
"Masyaallah, anak-anak Mama pada keren," puji Fira.
"Zayn senang deh, Ma. Bisa lihat Mama menikah dengan Papa. Akhirnya Zayn, Zema dan Dik Alira punya Papa," ucap Zayn.
"Lengkap deh," seru Zema.
"Alira juga senang punya keluarga baru. Alira bersyukur punya Mama yang cantik," ucap Alira.
Mama dan ketiga anaknya berbincang santai di ruang keluarga. Ruang keluarga itu disulap menjadi ruangan khusus tata rias dan penampilan Fira. Tidak heran jika ada beberapa sorotan lampu dan perlengkapan lainnya.
Mereka sudah bersiap diri untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan. Terutama Fira berpenampilan anggun dengan gaun pengantin dan hijab pashmina. Konsep pakaian resepsi pernikahan kali ini bernuansa kekinian, islami dan serba putih keabuan.
Walaupun sudah beres, tim perancang busana pengantin wanita dan make up artist siaga menata rias Fira. Sembari berbincang dengan ketiga anaknya, Fira di tata rias pengantin oleh make up artist, supaya riasannya tetap eksis.
Begitu tim rias menata mahkota perak berbentuk bunga berakar yang tersemat di kepala Fira, dilakukan dengan hati-hati. Terdapat pernak-pernik mutiara yang menghiasi mahkota itu.
Zayn dan Zema berbalut kemeja putih dipadukan jas formal abu-abu, terlihat tampan seperti calon orang sukses kelak. Sedangkan Alira tampak imut berbalut gamis bordir bunga dihiasi butiran mutiara kecil, lengkap dengan hijab pashmina sesuai dengan usianya.
Intan seraya mendorong kursi roda suaminya itu hadir di tengah-tengah mereka. Pandangan pagi ini menyejukkan mata beliau dan Lee Hyun Joong. Pasalnya, kini keluarga Lee bertambah menantu dan ketiga cucu sambung.
Intan juga cantik meski sudah di usia lima puluh lima tahun lebih. Mami mertua Fira berbalut gaun bordir bunga terukir melingkari bawah gaun. Sedangkan papi mertua Fira terpancar aura wibawa dan gagah berbalut kemeja putih dipadukan dengan jas abu-abu.
"Nenek Intan dan Kakek Abdurrahman sangat bahagia melihat cucu-cucu yang menggemaskan ini," puji Intan.
"Oh, iya, Mam. Fira sampai lupa mau tanya sesuatu. Fira masih penasaran," ucap Fira.
"Tanya apa, Nak?" tanya Intan.
Fira berbalik tanya dengan sopan. "Maaf sebelumnya, nama Papi ada dua, ya, Mam?"
"Papi ini sudah lama menjadi mualaf di Korea Selatan. Waktu beliau masih muda. Sebelum ketemu Mami, ya, Pi. Jadi, nama Papi ada dua, nama aslinya Lee Hyun Joong dari marga Lee dan nama hijrahnya Abdurrahman Lee. Sebenarnya Papi ingin pakai Abdurrahman Lee, tapi karena Papi seorang yang cukup terkenal, orang-orang sudah kadung kenal nama asli Papi," jelas Intan.
"Oh, begitu, Mam. Soalnya Fira lihat di undangan pernikahan, namanya Papi tertera Mr. Abdurrahman Lee atau Lee Hyun Joong gitu."
"Insyaallah, Mami bakal cerita silsilah keluarga ini. Ya, kalau diceritakan panjang pastinya."
"Itu kenapa di jemuran ada seprai? Siapa yang ngompol?" sahut Naomi. Ia dan Sakura tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Fira sontak terkesiap mendengar ucapan Naomi.
Fira bungkam, malu rasanya jika harus mengatakan sebenarnya, mengatakan bahwa Henry yang membuat seprai itu perlu dicuci bersih oleh Fira. Seraya menyematkan peniti di hijab pashmina, sorotan mata Naomi tertuju pada Fira. Senyum judesnya seakan ingin menggoda adik iparnya itu.
"Gimana rasanya sama Adikku, si Henry?" goda Naomi dengan genit.
"Naomi, ada anak-anak, kamu malah ngomong gitu," tegur Intan.
