Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Perasaan Tidak Nyaman


__ADS_3

Selama jantung ini berdetak, masih ada cintaku untukmu. Selama lisan ini berucap, aku selalu mendoakanmu. Dan selama kaki ini berpijak di bumi, ada aku yang selalu mendampingimu.


***


Lucky membuka korden jendela kamar agar sinar matahari dapat masuk. Di kamar inap tersebut suhunya cukup dingin, maka dari itu Lucky ingin membuat suhu kamar menjadi hangat dan segar. Dua mata bulat sayu bukan karena tidak enak badan, namun memang begitu bentuk mata Lucky. Ia mengedarkan pandang suasana di luar sana, daun-daun semakin berguguran. Beberapa pohon nyaris tinggal menyisakan beberapa helai. Semakin berjalannya waktu akan menuju ke musim dingin.


Pemuda bertubuh jangkung itu berbalik arah. Kini pandangannya pada seorang pria yang terbaring di kasur. Seluruh alat kesehatan terpasang di bagian tubuh tertentu. Wajah pria itu masih berbalut perban. Seperti yang diketahui, pria itu usai menjalani operasi wajah. Lucky jadi ingat kata dokter, padahal pagi ini, pria itu seharusnya sudah siuman. Namun raga pria itu belum kunjung siuman.


Lucky berjalan mendekati kasur. Ia melihat pria yang terbaring tak berdaya dengan pandangan iba. Walaupun wajah pria itu berbalut perban, tapi kini dua matanya yang terpejam dan bibirnya yang pecah-pecah jadi kelihatan. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Selang infus tersambung hingga ke aliran darah melalui tangan kanannya. Ada alat kesehatan lainnya, salah satunya melekat pada dadanya yang bidang. Termasuk elektrokardiogram yang masih berjalan stabil, gunanya untuk mengukur dan merekam aktivitas jantung.


"Aku enggak menyangka, orang yang temukan adalah orang terpandang. Orang yang pernah aku temui sewaktu aku kerja di Restoran Best. Siapa sih yang tega berbuat jahat pada orang ini? Cepat atau lambat, aku segera kasih tahu istrinya tentang kondisi suaminya sekarang," ucap Lucky.


Lucky tercengang melihat tangan kiri pria itu bergerak. Elektrokardiogram tetap stabil. Pria itu terus bergumam. Ketika Lucky hendak keluar dari kamar, pria itu dengan lantangnya mengatakan tidak usah, sehingga membuat Lucky terkejut. Lucky pun menuruti perkataannya dan kembali lagi pada tempatnya.


"Aku sudah mendingan," lirih pria itu. Suaranya parau karena ia belum sepenuhnya pulih.


"Alhamdulillah, kalau Masnya mulai membaik," ucap Lucky tersenyum.


"Tapi, selama aku tidur, aku bermimpi istriku dibawa oleh orang yang ingin balas dendam kepadaku. A-aku ingin pulang saja."


Lucky menjelaskan, "mimpi itu bunga tidur, Mas. Masnya jangan terlalu banyak pikiran. Dokter belum mengizinkan Masnya pulang karena kondisi belum stabil, apalagi proses pemulihan setelah operasi wajah butuh waktu yang lama. Doakan saja semoga Allah melindungi istri Mas."


"Aku bukan hanya memikirkannya, tapi aku memikirkan calon anakku. Lucky, tolong kamu telepon pengacaraku, aku masih ingat nomor teleponnya. Katakan padanya untuk menjaga istriku. Firasatku bilang akan ada bahaya yang di hadapi istriku."


Lucky menyanggupi permintaan pria itu. Ia merogoh saku celana untuk mengambil gawai. Lucky sudah siap untuk mengetik nomor telepon pengacara pria itu. Sejenak pria itu menghela napas untuk mengatur napas yang cukup menyesakkan dada. Pria itu terbata-bata mengucapkan nomor telepon pengacaranya. Lucky dengan saksama mendengar dan mengetik nomor telepon tersebut, kemudian ia menekan tombol telepon. Sambungan telepon itu terhubung ke nomor telepon yang diucapkan pria itu.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi, dengan saya Fairuz Reza Gibran. Pengacara tampan dan humble di Kanada," sapa Reza dengan tingkat kepercayaan dirinya.


"Pengacara macam apa ini? Kepedean banget," batin Lucky, kemudian ia berkata, "wa'alaikumsalam, apa ini benar Pak Reza? Saya Lucky Ramansyah."


