
Keesokan harinya ...
"Henry, sarapan dulu yuk," panggil Fira. Ia masuk ke dalam kamarnya.
Dua mata yang memakai kacamata bening itu mengedarkan pandang. Dicarinya tidak ada Henry di sana. Suara keran air kamar mandi tak lagi terdengar. Itu berarti Henry sudah selesai mandi. Fira memutuskan untuk berjalan ke balkon kamar.
Menoleh ke kanan dan ke kiri, Fira merasa lega. Ternyata Henry berada di balkon kamar untuk lompat tali sendirian. Di sana juga ada alat olahraga berat, seperti barbel dan treadmill. Pria ini santai mengenakan kaos abu-abu dan celana selutut saja.
Sementara Fira memperhatikan Henry dari ujung rambut hingga sepatu. Ia bersandar di pintu balkon sembari menyilangkan dua tangannya. Fira terpana dengan kegagahan dan idealnya tubuh suaminya itu. Apalagi jika kaos Henry tersingkap sehingga memperlihatkan otot perutnya.
"Astaghfirullah, aku benci pikiranku," lirih Fira.
"Fira, ikut olahraga pagi di sini," ajak Henry.
"Kamu bukannya udah mandi? Masa olahraga pagi?" tanya Fira.
"Aku belum mandi. Tadi cuma buang air kecil aja," jawab Henry.
"Hmm, Hen, aku boleh enggak fotoin kamu pas kayak gini? Untuk aku sendiri kok. Enggak aku upload ke sosmed," ucap Fira.
"Enggak apa-apa. Akukan suamimu. Aku seksi, ya?"
"Sebaiknya aku ambil hp dulu, hehehe."
"Dia masih malu-malu, ya, buat puji suami sendiri, hehehe," gumam Henry.
Henry melakukan lompat tali lagi guna membakar lemak. Fira kembali ke balkon, tangannya membawa gawai. Henry bersiap diri untuk difoto oleh istrinya. Fira mengarahkan kamera gawai tepat di postur tubuh Henry yang jenjang itu. Sudah ada beberapa kali, Fira memotret Henry dengan gaya yang berbeda.
Usai memotret suaminya, Fira mengacungkan jempol. Ia tersenyum manis kepada Henry. Begitu juga Henry tersenyum manis kepada istri tercinta. Segera dihampirinya suaminya, dipeluknya erat. Henry juga menyambut Fira dengan cinta. Tak lupa mencium kepala Fira yang berbalut hijab. Hangatnya pelukan dari orang tercinta mengalahkan hangatnya mentari pagi.
"Aku cinta kamu, Fira," ucap Henry.
"Aku juga cinta kamu, Henry," ucap Fira.
"Sekarang udah fasih aja nih ungkapin cintanya," canda Henry.
"Aku harus biasakan begitu, hahaha," canda Fira.
"Kalau panggil sayang?" tanya Henry.
"Nanti dulu, hihihi. Malu tahu!" jawab Fira, "ya, sudah, yuk. Buruan sarapan, aku juga mau nyiapin anak-anak ke sekolah. Oh, iya, kamu jadikan antar anak-anak ke sekolah?"
"Jadi dong, tapi sama kamu, ya?"
"Kok sama aku?" Fira melepaskan pelukan dari Henry.
"Setelah antar anak-anak ke sekolah, aku mau pacaran sama kamu. Ya, jalan-jalan ke mana gitu."
"Oh, ya, sudah, sekarang kamu cepetan mandi. Bau kecut, hahaha."
"Tapi, sayang kan?"
"Dih, aku ngurus anak-anak dulu, ya."
Fira bergegas ke pintu kamar. Dibukanya pintu kemudian keluar dari kamar. Sementara Henry menaruh tali pada tempatnya, kemudian duduk jongkok untuk melepaskan dua sepatu dan kaos kaki. Setelah itu, Henry bergegas mengambil handuk yang telah tersedia di atas kasur. Kaki jenjangnya melangkah ke kamar mandi.
***
"Alira cantik kalau pakai kerudung," puji Fira sembari menata jilbab pashmina instan untuk anak perempuannya.
"Kenapa kita harus pakai kerudung, Ma?" tanya Alira.
"Alira sayang, setiap muslimah wajib menutup auratnya. Itu sudah perintah dari Allah. Sebenarnya wajib bagi muslimah yang sudah balig. Tapi, sejak kecil pun bisa belajar menutup aurat. Supaya terbiasa sampai tua. Jilbab pula sebagai identitas kita sebagai muslimah," jawab Fira secara gamblang.
"Balig itu apa, Ma?" tanya Alira lagi.
"Baliq itu seorang yang telah sampai usia pada tahap dewasa," jawab Fira lagi.
"Oh, begitu, Ma."
"Oke, sudah siap. Yuk, segera berangkat ke sekolah."
__ADS_1
"Siap, Ma."
