
Empat bulan Rafi menikmati hidup di balik jeruji besi bersama narapidana lainnya. Tempatnya dipisahkan dari Kevin dan Sultan. Wajah rupawan nan gagah perkasa itu kini lesu dan pucat. Bahu kanan Rafi masih berbalut perban, maka dari itu ia hanya memakai baju setengah badan. Hidupnya yang penuh semangat, kini jadi tidak ada gairah hidup. Ia selalu dihantui rasa bersalah dan penyesalan. Memang benar, penyesalan akan datang belakangan.
Tidak ada lagi ruang mewah dengan fasilitas lengkap. Rafi sekarang tinggal di ruang remang-remang dan pengap. Tidak bisa lagi berjumpa dengan karyawan di distro. Yang ia jumpai sekarang adalah beberapa narapidana dengan berbagai karakter dan berwajah muram. Rafi tidak lagi mendapat sambutan baik dan penghormatan dari orang-orang dikenalnya, bahkan pujian dari jutaan pengikutnya di Instagram. Yang ia dapat sekarang adalah hinaan, cacian dan bahkan Rafi pernah menjadi korban kekerasan terhadap narapidana yang memiliki karakter preman.
"Aku terlalu dikuasai oleh dendam. Aku dibutakan oleh cinta. Aku harus memperoleh hasil yang pahit dari kesalahan dan dosaku. Ini lebih pahit dari obat yang aku konsumsi. Aku bukan Rafi yang sukses, tapi aku Rafi pecundang. Hukuman pidana yang aku terima selama seumur hidup. Hukuman ini setara dengan Sultan, Kevin dan dua temannya," gumam Rafi.
"Di penjara seumur hidup membuatku enggak ada artinya untuk hidup. Aku enggak akan bertemu dengan masa depan. Walaupun aku mempunyai usaha distro, itupun sudah aku serahkan kepada saudaraku dan bukan milikku lagi. Aku hanya pria yang sudah menjadi butiran debu," lanjutnya.
Rafi mendongak dan dua sudut matanya menetes air mata. "Aku enggak tahu sekarang, bagaimana perasaanku? Rasanya malu, pilu, remuk dan menyesal. Mungkin rasa cintaku kepada Fira sudah sirna dari hati karena aku selalu dihantui rasa bersalah. Aku benar-benar keterlaluan karena berusaha memisahkan pasangan kekasih halal yang ditakdirkan jodoh. Aku merasa menjadi hamba yang menentang takdir Allah. Aku bukan sahabat yang baik untuk Fira."
Pemandangan yang biasa Rafi lihat adalah suasana perkotaan dan pedesaan. Sekarang pemandangan di depan matanya adalah kekerasan narapidana berkuasa dan sangar terhadap narapidana yang lemah maupun baru. Bahkan yang lebih menjijikkan ketika ada peristiwa pelecehan seksual di dalam penjara tersebut. Beruntung Rafi masih menjaga kehormatannya dengan cara berbohong kepada narapidana yang hendak melecehkannya. Rafi terpaksa berbohong memiliki penyakit berbahaya.
Yang biasanya duduk di kursi megah, kini Rafi duduk meringkuk di lantai kusam penuh debu dan kotoran. Tubuh yang gagah nan keren dulunya memakai baju branded, sekarang yang melekat di tubuhnya pakaian narapidana yang lusuh. Kesuksesan dan kemewahan yang telah Rafi raih selama ini menjadi tidak ada artinya.
"Jika seandainya aku keluar dari penjara pun orang-orang akan memandangku dengan pandangan hina. Dosa yang aku perbuat pasti akan selalu diingat oleh mereka. Rekam jejak digital juga menjadi saksi atas kejahatan yang aku perbuat," lirih Rafi.
"Rafi Jensen, someone wants to meet you. You are allowed to leave temporarily," ucap seorang polisi penjaga penjara. (Rafi Jensen, seseorang ingin bertemu dengan Anda. Anda diizinkan keluar sementara.)
Rafi terkejut seraya bertanya, "who wants to meet me?" (Siapa yang ingin bertemu dengan saya?)
