Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Bukti Cinta


__ADS_3

Cinta yang terjaga dalam doa tidak pernah salah arah. Hati yang senantiasa melibatkan Allah akan terasa indah dan tentram. Jika Allah menuliskan skenario tentang mereka berjodoh, Allah memudahkan jalan cinta itu.


***


Pancaran sinar matahari yang berkilauan seakan tahu bahwa tanggal tujuh belas Juli adalah penyatuan cinta sepasang insan berbahagia, bersama desiran ombak yang tenang, embusan angin yang lembut, tampak elok ciptaan Sang Maha Esa.


Bukan hanya penduduk langit pagi dengan pancaran cahaya bahagia. Seluruh orang yang menghadiri persaksian ikrar suci Henry kepada Fira tak kalah bahagianya. Pantai Marina Semarang menjadi saksi bisu atas kesungguhan hati Henry dan Fira.


Lima tahun lamanya, tanpa bersua dan komunikasi. Keduanya hanya menjalani istikharah dan saling mendoakan di keheningan malam. Mengalihkan rindu dalam hati dengan menyibukkan diri hingga menggapai cita-cita. Membuat hati bersabar dalam penantian panjang ini tidak mudah, tentunya ada rintangan dan ujiannya.


Kini bukti cinta disaksikan oleh seluruh orang, buah kesabaran dalam penantian panjang antara Fira dan Henry tidak sia-sia. Sang Maha Kuasa memberi kebahagiaan tiada tara untuk sepasang kekasih yang telah digariskan berjodoh. Kesetiaan telah tertanam di dalam diri keduanya.


Henry tampak gagah berbalut jubah putih gading, lengkap dengan kopiah putih di kepalanya. Ia duduk tegap di hadapan Fatih, seorang penghulu dan dua saksi pernikahan. Salah satu saksi pernikahan ialah Bryan, adik laki-laki Fira. Bryan juga tak kalah tampan berbalut jubah putih gading.


Sementara Fira berada di kursi depan bersama jejeran pendamping pengantin wanita dan para tamu. Pendamping pengantin wanita di antaranya adalah Medina, Velia, Ressa dan Nina.


Sesuai konsep pernikahan, mempelai wanita belum diperkenankan duduk di samping mempelai pria sebelum ijab kabul terucap. Setiap mikrofon kecil sudah tersemat di jubah Henry, Fatih dan seorang penghulu itu.


Sebelum ijab kabul dimulai, seorang pemuda membacakan ayat-ayat Al-Qur'an supaya acara berjalan dengan lancar dan berkah. Dengan adanya tilawah Al-Qur'an, insyaallah, Allah memberkahi pernikahan Henry dan Fira yang bahagia ini.


Dua mata sipit Henry menatap serius kepada bakal bapak mertuanya, Fatih. Tangan kanan kekar itu mantap berjabat tangan dengan Fatih. Beberapa fotografer mempersiapkan kamera untuk mengabadikan momen bahagia.


"Bismillahirrahmanirrahim, mari kita mulai ijab kabulnya," usul seorang penghulu.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Henry dan Fatih secara bersamaan.


"Saya nikahkan engkau, dan saya kawinkan engkau dengan pinanganmu, putri saya Maghfira Annisa dengan mahar berlian satu karat, tunai!" ucap Fatih dengan lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Maghfira Annisa binti Fatih Habiburrahman dengan mahar berlian satu karat, tunai!" ucap Henry dengan lantang.


"Alhamdulillah, sah," ucap seorang penghulu.


"Alhamdulillah!"


"Sah!" sorak mereka turut meramaikan acara akad nikah.


Henry semringah, lega karena bisa sesekali mengucapkan ijab kabul. Pria yang memiliki tahi lalat di mata kirinya lantas menoleh ke Fira yang kini resmi menjadi istrinya. Dari arah berbeda, aura kebahagiaan dan haru terpancar dari wajah ayu Fira. Pria yang dinanti selama lima tahun itu sudah resmi jadi suaminya. Seorang penghulu kemudian memanjatkan doa kebaikkan untuk sepasang suami-istri yang baru saja menikah.


Ressa dan Nina sebagai adik perempuan Fira, bergandengan tangan dengan Fira. Mengantarkan kakaknya menuju ke pelaminan. Dua gadis muslimah yang usianya selisih satu tahun juga memiliki paras ayu seperti sang kakak.


Fira tampak anggun dan jelita membawa buket bunga mawar putih. Kepalanya yang berbalut hijab itu juga tersemat kilauan mahkota mutiara. Ditambah gaun bordir bunga dan hijab pashmina putih gading yang membalut tubuhnya.


