Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Di Mana Henry?


__ADS_3

"Ya Kafi, ya Ghoni, ya Fatah, ya Rozzaq."


Sudah ratusan kali Fira mengucapkan dzikir dengan tasbih di tangannya. Dua mata bulat itu terbuka secara perlahan. Walaupun mata kirinya berbeda dengan mata kanannya, tapi mata itu tetap memancarkan keindahan. Berdamai dengan hati setelah menunaikan salat Dhuha dan berdzikir.


Dengan berbalut mukena putih gading, Fira menengadahkan tangan. Pantulan cahaya matahari menembus jendela kamar. Sehingga wajah ayunya tersentuh sinar matahari. Hanya dengan berdoa, hati Fira yang mulanya gelisah akan terasa sejuk. Pikiran Fira yang mulanya berat akan terasa ringan.


"Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim. Lindungilah keluarga kami dari marabahaya dan fitnah. Hamba bisa saja membalas mereka yang tidak suka dengan pernikahan hamba dan Henry. Namun tidaklah baik hamba memiliki perasaan dendam. Untuk itu, hamba meminta kepada-Mu, berilah hidayah kepada mereka. Lapangkan dada hamba untuk memaafkan mereka. Semoga rasa sabar hamba yang berdosa ini tidak ada batasnya. Jagalah hati dan iman kami untuk tetap di jalan-Mu, walaupun ujian dan badai menerpa," ucapnya dalam doa. Fira mengakhiri doa dengan mengamininya. Butir-butir air mata itu telah membasahi pipinya yang kuning langsat.


Fira beranjak dari tempat. Melipat sajadah kemudian mukena dengan rapi. Ditaruhnya ke dalam kotak khusus peralatan salat. Walaupun sudah berstatus menjadi istri dari seorang pengusaha sukses, Fira masih sama, yakni berpenampilan sederhana di dalam rumah. Ia begitu nyaman mengenakan daster panjang dengan jilbab instan.


Ketika Fira melihat layar gawainya menyala, ia tersenyum melihat wallpaper foto pernikahannya dengan Henry. Foto setelah Henry mengucapkan janji suci, sehidup sesurga. Diambilnya gawai tersebut. Fira duduk di sisi kasur. Di foto itu, Fira yang anggun berbalut gaun pengantin putih. Henry yang tampan berbalut jubah putih. Akad nikah dengan konsep pakaian syar'i.


"Aku ingin merasakan usia lima puluh tahun pernikahan kita. Berkumpul dengan anak-anak, cucu-cucu hingga cicit-cicit. Bukan itu saja, aku ingin bersamamu hingga surga-Nya. Ya Allah, jagalah selalu hati dan iman suamiku, Henry Lee," ungkap Fira.


Mata Fira fokus menatap layar gawai. Terasa ada desiran hangat dalam tubuhnya kala mengingat sang suami. Namun tiba-tiba saja muncul panggilan masuk dari Lefia. Seketika Fira terkejut dengan suara dering gawai. Jemarinya cekatan mengangkat telepon dari asisten pribadinya itu. Sudah lama mereka tidak komunikasi.


"Assalamu'alaikum, Bu Fira," sapa Lefia.


"Wa'alaikumsalam, Lefia, gimana kabarmu?" ucap Fira.


"Alhamdulillah, Bu, saya sehat wal afiat. Bagaimana kabar Bu Fira dan anak-anak?"


"Alhamdulillah, saya dan anak-anak sehat semua. Baru ini kamu telepon saya, Lef."


"Hehehe, sebenarnya saya mau ngabarin ke Bu Fira."


"Ngabarin apa?"


"Nganu, Bu, sebenarnya saya sudah menikah dengan Mas Irwan, hihihi."


"Alhamdulillah, ikut bahagia. Saya dan Henry sudah menduga kamu pasti menikah dengan Mas Irwan. Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah."


"Aamiin yaa rabbal alamin, Bu. Terus, satu lagi, Bu. Insyaallah, besok saya kembali ke Semarang. Saya bekerja sama Bu Fira lagi."


"Sesuai perkiraan Henry dan saya ini."


"Maksudnya gimana, Bu?"


"Maksudnya kamu dan Mas Irwan kan sudah menikah, to. Nah, jadi klop deh ada asisten dan supir pribadi. Nanti deh ada surprise dari saya dan Henry."


