
Fira berkutat dengan setumpuk pakaian yang dikeluarkan dari koper. Ia duduk di sisi kasur dan menaruh seluruh pakaian miliknya di kasur. Seraya merapikan seluruh pakaian, Fira mengedar pandang melihat seisi kamar yang indah nan sempurna. Kamar itu dihiasi tanaman dan daun-daun buatan jadi terkesan estetik.
Pendingin udara di dalam kamar membuat Fira tidak merasa kegerahan. Ia cekatan membawa beberapa helai pakaian yang akan dimasukkan ke dalam lemari. Wanita berjilbab krem itu terkesima melihat lemari besar seperti layar bioskop yang melekat pada dinding.
Membuka lemari cukup dengan menggeser pintunya saja. Fira kian terpukau melihat dalam lemari yang luas. Tidak hanya untuk menyimpan pakaian, melainkan ada tempat penyimpanan sepatu dan tas.
"Aku enggak habis pikir, Henry enggak tanggung-tanggung menyenangkan aku dan anak-anak. Ya Allah, semoga seterusnya seperti ini," ucap Fira.
Fira bolak-balik dari mengambil beberapa pakaian di kasur kemudian dipindahkan ke lemari. Begitu sudah rapi menata pakaian yang telah dilipat dalam lemari, sebagian pakaian ada yang digantung pada hanger.
Butuh waktu lima belas menit untuk menata pakaian di dalam lemari. Sejenak Fira terdiam, berusaha mengingat sesuatu. Selain mengingat seluruh pakaian tiga anaknya yang belum ditaruh ke dalam lemari, tatapannya mengarah pada koper. Fira merogoh kantong tambahan dalam koper untuk mengambil dua pewangi lemari dan sebungkus kapur barus.
Dua pewangi lemari digantungkan pada tiang hanger. Sedangkan beberapa butir kapur barus diselipkan pada sudut lemari. Fira telah usai menata seluruh pakaiannya dengan Henry. Ia merenggangkan otot yang terasa pegal. Wanita dengan balutan blouse cokelat itu kembali menata dua koper.
Namun, ketika Fira hendak menutup koper milik Henry, lantas melihat sebuah album foto di kantong tambahan dalam koper milik Henry. Ia mengambil album foto milik suaminya tersebut. Fira duduk di sisi kasur dan membuka album foto. Album foto yang berisikan foto-foto Henry, keluarga dan teman-temannya.
"Masyaallah, Henry kecil lucu banget sih," ucap Fira kagum.
"Ini Henry masih remaja, matanya yang sipit itu bikin gemes," sambungnya tertawa kecil.
"Foto ini sewaktu Henry masih SMA. Sepertinya Henry di sini sudah mengenalku. Aku enggak menyangka kalau sekarang Henry menjadi suamiku," imbuh Fira, "ternyata Henry dari kecil suka main bola. Henry juga pernah menjadi kaptain tim bolanya. Dia benar-benar hebat menjadi pesebak bola."
Fira terus membuka setiap lembaran album foto tersebut. Melihat foto-foto Henry membuat Fira senyum-senyum sendiri. Disentuhnya dada karena merasakan degup jantung yang kian mencintai suaminya, kemudian ia mengelus salah satu foto Henry yang mengenakan kemeja kotak-kotak. Mengingatkan Fira pada masa kerja di Singapura dulu, saat ia dipertemukan kembali dengan Henry
"Masyaallah, gantengnya suamiku. Aku cinta kamu, Henry," ungkap Fira.
"Aku juga cinta kamu, istriku yang cantik," ungkap Henry. Pria berbalut kemeja abu-abu itu datang di samping Fira sontak terperanjat.
"Astaghfirullah, Henry! Kamu ngagetin aku," ucap Fira mengelus dada.
"Hayo, lihat foto siapa itu? Sepertinya menghayati banget," goda Henry sembari tersenyum menyeringai.
