
Ada yang datang memberi cinta. Ada yang menetap memegang kesetiaan. Ada yang pergi membawa keikhlasan.
***
Rumah minimalis kekinian nan luas memiliki sepetak ruang kerja. Lampu di dalam ruangan terang benderang, menandakan penghuninya belum tidur. Wanita beranak dua itu termangu di depan laptop. Pandangan kosong tidak sedang memikirkan pekerjaan, tapi ia sedang merenungkan yang lain.
Cukup lama laptop itu menyala tetapi tidak disentuh oleh empunya. Justru dua tangannya menyangga dagu. Beberapa buku, gawai dan bolpoin tertata rapi di meja. Termasuk buku harian milik Henry. Malam benderang sinar rembulan, Fira ingin punya waktu untuk sendiri.
"Henry, aku rindu kamu," lirihnya.
Sepintas sorotan matanya menatap ke luar jendela, hanya ada taman di halaman. Jendela itu terbuka, sehingga silir angin dapat menembus masuk ke ruangan. Perlahan Fira memejamkan mata sampai bulu kuduk merinding dengan suasana hati yang dilanda kerinduan.
"Kalau boleh jujur, selama beberapa tahun ini, ada beberapa laki-laki yang mengagumiku, bahkan mengungkapkan perasaan kepadaku. Ada pula yang berani datang ke rumah untuk melamarku. Namun semua itu aku tolak, hanya karena hatiku sudah memilihmu, Henry. Termasuk Rafi dan Mas Adnan yang dulu pernah kutolak cinta mereka," ucap Fira.
"Aku masih percaya dan bertahan menantimu karena ada Ibu Intan dan Naomi. Mungkin kalau enggak ada mereka, aku udah enggak mau menunggumu sampai saat ini," lanjut Fira.
"Sudah kubaca semua isi dalam buku harianmu. Setiap perasaan yang tertulis darimu, aku tahu kamu menulis dari hati karena cinta. Tak pernah kujemu, berulang kali membaca, cintaku kian bersemi untukmu."
Tersadar dari renungannya, Fira melirik buku harian milik pria yang didambakan. Buku harian itu sampulnya masih rapi. Fira sangat merawat buku harian ini sepenuh hati. Menjaga baik-baik buku itu karena di dalamnya terdapat tulisan ketulusan cinta dari Henry yang berhasil meluluhkan hati Fira.
Dibukanya buku harian itu pada halaman--- dimana tulisan itu menjadi favorit hati Fira. Jika membaca catatan berjudul pertemuan denganmu, cantik, Fira senyum-senyum sendiri.
_____________________________________________
Sempat tidak percaya dengan di hadapanku saat ini. Nyatakah atau hanya sekadar mimpi? Di hadapanku adalah sosok cantik yang sekian lama aku mencintainya dalam doa. Melewati beberapa bulan hanya merindukannya dalam diam.
Kini dia hadir kembali di kehidupanku. Masih sama dengan penampilannya yang sederhana. Tuturnya yang lembut menyentuh hatiku. Senyumnya yang manis hingga terbayang dalam mimpiku.
Kamu, yang terlihat anggun berbalut hijab cantik itu. Ada rasa ingin menyapa tapi hati ini malu untuk ke sana. Lisanku kelu untuk mengungkapkan rindu. Apa daya aku hanya bisa memandangimu dari jaga jarak. Sungguh, hanya kamu wanita yang aku tuju.
Sabar, aku di sini sedang mempersiapkan dan memperbaiki diri supaya pantas menjadi imammu. Niat ini masih ada untuk meminang kamu sebagai penggenap imanku. Aku yakin kamu adalah jawaban istikharah yang Allah pilihkan untukku
Pertemuan denganmu, cantik. Cinta ini masih untukmu. Meski aku belum tahu perasaanmu kepadaku. Hanya Allah yang mampu membolak-balikkan hatimu. Aku hanya bisa menyebut namamu dalam doa. Aku tidak mampu merayumu untuk mencintaiku sebelum halal. Namun aku selalu merayu Sang Maha Cinta supaya kelak kamu dan aku bersatu dalam mahligai pernikahan.
Hei kamu yang berwajah teduh, aku akan segera datang di dua waktu. Pertama, aku datang sebagai calon suamimu saat mempersuntingmu. Kedua, aku datang sebagai laki-laki yang sudah halal bagimu. Yakni suamimu yang tercinta.
_____________________________________________
Tulisan terakhir itulah yang membuat hati Fira terpatri pada Henry. Karena tulisan itu memberi isyarat penuh keyakinan bahwa Henry akan segara datang melamar hingga menikahi Fira.
Tanpa terasa dua bola mata Fira mengembun dengan perasaan harunya. Namun terkadang ia merasa ragu karena untuk saat ini, lelaki pujaan hatinya itu belum kunjung datang.
