
Hari semakin siang hampir menuju sore. Henry, Jae, Fira dan Naomi berada di Perumahan Grand Tembalang. Tempat Fira menetap di sana. Naomi menghentikan kemudi mobil tepat di halaman depan rumah. Henry juga menghentikan motor.
Henry dan Jae Young melepaskan helm masing-masing. Dilihatnya rumah minimalis terkesan kekinian nan estetik. Pekarangan rumah sejuk dipandang dengan hamparan rumput hijau, lengkap dengan macam-macam bunga dan tanaman yang unik sekaligus cantik.
Fira turun dari mobil, melangkahkan kaki ke teras rumah kemudian mempersilakan Naomi, Henry dan Jae Young untuk mampir ke rumahnya. Justru Henry yang bergegas menyusul Fira. Naomi dan Jae Young menyusul belakangan.
"Mampir dulu, Hen," kata Fira.
"Nanti aja deh. Enaknya tuh menetap bukan mampir aja," kata Henry.
"Maksudnya?" Fira mengernyit dahi.
"Kalau kita udah menikah pasti bisa menetap di sini dong, hehehe."
"Haha, bisa-bisanya, ya, bikin aku terbawa perasaan."
"Hei, Henry cepetan pulang! Aku ingin lekas tidur di apartemen. Ingin bermimpi bidadari cantik," sela Jae Young.
Henry lantas menoleh sinis ke Jae Young seraya berkata, "Apa maksudmu?"
"Eh, jangan salah paham dululah. Bidadari cantik di dunia ini kan banyak!" sanggah Jae Young.
"Tuh, samping kamu ada bidadari cantik," ujar Fira seketika melirik Naomi.
"Heh? Aku? Enggak dong! Aku dan Jae Young sebatas teman kerja. Lagi pula kita berbeda agama," elak Naomi.
"Sorry, tipe wanita idamanku bukan yang galak dan bar-bar seperti Naomi," sindir Jae Young.
"Memang kamu tipe pria idamanku? Enggak banget deh!" hardik Naomi.
Henry dan Fira geleng-geleng kepala seraya tertawa melihat perseteruan antara Jae Young dan Naomi. Jae Young dan Naomi saling memalingkan muka masam. Sementara Henry kembali menatap Fira. Begitu juga Fira.
"Aku minta maaf sama kamu," ungkap Henry.
"Minta maaf untuk?" tanya Fira.
"Besok kita belum bisa ngurus ke KUA. Mungkin lusa nanti kita baru daftar ke KUA. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan," jawab Henry.
"Urusan apa?"
"Jadi, tadi siang, pas kamu sama Kak Naomi salat Dzuhur, ya, maaf, aku lancang membuka hp-mu."
"Loh, kenapa buka hp-ku? Aku enggak suka, ya, kalau ada yang buka hp-ku tanpa izin!" ucap Fira dengan suara lantang.
Melihat raut wajah Fira yang tidak suka bila gawai miliknya itu dibuka oleh Henry, membuat Naomi dan Jae Young tercengang. Fira lantas melengos dari wajah Henry. Dua tangan Fira lantas diapit menyilang, seakan ada sekelumit gusar pada diri Fira kepada Henry.
__ADS_1
"Dengarkan aku dulu!" sergah Henry.
"Emm!" Fira mendengus.
"Tadi ada telepon dari nomor enggak dikenal. Jae Young yang kasih tahu ke aku. Jae Young enggak berani mengangkat telepon itu. Aku juga awalnya ragu, lancang sekali membuka hp-mu. Tapi, dengan mengangkat telepon tersebut, aku jadi tahu siapa yang menelepon ke hp-mu," jelas Henry.
"Siapa yang meneleponku?" tanya Fira seraya melirik Henry.
"Makanya tadi aku bilang besok ada urusan penting kan? Ya, setelah telepon dari orang itu, aku akan menemuinya. Orang itu enggak tahu kalau aku yang angkat telepon, karena aku diam untuk menyelidiki. Kamu tahu siapa yang menelepon di hp-mu? Rafi!"
Mata Fira sontak terbelalak. "Astaghfirullah!"
Naomi juga tak kalah terkejut mendengar pernyataan Henry soal Rafi menelepon di gawai Fira. Seketika Naomi jadi mengingat ke masa lalu--- dimana Rafi pernah frustasi karena cintanya bertepuk sebelah tangan oleh Fira. Rafi juga berseteru dengan Fira di depan Menara Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia. Lalu terjadi kecelakaan nahas yang dialami Fira, yang menolong nyawa Fira adalah Rafi.
