Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Rebutan


__ADS_3

Mukena putih itu masih terbalut pada tubuh Fira. Ia menaruh setiap tangkai bunga mawar ke dalam vas bunga. Diciuminya satu per satu harum bunga mawar itu. Buket bunga mawar yang diberikan Henry cocok diletakkan di meja hias ruang tengah.


Fira melihat wajahnya di cermin. Wajah ayu itu seketika murung. Walaupun Fira berusaha menghilangkan rasa khawatirnya terhadap Henry, tetap batinnya masih penasaran. Hingga Fira timbul rasa sadar diri, merasa menjadi istri tidak pantas mengetahui kondisi psikologis suaminya.


"Jika Henry enggan terbuka padaku soal traumanya, enggak apa-apa. Aku yakin suatu saat nanti Allah berikan petunjuk. Ya Allah, jika Henry sedang mengalami masalah, berikan ia pertolongan. Jika jiwa dan iman Henry sedang goyah, kokohkan jiwa dan imannya di jalan-Mu," ucap Fira sambil berbicara dengan dirinya sendiri.


"Mama, ada tamu di depan rumah," ucap Alira yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Fira agak terkejut, kemudian sejenak mengusap wajah yang murung itu. Fira berusaha bersikap baik-baik saja di depan semua orang.


"Iya, Nak. Kita ke sana, yuk," ajak Fira.


Mama dan anak perempuannya berjalan menuju ke teras rumah. Ternyata pintu rumah sedari tadi dibuka oleh Alira. Tiga orang hadir di teras rumah. Mereka berseragam biru abu-abu. Fira menilik mereka, ternyata dari jasa pengangkutan barang.


"Apa ini rumahnya Bapak Henry Lee?" tanya seorang lelaki yang berdiri di tengah dua temannya.


"Iya, benar. Saya istrinya," jawab Fira, "ada apa kalian ke mari?"


"Ini, Bu, kami dari Ayo Box, mengantarkan lima alat fitness yang sudah dibeli Bapak Henry di Bugar Fitness Store," jelasnya.


"Tapi, sebaiknya menunggu Henry pulang dari masjid, ya. Kalian bisa duduk di teras. Insyaallah, sebentar lagi suami saya pulang."


"Baik, Bu, terima kasih."


Panjang umur bagi Henry yang baru datang di rumah. Henry tiba di pagar rumah bersama Zayn dan Zema. Sementara dua anak laki-laki itu memandang keheranan dengan adanya mobil pengangkut barang di depan rumah. Henry menyambut ramah tiga lelaki pengantar alat fitness itu. Mereka juga menyambut Henry dengan ramah.


"Ini, Pak, tiga alat fitness-nya sudah ada," ucap lelaki itu.


"Oke, mari ikut saya ke ruang gym," ajak Henry seraya mempersilakan tiga lelaki itu masuk ke dalam rumah.


Tiga lelaki itu mengangkat satu box besar terlebih dahulu. Empat box lainnya ditinggalkan di teras rumah. Henry menunjukkan arah jalan ke ruang gym-nya kepada tiga lelaki itu. Sementara Fira dan ketiga anaknya mengikuti dari belakang. Fira paham suaminya ini suka sekali dengan olahraga.


Henry mengarahkan ketiga lelaki supaya meletakkan sebuah box besar di tempat yang ditentukan Henry. Fira dan anak-anak hanya memperhatikan dari depan ruang gym. Tampaknya butuh waktu yang lama untuk menata alat fitness di ruangan ini.


Pengangkutan alat fitness ke ruang gym telah selesai dilakukan. Tiga lelaki tadi pamit kepada Henry. Henry pun tidak lupa berterima kasih seraya memberi mereka tip. Sempat terjadi penolakan terhadap tiga lelaki ini saat Henry memberikan tip. Namun Henry tetap memberinya sebagai berbagi rezeki kepada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan buah tangan yang perlu disyukuri.