"Ya, saya Reza, ada yang bisa saya bantai? Eh, bantu maksudnya," canda Reza.


"Bantal aja gimana, Pak? Lebih nyaman buat rebahan, hehehe," canda Lucky.


"Jangan banyak rebahan, wahai anak muda. Masa depanmu menunggumu. Oke, lupakan saja. Ada keperluan apa kamu menelepon saya?"


Lucky lantas memandang pria itu. Pria itu berbicara kepada Lucky supaya Reza mau ke rumah sakit ini. Lucky pun menuruti perkataan pria itu.


"Bisakah Pak Reza menemui saya di Rumah Sakit Toronto? Ada sesuatu yang penting, tapi hanya Pak Reza saja," ucap Lucky.


"Sekarang? Insyaallah, saya bisa," kata Reza.


"Ya, sekarang, Pak. Kalau bisa secepatnya, karena ini penting sekali."


"Memangnya ada apa sih? Sampai nyuruh saya secepatnya itu?"


"Nanti Pak Reza akan tahu jika datang ke sini."


"Oke, saya langsung meluncur ke Rumah Sakit Toronto."


Percakapan Lucky dan Reza berakhir. Lucky lantas duduk di kursi. Sementara pria itu hanya bisa memandang langit-langit kamar. Mata kirinya yang terdapat tahi lalat, sudut mata itu meneteskan air mata. Melihat pria itu menangis, Lucky jadi merasakan kesedihan juga.

__ADS_1


"Aku belum bisa menjaga istri dan anak-anakku. Aku suami yang tidak berdaya. Karena sebuah dendam yang kejam dari orang-orang itu, istri dan anak-anakku juga akan jadi korbannya. Aku payah, di sini hanya bisa terbaring kaku," ungkap pria itu.


"Jangan seperti itu, Mas. Insyaallah, ada Allah yang selalu menjaga mereka. Mas kuatkan doa. Mas pasti bisa sembuh tapi untuk saat ini, Mas istirahat dulu. Allah kasih setiap manusia berupa ujian sesuai kemampuan. Sabar, doa dan salat yang Mas bisa lakukan. Mas bisa salat walaupun berbaring, insyaallah, Allah tidak memberatkan hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya," jelas Lucky.


"Melihat istriku kemarin, cukup membuat rinduku terobati. Aku ingin memeluknya, aku ingin menyentuh perutnya yang sedang mengandung calon anakku. Aku tahu saat ini istriku sedang terpuruk dan sedih. Aku enggak bisa melihatnya menangis seperti kemarin."


"Masyaallah, betapa besarnya cinta Mas ini untuk istrinya. Bersyukurnya Bu Fira memiliki suami seperti dia. Dalam kondisi lemah tak berdaya seperti ini, dia masih ingat istri dan anak-anaknya," batin Lucky.


"Ya Allah, saat ini hamba tidak kuasa menjaga istri dan keluarga hamba. Lindungilah mereka dari orang-orang yang hendak berniat jahat. Hanya Engkau yang berkuasa atas segalanya," batin pria itu.


Sorotan mata sipit pria itu perlahan melihat ke jendela kamar. Hatinya bak tertusuk jarum ketika melihat daun-daun oranye berterbangan karena dibawa oleh angin. Ia jadi ingat tentang momen kehangatan bersama wanita pujaan hatinya. Padahal saat itu ia memiliki niat untuk membuat bahagia kekasih hati dengan merayakan cinta keduanya di musim gugur. Namun niat indah itu kandas saat ia dihantam orang-orang suruhan yang memiliki dendam kepadanya.


Pria itu bergumam, "maafkan aku, bidadariku, Maghfira Annisa, aku belum bisa membuatmu bahagia di musim gugur ini. Aku berusaha sembuh, supaya energi cinta kita kembali bersatu."


Jika pria itu bergumam menyebut nama Maghfira Annisa, sudah dipastikan bahwa pria itu adalah Henry Lee. Ya, kini wajah rupawan berdarah Korea-Indonesia itu berbalut perban putih. Yang terlihat hanya mata dan bibirnya saja.


***


"Kamu yakin enggak ikut kami ke rumah sakit buat jenguk Pak Lee?" kata Ratih.


"Insyaallah, Fira akan menyusul ke rumah sakit, Bu. Soalnya pagi ini Fira ada rapat melalui Zoom meeting dengan dokter dan karyawati di salon," ujar Fira.


