Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Hari Pertama di Kanada


__ADS_3

"Pengantin baru tapi pada sibuk sama telepon masing-masing. Kalau mereka lagi mesra bikin aku baper. Kalau mereka lagi kayak gini bikin aku pusing," gerutu Bryan.


Bryan yang duduk di samping supir itu, sebentar-sebentar memperhatikan kedua kakaknya. Henry dan Fira duduk di jok belakang. Justru suami-istri disibukkan dengan telepon di gawai masing-masing. Di sana Bryan bagai patung yang tidak diperhatikan kedua kakaknya.


Ingin mendengarkan lagu, tapi Bryan mudah bosan. Ingin berselancar di permainan dalam gawainya, tapi Bryan sedang tidak ada gairah. Pria berjaket merah tua ini terpaksa melihat sepanjang jalan Kota Toronto, Kanada. Pun disuguhkan pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi.


Cuacanya kian terik, sudah waktunya untuk makan siang. Di dalam perut Bryan bergemuruh sebab lapar. Ingin mengeluh kepada kedua kakaknya, ia takut menganggu. Namun sepertinya Henry dan Fira terlena dengan gawai masing-masing. Bryan sampai bingung apa saja yang dibicarakan oleh Henry dan Fira melalui gawai itu.


"Tadinya aku mau cari taksi. Lagi pula kamu lama sekali menyuruh supir untuk menjemputku di bandara. Bisa-bisanya lupa kalau hari ini sudah tiba di Toronto," protes Henry kepada seseorang yang diteleponnya.


"Baik-baik itu mulut nyerocos kemasukan jin," ucap seseorang pria dari balik percakapan telepon tersebut.


"Situ jinnya, ya. Makanya besok lagi kamu catat di agenda, soal kedatanganku ke Kanada. Aku, istri dan adik iparku hampir matang karena terpanggang sinar matahari."


"Ya, bagus, kalau matang, jadilah Henry panggang, hahaha. Sorry, cuma bercanda, jangan diambil hati. Oke, sekali lagi aku minta maaf, aku benar-benar lupa. Aku baru ingat agak siang, jadi kusuruh supirnya jemput kamu mendadak. Kita baikan, ya, Bro Henry. Gajiku enggak dipotong kan?"


Henry menyeringai. "Pertama, kamu lupa menyuruh supir untuk menjemputku, istriku dan adikku di bandara. Kedua, aku lagi ngomong, kamu sempat-sempatnya jokes. Ketiga, ngatain seorang Henry adalah Henry panggang. Hmm, sepertinya kamu enggak akan gajian bulan ini."


"Huuwwee, please, mau makan apa aku kalau enggak digaji? Aku ini founder terlucu di Excellent. Kalau aku enggak digaji, aku enggak semangat menghibur di perusahaan. Kalau seorang Raditya enggak lucu, perusahaan jadi hareudang."


"Lucu dari mananya dirimu itu?"


Henry masih saja mengobrol seru dengan rekan bisnisnya. Di sisi lain, Fira asyik mengobrol dengan ibu dan tiga buah hati. Posisi duduk Fira dengan Henry justru merenggang. Henry dan Fira justru duduk di dekat jendela mobil.


"Zayn, Zema dan Alira cepat tidur gih. Di sana sudah larut malam kan?" ucap Fira.


"Tuh, dengarkan kata Mama. Nenek sudah bilang tidur awal karena besok sekolah. Tapi, katanya kangen Mama," ucap Ratih.


"Mama, tadi sore gigi Alira copot satu, jadi ompong deh," celetuk Alira.


"Alira makan permen, ya? Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur, ya, Nak. Nanti giginya pasti tumbuh baru lagi," kata Fira.


"Alira enggak makan permen, Ma. Alira rajin gosok gigi kok."


"Ya, sudah, kalau gitu kalian tidur semua. Anak-anak itu jangan tidur larut malam, ya."