Henry antusias melihat alat fitness di ruangan gym. Bagi Henry, di sela-sela kesibukannya di perusahaan, ia tetap menyempatkan diri untuk olahraga. Henry tipikal pria yang menjaga tubuh yang ideal dan atletis. Fira senyum-senyum sendiri di ambang pintu ruangan itu. Melihat Henry seperti ini, Fira cukup tenang, barangkali dengan olahraga, Henry tetap menjaga kesehatan dan stamina.


"Kayaknya ada yang lebih tertarik alat fitness dibandingkan istrinya," sindir Fira sambil tersenyum melihat suaminya.


"Eh, enggak dong, Fir. Kamu tetap prioritasku. Sini, aku ingin olahraga bareng istriku. Aku berotot, kamu juga berotot," ucap Henry.


Fira berlari kecil menghampiri Henry. "Ih, enggak mau. Seram banget---kalau aku berotot."


"Biar kalau lagi enggak ada aku, kamu bisa bela diri mengalahkan laki-laki lain yang mengganggumu, hahaha."


"Aku itu, ya, bela dirinya dengan kegalakanku. Langsung pada menyerah semua. Dan pastinya teguh cintaku padamu yang dapat menolak hadirnya laki-laki lain."


Henry kian mendekati Fira. Tatapannya nakal melekat pada mata Fira. "Omong-omong soal cinta jadi ..."


Fira sedikit memberi jarak kepada Henry yang semakin dekat seperti magnet. "Apa? Hayo loh, sebentar lagi salat Isya, Hen. Nanti saja kalau anak-anak pada tidur pulas."


"Hahaha, kalau aku semangat olahraga, otomatis subur, ya, Fir."


"Bisa jadi, terus jaga pola makan yang sehat dan bergizi."


"Ada peluang bikin Henry dan Fira junior dong."


"Aamiin, insyaallah, pasti ada."


"Aku menyesali ucapanku sebelum nikah itu, yang ingin menunda punya anak."


Fira dengan manjanya memeluk Henry. "Kita nikmati masa pacaran begini. Kalau dikasih cepat, alhamdulilah. Kalau belum, kita ikhtiar dan doa lagi."


"Dulu Zayn muncul di rahimmu setelah berapa bulan kamu menikah dengan Mas Kirsandi?"


"Setelah enam bulan menikah, aku baru isi Zayn."

__ADS_1


"Kamu belum datang bulan lagi, ya?"


"Sebenarnya waktu-waktu begini aku sudah datang bulan. Cuma aku enggak mau ambil pusing. Soalnya waktu nikah dulu, aku pernah mengira telat datang bulan bisa jadi hamil. Ternyata belum. Aku enggak mau kecewa aja. Kamu juga sabar menanti buah hati kita."


"Aku membayangkan betapa ramainya rumah ini---dengan memiliki empat anak, hehehe."


"Sekarang kamu belajar parenting. Ya, walaupun nanti pas punya bayi, kamu akan dikagetkan dengan momen menjadi ayah sebenarnya. Mulai dari mendengar tangis bayi, bergadang hingga gantiin popok bayi."


"Terdengar lucu dan menggemaskan, ya."


***


"Ini kan remote punya mobilku!" teriak Zayn.


"Ini tuh remote punya Zema, Kak!" teriak Zema.


Teriakan Zayn dan Zema di kamar Zema hingga terdengar di ruang keluarga. Fira yang sedang bersantai bersama Henry dan Alira di ruang keluarga---seketika beranjak. Namun Alira sedang asyik bermain boneka di depan televisi. Tidak begitu mendengarkan teriakan dua kakaknya.


Fira sudah menduga jika Zayn dan Zema sedang berselisih. Maka dari itu ia berlari kecil menuju ke kamar Zema. Pintu kamar Zema terbuka lebar. Fira menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya. Fira mengelus dada melihat pertengkaran antara Zayn dan Zema. Zayn dan Zema saling menatap sengit. Zema masih mempertahankan remote di tangannya. Zayn menggenggam kuat lengan Zema. Napas dua anak ini memburu karena terbawa emosi.


"Ada apa sih? Pakai teriak-teriak segala. Malu sama tetangga loh," tegur Fira.


