
Seorang wanita bisa bertahan menantimu jika kamu benar-benar serius dan pasti kepadanya. Ia pandai memendam perasaan rindu dan cinta hingga kalian jadi kekasih halal kelak. Namun perjuangan yang ia lawan adalah keraguan, kecurigaan terhadapmu dan ada banyak laki-laki lain yang ditolaknya hanya karena mantap memilihmu.
***
"Mbak Lefia, jangan pulang, to," rengek Zayn.
"Iya, nanti enggak ada yang nemenin Kak Zayn dan Zema jalan-jalan, kalau Mama lagi kerja," rengek Zema.
"Mbak Lefia kangen keluarga di sana. Setelah sebulan, Mbak Lefia bakal pulang ke sini lagi," ucap Lefia. Ia membelai rambut Zayn dan Zema.
"Mbak Lefia juga sudah lama enggak pulang kampung. Kita harus pengertian dong," ucap Fira.
Mereka berbincang santai di sofa ruang keluarga. Zayn dan Zema bermanja memeluk Lefia. Kedua anak ini memang sudah dekat dengan Lefia. Bagi mereka, Lefia seperti keluarga sendiri.
Sifat amanah, lugu dan manisnya Lefia menjadikan keluarga ini percaya padanya. Sebagai asisten pribadi, bukan hanya mengurus anak-anak. Lefia juga mengatur agenda hingga menemani Fira pemotretan. Kadangkala menemani Ratih belanja.
"Pesan Mbak Lefia---Mas Zayn dan Adik Zema jadi anak sholih untuk Mama. Jangan suka membantah Mama. Mama itu sayang banget sama anak-anaknya. Beruntung Mas Zayn masih dekat dengan Mama. Mbak Lefia malah jauh dari Ibu kandung. Jaga Mama baik-baik. Mas Zayn dan Adik Zema itu jagoan Mama," ungkap Lefia.
Zayn mengangguk sambil melirik Fira. "Maafin Zayn, ya, Ma."
"Mama selalu maafin anak-anak Mama," ucap Fira sembari mengelus pipi Zayn.
"Satu lagi, Mbak Lefia ingin Mas Zayn dan Zema rukun sama Dik Alira, ya. Itu juga saudara seayah loh. Dik Alira juga perempuan, dijaga baik-baik. Betapa bahagianya Dik Alira punya dua kakak laki-laki yang menyayanginya," sambung Lefia.
"Alira itu masih kecil. Dia enggak salah dan enggak tahu apa-apa. Zayn, dulu---cukup permasalahan antara Mama, mendiang Ayah dan Tante Sabrina. Lagi pula Ayah dan Tante Sabrina sudah tiada, ikhlaskan yang telah lalu. Ingat kata Mama, gapai masa depan yang lebih baik. Kita boleh menoleh ke masa lalu, hanya untuk mengambil pelajaran supaya di masa depan tidak terulang lagi," jelas Fira.
"Tuh dengerin Mama, ya. Mbak Lefia tahu Mas Zayn mulai beranjak ABG. Sudah pasti tahu mana kanan dan mana kiri," timpal Lefia.
"Iya, Ma. Tapi, kalau untuk sekarang Zayn masih enggak suka Alira," lirih Zayn.
"Ya, semua itu butuh proses. Tapi, Zayn harus belajar menyayangi Alira sebagai adik sendiri. Kalau Zayn ingin punya adik dari Mama dan Om Henry, Zayn harus belajar sayang sama Alira dulu. Sepakat?"
"Iya, Ma. Zayn akan belajar."
"Kalau Zema udah sayang sama Alira. Zema mau jadi Kakak yang baik untuk Adik Alira, Ma," sahut Zema. Ia mendongak menatap Fira.
"Masyaallah, sip itu! Mama selalu berdoa kepada Allah, anak-anak Mama selalu rukun hingga Mama tua nanti." Fira terenyuh hingga menitikkan air mata.
Lefia beranjak dari duduknya. Gadis berbalut tunik dipadukan hijab segitiga merah muda ini menenteng tas di bahunya, kemudian menggenggam troli koper besar. Fira, Zayn dan Zema juga beranjak dari duduk. Dua anak laki-laki ini memasang wajah murung atas kepergian Lefia.
