
Fira bangun di sepertiga malam untuk mendirikan salat tahajud. Ternyata di dalam rumah megah ini terdapat mushola dengan fasilitas lengkap: mukena, mushaf Al-Qur'an, tasbih, kaligrafi dan sajadah. Diambilnya mukena di dalam lemari. Seketika air mata Fira menetes di pipi. Ia jadi ingat momen salat tahajud berjemaah dengan Henry. Henry yang menjadi imam salat tahajud. Henry memimpin doa untuk keluarga. Fira pun mengamini doa itu. Dan Fira mengaji bersama suami tercinta.
"Di keheningan malam ini, kamu sedang apa, duhai kekasihku? Aku rindu suara merdumu saat mengucapkan ayat-ayat Al-Qur'an. Kita saling memanjatkan doa kepada Allah. Aku dan kamu saling menyebut nama dalam doa. Kamu membimbingku membaca Al-Qur'an. Aku kangen semua itu," tutur Fira. Dadanya mulai sesak karena isak tangis.
"Di mana cintaku?" Wajah Fira tenggelam dalam kain mukena untuk meluapkan kesedihannya.
"Mama," panggil Zayn.
Fira gelagapan ketika Zayn hadir di mushola. Sontak ia bergegas menyeka air mata yang membasahi pipi. Anak sepuluh tahun itu paham yang dirasakan mamanya saat ini. Fira tersenyum kepada Zayn. Dua tangannya melambai supaya Zayn mendekatinya. Dipeluknya anak sulungnya begitu hangat.
"Tumben, Zayn bangun jam segini," kata Fira.
"Mama nangis karena ingat Papa, ya?" Zayn merenggangkan pelukan mamanya. Ia lantas menatap wajah Fira.
Fira mengangguk. Derai air mata lagi-lagi mengalir di pipi. "Mama mau salat tahajud biar tenang dan minta petunjuk sama Allah. Karena dengan kuasa Allah, semoga kita bisa ketemu Papa lagi."
"Zayn ikut salat tahajud juga, ya, Ma," pinta Zayn.
"Boleh, Nak. Justru doa anak sholih barangkali Allah ijabah. Kita doakan Ayah dan Papa."
Anak laki-laki dengan balutan piyama tidur itu lantas mengambil sarung di lemari. Fira terenyuh melihat putranya beranjak remaja itu. Dini hari ia tidak sendiri karena ada anak laki-laki yang menemaninya. Sementara Fira bersiap mengenakan mukena.
Mama dan anak laki-lakinya itu melaksanakan salat tahajud dengan khusyuk. Fira yang menjadi imam salat untuk Zayn. Dua hamba begitu larut dalam kenikmatan ibadah. Seakan-akan Allah berada di hadapan keduanya. Namun pada saat sujud terakhir, seketika sajadah yang dipakai Fira basah karena linangan air mata.
Fira meluapkan isi hati yang menyesakkan dada dengan sujud sembari berdoa kepada Allah. Hatinya kian tawadhu. Ia seorang hamba yang adakalanya minta pertolongan kepada Yang Maha Esa. Fira menyadari segala ikhtiar mencari Henry tetap melibatkan Allah. Wanita itu berharap ada keajaiban dari Allah supaya Henry kembali dalam keadaan baik-baik saja.
"Ya Allah, hamba tidak tahu kondisi Henry di sana. Lindungilah, suami hamba di manapun berada. Jika ada orang yang berniat jahat pada Henry, cegahlah mereka untuk menyakiti Henry. Berikanlah Henry kekuatan untuk menghadapi ujian ini. Tuntunlah Henry supaya tetap di jalan yang benar. Dan tunjukkanlah kepada kami, tentang Henry dan dalang di balik konflik ini. Aamiin yaa rabbal alamin," batin Fira dalam doa.
Sujud yang dilakukan Fira begitu lama. Namun tidak membuat Zayn mendahului mamanya. Putranya itu tetap sujud sambil menunggu mama bangkit dari sujud. Fira lantas duduk tahiyat akhir. Usai itu, Fira salam ke kanan dan ke kiri disertai dengan doa gerakan salat. Zayn pun mengikuti gerakan salat.
Fira berbalik badan, Zayn otomatis menciumi punggung tangan mamanya. Sementara sang mama membelai lembut rambut Zayn seraya mendoakan keberkahan untuk putranya tersebut. Jika dilihat semakin beranjak remaja, wajah Zayn seperti Fira, tapi dalam versi anak laki-laki. Mata, hidung dan senyum itu sama. Fira jadi terharu tidak terasa putra sulung yang dahulu ia lahirkan, kini tingginya hampir sebahu Fira.