"Bu Fira, benar sekali, hehehe. Insyaallah, besok saya kabari kalau sudah sampai di Semarang."


"Sudah kabari Henry belum?"


"Oh, iya, biar Mas Irwan yang kabari Pak Henry, Bu."


"Oh, oke, hati-hati di jalan, ya."


"Siap, Bu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Dua percakapan wanita melalui telepon ini berakhir. Kini jemari Fira berselancar di kontak telepon. Ia lantas menghubungi nomor telepon Henry melalui telepon. Namun sayangnya nomor telepon Henry sedang tidak aktif. Itu berarti gawai milik Henry sedang mati.


"Oh, iya, Henry kan sedang ada pertemuan dengan kliennya. Ah, aku coba hubungi sekretaris kantornya saja," ucapnya.

__ADS_1


Jemari Fira mencari nomor telepon sekretaris perusahaan. Pencarian itu pun berhasil. Fira dengan sabar menunggu telepon itu diangkat oleh sekretaris.


"Selamat siang, ini sekretaris Excellent Entertainment, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang wanita yang merupakan sekertaris perusahaan.


"Ini dengan Mbak Tari, ya? Saya Fira," ucap Fira.


"Oh, Ibu Fira. Iya, saya Tari, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"


"Henry sudah selesai pertemuan dengan kliennya atau belum, ya?"


"Sudah, Bu, setengah jam yang lalu."


"Terus, sekarang Henry ada di mana, ya? Ada agenda lainkah?"


"Setelah Pak Henry bertemu dengan klien, Pak Henry berkunjung ke Rumah Sakit Dokter Kariadi, Bu."


"Ke rumah sakit?" Fira sontak mengernyit keheranan.


"Iya, Bu."


"Oh, ya, sudah, terima kasih atas infonya."


"Sama-sama, Bu."


Fira menutup telepon tersebut. Mendengar ucapan Tari barusan, membuat Fira cemas. Ia pun jadi tercengang. Pasalnya Henry justru tidak jujur soal kunjungannya ke Rumah Sakit Dokter Kariadi tersebut. Henry hanya pamit kepada Fira untuk pertemuan dengan kliennya.


Fira bertanya-tanya seraya berpikir. "Kenapa Henry ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa Papi sedang sakit?"


Setelah Fira berpikir panjang, matanya yang bulat seketika membeliak. Fira baru sadar ucapan ibu mertuanya, Intan. Intan pernah mengatakan bahwa Henry pernah berkunjung ke dokter psikolog. Fira lantas bangkit dari duduknya. Ia bergegas membuka lemari untuk megambil pakaian dan hijab. Dadanya tidak henti-hentinya berdebar, mengkhawatirkan kondisi suaminya itu.


***


Fira jalan tergopoh-gopoh saat di ruang tengah. Fatih yang serius menonton televisi itu seketika terkejut dengan suara sepatu dilempar. Benar saja, Fira sedang melempar sepatu kemudian memakainya. Fatih lantas membalikkan badan melihat wajah putrinya yang penuh kecemasan.


"Itu sepatumu kotor atau bersih?" tanya Fatih.


"Bersih, Pak. Belum pernah dipakai ini," jawab Fira.


"Kamu mau ke mana? Kok buru-buru gitu."


"Mau ke rumah sakit, Pak."


"Siapa yang sakit?"


"Nanti Fira jelasin. Intinya Fira mau bergegas ke sana."


"Tunggu dulu, Bapak mau bicara sama kamu. Duduklah di sini."


"Tapi, Pak?"


"Sebentar saja."


"Enggeh, Pak." (Iya, Pak.)


Fira menghela napas. Ia tetap sabar meski hatinya terburu-buru untuk menyusul Henry ke rumah sakit. Wanita berbalut tunik kuning seperti warna bunga matahari itu duduk di sofa. Duduknya berseberangan dengan bapaknya.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" tanya Fira.


"Semenjak kamu dan Henry di Kanada, Bapak udah lihat berita tentang kalian," jawab Fatih.


"Ya, begitulah, Pak. Ada berita yang baik dan tidak."


"Kamu pasti sedih, ya, kalau lihat berita yang menyudutkanmu itu. Bapak aja sakit hati lihatnya. Apalagi pas baca koran. Ya, memang tidak semua berita buruk. Cuma Bapak enggak suka lihat putri Bapak disudutkan orang lain. Kamu itu enggak gila harta."