"Yaahh, nanti enggak ada yang bisa nemenin Zayn dan Zema jalan-jalan dong---kalau Zayn dan Zema lagi suntuk," ucap Zayn.
"Enggak ada yang ngajakin Zema main balapan mobil," ucap Zema.
Mendengar ucapan dua anak laki-laki itu, Lefia seketika terenyuh hingga matanya mengembun. Jujur, dalam dirinya juga berat untuk meninggalkan Zayn dan Zema. Lefia sudah dekat dengan dua putra Fira ini. Layaknya anaknya sendiri. Sekali lagi, sebelum Lefia melangkah pergi, ia memeluk Zayn dan Zema penuh kasih sayang.
"Mbak Lefia bakal kangen terus sama kalian. Mbak Lefia sayang kalian semua. Seperti anak Mbak Lefia sendiri. Kalau Mas Zayn dan Adik Zema kangen Mbak Lefia, bisa video call dan doakan Mbak Lefia, ya," ujar Lefia terisak-isak.
"Zayn dan Zema juga sayang Mbak Lefia," ungkap Zayn dan Zema secara bersamaan.
Melihat pemandangan haru itu, Fira menyeka air matanya dengan jemari. Bagi Fira, langka sekali orang kepercayaan seperti Lefia. Apalagi seorang gadis yang penyayang dan sabar menghadapi anak-anak.
Fira jadi ingat waktu dulu Lefia bersungguh-sungguh mencari pekerjaan melalui lowongan kerja di grup Facebook. Ditambah lagi tekanan dari keluarga Lefia. Hanya Lefia yang menjadi tulang punggung keluarga. Untuk itu Fira mempekerjakannya dengan gaji yang lebih.
Pandangan Fira jadi teralihkan saat melihat Alira murung di balik pintu kamar Lefia. Seketika Fira melambaikan tangan kepada Alira untuk ke mari. Perlahan-lahan anak perempuan itu jalan dengan raut wajah ketakutan. Untuk menepis rasa takutnya, Alira memeluk boneka beruang cokelat. Alira mendekati mama tirinya itu, Fira membelai rambut putrinya dengan kasih sayang.
"Mama, Alira boleh enggak peluk Mbak Lefia? Soalnya Mbak Lefia udah nemenin Alira selama tinggal di sini," lirih Alira, khawatir jika Zayn mengamuk jika mendengar ucapan Alira.
"Boleh, Nak," ucap Fira.
"Boleh, sini, Mbak Lefia juga sayang sama Dik Alira," ungkap Lefia.
Alira lantas memeluk Lefia dengan erat. Meski baru adaptasi di keluarga ini, Alira sudah dekat dengan Lefia. Kini Lefia memeluk ketiga anak dengan penuh cinta. Betapa beruntungnya Lefia punya atasan seperti Fira. Bertemu dengan Zayn, Zema dan Alira. Baginya, bertemu dengan keluarga ini, Lefia jadi punya pengalaman dan pelajaran.
Alira merenggangkan pelukan dari Lefia. "Kalau Mbak Lefia pulang kampung. Terus, Alira tidur sama siapa?"
Fira lantas mendekati putrinya itu sambil mengelus pipinya yang lembut. "Kan ada Mama. Alira tidurnya sama Mama."
"Alhamdulillah, Alira senang Mama mulai sayang sama Alira." Gadis kecil nan polos itu memeluk Fira.
"Kalau Zayn dan Zema boleh enggak tidur sama Mama?" tanya Zayn.
"Zayn dan Zema itu laki-laki, seharusnya memang tidurnya terpisah dengan Mama. Apalagi Zayn udah mulai gede. Tapi, kalau sekali aja enggak apa-apa. Suatu saat nanti Mama latih Alira tidur di kamar sendiri," jelas Fira.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara klakson taksi di depan rumah Fira. Mereka tanggap dengan suara klakson taksi itu. Lefia menggeret koper hingga ke teras. Mereka bergegas keluar dari kamar. Ternyata benar, taksi biru itu sudah menunggu di sana.
"Bu, maafkan saya, kalau selama ini kerja saya kurang baik atau saya ada salah sama Bu Fira," ungkap Lefia.