"Bu Fira." Suara lirih itu berasal dari balik pintu. Meski lirih tetapi membuat Fira terperanjat. Fira sontak menoleh ke arah suara. Ternyata Lefia yang memanggilnya.
"Astaghfirullah, saya pikir siapa? Ada apa, Lef?" ujar Fira.
"Jenengan makan malam dulu, Bu. Makanan sudah siap," kata Lefia.
"Oke, saya segera ke sana."
Fira lantas mematikan laptop kemudian menutup laptop. Ia mengantongi gawai ke dalam saku daster. Fira pun berdiri seraya merapikan daster dan jilbab. Meski ia mengenakan daster berlengan panjang, tidak mengurangi keanggunan sosok Fira. Justru aura keibuannya terpancar. Sederhana dan elegan.
***
Fira berada di ruang makan yang luas dan terkesan estetik dengan suasana alam di dalamnya. Adapun air mancur dan kolam ikan yang menghiasi ruang makan. Di sana keluarganya sudah berkumpul untuk makan malam. Termasuk Lefia, meski begitu, ia sudah dianggap keluarga di sini.
Fira senang melihat dua putranya begitu lahap menyantap makanan sayur-mayur. Ia bersyukur Zayn dan Zema dapat tumbuh sehat, cerdas dan aktif. Setelah melihat dua anaknya, sepasang netra bagai kelereng itu terpukau dengan sambal tempe pete dan capcay kesukaannya. Perutnya yang sedari tadi enggan makan, jadi ingin melahap makanan kesukaannya itu.
"Wah, siapa yang masak sambel tempe pete dan capcay nih!" seru Fira sembari duduk di samping Zayn dengan mata berbinar-binar.
"Ressa dan Nina dong, Kak!" sahut Ressa, adik ketiga Fira yang sudah menjelma jadi gadis sembilan belas tahun.
"Hei, Ibu juga masak, loh!" sahut Ratih tertawa kecil. Paras beliau masih terlihat awet muda meski usia sudah lima puluh tahun lebih.
"Wis, wis, pada makan semuanya. Nanti Bryan habiskan loh!" sela Bryan dengan lahap menyantap ayam goreng.
__ADS_1
Keluarga memang selalu makan bersama, tapi Fira merasa ada yang kurang. Ia pun bertanya kepada Ibunya. "Loh, Bapak mana, Bu?"
"Emm, Bapak pergi sebentar. Ada urusan penting sama orang gitu," jawab Ratih.
"Kenapa tiba-tiba hatiku berdegup kencang, ya?" gumam Fira.
"Malah melamun. Fir, makan!" perintah Ratih.
"Eh, iya, Bu." Fira terkejut kemudian lekas mengambil satu centong nasi.
Tatkala sedang menikmati makanan kesukaannya, Fira merasakan sikunya dicubit pelan oleh Zayn. Fira lantas melirik ke Zayn, mengernyit heran maksud Zayn mencubit sikunya. Namun itu tidak membuat Fira terganggu, ia justru terus mengunyah makanan kesukaannya, sambal tempe pete.
"Ma, besok hari Ayah, gimana?" ucap Zayn.
"Uhuk, uhuk, uhuk!" Mendengar ucapan Zayn sontak Fira tersedak makanan. Disentuhnya dada yang terasa menyesakkan itu. Fira cepat-cepat minum segelas air putih untuk meredakan sedakan tadi dan mengambil selembar tisu untuk membersihkan sisa makanan di sudut bibir.
"Zayn, kok tanyanya gitu terus? Kasihan Mama jadi kesedak tuh," tegur Ratih.
Saking geramnya, tangan Zayn justru mengentakkan meja makan sembari berkata, "Kalau yang datang cuma Om Bryan dan Kakek. Pokoknya besok Zayn enggak masuk sekolah! Soalnya Zayn udah tahu bakal jadi bahan ejekan teman-teman, karena Zayn enggak punya Papa!"
"Kak Zayn, enggak boleh gitu." Dengan polosnya Zema menegur kakaknya dengan halus.
Fira dan Ratih saling menatap. Bryan tetap mengunyah makanan meski ia tahu perasaan yang dialami Zayn. Ressa, Nina dan Lefia hanya diam menyaksikan sikap Zayn.
Zayn hampir saja menangis, kemudian memutuskan untuk pergi dari meja makan. Fira hendak beranjak menyusul Zayn, tapi Ratih mencegah Fira untuk ke sana. Ratih memberi isyarat kepada Fira supaya membiarkan Zayn sendiri dulu.
"Biarkan emosi Zayn reda dulu. Kalau sudah membaik, baru kita bicarakan dari hati ke hati. Ibu juga paham perasaan cucu Ibu," tutur Ratih kepada Fira.