Mama dan anak perempuannya ini tersenyum manis dihadapan cermin yang berhiaskan akar dan bunga buatan di pinggirannya. Fira lantas mengambil tas sekolah milik Alira. Alira pun mencangklong tasnya. Tas cantik bermotif bunga sakura.
Fira juga memakaikan Alira sepatu berwarna hitam. Beruntung sepatu itu muat di kaki mungil Alira. Alira senang karena memiliki mama yang perhatian seperti Fira. Usai memakai sepatu, Fira menggandeng tangan Alira. Membawanya keluar dari kamar menuju ruang makan keluarga.
Keluarga sudah menanti Fira dan Alira di ruang makan. Terutama Zayn dan Zema tampak gagah saat sarapan di dekat papanya. Fira tertawa kecil melihat dua anak laki-laki yang berlagak rupawan itu. Fira menuntun Alira untuk duduk.
Di atas meja makan panjang nan lebar itu sudah tersaji hidangan lezat. Ada berbagai macam sayur mayur beserta lauk. Ada pula nasi, roti, keju, selai buah dan minumannya tentu air putih dan susu. Keluarga Lee tampak lahap menyantap sarapan pagi ini.
"Alira mau sarapan pakai apa?" tanya Fira.
"Alira pakai nasi, tempe goreng dan kecap aja, Ma," jawab Alira.
"Ada ikan, telur dan sayur bayam juga, Nak," usul Intan.
Alira geleng-geleng kepala. "Alira alergi ikan dan telur. Kata Bunda kalau Alira makan itu pasti bentol-bentol."
"Oh, begitu," ucap Intan.
"Kalau pakai sayur bayam?" tanya Fira.
"Alira pengen tempe goreng aja, Mama," jawab Alira.
"Ya, udah. Mama ambilkan, ya."
Fira sigap mengambil piring dan sendok, kemudian menuang secentong nasi, setelah itu mengambil dua tempe goreng. Fira lantas memberikannya kepada Alira. Alira pun semangat menyantap sarapan pagi.
"Eits, doa sebelum makan dulu," ucap Fira.
"Oh, iya, Ma. Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa adza ban-naar, aamiin," ucap Alira.
"Kak Zayn dan Zema sudah baca doa sebelum makan?" tanya Fira.
"Sudah dong, Ma. Kita anak Papa gitu loh," jawab Zayn dan Zema secara kompak.
"Eh, ya Allah," ucap Intan. Beliau tertawa kecil melihat kegemasan Zayn dan Zema yang tampak antusias memiliki papa baru.
"Fir, aku mau kopi hangat dong," perintah Henry.
"Oh, iya, kopi hangatnya ada di teko itu," ucap Intan. Beliau menunjukkan jemarinya ke teko.
Fira mengangguk sembari mengambil sebuah cangkir putih, kemudian menuang teko yang berisi seduhan kopi ke dalam cangkir tersebut. Namun ia bingung saat melihat ada tiga macam gula. Gula pasir, gula batu dan produk gula bernama Trapikana Slim.
"Hen, kamu mau pakai gula apa?" tanya Fira.
"Gula batu saja," jawab Henry.
"Oke."
Fira menuang gula batu yang berbentuk kotak kecil. Ia mengaduk kopi hangat bersama gula batu hingga larut. Sebelum dihidangkan kepada Henry, Fira cicipi dahulu rasa kopi. Wanita itu merasa sudah pas rasa kopi sesuai selera Henry. Akhirnya Fira membawa secangkir kopi hangat untuk diberikan kepada suaminya.
"Ini kopinya, Hen. Kalau kurang manis bilang aku, ya," ucap Fira lantas menyuguhkan kopi kepada Henry.
"Kalau kurang manis-- aku bisa lihat kamu yang manis," ucap Henry sambil menggoda istrinya.
"Masyaallah, apaan sih? Malah ngomong gitu," ucap Fira seketika salah tingkah.
"Kan waktu itu Mama pernah bilang, kalau ingin tambah manis kue putunya-- lihat Mama saja, hehehe," canda Zema.
"Astaghfirullah, Zema. Masih ingat itu aja," ucap Fira semakin tersipu.
"Tuh, anaknya aja pinter rekam percakapan Mamanya," goda Henry.
"Kalau Tante Naomi gimana, Zema? Manis atau manis banget?" tanya Naomi.
"Tante Naomi itu pedes kata Om Jae Young, hehehe," jawab Zema.
"Kurang ajar dia itu, awas aja ketemu di kantor!" geram Naomi.
"Kamu udah sarapan, belum?" tanya Henry kepada Fira.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sudah, sebelum kalian sarapan," jawab Fira.
"Ya, sudah, kalau gitu, sekarang kamu ganti baju aja. Aku tunggu."
"Oke deh."
***
Usai mengantar Zema dan Alira ke TK, kini Fira dan Henry mengantarkan Zayn ke SD. Sebelum turun dari mobil, Zayn terlebih dahulu mencium punggung tangan Fira kemudian Henry dengan santun. Aura Zayn kini tampak berbeda setelah Henry menjadi papanya, seperti ada tingkat kepercayaan diri. Zayn tidak perlu khawatir lagi mendapat bully-an dari teman-temannya. Karena sekarang ia sudah memiliki papa seperti Henry.
