Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Main Basket


__ADS_3

"Aku hampir saja lupa. Untung enggak telat," ucap Fira seraya memainkan gawai. Jemarinya berselancar di aplikasi M-banking. Istri Henry ini duduk santai di depan kaca rias.


"Maksudnya? Telat apa nih?" tanya Henry. Ia yang sedang memakai kaos oblong itu lantas terkesiap.


"Maksudnya, aku lagi transfer uang ke Panti Asuhan Kasih Ibu, yang di daerah Indraprasta itu loh. Aku donatur di sana," jawab Fira.


"Kok kamu enggak bilang sih---kalau kamu donatur?"


"Memangnya kenapa?" Fira mengernyit dahi lantas menoleh Henry yang berada di belakangnya.


"Ya, aku juga mau jadi donatur. Biar kelebihan rezeki yang aku miliki jadi berkah."


"Ya, sudah, kalau kita pulang ke Semarang, aku antarkan kamu ke sana."


"Jadi tambah cinta sama istriku. Selain cantik, juga gemar bersedekah."


"Apaan sih? Biasa aja deh, hehehe."


Henry mendekati sang istri. Kedua tangan kekar itu menyentuh dua bahu Fira. Keduanya saling menatap di cermin rias. Fira salah tingkah lantaran Henry tersenyum di cermin. Tanpa seizin dari Fira, Henry mencium hijab pashmina yang membalut kepala Fira.


Malam ini mereka berada di rumah papi Henry. Setelah berkelana di Namsan Tower, yang lumayan menguras energi, tapi menyenangkan. Waktu malam tepat untuk istirahat dan sekadar berbincang bersama yang tercinta. Masih ada hari esok untuk melanjutkan perjalanan keliling Korea.


"Aku pikir kamu telat datang bulan. Tadinya aku mau senang," kata Henry.


Fira mendongak menatap Henry. Tangan kanan itu menyentuh pipi Henry. "Kamu jangan terlalu menunggu. Biasanya kalau ditunggu itu bakal lama hadirnya. Jadi, kita nikmati waktu yang sekarang. Dibarengi dengan doa juga. Insyaallah, Allah pasti hadirkan si kecil."


"Iya, sayang. Aku enggak sabar saja pengen lihat gimana sih Henry atau Fira junior? Hahaha."


"Biasanya nih, ya, si istri yang ngebet pengen punya anak. Lah, ini malah si suami. Sabar, ya, Papa Henry, hahaha."


Henry lantas mencubit pipi Fira dengan gemas. "Ututu, jangankan menunggu si kecil. Menunggu Mama Fira dandan saja---Papa selalu sabar kok."


"Hahaha, halah gombal wae."


"Ya, sudah, aku ke lantai bawah dulu, ya. Ada Kim Jae Young di sini, aku mau ngajak main basket gitu."


"Oke, nanti aku menyusul."


"Love you, my beauty."


"Love you, too, Hubby."


Henry ke luar dari kamar. Fina tersenyum menatap punggung suaminya. Wanita ini merasakan debaran di dada. Lagi-lagi ia merasa jatuh cinta pada Henry. Kadang Fira berpikir betapa malunya saat dulu ia mengucap tidak suka punya suami lebih muda darinya. Nyatanya, ia menikah dengan Henry. Fira berusia tiga puluh tahun, sedangkan Henry berusia dua puluh tujuh tahun. Namun jika dilihat usia di Korea, Henry berusia dua puluh delapan tahun.


"Kalau sudah menikah gini tuh, enggak tampak perbedaannya. Justru Henry lebih dewasa dariku. Aku dan Henry jadi kembali muda. Apa ini efek punya suami berondong? Aku jadi kelihatan awet muda." Fira menertawakan dirinya sendiri di depan cermin.


Semenjak menikah dengan Henry, hidup Fira jadi berwarna dan penuh keceriaan. Melihat Henry yang tampak baik-baik saja, membuat Fira lega. Sebagai istri, ia selalu mendoakan sang suami supaya pulih dari traumanya. Fira juga tidak ingin senang berlebihan, karena hidup ini tidak selalu bahagia, ada rintangan dan ujian yang mesti ditempuh.


Fira berjalan riang gembira menuju ke luar kamar. Walaupun hidupnya bergelimang harta, Fira tetap wanita sederhana yang berbalut daster batik. Bersyukur memiliki suami seperti Henry yang tidak mempermasalahkan soal pakaian.

__ADS_1


Setibanya di lantai dasar, dahi Fira mengerut melihat Kim Jae Young berhadapan dengan gawai bersama Alira. Posisi Kim Jae Young dan Alira membelakangi Fira. Jadi, Fira bisa tahu apa yang mereka sedang lakukan.


