Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Cuci Pakaian


__ADS_3

Bel di rumah orangtua Fira berbunyi. Ratih yang sedang menyapu di ruang tamu, beliau bergegas menghampiri pintu. Diletakkannya sebentar sapu di sisi sofa. Ratih membuka pintu, ternyata yang hadir pagi-pagi begini---tak lain adalah Henry. Menantunya.


Henry tersenyum kemudian menyalami tangan ibu mertuanya. Ratih menyambut menantunya dengan gembira, beliau membelai rambut Henry. Henry pulang tidak tangan kosong. Pria itu juga membawa koper dan beberapa paper bag dari brand ternama.


"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Henry.


"Wa'alaikumsalam, Henry," tutur Ratih.


"Bagaimana kabar Ibu dan Bapak?"


"Alhamdulillah, Ibu-Bapak baik dan sehat. Kalau Nak Henry gimana? Cuma istrimu akhir-akhir ini enggak enak badan. Kayaknya dia udah sebulan memendam kangen sama kamu."


"Alhamdulillah, Henry juga sehat, Bu. Subhanallah, Henry harus segera Fira nih."


"Temuilah dia!"


Ratih berjalan terlebih dahulu. Henry melangkahkan kaki seraya menggeret koper dan menenteng beberapa paper bag. Kedatangan Henry pagi itu juga disambut gembira oleh tiga anaknya. Henry antusias melebarkan tangan supaya Zayn, Zema dan Alira dapat memeluknya.


"Alhamdulillah, Papa pulang!" seru Zema dan Alira.


"Kami kangen Papa," ungkap Zayn.


"Papa juga kangen kalian," ungkap Henry.


"Setelah ini Papa enggak sibuk lagi kan?"


"Papa lihat agenda dulu, ya."


"Zayn, Zema dan Alira kan pengen main sama Papa. Pengen di antar-jemput ke sekolah sama Papa," celoteh Zema.


Henry membelai rambut satu per satu anaknya. "Insyaallah, Papa usahakan, ya. Oh, iya, ini ada oleh-oleh buat kalian. Pasti kalian suka."


"Asyik, ada oleh-oleh dari Papa. Love you, Papa," sorak tiga anak itu.


"Love you too, my kiddos."


Henry memberi satu per satu paper bag kepada tiga anak itu. Mereka lantas duduk lesehan beralaskan karpet berbulu. Sementara Ratih melanjutkan perjalanan menuju ke kamar Fira. Henry dan tiga anaknya terlihat gembira setelah melewati jarak jauh selama sebulan. Rindu selama jarak jauh akhirnya kunjung temu dan terobati.


"Wah, ada Xbox one nih! Zayn suka ini," seru Zayn. Matanya yang bulat itu seketika berbinar-binar.


"Nah, Kak Zayn suka nge-game kan? Itu bisa dipasang di hp loh. Ingat pesan Papa, boleh main game, tapi jangan lupa salat, ngaji dan belajar," ucap Henry.


"Baik, Papa."


"Wih, kardusnya gede nih. Mainan bola dan gawang. Zema suka main bola," seru Zema. Seketika ia memeluk sebuah kardus besar yang berisi bola serta gawangnya.


"Zema kan sukanya menendang bola, hehehe," kata Henry.


"Iya, Zema pengen kayak Papa, hehehe."


"Wow, Alira dapat boneka Teddy bear dan plastisin Play-Doh bisa bikin kue," ucap Alira. Anak perempuan ini tampak semringah melihat pemberian dari papanya.


"Kalau Alira sudah besar, bisa bantu Mama buat kue, ya," ucap Henry.


"Hehehe, iya, Pa. Alira pengen bikin kue untuk Mama dan Papa."


"Lira buat kue untuk Kakak juga dong," sela Zayn. Ia tak mau kalah ingin dibuatkan kue dari Alira.


"Iya, ya, nanti kalau Lira bisa bikin kue untuk semuanya deh, hehehe." Alira tertawa kecil.