"Ya, soalnya tumben aja---pagi-pagi ada seprai dijemur. Kalau bukan pengantin baru, siapa lagi?" Naomi lagi-lagi menggoda Fira, hingga Fira salah tingkah.
"Makanya nikah dong. Biar kamu bisa merasakan," canda Fira seketika berbalik menggoda kakak iparnya itu.
"Eits, dirimu udah pintar ngeles, ya." Naomi bergegas menghampiri Fira. Ia lantas mencubit pipi Fira dengan gemas.
"Hahaha, sesekali godain Nona judes. Udahlah, jangan cubit pipiku nanti make up-nya berantakan lagi."
"Apa kamu bilang Nona judes? Dih, enggak banget pakai panggilan dari Pak Guru bawel itu."
"Jangan terlalu benci nanti jadi kesem-sem, hahaha."
"Tante Naomi suka sama Pak Irfan, ya?" tanya Zayn menyela pembicaraan Fira dengan Naomi.
"Aduh, enggak, please! Bukan tipe Tante itu," sanggah Naomi.
Mereka tertawa saat menggoda Naomi. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Kaki Fira yang terbalut kaos kaki warna kulit itu memakai sepatu hak tinggi. Putih warnanya, ada hiasan taburan mutiara di sepatu. Seorang gadis--- salah satu asisten perancang busana membantu Fira memakaikan sepatu.
Henry yang baru saja keluar dari kamar, sudah rapi memakai kemeja putih dipadukan jas abu-abu. Sejenak ia merapikan dasi. Langkahnya bergegas ke ruang keluarga. Dilihat dari kejauhan, semua keluarga sudah siap untuk berangkat ke tempat resepsi pernikahan.
"Ayo semuanya langsung berangkat," ajak Henry.
"Siap, Papa!" seru Zayn, Zema dan Alira.
"Zayn, Zema dan Alira ikut mobil Tante Naomi. Nanti ditemani Tante Naomi dan Tante Sakura. Kalau Papa dan Mamamu sudah pasti mobil sendiri," ucap Naomi.
"Oke, Tante," ucap Zayn.
"Mami dan Papi satu mobil sama Jae Young," ucap Naomi kepada maminya.
"Oke, siap, Nak," ucap Intan.
__ADS_1
Fira berdiri di hadapan Henry saling tersenyum. Henry semakin terpukau melihat kecantikan istrinya itu. Rasanya masih tidak menyangka jika wanita yang di hadapannya kini telah dinikahinya.
Melihat dasi yang dikenakan Henry kurang rapi, Fira sigap merapikan dasi itu. Pandangan Henry jadi terpaku pada paras ayu Fira, berdegup kencang pula hatinya.
Setelah Fira merapikan dasi yang dikenakan Henry, perlahan pria itu juga menggapai dua tangan kekasihnya. Hangat sekali. Henry menggandeng tangan Fira, hendak membawanya ke mobil sedan putih yang ditumpangi.
***
Sepanjang perjalanan mobil sedan putih itu melaju kencang, tangan kiri Henry tidak melepas genggamannya di tangan kanan Fira. Pasangan suami-istri baru itu duduk di jok belakang saling bersenda gurau. Di sana Henry juga menunjukkan foto-foto mereka saat ijab kabul. Foto-foto itu dikirim langsung dari fotografer andalan mereka. Henry dan Fira terenyuh melihat indahnya mengarungi bahtera cinta yang halal.
Apalagi dengan foto senyum mekar tiga anak mereka. Kebahagiaan yang terpancar dari hati anak-anak tercinta. Wajah anak-anak belum berdosa itu bersorak gembira atas pernikahan orangtuanya, membuat Fira dan Henry gemas dengan Zayn, Zema dan Alira.
"Mau di-posting ke akun Instagram masing-masing, enggak?" tanya Henry.
"Memang enggak apa-apa, ya?" tanya Fira ragu.
"Kamu masih sebal, ya, sama komentar pedes netizen," jawab Henry, ia sembari membelai lembut hijab istrinya. "Sayangku, Fira, sekarang sudah ada aku. Siapapun yang komentar buruk bahkan sampai fitnah ke kita, aku enggak segan-segan menemui mereka. Mau kusembur mereka pakai air bekas pel, hahaha."