Fira terbeliak saat melihat Kim Jae Young tengah asyik bermain tik-tik. Pria itu menggunakan filter Frozen, sehingga di layar gawai itu, rambut Jae Young seperti Elsa, salah satu tokoh animasi Frozen. Di sana Alira merasa terhibur dengan Jae Young. Ditambah tingkah Jae Young yang kemayu, membuat Fira ingin tertawa terbahak-bahak.


"Bagaimana kisah perjalanan Elsa selanjutnya? Akankah seluruh dunia menjadi es batu? Kalau ingat soal dingin, sama seperti kelakuannya yang dingin," ucap Kim Jae Young.


"Astaghfirullah, haha." Fira tertawa seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Kim Jae Young sontak terperanjat mendengar tawa Fira. "Oh, my God! Sejak kapan kau berdiri di situ?"


"Ops, maafkan saya, jadi reflek tertawa."


"Om Jae Young cuma main sama Alira kok, Ma," ucap Alira.


"Iya, enggak apa-apa, cuma lucu aja," ucap Fira, "kata Henry, kalian berdua, maksudku, Henry dan Mas Jae Young main bola basket."


"Dia sedang di dapur, bikin kopi. Setelah itu kami bermain bola basket," jelas Jae Young.


"Sejak kapan Mas Jae Young ke sini?"


"Aku sejak pagi tiba di Korea. Aku lelah mengurus Excellent di Semarang. Setiap hari omelan Naomi jadi makanan sehari-hariku. Kalau begini terus, aku ingin nikah saja, capek kerja," keluh Kim Jae Young.


"Apa dengan menikah akan menyelesaikan beban dan masalah? Tidak, Mas, justru menikah adalah awal perjalanan hidup bersama pasangan. Bukan akhir dari segalanya. Menikah itu nantinya akan menemukan ujian yang mengejutkan pasangan itu sendiri," jelas Fira.


"Ah, benar katamu. Kamu sudah berpengalaman soal pernikahan. Tapi, mengingat usiaku juga sudah tiga puluh lebih. Ganteng-ganteng sepertiku ini belum laku."


"Sepertinya aku kurang berusaha dalam mencari jodoh. Yang penting seiman denganku."


"Benar sekali. Kalau begitu saya ke dapur menyusul Henry. Bersenang-senanglah dengan Alira.


"Oke, silakan. Tenang saja, Alira seperti keponakanku sendiri."


Kim Jae Young melihat kepergian Fira. Begitu mengenal Fira, ternyata Fira adalah wanita yang baik. Tidak heran jika Henry begitu mencintai Fira. Apalagi mengingat Henry dan Fira yang saling menanti selama lima tahun. Hati keduanya seakan terhubung dan setia hingga saat ini. Jika mengingat itu, Kim Jae Young jadi merinding. Di dunia ini---masih ada cinta suci yang terjaga dalam doa dan penantian.


"Betapa beruntungnya Henry menemukan seorang Fira. Sudah sukses dari segi finansial, juga punya sifat keibuan. Henry mendapatkan paket komplit. Aku kapan, ya?" ocehnya dalam lamunan.


"Om Jae Young, main tik-tik lagi, enggak?" Ucapan Alira mengejutkan lamunan Kim Jae Young.


"Mungkin sudahi dulu, ya. Alira main sama Kak Zayn dan Zema. Soalnya Om mau main bola basket sama Papamu," ucap Kim Jae Young.


"Hmm, baiklah."


***


"Kenapa kita main basket sih? Main sepak bola kan bisa?" Kim Jae Young keheranan seraya fokus pada bola yang dipegang oleh Henry.


"Main bola cuma dua orang? Enggak seru. Nanti saja kalau ada waktu, kita main sepak bola bareng teman-teman football club," ucap Henry sembari memainkan bola basket.


Dua pria bertubuh atletis tampak gagah dengan balutan kaos singlet khusus pemain bola basket. Di pinggir lapangan yang masih satu wilayah rumah ini, Fira menjadi penonton. Wanita ini juga menjaga termos yang berisi kopi hangat. Lahan rumah ini begitu luas. Sehingga terdapat taman dan lapangan.

__ADS_1


Malam semakin larut. Fira melihat jam di gawai menunjukkan pukul 22.15 malam waktu Korea Selatan. Ditaruhnya kembali gawai di saku dasternya. Fira kembali menyaksikan Henry dan Kim Jae Young bermain bola basker.


Sebenarnya Fira ingin merebahkan diri di kasur seraya memakai masker di wajahnya. Dua mata yang mengenakan kacamata bening itu mulai sayu. Namun, atas permintaan Henry ingin ditemani oleh Fira, Fira berusaha melek.


Henry lihai memainkan bola basket. Kim Jae Young berusaha fokus supaya dapat merebut bola dari tangan Henry. Pria yang merupakan founder Excellent ini tidak tinggal diam jika Henry berhasil memasukkan bola ke jaring. Henry bergerak dengan cepat, bola basket itu terus dipantulkannya.