"Pernikahan bukan akhir dari kebahagiaan. Justru ini awal membangun kehidupan baru. Istilahnya, selamat datang di kehidupan nyata pernikahan. Dimana aku akan mengetahui sifat asli Henry. Henry akan mengetahui sifat asliku. Aku sebelumnya pernah menikah, jadi aku paham perjalanan pernikahan sebenarnya. Di awal pernikahan, tentunya diperlihatkan manis dan indahnya cinta. Di pertengahan itulah hati dan iman suami-istri akan diuji. Namun aku belum merasakan bagaimana di akhir nanti? Maksudnya hingga menua bersama. Ya Allah, aku ingin pernikahan keduaku ini adalah pelabuhan terakhirku. Jalan cintaku bersama Henry," batin Fira.


Sepasang bola mata suami-istri itu menatap seraya tersenyum bahagia. Bryan yang berada di tengah dua kakaknya lantas menyerahkan dua kotak kecil merah. Henry dan Fira menerima dua kotak kecil merah, kemudian Bryan kembali ke tempat duduk di samping Fatih.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Henry lantas membuka kotak merah yang di dalamnya terdapat sebuah cincin emas. Tentunya diperuntukkan istri tercinta. Diraihnya pelan tangan kanan Fira. Segenap hati Henry memasangkan cincin emas itu di jari manis Fira.


Giliran Fira yang membuka kotak merah yang di dalamnya terdapat cincin perak. Awalnya Fira dibuat salah tingkah dan malu saat meraih tangan kanan Henry. Para tamu tertawa dan terbawa perasaan melihat sepasang pengantin baru ini.


Akhirnya Fira berhasil menyematkan cincin perak di jari manis Henry. Diciuminya punggung tangan suaminya itu. Henry lantas menyentuh ubun-ubun Fira seraya mendoakan kebaikkan untuk sang istri.


Sepasang lensa mata cokelat Fira mulai mengembun saat melihat aura wibawa yang terpancar dari Henry. Begitu juga sorotan mata cokelat asli Henry tak lepas dari paras jelita bidadarinya.


Setelah tanda tangan kedua mempelai, seorang penghulu menyerahkan dua buku nikah kepada Henry dan Fira. Dua sejoli itu saling membawa buku nikah masing-masing, sekaligus memamerkan di tangan kanan masing-masing, dan cincin tersemat di jari manis keduanya. Henry dan Fira menebar senyum kepada mereka. Beberapa fotografer lagi-lagi mengabadikan momen sakral ini.


Fira kembali menatap Henry. "Kamu sungguh membuktikan cinta ini. Aku ingat perasaan yang tertulis darimu. Aku ingat kalimat akhir itu. Pertama, kamu datang sebagai calon suamiku. Kedua, kamu datang sebagai suamiku."


Henry tersenyum, merasa terenyuh. "Kamu benar-benar menghayati perasaan yang tertulis dariku. Terima kasih cintaku, sudah bersabar dalam penantian selama lima tahun."

__ADS_1


"Penantian jadi kepastian, alhamdulilah."


***


Kebahagiaan bukan hanya milik Henry dan Fira, tiga anak mereka juga tak kalah bahagia menyaksikan pernikahan papa dan mamanya. Zayn, Zema dan Alira berlari menuju ke kedua orangtuanya. Tiga anak itu ibarat berhasil membuka pintu yang terdapat cahaya kehidupan baru. Senangnya bukan main karena kini mereka memiliki orangtua lengkap.


Henry dan Fira menyambut tiga anaknya penuh suka cita. Mereka kini sudah resmi menjadi satu keluarga. Henry yang telah menyandang status sebagai seorang papa, duduk bersimpuh di hadapan tiga anak sambungnya. Fira turut serta duduk bersimpuh. Mereka pun saling berpelukan.


"Kami sayang dan cinta sama Mama dan Papa," ungkap ketiga anak ini.


"Papa dan Mama juga sayang dan cinta sama kalian. Jadilah anak yang sholih dan sholihah untuk Mama dan Papa, ya," ungkap Henry.


"Alhamdulillah, Zayn udah enggak khawatir lagi. Sekarang ada Papa. Terima kasih Papa sudah mau jadi Papa untuk kami," ungkap Zayn.


"Papa juga terima kasih ke kalian. Anak-anak yang hebat! Apalagi Zayn sudah memilih Papa sebagai Papa kamu," ucap Henry.


"Berarti kalau ada Papa, kita bisa main mobil-mobilan, bola dan gim, ya, Pa," ucap Zema.