"Memang Zayn aja yang begitu? Fira juga, Bu! Sabar dalam penantian lima tahun untuk Henry itu enggak mudah. Memantapkan hati setelah istikharah juga enggak instan. Kadang suka jengkel sendiri sama Zayn. Fira bosan bilanginnya, cukup enggak perlu dengarkan kata teman-teman yang seperti itu," jelas Fira dengan geram.
"Zayn masih sepuluh tahun, usia segitu masih peka terhadap omongan orang. Walau kamu bilang enggak usah dengarkan mereka, tapi jadi Zayn juga pasti bosan mendengar kata yang menyayat hatinya. Apalagi dia juga rindu sosok ayah."
"Bryan juga udah lama enggak punya nomor telepon Henry. Kalaupun punya nomor telepon Henry, Bryan bakal protes ke Henry. Bryan sendiri juga geram, mau sampai kapan Henry bikin Kak Fira dan Zayn menunggu?" protes Bryan.
"Katanya tadi ketemu Naomi. Terus kalian enggak minta nomor telepon Henry ke Naomi?" ucap Ratih.
Ratih menetralkan suasana agar tidak tegang. "Ya, udah, kita banyak doa dan enggak terlalu berharap sama mahluk. Semoga Allah segera memberi jalan keluar bagi kita."
***
Usai makan malam, Fira tidak langsung ke ruangan kerja. Ia justru menggendong Zema yang sudah mengantuk. Membawa putra bungsunya itu ke kamar Zayn dan Zema.
Semenjak Zayn dan Zema sudah tumbuh besar, tidak lagi tidur bersama mamanya. Fira membiasakan dua putranya untuk tidur di kamar sendiri, karena mereka anak laki-laki. Bersyukur Zayn dan Zema sudah terbiasa tidur di kamar yang terpisah dengan sang mama.
Ketika Fira dan Zema di kamar, Zayn menutupi wajah dengan guling. Dipeluknya erat guling itu. Namun sepertinya Zayn sudah tertidur pulas. Fira tidak ingin menganggu putra sulungnya.
Perlahan Fira meletakkan Zema di atas kasur sepetak. Kasur Zayn dan Zema sengaja dipisah meski sesama anak laki-laki. Fira duduk di sisi kasur. Seketika Fira menepuk pelan punggung Zema supaya lekas tidur.
Fira hendak beranjak dari kasur, akan tetapi Zema mencengkeram erat lengan mamanya itu. Fira jadi terkejut karena Zema mendadak bangun tidur. Mata polos Zema itu seakan ingin mamanya ada di sini saja.
"Zema, belum bobok?" kata Fira.
"Ayah Kirsandi itu gimana? Om Henry itu gimana?" Pertanyaan Zema membuat Fira tertegun. Ia sudah menduga Zema akan bertanya soal ini.
Fira menyadari Zema tidak tahu banyak tentang Kirsandi dan Henry. Meskipun Zema adalah anak kandung Kirsandi, tapi Fira ingat Kirsandi bersama Zema dari Zema lahir hingga usia Zema satu tahun.
Setelahnya Kirsandi meninggal akibat kecelakaan nahas yang menimpanya sekitar enam tahun lalu. Saat itu Zema masih berusia satu tahun jadi wajar saja ia tidak tahu betul soal Kirsandi dan Henry. Ini saatnya Fira menjelaskan tentang antara Kirsandi dan Henry.
"Ayah Kirsandi itu Ayah kandung Kak Zayn dan Zema. Om Henry itu ..." Sengaja Fira menjeda pembicaraan. Sebenarnya ia bingung untuk menjelaskan tentang Henry ini, karena kepastian dari Henry juga belum kunjung datang.
"Kata Kak Zayn, Om Henry itu bakal jadi Papa kita?"
"Insyaallah, sayang. Zema berdoa saja."
"Terus, kenapa enggak ada Ayah Kirsandi? Kata Kak Zayn, Ayah ketabrak truk. Itu beneran, ya, Ma?"
__ADS_1
"Benar, sayang. Ayah Kirsandi sudah di sisi Allah. Zema juga doakan Ayah supaya di sana Ayah senang melihat Zema yang sudah besar ini."
"Terus-terus, kalau Om Henry mau jadi Papa Zema, kenapa enggak pulang ke sini, Ma? Om Henry ke mana?"
Betapa polosnya Zema menanyakan seputar dua pria yakni ayahnya dan calon papanya itu. Untung saja Fira menjawab pertanyaan Zema dengan baik dan mudah dipahami oleh Zema.
"Om Henry enggak pulang ke sini dong. Om Henry punya rumah sendiri. Om Henry kan belum menikah sama Mama. Om Henry mungkin masih di Amerika atau Korea," jelas Fira.
