Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Ketidaksempurnaan


__ADS_3

Mulai dari pukul 15.00 sore warung Persaji ini sudah dikunjungi ramai orang yang ingin membeli tahu petis. Tempatnya cukup strategis, masih kawasan Simpang Lima Semarang. Cita rasa tahu petis di sini lezat dan nikmat. Pengunjung bukan hanya dari warga setempat, ada pula dari luar Kota Semarang.


Termasuk Henry dan Fira yang tengah menikmati tahu petis selagi hangat. Keduanya duduk berdampingan. Petisnya yang hitam dan kental itu menggugah selera makan. Bila tahu ini digigit akan terasa lumernya petis. Apalagi jika ditambah cabai rawit, kalau menginginkan rasa pedas.


"Kamu suka tahu petis, ya?" tanya Henry.


"Bukan suka lagi, suka banget. Aku itu suka tempe dan tahu. Tahu Sumedang, pong dan petis ini. Enaklah pokoknya," jawab Fira sambil mengunyah tahu petis dengan lahap.


"Enggak salah lagi---aku memilih istri yang suka makan sederhana tapi lezat seperti ini. Biasanya kan ada wanita kalau udah sukses jadi gengsi makan di warung kayak gini."


"Aku tetap jadi Fira yang begini adanya, hehehe."


"Itu yang aku jatuh cinta darimu. Kamu itu hidup susah atau sukses pun tetap sama saja. Maksudnya kesederhanaannya. Ya, walaupun ada yang berubah sedikitlah, sekarang kamu jadi fashionable dan suka dandan."


"Bisa saja, hehehe."


"Oh, iya, Fir, aku mau musyawarah sama kamu."


"Musyawarah apa?"


Seorang pemuda yang bekerja di warung itu mengantar dua minuman untuk Henry dan Fira. Segelas air putih dan segelas es teh. Hati-hati diletakkan dua minuman dihadapan dua pelanggannya. Fira berterima kasih kepada pemuda itu. Begitu juga dengan Henry. Akhirnya pemuda itu pergi berlalu.


Merasa ada yang mengganjal di tenggorokan, Fira segera meminum es teh itu melalui sedotan. Sepertinya tenggorokannya kembali segar seperti dingin di kulkas. Kini Fira merasa lega setelah minum es teh tersebut. Sementara Henry hanya meneguk air putih sebagai penangkal haus.


"Kita kan enggak selamanya di rumah Mami dan Papi. Adakalanya aku ingin mandiri, aku ingin keluarga kita punya rumah sendiri," ungkap Henry.


"Pemikiran kamu sama kayak aku, hehehe," ucap Fira.


"Benarkah? Alhamdulillah, kalau begitu."


"Aku juga sebenarnya ada berpikir seperti itu, tapi aku enggak enak ngomong sama kamu."


"Kenapa enggak enak, sayang? Kita sudah suami-istri, bicara saja kalau ada uneg-uneg." Henry lantas membelai lembut pipi Fira.


Fira cengengesan. "Aku masih malu-malu sama kamu."


"Rencananya aku ingin punya rumah sendiri yang enggak jauh dari kantor."


"Otomatis anak-anak pindah sekolah juga?"


"Ya, begitulah."


Fira berpikir keras. Raut wajah yang cerah seketika menegang. Henry melihat raut wajah Fira yang berubah itu langsung merasa tidak enak. Keringat Henry mulai bercucuran di pelipis. Fira lantas menatap Henry lekat-lekat.


"Sayang sih kalau anak-anak sampai pindah sekolah. Soalnya TK dan SD Islam sudah jadi satu di situ. Aku juga sudah kenal gurunya. Apa sebaiknya rumah kita masih satu perumahan sama Ibu-Bapak?" jelas Fira.


"Di Tembalang, ya?" tanya Henry.


"He-em," jawab Fira singkat.


"Iya, juga, ya. Anak-anak pasti sudah nyaman sekolah yang sekarang. Ya, sudah, kalau begitu nanti aku berusaha cari rumah di Perumahan Tembalang."


"Ya, bukan apa-apa, Hen. Tapi, cuma itu yang masih jalur sama sekolah anak-anak. Kalau dari rumah Papi-Mami lumayan kejauhan, hehehe."


"Oke, aku paham maksudmu. Terus, kamu mau rumah yang seperti apa?"