Fira dan Ratih hadir di tengah-tengah mereka. Fira tampak lunglai itu masih bisa tersenyum melihat suami dan tiga anaknya. Tubuhnya yang ramping berbalut sweater rajut. Jilbab segitiga yang dikenakannya asal dipakai sehingga terlihat berantakan.


Henry menoleh ke arah istri tercinta. Yang tadinya ia tertawa bersama anak-anak, mendadak menjadi iba melihat Fira yang pucat itu. Henry lantas beranjak dari karpet. Ia bergegas menghampiri Fira. Sementara anak-anak sudah asyik dengan mainan masing-masing. Ratih yang paham kondisi Fira dan Henry, beliau lebih memilih menyusul tiga cucunya.


Fira menyalami tangan sang suami dengan hormat. Henry menilik Fira dari ujung jilbab hingga kaki Fira. Pria itu juga melihat bibir Fira mengalami pecah-pecah dan kering. Namun Fira masih mengukir senyum untuk pria yang dicintainya. Henry justru menampilkan wajah khawatir akan kondisi sang istri.


"Aku senang kamu sudah pulang," ucap Fira.

__ADS_1


"Aku juga senang bisa ketemu lagi sama kamu dan anak-anak. Tapi, aku jadi khawatir melihatmu pucat. Kamu lagi sakit?" ucap Henry.


"Akhir-akhir ini aku lagi enggak enak badan. Mungkin masuk angin, aku sering bergadang mengerjakan data-data salon dan berkunjung ke pabrik."


"Kamu sudah minum obat? Sudah periksa ke dokter?"


"Alhamdulillah, sudah minum obat, tapi belum periksa ke dokter. Wong, mendingan kalau dipijet pakai minyak angin doang."


"Kamu itu pucat loh. Mending segera periksa ke dokter."


"Bentar lagi udah sehat kembali. Bisa jadi aku kelelahan."


"Jangan bergadang lagi, ya. Aku ingat kamu punya anemia dan asam lambung. Dijaga baik-baik kesehatanmu."


"Iya, Henry, hehehe."


"Ya, sudah, kalau gitu kita ke kamar saja. Kamu istirahat dulu."


"Iya, Fir, kamu istirahat saja dulu," usul Ratih.


Fira mengangguk. "Nggeh, Bu."


Ketika Fira hendak membawa koper Henry. Henry justru dengan sigap mengambil alih koper dari tangan Fira. Pria itu menggelengkan kepala supaya Fira tidak membawa koper. Henry tidak tega jika Fira melayaninya hari ini. Henry lantas merangkul Fira seraya membawa koper menuju ke kamar.


***


Henry merebahkan Fira di kasur. Fira memijat kepala, seolah kepalanya sedang pusing. Henry duduk di sisi kasur. Disentuhnya kening Fira yang agak hangat. Melihat dua mata Fira yang sayu itu, membuat Henry kian mencemaskan kesehatan istrinya. Henry mencium kening Fira sepenuh cinta. Rindu yang selama ini dipendamnya, kini terobati dengan melihat wajah bidadarinya.


Namun tiba-tiba kedua tangan Fira menyentuh pipi Henry. Sepasang mata kekasih ini saling menatap lekat-lekat. Dari kontak mata suami-istri ini ada rindu yang membara. Perlahan bibir Henry mendekati bibir Fira. Fira menyambut bibir Henry dengan senyuman. Henry pun mengulum bibir Fira sembari melepaskan rasa rindu yang bersangkar di hati.


Dua menit cukup untuk bercumbu mesra antara suami-istri ini. Henry pelan-pelan melepaskan ciumannya di bibir Fira. Pria bertubuh atletis dengan balutan kaos panjang hitam, kini menggenggam tangan sang istri. Sementara Fira sedang mengatur napas yang terengah-engah sebab rindu yang dipendamnya, kini telah ditemuinya.


"Aku kangen kamu, sayang," ungkap Henry.


"Aku juga kangen kamu," ungkap Fira.


"Mau itu sekarang?" tanya Henry.