"Pasti dong. Nanti main sama Papa, ya," ucap Henry.


"Asyik! Zema senang sekali," seru Zema.


Henry menatap Alira yang sepertinya bingung ingin mengucapkan sesuatu. Gadis kecil itu masih merasa asing di antara keluarga ini. Henry tersenyum manis kepada putri sambungnya itu. Dibelainya jilbab yang dikenakan Alira.


"Adik Alira juga boleh main sama Papa. Insyaallah, Papa belikan boneka Teddy Bear dan Barbie, ya," ucap Henry.


"Terima kasih, Papa. Alira senang punya Papa dan Mama yang sayang Alira," ucap Alira.


"Ya Allah, aku ingin memperbanyak sujud syukur kepadamu. Inilah anugerah terindah yang Engkau berikan untukku. Suami dan tiga anakku, mereka sangat berharga di hidupku. Ya Allah, semoga selamanya cinta seperti ini, hingga aku dan Henry menua bersama, bisa melihat cucu dan cicit kami kelak," batin Fira begitu terenyuh.


Seorang fotografer mengarahkan keluarga baru ini untuk berfoto. Henry lantas menggendong Zema. Fira menggendong Alira sembari membawa buket bunga. Zayn yang berbadan tinggi itu berada di tengah papa dan mamanya.


Usai prosesi ijab kabul hari ini, keluarga besar Henry dan Fira serta para tamu menikmati hidangan lezat yang sudah disajikan. Meja dan kursi bahkan sudah ditentukan oleh panitia pernikahan. Jadi, keluarga besar dan para tamu tertib pada tempat yang sudah ditentukan.


Konsep akad nikah yang islami, indah nan estetik bernuansa alam. Di tepi Pantai Marina Semarang, tebaran bunga mawar putih di mana-mana. Hamparan karpet putih juga menyelimuti pasir pantai. Juga beberapa helai korden putih gading yang bergelayut mengikuti embusan angin. Suasananya tampak romantis dan elegan.


***


Makan bersama telah usai. Kini tibanya mereka pulang ke rumah masing-masing. Ini belum di akhir acara pernikahan, masih ada hari esok yang akan menyelenggarakan resepsi pernikahan di Danau City, Semarang.


Fira sudah berada di samping mobil sedan putih. Sebentar-sebentar ia celingukan mencari Henry yang sempat menemui Hardi dan Tommy. Tidak jarang para tamu wanita mengucapkan selamat dan doa restu kepada Fira, meski acara telah usai. Apalagi sanak saudara wanita dari pihak Henry. Fira terpukau melihat sanak saudara wanita dari Henry ini, pasalnya mereka jauh-jauh datang dari Korea Selatan. Tentu saja memiliki paras jelita dan glowing.


"Seumur hidupku, baru ini aku menemukan saudara-saudara wanita dari Korea Selatan. Mereka cantik banget," gumam Fira.


"Alhamdulillah, selamat, ya, sahabatku dan Henry hingga jannah. Semoga kamu, Henry dan anak-anak menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ungkap Medina sembari memeluk Fira.


"Aamiin, jazakillah khoir, sahabatku," ucap Fira membalas pelukan Medina.


"Penantian lima tahun yang luar biasa, berakhir dengan kepastian yang indah. Aku salut sama kamu, Fir! Bisa sesabar itu dalam penantian. Insyaallah, kalian sakinah mawadah warahmah. Disegerakan memiliki keturunan yang sholih dan sholihah," ungkap Velia sambil memeluk Fira.


"Cinta itu butuh perjuangan. Kalau berjuang bersama pasti akan menyatu. Tentunya atas Kuasa Allah, kekuatan cinta dan doa. Terima kasih atas doanya, sahabatku." Fira juga membalas pelukan Velia.


"Ya, sudah, kalau begitu kita duluan, ya. Soalnya Mas Ardian bawa si twins, Maysha dan Mikayla. Mas Ardian juga janji ngajak jalan-jalan keliling Semarang, hihihi," ucap Medina.


"Oke, Din. Selamat jalan-jalan di Semarang. Puas-puasin saja di sini," ucap Fira.


"Aku juga pamit, ya. Mas Nicko juga jagain si kembar, Nakula dan Nikita. Sampai ketemu besok di resepsi pernikahan," ucap Velia.


"Masyaallah, senangnya, ya, pada punya anak kembar. Oke, selamat berlibur di Semarang, ya," ucap Fira.

__ADS_1


"Sukses untuk malam pertama kalian nanti, hahaha. Aku nyampein amanah dari WA Khalifah," bisik Medina.