"Aku minta maaf karena lancang lihat album fotomu. Nih, aku kasih album foto ke kamu," kata Fira sambil menyodorkan album foto kepada Henry.
"Hahaha, kamu simpan saja. Kamu berhak melihat album fotoku kok. Kamu lihat aja fotoku setiap saat, biar kamu makin cinta sama aku."
"Ih, dasar, ya, sukanya kepedean!"
Fira dan Henry hanyut dalam senda gurau. Keduanya saling tertawa lepas. Henry semakin menggoda Fira dengan mencubit hidung mancung istrinya. Henry gemas dengan hidung Fira. Sang istri merasa kesal tapi senang, membalas Henry dengan menggelitik perut Henry dengan balutan kemeja. Henry yang merasa geli, tubuhnya jadi berguling-guling di atas kasur.
"Mana roti sobeknya? Sini aku cubit dan cuil roti sobeknya, hahaha," seloroh Fira.
"Ciiiyyyee, yang mulai ketagihan sama perut sixpack aku, hahaha. Stop, Fira, aku geli, hahaha," seloroh Henry.
"Habisnya kamu nyebelin banget! Mencubit hidung aku. Gemas sih boleh, tapi aku sakit tahu!"
"Soalnya hidungmu mancung kayak jambu, hahaha."
"Jambu?"
Fira sontak berhenti menggelitik perut Henry. Wajah ayunya berubah jadi datar. Sementara Henry mengernyit heran melihat ekspresi istrinya yang tiba-tiba datar seolah tidak suka disebut hidung jambu.
"Kenapa memangnya? Ada yang salah?" tanya Henry.
"Jambu itu sebutan dari Rafi untukku sejak bersahabat dari kecil," jawab Fira.
"Oh, maaf, aku enggak tahu. Aku pikir aku orang pertama yang menyebut itu."
"Ya, sudahlah, enggak usah menyebut itu lagi. Aku enggak mau ingat-ingat itu lagi, oke."
"Baik, sayangku. Oh, iya, di ruang keluarga ada Bapak, Ibu, Bryan, Ressa dan Nina."
Fira terbelalak seraya berkata, "serius?"
"Serius. Sekarang kita ke sana. Ibu juga bawa makanan banyak tuh."
"Kok kamu enggak omong dari tadi?"
"Lah, tadi kita malah asyik bercanda, hahaha. Yuk, kita lekas ke sana."
Henry lantas menggandeng istri tercinta. Henry dan Fira beranjak dari kasur sembari merapikan pakaian, kemudian bergegas keluar dari kamar. Fira tampak semringah saat mendengar ucapan Henry soal keluarga datang di rumah barunya ini.
***
"Ya Allah, Fira jadi enggak enak sama Ibu. Jadi merepotkan Ibu," ucap Fira. Wanita itu sigap membantu ibunya. Ibu dan putri sulungnya itu berkutat menata makanan di meja makan.
"Ibu enggak merasa direpotkan. Ibu malah senang kalau kamu, Henry dan anak-anak punya rumah baru. Kalian mulai bangun rumah tangga secara mandiri. Kalian juga pasti capek setelah beres-beres rumah. Makanya Ibu bawa nasi dan lauk-pauknya biar kita makan bersama," jelas Ratih.
Sorotan mata Fira berbinar-binar melihat sambal pete yang diwadahi dalam kotak makan. "Wah, ada sambal pete nih. Sedap banget!"
"Iya, Ibu sengaja masak itu buat kamu. Itu kan kesukaanmu."
"Masakan Ibu itu selalu dirindukan. Pokoknya kalau ada masakan Ibu bikin perut Fira demo. Bawaannya lapar terus. The best deh."
"Kamu bisa-bisanya memuji Ibu seperti itu, hehehe. Yowis, sekarang kamu panggil Bapak, Henry, anak-anakmu dan adik-adikmu itu.
"Baik, Bu."
"Oh, iya, Fir. Di mana dapurnya?" tanya Ratih.