"Aku yang satu lantai aja, maksudnya enggak bertingkat. Yang penting luas dan lebar tanahnya. Layak juga buat keluarga kita."


"Aku juga ingin membangun keluargaku sendiri. Punya cerita dari rumah sendiri."


"Terima kasih, Henry. Karena sudah menerimaku dan anak-anak."


"Aku sudah sayang sama kalian semua. Aku ingin membuat kalian bahagia."


Entah sudah berapa kali Fira bersyukur dalam hatinya? Tentu banyak sekali. Saking bersyukurnya, hatinya selalu terenyuh. Betapa bersyukurnya ia memiliki suami seperti Henry, mengenal sosok laki-laki seperti Henry yang bersedia menerima dirinya dan anak-anak. Padahal sebelumnya Henry berstatus bujang. Sedangkan Fira hanya seorang janda. Namun cinta Henry untuk Fira tulus, tidak memandang status maupun usia.


"Loh, kok mau nangis, kenapa?" tanya Henry keheranan.

__ADS_1


"Aku terenyuh aja. Di dunia ini bersyukur aku bisa bertemu denganmu dan mengenalmu. Yang dulunya, bagiku kamu tidak mungkin. Sekarang kamu menjadi nyata yakni jodohku. Semua tidak disangka-sangka dan berjalan begitu cepat. Ah, aku bicara apa ini?" jawab Fira. Ia lantas memeluk Henry. Wajah ayunya kini tenggelam di dada bidang Henry yang berbalut kaos polos dipadukan jaket abu-abu.


"Aku juga perlu bersyukur kepada Ibu Ratih karena telah melahirkan putri setegar kamu, Fira. Mungkin, jika kita enggak saling bertemu dan kenal, aku enggak akan punya semangat hidup dulunya. Meskipun kamu dulu pernah bersama Mas Kirsandi dan sekarang bersamaku."


Fira melepaskan pelukan dari Henry. Menatap suaminya dengan serius. "Enggak akan punya semangat hidup dulunya. Maksudnya?"


"Bukan apa-apa. Itu waktu aku masih sekolah, anak sekolahan juga ada masalah kan?"


Fira peka dengan ucapan Henry, ia lantas membatin, "**p**asti kisahnya yang berteman dengan anak mafia itu, ya. Kenapa Henry enggak terbuka soal itu? Apa Henry masih punya trauma sampai sekarang?"


***


Di mobil pun Henry tetap bersikap datar. Fira memperhatikan suaminya. Justru ia berharap Henry dapat terbuka dengannya. Jika Fira yang meminta Henry untuk terbuka, khawatir Henry keberatan. Suasana seketika hening begitu saja.


"Kalau ada sesuatu yang mengganjal, bicarakan padaku. Aku siap menjadi pendengar setiamu," ucap Fira secara hati-hati.


Henry lantas menoleh ke Fira. Justru kali ini Fira dibuat tercengang melihat raut wajah Henry. Ekspresi Henry yang membingungkan Fira. Antara tidak ingin terbuka atau menahan sesuatu yang mengganjal itu?


"Mohon maaf, kalau aku terkesan memaksamu," lirih Fira lantas menundukkan kepala.


"Kamu sudah tahu dari Mami soalku yang dulu kan?" tanya Henry.


Fira kembali menoleh ke Henry sembari menjawab, "iya, aku sudah tahu."


"Kalau kamu ingin aku baik-baik saja, sebaiknya enggak cerita itu lagi."


Fira mengernyit dahi mendengar ucapan Henry seraya bergumam, "apa Henry masih memiliki trauma itu? Kenapa Henry berbicara seperti itu barusan?"


Pria berjaket abu-abu itu mengemudi mobil dengan tatapan fokus pada jalanan. Fira mencoba melihat sepasang mata sipit Henry secara hati-hati. Jika dilihat dari sorotan mata Henry, seperti menahan kesedihan yang mendalam. Merasa dilihat oleh sang istri, Henry lantas menoleh Fira. Fira gelagapan dan kembali pada posisi duduknya.


Dering gawai Fira berbunyi dari dalam tas. Wanita bergamis biru muda itu terkejut. Ia lantas merogoh tas selempangnya. Dilihatnya layar gawai, ada panggilan masuk dari Titania, Owner Hijab Lyra. Tanpa berpikir panjang, Fira mengangkat telepon dari temannya itu.


"Assalamu'alaikum, Fira," sapa Titania.


"Wa'alaikumsalam, Titania, ada apa?" ucap Fira.


