Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Kangen


__ADS_3

"Mana, ya, cukur kumisku?" Henry sedang mencari pencukur kumis di meja rias, tapi tidak ketemu.


Henry setelah mandi dan masih mengenakan handuk. Hanya dada bidangnya terlihat jelas. Rambut hitam itu masih basah seperti usai keramas. Pagi-pagi begini, Henry terus mencari pencukur kumis. Hingga mata sipitnya mengarah pada laci di samping kasur. Henry lantas membuka laci dan ternyata pencukur kumis miliknya ada di dalamnya.


Henry sudah mendapati pencukur kumis. Namun Henry dikejutkan dengan sebuah test pack berbentuk stik. Perlahan ia ambil test pack itu, terlihat satu garis merah yang tersemat di test pack. Henry terdiam dan diliriknya kemeja putih, dasi, celana dan jas formal yang ternyata sudah disiapkan oleh sang istri di kasur.


"Aku terlalu menekan Fira supaya cepat-cepat punya anak. Sampai Fira beli test pack begini. Pasti hati Fira sedih melihat hasil satu garis merah. Ini juga salahku yang pernah mengucapkan menunda anak," ucap Henry.


Henry meletakkan kembali test pack di laci. Ia menoleh ke layar gawai, diambilnya gawai itu. Henry menyalakan gawai sambil melihat kalender, hari ini tertera tanggal lima belas Agustus. Henry seketika memikirkan sesuatu yang berarti di hidupnya.


"Dua hari lagi, sudah sebulan aku menikah dengan Fira. Aku enggak bisa terus-terusan diam sama Fira. Aku ingin membuat kejutan yang bikin Fira bahagia, sebelum aku kembali sibuk di perusahaan," tutur Henry.


Henry bergegas memakai celana formal, kemeja, dasi kemudian jas. Pria bertubuh jangkung itu berdiri di hadapan kaca rias untuk bercermin. Henry hanya mencukur kumisnya, tapi ia justru membiarkan berewok tumbuh di dagunya. Kini ia merapikan diri seraya menyemprotkan parfum di pakaiannya. Henry tidak lupa memoleskan Pomade di rambut hitamnya. Wajah campuran Korea-Jawa itu tersenyum di kaca. Tampan dan manis sekali.


Henry berada di ruang makan. Ia melihat tiga anaknya sedang sarapan dengan lahap. Sembari merapikan dasi, Henry antusias bergabung dengan Zayn, Zema dan Alira yang sudah rapi berbalut seragam sekolah. Henry juga menoleh ke Fira yang sedang berkutat membuat minuman di dapur. Ia ingin menyusul Fira, tapi untuk sementara waktu, Henry mendiamkan Fira karena ingin memberi kejutan menjelang sebulan hari jadi pernikahan.


Fira menyapa ramah kepada Zayn, Zema dan Alira. Wanita itu membawa nampan yang di atasnya terdapat tiga gelas susu, secangkir kopi dan sereal. Fira menyuguhi tiga gelas susu putih kepada Zayn, Zema kemudian Alira. Namun Fira menghela napas saat menyuguhi secangkir kopi hangat untuk Henry. Raut wajah Fira masih ada penyesalan atas kesalahannya terhadap Henry. Henry justru memberikan senyum simpul kepada Fira. Meski demikian, membuat hati Fira agak ciut.


"Anak-anak diantar sama Pak Irwan saja, ya. Soalnya Papa ada pertemuan mendadak di kantor. Nanti Papa cuma diantar Pak Irwan sampai depan gardu perumahan, soalnya manajer Papa sudah jemput di sana," ucap Henry.


"Baik, Papa," ucap Zayn.


"Kalau kamu enggak bisa jemput anak-anak, lain kali hubungi Pak Irfan. Soalnya aku sudah kirim pesan WA kamu---enggak ada balasan. Biar Pak Irfan bisa WA aku. Kemarin anak-anak kasihan sampai nungguin jemputan di sekolah," jelas Fira.