"Dapurnya ada di belakang, Bu," jawab Fira seraya mengacungkan jari telunjuk guna menunjukkan letak dapur di rumah ini.
__ADS_1
"Ya Allah, dapurnya kok di belakang?"
"Memang desain rumahnya sudah begitu, Bu, hehehe."
"Yowis, kamu lekas panggil seluruh keluarga saja."
Fira mengangguk. Kaki jenjang dengan balutan celana kulot panjang itu melangkah ke ruang keluarga. Ia melihat Ressa dan Nina sedang asyik bermain dengan Zayn, Zema dan Alira beralaskan karpet berbulu lembut, kemudian melihat Fatih yang terpaku dengan layar televisi, menonton berita terkini.
"Bapak, adik-adik dan anak-anak, makan siang dulu, yuk. Di ruang makan sudah tersedia makanan," ajak Fira.
"Mainnya sudah dulu, ya. Sekarang kita makan siang dulu," kata Ressa kepada tiga keponakannya.
"Oke, Tante Ressa dan Mama. Zayn juga sudah lapar nih," kata Zayn.
"Beresin mainannya dulu, ya, Zayn, Zema dan Alira," perintah Nina.
"Oke, Tante Nina." Serentak tiga anak itu.
"Nenek juga sudah masakin ayam goreng tuh," kata Fira.
"Asyik, ayam goreng!" seru Zayn, Zema dan Alira.
"Bapak lagi fokus nonton berita, nanggung kalau ditinggal. Nanti Bapak menyusul makannya," ucap Fatih.
"Inggih, Pak. Oh, iya, Pak, Henry sama Bryan ke mana?" ucap Fira.
"Suamimu dan adik lanangmu itu di teras rumah. Itu dua anak lagi ngobrol soal gim. Oalah, usia sudah segitu masih nge-game saja."
"Hehehe, Henry dan Bryan itu satu komunitas gim, Pak. Ya, wajar saja bahas gim. Mereka juga masih terlihat muda."
Fira melanjutkan jalan ke teras rumah. Ia melihat Henry dan Bryan sedang duduk di teras. Ternyata benar-- dua pria yang usianya selisih setahun ini sedang asyik mengobrol.
Fira berdiri di ambang pintu. Kedua tangannya disatukan berbentuk silang. Ia tersenyum melihat keakraban suami dengan adik laki-lakinya. Namun sepertinya Henry dan Bryan tidak menyadari jika Fira berada di belakang mereka.
"Aku punya lima gamepad di rumah sana. Nanti aku kasih dua gamepad untukmu deh," ucap Henry.
"Wah, mantap tuh, Hen. Terima kasih, ya, makin semangat aja nih-- aku main gimnya," seru Bryan.
"Gamepad itu masih pengeluaran terbaru loh. Ya, aku baru pakai sebentar saja. Semenjak aku jadi sibuk di perusahaan, jarang ada waktu untuk main gim."
"Kalau aku sepulang dari kedai kopi, langsung main gim. Menghilangkan suntuk setelah kerja seharian."
"Ya, beruntunglah kamu ada waktu untuk main gim. By the way, komunitas gim yang dulu masih ada enggak sih? Di grup Ecebook dan WA gitu. Aku sudah lama keluar dari grup WA-nya."
"Komunitas gimnmasih eksis dong. Nanti aku gabungin kamu ke grup WA komunitas gim. Oh, sekalian aku gabungin kamu ke tim esport, ya. Nanti aku bicarakan sama teman-teman esport. Di sana banyak pengalaman dan teman loh."
"Ide bagus. Aku sih ikut aja, hehehe."
"Hen, aku mau tanya sama kamu. Mumpung cuma kita berdua di sini," kata Bryan.
"Tanya apa?" Henry menoleh ke Bryan seraya mengernyit dahi.
"Anna itu orangnya seperti apa?" tanya Bryan.
