagi jika modelnya ada Henry dan Fira. Tentu saja menjadi pasangan favorit bagi setiap orang yang melihatnya.


"Oke, sudah selesai pemotretannya," ucap seorang pria berkumis yang berprofesi sebagai fotografer.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Fira.


"Ternyata gini rasanya pemotretan ala-ala model sama istri sendiri, hahaha," ucap Henry.


Fira seketika tertawa kecil. "Bagus dong, sama istri sendiri. Aku juga seneng akhirnya bisa pemotretan bareng cowok ganteng."


"Bisa-bisanya, ya, gombalin suami."


Henry dan Fira duduk di sofa. Di sana Titania sebagai desainer busana muslim dan muslimah memperhatikan sepasang suami-istri itu. Ia jadi terenyuh melihat manisnya keharmonisan antara Henry dan Fira. Titania duduk di sofa berlawanan arah dengan Fira dan Henry seraya mengerjakan pola desainnya di atas kertas.


"Pemotretan kalian hari ini sebagai bentuk hadiah pernikahan untuk kalian dariku. Nanti aku memberikan kalian hadiah lagi berupa tiga set busana muslim dan muslimah," jelas Titania.


"Alhamdulillah, terima kasih, Titania," ucap Fira.


"Terima kasih, ya, Titania," ucap Henry.


"Oh, iya, kalian tahu enggak sih? Kalian itu viral di tagar Twitter loh. Tagarnya gini Nikahan Henry dan Fira. Pada ramai membicarakan soal pernikahan kalian. Apalagi Henry yang terkenal sebagai owner Excellent Entertainment and Advertising. Namanya dunia sosmed, banyak yang suka dan dukung dengan pernikahan kalian. Ada pula yang enggak suka bahkan nyinyir soal pernikahan kalian," sambung Titania.


"Wah, aku enggak punya Twitter sih," ucap Henry.


"Aku ada akun Twitter, tapi enggak pernah buka akun Twitter. Insyaallah, nanti aku buka akun Twitter soal itu," ucap Fira.


"Ya, sebaiknya kalian cek sendiri deh. Aku khawatir aja kalau yang nyinyir kalian itu nanti malah menjelek-jelekkan bahkan memfitnah kalian," ucap Titania.


"Kalau sudah tahu begini. Aku akan berusaha menghubungi staf bagian sosial media, supaya mereka dapat memantau orang seperti itu," ucap Henry.


"Bukannya kamu cuek, ya, soal netizen yang seperti itu?" tanya Fira.


"Kalau sudah begini, adakalanya dipantau oleh staf bagian sosial media. Kalau ada yang keterlaluan bisa kita tegur dan temui mereka," jawab Henry.


"Ya, itu ide bagus. Benar kata Henry harus dipantau, kalau tidak ada saja orang yang memanfaatkan enggak baik seperti panjat sosial gitu," timpal Titania.


Fira terdiam sambil memikirkan sesuatu, kemudian ia bergumam, "Rafi pernah menawarkan aku untuk berbincang di siaran YouTube miliknya. Tapi, masa seorang Rafi melakukan panjat sosial? Ah, entahlah."


Henry dan Fira beranjak dari duduk. Keduanya melangkah ke ruangan ganti pakaian. Ruang pakaian itu terbagi menjadi dua. Ruang pakaian khusus pria dan wanita. Tidak butuh waktu yang lama untuk berganti pakaian, Henry keluar dari ruang ganti itu. Tubuhnya atletis berbalut kaos polos putih dengan celana jeans panjang. Henry sejenak merapikan kaosnya yang agak kusut itu.


Tubuh jenjangnya itu berdiri di depan ruang ganti pakaian wanita. Menunggu kekasih hatinya yang sedang berganti pakaian. Ada sekitar beberapa menit, Fira keluar dari ruang ganti pakaian. Wanita berjilbab segitiga biru itu lantas tersenyum kepada Henry. Henry mengulurkan tangan kepada Fira. Fira seketika menggandeng tangan suaminya itu.


Henry dan Fira kembali lagi ke ruang pemotretan menemui Titania. Keduanya sekaligus berpamitan dengan Titania untuk pulang ke rumah. Titania lantas beranjak dari duduknya. Menyerahkan tiga paper bag apik berukuran besar kepada Fira. Tentunya paper bag itu isinya ada tiga setel busana muslim dan muslimah. Fira senang menerima hadiah dari Titania.


"Sekali lagi terima kasih, Titania," ucap Fira.