"Siap, Mama." Serentak mereka.


Henry dan Fira secara bersamaan mengakhiri percakapan di gawai masing-masing. Suami istri ini kemudian saling menatap. Empat mata itu sayu seperti kurang tidur. Namun di dalam perut sudah menderu, seakan minta diisi makanan. Terbukti Henry dan Fira tertawa kecil mendengar suara perut masing-masing yang keroncongan itu.


"Kita makan siang, yuk. Aku sudah lapar sekali," ucap Henry.


"Daritadi kek ngomong kayak gitu!" pekik Bryan. Mata cekung lesu itu menatap kedua kakaknya. Henry dan Fira sontak tertegun.


"Astaghfirullah, ada gas meletup," kelakar Henry.


"Gas meletup, gas meletup. Nih, perutku yang mengembung makan angin. Untung bukan buang angin yang meletup-letup," keluh Bryan. Diusap-usapnya perut yang keroncongan.


"Iya, kita sekarang menuju ke Restoran Best Istanbul. Insyaallah, terjamin kehalalannya."


"Kamu juga harus ingat kalau Kak Fira enggak boleh telat makan. Sekali telat makan pasti asam lambungnya kumat."

__ADS_1


Henry terperangah, menyadari bahwa Fira punya penyakit asam lambung yang tidak bisa menunda jam makan. Sadar akan hal itu, Henry jadi mengingat kembali sewaktu Fira dirawat di rumah sakit. Pada masa keduanya masih menjadi perantauan di Singapura.


Tiba-tiba saja Henry merasakan desiran hangat dalam tubuhnya. Henry juga mengingat pernah menggendong Fira saat pingsan. Masa itu seperti mimpi yang cepat berlalu. Tidak disangka-sangka sosok wanita yang pernah digendongnya, kini menjadi istri yang akan menemani sisa hidupnya.


"Henry, kenapa melamun?" Suara Fira membuyarkan lamunan Henry.


"Aku jadi ingat waktu kita masih di Singapura. Aku pernah gendong kamu pas pingsan di restoran. Jika mengingat itu kembali, aku semakin mencintaimu," terang Henry.


"Aku butuh makan, bukan butuh rayuan. Aku butuh ketenangan, bukan keresahan. Aku sedang laper, enggak ingin baper, tarak dung tak tarak dung dung," sela Bryan. Adik Fira ini sengaja mengarang lagu untuk menyindir Fira dan Henry yang lepas dari kemesraan. Ia berlagak seperti pemain drummer.


"Sepertinya kalau kita ingin bermesraan, jangan di depan Adikku deh. Kasihan dia, hihihi," goda Fira.


"Bryan harus menerima risikonya kalau ikut kita yang masih pengantin baru. Biar dia sekalian belajar kalau suatu saat nanti dia menikah, hahaha," goda Henry.


Bryan mengibaskan jaket, padahal cuacanya tidak membuat gerah. "Pak supir buruan ke restorannya. Soalnya saya sedang haus sekali. Sepertinya haus kasih sayang."


"Baik, Mas." Supir itu menurut perintah Bryan. Walaupun raut wajah supir itu seperti menahan tawa karena tingkah konyol Bryan.


Henry dan Fira tertawa terkekeh-kekeh. Perjalanan jauh yang dilalui mereka terasa lelah. Namun tidak sia-sia jika Bryan turut serta. Karena ia bisa menghibur hati dikala penat.


Di satu sisi Fira menikmati perjalanan di Kota Toronto Kanada. Baru pertama kali kakinya berpijak di negara yang memiliki keindahan alam berupa daun-daun mapple. Di sisi lain Henry memperhatikan pujaan hatinya yang sedang tersenyum sendiri.


"Ya Allah, rasanya enggak sabar ingin bertemu dengan daun-daun kecokelatan itu." Fira membatin seraya membayangkan betapa serunya jika bermain dengan daun-daun itu.