Ketika Henry hendak lompat tinggi dan memasukkan bola ke jaring, Kim Jae Young berhasil mencegah Henry untuk memasukkan bola. Dua pria ini saling lompat tinggi. Henry pun merasa geram, hingga meremas rambutnya. Sedangkan Kim Jae Young tertawa karena kemenangannya. Giliran Kim Jae Young yang memainkan bola basket. Henry lantas fokus pada bola yang dipegang oleh Kim Jae Young.


"Ini kapan selesainya? Mataku sudah tidak kuat melek lagi," ucap Fira seraya menguap. Akhirnya Fira memutuskan untuk tidur di atas bangku panjang. Sementara termos tadi ditaruhnya di atas tanah. Rasa kantuknya sudah tidak bisa ditahan lagi.


Waktu bermain basket cukup memakan waktu setengah jam. Henry dan Kim Jae Young menghentikan permainan bola basket. Sejenak dua pria ini mengatur napas. Tubuh atletis nan putih keduanya sudah dibanjiri oleh keringat. Kim Jae Young mengibaskan rambut yang menutupi mata.


"Aku punya rencana membangun akademi sepak bola di Korea," ucap Henry.


"Ide bagus itu. Aku mendukungmu," ucap Kim Jae Young.


"Aku juga perlu menyalurkan hobiku lewat akademi. Mengajarkan anak-anak yang ingin belajar menjadi pemain sepak bola. Supaya mereka suatu saat nanti dapat membanggakan negara."


"Pasti banyak antusias untuk mendaftar di akademimu itu."


"Insyaallah, segera direalisasikan. Kamu juga harus bantu aku."


"Oke, aku selalu siap, selagi aku masih lajang."


Sorotan mata Kim Jae Young mengarah pada Fira yang sedang tertidur di atas bangku. Kim Jae Young tertawa kecil melihat wanita itu. Kemudian Kim Jae Young menepuk pundak Henry. Jari telunjuknya memberitahu kepada Henry bahwa Fira tidur pulas di sana.


"Bukan hanya menunggumu selama lima tahun. Fira juga menunggumu bermain bola basket. Sampai dirinya saja tidak dipikirkannya. Jaga istrimu, dia ahli dalam menunggu. Dia wanita setia padamu. Bawa dia ke kamar, karena malam semakin dingin," tutur Kim Jae Young.


"Aku jadi enggak enak padanya. Sepertinya Fira masih kelelahan setelah perjalanan ke Namsan Tower. Aku ini benar-benar tega, ya. Ya, sudah, waktunya istirahat. Kamu menginap di sini saja," kata Henry.


"Oke, tenang saja. Kamu duluan saja masuk ke dalam rumah. Aku masih ingin istirahat di sini."


"Itu ada kopi hangat di termos. Minum saja, ya. Aku mau gendong Fira."


"Oke, sip!"


Henry berlari kecil menuju ke Fira. Sesampainya di sana, Henry sejenak menatap Fira lekat-lekat. Raut wajah Fira tampak lelah. Tidurnya pun pulas hingga suara dengkuran halus terdengar dari mulut Fira. Henry lantas menggendong sang istri tercinta dengan sekuat tenaga. Walaupun Fira sedang digendong oleh Henry, tidak membuat Fira terbangun dari tidurnya.


Jika menggendong Fira ini, Henry jadi kilas balik tentang dirinya pernah menggendong Fira dulu. Sewaktu Henry dan Fira merantau di Singapura. Waktu itu Fira jatuh pingsan di restoran akibat sakit asam lambungnya kumat. Dada Henry seketika berdebar-debar. Ia merasakan bangun cinta terhadap istrinya. Tidak menyangka jika wanita yang dulu pernah digendongnya, sekarang sudah menjadi halal baginya.


Sesampainya di kamar, Henry menaruh Fira di kasur secara hati-hati. Meskipun dalam kondisi tidur, Fira membenarkan posisi tidur ke kanan. Henry lantas menarik selimut, menutupi tubuh Fira. Sebenarnya Henry mempunyai keinginan untuk bermesraan dengan Fira. Namun, jika diperhatikan lagi wajah Fira, terlihat jelas bahwa Fira sangat kelelahan.


Akhirnya Henry memutuskan untuk tidur di samping istrinya. Pria bermata sipit kecokelatan ini mulai mengantuk. Henry tidak peduli dengan keringat yang masih membasahi kaos singletnya. Toh, Fira juga sudah menerima seluruh jiwa raga Henry. Suami-istri ini kemudian terbuai dalam mimpi indah. Barangkali keduanya bertemu di alam mimpi.


***


Catatan: Jika ingin melihat visual Henry Lee dan Kim Jae Young, ada di Instagram story @kdjfamala07 dan Facebook story Famala Story's.


Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, kasih rating (bintang 5) dan komentar. Supaya authornya ini semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Kamsahamnida. Saranghaeyo.

__ADS_1


__ADS_2