"Kamu baik-baik, ya, di rumah. Pokoknya kunci pintu rumah."


"Insyaallah, iya, Bu."


"Kalau ada apa-apa langsung telepon, ya, Bu Fira," kata Lefia.


"Insyaallah, Bu."


Fira melihat kepergian keluarganya. Mereka bergegas masuk ke dalam mobil. Sebenarnya ia ingin ikut membesuk papi mertua yang kini dirawat di Rumah Sakit Toronto karena stroke beliau kambuh. Namun Fira ingat jika ada rapat bersama dokter dan karyawati salon melalui Zoom meeting.


Dari balik jendela mobil, Zayn, Zema dan Alira melambaikan tangan ke Fira. Fira membalas lambaian tangan kepada tiga anaknya sembari mengukir senyum. Mobil yang membawa keluarganya pun pergi meninggalkan rumah. Sebelum Fira masuk ke dalam rumah, ia menyempatkan diri untuk menyapa ramah tetangga dari kejauhan. Beruntung ia memiliki tetangga yang ramah dan toleransi.


"Good morning, Mrs. Selena," sapa Fira.


"Good morning, to, Mrs. Fira. Have a nice day," sapa Selena.


"You, too."


Fira berjalan menuju ke rumah. Pintu rumah sudah terbuka, sehingga Fira mudah untuk masuk, kemudian wanita itu menutup pintu serta menguncinya. Fira tidak lupa mengatur monitor yang menempel di dinding, supaya bisa melihat orang yang datang ke rumahnya. Rumah ini telah dilengkapi dengan kamera CCTV. Fira cukup tentram karena bisa memantau kondisi di dalam maupun di luar rumah.


Wanita berbalut gamis merah muda itu duduk di sofa ruang tamu. Ia lantas membuka dan menyalakan laptop tersebut. Kacamata bening yang berada di samping laptop, ia kenakan. Fira mengetik kata sandi supaya bisa melanjutkan aktivitasnya di laptop. Yang biasanya, Fira kerja sambil meneguk secangkir kopi. Kali ini ia meneguk secangkir susu khusus ibu hamil dengan rasa vanilla.


Zoom meeting di laptop milik Fira telah tersambung ke zoom meeting dokter dan karyawati salon. Sekarang mereka bisa saling tatap muka walaupun melalui layar media. Fira selalu memantau perkembangan salonnya dari kejauhan. Ia mengadakan rapat untuk kemajuan salon kecantikannya itu.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semuanya," sapa Fira.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Bu Fira," sapa mereka.


"Bagaimana kabar dokter dan karyawan semuanya?" ucap Fira.

__ADS_1


Salah seorang dokter kecantikan di salon Fira menjawab, "alhamdulillah, kami baik dan sehat, Bu Fira. Bagaimana kabar Bu Fira dan calon adik bayi?"


"Alhamdulillah, saya sehat dan kandungan saya menuju tiga bulan."


"Semoga Bu Fira selalu diberikan ketabahan, kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi rintangan hidup ini."


"Insyaallah, aamiin. Omong-omong, bagaimana dengan perkembangan salon saat ini?" kata Fira.


Putri, seorang karyawati salon menjelaskan, "alhamdulillah, berdasarkan jurnal, salon mencapai peningkatan. Ini sesuai target Bu Fira loh, karena bakal bisa membuka cabang salon ke beberapa kota dan produksi skincare serta kosmetik Firanssa barangkali bisa dipasarkan melalui online."


"Masyaallah, saya enggak menyangka bisa mencapai peningkatan. Memang keuntungan bersihnya berapa?"


"Alhamdulillah, Firanssa Beauty Care meraup keuntungan bersih sampai dua belas milyar rupiah, Bu."


"Wow, masyaallah."


"Di sini admin sosial media Firanssa memang semangat mempromosikan Firanssa Beauty Care. Yang berkunjung bukan hanya dari Semarang saja, bahkan dari luar kota, rela jauh-jauh untuk perawatan di Firanssa. Apalagi beberapa hari yang lalu, seorang influencer Semarang, Mbak Renita perawatan di sini dan dia review Firanssa di kanal YouTube-nya, jadi alhamdulillah tambah ramai, Bu."


"Mantap sekali, ya. Oke, kalau peningkatannya seperti ini, kita mulai saja dengan produk Firanssa dipasarkan melalui sosial media. Hanya sosial media saja, ya. Kalau terus meningkatkan produksi di pabriknya, produk Firanssa juga bisa dipasarkan di market place."


