Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Firasat Hati


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Fira dan Intan berada di ruang tunggu rumah sakit karena sedang menunggu Lee Hyun Joong di ruang periksa. Fira mendapati perutnya keroncongan yang menimbulkan sedikit suara dari dalam. Mendengar suara dari perut Fira, Intan menoleh ke menantunya itu. Beliau paham jika wanita hamil terkadang mudah untuk lapar.


"Kamu cari makan dulu aja. Biar Mami di sini. Pasti adik bayi juga lagi lapar," ucap Intan tersenyum.


"Tapi, Mam. Mami enggak apa-apa Fira tinggal sebentar," kata Fira.


"Enggak apa-apa, Nak."


"Fira bawakan makanan dan minuman untuk Mami juga nanti."


"Iya, terima kasih. Mami makan apa aja mau kok."


Sebelum Fira beranjak dari kursi, ia mencium punggung tangan ibu mertuanya. "Fira cari restoran halal dulu, ya, Mam. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan, Fir."


Baru saja Fira berdiri, di hadapannya ada empat pria berseragam hitam. Masing-masing mata empat pria tersebut menggunakan kacamata hitam. Fira terkesiap melihat kehadiran empat pria berbadan besar dan tinggi itu.


"Permisi, Nyonya Fira, kami adalah bodyguard yang diutus oleh Pak Raditya dan Bu Naomi untuk menjaga Anda dan Nyonya Besar," ucap salah seorang bodyguard bersuara berat.


"Kenapa begitu? Biasanya enggak masalah kalau saya ke mana-mana tanpa bodyguard," ujar Fira.


"Kondisinya sekarang berbeda, semenjak Pak Henry menghilang. Kami tidak mau Anda dan Nyonya Intan yang menjadi korban selanjutnya. Sekarang Anda bisa lihat di luar rumah sakit, para wartawan sedang menunggu Anda untuk diwawancara."


Fira mengernyit dahi. "Wartawan?"


"Barangkali para wartawan itu ingin mendengar klarifikasi darimu, Fir," tutur Intan. Beliau pun turut berdiri di samping Fira.


"Tapi, Fira belum pernah wawancara di hadapan awak media, Mam. Fira enggak percaya diri," kata Fira.


Intan lantas merangkul Fira supaya menantunya bisa percaya diri. "Anggap saja kamu sedang berbicara dengan satu orang saja. Jika mereka bertanya dengan baik, maka kamu jawab dengan baik. Jika mereka melontarkan pertanyaan nyeleneh, abaikan saja. Sudah saatnya kamu klarifikasi tentang hilangnya Henry supaya tidak jadi berita nyeleneh di mana-mana, apalagi kalau jadi fitnah. Kamu istri Henry, kamu dan Mami sudah tahu Henry. Ungkapkan kebenarannya."


"Insyaallah, Mam."


"Jangan gemetaran dan tegang, kamu harus relax dan percaya diri. Kamu akan terbiasa dengan hal ini. Mami juga pernah berhadapan dengan wartawan."


"Bismillah, hehehe."


Fira kembali bersalaman dengan Intan. Dua bodyguard bertugas menjaga Fira dan dua lainnya bertugas menjaga Intan. Fira mencangklong tas di bahu. Ia berjalan di sepanjang koridor rumah sakit dan selalu diikuti oleh dua bodyguard-nya. Walaupun ia canggung dan risih jika diikuti oleh bodyguard, tapi Fira berpikir ini demi keselamatannya.


Saat tiba lobi rumah sakit, Fira melihat seorang pasien yang terbaring di kasur. Wajah pasien itu sepenuhnya tertutup oleh perban putih. Hanya selang oksigen yang bisa masuk ke lubang hidung pasien tersebut. Beberapa perawat bergegas mendorong kasur pasien itu. Seketika langkah Fira terhenti. Ia jadi ingat kakak Lucky yang menderita luka di wajahnya.


Semakin melihat sosok pria dengan perban di wajahnya, Fira tiba-tiba mual hingga menimbulkan suara. Suara mual dari Fira jadi pusat perhatian orang-orang. Fira lantas menutup mulutnya dengan tangan sembari tersipu-sipu.


"Sorry, I'm pregnant," ucap Fira kepada orang-orang. Wanita itu kemudian bergumam, "kenapa firasat hati ini aneh, ya, saat melihat sosok itu? Padahal kalau ke mana-mana aku enggak pernah mual. Hanya di rumah aku terus mual."


Ketika Fira berbalik badan, ia jadi bertemu dengan orangtua Lucky. Walaupun orangtua Lucky, Fira tetap memberikan hormat kepada yang lebih tua darinya. Ia pun menyapa ramah.


"Assalamu'alaikum, Bu Sulastri dan Pak Surya," sapa Fira.