"Sama-sama, Fira. Semoga suka, ya," ucap Titania.


"Kalau begitu kami pamit dulu," ucap Henry.


"Aku juga terima kasih karena kalian sudah berkenan jadi model brand pakaianku," ucap Titania.


"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Titania," ucap Fira dan Henry secara bersamaan.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati di jalan." Titania melambaikan tangan.


***

__ADS_1


"Sibuk banget, ya?" tanya Fira.


"Enggak sibuk kok," jawab Henry, "aku sedang memesan tiket pesawat untuk bulan madu kita nanti. Oh, iya, Fir, soal rumah baru kita sudah ada. Mau lihat rumah baru dan seisinya?"


"Mau lihat dong."


Di luar jendela kamar, langit melukiskan warna jingga dengan gumpalan awan kecokelatan. Usai salat Ashar hingga mandi, Henry bersantai di depan laptopnya. Sementara Fira usai salat Ashar kemudian bersolek. Seperti memakai milk cleanser, toner, pelembab wajah dan bedak. Fira juga menyemprotkan parfum dari jilbab hingga piyama panjangnya.


Fira naik ke kasur. Duduk di samping suaminya. Henry memperlihatkan rumah baru dan seisinya kepada Fira di layar laptop. Sepasang mata Fira berbinar-binar melihat rumah baru yang eksotis dan aesthetic. Luas dan lebar tanpa bertingkat, itulah keinginan Fira. Henry paham betul keinginan Fira selama ini. Ia senang melihat istrinya juga senang dengan adanya rumah baru.


Fira lantas memeluk Henry. Keduanya bahagia karena sebentar lagi akan menempati rumah baru. Tentunya rumah yang akan dihuni bukan untuk sementara. Namun juga untuk dihuni hingga masa tua nanti. Rumah yang akan diisi cerita keluarga kecil itu.


"Terima kasih, Henry. Aku enggak bisa berkata-kata apa lagi, selain banyak bersyukur. Aku suka desain luar dan dalam rumah barunya," ucap Fira.


"Sudah sepatutnya seorang suami memberikan tempat tinggal yang layak untuk istri dan anak-anaknya. Aku juga senang kalau kamu suka rumah baru ini," ucap Henry.


"Alhamdulillah."


"Kalau lihat rumah baru seperti ini, jadi ingin punya anak banyak, hahaha. Jadi ramai nantinya."


"Dikira mengurus anak itu mudah apa? Hahaha. Aku punya dua anak laki-laki aktifnya bikin elus dada. Ditambah ada Alira, tapi aku belum terlalu tahu wataknya kedepannya."


"Aku bantu kamu mengurus anak-anak deh. Sepertinya aku perlu membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga."


"Kalaupun kamu sibuk, aku berusaha untuk mengerti kok."


"Kenapa begitu?"


Fira melepaskan pelukan dari Henry. Fira duduk tegap kemudian raut wajahnya seketika murung. Henry sejenak menaruh laptop di atas kasur. Kemudian ia menggenggam tangan Fira. Mencoba menelaah perasaan Fira dari kedua matanya. Keduanya pun saling bertatapan dengan serius.


"Aku sudah menjadi istri dari seorang pengusaha sepertimu. Nanti kamu bakal kembali sibuk. Kita bakal menjalani long distance marriage. Aku mencoba untuk setenang mungkin, tapi tetap saja pikiranku ke mana-mana," jelas Fira.


"Kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan? Kamu sukses, ganteng dan masih muda. Tentu saja ada banyak perempuan yang mengagumimu. Pria sepertimu pasti idaman bagi mereka. Jujur saja aku cemburu," ungkap Fira seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Henry hati-hati membuka kedua tangan Fira. Dibelainya lembut pipi kenyal Fira. Henry tersenyum dan berkata, "Aku mencintaimu karena Allah. Menikahimu adalah bukti cintaku padamu. Cintaku enggak perlu diragukan lagi, lima tahun lamanya, kita bisa melewati semuanya. Doakan suamimu ini, supaya Allah menjaga hatiku ini untukmu. Kekuatan doa dan cinta adalah pelengkap hati kita."


"Aku percaya padamu. Insyaallah, aku selalu mendoakanmu. Harusnya aku mendukung suamiku untuk sukses. Eh, aku malah berpikir yang enggak-enggak, hehehe."


"Cemburu itu tanda cinta. Aku jadi percaya dengan cintamu untukku. Fira, kamu perlu tahu, semilyar perempuan di dunia ini, aku hanya memiliki satu perhiasan dunia. Yaitu kamu. Cukup kamu yang menjadi pendamping hidupku."