"Pak Irfan enggak usah hubungi kamu. Sekarang Pak Irwan dan Lefia yang jemput anak-anak. Kamu mending kerja kembali ke salon," imbuh Henry.


"Aku enggak bisa tenang kalau anak-anak dijemput lama. Kalau ada apa-apa, siapa yang mau tanggung jawab? Dari dulu aku juga bisa jemput anak-anak tanpa menyuruh atau mengandalkan siapapun," protes Fira.


"Ya, sudah, terserah kamu. Intinya aku enggak suka kalau kamu ketemu sama Pak Guru Irfan itu," ketus Henry.


Fira geram dengan sikap dingin Henry. Maksud Fira ingin Henry peka terhadap pesan darinya itu dibalas. Tiga anak itu terdiam melihat papa dan mamanya sedang perang dingin. Untung saja, tidak membuat selera makan mereka berkurang.


Fira duduk di samping Henry, ia sembari menikmati secangkir sereal. Ia jadi ingat sesuatu kemudian merogoh saku dasternya. Fira memberikan selembar undangan untuk Henry. Henry yang sedang menguyah makanan lantas membaca isi undangan. Ternyata undangan tersebut dari RT tentang memeriahkan acara tujuh belas Agustus dengan perlombaan.


"Pak RT tadi pagi ke sini. Beliau bilang, kalau bisa kamu hadir di acara tujuh belas Agustusan. Ikut lomba juga boleh. Lagi pula kita warga baru di sini, jarang kelihatan sama tetangga," terang Fira.

__ADS_1


"Hmm, ya, nanti aku pikirkan," ucap Henry.


"Jangan pikirin aja dong. Aku enggak mau tetangga bilang yang enggak-enggak tentang kita karena mementingkan kesibukkan. Udahlah, komentar netizen yang pedas di setiap postingan kamu bikin aku geram. Jangan pula omongan tetangga bikin aku geram. Kamu enggak perlu bilang enggak usah pikirkan orang kayak gitu. Aku enggak bisa, aku tetap kepikiran. Setiap mental orang beda-beda," keluh Fira.


"Kasihan Fira, pasti Fira stress baca komentar-komentar yang enggak suka padanya. Aku harus bertindak sesuatu," gumam Henry.


"Orang-orang enggak suka sama aku itu, enggak ada kerjaan kah? Bisa-bisanya ngomong asal tanpa mengenalku. Mereka enggak suka kalau aku bahagia, tapi mereka bahagia kalau aku susah. Orang kalau enggak suka, mau kita berbuat baik kayak apa, tetap saja dilihat atau dicari kesalahan kita."


"Kita enggak bisa memaksa orang lain untuk suka dengan kita kan? Aku juga ada yang enggak suka denganku."


"Tapi, Hen, kalau mereka enggak suka, ya, jangan menghina dan merendahkan orang dong. Sampai sok tahu dan ngatur hidup dan takdir orang. Ini sudah keterlaluan. Coba seandainya mereka di posisiku."


"Kalau kamu mengedepankan emosi, orang-orang yang enggak suka itu akan senang. Coba kamu fokus pada kariermu. Tunjukkan bahwa kamu adalah wanita yang bisa membuat suami dan anak-anak bangga. Enggak perlu penilaian orang lain. Ada keluargamu yang menjadi pendukung setiamu."


Fira melanjutkan minum secangkir sereal. Henry juga kembali menyantap sarapan. Sementara anak-anak hanya menonton obrolan pagi papa dan mamanya. Fira memijat kening, ia benar-benar pusing dan geram dengan orang-orang yang tidak suka padanya. Apalagi jika ada di antara mereka asal bicara tanpa mengenal Fira. Istilahnya lebih baik tabayyun dahulu sebelum berbicara yang tidak sesuai realita.


***


Henry, Fira dan tiga anaknya berada di teras. Zayn, Zema dan Alira menciumi tangan sang mama. Fira membelai lembut setiap kepala anaknya seraya membaca doa. Anak-anak itu kemudian bergegas masuk ke dalam mobil. Tinggallah Henry dan Fira yang masih di teras.