"Serem banget kedengarannya, hehehe," ucap Fira.
"Foto ijab kabul kita di-posting aja, ya. Kan udah boleh mengumumkan pernikahan. Tandai di akun Instagram aku dan kamu," pinta Henry.
"Okelah, baca bismillah dulu, ya, sebelum posting."
"Anggap saja ini kita sedang mengabarkan pernikahan kita kepada dunia. Sudah waktunya semua orang tahu kisah cinta kita."
Fira mengangguk. Henry mengirim foto-foto ijab kabul itu dari laptop ke gawai Fira melalui kabel data. Ada banyak foto-foto yang diabadikan dalam laptop tersebut. Kualitas foto yang terkesan bening, apik dan estetik.
Begitu sudah mengirim semua foto, Fira kembali melihat momen terindah dalam hidup. Merinding rasanya, kalau ia sudah menyandang gelar Nyonya Henry Lee. Padahal seperti baru kemarin ia mengenal Henry sebagai pemuda sederhana yang jauh dari kemewahan.
"Biar nyaman, kamu yang pilih foto yang romantis, yang mana? Aku ikut aja," usul Henry.
"Slide pertama, pas kamu sama Bapak jabat tangan ngucapin ijab kabul. Slide kedua, pas kita saling pakai cincin dan megang buku nikah. Slide ketiga, pas kamu menyentuh ubun-ubunku sambil doa," jelas Fira.
"Oke, kita kirim sekarang, ya. Satu, dua, tiga."
"Hahaha, sudah kayak mau lari maraton saja ada aba-aba segala. Captionnya apa dulu nih?"
"Kamu pandai buat kata cinta gitu 'kan?"
"Emm, apa, ya?" Fira dan Henry saling berpikir sambil menaruh salah tangan mereka dengan membentuk V.
Henry dan Fira saling menatap. Seakan mereka sudah mendapat ide cemerlang untuk keterangan foto. Akhirnya mereka pun bergegas mengunggah tiga foto tersebut dalam satu kali unggahan. Henry dan Fira juga tidak lupa menyebutkan para tim yang terlibat dalam pernikahannya. Waktu semakin mepet karena sebentar lagi mereka tiba di Danau City, Semarang.
Tiga foto pernikahan dalam satu unggahan yang bisa digeser itu berhasil diunggah. Keterangan foto ala kadarnya tapi cukup bermakna bagi Henry dan Fira.
[Alhamdulillah, kuasa Allah, kekuatan dan keajaiban doa. Buah kesabaran selama lima tahun. Energy Of Love. #HeyFirstory]
***
"Barakallah, Bro Henry!" seru Hardi sambil berjabat tangan persahabatan kepada Henry.
"Wa fiik barakallah, ya," ucap Henry lantas memeluk sahabatnya itu.
"Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, ya, Mbak Fira. Saya Audina, istrinya Mas Hardi. Ini Arkana, anak kami," ucap Audina sembari bersalaman dengan Fira.
"Masyaallah, terima kasih, Audina dan Hardi sudah datang di resepsi pernikahan kami. Dedeknya lucu, ya. Berapa bulan atau tahun?" ucap Fira sembari membalas salaman dengan Audina kemudian sejenak memeluknya.
"Alhamdulillah, Arkana sudah sembilan bulan, Tante Fira."
"Lagi lucu-lucunya, ya, hehehe."
"Emm, aktif juga ini, Mbak. Namanya anak lanang, hehehe."
"Sama, saya juga punya dua anak lanang, masyaallah tenan."
"Pripun, Mbak, malam nganune sama Henry?" canda Hardi. (Gimana, Mbak, malam anunya sama Henry?)
"Hust, ora sopan! Belakang masih ngantre tuh," tegur Henry seraya menepuk punggung Hardi.
"Mesti bakal apik tenan anakke, yakin deh. Mbak Fira cantik dan Henry ganteng blasteran. Bibit unggul, hahaha." (Pasti bakal cakep anaknya, yakin deh).
"Har, mending sampeyan merono, ana semur jengkol enak." Henry mengulurkan tangan ke arah prasmanan khusus semur jengkol. (Har, baiknya kamu ke sana, ada semur jengkol enak.)