"Enggak sibuk banget sih. Kenapa memangnya?"


"Gini, itupun kalau kamu berkenan, ya. Kamu itukan brand ambassador Hijab Lyra udah lama. Kamu tahu sendirikan, ada brand busana muslim juga dari Ali Store, masih satu pabrik dong. Nah, aku ingin kamu dan suami kamu pemotretan busana muslim muslimah couple. Kalian kan sudah mahram. Kira-kira besok bisa dimulai," jelas Titania.


"Sebentar, aku ngomong dulu sama suamiku," ucap Fira.


"Baiklah, telepon atau WhatsApp aku aja, ya, kalau ada jawabannya." Titania dan Fira mengakhiri percakapan melalui telepon.


Fira senang karena mendapat tawaran pemotretan lagi. Bukan karena bayarannya yang fantastis. Melainkan Fira memang suka berfoto di depan kamera. Apalagi fotografernya sesama wanita yang sudah akrab padanya. Namun sekarang ia sudah menikah, tentu harus mendapat izin dari Henry dahulu. Yang bisa memutuskan boleh atau tidaknya adalah Henry.


"Henry," panggil Fira.


"Iya," ucap Henry.


"Barusan aku dapat telepon dari temanku. Dia owner Hijab Lyra. Aku kan brand ambassador-nya. Nah, dia nawarain ke kita untuk pemotretan busana muslim muslimah couple gitu. Kamu berkenan enggak?" jelas Fira.


"Hmm, boleh juga itu."


"Serius nih?"


"Iya, lumayan mengisi waktu yang senggang kan? Aku juga bangga punya istri seorang BA. Oh, kalau gitu---nanti kamu jadi bintang iklan juga di Excellent Advertising."


"Ih, apaan sih? Kalau iklan gede di perusahaan kamu, aku enggak pede tahu!"


"Kan sama aku."


"Iklan apa memang?"


"Ya, enggak tahu, kalau ada job aja."


"Memang boleh seorang bos jadi bintang iklan?"

__ADS_1


"Ya, boleh, kalau aku yang minta ke mereka atau mereka lagi enggak ada model buat iklan, hahaha. Aku juga masih muda dan ganteng kan?"


"Dasar!"


Fira senang melihat Henry kembali tertawa. Suasana di dalam mobil pun kembali membaik. Saking sayangnya kepada suaminya, Fira lantas mencium pipi kiri Henry. Henry yang sedang menyetir mobil itu sontak salah tingkah. Raut wajah oriental itu seketika ranum. Fira tertawa kecil melihat tersipunya Henry.


"Jangan cium di sini, nanti aku enggak konsentrasi nyetir mobil, sayang," ucap Henry.


"Sekali aja, hehehe," ucap Fira, "oh, iya, katamu setelah sebulan pernikahan kita, kamu bakal balik sibuk lagi. Terus, kita enggak ada rencana bulan madu gitu?"


"Ada, aku sudah pikirkan itu. Setelah kita ke Kanada, kita bulan madu terus mengajak anak-anak liburan."


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu."


"Sudah pasti aku pikirkan, sayang. Aku juga ingin waktu bersamamu sebelum sibuk kembali." Henry membelai lembut jilbab segitiga biru muda yang dikenakan Fira.


Henry dengan mesranya mencium punggung tangan istri tercinta. Hati Fira menjadi tersentuh. Ia berpikir tidak ingin menyia-nyiakan waktu berkualitas dengan Henry. Karena jika Henry sibuk nantinya, tentu akan langka momen kemesraan mereka.


***


Waktu semakin larut. Langit malam kian pekat tanpa sinar rembulan dan kelap-kelip bintang. Seolah malam ini mendung dan akan datang hujan. Fira yang berada di balkon rumah lantai dua itu sedang menikmati dinginnya malam. Sekadar melepaskan penat setelah menemani tidur Zayn dan Zema. Kebetulan kamar Zayn dan Zema di rumah mertuanya terletak di lantai dua.


Seraya berdiri menikmati semilir angin, Fira ingin memanjakan matanya dengan melihat foto pernikahannya dengan Henry di akun Instagram-nya. Jemarinya berselancar di akun Instagram, ada banyak pemberitahuan menyukai dan mengomentari foto pernikahan keduanya. Tidak disangka-sangka yang menyukai foto pernikahan Fira dan Henry diangka satu juta. Sementara yang berkomentar ada delapan puluh ribu.