"Kamu sudah baik berkerja dengan saya. Saya juga minta maaf sama kamu kalau saya ada salah atau suka marah ke kamu," ungkap Fira.
Lefia dan Fira saling berpelukan penuh haru. Fira mengusap-usap punggung Lefia. Asistennya kini akan membangun rumah tangga seperti dirinya. Fira ikut bahagia karena di usia Lefia yang sudah matang ini telah menemukan jodoh.
"Semoga lancar hingga hari H, ya, Lef. Kalau kamu dan Mas Irwan menikah, kabari saya," ucap Fira melepaskan pelukan Lefia.
"Insyaallah, Bu. Bu Fira cukup mendoakan saya dan Mas Irwan saja. Saya maklum Bu Fira dan Pak Henry bakal sibuk dengan pernikahan kalian. Bu Fira juga tahu kan keluarga saya itu gimana? Mereka enggak suka kehadiran orang kota gitu," ucap Lefia.
"Iya, saya tahu. Ya, sudah, hati-hati di jalan. Kabari saya kalau kamu sudah sampai di Bojonegoro."
"Baik, Bu. Bu Fira juga bahagia selalu dengan Pak Henry dan anak-anak."
"Aamiin."
"Assalamu'alaikum." Lefia melangkah pergi sembari menggeret koper menuju taksi biru itu.
"Wa'alaikumsalam." Serentak Fira dan anak-anak.
Mereka saling melambaikan tangan perpisahan. Lefia lantas membuka pagar rumah. Anak-anak itu terasa sesak saat Lefia sudah masuk ke dalam taksi. Sopir taksi itu mengangkut koper dan memasukkannya di dalam bagasi. Kemudian sopir taksi bergegas masuk ke dalam taksi, mulai mengemudi taksi hingga berputar arah membawa Lefia pergi.
***
Setelah kepergian Lefia, Zayn mulai merangkul Alira dan Zema. Bocah berkaos biru dongker ini mengajak kedua adiknya bermain di dalam rumah. Meski Fira melihat Zayn masih ada keterpaksaan mengajak Alira, tapi ini proses baik supaya ada kerukunan di antara mereka. Fira juga berpikir keinginannya dulu untuk mendapatkan anak perempuan kini telah tercapai. Yakni kehadiran Alira.
Tatkala Fira hendak masuk ke dalam rumah, tidak sengaja lirikannya tertuju pada pagar rumah. Di sana kedatangan Irfan, wali kelas Zayn. Pria berbalut kemeja panjang putih itu turun dari motor. Ia tampak semringah melihat Fira berdiri di teras. Fira mengernyit heran ada apa gerangan wali kelas Zayn itu datang ke mari?
"Assalamu'alaikum, Bu Fira," sapa Irfan.
"Wa'alaikumsalam, Pak Irfan. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Fira.
"Eh, ini, saya mau mengembalikan buku tugas Zayn." Irfan bergegas mengambil sebuah buku dari dalam tas, kemudian diserahkannya buku itu kepada Fira.
"Terima kasih, Pak Irfan. Oh, iya, bagaimana perkembangan Zayn pada saat di kelas?"
"Alhamdulillah, Zayn mengikuti pelajaran dengan baik. Zayn anak cerdas dan kreatif."
"Perkara ini sudah dibahas rapat komite sekolah dengan orangtuanya anak-anak itu. Anak-anak yang sering mem-bully Zayn jadi bungkam."
"Tapi, saya kan enggak pernah menuntut mereka?" Fira mengernyit dahi.
"Memang Bu Fira enggak menuntut mereka. Tapi, Nona Naomi yang mengambil ketegasan kepada mereka."
"Apa? Naomi?" Fira sontak terbelalak.
"Nona judes itu kegerahan kalau keponakannya di-bully seperti itu. Hampir saja perkara ini dibawa jalur hukum oleh Nona Naomi. Tapi, akhirnya bisa melewati jalur kekeluargaan."
Fira menganga mendengar penjelasan dari Irfan. Ternyata Naomi bergerak memberantas bully-an yang ditujukan pada Zayn. Padahal ia sendiri belum mengambil tindakan tegas. Menurutnya, berurusan dengan orangtuanya anak-anak yang mem-bully Zayn akan jadi masalah besar. Fira sudah membaca situasi, jika ia akan kalah banding. Namun saat ditangani oleh Naomi, tidak ada yang bisa berkutik lagi.