Naomi tidak menyangka jika Rafi kembali lagi di dalam kehidupan Fira. Perasaan Naomi menjadi tidak nyaman, jika sesuatu terjadi pada hubungan Henry dan Fira. Sementara Fira sudah menduga kehadiran Rafi benar adanya. Karena pada saat Fira, Henry dan keluarganya makan bersama di Restoran Alam Indah, ia sempat melihat kedatangan Rafi juga di sana.
"Rafi ingin bertemu denganmu, Fira! Dia lancang bilang rindu kepadamu. Aku tahu Rafi itu sahabat kecil kamu. Rafi pernah menyelamatkan nyawa kamu. Tapi, sekarang ada aku, calon suamimu. Aku ingin menjagamu. Kita akan segera menikah. Aku ingin kamu membatasi pertemanan dengan Rafi," jelas Henry.
"Tanpa kamu meminta aku untuk membatasi pertemanan dengan Rafi pun---selama lima tahun, aku enggak pernah komunikasi dengan Rafi. Rafi juga memutuskan persahabatan, semenjak aku menolak cintanya. Meski Rafi pernah menolongku, aku tetap berterima kasih padanya, tapi enggak dengan soal cinta!" jelas Fira.
"Maaf, aku mungkin terlalu cemburu, tapi ini untuk kebaikkan kita."
"Insyaallah, aku selalu menjaga hubungan kita hingga pernikahan kita nanti. Temui saja Rafi, aku juga sebenarnya enggan bertemu dengannya."
Henry mengangguk. Fira justru punya firasat tidak nyaman saat melihat Rafi di Restoran Alam Indah itu. Yang membuat ia bertanya-tanya mengapa Rafi datang saat ia telah bersama Henry?
"Aku yang justru minta maaf padamu. Aku malah nge-gas sama kamu. Padahal baiknya kamu mengangkat telepon dari Rafi daripada aku," ucap Fira.
"Nomor Rafi sudah aku simpan. Kalau nomor Rafi menghubungi kamu lagi, jangan diangkat!"
"Yups, lebih baik dipanggang saja sampai panas, hahaha," kelakar Jae Young.
Suasana yang tadi sempat menegang, karena adanya gurauan dari Jae Young mencairkan suasana. Mereka saling tertawa. Henry, Jae Young dan Naomi pamit pulang ke Fira. Fira lantas melambaikan tangan, Henry membalas lambaian tangan Fira. Sepasang insan manusia yang tengah kasmaran ini juga saling menebar senyum.
***
Malam setelah salat Isya, Fira menemani Zayn dan Zema belajar di ruang keluarga. Wanita yang senantiasa memakai daster saat di rumah ini duduk termenung di atas karpet bulu halus. Walaupun Fira berusaha membuyarkan firasat tidak nyaman terhadap Rafi, tapi sampai saat ini, ia terus berpikir tentang Rafi. Fira tidak tahu maksud kehadiran Rafi di dalam hidupnya secara tiba-tiba.
"Ada maksud apa Rafi hadir lagi di kehidupanku dengan Henry? Nomornya itu dari Kanada. Seperti yang dibilang Naomi. Besok Rafi ingin menemuiku, padahal besok Henry sendiri yang menemui Rafi. Itu berarti ..." Fira sontak terperangah.
"Itu berarti sekarang Rafi ada di Semarang? Astaghfirullah!" Fira seketika menutup mulut dengan telapak tangan. "Aku ingat dulu Rafi dan Henry juga pernah bertengkar sampai baku hantam di Singapura. Ya Allah, semoga besok mereka bisa menyikapi dengan kepala dingin."
"Bang Rafi ada di Semarang, Kak?" tanya Bryan. Ia mendengar suara lirih Fira meski sedang menonton televisi.
"Ya Allah, Rafi sudah balik ke Indonesia, ya?" tanya Ratih. Beliau baru selesai mencuci piring di dapur.
__ADS_1
"Rafi bahkan menelepon Fira, tapi yang angkat telepon adalah Henry. Cuma Henry diam, mungkin Rafi kira aku yang angkat telepon itu," jawab Fira.
"Om Rafi datang, Ma? Zayn enggak begitu suka dengan Om Rafi," sahut Zayn sontak menghentikan menulis tugas sekolah.
"Kenapa bisa begitu, Zayn?" tanya Fira.
"Zayn tahu Om Rafi sudah baik menolong Mama. Tapi, jauh sebelum itu, Zayn tahu niat Om Rafi waktu dulu kasih Zayn dan Zema banyak mainan. Waktu Mama masih kerja di Singapura," jawab Zayn.
"Kok kamu baru kasih tahu Mama, sih?"
"Ya, karena Zayn pikir untuk apa lagi membahas Om Rafi? Tapi, kalau sekarang sedang membahas Om Rafi, Zayn jujur sama Mama."
"Tentang?"
