
Setelah tiga hari kepulangan Fira dari rumah sakit. Di ruang tamu telah berkumpul banyak orang. Di antaranya Fira, Bryan, Naomi, Kim Jae Young, Reza, Ammar dan tim detektif. Mereka sedang membuat siasat untuk mencari pelaku, bukti sembari mencari Henry. Setiap raut wajah mereka begitu serius menyimak penjelasan dari Ammar.
Di tengah seriusnya rapat, Lefia menyuguhkan minuman dan cemilan untuk orang-orang di sana. Lefia memperhatikan setiap wajah mereka yang agak tegang. Setelah itu, ia kembali ke pekerjaannya, yakni menjaga Zayn, Zema dan Alira. Karena Fira tidak memperkenankan tiga anaknya untuk mendengar pembahasan orang dewasa.
"Jadi, kalau kita ingin menemukan siapa pelakunya. Kita tidak boleh gegabah. Tetap tenang dan seperti tidak masalah apa-apa. Tim detektif pun begitu, kami menyamar seperti orang biasa, agar pelaku yang diduga penjahat tidak mengenali kami," jelas Ammar.
"Aku menaruh curiga kepada Rafi. Atau sebaiknya aku minta tolong Lena untuk mencari seluk beluk Rafi," gumam Fira.
"Nyonya Fira, saya ingin meminta informasi dari Anda," kata Ammar.
"Saya siap memberi informasi kepada Anda. Jikalau ini untuk kepentingan bukti," ucap Fira.
"Wait, saya agak lupa. Mulai dari mana, ya?"
"Kamu masih umur tiga puluh enam tahun aja udah lupa, Mar. Ya ampun, miris sekali," sindir Reza.
"Tiga puluh enam tahun begini rasa dua puluh tahun, Bro!" sanggah Ammar.
"Astagfirullah, pembahasan macam apa ini?" batin Fira kesal.
Fira lantas menyilang dua tangan. Bola matanya berputar karena saking pusingnya menghadapi rundingan ini. Sementara Ammar justru mendongak, menatap langit-langit ruang tamu. Pria berdarah Kanada itu berusaha mengingat kembali apa yang ingin disampaikannya.
"Oh, iya, riwayat hidup Henry bagaimana? Mungkin segitu dulu," ujar Ammar.
"Yang saya tahu, Henry itu pria sederhana, baik, pekerja keras dan ramah," ungkap Fira.
"Kalau itu semua orang juga bisa, Nyonya! Yang lain, yang lain."
"Sebentar, yang saya ingat waktu di Singapura, ya. Henry pernah menolong saya sewaktu saya diganggu oleh Sultan. Henry dan Sultan pernah bergelut. Seingat saya, Rafi pernah bilang jika Sultan adalah orang yang berbahaya. Mungkin Naomi, Kakaknya Henry mau menambahkan," jelas Fira. Ia lantas menoleh ke Naomi.
"Henry memiliki masalah jiwa yang orang lain tidak tahu. Maksudnya Henry pernah trauma dengan kejadian mengenaskan. Waktu remaja, Henry berteman dengan dua orang. Sebut saja A dan B. A dan B itu merupakan anak dari dua mafia. Dua mafia ini saling bermusuhan. Akibatnya, Henry dan teman-teman pernah disekap oleh Ayahnya si A. Yang menjadi korban adalah si B, dia disiksa hingga meninggal di tempat oleh komplotan Ayah si A ini. Henry menyaksikan langsung penyiksaan itu. Sejak saat itu, jika Henry memiliki konflik dan masalah besar, dia selalu menghindar atau beralasan badannya sakit," jelas Naomi.
"Oke, saya berusaha mencerna ucapan Nyonya Fira dan Nyonya Naomi," kata Ammar. Pria bertubuh besar itu mencatat informasi penting dari Fira dan Naomi.
"Apa aku harus ungkapkan semuanya," gumam Fira.
"Nyonya Naomi, tolong catat nama dua mafia tersebut. Barangkali bisa jadi konsep kami." Ammar menyodorkan selembar kertas dan bolpoin kepada Naomi.
Naomi mulai mencatat nama dua mafia yang pernah ada di dalam kehidupan Henry. Fira yang duduk di samping Naomi, ia melihat sedikit yang dicatat Naomi. Selesai mencatat nama dua mafia itu, Naomi menyerahkan kembali selembar kertas dan bolpoin kepada Ammar. Ammar lantas membaca dua nama mafia yang tertulis di kertas. Ia sesekali mengangguk.
Ammar kemudian menoleh Fira. "Oh, iya, Nyonya Fira. Tentang siapa tadi?"
"Sultan?" celetuk Fira.
__ADS_1
"Ya, itu dia. Apa Anda mengenal orang itu?"