"Khalifah itu, ya, hahaha. Salam balik ke Khalifah, oke." Fira terkekeh sembari geleng-geleng kepala.


"Insyaallah, siap! Assalamu'alaikum." Medina melambaikan tangan.


"Assalamu'alaikum, Fira." Velia juga melambaikan tangan.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan, kalian."


***


Para tamu sudah mulai berkurang. Namun dari kejauhan sepertinya Henry masih asyik mengobrol dengan Hardi dan Tommy. Sementara keluarga besar Henry dan Fira mulai masuk ke mobil masing-masing. Wanita cantik itu sabar menunggu Henry di dalam mobil sambil berfoto ria melalui gawai.


"Selamat atas pernikahan kamu dan Henry, ya. Semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." Suara seorang pria sebaya dengan Henry itu mengejutkan Fira. Seketika Fira gelagapan sembari menaruh gawai di sampingnya. Fira menilik pria ini dari ujung rambut hingga sepatunya.


"Loh, kamu Dhani?" tanya Fira.


"Masih ingat aku, ya? Haha. Aku itu sepupu Henry. Aku sudah menduga kalian pasti akan menikah. Soalnya memang dari dulu Henry sukanya sama kamu," jelas Dhani, pria berbalut kemeja putih gading itu.


"Emm, iya-ya. Terus, kamu sekarang gimana?"


"Alhamdulillah, aku sekarang punya butik baju batik di Indonesia dan Malaysia."


"Alhamdulillah, kalau gitu."


"Eh-eh, enggak boleh bicara lama-lama sama istriku!" tegur Henry lantas menepuk pundak Dhani.


"Kita pernah satu grup kucing, loh. Ingat enggak---pernah konsultasi tentang kesehatan kucing?" ucap Dhani sembari merangkul Henry.


"Omong-omong soal kucing---by the way, Theolona apa kabarnya, Fir?" ucap Henry melirik istrinya itu.


"Setelah pulang dari Singapura ke Indonesia, Theolona sakit dan beberapa hari setelahnya meninggal. Sedih banget sih, kucing kesayanganku juga," jelas Fira.


"Mungkin kucing itu baru naik pesawat, ya? Bisa ngefek sih itu," ucap Dhani.


"Ya, sepertinya begitu," ucap Fira.


"Theolona, kucing yang lucu dan manis, kayaknya pemiliknya," kelakar Henry menggoda Fira.


"Nah, nah, kalau udah gini momennya---mending aku pamit dulu nih. Jomlo sepertiku bisa baper melihat keuwuan kalian. Bahagia selalu untuk kalian, ya," ucap Dhani lantas bersalaman dengan Henry.


"Oke, Bro. Sampai ketemu besok, ya." Henry juga bersalaman persaudaraan kepada Dhani.


Sudah tiada batang hidung Dhani. Henry berkedip-kedip menatap Fira. Wanita berjilbab pashmina itu kian dibuat salah tingkah oleh suaminya. Praktis senyumnya manis, kemudian Fira memberi ruang duduk di jok belakang. Sejenak Fira membenarkan gaun pengantinnya. Henry senang karena sekarang duduk di samping sang istri. Sopir yang sedari tadi menunggu, mulai mengemudi mobil menyusuri jalanan.


Fira masih malu di dekat Henry. Justru wajahnya yang ranum berpaling dari Henry, merasa tidak kuasa melihat ketampanan suaminya. Pandangannya beralih ke jendela mobil. Sementara Henry mulai memberanikan diri merangkul pundak istrinya. Ditatapnya wajah ayu Fira, dalam hati rasanya bermekaran bak bunga mawar disirami air jernih.


"Eh, enggak enak ada sopir di sini," lirih Fira masih memandangi jendela mobil.


"Pak sopirnya juga udah nikah," ucap Henry," udah nikah gini itu---halal ngapain aja, dapat pahala lagi."


"I-iya, ta-tapi aku malu, Henry."


"Kamu tahu enggak, sih? Kalau kamu pemalu gini tuh---aku jadi pengen nyubit pipimu, hehehe." Dicubitnya pipi Fira dengan lembut.


"Apa sih, Henry?" Fira tertawa kecil sembari menutup wajah ranum dengan dua telapak tangan.


Henry semakin gemas dengan Fira. Tanpa basa-basi lagi, Henry membuat Fira bersandar di pundaknya. Dipeluknya istri tercinta, Fira kian malu dan berdebar-debar, tidak bisa berkutik lagi saat Henry memperlakukan mesra seperti ini. Alunan lagu cinta di dalam mobil turut menghiasi dua hati yang tengah kasmaran itu.

__ADS_1


__ADS_2