"Wa'alaikumsalam, masyaallah, Bu Fira, kita bertemu lagi," ucap Sulastri. Ibunda Lucky.

__ADS_1


"Maaf, apa tadi Kakaknya Lucky?" tanya Fira.


"Iya, hari ini dia akan operasi wajah," jawab Sulastri.


"Operasi wajah? Apa separah itu?"


"Sebenarnya di bagian kening, dua pipi dan dagu yang terkena luka bakar. Tapi, dokter bilang tidak perlu mengubah wajahnya, hanya pemulihan luka di wajah saja."


Seorang suster memanggil Sulastri, merasa dipanggil, Sulastri dan Surya bergegas menghampiri perawat. Fira yang timbul rasa penasaran, ia menyuruh dua bodyguard untuk menunggunya di sini, kemudian Fira menyusul Sulastri dan Surya. Namun saat Fira melihat sosok itu ia selalu merasa mual. Padahal tidak ada aroma yang membuatnya mual.


"The patient's hand continues to pull the blanket, it seems he is in need of you," kata seorang suster kepada Sulastri. (Tangan pasien terus menarik selimu, tampaknya ia membutuhkan Anda.)


Sulastri melihat tangan sosok pria itu, tapi jika dilihat secara jeli, jemari telunjuk itu tidak sedang menunjukkan dirinya. Sulastri terus menilik dari tangan sosok pria itu hingga tidak disangka ternyata jemari telunjuk itu mengarah pada Fira.


"Apa anak ini mengenal Bu Fira?" batin Sulastri seraya bertanya-tanya.


Napas sosok pria itu sengaja dibuat terengah-engah, seakan ia ingin bicara sesuatu tapi tidak bisa karena mulutnya juga tertutup perban. Sementara Fira terus mengamati tingkah sosok pria yang terbaring di kasur. Hatinya hanyut dalam iba melihat sakit yang diderita oleh pria itu.


"Bu Fira bisakah saya minta tolong mengatakan sesuatu kepada anak saya yang sedang sakit ini? Saya perhatikan dia menunjuk ke Bu Fira," pinta Sulastri.


"Apa dia kenal dengan saya?" tanya Fira.


"Saya juga tidak tahu. Tapi, sepertinya dia butuh Anda," jawab Sulastri.


"Dia sebenarnya siapa? Kenapa dia menunjukku?" batin Fira.


Fira mendekati sosok pria yang sepenuh wajahnya berbalut perban. Entah kenapa tiba-tiba tubuh Fira merasa merinding melihat kondisi sosok pria itu? Tanpa disadari air mata Fira lantas menetes. Fira melihat tangan kanan pria itu seakan ingin menggenggam Fira. Namun Fira tidak bisa melakukan itu, karena ia tidak kenal dengan pria sekarat tersebut.


"Kenapa aku tiba-tiba menangis melihat pria ini? Seakan aku sedang melihat Henry. Aku enggak bisa bayangin kalau kondisi Henry seperti pria ini," batin Fira.


"Saya enggak kenal sama Masnya. Tapi, saya yakin Masnya bisa sembuh. Masnya harus semangat untuk menjalani operasi wajah. Kalau melihat Masnya ini, saya jadi ingat suami pertama dan kedua saya, tapi saya enggak tahu di mana suami kedua saya. Semoga dia selalu baik-baik saja. Maafkan saya jika saya terlalu emosional," ucap Fira.


Karena tidak kuat menahan duka dalam hati, Fira lantas pergi dengan isak tangis. Langkah Fira kemudian diikuti oleh dua bodyguard. Fira cepat-cepat menyeka air mata karena hendak menemui para wartawan di luar rumah sakit. Pilu benar hati Fira mengingat dukanya sewaktu bersama Kirsandi hingga Henry.


Namun di sisi lain, para perawat meneruskan perjalanan sembari mendorong kasur pasien. Sosok pria itu semakin meradang, napasnya memburu dan terus menarik selimut. Para perawat hampir kewalahan menghadapi pasiennya itu. Mereka terus melaju menuju ke ruang operasi bedah karena dokter bedah telah menunggu.


***


Fira keluar dari rumah sakit. Kerumunan wartawan berdesakkan untuk mengajukan pertanyaan kepada Fira. Yang tadinya Fira berlinangan air mata, seketika wajah ayu itu berubah drastis menjadi tegas dan ramah.


Fira dengan sabar mendengar pertanyaan dari para wartawan. Ia ingat pesan ibu mertuanya untuk pandai menjawab pertanyaan yang baik. Detik ini, Fira harus klarifikasi tentang hilangnya Henry, yang murni hilang tanpa ada unsur lainnya. Karena masih ada berita bohong dan fitnah yang menyangkut nama Henry. Fira geram terhadap berita bohong tersebut.