"Semoga seterusnya begini. Kita yang saling mencintai dalam suka maupun duka. Terkadang aku masih saja terbawa ke masa lalu. Aku ini terlalu posesif enggak sih? Hehehe."


"Enggak apa-apa, sayang. Tapi, akan aku buktikan bahwa aku suamimu yang selalu sayang istri bernama Maghfira Annisa."


Fira tertawa kecil. Henry dan Fira kembali berpelukan. Hangat sekali. Henry lantas mencium kepala Fira yang berbalut jilbab langsungan itu. Aroma parfum yang romantis nan wangi melekat pada jilbab Fira itu menebar hingga indera penciuman Henry. Henry berpikir Fira pandai mengguggah hasratnya sebagai suami melalui aroma parfum saja.


Henry memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Fira. Kini bola mata keduanya terpatri. Pipi Fira seketika merah merona karena tersipu-sipu. Bulu kuduk di balik piyama panjangnya, Fira jadi merinding.


"Kamu sudah bersih dari halangan, ya? Tumben cantik dan wangi sekali," lirih Henry.


"Alhamdulillah, sudah," lirih Fira.


"Tapi, ini masih sore. Nanti malam setelah salat Isya, ya. Aku ingin menyatukan cinta kita."


"Insyaallah, aku sudah siap. Omong-omong, aku enggak perlu KB kan?"


"Enggak perlu. Setelah aku pikir-pikir lagi, aku ingin punya anak saja, hehehe. Supaya keluarga Lee punya generasi penerus. Keluarga kita jadi ramai. Kita besarkan anak-anak bersama."


"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya."


Dari luar kamar Henry dan Fira terdengar seorang sedang mengetuk pintu kamar. Henry dan Fira yang sedang bercumbu mesra itu sontak terperanjat. Fira merapikan jilbab dan piyama panjang. Wanita dengan tinggi 160 sentimeter ini bergegas menuju ke pintu kamar. Sementara napas Henry memburu, berusaha mengatur napas. Ia lantas kembali pada laptopnya.

__ADS_1


Fira membuka pintu kamar, ternyata Naomi berdiri di depan kamar. Wanita bermata sipit itu menilik wajah Fira yang salah tingkah. Naomi lantas tertawa terkekeh-kekeh melihat ekspresi Fira yang kian canggung. Sementara Fira mengernyit dahi melihat tingkah Naomi.


"Hayo, sore-sore ngapain itu?" tanya Naomi menggoda Fira.


"Idih, enggak ngapa-ngapain kok. Kepo aja kamu," jawab Fira mengelak dari Naomi.


"Halah, aku tahu kamu lagi pacaran sama Henry kan? Hahaha."


"Ih, apaan sih, Naomi!"


"Tuh, di ruang tamu ada kedatangan tamu ingin ketemu sama kamu dan Henry."


"Siapa?"


"Temuilah segera!"


"Baiklah, aku sampaikan kepada Henry dulu."


***


Henry, Fira dan Naomi tiba di ruang tamu. Tidak disangka---ternyata tamu itu adalah Rafi. Melihat Henry dan Fira tercengang, Rafi lantas beranjak dari sofa. Dibukanya kacamata hitam yang bertengger di dua matanya. Henry menatap sinis ke Rafi. Namun Rafi menanggapinya dengan senyum sinis.


Naomi yang berada di belakang Henry dan Fira itu memasang wajah muram melihat kedatangan Rafi di rumahnya. Lagaknya yang angkuh itu menyilangkan kedua tangan. Seandainya Henry tidak melarangnya untuk mencampuri urusan ini, Naomi ingin sekali menghantam Rafi tanpa ampun.


"Aku enggak terima, ya, mendapat perlakuan seperti ini!" gertak Rafi.


"Apa polisi sudah bertemu denganmu?" tanya Henry menyeringai.


"Keterlaluan, ya, kamu. Maksudmu apa menghubungi polisi segala? Malam itu aku hanya mampir ke depan rumah ini. Gila, ya, kamu!" geram Rafi.


"Kamu itu yang gila. Enggak wajar ada orang malam-malam berdiri di depan rumah orang lain. Itu sangat mencurigakan. Jadi aku hubungi polisi supaya kamu ada jera mengikutiku dan Fira," tegur Henry.