"Yang saya tahu dari Rafi, Sultan ini rekan bisnis Rafi di restoran. Namun semenjak Sultan menggoda saya, Rafi memutuskan rekan kerja dengan Sultan. Hanya karena untuk membela saya," terang Fira.
"Sultan juga termasuk dalam catatan kami."
"Apa saya juga boleh mengungkapkan kejanggalan selama ini?" tanya Fira.
"Oh, tentu. Boleh sekali, Nyonya. Kami butuh banyak informasi," jawab Ammar.
"Dimulai dari semenjak saya merantau di Singapura. Saya di Singapura hanya untuk bekerja sebagai manajer restoran. Namun, berjalannya waktu, saya tahu jika ada dua lelaki yang sama-sama mencintai saya. Ya, Henry dan Rafi. Saya memutuskan untuk istikharah di antara dua pilihan. Saya juga menyarankan kepada dua lelaki ini untuk mendekati anak-anak saya. Karena kuncinya ada di anak-anak, maksudnya anak-anak saya itu jujur dan masih polos, pasti tahu mana calon Papa yang baik atau tidak untuk mereka."
"And then?" sela Ammar. (Terus?)
"Singkat cerita, Bryan Adik saya memberitahu jika pilihan yang tepat untuk jadi Papa sambung anak-anak adalah Henry. Ketika saya hendak mengungkapkan pilihan kepada Henry, Henry pulang ke Semarang. Ungkapkan itu jadi tertunda, saya maklum Henry pulang ke Semarang karena Papinya sakit. Sejak saat itu, kemantapan hati saya diuji. Datangnya Adnan dan Rafi berusaha meyakinkan saya. Namun saya tegas untuk tetap memilih Henry. Nah, Adnan dan Rafi ini sakit hati dengan saya. Saya pernah bertengkar dengan Rafi, hingga saya kecelakaan ditabrak mobil."
"Anda bertengkar dengan Rafi?"
"Ya, Rafi tidak terima jika cintanya saya tolak. Rafi juga bukan pilihan saya. Meski begitu, dia menjadi pendonor darah untuk saya sewaktu koma."
"Hmm, ada keanehan di sini. Maksud saya, Rafi sakit hati dengan Anda tapi setelah itu dia menolong Anda. Cepat sekali jarak perubahan karakternya," pikir Ammar.
"Mungkin Rafi sedang diambang frustasi. Lima tahun kemudian, saya juga tidak menyangka jika Rafi menguntit saya, sebelum dan sesudah saya menikah dengan Henry. Rafi mengakui itu semua dan berdalih ingin menjaga saya, supaya saya tidak tersakiti punya suami. Apalagi dia sempat menyuruh orang untuk mengikuti saya dan Henry di Korea."
"Rafi berada di Toronto. Dia pemilik RafJens Distro. Terakhir Rafi berkelahi dengan Henry di rumah saya di Semarang, karena Rafi berdalih saya tidak datang di pernikahan saudara sepupunya. Sepertinya benar, Rafi ada memendam benci kepada Henry."
Ammar mencatat kembali keterangan dari Fira. Pria bermata cokelat itu menatap empat teman detektif, seakan Ammar memberi pertanda bahwa aksi penyelidikan segera dimulai. Empat teman detektif mengangguk, seolah paham maksud Ammar.
"Oke, tentang Rafi justru banyak, ya. Saya juga akan minta informasi dari Mr. Raditya dan Mr. Kim Jae Young selaku rekan kerja Henry. Yang ingin saya tahu, apakah Henry memiliki musuh sejak menjadi pengusaha?" ujar Ammar.
"Pasti ada. Namun seperti yang dibilang Naomi tadi, jika Henry berhadapan dengan konflik besar, dia menghindar atau memberikan alasan lain," ungkap Kim Jae Young.
"Tolong, ceritakan apa saja yang Anda dan Mr. Raditya ketahui tentang Henry."
***
Fira gelisah memikirkan keadaan Henry yang tidak diketahui keberadaannya. Hanya berada di dalam kamar, Fira butuh waktu sendiri. Ia duduk di kursi sambil mengelus perut yang tengah mengandung buah cintanya dengan Henry. Laptop di hadapan Fira hanya ditatap saja. Berbagai media, Fira berusaha mencari Henry. Bahkan Fira menyebarkan informasi orang hilang di sosial media, ditambah hadiah spesial bagi yang bisa menemukan Henry.
Instagram, Facebook, Google dan Twitter gempar beredar berita kehilangan Henry. Fira sejenak memperbaiki posisi kacamata. Jemari Fira mengarahkan kursor di laptop ke akun Instagram Henry. Ia melihat beragam komentar orang-orang yang menaruh empati terhadap hilangnya Henry. Fira juga melihat pemberitahuan akun Instagram-nya. Pun banyak komentar soal kepedulian pengikut akun Instagram-nya. Mereka memberi semangat kepada Fira dan turut sedih karena hilangnya Henry.