Henry menjawab, "Anna itu gadis ramah, cerdas dan kreatif. Kalau diajak bicara itu seru. Memangnya kamu kenal Anna?"
"Kenal. Anna datang ke kedai kopiku di Temanggung. Dia borong produk kopi dariku. Pertama kali melihatnya, aku langsung tertarik dan mulai menyukainya. Katanya pernah ketemu sama kamu dan Kak Fira."
"Oh, begitu. Anna itu teman satu Universitas Hervard. Hanya saja, dia jurusan desain. Sedangkan aku jurusan bisnis. Syukurlah, kalau kamu mulai menyukainya."
"Tapi, aku mau tahu darimu. Anna itu agamanya apa?"
"Anna beragama Kristen. Anna dan keluarganya taat agama. Kalau aku lihat setiap materi kuliah, Anna selalu bawa Al-Kitab."
"Nah, itu masalahnya. Aku malah menyukai gadis yang berbeda keyakinan. Aku sudah cerita ke Ibu, kata Ibu kalau bisa berjodoh dengan gadis seiman."
"Ibu benar, sebaiknya cari jodoh yang seiman. Soalnya kalau cinta beda agama itu urusannya sulit. Tentunya bertentangan dengan iman. Kamu taat agama, begitu juga dengan Anna. Jangan sampai karena dibutakan cinta, kamu jadi murtad."
Bryan sontak terperanjat. "Nauzubillahi min dzalik. Enggaklah, Hen. Aku paham soal itu."
"Aku sekadar mengingatkan. Apa kamu ada kepikiran untuk menyatakan perasaan ke Anna?"
"Ada sih keinginan untuk menyatakan perasaan ke Anna. Syukur kalau ditolak. Nah, kalau diterima Anna, gimana?"
"Oh, iya juga, nanti jadi runyam."
"Aku juga enggak mau pacaran. Mauku itu begitu kenal langsung melamar sampai ke jenjang pernikahan."
Bryan mendengus, merasakan betapa pilu hatinya. Mendengar penjelasan dari Henry tentang Anna, mau tak mau ia harus menerima kenyataan. Bryan menepuk kening sebab merasa keliru menyukai seorang gadis yang berbeda keyakinan dengannya.
Cukup puas mendengar percakapan antara Henry dan Bryan, Fira lantas mengentakkan kaki dengan kasar. Suara entakan itu membuat Henry dan Bryan terkejut lantas menoleh ke Fira. Raut wajah Fira yang ayu itu seketika berubah menjadi masam dengan bibir mencebik.
"Tahu banget, ya, soal Anna," ucap Fira ketus.
"Fira," ucap Henry terbelalak.
"Eh, Kak Fira," ucap Bryan dengan santai.
"Disuruh makan siang sama Ibu sana!"
"Fir, Fira," sergah Henry, "aduh, pasti salah paham soal tadi. Fira pasti cemburu karena mendengar percakapan kita."
__ADS_1
"Ya Allah, jadi enggak enak sama Kak Fira," ucap Bryan garuk-garuk rambut.
"Gawat nih, kalau enggak diselesaikan sekarang."
Henry dan Bryan lantas berdiri. Kakak dan adik ipar itu bergegas masuk ke dalam rumah. Henry kalut bukan kepalang mengingat reaksi Fira bermasam muka. Ia sudah menduga pasti Fira kesal mendengar ucapannya yang membahas tentang Anna.
***
Jam dinding di ruang keluarga sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Pendingin udara di ruang keluarga itu tidak dapat meredakan gersangnya hati Fira sebab cemburu. Fira tetap bersikap ramah di hadapan anak-anaknya, walaupun sebenarnya di balik wajah ramah itu sedang kesal terhadap Henry.
Usai membacakan kisah nabi dan para sahabat kepada anak-anaknya, Fira kemudian menuntun Zayn, Zema dan Alira menuju kamar. Fira terlebih dahulu mengantarkan Zayn di kamar. Zayn bergegas naik ke atas kasur. Putra sulungnya itu lantas berbaring santai dan tersenyum melihat sang mama. Fira juga membalas senyuman untuk Zayn.