"Enggak dulu, deh. Aku jadi enggak tega lihat istriku lemas begini."


"Hehehe, omong-omong, kamu sehat kan, Hen?"


"Alhamdulillah, aku sehat. Cuma Excellent di Toronto sedang ada masalah."


"Di sana kamu selalu pakai tasbih pemberianku kah?"


"Insyaallah, aku selalu pakai. Aku ingat kata-katamu waktu itu, untuk selalu ingat kepada Allah."


"Alhamdulillah."


Henry ganti posisi duduk di sisi kasur menjadi duduk di samping Fira. Henry dengan hati-hati meletakkan kepala Fira di pundaknya. Ia ingin bidadarinya itu tenang berada di sisinya. Fira jadi merasakan ketenangan hati saat Henry merangkulnya. Terasa begitu hangat. Inilah momen yang dirindukan keduanya.


"Tadinya aku mau mengajakmu ke Toronto. Mister Jordan mengadakan pertemuan sesama pengusaha di dampingi oleh istri masing-masing. Tapi, melihat kondisimu kayak gini, aku jadi enggak tega," jelas Henry.


"Aku mau menemanimu ke sana," ujar Fira.


"Tapi, kamu lagi enggak enak badan gini."


Fira lantas semringah. "Asal sama kamu, aku bisa sehat kembali."


"Kamu kangen banget, ya, sama aku?"


"Sulit diucapkan, intinya banyak kangen sama kamu."


"Kasihan istriku ini enggak bisa LDM lama-lama, ya, sayang. Maafkan suamimu ini."


"Lagi pula, kamu kerja buat keluarga dan masa depan kita kan? Walaupun aku menahan rindu sama kamu, aku tetap teguh percaya denganmu."

__ADS_1


Henry membelai jilbab yang dikenakan Fira. "Terima kasih, Fira, sudah percaya sama aku. Aku juga percaya, kalau kamu wanita yang setia kepada suami. Menjaga hati, diri dan kehormatan di kala berjauhan dengan suami. Maafkan aku yang jarang komunikasi sama kamu."


"Enggak apa-apa, Henry. Aku juga minta maaf kalau selalu lama balesin pesan WA darimu. Kadang aku merajuk karena kangen, hehehe."


"Karena kangen atau diperhatikan, dimanja nih?"


"Semuanya deh, hahaha."


"Ternyata benar, sesibuk apapun suami bekerja, tetap tempat terdamainya di rumah, bertemu dengan istri dan anak-anaknya."


Henry menarik selimut. Mata Henry tidak bisa menahan kantuk. Fira membiarkan Henry memeluknya, memberi kehangatan cinta kepada suaminya. Fira belum bisa tidur, ia mendongak sedikit menatap Henry yang sudah tertidur pulas. Tidak lupa dengan suara dengkuran halus dari Henry. Dielusnya pipi Henry penuh kasih sayang.


Fira teduh menatap wajah Henry yang peluh. Terlihat jelas bahwa Henry sangat lelah setelah disibukkan dengan pekerjaannya sebagai pemilik perusahaan. Bukan satu perusahaan yang Henry kunjungi. Henry harus mengunjungi tiga negara, Semarang, Indonesia kemudian Seoul, Korea Selatan hingga ke Toronto, Kanada. Fira tidak bisa membayangkan betapa lelahnya Henry menempuh perjalanan jauh. Hingga tidak terasa telah berganti pertengahan bulan September. Fira jadi ingat jika musim gugur yang terdapat daun-daun maple.


***


"Fira mana, Lef?" tanya Henry. Pria itu baru saja ke luar dari kamar. Kebetulan di sana ia bertemu dengan Lefia.


"Oalah, Bu Fira ada di belakang, Pak. Lagi mau nyuci baju Pak Henry," jawab Lefia.


"Loh, kok, dia nyuci baju sih? Oke, Lef, terima kasih, ya."


"Nggeh, Pak. Sami-sami."