Rasa keingintahuan Fira tergugah, jemarinya berselancar untuk membaca komentar di foto pernikahannya dengan Henry. Ada banyak yang mengucapkan selamat dan doa kebaikan untuk dirinya dan Henry. Ada pula yang tidak menyangka jika Henry dan Fira berjodoh. Bahkan ironisnya, ada juga yang tidak terima jika Henry dan Fira menikah. Namun komentar tidak diterima itu banyak diserang oleh mereka yang mendukung Henry dan Fira.


Lebih mengejutkannya lagi, komentar itu bukan hanya dari orang Indonesia saja. Ada juga orang Korea, tapi Fira tidak mengerti tulisan Hangul. Fira jadi ingat kata Hardi lampau itu, benar katanya---hubungan Fira dengan Henry bukan hanya berpengaruh dalam negeri. Namun juga luar negeri. Begitu jemari berselancar di profil Instagram-nya, benar saja pengikutnya jadi bertambah. Mulanya satu juta lebih pengikut, kini satu juta lebih sembilan pengikut, hampir di angka dua juta pengikutnya.


"Yang jalani aku dan Henry, kita nikmati dengan bahagia. Tapi, mereka yang enggak suka bahkan enggak terima seolah-olah tahu betul kehidupanku dan Henry. Rasanya ingin ketawa. Padahal mereka belum pernah ketemu sama aku dan Henry," ucap Fira terkekeh-kekeh.


"Orang lain berpikir aku menikah dengan Henry itu adalah sebuah keberuntungan. Punya suami tampan dan mapan, sudah pasti idaman setiap wanita. Namun, kalau mereka tahu posisiku, apa mereka mau menerima apa adanya Henry yang memiliki trauma di masa lalu?" sambungnya.


"Dikiranya orang seperti aku dan Henry ini sempurna bak dongeng? Padahal kami juga manusia biasa pasti punya kekurangan dan ujiannya. Hanya, mereka tidak melihat itu semua. Yang mereka lihat hanya kehidupan sempurna dan sukses saja."


Angin semakin kencang, membuat daster dan jilbab yang dikenakan Fira hampir tersingkap. Ketika Fira hendak membalikkan badan, sorotan matanya justru tertuju pada pagar depan rumah mertuanya itu. Fira tercengang melihat Rafi berada di depan pagar rumah. Pria itu berdiri sembari mendongak menatap Fira yang berada di balkon rumah lantai dua. Merasa dilihat oleh Fira, justru Rafi bergegas hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Itu orang kenapa sih? Sudah diperingatkan untuk enggak mengangguku dan Henry. Sekarang dia malah datang di depan pagar rumah. Kayaknya enggak ada yang beres ini," gerutu Fira.


"Fira, aku kira kamu ke mana? Ternyata kamu di sini, ya, sayang," ucap Henry tiba-tiba muncul di balkon rumah lantai dua.


"Aku lagi nyari angin. Ya, enak aja gitu di sini, hehehe."


Henry lantas memeluk Fira dari belakang. "Ngapain nyari angin? Mending nyari aku aja."


"Henry, apa ini sudah keterlaluan, ya?"


"Keterlaluan gimana maksudmu?"


"Barusan aku lihat Rafi ada di depan pagar rumah. Tapi, sekarang dia udah pergi pas aku lihat dari sini."


"Astaghfirullah, maunya apa sih, si Rafi itu?"


"Entahlah, Henry."


"Nanti akan aku laporkan polisi soal ini. Kamu enggak usah khawatir, ya. Sebaiknya kita ke dalam kamar aja yuk."


"Henry ..."


"Aku ingin memeluk istriku. Kamu kapan selesai haidnya?"


"Insyaallah, besok atau lusa gitu. Tergantung, hehehe."


"Sebenarnya aku sudah tidak tahan, tapi tetap sabar saja."


"Ya, sudah, kita ke kamar."


Henry dan Fira saling merangkul pinggang. Keduanya masuk ke dalam rumah sembari bersenda gurau. Tidak lupa juga untuk menutup pintu balkon rumah. Rumah elit bertingkat dua ini sebagian lampu terang dirubah jadi lampu remang. Tiba saatnya penghuni rumah untuk beristirahat. Malam pun kian larut. Di luar sana, tetesan air hujan mulai mengguyur kawasan perumahan elit ini.

__ADS_1


__ADS_2