Polisi itu tidak menjawab, justru ia memborgol dua tangan Rafi. Polisi itu membawa Rafi keluar dari balik jeruji besi. Rafi sempat melirik narapidana yang lain, lirikan mereka tajam seolah iri dengan Rafi yang dijenguk oleh seseorang. Namun Rafi tidak ingin ambil pusing. Rafi mengikuti polisi itu berjalan menuju ke ruang pertemuan.
Rafi tercengang melihat kehadiran seorang gadis cantik nan manis. Gadis itu dengan balutan blouse dipadukan dengan hijab pashmina warna krem. Ya, gadis itu ialah Magdalena Zaskia. Lena duduk tenang seraya menebar senyum kepada Rafi. Sementara Rafi jalan lunglai dan seketika menunduk karena malu terhadap Lena.
Rafi dan Lena duduk berseberangan. Lena menyodorkan sebuah kotak makan dan sebotol jus buah segar. Rafi pelan-pelan mendongak menatap gadis berwajah putih langsat itu. Polisi penjaga penjara tadi pergi supaya membiarkan Rafi dan Lena untuk mengobrol dengan leluasa.
"Apa kabar Bang Rafi? Gimana kondisi bahu kanan Bang Rafi? Oh, iya, aku bawakan makanan kesukaan Bang Rafi dan minuman jus buah, supaya Bang Rafi sehat lagi," kata Lena.
"Aku enggak baik-baik saja, seperti yang kamu lihat. Aku udah lusuh begini. Kenapa kamu masih mau bertemu denganku? Aku ini penjahat yang sulit dimaafkan," ucap Rafi.
"Bang, meskipun kehidupan Abang Rafi sekarang tidak seperti dulu, tapi aku harap selama di penjara, Bang Rafi harus bisa semangat dan bangkit. Allah juga kasih kesempatan Abang hidup supaya Abang bertaubat kepada Allah. Aku menemui Bang Rafi karena aku ..." Lena lantas menunduk karena tersipu-sipu. Ia tidak mungkin mengungkapkan perasaan lebih dulu kepada Rafi.
"Aku tahu kamu mencintaiku. Terima kasih karena telah mencintaiku. Aku justru yang bersalah karena terlalu menyakitimu saat aku masih mencintai Fira."
"Aku enggak merasa tersakiti kok, hehehe. Kalau cemburu, iya, pernah. Aku maklum move on dari seorang yang dicintai butuh waktu lama. Bagiku, mengenal dan mencintai Abang Rafi adalah kebahagiaanku."
"Biasanya perempuan setia menunggu laki-laki yang dicintainya, tapi kamu enggak akan sanggup menungguku. Kamu tahu aku di penjara seumur hidup, tidak ada kemungkinan untuk bebas. Lebih baik kamu move on dariku, cari laki-laki yang lebih baik dariku."
__ADS_1
"Itu berarti Bang Rafi menolak perasaanku?"
Melihat mata Lena yang mulai berkabut, Rafi lantas geleng-geleng kepala. Ia tidak ingin Lena menangis karenanya. Rafi ingin menyentuh tangan Lena tapi ia sadar Lena belum halal baginya. Rafi mengurungkan niatnya untuk memegang tangan Lena.
"Selama aku di penjara, aku terus merindukan kebersamaan kita. Rasa cintaku kepada Fira sudah sirna. Entah kenapa hanya bayanganmu yang selalu menghantuiku? Tapi, aku bingung dengan perasaanku saat ini, seperti benang kusut. Aku enggak mau kamu menderita hanya karena menungguku," ungkap Rafi.
"Siapa tahu kelak ada keajaiban yang tidak diduga, wallahu alam," kata Lena.
"Untuk saat ini dan nanti, aku ingin menata diri sendiri. Aku ingin menikmati penyesalan dan hukuman sebagai penembus kesalahanku. Kalau memang kita jodoh pasti bertemu. Kalau sebaliknya, aku tidak bisa memastikan. Yang penting sekarang, kamu fokus ke karier dan jadi wanita sukses. Buatlah orangtuamu bahagia, ya."
"Insyaallah, Bang. Namun enggak apa-apa kan kalau aku masih mencintai Bang Rafi?"