"Sudah, sudah. Lagi pula aku yang memergoki Rafi di depan rumah ini. Terus aku yang cerita ke Henry. Sudah sepantasnya aku curiga padamu, Rafi. Henry benar menghubungi polisi, karena ia berusaha menjaga keluarganya," jelas Fira.


"Awalnya aku ingin menuntut Henry ke jalur hukum. Aku enggak terima saja---kalau Henry lancang sekali melaporkan aku ke polisi. Untung saja polisi enggak mudah menghakimiku. Ini termasuk pencemaran nama baikku. Namun mendengar penjelasan dari Fira, aku tidak jadi menuntut," ujar Rafi.


"Hahaha, lucu kamu, Raf. Begitu Fira yang menjelaskan, kamu ibarat seperti kerupuk melempem. Kamu tahu melempem atau alot? Ya, jadi lembek gitu," sindir Henry.


"Henry, sudah, jangan sampai kalian saling memancing emosi." Fira berusaha menahan Henry dengan menggenggam lengan Henry.


"Kalau ingin hidupmu baik-baik saja. Lebih baik kamu cari jalan hidupmu sendiri. Kalau kamu masih mengganggu biduk rumah tangga Henry dan Fira. Bersiaplah nyawamu berhadapan denganku," tegur Naomi seraya menatap nanar kepada Rafi.


Rafi sontak tertawa terbahak-bahak. Ia menepuk tangan berulang kali. Suaranya hingga menggema di seisi ruangan. Henry, Fira dan Naomi mengernyit heran melihat tingkah Rafi yang aneh itu. Rafi lantas menoleh tajam mengarah ke Naomi. Seolah ada pertengkaran melalui pandangan.


"Hei, Naomi, apa kabar? Aku masih enggak menyangka jika kamu itu Kakaknya Henry. Jangan suudzon dong sama aku. Aku juga sedang dekat dengan seorang gadis yang lebih cantik dari Fira. Tenang saja, bukan levelku mengganggu rumah tangga orang," jelas Rafi.


"Ya, baguslah kalau kamu dekat dengan perempuan lain. Tapi, tolong, sebaiknya jauh-jauh dari Fira. Bukannya kamu dulu pernah bilang enggak bakal kenal Fira lagi? Kamu sendiri yang bilang memutuskan persahabatan kalian," jelas Naomi.


"Aku masih menganggap Fira sebagai sahabat. Kamu perlu tahu, aku tetap enggak bisa melihat Fira kembali terluka dan sakit. Jangan sampai suaminya yang sekarang menyakitinya," tegas Rafi.


"Aku menikahi dan mencintai Fira karena Allah. Aku tahu masa lalu Fira. Maka dari itu sebagai suaminya, aku berusaha membuatnya bahagia. Masa lalu enggak perlu diungkit lagi. Semuanya sudah membuka lembaran baru. Memperbarui hati menjadi ikhlas dan bahagia. Membangun masa depan yang lebih baik," sela Henry.


"Aku pegang kata-katamu, Henry!" hardik Rafi.


"Aku juga pegang kata-katamu, Rafi. Ingat, harga diri seorang pria adalah yang bisa memegang omongannya." Semakin lantang bicara Henry, membuat Rafi tidak bisa berkutik lagi.


Rafi menghentakkan kakinya. Tubuh atletis itu seketika mendidih, kemudian berbalik arah hendak keluar dari rumah. Sebelum keluar dari rumah, Rafi menyempatkan diri melihat Fira. Namun Fira justru memalingkan wajahnya. Seakan tidak ingin berurusan lagi dengan Rafi.


Henry tiba-tiba mengubah posisi di depan Fira. Sehingga posisi Fira terhalang oleh punggung Henry. Tatapan Henry dan Rafi berang dan terjadi perang melalui pandangan. Henry tidak akan percaya dengan ucapan Rafi tadi. Henry jadi peka hanya melihat dari tatapan Rafi. Tidak salah lagi akan sesuatu yang terjadi. Walaupun Henry sulit memprediksi kedepannya.


Rafi bergegas pergi meninggalkan rumah elite ini. Tangan kanannya yang kekar itu menaruh kacamata hitam menutupi kedua matanya. Namun di balik kacamata hitam itu ada tetesan air mata yang mengalir hingga di pipi. Lisan Rafi bisa saja berbohong tentang perasaannya. Walaupun sebenarnya ia belum bisa menerima kenyataan bahwa Fira menikah dengan Henry. Hati Rafi tertatih-tatih berusaha mengikhlaskan sahabat kecilnya bahagia bersama pria pilihannya.

__ADS_1


__ADS_2