"Kanca bagus lan pengertian iki. Wokey, langsung meluncur." (Teman baik dan pengertian ini. Oke, langsung meluncur.)
__ADS_1
Hardi dan istrinya yang sedang menggendong anak itu turun tangga kecil. Dekorasi pernikahan Henry dan Fira bernuansa alam terkesan glamor dan estetik ala pernikahan modern di Korea Selatan. Taburan bunga, daun dan rumput hijau subur mewarnai resepsi pernikahan.
Tidak ada atap yang menjadi tempat teduh. Semua murni dari alam, hanya beberapa pohon hijau meneduhkan suasana. Daun-daunan hijau berjatuhan terbawa angin. Hamparan rumput hijau turut menyegarkan pandangan. Lengkap dengan luasnya pemandangan danau yang menyejukkan.
Susunan kayu mengkilat dibentuk jalan menuju ke tempat pelaminan kedua mempelai. Seperti biasa, meja dan kursi tamu tertib telah ditentukan oleh panitia pernikahan. Sebelum memasuki acara resepsi, setiap tamu diberi pengarahan para panitia pada meja dan kursi khusus lingkar keluarga atau kerabat.
***
Seperti kemarin sekaligus hari ini para tamu yang diundang bisa mencapai ratusan lebih. Berdatangan secara giliran. Mereka bukan hanya dari Indonesia saja, dari Korea Selatan dan tiga negara lainnya. Di antaranya rekan sekolah dan bisnis Henry yang antusias datang di resepsi pernikahan, termasuk rekan-rekan Fira.
"Alhamdulillah, selamat, ya, atas pernikahan kalian. Semoga sakinah mawadah warahmah. Segera diberikan momongan yang sholih dan sholihah," ucap Sandi. Sosok pria setengah baya tetap awet muda itu dulu bos Fira waktu kerja di Restoran HIF Singapura.
"Aamiin, terima kasih, Pak Sandi. Kami merasa terhormat atas kehadiran Anda," ucap Henry dan Fira secara bersamaan.
"Enggak menyangka kalau kalian sama-sama ketemu di Singapura terus berakhir di pelaminan. Jodoh itu luar biasa," puji Sandi.
"Singapura jadi kisah yang berkesan, ya, Pak, hehehe," ucap Fira.
"Iya, sekarang suasana Restoran HIF dikelola beda orang, wajah baru pastinya. Tapi, kinerja lebih bagus pada saat dikelola Bu Fira loh."
"Alhamdulillah, saya terima kasih karena Pak Sandi begitu baik memperkerjakan saya di restoran itu."
Sandi tersenyum kemudian menepuk pundak Henry. "Sudah sepatutnya seorang pemimpin mengayomi semua karyawan. Begitu juga Nak Henry, saya yakin, Anda pemimpin yang bisa mengayomi perusahaan dan keluarga. Tapi, ingat pesan saya, prioritas utama itu Allah kemudian keluarga setelah itu pekerjaan."
"Masyaallah, terima kasih atas wejangannya, Pak," ucap Henry.
Henry lagi bersalaman dengan Sandi penuh santun. Sandi pamit dan turun dari tangga kecil, karena harus bergilir dengan tamu lainnya.
Embusan angin dan beberapa AC berdiri berukuran besar itu menyejukkan setiap orang di sana. Meski waktu semakin terik, tapi matahari seakan bersahabat. Suasananya tidak terlalu gerah hari ini.
"Ghyeolhon-eul chughahabnida. God bless you both," ucap Kim Jae Young lantas memeluk Henry dengan erat. Ucapannya dalam bahasa Korea Selatan dan Inggris. (Selamat atas pernikahan kalian. Tuhan memberkati kalian.)
"Gomawo, Hyung," ucap Henry. (Terima kasih, Mas.)
"Aku belum paham bahasa Korea, hehehe. Jadi enggak tahu kalian ngomong apa?" ucap Fira.
"Ini bahasa antar pria dewasa, hahaha. Lucu juga kalau Fira belum paham bahasa Korea. Ingin kukerjain," canda Kim Jae Young, pria gagah berbalut jas abu-abu tua itu.
"Mengerjai istri Henry sama dengan angkat kaki dari perusahaan," canda Henry mendelik ke Jae Young.