"Cinta dari hatimu itu hakmu. Aku bersyukur masih ada perempuan yang mencintaiku apa adanya. Tapi, aku belum bisa janji apapun denganmu, aku ingin perbaiki diri dulu. Maafkan aku."
"Iya, enggak apa-apa. Aku yang minta maaf seolah memaksa perasaan Bang Rafi untuk mencintaiku. Abang Rafi juga semangat dalam memperbaiki diri, ya."
Ketika Rafi dan Lena sedang berbincang hangat. Di lain tempat, Henry dan Fira memperhatikan dua sejoli yang terhalang oleh jeruji besi. Henry dan Fira saling menatap, keduanya terenyuh melihat suasana damai antara Rafi dan Lena. Henry dan Fira bisa melihat tulus cinta Lena untuk Rafi.
Begitu Lena pergi dari sana, terlihat dari sepasang matanya berat untuk berjauhan dengan Rafi. Sama halnya dengan Rafi, tatapannya tidak lepas dari wajah cantik Lena. Seolah ada kerinduan yang terpendam dalam hati keduanya. Sorotan mata Rafi berbinar-binar melihat sebuah kotak makan dan sebotol jus buah yang diberikan oleh Lena. Rafi lantas menyeka air mata dengan tangan kanannya.
Di lain arah secara tersembunyi, baru kali ini Fira dan Henry melihat Rafi menangis saat Lena pergi. Di sana Rafi lahap menyantap makanan yang dibuat oleh Lena. Makanan lezat yang mengandung bumbu cinta dari Lena. Tangis Rafi tidak bisa terbendung, ia terus menyeka air mata yang mengalir di pipi. Kehadiran Lena memberikan energi untuk Rafi.
***
Di ruang dokter tepatnya di Rumah Sakit Toronto, Henry ditemani oleh Fira, Intan, Lee Hyun Joong, Ratih dan Fatih. Dua dokter bedah itu hati-hati dalam melepas perban di wajah Henry. Sementara dua perawat berkutat menyiapkan perlengkapan untuk dua dokter. Fira bergumam menyebut nama Allah supaya hasil operasi wajah Henry membaik. Istri Henry itu tidak lupa mengelus perut buncit yang sedang hamil tujuh bulan.
"Time to remove the bandages on Mr. Henry's face," ucap seorang dokter bedah. (Saatnya membuka perban di wajah Pak Henry.)
"Bismillahirrahmanirrahim," lirih Fira. Hatinya berdegup kencang karena tidak sabar untuk melihat wajah baru Henry.
Sehelai perban di wajah Henry dibuka oleh seorang dokter, sekarang wajah Henry sepenuhnya terlihat. Wajah barunya itu tampak tegas dan kian rupawan. Walaupun dulu wajah Henry dikenal soft boy, sekarang wajah Henry tampak seperti cool boy. Alisnya telah berubah menjadi tegas dengan mata sipit yang tajam. Tidak ketinggalan, ciri khas Henry adalah mempunyai tahi lalat di mata kirinya.
Masih ada bekas luka, tapi yang terpenting adalah hasil operasi wajah Henry berhasil dengan baik. Fira terkagum-kagum melihat wajah baru suaminya. Meskipun wajah Henry agak berbeda dengan dulu, tapi aura tampan tidak pudar. Justru wajah baru Henry tampak lebih muda dan segar.
Henry perlahan membuka dua mata. Fira yang pertama kali dilihatnya. Ia tersenyum manis kepada sang istri. Sementara Fira lantas menyentuh dada karena hatinya berdebar memandang rupa sang suami. Ratih, Fatih, Lee Hyun Joong dan Intan saling berdehem untuk menggoda dua anaknya. Fira bagaikan seorang gadis yang pertama kali berjumpa dengan seorang laki-laki.
"What do you think, Mrs. Fira? Your husband shines even more," kata seorang dokter bedah. (Bagaimana menurut Anda, Nyonya Fira? Suami Anda semakin bersinar.)
__ADS_1
Fira mengangguk seraya mengagumi sosok Henry yang baru. "Yeah, my husband looks younger. I lost young to him." (Ya, suami saya tampak lebih muda. Saya kalah muda dengannya.)