"Alhamdulillah, sekarang komentarnya baik dan peduli semua. Mereka masih ada rasa empati terhadap Henry. Semoga dengan kekuatan netizen Indonesia dan Korea, dapat membantu menemukan Henry," ucap Fira.
Seketika Fira dikejutkan dengan pemberitahuan pesan masuk di E-mail. Jemarinya lantas berselancar di E-mail, dibukanya pesan masuk yang ternyata dari seseorang dengan nama E-mail luckyramansyah@gmail.com. Fira membaca pesan masuk E-mail dari Lucky atas kesanggupannya menjadi guru bimbel untuk Zayn, Zema dan Alira. Seorang yang bernama Lucky juga menyertakan ijazah pendidikan terakhir di University of Toronto.
__ADS_1
"Aku hampir lupa kalau sedang mencari guru bimbel untuk Zayn, Zema dan Alira. Karena sebelum Henry hilang, Henry pernah bilang ingin mencari guru untuk anak-anak selama tinggal di sini. Ini yang membuat aku jatuh cinta pada Henry, ia masih memikirkan pendidikan anak-anak," katanya.
Fira mengetik pesan balasan untuk Lucky tadi. Wanita itu ingin seorang yang melamar pekerjaan sebagai guru bimbel tadi untuk datang ke rumah esok hari. Pesan balasan melalui E-mail telah terkirim meski belum dibaca oleh Lucky.
Fira kemudian mengalihkan pandangan ke layar gawai. Kini jemarinya memainkan gawai sembari mencari sebuah kontak telepon. Diketiknya nama Sarah Elena Thalita. Ternyata nama kontak itu masih ada di daftar kontak telepon. Sejenak Fira termangu menatap nomor telepon milik Sarah. Sarah adalah adik dari Adnan sekaligus tante dari Carissa, gadis kecil yang pernah Fira tolong waktu di apartemen Singapura.
Terkait Sarah, karena Sarah merupakan istri dari seorang psikolog bernama Randy Aditama. Sebenarnya rasa penasaran Fira masih ada, penasaran dengan kondisi psikologis Henry. Maju-mundur Fira ingin menelepon Sarah. Jika mengingat ucapan Henry yang tidak ingin Fira tahu, Fira jadi bergidik. Namun di situasi seperti ini, Fira ingin menambahkan informasi tentang psikologis Henry.
"Barangkali aku bisa mengobati rasa penasaranku. Ini tentu untuk kepentingan bukti. Semoga saja Henry tidak mempermasalahkan jika tahu aku ingin tahu kondisi psikologisnya," ujar Fira.
Fira mengembuskan napas sebentar. Ditekannya nomor telepon Sarah, beruntung telepon itu tersambung. Fira sabar menunggu telepon itu diangkat oleh Sarah. Sambungan telepon Fira itu pun diterima oleh Sarah.
"Assalamu'alaikum, ini siapa, ya?" ucap Sarah.
"Wa'alaikumsalam, apa ini Sarah Elena Thalita?" kata Fira.
"Ya, saya sendiri. Ini siapa?"
"Apa kamu masih ingat Fira? Saya kenal Mas Adnan dan Carissa."
"Oh, Kak Fira. Bagaimana, Kak? Ada yang bisa saya bantu?"
"Sekarang posisi kamu ada di mana?"
"Hmm, saya ada di Toronto, Kak. Saya sedang menemani Carissa sekolah di sini."
"Pas kalau begitu. Saya juga di Toronto, bisakah kita bertemu?"
"Tentu saja, Kak. Kakak tentukan saja tempat pertemuan kita."
"Alhamdulillah, terima kasih, Sarah. Insyaallah, saya segera kirim pesan tempat pertemuan kita."
"Saya senang bisa bertemu dengan Kak Fira lagi."
"Alhamdulillah, sampai jumpa lagi, Sarah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Kak."
Percakapan antara dua wanita itu berakhir. Fira lega sambil mengelus dada. Ternyata mudah saja untuk bertemu dengan Sarah. Apalagi Sarah menyambutnya dengan baik. Fira berharap ada titik terang saat ingin mengetahui kondisi psikologis suaminya dari Sarah dan Randy. Semangat Fira membara. Pengorbanan seorang kekasih masih panjang untuk menemukan kembali cintanya yang hilang.
***
Alur cerita ini dan selanjutnya akan flashback ke Energy Of Love season 1. Jika belum ada yang baca Energy Of Love (season 1), diharapkan membacanya dahulu, biar enggak bingung.
__ADS_1
Dukung author juga yuk. Mudah aja kok, dukung dengan like, berikan vote dan bintang lima. Jangan sungkan-sungkan untuk berkomentar setelah kamu baca novel Energy Of Love 2. Rekomendasikan novel Energy Of Love ke orang-orang terdekat maupun sosial media. Terima kasih.