"Ini, Ma, kan remote punya mobil Zayn enggak ada di kamar. Zayn cari di kamar Zema, eh, tahunya di sini," jelas Zayn.


Zema lantas mendelik ke Zayn. "Ergh, Kak Zayn jangan nuduh Zema dulu dong. Ini remote control punya Zema, tahu!"


"Coba cari dulu remote-nya di kamar Zayn. Pasti keselip atau Zayn lupa naruh," usul Fira.


"Tapi, Ma ..."


"Kalau Zayn ingin tahu itu remote punya Zayn atau bukan. Coba hubungkan ke mobilnya. Sekarang kita ke kamar Zayn," sambung Fira.


Fira, Zayn dan Zema bergegas ke kamar Zayn. Zema menggenggam erat mobil beserta remote-nya. Zayn yang masih kesal dengan adiknya itu membuat jarak langkahnya. Fira geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Zayn dan Zema. Ini bukan pertama kalinya. Fira sudah biasa menghadapi pertengkaran dua anak laki-laki itu.


Fira kadang dibuat bingung dengan Zayn dan Zema soal barang. Jika barang milik dua anaknya ini sama, terjadi rebutan barang. Namun jika barang milik Zayn dan Zema berbeda, pasti ada saja, salah satunya iri. Fira tidak mau ambil pusing, tentu ia punya inisiatif untuk meleraikan kedua putranya.


"Nah kan, apa Mama bilang? Cari dulu di kamar ini. Barangkali keselip atau lupa naruh," ucap Fira dari dalam kolong.


Sang mama berhasil menemukan remote mobil milik Zayn di kolong kasur. Fira hati-hati keluar dari kolong supaya tidak terbentur dengan badan kasur. Napasnya ngos-ngosan karena di dalam kolong itu tubuhnya telungkup yang cukup menyesakkan dada. Fira berhasil membawa remote itu di tangannya.


"Pasti Zayn lupa naruh kan? Nih, sekarang remote-nya disimpan ke dalam kotak mainan. Lain kali dicari dengan teliti," imbuh Fira seraya memberi remote kepada Zayn.


Zayn menunduk. Pelan-pelan ia ambil remote dari tangannya. "Terima kasih, Mama."


"Zayn minta maaf sama Zema," perintah Fira.


"Enggak mau," tolak Zayn.


"Zayn, kalau seseorang bikin kesalahan kepada orang lain itu harus minta maaf. Minta maaf sama adik itu enggak buat kamu hina. Zema juga kalau ada salah sama Zayn, minta maaf juga sama Kakaknya. Ayolah, Mama ingin anak-anak Mama ini rukun dan saling sayang."


Zayn tampaknya keberatan saat mengulurkan tangan ke Zema. Justru Zema yang menggenggam tangan Zayn. Raut wajah Zayn yang masam itu seolah geli bersalaman dengan adiknya sendiri. Fira yang melihat peristiwa itu---seketika menghela napas panjang kemudian mengembuskannya.


"Bilang apa, Zayn?" tanya Fira.


"Kak Zayn minta maaf, ya, sama kamu," jawab Zayn seraya menatap nanar ke Zema.


"Ikhlas enggak nih---minta maafnya?"


"Ikhlas, Ma." Zayn melepas salaman kepada Zema dengan kasar.


Fira lantas melirik jam dinding di kamar Zayn. "Sekarang sudah jam sembilan. Zayn dan Zema udah pada gosok gigi, belum?"


Zayn dan Zema menjawab secara bersamaan. "Sudah, Mama."


"Kalian pada tidur, ya. Besok bangun Subuh kemudian persiapan ke sekolah. Yuk, Zema, Mama antarkan ke kamar. Setelah itu Mama antar Alira ke kamarnya."

__ADS_1


Sebelum Fira meninggalkan kamar Zayn, dibelainya lembut ubun-ubun Zayn, Fira bergumam kalimat barakallah supaya Zayn selalu diberkahi Allah. Fira lantas mencium kening putra sulungnya itu. Setelah itu, Fira merangkul Zema beranjak meninggalkan kamar Zayn.