"Biarin aja, Pak. Lagi pula Henry segera mengusut tuntas kok. Doakan saja semoga setelah ini tidak ada berita yang menyudutkan Fira."


"Kamu tetap sabar saja. Meskipun sekarang kamu menikah dengan orang sukses kayak Henry, ada ujiannya juga. Hidup kan bukan kayak negeri dongeng yang sempurna begitu saja."


"Insyaallah, Fira tetap sabar, Pak. Semoga Allah selalu melindungi keluarga kita."


"Ya, sudah, katamu tadi mau ke RS. Siapa yang sakit?"


"Oh, iya, nanti Fira ceritakan, ya, Pak. Ini penting banget, assalamu'alaikum, Bapak." Fira lantas mencium tangan bapaknya. Kemudian wanita ini berlari menuju ke luar rumah.


Fira cekatan merogoh tas untuk mengambil kacamata bening, masker dan kunci motor matic hitam. Tidak lupa ia pakai kacamata bening dan masker. Wanita ini bergegas naik ke motor. Dinyalakannya gas motor itu, Fira mulai menjalankannya, mengeluarkannya dari garasi hingga ke jalanan.


***


Napas Fira tersengal-sengal saat tiba di resepsionis rumah sakit. Sejenak ia atur terlebih dahulu napasnya di balik masker itu. Kacamata bening yang bertengger di dua matanya itu menatap seorang wanita yang bertugas sebagai resepsionis. Kedatangan Fira di rumah sakit menjadi perhatian orang-orang sekitar.


"Selamat siang, Bu, ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita itu.


"Selamat siang juga. Saya mau nanya, kira-kira, apa hari ini ada pasien yang berkunjung di sini? Di dokter psikolog gitu," ucap Fira.


"Nama pasiennya siapa, ya, Bu?" tanyanya.


"Henry Lee," jawab Fira.


Resepsionis itu mengecek buku daftar pasien yang kontrol di rumah sakit ini. Fira sabar menunggu pencarian seorang resepsionis itu. Wajah dan hatinya seakan tidak tenang jika terjadi sesuatu pada belahan jiwanya. Henry.


"Mohon maaf, Bu, untuk hari ini tidak ada nama pasien Henry Lee," ucap wanita itu.


"Yang bener? Coba cek lagi deh, Mbak," desak Fira.


"Mohon maaf, Bu, sekali lagi tidak ada."


"Padahal tadi Tari bilang Henry ke rumah sakit ini, tapi kenapa Henry enggak ada di sini?" gumam Fira sembari berpikir.


"Bagaimana, Bu?" tanya wanita itu lagi.


"Oh, gini, kalau dokter psikolog yang jadwalnya hari ini, ada enggak?" Fira berbalik tanya.


"Ada, beliau Dokter Randy Aditama. Hanya saja beliau sedang berhalangan hadir."


"Oh, ya, sudah, terima kasih, Mbak."


Fira berjalan gontai di tengah-tengah pengunjung rumah sakit. Ia keluar dari rumah sakit dengan rasa kecewa yang menyelimutinya. Fira tidak menemukan suaminya di sana. Jelas-jelas sekretaris perusahaan mengatakan Henry ada di Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang. Sekarang ia bingung untuk mencari Henry. Namun instingnya kuat, mengatakan jika terjadi sesuatu pada suaminya itu.


"Kenapa kamu menyembunyikan soal ini dariku? Kamu bisa menyembunyikan traumamu, tapi insting ini tahu kalau kamu sedang kenapa-kenapa," gerutu Fira, "kalau aku tanya tentang traumamu, kamu kesal sama aku. Apa seorang istri enggak boleh tahu soal kondisi psikologis suaminya? Justru aku ingin mendampingimu saat kamu begini, Hen."


Saking khawatirnya terhadap Henry, Fira menitikkan air mata seraya memegang cincin pernikahannya dengan Henry. Tidak terasa---Fira tiba di tempat parkir. Rasanya lemas untuk mengendarai motor. Pikirannya kalang kabut. Begitu juga instingnya yang tidak karuan. Fira jadi teringat kembali jika mendengar kalimat rumah sakit dan itu berhubungan dengan suami, otomatis mengingatkannya pada Kirsandi dahulu.

__ADS_1


__ADS_2