"Please provide clear clarification regarding Mr. Henry Lee," kata seorang wartawan wanita. (Tolong berikan klarifikasi yang jelas tentang hilangnya Pak Henry.)


"How do you respond to the hoax that carries the name Mr. Henry?" tanya seorang wartawan pria. (Bagaimana tanggapan Anda mengenai berita bohong yang mengusung nama Pak Henry.)


"I clarified about Henry's disappearance. Henry was purely kidnapped by three people and three people became wanted by the police. I have seen CCTV footage at the airport live. My husband was kidnapped instead of him going alone. I hope my husband is well. If anyone finds Henry, I will give that person a special gift. One more thing, don't believe the fake news about my husband. Thank you," jelas Fira. (Saya mengklarifikasi tentang hilangnya Henry. Henry murni diculik oleh tiga orang dan tiga orang menjadi buronan polisi. Saya telah melihat rekaman CCTV di bandara secara langsung. Suami saya diculik dan bukan pergi sendiri. Saya berharap suami saya baik-baik saja. Jika ada yang menemukan Henry, saya akan memberi orang itu hadiah spesial. Satu hal lagi, jangan percaya dengan berita palsu tentang suami saya. Terima kasih.)


Dua bodyguard itu lantas melindungi Fira ketika Fira memilah jalan karena kerumunan awak media. Untung saja, Irwan, si sopir sudah siaga di sana, sehingga memudahkan Fira untuk bergegas masuk ke dalam mobil. Sementara dua bodyguard itu bergegas ke mobil khusus.


Mobil yang membawa Fira tetap dikejar oleh para wartawan. Fira lantas mengambil sehelai sapu tangan dari tas, ia tutupi semua wajahnya. Fira menangis sepuasnya di dalam sapu tangan tersebut.


Irwan meningkatkan laju kemudi menyusuri jalanan, kemudian di belakang diikuti oleh mobil khusus bodyguard. Fira merasa lega terlepas dari desakkan para wartawan. Ia tidak ingin banyak bicara di hadapan awak media, karena jika berbicara tentang Henry akan membuatnya semakin gelisah dan pilu.

__ADS_1


***


"I'm very hungry," ucap salah seorang teman Ammar. (Aku sangat lapar.)


"We'll stop at that restaurant. I'm also hungry because going on this mission requires energy," kata Ammar. (Kita akan mampir ke restoran itu. Aku juga lapar karena menjalani misi ini membutuhkan energi.)


Ammar mengemudi mobil menuju ke sebuah restoran. Ia di sana mengajak dua temannya sarapan di restoran, setelah itu mereka kembali menjalankan misi tim detektif. Pakaian yang mereka kenakan seperti orang biasa, supaya mereka tidak dicurigai oleh siapapun. Ammar memakirkan mobil di dekat trotoar. Sebelum turun dari mobil, Ammar dan teman-teman menggunakan alat yang bisa merekam sesuatu. Di antaranya, jam tangan, earphone, kacamata bening, laptop, sepatu, pena dan buku.


"Mr. Ammar, what I see is real?" seru salah satu temannya itu. (Pak Ammar, apa yang saya lihat ini nyata?)


"What's up, Zoe?" tanya Ammar. (Ada apa, Zoe?)


Zoe menjawab, "Ah, we will match our fugitives. Look in front of us, isn't that a car caught on a CCTV camera at the airport?" (Ah, kita akan berjodoh dengan buronan kita. Lihatlah di depan kita, bukankah itu mobil yang terekam kamera CCTV di bandara?)


Ammar lantas menoleh ke arah mobil tersebut. "Ya, you are right, Dude!" (Ya, kamu benar, Bung!)


"What are you waiting for? Let's have breakfast while pouncing on the prey," ajak Zoe. (Apa yang Anda tunggu? Ayo kita sarapan sambil menerkam mangsa.)


"I like that. Don't forget to take a picture of that car's number plate." (Jangan lupa untuk potret plat nomor mobil itu.)


"Oke, Mr. Ammar."


Ammar dan teman-teman turun dari mobil. Waktu berpijak kepada mereka, seorang yang merupakan pemilik mobil itu masuk ke dalam mobil. Ammar menoleh ke arah pemuda itu. Ia yang telah memakai kacamata bening sudah merekam sosok pemuda berjaket hitam dan celana jeans yang terdapat robekan pada lututnya. Pemuda itu keluar dari mobil lagi, ia tersenyum ramah kepada Ammar. Ammar pun begitu.


Kini Ammar dan tiga temannya duduk di kursi. Layaknya pelanggan pada umumnya, ia memanggil seorang pelayan. Ammar dan teman-teman memesan makanan dan minuman. Seorang pelayan tersebut cekatan menulis pesanan pelanggan restoran itu. Seorang pelayan meminta Ammar dan teman-teman untuk sabar menunggu pesanan makanan dan minuman.