"Baca doa sebelum tidur dulu, Zayn," ucap Fira.
"Oke, Ma," ucap Zayn sembari bergumam mengucap doa sebelum tidur.
"Good night, my first son. Have a nice dream."
"Good night to, Mama. I love you."
Fira menyelimuti tubuh Zayn yang berbalut piyama bermotif mobil. Diciuminya kening Zayn penuh kasih sayang. Zayn lantas memeluk guling empuk. Kedua mata Zayn secepat itu terpejam. Putra sulungnya itu seakan sudah larut dalam mimpi indah.
Ketika Fira, Zema dan Alira berada di ambang pintu kamar Zayn, tidak lupa mematikan tombol lampu kamar. Kamar Zayn terang remang-remang karena ada lampu hias berbentuk bulat kecil-kecil bergelantungan di dinding. Fira menutup perlahan pintu kamar Zayn.
Giliran Zema yang diantarkan mamanya ke kamar. Zema berlari hingga meloncat ke atas kasur. Bocah enam tahun itu sempat-sempatnya menggeliat manja. Fira dibuat gemas melihat putra keduanya ini, kemudian Fira menyelimuti tubuh Zayn yang berbalut piyama bergambar sebuah bola. Ia mencium kening Zema penuh kasih sayang.
"Ayo, doa sebelum tidur dulu, Zema," ucap Fira.
"Insyaallah, Mama. Bismillahirrahmanirrahim. Bismika Allahumma ahya wa bismika amuut, aamiin," ucap Zema sembari mengusap wajah dengan kedua tangan mungilnya.
"Good night, Baby Boy. Have a nice dream."
"Good night too, Mama. Love you."
Sejenak Fira mencubit lembut pipi Zema yang tambam itu. Bocah laki-laki manis itu lantas tersenyum geli karena pipinya dicubit manja oleh mamanya. Zema memeluk guling bermotif bola. Perlahan-lahan-- ia memejamkan mata.
Tinggallah Fira dan Alira yang berada di sana. Fira menggandeng Alira sampai keluar dari kamar Zema. Sebelum melangkah ke kamar Alira, Fira mematikan tombol lampu kamar Zema. Sama seperti kamar Zayn, kamar Zema juga terdapat lampu hias yang bentuk dan cahayanya sama seperti lampu milik Zayn.
Setibanya di kamar Alira, gadis kecil itu tidak langsung berbaring di kasur. Justru, ia duduk di kasur berhadapan dengan Fira. Sang mama duduk di sisi kasur yang berlapis seprai bunga sakura. Wanita itu melihat wajah putrinya yang mungil terlihat sedih. Sepasang mata Alira mulai mengembun. Fira pun membelai lembut rambut Alira yang panjangnya sebahu.
"Ada apa dengan, Alira?" tanya Fira.
"Alira sering mimpi ketemu Bunda. Kayaknya Bunda kangen sama Alira. Alira juga kangen Bunda," jawab Alira.
"Doakan Bunda di sana, karena doa anak sholihah itu bakal sampai ke Bundanya. Pasti Bunda di sana senang kalau dikirimi doa dari Alira. Biar kangennya juga sampai ke Bunda."
"Alira juga pernah mimpi ketemu Ayah. Ayah senyum ke Alira. Tapi, Alira enggak bisa peluk Ayah. Waktu Bunda masih ada, Bunda kasih lihat foto Ayah gendong Alira waktu masih bayi."
"Ya Allah, dulu Zema dan Alira sama-sama masih bayi sampai balita. Mungkin mereka bisa merasakan kasih sayang dari Mas Kirsandi, walaupun hanya sebentar. Namun mereka belum pernah melihat secara nyata Ayahnya," batin Fira.