***


Seorang pria yang berjaga di kasir dalam restoran itu menyapa ramah atas kehadiran Henry, Fira dan Bryan. Tiga orang ini juga membalas sapaan pria itu. Henry memindai kode QR yang sudah disediakan pihak restoran melalui aplikasi khusus di gawainya. Berbagai varian menu makanan dan minuman langsung muncul di layar gawai. Restoran Best Istanbul ini dikenal sebagai restoran yang menyajikan makanan khas Turki. Restoran ini terletak di Toronto, Kanada.


Henry memperlihatkan menu makanan dan minuman kepada Fira dan Bryan. Semua menu makanan begitu menggiurkan. Bryan jadi semakin keroncongan, perutnya tidak sabar untuk diisi makanan khas Turki tersebut. Hanya sebentar saja, Henry, Fira dan Bryan sudah mantap memesan makanan dan minuman. Mereka kemudian menaiki tangga menuju ke lantai dua.


"Pinggangku remuk semua. Pokoknya setelah dari sini, aku ingin tidur sepuasnya di apartemen. Haaahhh, indahnya hidup mempunyai Kakak ipar seperti Henry. Lain kali ajak aku lagi, kalau kamu ke luar negeri," ucap Bryan.


"Harusnya kamu bisa sendirian kalau mau traveling ke luar negeri. Kan kamu pengusaha kopi, sekalian tuh promosikan produk kopimu," ucap Henry.


"Aku itu orangnya sulit menghapal perjalanan kemanapun. Butuh waktu lama untuk menghapal perjalanan. Waktu di Singapura aja---cuma Kak Fira yang bisa tahu jalan. Enggak usah jauh-jauh deh ke Singapura, ke luar kota Semarang, aku juga begitu. Seperti pernah ke Jakarta, tempatnya Kak Khalifah dan Kak Velia pas menyusul Kak Fira ke sana. Itu aja butuh tanya dan dituntun orang biar tahu jalan. Kecuali Semarang ke Temanggung sampai Yogyakarta, aku sudah hapal jalan," jelas Bryan.


"Benar, Bryan itu sulit kalau sebagai penunjuk jalan. Kalau lagi beruntung, ya, sampai tujuan. Kalau lagi apes, ya, nyasar," ucap Fira.


"Tuh, mantul, Kak Fira."


"Sulit menghapal jalanan tapi hapal berbagai macam game, ya, Bry," goda Henry.


"Eh? Hahaha, it's very related!" Bryan terbeliak sembari tertawa. (Eh? Hahaha, itu berhubungan sekali!)


"By the way, Bry, kamu enggak ada pikiran untuk membesarkan usahamu. Seperti membuka cabang kedai kopi di berbagai kota lain gitu," usul Henry.


"Hen-Hen, gini, ya. Boro-boro mikir buka cabang. Wong, kedai yang sekarang aja masih keteteran ngurusinnya alias modalnya belum cukup," keluh Bryan.


"Oh, soal modal? Gimana kalau aku tambahin modalnya? Insyaallah, setelah pulang dari Kanada ini, aku sempatkan mampir di kedai kopimu itu. Kalau kualitas dan kuantitasnya mendukung, aku siap bantu mengembangkan usahamu itu. Kalau perlu membangun kafe gitu."


Bryan cengengesan sembari menggaruk kepala meski tidak gatal. "Aduh, jadi enggak enak sama saudara sendiri. Jadinya merepotkanmu."

__ADS_1


"Buktinya Anna sudah memesan produk kopimu sampai diborongnya. Nah, itu testimoni mantul karena orang luar negeri sudah kenal dan mengonsumsi produk kopimu. Harusnya usahamu menjangkau lebih luas lagi."


"Ide bagus sih. Ah, untuk saat ini aku menikmati liburan. Melepas beban dari pekerjaan yang melelahkan."


Henry geleng-geleng kepala. "Eh, astaghfirullah, malah gitu."