Kali ini Ammar dan tiga temannya berakting membicarakan bisnis yang digeluti. Sorotan mata Ammar juga tertuju pada pemuda pemilik mobil Jeep tadi. Jarak meja makan yang di tempati Ammar cukup dekat dari meja makan yang di tempati pemuda itu. Ternyata pemuda itu tidak sendiri, ia bersama dua teman dan satu pria berwajah beringas. Namun Ammar tidak mendapati Rafi di sana. Padahal Ammar juga penasaran dengan sosok Rafi.


"Do our business well. I can't wait to be a successful person," ujar Ammar. (Lakukan bisnis kita dengan baik. Aku tidak sabar untuk menjadi orang sukses.)


"You are successful in business but you are weak in love, hahaha," kelakar Zoe. (Anda sukses dalam berbisnis tapi Anda lemah dalam hal percintaan, hahaha.)


"Don't underestimate me, man! I'll prove it if I can marry four women, hahaha. I want to have four wives who are peaceful." (Jangan meremehkanku, bung! Aku akan membuktikan jika aku bisa menikahi empat wanita, hahaha. Aku ingin punya empat istri yang damai.)


Ammar dan teman-teman tertawa terbahak-bahak. Setelah itu mereka kembali pada tugas masing-masing. Ammar menulis sesuatu di buku sembari dua matanya tajam mengarah pada sekumpulan pemuda dan seorang pria berwajah beringas di sana.


Sepertinya pria berwajah beringas tersebut sedang memesan sesuatu kepada seorang pelayan. Ammar bergerak cepat memberi kode kepada Zoe untuk menjalankan misi. Zoe pun paham maksud pandangan Ammar. Zoe, pria rambut bercat putih itu beranjak dari kursi. Ammar yakin rekannya itu akan menjalankan misi dengan baik.


Ammar dan tiga temannya telah memakai earphone. Mereka kini melihat aksi pelayan yang sudah diatur oleh Zoe supaya pura-pura menumpahkan sedikit air minum. Pria beringas itu agaknya mulai emosi dengan pelayan yang mengantar minuman. Seorang pelayan mengelap meja yang terkena percikan air, tapi Ammar dan Zoe melihat pelayan itu menempelkan magnet di bawah meja. Ammar tersenyum melihat aksi pelayan tersebut.


Ternyata magnet yang menempel di bawah meja dapat mendengarkan percakapan antara pemuda pemilik mobil Jeep dengan dua teman dan seorang pria beringas. Ammar dan tim detektif menyiapkan telinganya untuk mendengar percakapan mereka sambil menyantap sarapan pagi. Untung saja Ammar paham bahasa Indonesia karena ia juga keturunan Indonesia.


"Itu berarti kau sudah membuang Henry jauh-jauh. Saya tak nak Henry kembali ke dunia ini," ucap pria beringas itu. Jika dari ucapannya ia berlogat Melayu.


"Tenang saja, Pak Cik Sultan. Semua sudah beres. Kevin dan kawan-kawan pasti profesional dalam menjalankan tugas menyingkirkan orang," kata Kevin.


"Saya nak saudara kamu tahu soal kita telah menyingkirkan Henry. Pasalnya dia juga yang membuat rencana macam ni, pandai dia buat siasat. Tapi, saya nak korang jaga rahasia dari dia, saya punya rencana lain yakni mendekati Fira."


"Tenang saja, Pak Cik. Lagi pula saudara saya itu sudah pedekate sama cewek lain. Saya juga enggak rela saudara saya dekat dengan namanya Fira itu. Masa seleranya janda? Hahaha."


Percakapan mereka membuat Ammar geram karena membawa nama Fira. Apalagi Sultan ada rencana untuk mengganggu Fira. Hari ini Ammar dan tim detektif telah berhasil menemukan dalang di balik hilangnya Henry. Namun di sisi lain, Ammar tidak tinggal diam jika Fira menjadi korban mereka selanjutnya.


"Oh, jadi itu yang namanya Sultan. Dan pemuda itu namanya Kevin," batin Ammar dari kejauhan. "Aku dan teman-teman harus bertindak sesuatu untuk melindungi Fira dan keluarganya."

__ADS_1


***


Energy Of Love 2 insyaallah menuju tamat. Ayo dukung terus novel Energy Of Love 2 supaya penulisnya semakin semangat nulis, dengan like, vote, komentar dan rekomendasikan novel ini ke orang-orang terdekat kalian. Tambahkan novel Energy Of Love 2 ke rak buku kalian, ya, dengan cara klik love. Terima kasih.


__ADS_2