Cukup memakan waktu lima belas menit untuk menidurkan Zema kemudian Alira. Fira tidak lupa menutup pintu kamar anak-anaknya. Kini napasnya terasa lega karena waktunya untuk bermesraan dengan Henry. Karena hanya dengan berduaan, Fira bisa melepas penat dari pekerjaan ibu rumah tangga.


Fira berjalan di ruang keluarga, tidak menemukan Henry di sana. Padahal tadi Henry sedang fokus menonton pertandingan bola di layar televisi. Wanita berdaster batik ini bergegas ke kamarnya. Ia berpikir saat ini sudah tidur.


Begitu Fira membuka pintu kamarnya, lagi-lagi Henry tidak ada di sana. Fira lantas menoleh ke kamar mandi yang berada di dalam kamar. Namun pintu kamar mandi itu terbuka. Fokus kepada ketiga anaknya, membuat Fira tidak memperhatikan ke mana Henry pergi.


"Henry ke mana, ya? Atau lagi di ruang kerjanya?" Fira jadi bertanya-tanya. Ia berinisiatif untuk menyusul Henry ke ruang kerja.


Fira ragu untuk membuka pintu ruang kerja Henry. Padahal tangan kanannya menggenggam ganggang pintu. Ada rasa tidak enak jika mengganggu suaminya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya itu.


Fira hendak beranjak dari sana, tapi indera pendengarannya peka terhadap suara raungan dari dalam ruangan itu. Suara raungan seperti orang kesakitan atau merana. Jantung Fira berpacu cepat, perasaannya sontak tidak nyaman, jika Henry sedang dirundung masalah.


"Apa aku harus masuk ke dalam? Tapi, aku khawatir jadi masalah sama Henry. Aku takut Henry marah sama aku. Di sisi lain, aku ingin tahu, apa yang terjadi dengan Henry? Ya Allah, harus bagaimana?" Rasa dilema Fira bergejolak. Setelah dipikir-pikir, Fira memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.


Fira cepat-cepat naik ke kasur. Merebahkan tubuhnya kemudian menarik selimut. Malam ini ia merasa merinding ketika mendengar raungan Henry. Matanya dipaksa untuk terpejam. Posisi tidur Fira tepat membelakangi pintu kamar.


Sudah dua puluh menit, Fira tidak kunjung tidur. Walaupun ia berusaha memejamkan mata, tapi pikirannya mengarah pada Henry, membuatnya sulit tidur. Namun tiba-tiba saja, sebuah tangan mendekap tubuh Fira. Menjadikan Fira getar-getir. Ia khawatir jika Henry tahu bahwa Fira sempat di depan ruang kerja tadi.


"Aku sudah nyaman bersamamu. Aku tahu kamu belum tidur, Fir," bisik Henry begitu dekat di telinga Fira yang dibalut jilbab itu.


"Ya Allah, ada apa dengan Henry? Aku jadi khawatir. Tolong, gerakan hati Henry untuk jujur pada hamba," gumam Fira.


Fira merinding dengan bisikan Henry. Ditambah lagi, mendengar napas Henry yang seperti orang usai menangis dan marah. Henry juga mengendus-endus di pundak hingga leher Fira. Fira jadi terkesiap dan merasa risih.


"Kenapa kamu selalu pakai jilbab di rumah dan di kamar? Ya, aku tahu, kamu hanya buka jilbab saat kita bersanggama saja. Tapi, setelah itu, kamu pakai jilbab lagi," lirih Henry lagi.


"Emm, a-aku, karena aku terinspirasi dari perempuan di Palestina. Mereka selalu mengenakan jilbab meski di rumah dan kamar. Ya, aku tahu, di sana kondisinya genting. Namun, yang perlu diingat, kita tidak tahu kapan kematian menghampiri? Saat ada musibahkah atau tiba-tiba meninggal? Kalau meninggal dalam keadaan berjilbab, insyaallah, aurat ini terjaga," jelas Fira dengan suara lirih.


"Oh, begitu."


"Lagi pula semenjak aku menjanda, aku jadi nyaman memakai jilbab saat aku sedang tidur. Kebiasaan gitu deh, hehehe."