Henry berlari menuju ke halaman belakang rumah. Ternyata benar, ia menemukan Fira di ruang cuci pakaian. Fira sedang memasukkan beberapa sendok deterjen di mesin cuci. Sedangkan terik matahari berada di ubun-ubun manusia. Henry bergegas menyusul Fira ke ruang cuci pakaian.


Fira memasukkan satu per satu pakaian kotor punya Henry ke mesin cuci, baju kotor itu berasal dari dalam koper. Henry lantas masuk ke dalam ruangan kaca yang dikhususkan untuk mencuci hingga menjemur pakaian. Fira terkesiap dengan kedatangan Henry.


"Enggak usah nyuci baju, Fir. Kan bisa laundry atau aku langsung yang nyuci baju. Kamu lagi pucat gitu," ucap Henry.


"Aku enggak tahan bau apek baju kotormu, jadi aku langsung cuci saja. Enggak apa-apa, aku enggak kelihatan sakit gini kok," ucap Fira.


"Biar aku saja yang nyuci baju---kalau gitu." Henry antusias memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam mesin cuci.


Sementara Fira terdiam. Padahal Fira sendiri masih sanggup mengerjakan cuci pakaian. Fira tidak tega jika Henry yang mencuci pakaian, karena Henry baru hari ini pulang ke rumah. Tentu saja masih ada sisah lelah dalam diri Henry.


"Kalau kamu capek, aku saja yang nyuci baju," ujar Fira.


"Enggak usah, sayang. Nanti kamu makin sakit. Lebih baik kamu istirahat atau makan siang sana," ujar Henry.


"Sebentar lagi salat Dzuhur, Hen."


"Tenang saja, kalau nyuci baju pakai mesin cuci bisa aku tinggalin. Kamu enggak usah nyuci, ya. Aku khawatir kalau kamu kenapa-napa."


"Tapi, Hen, kita nanti jadi ke Kanada?"


Pertanyaan Fira membuat Henry beranjak dari tempat. Ia lantas membalikkan badan ke Fira. Ternyata Fira serius dengan ajakannya ke Kanada. Henry jadi bingung, karena melihat kondisi Fira yang tidak sehat ini, Henry sebenarnya tidak ingin Fira berpergian jauh dulu.


"Kamu sedang tidak enak badan, Fira," lirih Henry.


"Wong, aku mulai mendingan kok. Lagi pula sekarang pertengahan bulan September, pasti sudah ada daun-daun maple berjatuhan dari pohonnya," tutur Fira. Dua matanya berbinar-binar seakan membayangkan indahnya musim gugur di Toronto.


"Jadi, kamu nyuci baju gini---ada maunya, ya?" goda Henry.


"Enggak! Suudzon aja sama istri. Aku beneran mau nyuci bajumu karena memang bau apek!" bantah Fira.


"Iya, deh. Kamu yakin lusa nanti ikut aku ke Toronto?" Henry menguji keyakinan Fira.


"Insyaallah, yakin. Aku mau mendampingimu di acara itu. Aku kan istrimu. Enggak boleh ada orang lain yang mendampingimu!"


"Ululu, istriku ini cemburuan, ya, hahaha."


"Iya, gitu, deh, hehehe. Hmm, tapi anak-anak ikut kah?"


"Anak-anak enggak ikut. Di sana acara orang dewasa. Wong, kita nanti cuma sebentar di Toronto. Anak-anak di sini saja."


"Pasti anak-anak enggak rela kalau kita pergi jauh."

__ADS_1


"Kita kasih pengertian lagi. Kan cuma sebentar doang ke Kanada, terus balik lagi ke Semarang."


Henry meneruskan tugas cuci pakaian. Henry menutup mesin cuci, kemudian memutar durasi waktu mesin cuci. Mesin cuci itu memutarkan pakaian yang ada di dalamnya, supaya bisa membersihkan pakaian. Sementara Fira berdiri sambil melihat Henry mencuci pakaian. Baru kali ini, wanita itu melihat sang suami bisa menyuci pakaian, walaupun dengan mesin cuci.


__ADS_2