"Fir, suami ganteng itu dijaga baik-baik loh. Wah, followers Henry bakal banyak nih," canda Fatih.
"Tenang saja, Pak. Fira selalu siaga jagain suami ganteng seperti Henry, hehehe. Kalau ada cewek yang deketin Henry, hadapi dulu istrinya yang galak ini," angkuh Fira seraya bercanda.
"Hei, aku cintanya sama kamu aja loh, Fir. Lagi pula aku juga Papa dengan empat anak," sela Henry.
"Apapun rupa, keadaan dan jalan hidup, Fira dan Henry tetap langgeng, ya," tutur Intan.
"Kalau kalian menghadapi masalah rumah tangga, jangan mengedepankan ego. Ingatlah masa-masa kalian sejak awal hingga melewati ujian kemarin, agar cinta kalian tetap tumbuh," ujar Ratih.
"Insyaallah, Mami dan Ibu," ucap Henry dan Fira secara bersamaan.
Dokter dan perawat berpamitan kepada mereka. Henry dan keluarga tidak lupa berterima kasih kepada dua dokter bedah yang menolong Henry dalam operasi. Kini, dua keluarga yang dipersatukan oleh pernikahan Henry dan Fira saling berpelukan. Kabar bahagia selain pelepasan perban di wajah Henry, papi Henry yakni Lee Hyun Joong sudah bisa berdiri setelah menjalani terapi. Pertolongan dan keajaiban dari Allah nyata adanya, bagi orang-orang yang sabar, tabah dan ikhlas dalam menghadapi ujian hidup.
Mereka saling melepas pelukan. Fira tambah bahagia saat janin dalam kandungannya sedang menendang perutnya. Seketika mereka terkejut dan mengelus perut Fira. Mereka gemas dengan janin tujuh bulan yang tumbuh aktif itu.
"Kata dokter kandungan, Fira udah boleh pulang ke Indonesia," kata Fira.
"Masyaallah, momen yang tepat untuk syukuran tujuh bulanan Fira ini. Benar enggak, Bu Ratih?" ujar Intan.
"Benar sekali, Bu Intan. Kita juga bersyukur karena telah melewati ujian hidup. Saya juga rindu pulang ke Semarang. Kasihan Ressa, Nina dan Sakura seperti hidup mandiri di sana," ucap Ratih.
"Iya, ya, kita punya anak gadis di sana. Alhamdulillah, mereka akur."
"Kalau udah tujuh bulan berarti udah boleh belanja perlengkapan bayi dong," sela Henry.
Intan mengangguk seraya berkata, "boleh banget, Nak. Kamu jadi suami siaga buat Fira loh."
"Siap, Mam! Ah, Henry enggak sabar belanja perlengkapan bayi. Pasti lucu-lucu deh."
Lee Hyun Joong menepuk bahu seolah memberi semangat kepada putranya. Walaupun beliau bisu, Henry mengerti bahasa tubuh papinya. Henry lantas memeluk sang papi. Jika dilihat dari dua mata sipit Lee Hyun Joong atau Abdurrahman Lee berkaca-kaca, seakan beliau terenyuh karena sebentar lagi akan lahir cucu pertama dari keluarga Lee.
Semua masalah dan konflik sudah dilewati dengan tetap teguh iman kepada Allah. Ada sebuah kutipan yang menyatakan setelah hujan akan muncul pelangi, yang artinya setelah ujian akan hadir kebahagiaan. Terkadang kita merasa tidak mampu menghadapi ujian, tapi adanya sabar, tabah dan ikhlas karena Allah, Allah berikan energi cinta, pertolongan dan kebahagiaan tidak diduga. Satu lagi, perlunya bersyukur untuk hidup kita. Barangkali ada orang lain di luar sana yang ujiannya lebih berat dari kita.
***
__ADS_1
Alhamdulillah, tinggal sedikit lagi Energy Of Love 2 bakal tamat. Jangan lupa dukungan untuk novel Energy Of Love, ya. Like, vote, komentar dan rekomendasikan novel Energy Of Love season 1 dan 2. Terima kasih semuanya. Saranghaeyo.