"Baik, Bu Fira."


Jaringan internet sepertinya terganggu, membuat Zoom meeting tersambung dengan lambat. Mereka dengan sabar supaya koneksi internet kembali pulih agar memudahkan rapat salon Firanssa. Sejenak Fira kembali meneguk secangkir susu khusus ibu hamil. Namun tiba-tiba terdengar suara bel rumah, yang tampaknya ada tamu hadir di rumahnya.


"Oke, kalau gitu, nanti kita lanjutkan lagi. Soalnya saya ada tamu di rumah. Kalian tetap semangat bekerja di salon Firanssa. Salam untuk orang-orang di pabrik, karena di sana rata-rata ibu rumah tangga dan janda yang berkerja di pabrik Firanssa. Insyaallah, keuntungan bersih dari Firanssa akan saya bagikan kepada kalian dan mereka," jelas Fira.


"Insyaallah, baik, Bu Fira. Semoga Anda selalu sehat dan dilancarkan rezekinya," kata Putri.


Fira mengakhiri percakapan dengan mereka. Laptop miliknya dibiarkan begitu saja. Fira bergegas menuju ke pintu utama. Sebelum ia membuka pintu, Fira terlebih dahulu melihat orang yang datang di rumahnya melalui monitor. Di atas pintu rumah tepatnya di luar sudah terpasang kamera CCTV, supaya bisa merekam kedatangan orang di rumahnya.


Fira mengernyitkan dahi, karena merasa aneh ada seorang pria berseragam kurir restoran sambil membawa sekotak pizza. Fira tidak merasa pesan pizza, ditambah dirinya tidak suka dengan pizza. Fira lantas mendekatkan bibirnya di mikrofon monitor.


"Who are you?" tanya Fira. (Siapa Anda?)


"I want to deliver pizza for you," jawab pria itu. (Saya ingin mengantar pizza untukmu.) Namun anehnya lagi, suara pria itu bersuara berat. Jika dilihat wajahnya menunduk dan hanya topi yang terlihat.


"I didn't order pizza." (Saya tidak memesan pizza.)


"But this pizza order is addressed to your address." (Tapi, pesanan pizza ini tertuju pada alamat Anda.)


"Siapa sih yang pesan pizza? Zayn atau Bryan? Kalau Bryan sekarang lagi di rumah Anna, membicarakan soal persiapan pernikahan mereka. Kalau Zayn? Hmm, apa Ibu yang pesan pizza?" pikir Fira.


Karena yakin pria tersebut adalah kurir pizza, Fira lantas membuka pintu. Namun nahas, saat Fira berhadapan dengan pria bertubuh kekar itu, mulut Fira sontak ditutupi dengan kain yang terkandung cairan yang membuat Fira pingsan. Saking beratnya menggendong Fira, topi pria itu terlepas karena terbawa angin dan jatuh di lantai. Ia tidak peduli topi itu jatuh, yang ia pikirkan Fira berhasil dibawanya.


Kini Fira tidak sadarkan diri, sementara pria berwajah beringas itu celingak-celinguk memastikan keadaan sekitar agar tidak ada yang curiga dengan aksinya. Namun aksinya justru tertangkap basah oleh tetangga Fira, yakni Selena. Wanita berwarga negara Kanada itu berteriak. Sayangnya, pria itu bergegas memasukkan Fira ke dalam mobil. Mobil yang dikendarainya melaju kencang sepanjang perjalanan.


"Oh, my God, Mrs. Fira! Help me, please! Mrs. Fira was kidnapped by unknown people!" jerit Selena. (Oh, Tuhanku, Mrs. Fira! Tolong bantu aku! Mrs. Fira diculik oleh orang yang tidak dikenal.)


Jeritan itu menyebabkan tetangga lainnya keluar dari rumah. Beberapa pria dewasa bergegas mengejar mobil itu dengan mobil mereka masing-masing. Sementara Selena panik dan bergegas menuju ke rumah Fira supaya ia dapat menghubungi keluarga Fira melalui telepon.


***

__ADS_1


Untuk mengetahui 3 tokoh utama Energy Of Love, kalian bisa mengunjungi Instagram @kdjfamala07 ya. Ayo dukung terus novel Energy Of Love. Udah tahu kan cara dukungnya? Terima kasih.


__ADS_2