Zayn, Fira dan Henry turun dari mobil secara bersamaan. Fira tidak lupa memakai kacamata bening. Henry terlihat maskulin mengenakan kemeja panjang hitam. Mereka bertiga berjalan masuk ke sekolah. Di sana juga sudah ramai siswa-siswi di halaman sekolah. Melihat keluarga baru ini, menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar. Namun Fira, Henry dan Zayn menyapa mereka dengan ramah.
"Zayn, ke kelas dulu, ya, Ma, Pa," ucap Zayn.
"Belajar dengan baik, ya. Yang semangat!" ucap Fira.
"Enggak galau lagi, ya, Zayn. Kan ada Papa," ucap Henry, ia sambil mengacak-acak rambut anak sulungnya itu.
"Zayn enggak galau lagi, hehehe. Assalamu'alaikum, Mama dan Papa." Zayn berlari sambil melambaikan tangan kepada kedua orangtuanya.
"Wa'alaikumsalam, Nak." Fira dan Henry turut melambaikan tangan kepada Zayn.
"Bayangkan kalau anak-anak semakin dewasa dan sukses. Kita semakin menua," ungkap Henry.
"Maka dari itu bimbing anak-anak ke jalan agama dahulu, kemudian ajari mereka ilmu duniawi. Supaya sukses dunia dan akhirat," ungkap Fira.
Henry merangkul pundak Fira. "Aku jadi kepikiran."
"Kepikiran apa?" tanya Fira penasaran.
"Kepikiran pingin punya anak banyak, haha," jawab Henry.
Fira lantas melirik ke Henry. "Bukannya kamu sendiri bilang untuk menunda punya anak."
"Entahlah ini, setelah menikah denganmu, aku jadi ingin punya anak dari cinta kita." Henry mengedipkan satu matanya ke Fira.
Fira menyubit lengan suaminya itu. "Dasar lelaki!"
"Kamu belum KB kan?" tanya Henry.
"Ya, belumlah. Aku masih halangan. Eh, bentar, ngapain kita ngomong gini di sini? Di mobil aja yuk. Malu dong," jawab Fira. Ia lantas menarik tangan Henry menuju ke luar sekolah.
Ketika Fira dan Henry berada di dalam mobil, dering gawai Henry berbunyi. Henry sigap mengambil gawai di dashboard mobil. Sementara Fira justru bercermin pada kaca tempat bedak. Ia berkutat dengan menepuk bedak di wajahnya. Tentunya bedak padat dari produknya sendiri, yakni Firannsa.
"Halo," ucap Henry kepada si penelepon di gawainya tadi.
"Kenapa, ya, tingkat dandanku setelah menikah jadi semangat? Sepertinya aku harus rajin perawatan juga. Soalnya kalau dilihat dari lingerie pemberian Henry itu, Henry menginginkan istrinya ini seperti? Hiii, malah ngeri bayanginnya," gumam Fira bergidik. Ia melanjutkan memakai liptint rose gold kemudian memoleskannya di bibir. Lagi-lagi ia memakai produk Firannsa.
"Ya, sudah, kalau begitu, Rad. Aku sih ikut harinya aja. Semoga segera terealisasikan perbaikan perusahaan di sana. Oke, gitu aja, bye," ucap Henry kepada si penelepon lagi. Percakapan itu berakhir. Henry kembali menaruh gawai di dashboard mobil.
"Kenapa, Hen?" tanya Fira.
"Ke Kanada-nya diundur seminggu lagi. Soalnya perusahaan masih dalam perbaikan. Ya, namanya juga udah perusahaan di bawah naunganku," jawab Henry.
"Alhamdulillah, kalau gitu. Aku jadi enggak cepat kepikiran kalau jauh dari anak-anak."
"Iya, benar. Aku juga ada waktu berduaan sama kamu, hehehe."
"Memang sebelum ke Kanada enggak ada kerjaan di sini atau di Korea?"
"Ada, tapi nanti sebulan setelah kita menikah. Nah itu, aku kembali sibuk-sibuknya. Aku kan bos, siapa yang berani melarang libur?"
"Dasar, hehehe."
"Sekarang kita mau ke mana, Bu Bos?"
"Belanja aja, yuk. Belanja bulanan sekalian belanja buat suamiku."
"Wanita begitu, ya, paling senang diajak belanja. Tapi, sekarang sepertinya ada istri, aku semakin diperhatikan dalam perbelanjaan, haha."
Fira tertawa kecil. Sementara Henry menyalakan mobil. Gas mobil mulai jalan, Henry mengemudi mobil menyusuri jalanan dan meninggalkan sekolah. Mereka begitu menikmati perjalanan santai dan hanya berdua. Betapa manisnya pacaran saat sudah resmi menikah. Mau kemanapun bebas tanpa rasa canggung lagi.
__ADS_1