"Sekarang kita ngapain, Ma?" ucap Zayn.
"Zayn kirim surah Al-Fatihah khusus Nabi Muhammad dulu, kemudian Ayah Kirsandi dan Papa Henry. Setelah itu terserah Zayn ingin doa seperti apa? Yang penting doa untuk kebaikkan, keselamatan dan keberkahan dunia akhirat kita," tutur Fira.
"Insyaallah, Mama."
"Zayn ngantuk, enggak?"
"Enggak, Ma. Justru Zayn ingin menemani Mama. Mama jangan sedih terus, ya. Zayn enggak tega lihat Mama nangis terus."
"Insyaallah, Nak."
"Zayn dan Mama ngaji, paling enggak setengah juz, biar hati Mama tenang."
__ADS_1
"Anak sholih dan cerdas. Ya, sudah, kita berdoa untuk Ayah Kirsandi dan Papa Henry dulu, yuk. Setelah itu kita ngaji."
"Alhamdulillah."
Zayn menengadahkan tangan sembari mengirim surat Al-Fatihah untuk Rasulullah terlebih dahulu kemudian dua ayahnya. Anak laki-laki itu lantas memanjatkan doa kepada Allah. Dua matanya menatap langit-langit mushola.
"Ya Allah, tempatkan Ayah Kirsandi di sisi yang terbaik, kumpulkan beliau bersama orang-orang sholih dan ampunilah dosa Ayah Kirsandi. Ya Allah, jagalah Papa Henry. Zayn enggak tahu Papa Henry ada di mana? Zayn yakin Papa Henry masih ada. Hindarilah Papa Henry dari orang-orang yang jahat. Ampunilah dosa Papa Henry. Semoga dua ayah Zayn selalu dalam perlindungan Allah. Rabbana aatina fiddunya hasanah wa qina adzabannar. Aamiin yaa rabbal alamin," ucap Zayn dalam doa.
Merinding pula tubuh Fira mendengar doa-doa yang dipanjatkan oleh Zayn. Fira yakin Allah mendengar doa anak sholih seperti Zayn. Kebersamaan mama dan anak laki-lakinya dalam amal ibadah jadi memiliki energi cinta. Karena segala kegelisahan Fira menjadi semangat. Sebagai seorang ibu, jika ada dukungan dari anaknya bisa kembali bangkit. Anak pun bisa jadi pelipur hati orangtuanya.
***
"Kaki ini telah berpijak pada daun-daun kecokelatan. Rindu bisa saja bak daun-daun berguguran. Namun tetap saja jejakmu tidak kunjung ditemukan. Ragaku berusaha kuat untuk mencarimu. Namun langkahku tertatih tanpamu di sini," gumam Fira.
Fira mendongak, sepasang mata yang memakai kacamata bening itu melihat daun-daun kecokelatan berguguran dari dahan pohon. Semilir angin turut menyejukkan suasana pagi. Fira lantas menghirup udara segar, walaupun dada masih nyeri karena separuh napasnya hilang.
"Duhai penggenap imanku. Aku rindu saat kepalaku bersandar di bahumu. Di mana cintaku? Aku rindu saat kita amini doa kepada Allah," lanjutnya.
"Kak, sarapan yuk," ajak Bryan. Adik laki-laki Fira itu tiba-tiba datang menghampiri kakaknya.
"Kakak lagi menikmati musim gugur, Bry. Padahal rencananya Henry dan Kakak ingin bermain dengan daun-daun ini," ungkap Fira.
"Manusia bisa berencana. Namun Allah yang berkehendak. Barangkali di balik ujian ini akan ada hikmahnya. Kakak tenang saja selama ada Bryan."
"Kamu enggak ada keinginan untuk ketemu Anna?" goda Fira.
"Kira-kira Henry di mana, ya, Bry? Apa masih di Kanada atau justru di luar negeri? Kakak jadi gregetan sendiri siapa pelaku yang berusaha menghilangkan Henry?"
Melihat sang kakak menitikkan air mata, Bryan lantas memeluk erat Fira. Kini Fira cukup lega berada di pelukan adiknya. Bryan mengerti perasaan kakaknya yang dua kali kehilangan orang yang dicintai. Sudah pasti melebihi patah hati. Bryan juga tahu perasaan tiga keponakannya yang lagi-lagi tanpa sosok ayah.
Terkadang ini yang membuat Bryan menunda pernikahan dengan perempuan. Bukan karena ia takut menikah, justru Bryan sayang kepada kakak dan keponakannya. Ia ingin menjaga Fira, Zayn, Zema dan Alira. Semenjak Fira menjanda itulah---Bryan melindungi kakaknya.