"Amerika, Korea? Ngapain, Ma? Amerika dan Korea itu masih di Semarang, ya?" pikir Zema.
Fira tertawa mendengar ucapan Zema yang begitu polos, kemudian ia berkata, "Bukan sayang, Amerika dan Korea itu jauh, di luar negeri sana. Bukan bagian Indonesia. Om Henry sedang kuliah dan kerja di sana."
"Emm?" Zema berpikir sembari menatap langit-langit kamar.
"Korea itu yang kotanya pernah ditonton Tante Ressa dan Nina. Tante Ressa dan Nina kan suka nonton drama Korea. Nah, seperti itulah pemandangan negara di sana."
"Oh, iya, Zema pernah nonton drama Korea, yang ada anak-anaknya itu, Ma. Di sana ada bunga pink yang cantik itu."
"Itu namanya bunga sakura, hehehe."
"Ma, Zema boleh lihat lagi foto Ayah Kirsandi dan Om Henry?"
"Oke, boleh. Mama ambil dulu hp Mama."
Tangan kanan Fira merogoh saku daster, diambilnya gawai merek Apel-Phone berwarna hitam. Tentunya gawai ini pengeluaran teranyar dengan harga yang fantastis. Jemari Fira cekatan membuka album foto dalam gawai.
Zema tampak antusias ingin melihat foto Kirsandi dan Henry, sehingga ia duduk di samping Fira sembari memeluk guling. Mata bulat yang lucu itu jadi fokus pada layar gawai mamanya.
"Ini Ayah Kirsandi dan Zema. Zema waktu itu masih bayi baru lahir. Ayah adzan ke telinga kanan Zema," ucap Fira sembari menunjukkan foto Kirsandi sedang adzan di telinga Zema saat baru lahir.
"Zema jadi kangen Ayah," ungkap Zema.
"Nah ini, Ayah, Kak Zayn dan Zema sedang liburan di pantai. Zema waktu itu masih berapa bulan, ya? Waktu Zema lagi belajar berdiri."
Jemari Fira kembali berselancar di album foto lainnya, ada foto dirinya bersama Henry dan Rafi ketika di Singapura. Meski foto ini masih tersimpan di album foto, tapi selama lima tahun terakhir, Fira tidak pernah melihat foto ini. Fira memang sengaja tidak melihat foto ini supaya bisa menjaga hati agar tidak galau berkepanjangan. Namun adanya permintaan Zema, Fira membuka album foto itu kembali.
"Yang ini Om Henry," kata Fira. Ia mengacungkan jari telunjuk mengarah pada Henry.
"Om Henry ganteng, ya, Ma. Zema jadi enggak sabar ketemu Om Henry," ungkap Zema.
"Hehehe, begitulah."
"Terus, ini siapa?" Jari telunjuk Zema mengarah pada Rafi.
"Oh, itu Om Rafi. Sahabat kecil Mama dulu."
"Om Rafi juga ganteng, Ma."
"Om Rafi juga kenal dan tahu kamu, tapi waktu dulu kan Zema masih satu tahun. Jadi Zema enggak ingat."
"Hehehe iya, Ma. Zema ingatnya kata Kak Zayn, Om Rafi pernah beliin mainan mobil-mobilan untuk Kak Zayn dan Zema."
"Kak Zayn banyak cerita ke Zema dong, ya."
"Iya, Ma. Tapi, kenapa Om Rafi juga enggak jadi Papa Zema?"
"Eh, hahaha!" Fira lantas terkekeh-kekeh dengan kepolosan Zema yang tidak tahu menahu soal cinta dan pernikahan.
"Mama kok ketawa sih?" Zema mengernyit keheranan.
"Masa Zema mau dua Papa sekaligus? Mama jadi ketawa aja, hahaha. Kalau menikah itu satu laki-laki dan satu perempuan."
"Oh, gitu, Ma. Hehehe, Zema enggak tahu. Jadi, Mama kapan menikah dengan Om Henry?"
"Eh, doakan aja, sayang. Ya, udah, ah, Zema tidur gih! Besok kesiangan bangun, loh." Fira tersipu malu lantas mengalihkan pembicaraan seraya menidurkan Zema.
__ADS_1
Sejenak ditaruhnya gawai di kasur. Fira lantas membelai lembut rambut Zema supaya lekas tidur. Karena kalau tidak, Zema akan semakin menganalisa tentang ayah dan papa. Apalagi soal pernikahan orang dewasa.
Bersyukur Zema anak penurut. Zema segera memejamkan mata kemudian memeluk guling. Fira merasa lega, berharap Zema tidak lagi kritis terhadap pembahasan tadi. Karena anak seusia ini belum cukup untuk mencerna informasi orang dewasa.