"Bu Fira," panggil Irfan.
"Iya, Pak Irfan," ucap Fira.
"Ehem, sebenarnya saya ..."
"Ada apa?"
Irfan mengembuskan napas secara kasar. "Sa-saya ka-kagum sama Anda."
"Heehh?" Fira lantas menyengir. "Ya, kagum sebagai Ibu yang perhatian sama anaknya kan?"
"Emm, lebih dari itu."
"Astaghfirullah!" Fira seketika menepuk keningnya.
"Kenapa, Bu Fira?" Irfan mengernyit heran.
"Begini Pak Irfan, insyaallah, saya akan menikah dengan adiknya Naomi. Namanya Henry. Saya yakin Pak Irfan akan menemukan jodoh yang lebih baik dari saya."
"Jadi, Henry yang pernah datang di acara Hari Ayah bersama Zayn itu benar calon Papanya Zayn?"
__ADS_1
"Iya, benar. Henry itu calon suami saya."
"Oh, begitu."
"Bukan hanya Pak Irfan yang saya tolak. Sebelum Pak Irfan, ada beberapa lelaki yang menyatakan perasaan dan melamar ke saya---itupun saya tolak. Maafkan saya, hati saya telah memilih Henry."
"I-iya, enggak apa-apa. Saya jadi lega walaupun hati nyut-nyutan. Ternyata benar, Henry itu calon suami Bu Fira. Kalau begitu saya pamit, assalamu'alaikum." Irfan pergi berlalu tanpa menatap Fira. Ia menyembunyikan rasa pilunya dengan menundukkan kepala.
"Wa'alaikumsalam."
***
Ketika Irfan membuka pagar rumah, ada Henry tepat di hadapannya. Irfan terbelalak, apalagi melihat ekspresi wajah Henry seakan meletup-letup. Irfan hati-hati melewati Henry. Wajah pria berkepala tiga ini sontak pucat pasi, khawatir jika Henry mengajaknya berseteru. Irfan bergegas naik motor sembari memakai helm.
"Untuk pelajaran kedepannya, jika Anda ingin mengungkapkan perasaan kepada seorang wanita. Tanya dulu ke wanita itu, apakah wanita itu lajang atau sudah mempunyai calon suami? Atau bahkan wanita itu sudah bersuami?" tegur Henry dengan suara lantang.
Dari teras rumah, Fira tercengang melihat Henry cemburu. Agaknya Henry sangat tidak suka dengan Irfan yang dengan lancangnya mengungkapkan perasaan kepada Fira. Sementara Irfan bungkam, kemudian bergegas pergi dengan motornya. Secepat kilat Irfan menancapkan gas motor di sepanjang jalan.
Henry yang memakai jaket abu-abu itu sontak membuka resleting jaket. Seakan dirinya gerah dengan sikap lancang Irfan tadi. Untung saja di dalamnya memakai kaos polos putih. Fira tidak menyangka Henry seperti hantu, tiba-tiba datang tanpa disadari. Henry sinis menatap Fira. Sebaliknya Fira lantas menundukkan kepala.
"Sepertinya aku harus mempercepat pernikahan kita. Biar enggak ada laki-laki lain yang ganggu kamu!" tegas Henry.
"Pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi kan? Sabar, ya," lirih Fira kemudian ia membatin, "bukan hanya ke Rafi tapi ke Irfan---Henry terlihat sangat cemburu. Kok jadi serem, ya, kalau Henry cemburu? Tapi, aku jadi yakin jika cinta Henry sungguhan untukku."
"Terima kasih, ya, kamu sampai menolak beberapa laki-laki lain hanya untuk memilihku. Aku semakin ..." Henry lantas menggaruk tengkuk karena canggung.
Suara peluit panjang itu berasal dari pedagang kue putu. Tepat lewat di depan rumah Fira. Mendengar suara itu, Fira lantas semringah kemudian berlari menuju pagar rumah. Fira seakan lupa jika Henry ada di sana. Ia kadung kepincut dengan kehadiran pedagang kue putu itu. Sementara Henry geram atas dirinya sendiri.
"Henry! Kamu mau kue putu, enggak?" teriak Fira.