"Kau bisa lihat suamimu ini, dia itu kalau enggak mengancam, ya, tukang perintah. Sama kayak Naomi. Tapi, hidupku beruntung bersama mereka. Kalau tidak, aku jadi gelandangan tampan di Korea Selatan," kelakar Kim Jae Young.
"Kenapa Mas Jae Young enggak mencoba pendekatan sama Naomi," canda Fira.
"Haahh---wanita berlevel pedas itu, bukan kriteriaku. Jujur, kriteria wanitaku itu berparas lembut sepertimu. Lagi pula kita berbeda agama, aku juga masih menikmati kesendirian," ucap Kim Jae Young.
"Sekali lagi berkata seperti Fira itu tadi, aku bisa membuat rambutmu seperti aktor Itaewon Class," tegur Henry cengengesan.
"Letak salahku di mana, hah? Wanita di dunia ini ada milyaran memiliki paras lembut seperti Fira. Fira, aku minta tolong padamu supaya Henry sesekali bersikap manis padaku." Kim Jae Young tertawa menyeringai.
Mereka tertawa terkekeh-kekeh. Kim Jae Young kemudian turun dari tangga kecil. Henry dan Fira saling menatap, merasa bahagia di tengah-tengah mereka. Fira merangkul tangan Henry dengan mesra. Tanpa diduga Henry mencium kening Fira, seketika sang istri tersipu malu.
Ketika Henry dan Fira hendak duduk di pelaminan, sosok pria gagah berbalut jas hitam muncul di hadapan pasangan suami-istri ini. Henry dan Fira sontak terbelalak melihat kehadiran seorang pria berwajah tegas itu. Perlahan pria itu membuka kacamata hitam. Ia tersenyum sengit, terdapat bulu-bulu halus di sekitar dagunya.
"Rafi," ucap Henry dan Fira secara bersamaan.
"Hei, enggak perlu kalian kaget begitulah. Kayak aku ini hantu aja," kelakar Rafi.
"Siapa yang mengundang kamu di sini?" tanya Henry.
"Loh, Om Fatih dan Tante Ratih itu kan masih teman karib Ayah dan Bundaku. Jadi, otomatis keluarga Jensen masih diundang ke sini," jawab Rafi.
"Ya Allah, aku sampai enggak kepikiran ke sana," gumam Fira, "memang benar, aku dan Rafi tidak akur lagi. Tapi, Bapak-Ibu dan Pakde Firman Bude Catherine masih terjalin dengan baik."
"Selamat, ya, atas pernikahan kalian. Sakinah mawadah warahmah," ucap Rafi, "oh, iya, Fir, kalau kamu disakiti sama suami kamu lagi, kamu bisa datang ke aku. Aku tetap jadi sahabat baik kamu."
"Sialan!" hardik Henry mengepal kuat tangannya. Namun Fira berusaha menahan emosi Henry.
"Sabar, Hen. Banyak orang di sini," bisik Fira.
"Santailah, Henry. Aku cuma pesan sama kamu. Kamu tahu, aku sahabat kecil Fira yang tidak bisa melihat Fira sakit! Jaga baik-baik, Fira. Dunia berpihak pada kalian saat ini. Berbahagialah!" Rafi tersenyum manis.
Rafi menaruh kacamata hitam di saku jas. Dirapikannya sebentar jas hitam itu. Saat ia lewat di depan Fira, dua sahabat kecil itu saling bertatapan. Benak Rafi mengingat kembali pada masa kecil, kerja di Singapura hingga kecelakaan maut di Kuala Lumpur, Malaysia. Sementara Fira hanya melihat dua mata Rafi memerah. Seakan-akan Rafi tengah menahan luka dan pilu hati yang terpendam.
Ketika sudah menuruni tangga kecil, Rafi membalikkan tubuh, lantas dilihatnya lagi Fira. Sementara Fira mengalihkan pandangan ke Henry. Justru Henry yang menatap sinis ke Rafi. Henry geram dengan tatapan Rafi kepada Fira. Akhirnya Henry memeluk Fira dengan erat. Seakan memberi pertanda bahwa Henry akan selalu menjaga Fira dari Rafi. Pria gagah itu tersentak kemudian pergi berlalu dari acara resepsi pernikahan.
__ADS_1