Terkadang juga Bryan ingin menikah, tapi jika dipikir lagi, kelak siapa yang akan menjaga kakak dan keponakannya kalau tidak ada pria yang bisa menjaga? Hanya Bryan yang masih sanggup menemani Fira. Sedari kecil Bryan dan Fira terbiasa saling tolong menolong saudara.
"Kakak tenang, ya. Jangan berpikir berat, nanti adik bayi yang di perut juga ikut sedih. Kan sudah banyak orang yang membantu Kak Fira," kata Bryan.
"Tetap saja Kakak kepikiran, Bry," keluh Fira.
"Kalau Kak Fira tenang, Kakak bisa berpikir jernih. Aku yakin Kak Fira itu orangnya jenius alias stalker andal."
Fira lantas melepaskan pelukan dari Bryan. Dua matanya terbeliak seakan sedang mengingat sesuatu. Bryan mengernyit heran melihat ekspresi kakaknya itu.
"Tasbih dan cincin itu, Bry," ujar Fira.
"Tasbih?" Bryan kian keheranan.
__ADS_1
"Iya, Raditya hanya menyerahkan tas, dompet dan hp Henry. Tapi, Kakak enggak menemukan tasbih dan cincin kawin Henry. Pasti tasbih itu masih dibawa oleh Henry."
"Berarti kunci untuk menemukan Henry bisa dilihat dari cincin kawin dan tasbih, ya, Kak."
"Soalnya tasbih itu pemberian dari Kakak, Bry."
Di antara pembicaraan Fira dan Bryan, Lefia datang sembari membawa gawai. Fira melihat Lefia yang jalannya tergesa-gesa. Napas Lefia tergopoh-gopoh saat menghampiri Fira.
"Bu Fira!" pekik Lefia.
"Masih pagi, Lef. Udah teriak-teriak segala," tegur Fira.
"Sama Bos kok gitu? Enggak sopan, Lef!" tegur Bryan.
"Eh, anu, maaf, Bu, Mas Bry. Lah, soalnya hp Bu Fira ada telepon penting dari Mister Ammar." Lefia lantas memberi gawai kepada Fira.
Fira melihat layar gawai. Benar, Ammar menelepon dirinya. Jemari Fira menekan tombol menerima telepon. Panggilan masuk dari Ammar itu jadi terhubung dengan Fira.
"Halo, gimana Mr. Ammar?" kata Fira.
"Halo, Nyonya Fira. Please, help me," ucap Ammar.
"Ya, apa yang bisa saya bantu?"
"Saya sekarang ada di RafJens Distro bersama teman-teman detektif. Apakah Anda punya foto Rafi?"
"Saya ada foto Rafi tapi yang usianya dua puluh lima tahun, bukan yang sekarang. Tapi, Rafi punya akun Instagram namanya @rafijensen11."
"Oh, oke. Di sana ada foto-foto Rafi, ya?",
"Tentu ada, bahkan banyak foto dan videonya, wajahnya ada. Coba saja Anda lihat akun Instagramnya. Namun ..."
"Namun, apa, Nyonya Fira?"
"Namun akun Instagram Rafi tidak ada foto, video dan instastory. Rafi patut dicurigai."
"Wah, Anda cerdas, Nyonya Fira! Itu pasti kita curigai. Jika di akun Instagram Rafi---saya tidak menemukan fotonya, tolong kirim foto lama Rafi tadi kepada saya, oke!"
"Of course, Mr. Ammar."
Ammar yang mengakhiri percakapan dengan Fira. Tatapan Fira tajam seolah menaruh curiga kepada Rafi. Sebenarnya ia ingin berprasangka baik kepada Rafi, tapi lagi-lagi jika mengingat perseteruan antara Henry dan Rafi, Fira hanya fokus pada Rafi.
Fira membatin, "Jika Henry punya musuh dalam bisnis itu mungkin ada. Namun jika Henry punya rival, itu sangat mungkin, siapa lagi kalau bukan Rafi? Karena aku tahu waktu di Singapura, meski keduanya terlihat baik-baik saja, tapi pasti di balik itu keduanya sedang tidak baik-baik saja."
***
__ADS_1
Dukung author yuk. Mudah aja kok, dukung dengan like, berikan vote dan bintang lima. Jangan sungkan-sungkan untuk berkomentar setelah kamu baca novel Energy Of Love 2. Rekomendasikan novel Energy Of Love ke orang-orang terdekat maupun sosial media. Terima kasih.