Fira dan Henry saling bertatapan. Agak ragu ia untuk bersalaman dengan Henry. Walaupun tadi, keduanya sudah saling berbicara, tapi Fira masih merasa Henry dingin terhadapnya. Henry mengulurkan tangan, perlahan Fira menciumi punggung tangan Henry. Ketika Fira menunduk begini, Henry tersenyum. Rasanya tidak tega bersikap dingin pada Fira, tapi Henry ingin menjalankan rencana menjelang hari jadi pernikahan yang jalan sebulan.


"Kalau kamu mau posting foto di IG, enggak apa-apa kok. Kamu boleh balasin komentar mereka yang tidak suka padamu. Boleh juga balasin komentar baik dan yang suka padamu supaya kamu bisa dapat dukungan dari mereka yang suka padamu," ungkap Henry.


"Iya. Henry, maafkan aku soal kemarin," ungkap Fira.


"Iya, aku udah maafin kamu kok. Aku berangkat kerja dulu, ya. Pak Irwan udah nungguin di mobil tuh." Henry sekadar melambaikan tangan kepada Fira. Di sisi lain Fira mendengus kesal, ia ingin sekali memeluk Henry untuk melepas rindu.


Fira melirih, "ck, aku juga nungguin kamu supaya kita bermesraan lagi. Aku kangen sama kamu, Henry. Enggak enak banget kalau pesan WA enggak dibalas sama kamu."


Kali ini Henry dan tiga anaknya diantar oleh Irwan. Irwan juga kembali menjalani pekerjaannya sebagai sopir pribadi Henry. Mengantar dan menjemput Henry ke perusahaan. Bahkan Irwan mengantar Henry saat ada pertemuan dan rapat penting dengan klien dan pengusaha lainnya.


Mobil yang membawa Irwan, Henry dan tiga anak itu telah pergi berlalu menyusuri jalanan. Fira masih berdiri mematung di teras. Lefia keheranan melihat bosnya bersungut-sungut sendiri. Lefia iseng melambaikan tangan di depan wajah Fira. Sontak Fira sadar dari lamunan.


"Oalah, Bu, pagi-pagi jenengan udah merengut aja. Mbok, ya, yang segar gitu, Bu, biar tambah awet muda," canda Lefia.

__ADS_1


"Saya lagi enggak mod, Lef. Henry bersikap datar sama saya. Saya enggak bisa digituin," keluh Fira.


"Ciiyyee, butuh belaian kasih sayang, ya, Bu," kelakar Lefia.


"Ih, apaan sih, kamu? Sok tahu deh, hahaha," ucap Fira.


"Nah, kan, kalau jenengan ketawa gini jadi enak mandangnya. Bu Fira itu udah jadi Bu Bos besar, harusnya bahagia dong biar tambah cantik, tambah dicintai sama Pak Henry."


"Bisa-bisanya kamu menghibur saya. Ya, sudah, sekarang bantuin saya beresin rumah, setelah itu ikut saya ke pabrik Firannsa."


"Siap, Bu Bos-ku." Lefia berdiri tegap seraya memberi penghormatan kepada Fira. Tingkah konyol Lefia membuat Fira tiada hentinya tertawa.


Fira berjalan ke sepanjang koridor rumah, ia hendak pergi ke gudang. Namun, ia mendapati pintu ruang kerja Henry terbuka. Fira ragu untuk masuk ke dalam ruangan itu. Jika dilihat, ruangan itu tampak berantakan. Fira jadi berinisiatif untuk membersihkan ruang kerja Henry. Ruang kerja itu sudah tersedia vacuum cleaner. Fira mengambil vacuum cleaner guna membersihkan debu di ruangan itu.


Memang tidak ada yang aneh pada ruangan itu. Seperti ruangan kerja pada umumnya, terdapat buku-buku, berkas dokumen dan lain-lain. Fira menata buku dan berkas yang berserakan di meja kerja. Tampaknya Henry sedang banyak pekerjaan sehingga buku dan berkas menumpuk di meja.