"Alhamdulillah, Allah sayang Alira. Allah kasih orangtua lengkap seperti Mama dan Papa. Alira jadi merasa enggak kesepian. Mama dan Papa bisa mengobati rasa kangen Alira sama Bunda dan Ayah," ucap Fira.
"Alira juga mendoakan Ayah. Pasti Ayah juga bakal senang kalau didoakan sama Alira. Ayah tersenyum melihat putrinya yang cantik ini. Doakan Ayah dan Bunda supaya di surganya Allah, mereka dapat bersatu kembali," sambung Fira.
"Alira selalu mendoakan keempat orangtua Alira. Soalnya Alira sayang semuanya," ungkap Alira.
"Semoga Allah memberikan umur panjang Mama dan Papa supaya bisa membimbing dan membesarkan anak-anak Mama dan Papa hingga dewasa nanti. Sekarang, Alira tidur, ya. Besok bangun awal, biar bisa salat Subuh terus berangkat ke sekolah."
"Baik, Mama Fira yang cantik."
Fira menyelimuti tubuh Alira dengan balutan piyama warna merah muda. Dikecupnya kening Alira penuh kasih sayang. Sepasang mata Alira yang memiliki bulu mata lentik itu seketika terpejam. Fira tersenyum melihat wajah cantik Alira.
Fira hati-hati saat meninggalkan Alira di kamar. Dimatikannya lampu kamar, sama halnya dengan kamar Zayn dan Zema. Kamar Alira juga memiliki lampu hias yang terangnya hanya remang-remang.
Ketika Fira berjalan di ruang tengah, ada Henry yang menunggunya. Fira melirik Henry tanpa sepatah katapun. Ia tetap melanjutkan perjalanan ke kamar. Namun Henry bergegas-- menyusul Fira dari belakang. Raut wajah Henry tampak rasa bersalah. Henry pun berhasil meraih lengan Fira sampai langkah terhenti.
"Aku tahu kamu pasti cemburu 'kan?" tanya Henry.
"Aku enggak apa-apa. Aku capek, mau tidur," jawab Fira justru berbeda dari yang disangka Henry. Fira berpaling muka dari Henry.
"Di balik kalimat enggak apa-apa itu sebenarnya tidak baik-baik saja. Maafin aku, gara-gara bahas Anna bikin kamu cemburu."
"Iya, aku juga minta maaf karena terlalu cemburu. Padahal Bryan yang memulai tanya soal Anna."
"Jadi, kita baikan nih?"
Fira menatap Henry dengan mimik wajah datar. "He-em."
"Baikan beneran enggak nih?"
"Iya, baikan beneran."
"Aku enggak bisa berlama-lama bersikap dingin dan canggung kalau kita ada masalah atau kesalahan pahaman. Aku sayang sama kamu, Fira."
Senyuman terukir di bibir ranum Fira. Tubuh rampingnya bersandar manja di dada bidang Henry yang berbalut kaos oblong putih. Sepasang kekasih halal itu berjalan ke kamar utama. Tempat bermanja, senda gurau hingga memadu kasih, hanya berdua yang tahu.
Henry dan Fira tiba di depan pintu kamar. Empat mata itu saling menatap. Tatapan yang mengisyaratkan bahwa ada hasrat cinta telah menggebu-gebu. Tangan Fira pelan-pelan menyentuh dada Henry yang tengah berdebar-debar.
Henry membuka pintu kamar lantas membawa Fira masuk ke dalam kamar. Dirangkulnya pinggang istri tercinta. Membuat Fira berjalan mundur dan Henry dapat menuntun Fira. Begitu keduanya telah berada di ruang asmara, Henry lekas menutup pintu kamar dengan rapat.
Malam tidak selalu gelap gulita. Ada sinar rembulan dan gemerlap bintang menghiasi langit malam yang pekat. Hati Henry dan Fira tidak selalu gersang sebab perselisihan. Kepada cinta yang telah terpatri dalam hati, semerbak mewangi pada jiwa Henry dan Fira yang sudah menyatu.
__ADS_1