Di tengah pembicaraan mereka, dua pemuda yang merupakan pelayan restoran menyuguhkan pesanan makanan dan minuman untuk tiga pelanggannya. Dua pelayan restoran itu menyapa ramah kepada Henry, Fira dan Bryan. Seorang pemuda yang parasnya sawo matang itu meletakkan makanan dan minuman di atas meja.


"Permisi, apakah Anda bertiga ini datang dari Indonesia?" tanyanya.


"Iya, benar. Kami dari Semarang. Memangnya kenapa?" ucap Henry.


"Oh, enggak apa-apa, Pak. Terlihat dari wajah kalian itu dari Indonesia."


"Masnya ini juga dari Indonesia?"


"Tentu, Pak. Saya dari Bogor."


"Lucky, we better get back to work. There are still customers waiting for food and drink orders," tegur temannya itu. (Lucky, sebaiknya kita kembali kerja. Masih ada pelanggan yang menunggu pesanan makanan dan minuman.)


"Oh, okay, Cris," ucap pemuda yang dipanggil Lucky tersebut. "Kalau begitu saya permisi, Pak. Saya senang jika ada orang Indonesia mampir di restoran ini."


Henry mengangguk. "Oke, Anda harus bekerja dengan baik."


Aroma makanan yang lezat sudah mengunggah lambung mereka. Walaupun makanan khas Turki ini dihadapan Henry, Fira dan Bryan, tiga orang ini tidak melupakan doa sebelum makan. Makanan di hadapan mereka bentuk kenikmatan dari Allah yang perlu disyukuri. Jika berdoa sebelum makan, selain memberi energi bagi tubuh, baik untuk kesehatan juga terdapat keberkahannya.


"Cowok tadi sok asyik. Pede banget mau kenalan sama kita," kata Bryan.


"Enggak boleh gitu, Bry. Justru dia menampilkan sikap ramahnya. Dia senang kalau ada orang Indonesia berkunjung di sini," kata Henry.


"Ya, benar kata Henry, siapa tahu suatu saat nanti kita butuh pertolongan dia. Wallahu alam kan?" kata Fira.


"Bantuan apa coba? Enggak nyambung deh, Kak."


"Bantuan pesan makan dan minum di sini, barangkali. Bisa jadi kan?"


"Hmm, tuh dengerin kata Kakakmu." Henry tertawa kecil.


Fira berkelakar, "Ya, sudah, kita makan. Bryan jadi semakin sewot karena perutnya juga sudah demo, hahaha."


Fira tetap melayani suaminya dengan menyiapkan makanan untuk Henry. Bryan mengambil sendiri makanan yang dihadapannya. Di atas meja tersaji Adana Kebap, Istanbul Plate, salad sayur, dessert dan tiga gelas jus jeruk serta air putih.


Pertama kalinya Fira dan Bryan mencicipi makanan khas Turki ini. Jika lidah Bryan sudah terbiasa dengan makanan berupa daging. Namun lain halnya dengan Fira yang berusaha mencoba makanan itu. Fira sejenak termangu. Ia justru memilah daging dari lauk lainnya.


"Kok dagingnya dipinggirin?" tanya Henry.


"Aku enggak doyan daging sapi, hehehe," jawab Fira.


"Kalau kamu enggak doyan daging sapi, dagingnya kasih ke aku aja, ya."


"Ya, sudah, ini dagingnya untukmu."

__ADS_1


Fira memberikan daging sapi matang itu kepada Henry dengan menggunakan garpu. Wanita berkacamata bening itu jadi tersentuh, suaminya berkenan menampung daging darinya.


Henry nampak lahap menyantap makanan khas Turki ini. Sementara Bryan bagai orang yang menemukan harta karun, tidak henti-hentinya mengunyah makanan lezat dan nikmat ini. Yang terpenting adalah lambungnya akan tersenyum diisi makanan khas Turki ini.


__ADS_2