"Sepertinya tadi malam Henry bergadang mengurusi pekerjaannya. Padahal Henry seorang Bos, tapi juga kerja. Ya, sih, Henry pernah bilang kalau dia pusat pemikiran perusahaannya. Sebagai pemilik tidak hanya jalan di tempat, tapi juga kerja lapangan, memperbarui dan meningkatkan inovasi agar Excellent selalu berkembang. Eh, kok, aku jadi motivator bisnis gini, ya, hehehe," cakap Fira.


Usai menata buku dan berkas. Fira membersihkan debu ruangan menggunakan vacuum cleaner. Namun ada yang janggal, ketika Fira melihat sebuah pintu kecil yang ditutupi dengan korden. Seperti ada kamar khusus di dalam ruangan itu. Tangan Fira bergetar saat memegang ganggang pintu. Seketika pintu itu terbuka, ternyata ada kamar kecil yang di dalamnya terdapat kasur kecil.


"Ini aku yang tidak tahu atau aku tidak terlalu mempedulikan ada kamar kecil ini? Aku memang jarang masuk ke sini. Aku cukup terkejut, ternyata di balik korden ini---ada kamar kecil," ucap Fira.


"Enggak ada sesuatu yang aneh sih. Hanya kamar biasa. Tapi, gunanya kamar ini---buat apa?" Fira jadi berpikir keras.


"Astaghfirullah, apa kamar ini---jadi saksi bisu ketika Henry sedang merenggang sendiri. Waktu itu kan aku pernah mendengar raungan di sini. Hanya sekali itu, aku mendengarnya. Namun selama kita marahan, Henry tidak pernah meninggalkan kamar atau saat aku tidur, dia pernah ke kamar ini?"


Fira jadi mengingat perkataan Henry untuk tidak mencampuri urusan Henry dalam perkara trauma. Sebenarnya Fira ingin tahu lebih dalam, tapi sekarang rasanya Fira mengurungkan niatnya untuk mencari tahu. Ia tidak mau hanya gara-gara ini, rumah tangganya jadi renggang.


Ketika Fira hendak menutup pintu kamar itu, pandangan Fira tertuju pada selembar kertas di bawah kasur kecil. Wanita ini mematikan vacuum cleaner, kemudian ia masuk ke dalam kamar itu. Fira mengambil selembar kertas yang bertuliskan huruf R, S, G dan M. Di situ juga ada tulisan kecil yang bertuliskan, tinggal tunggu tanggal mainnya.


Fira tercengang, tidak menyangka jika Henry menulis seperti ini. "Apa maksud dari tulisan ini? R, S, G dan M, apa artinya? Atau ini inisial nama orang? Kenapa jadi main tebak-tebakan gini, sih? Kan aku jadi tambah mumet. Semoga Henry gerakan hatinya untuk cerita tentang trauma dan masalahnya. Kalau tidak, ya, biar Allah yang menunjukkan semuanya."


Fira cepat-cepat menaruh kembali selembar kertas itu di bawah kasur kecil. Wanita berdaster ini bergegas ke luar kamar. Ia fokus kembali pada vacuum cleaner dan membersihkan ruangan. Namun sebenarnya rasa penasaran Fira bergejolak. Ia semakin khawatir terhadap Henry. Entah apa yang dimaksud tunggu tanggal main yang ditulis Henry?


***

__ADS_1


Bagaimana tanggapanmu setelah membaca novel ini? Tinggalkan komentar di bawah ini yuk. Diharapkan untuk memberi komentar tentang novel ini. Supaya penulisnya tahu dan kenal ulasan dari setiap pembaca sebenarnya. Mohon maaf, untuk yang mau promosi cerita sebaiknya gabung di grup Famala Dewi di NovelToon ini.


Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, dan kasih rate (bintang 5). Supaya authornya ini semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Terima kasih.


__ADS_2