"Setelah Om Rafi kasih mainan ke Zayn dan Zema, waktu Zayn mau ngucapin terima kasih ke Om Rafi, Zayn sempat nguping pembicaraan Om Rafi sama seseorang di telepon. Meski dulu Zayn masih kecil, tapi Zayn ingat itu. Om Rafi memang akan menganggap Zayn dan Zema sebagai anak--- tapi, punya rencana kalau Om Rafi dan Mama menikah bakal jauhin Zayn dan Zema dari Mama. Zayn dan Zema bakal di sekolahin di luar negeri. Zayn enggak maulah punya Papa sambung yang jauhin anak kandung sama Ibu kandungnya," jelas Zayn.
"Astaghfirullah!"
"Makanya Zayn langsung bilang ke Nenek dan Kakek biar enggak pilih Om Rafi! Tapi, pilih Om Henry aja, karena Om Henry tulus. Tapi, waktu itu Zayn takut bilang sebenarnya ke Mama, Nenek dan Kakek. Daripada Zayn dikira bohong. Jadi, Zayn bisanya diam saja."
Fira kian tercengang, begitu juga dengan keluarga Fira setelah mendengar penjelasan dari Zayn. Tidak menyangka jika seorang sahabat kecilnya dulu memiliki maksud di balik itu semua. Fira sekarang jadi tahu Rafi hanya mencintainya tapi tidak mencintai dua anaknya.
Dimulai dari Naomi yang memberitahu nomor asing dari Kanada hingga pernyataan dari Henry dan Zayn, membuat firasat Fira yang tidak nyaman itu terjawab. Fira jadi khawatir akan ada sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya bersama Henry. Sudah sepantasnya Fira memiliki prasangka buruk terhadap Rafi.
"Henry! Besok Henry akan menemui Rafi. Aku enggak mau terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada Henry. Besok aku akan menyusul Henry!" gumam Fira.
Di tengah suasana hening, dering gawai Fira berbunyi, ada panggilan masuk, lagi-lagi dari nomor tidak dikenal. Fira menoleh ke layar gawai, dimatikannya panggilan itu. Namun panggilan masuk itu tetap muncul. Fira mematikannya lagi. Sekali lagi nomor itu muncul di layar gawai Fira. Akhirnya dengan terpaksa Fira mengangkat telepon tersebut.
"Assalamu'alaikum, apa benar ini nomor telepon Mbak Fira?" Kali ini si penelepon bukan dari seorang pria, melainkan dari suaranya seorang wanita.
Karena suara si penelepon itu wanita, Fira menjawab, "Wa'alaikumsalam, iya benar, saya Fira. Anda siapa?"
"Alhamdulillah akhirnya, Mbak Fira, aku adik madumu--- maksudku aku istri kedua Mas Kirsandi. Aku juga tinggal di Semarang. Mbak Fira, bolehkah aku silahturahim di rumah Mbak?" jelas wanita itu.
Belum usai membahas tentang Rafi, kali ini istri kedua Kirsandi justru ingin bertemu dengan Fira. Pikiran Fira jadi kalang kabut. Semakin menegang pula perasaannya.
"Astaghfirullah, istri kedua Mas Kirsandi? Kenapa baru sekarang wanita ini berani menunjukkan diri di kehidupanku? Harusnya dia menunjukkan diri setelah wafatnya Mas Kirsandi! Ya Allah, akan ada ujian apalagi ini?" gumam Fira. Ia sembari meremas wajah dengan telapak tangan. Sengaja ia tidak memperjelas sosok wanita ini, supaya keluarganya tidak terkejut.
"Halo, Mbak Fira?"
"Ya, terserah kamu! Besok juga boleh. Saya tunggu kamu di rumah saya. Nanti saya share lokasi rumah saya. Satu lagi, darimana kamu tahu nomor telepon saya?"
"Saya tahu nomor telepon Mbak Fira dari bio akun Instagram Mbak Fira. Saya coba-coba menghubungi nomor telepon yang di bio akun Instagram Mbak Fira. Dan ternyata benar."
"Astaghfirullah, benar juga, itu nomor hp-ku aku cantumkan di bio akun Instagramku. Padahal itu untuk urusan bisnis aja." Fira kembali bergumam. Semakin kalang kabut pikiran Fira saat itu.
__ADS_1
Selama lima tahun berbagai ujian di hadapi Fira kala menunggu Henry. Kini sebelum pernikahannya dengan Henry juga ada ujian yang menguji kesabaran dan hati. Yang bisa Fira lakukan saat ini adalah berdzikir kepada Allah, supaya ada energi ketegaran menghadapi pahitnya ujian. Apalagi permasalahan hati bagai benang kusut yang begitu rumit.