"Iya, aku mau!" teriak Henry kemudian bergumam, "padahal aku mau bilang aku semakin cinta padamu. Eh, jadi ambyar gara-gara Kang kue putu."
Fira berlari kembali sembari lewat di hadapan Henry. "Kamu tunggu sini, ya. Aku sudah pesan kue putu banyak tuh! Aku manggil anak-anak dulu. Kita makan putu bersama."
"Aku aja yang bayar, ya."
Fira mengangguk, pertanda setuju. Wanita pujaannya itu masuk ke dalam rumah untuk memanggil anak-anak. Henry duduk di teras sembari mengibas jaketnya. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu kue putu itu masak. Hanya sepuluh menit, pedagang kue putu itu memberi sebungkus kue putu kepada Henry.
Henry lantas merogoh saku celana panjangnya mengambil uang. Diberikannya uang seratus ribu itu kepada pedagang kue putu. Namun ketika pedagang kue putu itu hendak memberi kembalian uang, Henry menolak. Sepenuhnya Henry memberi uang itu kepada pedagang kue putu.
"Waduh, Mas. Dadose mboten kepenak kalih jenengan," ucap pedagang kue putu ragu. (Aduh, Mas. Jadinya enggak enak sama Anda.)
"Mboten nopo-nopo, Pak. Niku rezeki Bapak," ucap Henry tersenyum. (Enggak apa-apa, Pak. Itu rezeki Bapak.)
"Alhamdulillah, matur suwun sanget, Mas." (Alhamdulillah, terima kasih banyak, Mas.)
"Inggih, Pak, sami-sami. Mugi enggal laris manis jajanan putu jenengan." (Iya, Pak, sama-sama. Semoga cepat laris manis jajanan putu Anda.)
"Aamiin yaa rabbal alamin. Makmur juga buat jenengan, Mas."
Pedagang kue putu itu berjalan riang gembira atas rezekinya hari ini. Selain kue putu diborong Fira, juga mendapat uang lebih dari Henry. Henry juga senang bisa membantu pedagang kue putu itu. Pedagang kue putu pergi dengan penuh semangat. Sementara Henry menikmati aroma lezat dari kue putu sedang hangat-hangatnya itu.
Fira dan anak-anak tiba di teras. Ibu beranak tiga ini menata posisi duduk anak-anaknya. Fira sudah menyiapkan piring lebar sebagai wadah kue putu. Satu per satu Henry membelai rambut ketiga anak sambungnya itu. Lain halnya dengan Fira berkutat menata kue putu di atas piring lebar.
"Yuk, dimakan. Selagi hangat. Kalau ingin tambah manis makan kue putu, lihat wajah Mama, ya. Kan Mama manis," canda Fira tertawa kecil sembari berkedip-kedip.
"Hahaha, Mama bisa aja. Mama enggak malu apa---ada Om Henry?" canda Zayn.
"Hahaha, Zayn---mungkin Mama sengaja mancing Om Henry biar digombalin sama Om Henry," canda Henry.
"Kok Om Henry, sih? Papa tahu!" protes Zema.
"Iya, Papa!" protes Alira.
"Oh, iya, Zayn harus biasakan diri manggil Papa, nih!" ucap Zayn penuh antusias.
"Alhamdulillah, Papa jadi senang. Jadi enggak sabar kumpul bareng keluarga kecil Papa ini," ungkap Henry.
"Alhamdulillah, sejuk rasanya melihat pemandangan keharmonisan Henry dengan anak-anakku. Semoga seterusnya begini, hingga aku dan Henry memiliki cucu dan cicit dari anak-anak kami." Fira membatin dengan hati terenyuh sekaligus bahagia.
Mereka pun menyantap kue putu sembari bercerita penuh kehangatan. Tawa bahagia terpancar dari wajah mereka. Ketiga anak ini sudah tidak canggung lagi bermanja dengan papa sambung mereka.
***
__ADS_1
Bagaimana tanggapanmu setelah membaca novel ini? Komentar di bawah ini yuk. Diharapkan untuk memberi komentar tentang novel ini. Supaya penulisnya tahu dan kenal ulasan dari setiap pembaca sebenarnya.
Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, dan kasih rating (bintang 5). Supaya authornya ini semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Terima kasih.