"Masyaallah, tambah cinta sama istriku ini. Sebenarnya aku lagi pengen, tapi aku lagi enggak enak badan. Lebih baik kita tidur biasa saja."


Fira mengangguk perlahan. Berulang kali ia mencoba memejamkan mata. Namun Fira mendengar dengkuran halus dari Henry. Ternyata Henry lebih dulu tidur daripada Fira. Kekhawatirannya tadi seketika luruh, nyatanya Henry hanya sekadar berbicara seperti itu. Namun tetap saja membuat Fira penasaran dengan kondisi Henry.


***


Pagi ini, Fira berdiri di depan pagar rumah. Fira melambaikan tangan kepada ketiga anaknya. Zayn, Zema dan Alira membalas lambaian tangan mamanya dari balik jendela mobil. Mobil yang ditumpangi Henry, Zayn, Zema dan Alira pergi berlalu.


Suasana ketentraman keluarga itu menjadi pusat perhatian ibu-ibu komplek yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling. Fira lantas menoleh ke arah sebrang jalan. Ia menebar senyum kepada ibu-ibu itu. Seketika ibu-ibu itu membalas senyum Fira. Walaupun sebagian orang terpaksa senyum kepada Fira.


"Selamat pagi, Ibu-ibu, semoga harinya selalu menyenangkan," sapa Fira dengan ramah.


"Selamat pagi juga, Bu Fira. Semoga betah di sini," sapa mereka.


"Saya betah di sini. Soalnya saya sudah lama tinggal di komplek ini. Hanya saja beda RT."


"Oh, iya, Bu Fira kan anaknya Bu Ratih itu, ya?" kata salah satu dari mereka.


"Benar sekali, Bu, hehehe."


"Mari, Bu Fira, sesekali belanja di tukang sayur, enggak belanja terus-terusan di supermarket. Sekalian berbaur sama Ibu-ibu di sini." Ucapan itu memang halus, tapi jika ditelaah lagi, ucapan itu seakan menyindir Fira. Mereka mengira istri dari seorang pengusaha seperti Fira hanya berbelanja di supermarket. Namun Fira tidak tersinggung, ia justru tersenyum.


"Malah saya mau ambil dompet dulu di dalam rumah, Bu. Saya juga mau belanja sayur buat makan siang nanti." Kali ini ucapan Fira mampu membuat ibu-ibu itu bungkam.


Ketika Fira hendak masuk ke dalam rumah, Lefia dan Irwan datang seraya membawa tas besar. Napas suami dan istri ini terengah-engah. Tangan keduanya menyeka keringat yang bercucuran di pelipis. Asisten dan sopir pribadi ini berhenti tepat di depan pagar rumah Henry dan Fira.


"Assalamu'alaikum, Bu Fira," sapa Lefia dan Irwan.


Fira seketika membalikkan badan melihat Lefia dan Irwan sudah tiba di sini. "Wa'alaikumsalam, eh, Lef, Pak Irwan, sudah sampai rupanya. Kalian tahu rumah ini dari mana? Terus, kalian naik apa ke sininya?"


"Yo, dari Bu Ratih, to, Bu. Siapa lagi? Saya dan Mas Irwan ini pengen langsung ke rumah Bu Fira dan Pak Henry saja. Kita tadi naik dua ojek, Bu," jawab Lefia. Dikibaskannya gamis corak batik yang dikenakan Lefia karena merasa kegerahan.

__ADS_1


"Ya, sudah, kalian lekas masuk ke rumah. Kalian istirahat dan minum-minum dulu, yuk." Fira mengajak Lefia dan Irwan masuk ke dalam rumah.


Sisa energi yang ada, Irwan berusaha menggendong tas besarnya. Mereka tiba di teras. Fira cepat-cepat membuka pintu rumah. Dipersilakannya Lefia dan Irwan untuk duduk di sofa. Terlihat jelas bahwa Lefia dan Irwan penat setelah melewati perjalanan jauh, dari Bojonegoro hingga ke Semarang. Sementara Fira bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman kepada Lefia dan Irwan.


__ADS_2